cover
Contact Name
Bayu Eka Riarsa Thira
Contact Email
bayu.thira@stikesrespati-tsm.ac.id
Phone
+62265-549335
Journal Mail Official
lppm@stikesrespati-tsm.ac.id
Editorial Address
Jl. Singaparna KM. 11 Cikunir Singaparna Tasikmalaya Jawa Barat 46181
Location
Kab. tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA
ISSN : 26569752     EISSN : 29880912     DOI : 10.48186/abdimas
Core Subject : Health,
Jurnal abdimas kesehatan Tasikmalaya merupakan wadah kegiatan publikasi yang diperoleh dari hasil kegiatan abdimas yang telah dilaksanakan oleh dosen perguruan tinggi kesehatan, tenaga kesehatan maupun mahasiswa dari perguruan tinggi kesehatan. Jurnal abdimas kesehatan Tasikmalaya terbit 2 kali dalam setahun yaitu bulan April dan Oktober. Keberadaan jurnal ini mendapatkan pengelolaan khusus dari dewan redaksi sehingga setiap terbitan diharapkan mampu mendapatkan penerimaan yang baik dikalangan pengguna.
Articles 70 Documents
SOSIALISASI PERMAINAN ULAR TANGGA UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI SDN MARGAMULYA KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2018 sinta Fitriani; Fenty Agustini
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.148

Abstract

Anak usia sekolah merupakan kelompok usia yang kritis karena pada usia tersebut seorang anak rentan terhadap masalah kesehatan. Masalah kesehatan yang dihadapi oleh anak usia sekolah pada dasarnya cukup kompleks dan bervariasi. Peserta didik pada tingkat Sekolah Dasar (SD) misalnya, masalah kesehatan yang muncul biasanya berkaitan dengan kebersihan perorangan dan lingkungan, sehingga isu yang lebih menonjol adalah perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cara menggosok gigi yang benar, mencuci tangan pakai sabun, dan kebersihan diri lainnya (Depkes RI : 2004) Perilaku hidup bersih dan sehat adalah perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga setiap orang dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan – kegiatan kesehatan di masyarakat. Pada tatanan sekolah terdapat 8 indikator untuk perilaku hidup bersih dan sehat yaitu : jajan di kantin sekolah, mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun, menggunakan jamban sehat, mengikuti kegiatan olahraga dan aktivitas fisik di sekolah, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di sekolah, menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan, serta membuang sampah pada tempatnya (Depkes RI, 04. Pada era globalisasi ini banyak tantangan bagi peserta didik yang dapat mengancam kesehatan fisik dan jiwanya. Tidak sedikit anak yang menunjukkan perilaku tidak sehat, seperti lebih suka mengkonsumsi makanan tidak sehat yang tinggi lemak, gula, garam, rendah serat, meningkatkan resiko hipertensi, diabetes, obesitas dan sebagainya. Siswa sebelum makan tidak mencuci tangan terlebih dahulu, sehingga memungkinkan masuknya bibit penyakit kedalam tubuh. Hal ini mengacu pada pemikiran Hamiyah dan Jauhar (2015) bahwa perilaku tidak sehat ini juga disebabkan oleh lingkungan yang tidak sehat, seperti kurang bersihnya rumah, sekolah, atau lingkungan masyarakatnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hermiyanti (2016:14) bahwa Sekolah Dasar Bersih Sehat (SDBS) adalah Sekolah Dasar yang warganya secara terus-menerus membudayakan PHBS, dan memiliki lingkungan sekolah yang bersih, indah, sejuk, segar, rapih, tertib, dan aman. Menurut Panduan Pengembangan Model Sekolah Sehat di Indonesia (2009: 4), manfaat yang didapat dari program Sekolah Sehat antara lain: 1) bagi masyarakat yaitu sebagai tempat menghasilkan siswa yang mempunyai budaya hidup sehat dan aktif, 2) bagi pemerintah yaitu sebagai tempat pembelajaran yang dapat dijadikan percontohan bagi sekolah-sekolah lain karena diharapkan sekolah tersebut dapat menghasilkan sumber daya yang berkualitas, dan 3) bagi swasta atau dunia kerja yaitu dapat memberi peluang pada swasta untuk berperan dalam pengembangan Sekolah Sehat.( Proverawati dan E. Rahmawati : 2011) Kemendiknas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar (2009: 9) menjelaskan bahwa standar Sekolah Sehat meliputi: 1) Standar fisik sekolah yang meliputi: Bangunan sekolah yang memenuhi pembakuan standar minimal Depdiknas, sekolah memiliki akreditasi dari pemerintah, minimal B, sekolah yang memenuhi persyaratan kesehatan (fisik, mental, lingkungan), sekolah yang memiliki pagar, sekolah yang memiliki ruang terbuka yang memadai untuk pembelajaran pedidikan jasmani, dan sekolah memiliki sertifikat hak milik (SHM). 2) Standar sarana prasarana meliputi: memiliki sarana prasarana untuk pendidikan kesehatan yang memadai, memiliki sarana prasarana untuk pendidikan jasmani, memiliki sarana prasarana penunjang kegiatan UKS, 3) Standar ketenagaan yang meliputi: memiliki guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, memiliki guru pembina UKS, memiliki kader kesehatan sekolah (dokterkecil, kader kesehatan remaja), 4) Standar peserta didik yang meliputi: memiliki derajat kesehatan yang optimal, tumbuh kembang secara optimal, dan memiliki tingkat kebugaran jasmani yang optimal. Program Sekolah Sehat perlu disosialisasikan dan dilakukan dengan baik melalui pelayanan kesehatan yang didukung secara mantap dan memadai oleh sektor terkait lainnya, seperti partisipasi masyarakat, dunia usaha, dan media massa. Hal tersebut sesuai dengan pemikiran Hamiyah dan Jauhar (2015:267) yang menyatakan bahwa sekolah sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran harus menjadi ”Sekolah Sehat”, yaitu sekolah yang dapat meningkatkan derajat kesehatan warga sekolahnya. Upaya ini dilakukan karena sekolah memiliki lingkungan kehidupan yang mencerminkan hidup sehat. Mengupayakan pelayanan kesehatan yang optimal, sehingga terjamin berlangsungnya proses pembelajaran dengan baik dan terciptanya kondisi yang mendukung tercapainya kemampuan peserta didik untuk berperilaku hidup sehat. Pendapat diatas sejalan dengan penelitian Irwandi (2016:492- 495) bahwa program sekolah berupa operasi semut, Sabtu bersih, upacara bendera, senam pagi, doa bersama, aubade dan UKS, merupakan kegiatan yang efektif untuk menumbuhkembangkan perilaku hidup sehat, yang melibatkan peran kepala sekolah, guru dan personil sekolah. (Hijjang, P : 2009) SD Negeri Margamulya merupakan salah satu sekolah dasar yang berada di wilayah Kecamatan Singaparna. Sekolah dengan jumlah siswa 225 orang. Kondisi lingkungan di sekolah tersebut adalah sebagai berikut : Sumber air bersih yang digunakan bersumber dari PDAM, akan tetapi kecukupan jumlah air tidak mencukupi kebutuhan pengguna. Jamban yang dimiliki di SDN Margamulya adalah 6 buah jamban untuk siswa tidak sesuai rasio dan tidak ada pemisahan antara jamban siswa laki laki dan perempuan. Selain itu terdapat 2 jamban untuk guru. Saluran pembuangan air limbah di sekolah tersebut langsung ke selokan belakang sekolah. Berdasarkan wawancara dengan salah satu guru sekolah menyatakan bahwa di SDN Margamulya terdapat 1 buah ruang UKS akan tetapi program UKS tidak berjalan maksimal. Sekolah ini tidak memiliki kantin. Anak anak jajan diluar sekolah pada PJAS. Menurut guru belum ada aturan terkait jajan di sekolah tersebut. (Supriyani : 2017)
KEGIATAN PENYULUHAN PADA REMAJA TENTANG PERSONAL HYGIENE DAN PUBERTAS DI KAMPUNG PAMEUNGPEUK DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA TASIKMALAYA TAHUN 2018 Hapi Apriasih; Tupriliany Danefi
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.149

Abstract

Seiring dengan  perkembangan zaman, masalah remaja makin bertambah di mana-mana khususnya di Indonesia.  Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Masalah remaja di zaman ini bukanlah baru terjadi, tapi dari tahun sebelum-sebelumnya sudah sering terjadi, dimana masalah pada remaja yaitu pergaulan bebas,  tawuran, memakai narkoba, menonton film porno, meminum minuman alkohol, pesta pora dan masih banyak lagi masalah yang terjadi pada remaja.  Dan sekarang ini ada juga anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah seperti SD, maupun SMP dan SMA sudah ada yang merokok, pergaulan bebas, meminum alkohol, menonton film porno, dan bahkan ada yang sudah hamil di luar nikah. Ini semua terjadi karena kurang adanya pengawasan dari orangtua atau keluarga, guru, dan pemerintah.  Masalah remaja tentunya  tak jarang lagi mendengar atau menonton dan bahkan melihat yang terjadi disekitar kita. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan berbasis Sekolah di Indonesia tahun 2015 (GSHS) dapat terlihat gambaran faktor risiko kesehatan pada pelajar uisa 12-18 tahun secara nasional sebanyak 41,8 % laki-laki dan 4,1 % perempuan mengaku pernah merokok, 32,82 % doantara merokok pertama kali pada umur kurang dari 13 tahun. Gambaran faktor resiko kesehatan lainnya adalah perilaku seksual dimana didapatkan 8,26 % pelajara laki-laki dan 4,17 pelajara perempuan usia 12-18 tahun pernah melakukan hubungan seksual. Perilaku seks pranikah tentunya memberikan dampak yang luas pada remaja terutama berkaitan dengan penularan penyakit dan kehamilan yang tidak diinginkan serta aborsi. Kehamilan pada remaja tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi fisik, mental dan sosial remaja tetapi juga meningkatkan resiko kematian bayi dan balita, seperti yang ditunjukkan SDKI 2012 dimana kehamilan dan persalinan pada ibu dibawah umur 20 tahun memiliki kontribusi dalam tingginya Neonatal Mortality Rate (34/1000 KH), Postnatal Mortality Rate (16/1000 KH), Infant Mortality Rate (50/1000 KH) dan under -5 Mortality Rate (61/1000 KH). Laporan triwulan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) mulai 1987 sampai dengan Maret 2017 menunjukkan bahwa tingginya angka kejadian AIDS di kelompok usia 20-29 tahun mengindikasikan kelompok tersebut pertama kali terkena HIV pada usia remaja. Di Desa Cikunir merupakan desa di wilayah Puskesmas Singaparna yang terdiri dari 3 dusun yaitu Gunung Kawung, Pameungpeuk, dan Anggaraja. Melalui kegiatan praktik kerja nyata mahasiswa Program Studi Kebidanan STIKes Respati Tasikmalaya melalui focus grup discucion (FGD) diperoleh informasi dari 35 responden remaja sebagai berikut 48,7 % belum mengetahui kesehatan reproduksi khususnya terkait infeksi menular seksual, 45,71 % sudah mempunyai pcar, 51,43 % tidak mengetahui tentang HIV/AIDS, 22,86% tidak mengetahui dampai pernikahan dini, dan 11,43 % setuju dengan pernikahan dini. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja masih kurang dan akan berdampak pada permasalahan yang serius maka menjadi hal yang sangat penting untuk adanya upaya dalam hal peningkatan pengetahuan remaja , oleh karena diselenggarakan kegiatan penyuluhan tentang personal higyene dan masa pubertas pada remaja.
SOSIALISASI PEDOMAN GIZI SEIMBANG DENGAN METODE NUTRIEDUTAINMENT DI SDN KARAWANG WETAN 1 DAN SDN PALUMBONSARI Ratih Kurniasari; Risma Rahmatunisa
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.150

Abstract

Anak sekolah dasar merupakan kelompok usia rawan gizi. Hal ini disebabkan pertumbuhan anak yang pesat dan aktifitas sekolah yang padat. Agar tumbuh kembang anak dapat optimal, asupan gizi yang baik dari segi kuantitas maupun kualitas diperlukan dan perlu perhatian berbagai pihak. Pemberian gizi pada usia ini biasanya tidak berjalan secara optimal, karena banyak faktor lingkungan yang mempengaruhimya salah satu pengetahuan orang tua dan guru yang kurang sehingga menyebabkan anak tidak dapat mengkonsumsi zat gizi yang tepat. (Siti, 2012) Indonesia pada anak umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah) mengalami masalah gizi ganda, yaitu masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih. Secara umum di Provinsi Jawa Barat prevalensi kurus adalah 10,9% pada laki-laki dan 8,3% pada perempuan. Sedangkan prevalensi BB lebih pada laki-laki 7,4% dan perempuan 4,6%. Masalah gizi kurang umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan. Masalah gizi lebih disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu disertai dengan kurangnya pengetahuan tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan. (Riskesdas 2017) Pada anak usia sekolah dasar permasalahn gizi yang terjadi disebabkan oleh kurangnya pengetahuan. Pendidikan gizi merupakan suatu upaya untuk membuat seseorang atau sekelompok masyarakat sadar akan pentingnya peran gizi dalam kehidupan. Salah satu hal yang perlu diinformasikan ke anak sekolah dasar terutama masalah Pedoman Gizi Seimbang dan menyadari bahwa sebenarnya slogan Empat Sehat Lima Sempurna (4S5S) sudah tidak dipergunakan lagi (Nuryanto 2014). Masalah gizi pada anak usia sekolah dasar dapat dicegah dengan menggunakan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS). PUGS merupakan pedoman tentang susunan makanan sehari–hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memerhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan (BB) ideal, dengan pemilihan dan mengkonsumsi makanan yang baik, bergizi dan seimbang dapat mempengaruhi status gizi. Gizi seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Konsumsi pangan individu dapat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan. Tingkat pengetahuan dapat diperoleh melalui media masa, pendidikan, pengalaman, hubungan sosial, dan budaya. Dengan tingkat pengetahuan yang baik maka sesorang akan lebih selektif dalam mengkonsumsi makanan yaitu makanan apa yang bagus untuk dikonsumsi, manfaat yang diberikan dan bagaimana kandungan gizi sehingga dapatan terpenuhinya kebutuhan gizi dalam tubuh (Redyastuti, 2017). Media pendidikan gizi perlu dipertimbangkan karakteristik dan selera sasaran penyuluhan sehingga pesan gizi yang disampaikan dapat diterima secara efektif (Khomsan 2000). Pendidikan gizi yang diberikan pada anak usia sekolah dasar diupayakan diberikan melalui media yang menarik agar penyampaian materi dapat diterima lebih mudah. Edukasi gizi dapat diberikan dengan metode yang menarik, salah satunya yaitu metode nutriedutainment. Nutriedutainment merupakan gabungan dari nutrition, edukasi dan entertainment yang berarti suatu cara untuk membuat proses pendidikan dan pengajaran gizi menjadi menyenangkan, sehingga siswa dengan mudah menangkap dari pembelajaran mengenai gizi seimbang. Nutriedutainment dapat dilakukan didalam maupun diluar kelas, diberikan dengan metode melakukan permainan, mendengarkan cerita, dan menonton drama.
HEALTH PROMOTION FAKTOR RISIKO SINDROM METABOLIK DI POSBINDU MARGAMULYA KECAMATAN SINGAPARNA TAHUN 2018 wuri Ratna Hidayani
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.151

Abstract

Sindrom metabolik merupakan kelompok abnormalitas metabolik pada seorang individu yang dihubungkan dengan risiko yang meningkat dari penyakit kardiovaskuler (Soleha, et al, 2016). Sindrom metabolik adalah kumpulan gangguan metabolisme seperti obesitas sentral, hipertensi, intoleransi glukosa dan dislipidemia yang dapat menyebabkan terjadinya berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler (PKV), stroke, diabetes melitus tipe 2 (Sihombing, et al, 2015). Berdasarkan hasil penelitian Hidayani (2017) pada penelitian kasus kontrol di Wilayah Kerja Puskesmas Singaparna menyatakan bahwa jenis kelamin pendidikan, pekerjaan, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik tidak berhubungan dengan sindrom metabolik (p lebih besar dari 0,05). Ada hubungan antara umur (OR sama dengan 3,33;p sama dengan 0,0071) dan pola makan (OR sama dengan 2,70;p sama dengan 0,027)dengan sindrom metabolik pada orang dewasa di Wilayah Kerja Puskesmas Singaparna Tahun 2017. Hasil analisis regresi logistik diketahui pola makan merupakan faktor dominan sindrom metabolik (Hidayani, 2017). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan pengabdian masyarakat “Health Promotion Faktor Risiko Sindrom Metabolik di Posbindu Margamulya Kecamatan Singaparna Tahun 2018
KEGIATAN PENYULUHAN PADA IBU BALITA TENTANG PENTINGNYA IMUNISASI BAGI BATITA DI Kp MARGAMULYA DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA TASIKMALAYA TAHUN 2018 annisa Rahmidini; chanty Yunie
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.152

Abstract

Imunisasi dalam sistem kesehatan nasional adalah salah satu bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita. Dasar utama pelayanan kesehatan, bidang preventif merupakan prioritas utama, dengan melakukan imunisasi terhadap seorang anak atau balita, tidak hanya memberikan perlindungan pada anak lainnya, karena terjadi tingkat imunitas umum yang meningkat dan mengurangi penyebaran infeksi (Ranuh dkk, 2011). Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal pada bayi untuk mencapai kadar kekebalan di atas ambang perlindungan (Depkes RI, 2012). Jenis- jenis imunisasi dasar, yaitu: BCG, yaitu imunisasi dasar yang diberikan untuk mencegah penyakit TBC. Kemudian imunisasi dasar Hepatitis B, yang diberikan untuk mencegah penyakit hepatitis B. Selanjutnya DPT, yaitu imunisasi dasar yang diberikan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Kemudian imunisasi dasar Campak, yang diberikan untuk mencegah penyakit campak dan yang terakhir imunisasi dasar Polio, yang diberikan untuk mencegah penyakit polio (IDAI, 2014). Salah satu dari 8 tujuan MDGs pada poin keempat adalah menurunkan angka kematian bayi dengan meningkatkan status imunisasi terutama imunisasi dasar lengkap pada bayi karena imunisasi merupakan hal yang wajib untuk melindungi bayi dari penyakit yang kerap menyerang. Namun, cakupan imunisasi dasar masih di bawah target (Priyono, 2010). Cakupan imunisasi dasar di Desa Cikunir sudah mencapai angkat 80-90%, akan tetapi target cakupan imunisasi dasar yaitu 100% sehingga seluruh batita yang ada di Desa Cikunir mendapatkan imunisasi dasar. Untuk meningkatkan cakupan target tersebut perlu adanya kesadaran dari ibu yang memiliki batita untuk dapat membawa batitanya ke posyandu sehingga mendapatkan imunisasi dasar sesuai dengan jadwal pemberiannya. Berdasarkan hal tersebut maka perlunya dilakukan penyuluhan kepada ibu yang memiliki batita tentang pentingnya imunisasi dasar dan jadwal imunisasi, sehingga setiap batita mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
PENYULUHAN TENTANG FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN WANITA USIA SUBUR DI KP. CIHANDEULEUM DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA TAHUN 2018 Teni Supriyani
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.153

Abstract

Masalah penyakit tidak menular meningkat di negara berkembang. Hal ini memberikan kontribusi terhadap kemiskinan karena menjadi penghalang bagi tercapainya tujuan pembangunan. Salah satunya terkait dengan transisi status gizi yang turut menjadi dampaknya. Masalah anemia, Kekurangan Energi Kronis (KEK), kegemukan, dan obesitas kerap dijumpai pada usia produktif dan dewasa setengah tua, termasuk pada Wanita Usia Subur (WUS). Wanita Usia Subur (WUS) adalah wanita yang masih dalam usia reproduktif, yaitu wanita sejak mendapat haid pertama dan sampai berhentinya haid. Usia reproduktif berkisar antara usia 15-49 tahun, dengan status belum menikah, menikah, atau janda, yang masih berpotensi untuk mempunyai keturunan (Novitasary, Mayulu, & Kawengian, 2013). Masalah perubahan pola dan status gizi timbul sebagai dampak perubahan gaya hidup berkaitan dengan pola makanan dan aktivitas sedentari yang dilakukan. Aktivitas sedentari adalah aktivitas dan perilaku seseorang yang menunjukkan kurang melakukan aktivitas fisik atau perilaku yang tidak banyak bergerak. Perubahan gaya hidup menjadi sedentary life style meningkatkan risiko terjadinya masalah terkait gizi seperti kegemukan dan obesitas. Gaya hidup sedentari (kurang gerak) disertai dengan pola makan yang berlebih, seperti asupan karbohidrat yang tinggi, lemak, protein, serta asupan serat yang rendah. Semua faktor tersebut beresiko membuat seseorang overweight dan obesitas (Proverawati, 2010). Hal tersebut dapat dapat mengakibatkan beberapa permasalahan, seperti meningkatnya penderita penyakit degeneratif, bertambahnya jumlah obese, meningkatkan risiko diabetes mellitus tipe 2, penyakit jantung, stroke, dan kanker-kanker tertentu. Faktor obesitas dan kekurangan aktivitas fisik menyumbang 30% risiko terjadinya kanker (Depkes, 2009). Selain itu, masalah kekurangan energi kronis (KEK) pun menjadi catatan sendiri. Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama, selain juga ada pengaruh faktor psikologis dan lifestyle seperti masalah anoreksia pada beberapa wanita usia produktif dengan harapan mempunyai badan kurus selayaknya model. Jika dikaitkan dengan Wanita Usia Subur, hal tersebut tentu menjadi masalah yang berarti, mengingat Wanita Usia Subur adalah kelompok dengan usia reproduktif dengan potensi kehamilan dan melahirkan yang harus diperhatikan.
PEMBERDAYAAN KADER DALAM UPAYA PENINGKATAN CAKUPAN DETEKSI DINI KANKER SERVIKS DAN KANKER PAYUDARA, DI DESA CIKUNIR 2018 widya maya ningrum; Fenty Agustini; Lilis Lisnawati
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.154

Abstract

Kanker adalah terjadinya pertumbuhan sel tidak terkontrol sehingga ditemukan sel tubuh yang abnormal (sel kanker). Menurut Globacan, pada tahun 2008 kanker yang paling sering terjadi pada wanita adalah kanker payudara dan kanker serviks. Setiap tahun kanker payudara mencapai 1.1 juta perempuan dan jumlah ini merupakan 10% dari kasus baru seluruh kanker. Dengan angka kematian sebesar 410.000 setiap tahun dan menjadikan lebih dari 1,6% sebagai penyebab kematian perempuan di seluruh dunia. Kanker serviks menempati urutan yang kedua setelah kanker payudara. Kejadian kanker serviks 15 per 100.000 wanita dan 7,8 persen nya mengalami kematian. (Globocan, 2012). Kanker serviks masih menjadi permasalahan kesehatan dengan kejadian kematian tertinggi. Keterlambatan dalam mendiagnosis menyebabkan kanker sudah pada stadium lanjut, dan hal ini merupakan salah satu penyebab tidak tertanganinya kanker serviks. Sebanyak 99,7 % penyebab kanker serviks adalah Human Paviloma Virus Onkogenik , dan yang menjadi faktor risikonya adalah Menikah Muda (kurang dari 20 tahun ), Mitra seksual multiple, Infeksi Menular Seksual, Merokok , Defisiensi Vit A./Vit C/VitE (Kemenkes, 2016). Sebanyak 50 - 80% wanita aktif seksual mengalami infeksi HPV dalam hidupnya tanpa disadarinya, tetapi 90% hilang dengan daya tahan tubuh. Untuk itu sebenarnya kanker serviks dapat dicegah. Pencegahan yang dapat dilakukan terhadap kanker serviks adalah pencegahan primer dan sekunder. Pencegahan primer dilakukan pada perempuan yang sehat yang belum terkena suatu penyakit. Contoh pencegahan primer untuk kanker serviks adalah dengan melakukan promosi dan edukasi atau kampanye kanker serviks dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kanker serviks serta Vaksinasi HPV untuk mencegah perempuan dari kanker serviks. Pencegahan sekunder adalah dengan cara melakukan deteksi dini dengan melakukan pemeriksaan pap smear dan atau iva test. (National Cancer Institute, 2017) Tidak seperti kanker serviks yang dapat diketahui etiologi dan perjalanan penyakitnya secara jelas, etiologi dan perjalanan penyakit kanker payudara terutama berhubungan dengan keadaan hormonal (estrogen dominan) dan genetik. Untuk mengatasi masalah pada kanker payudara, maka dikebangkan tatacara deteksi dini dan diagnosis serta penatalaksnaaan yang “cost effective” dengan “evidence based best practies wuth limited resources”. Hal dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kanker payudara adalah dengan cara melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) yang dilakukan rutin setelah menstruasi, selanjutnya setahun sekali dianjurkan untuk SADANIS (periksa Payudara Klinis) yang dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten. Selain itu deteksi dini bisa dilakukan dengan cara Mammografi, USG, dll.(Kemenkes, 2016) Masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pencegahan kanker payudara dan kanker serviks sebagai salah satu faktor penyebab rendahnya cakupan deteksi dini di wilayah Desa Cikunir. Berdasarkan Laporan Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2017 didapatkan data cakupan deteksi kanker payudara dan kanker serviks di Desa Cikunir sebesar 0, 00 %. Hal ini menunjukan bahwa kesadaran wanita usia subur untuk melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker payudara dan serviks sangatlah rendah. Sejalan dengan hasil survey yang dilakukan pada 20 wanita usia subur, sebagian besar pengetahuan wus tentang kanker payudara dan kanker serviks sangatlah kurang, dan semua WUS yang dilakukan survey belum pernah melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker payudara dan kanekr serviks.( Laporan PKN, 2018) Agar pengetahuan perempuan tentang kanker payudara dan kanker serviks dan perilaku deteksi dini meningkat yang berdampak kepada tercapainya cakupan deteksi dini kanker payudaradan kanker serviks maka perlu dilakukan suatu program pemberdayaan masyarakat dengan membentuk Komuitas Kader Peduli Kanker (KKPK). KKPK ini dibentuk dengan tujuan agar dapat meningkatkan kepedulian masyarakat khususnya perempuan terhadap pentingnya pencegahan kanker payudara dan kanker serviks. Dengan KKPK diharapkan pengetahuan masyarakat akan kanker payudara dan serviks meningkat yang berdampak kepada peningkatan kepedulian untuk melakukan deteksi pencegahan kanker payudara dan kanker serviks. Untuk lebih jelasnya dalam laporan ini akan dijelaskan kegiatan – kegiatan yang telah dilakukan dalam rangka Pemberdayaan Kader Dalam Upaya Peningkatan Cakupan Deteksi Dini Kanker Serviks Dan Kanker Payudara Di Desa Cikunir 2018.
PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU HAMIL MELALUI DISKUSI KELOMPOK TENTANG PERSEPSI DAN TRADISI KELIRU PADA MASA HAMIL DI DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA TAHUN 2018 chanty Yunie; annisa Rahmidini
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.155

Abstract

Kehamilan merupakan suatu keadaan dimana seorang wanita yang didalam rahimnya terdapat embrio atau fetus. Kehamilan dimulai pada saat masa konsepsi hingga lahirnya janin, dan lamanya kehamilan dimulai dari ovulasi hingga partus yang diperkirakan sekitar 40 minggu dan tidak melebihi 43 minggu (Kuswanti, 2014). Jumlah ibu hamil di Indonesia pada tahun 2017 tercatat sekitar 5.324.562 jiwa. Sedangkan di Jawa Tengah, jumlah ibu hamil mencapai 590.984 jiwa (Kemenkes RI, 2018). Kondisi kesehatan calon ibu pada masa awal kehamilan akan mempengaruhi tingkat keberhasilan kehamilan serta kondisi status kesehatan calon bayi yang masih didalam rahim maupun yang sudah lahir, sehingga disarankan agar calon ibu dapat menjaga perilaku hidup sehat dan menghindari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi calon ibu pada masa kehamilan (Johnson, 2016). Sosial budaya dapat dilihat sebagai pola dalam suatu wilayah lokal, seringkali dipandang secara birokratis dan sesuatu yang terorganisir, berkembang, berbudaya termasuk teori pemikiran sistem kepercayaan dan aktivitas sehari-hari, hal ini dapat diterapkan dalam praktek keseharian. Terkadang sosial budaya digambarkan menjadi suatu yang tidak dapat ditangkap oleh akal sehat atau sesuatu diluar kemampuan panca indra (Cicourel, 2013). Kebudayaan memiliki unsur yang sama dalam setiap kebudayaan di dunia. Baik kebudayaan kecil bersahaja dan terisolasi maupun yang besar, kompleks dan dengan jaringan hubungan yang luas. Kebudayaan sangat mudah berganti dan dipengaruhi oleh kebudayaan lain, sehingga akan menimbulkan berbagai masalah yang besar. Dalam suatu kebudayaan terdapat sifat sosialis masyarakat yang didalamnya terdapat suatu ikatan sosial tertentu yang akan menciptakan kehidupan bersama (Sulismadi & Sofwani, 2011). Kebudayaan mencakup suatu pemahaman komprehensif yang sekaligus bisa diuraikan dan dilihat beragam vairabel dan cara memahaminya. Kebudayaan dalam arti suatu pandangan yang menyeluruh yang menyangkut pandangan hidup, sikap dan nilai. Pembangunan kebudayaan dikaitkan dengan upaya memperbaiki kemampuan untuk recovery, bangkit dari kondisi yang buruk, bangkit untuk memperbaiki kehidupan bersama, bangkit untuk menjalin kesejahteraan. Dalam hal inilah sosial budaya berperan untuk 3 memberikan solusi terbaik bagi beragam bidang kehidupan (Widianto & Pirous, 2009). Budaya pada masa kehamilan dan persalinan di sebagian daerah telah terjadi pergeseran namun di sebagian lain masih dipertahankan. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh O’Neil (2006) bahwa semua budaya yang diwariskan cenderung untuk berubah tetapi ada kalanya juga dipertahankan. Ada proses dinamis yang mendukung diterimanya hal-hal dan ide-ide baru dan ada juga yang mendukung untuk mempertahankan kestabilan budaya yang ada. Hiller (2003) menyatakan bahwa ketika perubahan terjadi, maka terjadi destruksi nilainilai tradisional, kepercayaan, peran dan tanggungjawab, pendidikan, keluarga dan lain-lain yang hampir simultan dengan proses konstruksi cara baru sebagai pengaruh dari perubahan sosial. Nilai dan ritual yang baru ini menggantikan nilai dan ritual yang lama. Namun di sebagian masyarakat adakalanya terjadi kompromi yang mana nilai dan ritual baru dijalankan dengan tanpa menghilangkan nilai dan ritual lama. Berdasarkan studi pendahuluan melalui wawancara singkat yang dilakukan di Di Wilayah Desa Cikunir Kabupaten Tasikmalaya terdapat ibu hamil yang memiliki kepercayaan-kepercayaan tentang acara makanan dan kebiasaan makan yang sudah turun-temurun dilakukan seperti contoh larangan untuk makan dipiring besar, makanan pedas, nanas, duren, tape dan yang lainya dengan alasan akan membahayakan kesehatan bayi. STIKes Respati sebagai satu-satunya sekolah tinggi ilmu kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan terkait dengan kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satunya dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu upaya nyata STIKes Respati adalah dengan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul : Peningkatan Pengetahuan Ibu Hamil Melalui Diskusi Kelompok Tentang Persepsi Dan Tradisi Keliru Pada Masa Hamil Di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Tahun 2018
PEMBINAAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA WILAYAH KERJA PUSKESMAS CISAYONG KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2018 Santi Susanti
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.156

Abstract

Pergaulan bebas dan hamil pranikah menjadi potret buram kehidupan remaja saat ini di Indonesia. Seks bebas (free sex), hamil di luar nikah, aborsi, perkosaan, pelecehan seksual, peredaran VCD porno, pornografi, dan pornoaksi merajalela di kalangan remaja saat ini. Gejala demikian, nampaknya dipengaruhi oleh eksploitasi seksual dalam video klip, majalah, televisi dan film-film “orang dewasa”. Tampilan atau tayangan seks di media yang mudah diakses, melahirkan anggapan para remaja bahwa seks adalah sesuatu yang bebas dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Sebagaimana film-film dewasa yang mereka tonton. Para remaja mengadopsi gaya pergaulan hidup yang berasal dari tontonan tersebut, termasuk soal hubungan seks di luar nikah dianggap suatu kewajaran.(WorldPress.com). Kekhasan karakteristik remaja dan dengan gencarnya arus budaya Barat yang membidik remaja membuat tuntutan kebebasan bergeser menjadi liar tidak terkendali. Pola hidup sekuler yang dipraktikkan masyarakat Barat, jelas bertolak belakang dengan kehidupan budaya Timur yang mayoritas beragama Islam. Parahnya, gaya hidup sekuler menjadi acuan dalam perjalanan remaja mencari identitas. Tingginya kasus penyakit Human Immunodeficiany Virus/Accuired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), khususnya pada kelompok umur remaja, salah satu penyebabnya adalah pergaulan bebas. Semakin banyak penderita HIV/AIDS memberikan gambaran bahwa cukup banyak permasalahan kesehatan reproduksi yang timbul di antara remaja. Perusahaan riset Internasional Synovate atas nama DKT Indonesia melakukan penelitian perilaku seksual remaja berusia 14-24 tahun kepada 450 orang remaja dari Medan, Jakarta, Bandung dan Surabaya. Hasilnya, 64% remaja mengakui secara sadar melakukan hubungan seks pranikah, karena tidak memiliki pengetahuan khusus dan komprehensif atau menyeluruh mengenai seks. Melihat kondisi tersebut maka penulis tergerak untuk menyusun sebuah program pengabdian masyarakat dalam meningkatkan pemahaman remaja tentang perilaku seks yang sehat. Program ini bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi.
MEWUJUDKAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA MELALUI KONSELING DAN PEMASANGAN ALAT KONTRASEPSI IMPLAN DAN INTRA UTERINE DEVICE (IUD) DI PUSKESMAS RENGASDENGKLOK KABUPATEN KARAWANG TAHUN 2019 Riska Setiawati; UWAY WARIAH; IRMA YANTI
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.157

Abstract

Salah satu tujuan program Keluarga Berencana (KB) yang diterapkan di Indonesia adalah untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Program KB memiliki upaya yaitu: mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal untuk melahirkan serta mengatur kehamilan. Undang-undang No.52 Tahun 2009 mendukung Program KB sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan keluarga yang sehat dan berkualitas Tujuan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan wanita usia subur mengenai alat kontrasepsi implan dan IUD dan dapat memilih alat kontrasepsi implant dan IUD sebagai pilihan yang tepat serta melakukan pemasangan alat kontrasepsi implan dan IUD.