cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 74 Documents
Bahasa Madura dan Indonesia sebagai Pengantar Ibadah dan Pelajaran Agama di GKJW Pepantan Paleran El Adibah, Elisa Dourothun Nafis; Mariska, Renita Bella; Nurhayati, Alfisyah
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7466

Abstract

Language is a cultural element that every country has with its uniqueness. Madura language is the local language used by the people of Jember, especially Paleran Village. In addition to Madurese, the national language is also used in everyday life. Language has a function as a communication tool to convey information to others. With this, it is interesting that researchers want to study the strategy of using Madurese and Indonesian languages as an introduction to worship and religious lessons at GKJW Pepantan Paleran. There are three formulations of the problem studied, including: First, why Madura and Indonesian are used as an introduction to worship and religious lessons in the Church. Second, how is the strategy of using the Madurese and Indonesian languages as an introduction to worship activities and providing religious lessons in the church?. Third, how to implement Madurese and Indonesian languages as an introduction to worship and and provision of religious lessons in the church. This study uses empirical research methods with a literature study approach based on a descriptive qualitative data approach. The results of the research show that the Madurese language is the daily language of the people of Paleran hamlet. First, the use of the Madura language as an introduction is carried out in Sunday worship activities. The Madurese language is used because it makes it easier to convey the Bible written in Madurese. Second, the use of Indonesian is used for religious learning for children, youth, and adults such as mothers and fathers.AbstrakBahasa merupakan unsur budaya yang dimiliki setiap negara dengan keunikannya. Bahasa madura merupakan bahasa lokal yang digunakan oleh masyarakat Jember, terutama Desa Paleran. Selain bahasa madura, bahasa nasional juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa memiliki fungsi sebagai alat komunikasi guna menyampaikan informasi kepada orang lain. Dengan hal ini, menarik peneliti ingin mengkaji strategi penggunaan bahasa madura dan indonesia sebagai pengantar ibadah dan pelajaran agama di GKJW Pepantan Paleran. Terdapat tiga rumusan masalah yang dikaji, diantaranya: Pertama, mengapa bahasa madura dan Indonesia digunakan sebagai pengantar ibadah dan pelajaran agama di Gereja tersebut. Kedua, bagaimana strategi penggunaan bahasa madura dan Indonesia sebagai pengantar dalam kegiatan ibadah dan pemberian pelajaran agama di gereja tersebut. Ketiga, bagaimana implementasi bahasa madura dan Indonesia sebagai pengantar ibadah dan dan pemberian pelajaran agama di gereja tersebut. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian empiris dengan pendekatan studi pustaka berdasarkan pendekatan data kualitatif deskriptif. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahasa madura merupakan bahasa sehari-hari masyarakat dusun Paleran. Pertama, penggunaan bahasa madura sebagai pengantar dilaksanakan pada kegiatan Ibadah hari minggu. Bahasa madura digunakan karena mempermudah dalam menyampaikan Al Kitab yang tertulis bahasa Madura. Kedua, penggunaan bahasa Indonesia dipakai untuk pembelajaran agama bagi kalangan anak-anak, pemuda, kalangan dewasa seperti ibu-ibu dan bapak-bapak. 
Interelasi Argumen-Argumen dan Kritik Tentang Eksistensi Tuhan dengan Religiositas Manusia Muhtar, Mohamad Khusnial
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8034

Abstract

Humans as Homo religiosus, driven by their intellectual instincts, often revisit questions about the existence of God. The presence of religious doctrines that encourage humans to contemplate more about God’s creation rather than His essence raises the question of whether there is still an interrelation between discussions on divinity and human religiosity when that is pursued. This study investigates the arguments for God’s existence, the critiques of these arguments, and their interrelation with human religiosity. The aim is to clarify the understanding of human religiosity while creating a space for critical and in-depth dialogue. This research employs a library research method, gathering data from books, journal articles, and other relevant literature. A philosophical approach and qualitative analysis techniques are used. The findings of this article, include: First, the arguments for God’s existence, whether apriori or aposteriori, each face unavoidable criticisms. These arguments are efforts to justify faith within religiosity. Second, the critiques, in the context of Homo religiosus, provide opportunities to reflect and reassess understanding of God and related beliefs. Third, the inconsistencies or incompleteness in arguments for God’s existence reflect the nature of knowledge and reality that can be understood as consistent and complete at the same time if only at a higher level of infinity. The limitations within each available argument can be understood as something that drives self-awareness toward a more inclusive and profound level of religiosity.Abstrak Eksistensi Tuhan merupakan salah satu topik dalam kajian filsafat yang tak pernah selesai diperbincangkan. Terdapat berbagai macam argumen dari para filsuf tentang eksistensi Tuhan. Artikel ini bertujuan untuk mengulas kritik atas argumen-argumen yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan yang datang kemudian. Pertanyaan menarik seputar kajian tentang Tuhan mencakup: bagaimanakah argumen-argumen terkait eksistensi Tuhan? Apakah argumen-argumen tersebut dapat menunjukkan atau bahkan membuktikan eksistensi Tuhan? Seiring berkembangnya zaman, adakah kritik yang menyangga argumen-argumen tersebut? Artikel ini menggunakan metode library research dengan pendekatan filosofis untuk membahas hal tersebut. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini mencakup: (1) argumen ontologis yang menjelaskan eksistensi Tuhan berdasarkan definisinya tidak lebih dari akrobat logika, (2) argumen kosmologis yang menunjukkan bahwa penciptaan alam semesta serta gerak alam bermula dari satu muasal mengandung inkonsistensi dan tidak koresponden, (3) argumen teleologis didasarkan pada Tuhan sebagai pengatur dan perencana yang luar biasa merupakan over generalisasi, (4) argumen moral yang menjelaskan bahwa Tuhan harus adanya, mengandung asumsi yang dipaksakan terhadap realitas dan inkoheren dengan makna eksistensi. Kemudian, (5) argumen taruhan hanya didasarkan pada upaya pragmatis menghadapi problem Tuhan dan (6) argumen pengalaman religius didasarkan pada subjektivitas yang tidak dapat diuji dan diverifikasi. Semua argumen yang ada cenderung berupa simplifikasi atau over generalisasi, sehingga belum menunjukkan dan membuktikan secara kuat akan eksistensi Tuhan.
Pengaruh Agama Katolik dalam Pola Relasi Duan-Lolat pada Masyarakat Tanimbar Utara Umpung, Alfridus Giridus; Oek, Marianus M.; Metintomwat, Matias; Widodo, Agus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7525

Abstract

The North Tanimbar community in the Maluku Islands has a tradition of a relationship pattern known as Duan-Lolat (Giver-Receiver). This Duan-Lolat relationship pattern originates from the context of marriage, namely the relationship between man (husband) and woman (wife), which at the same time also implies the relationship between nature and humans (cosmological) as well as the master (the king) with his servants (political). This research, using a qualitative approach with interviews and literature studies, aims to examine the influence of Catholicism in the Duan-Lolat relationship pattern. The results show that before the Catholic faith entered, the people of North Tanimbar embraced animist beliefs centered on human relationships with the universe and ancestral spirits, referred to as Makenar and Batmakenar. After the Catholicism entered in their society, the community’s belief system underwent to change. In this religious context, Duan, as the Giver, which in the original beliefs was identified with men, nature and kings, is now applied to God or Ubila’a, in their language. Meanwhile, Lolat, as the receiver, which was originally identified with women, humans, and servants, is applied to humans in their relationship with God. With this new understanding and meaning, Catholicism can be easily accepted by the North Tanimbar community, while strengthening the community’s understanding of the relationship between humans and God, as well as forming the basis for religious practice and the communityAbstrakMasyarakat Tanimbar Utara di Kepulauan Maluku memiliki tradisi dalam pola relasi yang dikenal dengan Duan-Lolat (Pemberi-Penerima). Pola relasi Duan-Lolat ini berasal dari konteks perkawinan, yaitu relasi antara laki-laki (suami) dan perempuan (istri), yang sekaligus juga berimplikasi konteks relasi alam dengan manusia (kosmologis) dan tuan/raja dengan hamba (politis). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara dan studi pustaka, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Agama Katolik dalam pola relasi Duan-Lolat tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa sebelum iman Katolik masuk, masyarakat Tanimbar Utara memiliki kepercayaan animisme yang berpusat pada hubungan manusia dengan alam semesta dan roh-roh leluhur, yang disebut sebagai Makenar dan Batmakenar. Setelah masuknya Agama Katolik, sistem kepercayaan masyarakat mengalami perubahan. Dalam konteks religius ini, Duan, sebagai Pemberi, yang dalam kepercayaan asli diidentikkan dengan laki-laki, alam, dan raja, kini diterapkan pada Allah atau Ubila’a, dalam bahasa mereka. Sementara itu, Lolat, sebagai penerima, yang semula diidentikan pada wanita, manusia, dan hamba, kita diterapkan pada manusia dalam relasinya dengan Allah. Dengan pemahaman dan pemaknaan yang baru ini, Agama Katolik dapat diterima oleh Masyarakat Tanimbar Utara, sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat tentang hubungan manusia dengan Allah, serta membentuk landasan praktik keagamaan dan penghayatan spiritual yang mendasari kehidupan beragama di Tanimbar Utara.
Memahami Pluralitas Kemanusiaan dalam Pandangan Axel Honneth dan Y.B. Mangunwijaya Nale, Alexius
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8811

Abstract

Indonesia’s rich tapestry of religion, culture, tribe, race, and ethnicity has led to a diverse and pluralistic society. However, over time, this diversity has been scrutinized, and instances of radicalism and violence in the name of religion and belief have become more frequent. To address these issues, the perspectives of Axel Honneth and Y.B. Mangunwijaya offer valuable insights into fostering humanitarian attitudes through the adaptation process. This study employs literature review and comparative analysis methods. Findings indicate that embracing plurality with a focus on human values is crucial for cultivating personal awareness of individual dignity. This awareness is essential for bridging divides and dismantling barriers that threaten national unity. Continuous conflict will persist if differences are always viewed with suspicion rather than as a source of richness. As Mangunwijaya noted, a nation cannot mature if it perceives differences as problems rather than assets. To advance towards a mature society, human values must underpin religious teachings, as this is the path to unity and peace. Similarly, Axel Honneth emphasizes the importance of recognition in overcoming social injustices and achieving liberation.AbstrakKehadiran agama, budaya, suku, ras, dan etnis di Indonesia telah menghasilkan keragaman dan pluralitas kehidupan berbangsa. Namun seiring berjalannya waktu, keragaman dan pluralitas itu dipertanyakan, manakala radikalisme dan kekerasan dengan mudahnya terjadi atas nama agama dan kepercayaan. Isu-isu tersebut bisa ditanggapi dengan pemikiran Axel Honneth dan Romo Mangunwijaya yang pada pokoknya menawarkan perspektif solutif terkait proses adaptasi demi membangun sikap kemanusiaan. Untuk itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dan analisis komparatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pluralitas perlu disikapi dengan keutamaan nilai kemanusiaan untuk menumbuhkan kesadaran pribadi akan harkat dan martabat hidup setiap orang. Kesadaran ini menjadi kunci untuk menjembatani ‘jarak’ dan merobohkan ‘sekat’ ataupun ‘tembok’ yang seringkali menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Bangsa ini akan terus berada dalam konflik apabila perbedaan selalu dipersoalkan demi mencari pembenaran. Seperti yang dikatakan Romo Mangunwijaya, negara ini tidak akan dewasa jika perbedaan dilihat sebagai masalah dan bukan sebagai kekayaan. Oleh karena itu, dalam menuju negara yang dewasa, nilai kemanusiaan harus menjadi dasar ajaran bagi setiap agama karena hanya inilah yang mampu membawa kita pada persatuan dan kedamaian. Dalam nada yang sama dengan menekankan aspek kemanusiaan, Axel Honneth pun hadir dengan konsepnya tentang pengakuan. Di sini Honneth mau menunjukan betapa pentingnya aspek pengakuan dalam upaya pemerdekaan – mengatasi bentuk-bentuk ketidakadilan yang menimpa manusia sebagai subjek dalam tatanan sosial.
Dewa Tertinggi “Puang Matua” dalam Kepercayaan Aluk To Dolo Ari, Rofinus; Saleda, Aldry Toban; Bilang, Antonius; Widodo, Agus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7498

Abstract

Each religious tradition has its own name for Hyang Ilahi. In general, the figure of Hyang Ilahi is commonly referred to as God, Allah, Gusti, dewa, and others. These names indicate the relationship and understanding of a particular society or community towards the Divine Being. This research using qualitative methods through literature study, field observations, and interviews aims to explain the understanding of divinity in Aluk To Dolo Religious tradition, especially the existence of Puang Matua. The results show that the Aluk To Dolo Religious tradition has a divine figure that they worship and praise, namely Puang Matua. Aluk To Dolo adherents always aim for unity with Puang Matua through all the rules of life that have been passed down by Puang Matua as norms that must be obeyed. In addition, they hope to be reunited and live with Puang Matua.AbstrakSetiap aliran kepercayaan memiliki penyebutan masing-masing untuk Hyang Ilahi. Secara umum, sosok Hyang Ilahi ini ini biasa disebut dengan nama Tuhan, Allah, Gusti, dewa, dan lain-lain. Nama-nama ini menunjukkan relasi dan pemahaman masyarakat atau komunitas tertentu akan Hyang Ilahi tersebut. Penelitian dengan metode kualitatif melalui studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara ini bertujuan untuk menjelaskan paham ketuhanan dalam kepercayaan Aluk To Dolo, khususnya eksistensi Puang Matua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan Aluk To Dolo memiliki sosok Ilahi yang mereka sembah dan puji, yakni Puang Matua. Para penganut Aluk To Dolo selalu mengarah kepada kesatuan dengan Puang Matua melalui segala aturan hidup yang telah diturunkan oleh Puang Matua sebagai norma yang harus ditaati. Selain itu, mereka berharap dapat dipersatukan kembali dan hidup bersama Puang Matua. 
Persepsi Umat Katolik terhadap Kualitas Pendidikan Sekolah Katolik di Kevikepan Yogyakarta Barat dan Kevikepan Yogyakarta Timur Ayu Widiastuti, Fransiska Lyra; Lintang Natalie, Maria Gratia; Agatha, Aurelia Christy; Maharani, Gabriella
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7429

Abstract

Perception is a viewpoint formed by individuals through the processing of information and experiences received via sensory processes. In this process, individuals provide interpretation and evaluation of certain stimuli or objects. This study aims to analyze the perceptions of Catholic communities regarding the quality of Catholic school education in the Yogyakarta Vicariate. The research employed a qualitative method with a realist approach. Data collection was conducted through a combination of Focus Group Discussions (FGDs) and a survey technique using Google Forms distributed via WhatsApp groups from June to August 2023. The research subjects were members of the Catholic community in 23 parishes of the Western Yogyakarta Vicariate and 25 parishes of the Eastern Yogyakarta Vicariate. Participants involved in the parish FGDs had experiences or engagement with Catholic school education, such as parents, students, teachers or educators, and school staff within both vicariates. The subjects participated in FGDs using several structured question instruments, and the results of these discussions were recorded in Google Forms. The findings were analyzed using a thematic analysis technique, revealing that Catholics in the Yogyakarta Vicariate have a positive perception of Catholic schools. However, the study also found a discrepancy between this positive perception and the actual data on new student admissions, which have declined in several Catholic schools.AbstrakPersepsi adalah pandangan yang dibentuk oleh individu melalui pengolahan informasi dan pengalaman yang diterima melalui proses penginderaan. Dalam proses ini, individu memberikan interpretasi dan penilaian terhadap stimulus atau objek tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran persepsi umat katolik terhadap kualitas pendidikan sekolah katolik di Kevikepan Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan realis. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan kombinasi Focus Group Discussion (FGD) dengan teknik survei melalui google form yang disebarkan ke WhatsApp Group dari bulan Juni hingga Agustus 2023. Subjek dalam penelitian ini adalah umat katolik yang berada di paroki wilayah Kevikepan Yogyakarta Barat sebanyak 23 paroki dan Kevikepan Yogyakarta Timur sebanyak 25 paroki. Umat katolik yang terlibat dalam FGD di paroki memiliki pengalaman atau terlibat dengan pendidikan sekolah katolik, seperti orang tua, murid, guru atau tenaga pendidik, hingga karyawan sekolah di Kevikepan Yogyakarta Barat dan Kevikepan Yogyakarta Timur. Subjek melakukan FGD menggunakan beberapa instrumen pertanyaan yang telah disusun, lalu hasil FGD tersebut dinotulensikan ke dalam google form. Hasil penelitian dianalisis dengan teknik tematik dan ditemukan bahwa umat katolik di Kevikepan Yogyakarta memiliki persepsi yang positif terhadap sekolah katolik. Hasil persepsi tersebut juga ditemukan ketidakselarasan antara persepsi positif umat katolik dengan kenyataan data penerimaan siswa baru yang mengalami penurunan di beberapa sekolah katolik.
Penerapan Teori Kebenaran dalam Evaluasi Pendidikan Iman Katolik: Studi Kasus Ujian Doa-Doa Dasar pada Calon Penerima Komuni Pertama Dengan Difabilitas Mental Wardani, Yohana Ari
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8808

Abstract

The evaluation of Catholic religious education requires an inclusive and fair approach, especially in the context of preparing for first communion. The aim of this paper is to review such evaluations through the lens of truth theory, highlighting the challenges faced by children with cognitive conditions such as dyslexia, ADHD, and intellectual disabilities. The method of memorizing basic prayers in first communion exams is considered to not always reflect a true understanding of faith, especially for children with cognitive conditions. The ethical implications of assessments that do not consider these special needs result in injustice towards children with cognitive disabilities. To ensure inclusivity, the research recommends modifications in the evaluation process, including the use of more flexible and holistic alternative evaluation methods. Although this paper provides relevant insights into the issue, further research involving participants of religious education and Catholic practitioners is needed to develop a more inclusive evaluation approach. In conclusion, the evaluation of Catholic religious education needs to consider the needs of individuals with cognitive disabilities to achieve inclusivity and justice in line with the teachings of the Catholic Church.AbstrakEvaluasi pendidikan iman Katolik memerlukan pendekatan yang inklusif dan adil, terutama dalam konteks persiapan penerimaan komuni pertama. Tujuan dari makalah ini adalah meninjau evaluasi tersebut melalui lensa teori kebenaran, dan menyoroti tantangan yang dihadapi anak-anak dengan kondisi kognitif seperti disleksia, ADHD, dan keterbelakangan mental. Metode hafalan doa-doa dasar dalam ujian komuni pertama dianggap tidak selalu mencerminkan pemahaman yang benar tentang iman, terutama bagi anak-anak dengan kondisi kognitif. Implikasi etis dari penilaian yang tidak mempertimbangkan kebutuhan khusus ini adalah ketidakadilan terhadap anak-anak dengan disabilitas kognitif. Untuk memastikan inklusivitas, penelitian merekomendasikan modifikasi dalam proses evaluasi, termasuk penggunaan metode evaluasi alternatif yang lebih fleksibel dan holistik. Meskipun makalah ini memberikan wawasan yang relevan dengan permasalahan, perlu dilakukan penelitian lanjutan yang melibatkan peserta pendidikan iman dan praktisi Katolik untuk pengembangan pendekatan evaluasi yang lebih inklusif. Kesimpulannya, evaluasi pendidikan iman Katolik perlu memperhatikan kebutuhan individu dengan disabilitas kognitif untuk mencapai inklusivitas dan keadilan yang sesuai dengan ajaran Gereja Katolik
Beragama Katolik, Berbudaya Tionghoa sebuah Kajian Terhadap Hibriditas Umat Katolik-Tionghoa Paroki St. Maria Immaculata Slawi Julianto, Romario; Lelono, Martinus Joko
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7548

Abstract

Santa Maria Immaculata Slawi Parish stands in the Tegal Regency area which has a history of the development of the Chinese community. Chinese ethnicity plays an important role in the dynamics of the Parish. They simultaneously live Chinese culture and the Catholic faith. As a result of the New Order policies they were unable to live out their culture, but Presidential Decree Number 6 of 2000 and Presidential Decree Number 19 of 2000 opened up space for their cultural expression. On Chinese New Year they start holding toa pek kong or tepekong mutual carnivals. The gotong tepekong ritual is a procession of palanquins containing statues of ancestors that are paraded around the city. This article will explore the appreciation of Chinese Catholics in living out two different traditions. Homi K. Bhabha's thoughts are used to understand the attitude choices of the Chinese-Catholic community in Slawi. In his study, Homi K. Bhabha talks about "third space," the meeting or interaction between two different cultures or identities in the same space. Homi K. Bhabha emphasizes "third space" not only as a result of the meeting between two cultures but also as a dynamic social construction. Analysis of this reality will help understand the complexity of people's meaning of their religious and cultural riches.AbstrakParoki Santa Maria Immaculata Slawi berdiri di daerah Kabupaten Tegal yang memiliki sejarah berkembangnya masyarakat Tionghoa. Etnis Tionghoa berperan penting dalam dinamika Paroki. Mereka sekaligus menghidupi budaya Tionghoa dan iman Katolik. Akibat kebijakan orde baru mereka tidak bisa menghidupi budaya mereka, tetapi Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 dan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2000 membuka ruang bagi ekspresi budaya mereka. Pada Tahun Baru Imlek mereka mulai mengadakan kirab gotong toa pek kong atau tepekong. Ritual gotong tepekong merupakan arak-arakan tandu yang berisikan patung leluhur yang diarak mengelilingi kota. Tulisan ini akan menggali penghayatan orang Katolik-Tionghoa dalam menghidupi kedua tradisi yang berbeda. Pemikiran Homi K. Bhabha digunakan untuk memahami pilihan sikap umat Tionghoa-Katolik di Slawi. Dalam kajiannya, Homi K. Bhabha berbicara mengenai “ruang ketiga,” pertemuan atau interaksi antara dua budaya atau identitas yang berbeda dalam satu ruang yang sama. Homi K. Bhabha menekankan “ruang ketiga” bukan hanya sebagai hasil pertemuan antara dua budaya melainkan juga membangun konstruksi sosial yang dinamis. Analisis terhadap realitas ini akan membantu memahami kompleksitas pemaknaan umat akan kekayaan agama dan budayanya.
Kepercayaan Animisme dan Paham Ketuhanan Fumiripits dalam Mitologi Suku Asmat Jalo, Fransiskus Vanlith; Widodo, Agus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7499

Abstract

The Asmat tribe who inhabit the Land of Papua, has a belief in divinity that is deeply rooted in the Fumeripits myth. Fumeripits is seen as the highest god, above the ancestors of the Asmat tribe, who is considered the creator, having higher power and authority. The writing method used is literature study and uses primary data obtained directly through interviews with sources. The aim of this research is to explain Fumeripits divine understanding and reveal how the Asmat people view the role of ancestral spirits in their lives, including how ancestral spirits provide prosperity for the living. Based on the Fumeripits myth, the Asmat people believe that their ancestor was a young man who was skilled in the art of carving. They believe there are three worlds, namely Asamat Ow Capinmi (world of the living), Damir Ow Capinmi (stopover place), and Safan (Heaven). Asamat Ow Capinmi, the Asmat community has an obligation to do good and obey customary law. To help ancestors experience liberation from Damir Ow Capinmi. AbstrakSuku Asmat yang mendiami Tanah Papua, memiliki paham ketuhanan yang mengakar kuat pada mitos Fumeripits. Fumeripits dipandang sebagai dewa tertinggi, di atas nenek moyang suku Asmat, yang dianggap sebagai pencipta, memiliki kekuasaan dan otoritas yang lebih tinggi. Metode penulisan yang digunakan adalah studi pustaka dan menggunakan data primer yang diperoleh langsung melalui wawancara dengan narasumber. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan paham ketuhanan  Fumeripits dan mengungkapkan bagaimana masyarakat Asmat memandang peran arwah leluhur dalam kehidupannya, termasuk bagaimana arwah leluhur memberikan kesejahteraan bagi yang masih hidup. Berdasarkan mitos Fumeripits, masyarakat Asmat meyakini bahwa nenek moyangnya adalah seorang pemuda yang memiliki keahlian dalam seni ukir. Mereka meyakini ada tiga dunia, yaitu Asamat Ow Capinmi (dunia orang hidup), Damir Ow Capinmi (tempat persinggahan), dan Safan (Surga). Asamat Ow Capinmi masyarakat Asmat memiliki kewajiban untuk berbuat baik dan menaati hukum adat. Untuk membantu nenek moyang mengalami pembebasan dari Damir Ow Capinmi
Makna Lokalitas “Gereja Maria” di Paroki Administratif Mater Dei Bonoharjo Relliantoko, Aditya -; Warsono, Agustinus Tri Edy
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7431

Abstract

This study aims to discover the theological reflections contained in a work of art that is the fruit of an artist's reflection. The author intends to examine a case study of a religious statue, namely the Virgin Mary, which appears in an unusual form. This statue is located in the Mater Dei Bonoharjo Administrative Parish, Wates, Kulon Progo, D.I. Yogyakarta, in the local area. It is a work of art with theological meaning and hidden beauty. The study was further explored using a literature review method from various relevant sources. In order to obtain more accurate data, the author conducted an interview with Mr. Ismanto, a sculptor from Muntilan, Central Java. The results of the author's research state that Mary's role is not only as the Mother of Jesus, but she is also present as the Mother of the Church. Thanks to Mary's motherhood, the Church appears as a mother who nurtures the children of God. Works of art are a means of expressing the fruit of faith reflection on the encounter with God. Works of art are often viewed merely as decorations, without looking more deeply at the fact that a work of art is the result of a person's contemplation. Every time a work of art is created, there is a ‘soul’ that remains in the work of art.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan refleksi teologis yang terdapat pada suatu hasil karya seni yang merupakan buah refleksi seorang seniman. Penulis hendak meneliti studi kasus tentang sebuah patung religius yakni Bunda Maria yang tampil secara tidak biasa. Sebuah patung yang terdapat di Paroki Administratif Mater Dei Bonoharjo, Wates, Kulon Progo, D.I. Yogyakarta dalam lokalitas setempat. Suatu karya seni dengan segala makna teologis dan keindahan yang tersembunyi. Kajian terkait lebih diperdalam dengan metode studi pustaka dari berbagai sumber yang relevan. Supaya memperoleh data yang lebih akurat, penulis melakukan wawancara dengan Bapak Ismanto, seorang seniman pematung dari Muntilan, Jawa Tengah. Hasil penelitan yang diperoleh penulis menyatakan bahwa peranan Maria bukan saja sebagai Bunda Yesus, namun ia hadir sebagai Bunda Gereja. Berkat keibuaan Maria, Gereja tampil sebagai seorang ibu yang mengayomi anak-anak Allah. Karya seni merupakan sarana untuk mengekspresikan buah refleksi iman akan perjumpaan dengan Allah. Karya seni seringkali hanya dipandang sebagai hiasan saja, tanpa melihat secara lebih mendalam bahwa suatu karya seni ialah hasil dari permenungan seseorang. Setiap kali proses menciptakan karya seni, terdapat ‘jiwa’ yang tertinggal dalam hasil karya seni itu.