cover
Contact Name
Maria Evvy Yanti
Contact Email
jurnalefata@gmail.com
Phone
+6281312414725
Journal Mail Official
jurnalefata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wijaya I No.29-31, RT.2/RW.4, Petogogan, Kec. Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 24771333     EISSN : 27228215     DOI : https://doi.org/10.47543
Jurnal EFATA merupakan wadah publikasi online hasil penelitian para dosen di Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, pada bidang teologi dan pelayanan Kristiani. Jurnal EFATA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, dengan Focus and Scope adalah: 1. Teologi Sistematika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Pastoral 4. Misiologi 5. Pelayanan Kristiani
Articles 71 Documents
Polemik Kritik Wasti terhadap Dominasi Patriakhal dalam Ester 1:9-12 Yanti, Maria Evvy
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 2: Juni 2023
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v9i2.100

Abstract

The Book of Esther is one of the books that have a variety of interpretations, especially in interpreting minorities who are faced with genocide amid God's silence. Some interpret the discriminatory treatment received by women as the actions of Queen Vashti, who took the bold step of refusing the king's request in the patriarchal culture. Some interpret that in a patriarchal culture, the ideal wife is obedient and respectful to her husband, but this is not the case with Vashti. Likewise, some interpret Vashti's actions as showing courage, integrity, and self-confidence. The purpose of writing this article is to discover the struggle of Vashti against Xerxes' domination in patriarchal culture. The method used is grammatical analysis from the Chiastic structure. The study results are Help only from God, the integrity of women in patriarchal communities, and women's participation to voice their rights in government life. Abstrak Kitab Ester merupakan salah satu kitab yang memiliki beragam interpretasi, terutama dalam menafsirkan minoritas yang dihadapkan dengan genosida di tengah kebisuan Tuhan. Ada yang menafsirkan perlakuan diskriminatif yang diterima perempuan, ulah Ratu Wasti yang berani mengambil langkah berani menolak permintaan raja dalam budaya patriarki. Ada yang menafsirkan bahwa dalam budaya patriarki, istri yang ideal adalah istri yang patuh dan menghormati suaminya, namun tidak demikian halnya dengan Wasti. Demikian juga, ada yang memaknai tindakan Wasti yang menunjukkan keberanian, integritas, dan kepercayaan diri. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menemukan perjuangan melawan dominasi Xerxes di tengah budaya patriarki. Metode Metode yang digunakan adalah analisis gramatikal dari struktur kiastis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pertolongan dari Tuhan, integritas perempuan dalam komunitas patriarki, dan partisipasi perempuan untuk menyuarakan hak-haknya dalam kehidupan pemerintahan.
Rancang Bangun Pewartaan Injil pada Suku Nias melalui Sanggar Tari Mendrofa, Eriyani; Suseno, Aji; Anjaya, Carolina Etnasari
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 2: Juni 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i2.67

Abstract

Evangelism in Nias is something that is rarely done considering that Christianity has become the religion of the majority of the community. This religious status was obtained from birth because he followed the religion of his parents. However, this does not guarantee that someone has accepted Jesus as Lord and Savior, there are still churches that have not experienced being born again. That is why evangelism is still done in order to experience the new birth and become a true Christian. From the perspective of the Great Commission, preaching the gospel is a task that must be carried out by every believer. How evangelism is carried out in Nias, how dance culture studios serve as doors for evangelism, as well as the application of the Great Commission through culture are the main topics of discussion in this paper. The method used is a literature study with qualitative analysis, using books and research results on Nias. There are three stages of evangelism carried out, namely: introductions based on friendship (Fahuwusa), associations packaged in the form of dance studio exercises (angowuloa), and gospel preaching (Foturiaigo). The dance studio is an attraction for young Nias people to be willing to spend time together. The meeting will be accompanied by a prayer meeting and spiritual guidance. The purpose of this research can be used as a basis for preaching the gospel to the Nias people with a cultural approach.  AbstrakPewartaan Injil di Nias merupakan suatu hal yang jarang dilakukan mengingat agama Kristen telah menjadi agama mayoritas masyarakat.  Status agama tersebut diperoleh sejak lahir karena mengikuti agama orangtua. Namun, hal itu tidak menjamin seseorang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, masih juga terdapat jemaat yang belum mengalami lahir baru.  Itulah sebabnya penginjilan tetap dilakukan agar mengalami kelahiran baru dan menjadi Kristen sejati. Dalam perspektif Amanat Agung, pemberitaan Injil merupakan suatu tugas yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Bagaimana penginjilan dilakukan di Nias, dan seperti apa sanggar budaya tari menjadi pintu penginjilan, serta penerapan Amanat Agung melalui budaya merupakan pokok pembahasan dalam tulisan ini.  Metode yang dipakai adalah studi pustaka dengan analisis kualitatif, menggunakan buku-buku dan hasil penelitian tentang Nias. Ada tiga tahap penginjilan yang dilakukan yaitu: perkenalan yang dilandasi dengan dasar persahabatan (fahuwusa), perkumpulan yang dikemas dalam bentuk latihan sanggar tari (angowuloa), dan pemberitaan Injil (Foturiaigo).  Sanggar tari merupakan daya tarik bagi anak muda Nias agar bersedia meluangkan waktu berkumpul.  Dalam pertemuan tersebut akan disertai dengan persekutuan doa dan bimbingan rohani. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai dasar untuk memberitakan Injil pada suku Nias dengan pendekatan budaya. 
Penderitaan Kristus dalam Formasi Spiritual yang Mengedukasi Orang Percaya Anjaya, Carolina Etnasari; Fernando, Andreas; Arifianto, Yonatan Alex
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 1: Desember 2021
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i1.52

Abstract

Di balik penderitaan Tuhan Yesus sejatinya ada prinsip-prinsip dan  makna yang sangat penting untuk dipahami dan teladani. Pemahaman penderitaan Tuhan di kayu salib tidak hanya sebatas pada perkara penebusanNya atas dosa manusia dan bukti kasihNya kepada umat manusia, namun lebih daripada itu. Tujuan penelitian memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai makna penderitaan Kristus dari perspektif pendidikan Kristen. Bagaimana sikap dan responNya dalam menjalani rangkaian penderitaan merupakan fokus penelitian ini dan melaluinya  menjadi refleksi orang percaya tidak hanya sebatas ketika menghadapi penderitaan, namun dalam menjalani totalitas kehidupan.  Hasil penelitian ini adalah pemahaman bahwa serangkaian kisah penderitaan Kristus memiliki makna pendidikan bagi orang percaya. Melalui rangkaian pengalaman penderitaan Tuhan Yesus, orang percaya mendapatkan pendidikan  mengenai formula kehidupan yang harus dijalani umatNya secara total. Orang percaya mendapatkan teladan nyata bagaimana kehidupan harus dijalani dan karakter apa yang harus dimiliki agar berkenan padaNya. Secara garis besar formula tersebut sebagai berikut:  pertama, kasih kepada Tuhan dan sesama sebagai fondasi kehidupan. Kedua, hidup yang terus terhubung dengan Tuhan melalui doa dan firman Tuhan. Ketiga, perubahan pola pikir/akal budi dan penguasaan diri. Keempat, kekuatan bertahan dalam penderitaan. Kelima, pengampunan tanpa syarat. Keenam, rela melepaskan segala sesuatu- hidup tidak terikat dengan dunia. Ketujuh, kerendahanhati, melepaskan egoisme dan kepentingan diri. Kedelapan, bertanggungjawab secara total, berintegritas, rela berkorban, hidup penuh syukur  tanpa sungut-sungut  Kesembilan, percaya sepenuhnya kepada Tuhan dan taat serta mengandalkanNya dalam segala perkara. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui kajian pustaka mengenai tema penderitaan dan penebusan Tuhan Yesus.
Mengatasi Kemarahan Remaja kepada Orang tua dengan Konseling Pastoral Pendekatan Carl Rogers Riswan Mangihut Pangaribuan
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v7i1.33

Abstract

Teenage anger often occurs in a family environment, although the causes are various and not always family related. Youth anger toward parents requires ongoing and comprehensive pastoral counseling. This article offers a pastoral counseling approach with Carl Rogers's theory approach in dealing with the phenomenon of adolescent anger. This research approach is qualitative with the phenomenological method, through in-depth interviews with 8 participants in the Church of Christ in Bandar Lampung. The results of interviews from participants are then compiled through three stages, namely: epoche, variant imagination, and synthesis of meaning and essence. The results show that anger is influenced by internal and external factors. Problems that occur are never resolved by sitting together to find a solution but are left alone until they finish on their own. This makes the existing problem never resolved but becomes sustainable because it is hidden. In conclusion, pastoral counseling is needed to deal with existing problems in five stages, namely: guiding, sustaining, healing, reconciling, nurturing.AbstrakKemarahan remaja sering terjadi dalam lingkungan keluarga, sekalipun penyebabnya beragam dan tidak selalu terkait dengan keluarga. Kemarahan remaja terhadap orang tua membutuhkan penanganan konseling pastoral secara berkesinambungan dan konprehensif. Artikel ini menawarkan pendekatan konseling pastoral degnan pendekatan teori Carl Rogers dalam menangani fenomena kemarahan remaja tersebut. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode fenomenologi, melalui wawancara secara mendalam terhadap 8 orang partisipan di Gereja Kristus Bandar Lampung. Hasil wawancara dari partisipan, selanjutnya disusun melalui tiga tahapan yaitu: epoche, varian imajinasi, dan sintesis makna dan esensi. Hasil yang diperoleh bahwa kemarahan dipengaruhi oleh faktor internal maupun ekstenal. Permasalahan yang terjadi tidak pernah diselesaikan dengan cara duduk bersama mencari solusi, namun didiamkan hingga selesai dengan sendirinya. Hal ini membuat masalah yang ada tidak pernah tuntas tetapi menjadi bersifat berkelanjutan karena terpendam. Kesimpulannya, dibutuhkan konseling pastoral dibutuhkan untuk menangani persoalan yang ada dengan lima tahapan yaitu: pembimbingan (guiding), penopangan (sustaining), penyembuhan (healing), pemulihan (recon-ciling),  pemeliharaan  (nurturing).
Memaknai Akun Media Sosial Satire Kristen dalam Perspektif Etis-Teologis Olimbovo, Senopati Salomo; Novalina, Martina
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 2: Juni 2023
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v9i2.115

Abstract

This research is motivated by several irregularities that often occur in the church. This problem results in harmony in the church; for example, the relationship between the congregation and the Pastor becomes tenuous due to irregular teaching. Satire is valuable to satirize someone so that the person being ridiculed makes improvements and thinks more broadly. You can often find satirical sentences on social media accounts, both satire and sarcasm. But this time, many social media accounts are displaying satirical language-style forms of satire about the church, both in terms of order and teachings in the church. This article raises issues that exist on the social media account @gerejapalsu. This account can be a consideration regarding Pastors who are considered to emphasize their physical appearance rather than the truth of the Word that will be conveyed and teachings that are "considered" wrong by the account manager. This research aims to examine this phenomenon from an ethical and theological perspective so that the congregation can consider the positive side of the topic raised by the social media account @gerejapalsu. The method used in the article is a qualitative approach, and the study is in descriptive form using the literature study method. The results of the study show that the existence of this Christian satirical account has a good and functional purpose. Having a party that oversees the church and God's servants will minimize the possibility of damage to the church system. In addition, this phenomenon is helpful as a driving force or trigger for the congregation to think critically and be sensitive to existing problems. Abstrak Di akun media sosial seringkali ditemukan kalimat sindiran baik bersifat satire maupun sarkasme. Namun kali ini, banyak akun media sosial yang menampilkan bentuk sindiran bergaya bahasa satire mengenai gereja, baik secara tatanan maupun ajaran-ajaran dalam gereja. Artikel ini mengangkat permasalahan yang ada di akun media sosial @gerejapalsu. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji fenomena ini dari kacamata etika dan teologis agar jemaat mampu mempertimbangkan sisi positif dari topik yang diangkat oleh akun media sosial @gerejapalsu. Pendekatan yang digunakan dalam artikel adalah pendekatan kualitatif serta kajian dalam bentuk deskriptif dengan metode studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa keberadaan akun satire Kristen ini sebenarnya memiliki tujuan yang baik dan bermanfaat. Dengan adanya pihak yang mengawasi gereja dan para pelayan gereja akan mengecilkan kemungkinan terjadinya kerusakan di dalam sistem gereja. Selain itu fenomena ini berguna sebagai pendorong atau pemicu jemaat untuk mampu berfikir secara kritis dan peka terhadap permasa-lahan yang ada.
Teologi Paulus tentang Pengharapan Hidup Kekal dalam Surat Titus Ayub Rusmanto; Yohanes Joko Saptono
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 1: Desember 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v9i1.79

Abstract

Artikel ini berangkat dari mencari Kitab Titus adalah surat yang ditulis Paulus kepada Titus yang dikategorikan dalam surat pastoral. Surat Titus ini pendek terdiri dari 3 pasal dan 46 ayat. aplikasipun membentangkan perilaku Kristen yang layak dan menegaskan bahwa perilaku Kristen harus didasarkan pada kebenaran Kristen. Penulis berfokus teologis tentang Paulus tentang masa kini abadi, masa yang akan datang dalam kitab Titus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif berusaha mendeskrepsikan serial kehidupan sebelumnya, masa kini yang akan datang dengan eksegesis yaitu dengan menjelaskan atau hermeneutik teks. Artikel ini bertujuan untuk meneliti terus hidup masa kini, masa akan datang yang terkandung dalam (Tit. 1:2; 2:13; 3:7).Paulus memberikan penuntun kepada orang Kristen untuk tetap mengharapkan penggenapan dari penghargaan yang diberikan kepada Allah yang Mahabesar dan kita Yesus Kristus” (Tit. 2:13). Orang-orang tidak percaya pada dasarnya masa kini telah menjalani kehidupan di zaman baru hidup di dalam Kristus dan eskatologi atau hidup kekal masa yang akan datang. 
Penggunaan Media Audio Visual dalam Pengajaran Sekolah Minggu di Gereja Kemah Tabernakel, Bumiayu, Salatiga Setiawati, Hani Martha Puji; Octavianus, Steaven; Sari, Dwi Novita
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 1: Desember 2021
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i1.58

Abstract

Education in the industrial revolution 4.0 has increased in terms of technology. Early Sunday school learning, which only used the lecture method, is now using various methods. The audio-visual teaching method is a combination of image and sound, this method makes the child's sense of hearing and sense of sight easier to understand the material presented. Audio-visual media does not only depend on laptops or LCD projectors, but teachers can provide alternative audio-visual methods using painted or printed images accompanied by spiritual song instruments using speakers or gadgets. It makes Sunday school teachers think more creatively by using existing equipment in anticipation of problems with the laptop or LCD projector. Based on this fact, the researcher gave this solution to Sunday school teachers and it was well-received. This study uses a qualitative approach with a focus group discussion technique aimed at Sunday school teachers at the Bumiayu Tabernacle Camp Church. The researcher uses this method to find alternative audio-visual methods. Based on the results of interviews, observations, and documentation, researchers found that Sunday school teachers at the Bumiayu Tabernacle Camp Church were already using alternative audio-visual methods in Sunday school learning. AbstrakPendidikan pada revolusi industry 4.0 mengalami peningkatan dalam segi teknologi. Pembelajaran sekolah minggu yang awalnya yang hanya menggunakan metode ceramah saat ini sudah menggunakan berbagai cara metode. Metode audio visual adalah penggabungan antara gambar dan suara, hal ini membuat indera pendengaran dan indera penglihatan anak menjadi lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Media audio visual tidak hanya bergantung dari laptop atau lcd proyektor, akan tetapi pengajar dapat memberikan alternatif metode audio visual menggunakan gambar yang dilukis atau dicetak dengan diiringin instrument lagu rohani menggunakan speaker atau gawai. Hal ini membuat guru sekolah minggu untuk berpikir lebih kreatif dengan menggunakan peralatan yang ada sebagai antisipasi jika terjadi kendala pada lapto atau lcd proyektor. Untuk itu peneliti memberikan solusi ini kepada guru sekolah minggu dan diterima dengan baik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik focus group discussion yang ditujukan ke guru sekolah minggu di Gereja Kemah Tabernakel Bumiayu. Sehingga diskusi mengenai alternatif metode audio visual dapat terlaksana. Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi peneliti mendapati bahwa guru sekolah minggu di Gereja Kemah Tabernakel Bumiayu sudah menggunakan alternatif metode audio visual pada pembelajaran sekolah minggu.
Governmental Skills: The Spirit in the Old Testament Christar Arstilo Rumbay
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7, No 2: Juni 2021
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v7i2.40

Abstract

Pneumatology and its significance to the Old Testament have been discussed throughout the years. Indeed, the Old Testament is the ground knowledge of the whole scripture, while pneumatology is the heart of Christian theology due to its connection to the trinity doctrine. This chapter attempts to explore the activities of the Spirit concerning her governmental skills in the Hebrews bible. A systematic theology approach leads this essay to gain knowledge on how the Spirit testifies her competence in governmental works. As a result, the nature of the Spirit’s governmental work in the Old Testament relates to cosmological sense, leadership-administrative duties, and war strategy.
A Miracle at Cana and Christ’s Revelation: An Exegesis on John 2:1-12 Djenny Ruswandi
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6, No 2: Juni 2020 (Print in September)
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v6i2.30

Abstract

Some people see miracles in the biblical narrative just as a part of a mythical story. They are important but not factual. Therefore, the story itself is not historical. One only needs to find some moral lessons from this kind of story. Others see miracles just as miracles. They are needed in times of crisis. No further explanation is needed. However, some others see miracles from a perspective that makes them realize what the message really is. We need to understand a miracle in the biblical narrative recorded in John 12:1-12 with that kind of perspective. Because only by doing that, we can really grasp John’s intention and message implied in the story of the wedding at Cana. This is the goal of this writing. In order to achieve this goal, we will examine John 12:1-12 with a literary approach. We will deal with the authorship and the purpose of the writing of the Gospel of John. We also examine some important words and study the literary context of the text. And lastly, we will highlight some theological points of the text and also look for contemporary messages to our own world. Generally, those points lead us to a very important conclusion that at Cana, Jesus was beginning to reveal who he was to his disciples. He declared by his action that he was the one who was sent by God; he was Christ.AbstrakSebagian orang melihat mujizat-mujizat dalam cerita di Alkitab hanya sebagai satu bagian dari sebuah mitos. Mujizat-mujizat tersebut penting tetapi bukan fakta. Oleh sebab itu, kisah itu sendiri bukanlah sejarah. Seseorang hanya perlu menemukan pesan moral dari model cerita yang demikian. Sementara yang lain melihat mujizat-mujizat hanya sebagai mujizat semata. Mujizat-mujizat tersebut memang dibutuhkan ketika ada krisis. Dan itu tidak memerlukan penjelasan lain. Tetapi, sebagian orang melihat mujizat dengan sudut pandang tertentu yang membuat mereka menyadari apa pesan yang sesungguhnya dari sebuah cerita. Kita harus memahami sebuah mujizat dalam cerita Alkitab yang tercatat di Yohanes 12:1-12 dengan perpektif ini. Karena hanya dengan melakukan hal ini, kita dapat benar-benar meraih maksud dan pesan Yohanes yang tersirat dalam cerita pernikahan di Kana. Ini adalah tujuan dari penulisan artikel ini. Dalam memenuhi tujuan tersebut, kita akan meneliti Yohanes 12:1-12 dengan pendekatan literatur. Kita membahas tentang pengarang dan tujuan penulisan dari Injil Yohanes. Kita juga akan meneliti beberapa kata penting dan mempelajari konteks literatur dari teks tersebut. Lalu akhirnya, kita akan menekankan beberapa poin teologi dari pasal tersebut dan juga mencari pesan yang sesuai untuk masa kini. Secara umum, poin-poin tersebut mengarahkan kita kepada konklusi yang sangat penting bahwa di Kana, Yesus mulai menyatakan siapa diri-Nya kepada murid-murid-Nya. Ia mendeklarasikan diri-Nya dengan tindakan-Nya bahwa Ia diutus Allah; Ia adalah Mesias.
Pengorbanan Zoroaster bagi Sang Mesias: Penelusuran Identitas orang Majus yang Menghampiri Bayi Yesus Setyobekti, Andreas Budi; Wariki, Valentino; Christanto, Andreas; Hosea, Amos
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 2: Juni 2023
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v9i2.97

Abstract

The book of Matthew records the virgin birth of Jesus and then turns to the coming of the Magi from the East to see Jesus being born in Bethlehem. The Magi came from a faraway land guided by a bright star different from the other stars. They are synonymous with people who have knowledge of nature and can interpret the stars. Another view states that they are priests from Persia who work as interpreters of dreams. Examining these characteristics, it is suspected that they are Zoroastrians. This research aims to reveal the identity of the Magi, who brought gifts of gold, frankincense, and myrrh to Jesus. The method used is descriptive qualitative with a historical research approach. The results of the research show that there is a relationship between the Zoroastrians and the birth of Jesus. The birth of Jesus was written in non-Jewish treatises so that the news of human salvation has spread to nations, not just Jews. Abstrak Kitab Matius mencatat kelahiran Yesus dari seorang perawan, dan kemudian beralih kepada kedatangan dari orang Majus dari Timur untuk melihat Yesus yang lahir di Betlehem. Orang Majus datang dari negeri jauh dituntun oleh bintang terang yang berbeda dengan bintang lainnya. Mereka identik dengan orang yang memiliki pengetahuan tentang alam dan mampu menafsirkan bintang. Pandangan lain menyatakan mereka sebagai imam dari Persia yang berprofesi sebagai penafsir mimpi. Menelisik kepada ciri-ciri tersebut, maka diduga mereka adalah kaum Zoroaster. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan identitas orang Majus yang membawa persembahan emas, kemenyan, dan mur kepada Yesus. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan penelitian sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kaum Zoroaster dengan kelahiran Yesus. Kelahiran Yesus sudah ditulis dalam risalah-risalah non-Yahudi, sehingga kabar keselamatan manusia sudah tersebar di bangsa-bangsa, bukan hanya Yahudi.