cover
Contact Name
Pringati Singarimbun
Contact Email
pringatisingarimbun@adm.unand.ac.id
Phone
+6289617699764
Journal Mail Official
031262646@ecampus.ut.ac.id
Editorial Address
Cluster Gajah Mada Kapling 2 Gunung Pangilun Padang Sumatera Barat, Indonesia
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Ethics and Law Journal: Business and Notary
ISSN : -     EISSN : 29881293     DOI : -
The Ethics and Law Journal: Business and Notary (ELJBN) is a scholarly publication dedicated to exploring the intersection of ethics, law, business, and notarial practices. Our journal aims to provide a platform for researchers, academics, legal professionals, and practitioners to contribute to the advancement of knowledge and discourse in these fields. ELJBN publishes original research articles, critical reviews, case studies, and thought-provoking commentaries that delve into the ethical and legal dimensions of business activities and notarial practices. ELJBN covers a wide range of topics related to business law, corporate governance, commercial transactions, contracts, intellectual property, dispute resolution, regulatory frameworks, and the evolving landscape of notarial practices. Our journal encourages interdisciplinary perspectives, drawing insights from law, business, economics, ethics, and related disciplines to foster a comprehensive understanding of the complex issues at hand. We seek to promote the highest standards of research integrity, analytical rigor, and ethical inquiry within the realm of business and notary law.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 160 Documents
Koperasi sebagai Badan Hukum dan Pertanggungjawabannya dalam Penggunaan dan Pengelolaan Keuangan Koperasi Donatha, Yustinus Cahya; Sawitri, Dewa Ayu Dian
Ethics and Law Journal: Business and Notary 2025: ELJBN Volume 3 Issue 1 Year 2025 (In Progress Issue)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.250

Abstract

Cooperatives (Koperasi) as a nature of business culture based on the concept of Indonesian society of mutual 'gotong royong' presence is still needed for the recent and imminent. Basic rules governing the cooperatives created during more than 10 years ago, although its execu1ive regulations made after much until now. The concept of law as the basis of the Cooperative Law of 1992 has much to be updated if the Indonesia cooperative as one of the enterprises is still expected to compete with other business entities in Indonesia and the international sphere. Some description has been offered in this article, shows that still so many things that are conceptually still need more studies in considering the existence of Act No.25 of 1992 on Cooperatives has lasted for about 18 years. Although government has issued implementing regulations and implementation of various rules, but as long as the basic provisions of the Law has not been a4justed to the wishes of the changes in the economy generally and the provisions of the particular business entity, the cooperative movement as a business entity is still insuffiCient and its existence cannot be thought to stand in line with other business entities either in Indonesia or, international community. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep hukum koperasi modern bagi koperasi sebagai organisasi perusahaan berstatus badan hukum sempurna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum normatif serta menggunakan pendekatan secara perundang-undangan (statue approach) dan pendekatan secara analisis (analytical approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa koperasi sebagai salah satu hakikat budaya usaha yang berlandaskan konsep masyarakat Indonesia yang saling gotong royong keberadaannya masih diperlukan untuk saat ini dan yang akan datang. Peraturan dasar yang mengatur tentang koperasi dibuat selama lebih dari 10 tahun yang lalu, meskipun peraturan pelaksananya dibuat setelah jauh sampai sekarang. Konsep hukum sebagai dasar UU Koperasi 1992 banyak yang harus diperbarui jika koperasi Indonesia sebagai salah satu badan usaha masih diharapkan mampu bersaing dengan badan usaha lain di Indonesia dan dunia internasional. Beberapa uraian yang telah dikemukakan dalam artikel ini, menunjukkan bahwa masih banyak hal yang secara konseptual masih memerlukan kajian lebih lanjut mengingat keberadaan UU No.25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian telah berlangsung selama kurang lebih 18 tahun. Walaupun pemerintah telah mengeluarkan peraturan pelaksanaan dan pelaksanaan berbagai aturan, namun selama ketentuan-ketentuan pokok Undang-Undang tersebut belum disesuaikan dengan keinginan perubahan perekonomian pada umumnya dan ketentuan badan usaha tertentu, maka gerakan koperasi sebagai suatu badan usaha masih belum memadai dan keberadaannya belum dapat dikatakan sejajar dengan badan usaha lain baik di Indonesia maupun dunia internasional. Kata Kunci: Pengaturan, Pay Later, Transaksi Jual Beli
Pembuktian Tindakan Pelecehan Seksual Verbal (Catcalling) dalam Perspektif Hukum Acara Pidana Wulandari, Kadek Ayu; Sugama, I Dewa Gede Dana
Ethics and Law Journal: Business and Notary 2025: ELJBN Volume 3 Issue 1 Year 2025 (In Progress Issue)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.251

Abstract

The study's objective is to examine the evidence that can be used to prove cases of crimes revealed verbally in the criminal process. The normative research method used in this research focuses on literature reviews such as books, articles in scientific journals, explaining the applicable rules and regulations verbally. In this research, the author implemented legal product design by researching various types of legal provisions, especially regulations in the Criminal Code and Criminal Procedure Code. The results of the research show that verbal sexual understanding (catcalling) in everyday life still often occurs because there is normalization and patriarchal culture and a lack of public knowledge about verbal sexual disclosure. Everyone, both those directly affected and those who observe it, must have the courage to report acts of disclosing sexual verbal acts so that the public will be more alert and avoid worse criminal legal action. Reports on understanding verbal sexuality should be adjusted to evidence that can be accounted for based on Article 184 of the Criminal Procedure Code. The application of evidence that can be accounted for in accordance with the Criminal Procedure Law in catcalling cases can be in the form of witness statements, video recordings and screenshot evidence of comments that indicate verbal sexual disclosure. Key Words: Verbal Sexual Harassment, Evidence, Criminal Procedure Law. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji alat bukti untuk dapat digunakan dalam pembuktian kasus kejahatan pelecehan seksual verbal dalam proses peradilan pidana. Metode penelitian normatif yang digunakan dalam penelitian ini yang berfokus terhadap kajian pustaka seperti buku-buku, artikel pada jurnal ilmiah peraturan dan ketentuan yang berlaku pelecehan seksual verbal. Dalam penelitian ini, penulis mengimplementasikan perancangan produk hukum dengan cara meneliti mengenai berbagai jenis ketentuan UU terutama peraturan dalam KUHP dan KUHAP. Hasil studi menunjukkan bahwa pemahaman seksual verbal (catcalling) dalam sehari-hari masih sering terjadi karena terdapat normalisasi serta budaya patriarki dan kurangnya pengetahuan masyarakat akan pelecehan seksual verbal. Setiap orang baik pihak yang terkena dampak langsung maupun pihak yang mengamatinya harus berani melaporkan tindakan pelecehan seksual verbal agar masyarakat lebih waspada dan menghindari terjadinya tindak hukum kejahatan yang lebih buruk. Laporan pelecehan seksual verbal sebaiknya disesuaikan dengan alat bukti yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan Pasal 184 KUHAP. Penerapan alat bukti yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan Hukum Acara Pidana terhadap kasus catcalling dapat berupa keterangan saksi, rekaman video dan bukti screenshot dari komentar yang berindikasi pelecehan seksual verbal. Kata Kunci: Pelecehan Seksual Verbal, Alat Bukti, Hukum Acara Pidana.
Analisis Hak Pekerja STIKes Nurliana Setelah Diakuisisi Oleh Universitas Haji Siregar, Muhammad Zhafran Natigor; Sumadi, Sudarma
Ethics and Law Journal: Business and Notary 2025: ELJBN Volume 3 Issue 1 Year 2025 (In Progress Issue)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.253

Abstract

This article examines the rights and impacts of the acquisition of Hajj University on STIKes Nurliana workers so that the formulation of the problems raised include: what are the rights obtained by STIKes Nurliana workers after being transferred by Hajj University and how the positive and negative impacts obtained by STIKes Nurliana workers after being transferred by Hajj University. The method in this research uses empirical juridical methods with a qualitative approach. Collecting data and legal materials in this research using interviews, non-participant observation, and documentation. This research results in the conclusion that STIKes Nurliana workers have obtained their rights and obligations in accordance with PP No. 35 of 2021 and the Statute of Hajj University and the negative impact obtained by workers, namely increased workload and demands, but the negative impact is in line with the positive impact, namely promotion, income, and a better management environment. Abstrak Artikel ini mengkaji hak-hak dan dampak akuisisi Universitas Haji terhadap pekerja STIKes Nurliana sehingga rumusan masalah yang diangkat diantaranya: apa saja hak-hak yang didapatkan pekerja STIKes Nurliana setelah dialihkelola oleh Universitas haji dan bagaimana dampak positif dan negatif yang didapatkan oleh pekerja STIKes Nurliana setelah dialihkelola oleh Universitas haji. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dan bahan hukum penelitian ini menggunakan metode wawancara, observasi nonpartisipan, dan dokumentasi. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan yaitu para pekerja STIKes Nurliana telah mendapatkan hak dan kewajibannya sesuai dengan PP Nomor 35 tahun 2021 dan Statuta Universitas Haji serta dampak negatif yang didapatkan oleh pekerja yaitu pertambahan beban dan tuntutan kerja, akan tetapi dampak negatif tersebut sejalan dengan dampak positifnya yaitu kenaikan jabatan, pendapatan, dan lingkungan manajemen yang lebih baik.
Perlindungan Hukum terhadap Konsumen dalam Kecurangan dan Penipuan Transaksi E-Commerce Ruwisanyoto, Raden Fauzan Athallah Putra; Sudiarawan, Kadek Agus
Ethics and Law Journal: Business and Notary 2025: ELJBN Volume 3 Issue 1 Year 2025 (In Progress Issue)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.254

Abstract

The use of e-commerce platforms for transactions involving buying and selling is gaining significant popularity in today's commerce. However, this development also raises a number of concerns regarding the legal protection provided to consumers and the obligations of the various parties involved. This study intends to shed light on the accountability of participants in online transactions as well as the legal recourse options open to customers who have lost money due to fraud or fraud. Research that uses normative juridical research means reviewing legal literature and conducting investigations using a normative framework. The extent to which the parties comply with the principle of freedom of contract determines the level of consumer protection and legal responsibility, based on practical realities. The liability of online business actors can be resolved in court by filing a lawsuit for the losses incurred. Penggunaan platform e-commerce untuk transaksi yang melibatkan pembelian dan penjualan semakin populer secara signifikan dalam perdagangan saat ini. Namun perkembangan ini juga menimbulkan sejumlah kekhawatiran mengenai perlindungan hukum yang diberikan kepada konsumen serta kewajiban berbagai pihak yang terlibat. Studi ini bermaksud untuk menjelaskan akuntabilitas peserta dalam transaksi online serta pilihan jalan hukum yang terbuka bagi pelanggan yang kehilangan uang akibat penipuan atau penipuan. Penelitian yang menggunakan penelitian yuridis normatif, artinya mengkaji literatur hukum dan melakukan penyelidikannya dengan menggunakan kerangka normatif. Sejauh mana para pihak mematuhi prinsip kebebasan berkontrak menentukan tingkat perlindungan dan tanggung jawab hukum konsumen, berdasarkan kenyataan praktis. Pertanggungjawaban pelaku usaha online dapat diselesaikan di pengadilan dengan mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan. Kata Kunci: E-commerce, Perlindungan Hukum, Transaksi Jual-beli, Konsumen.
Prinsip Amicus Curiae terhadap Putusan Hakim dalam Perkara Pidana di Indonesia Ksatria, Cokorda Agung Anuradha Darmaning
Ethics and Law Journal: Business and Notary 2025: ELJBN Volume 3 Issue 1 Year 2025 (In Progress Issue)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.255

Abstract

The principle of Amicus Curiae or "Friend of the Court" is a legal concept that allows third parties to provide legal opinions to the court in a case, even though they are not directly involved. This principle has long been applied in the common law legal system, but is starting to be adopted in the civil law legal system, including in Indonesia. This research aims to understand the regulation of Amicus Curiae in the criminal justice system and its role in influencing judges' considerations in deciding cases in Indonesia. The method used is normative legal research with statutory, conceptual and comparative approaches. The research results show that even though it does not yet have an explicit legal basis in the Indonesian criminal justice system, Amicus Curiae has been used several times in important cases, such as the case of Prita Mulyasari and Richard Eliezer. The judge considers the opinion of the Amicus Curiae in the aspects of justice and social impact of a decision. In criminal procedural law, the existence of Amicus Curiae can enrich legal considerations with additional perspectives from experts or organizations that have an interest in the case. Even though it does not yet have strict regulations, Amicus Curiae is increasingly recognized as an important instrument in the Indonesian criminal justice system to achieve more objective and transparent justice. Further regulations are needed so that its use can be more optimal in the Indonesian legal system.
Perlindungan Hukum Terhadap Lagu Rohani yang Digunakan pada Ibadah Online dalam Perspektif Hak Cipta Rasong, David George Conqueror; Putra, Made Aditya Pramana
Ethics and Law Journal: Business and Notary 2025: ELJBN Volume 3 Issue 1 Year 2025 (In Progress Issue)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.258

Abstract

The aim of this study is to examine how copyright is protected for spiritual songs used in online worship on YouTube media and what legal measures can be taken to protect the copyright of spiritual songs if there is a legal violation against them. This study uses normative legal research methods with a statutory approach. The results of the study show that Law of the Republic of Indonesia Number 28 of 2014 concerning Copyright regulates that Rohani songs are also creations that must be protected. A creator has the right to receive royalties if his work is used commercially by another party. Regarding the mechanism for withdrawing song royalties, it is regulated more clearly in Government Regulation (PP) Number 56 of 2021 concerning Management of Song and/or Music Copyright Royalties. There are two types of legal measures to overcome copyright violations of Rohani songs, namely preventive legal measures and repressive legal measures. ABSTRAK Tujuan studi ini adalah untuk mengkaji bagaimana Perlindungan Hak Cipta atas lagu Rohani yang dipakai dalam ibadah online pada media Youtube serta bagaimana upaya hukum yang dapat dilakukan untuk melindungi Hak Cipta lagu Rohani apabila terjadi pelanggaran hukum terhadapnya. Studi ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan. Hasil studi menunjukkan bahwa Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta mengatur bahwa lagu Rohani juga merupakan suatu ciptaan yang harus dilindungi. Seorang pencipta berhak mendapatkan royalty apabila karya ciptaannya digunakan secara komersial oleh pihak lain. Mengenai mekanisme penarikan royalty lagu diatur secara lebih jelas di dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik. Ada dua jenis upaya hukum untuk mengatasi pelanggaran hak cipta lagu Rohani yaitu upaya hukum preventif dan upaya hukum represif. Kata Kunci : Perlindungan Hukum , Lagu Rohani, Hak Cipta, Ibadah Online
Pertanggungjawaban Perusahaan Ekspedisi Atas Hilangnya Barang Milik Konsumen Kusuma, Ida Bagus Indra; Sudiarawan, Kadek Agus
Ethics and Law Journal: Business and Notary 2025: ELJBN Volume 3 Issue 1 Year 2025 (In Progress Issue)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.259

Abstract

The goal of this study is to determine the responsibility of the expedition company for the missing of customer products and raise awareness about the legal protections for customers of expedition services who incur losses from lost property resulting from the carelessness of the expedition company, as well as to give clients a sense of security and comfort when using the services offered by the company. The main focus is how consumers feel their rights are fulfilled in the case of omissions committed of the shipping group. In the sphere of trade, the expedition group is crucial. Regarding the technology and information system utilized for transportation-related activities, shipping companies play an important role in society as a measure of the progress of life and civilization. On the other hand, freight forwarders often shirk their obligation to deliver merchandise to customers. A normative approach, or collecting and analyzing data through literature study, is used in writing this academic paper. Specifically, data relevant to the highlighted issues were obtained through literature study. The main sources of primary data for the preparation of this paper are academic papers related to regulations and legislation. Per Law No. 8 of 1999, companies must reimburse customers for damages they cause or for goods and services that do not meet established criteria. Restitution, replacement, or both may be required as part of the duty. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertanggungjawaban perusahaan ekspedisi atas hilangnya barang konsumen dan meningkatkan kesadaran atas perlindungan hukum bagi pelanggan jasa ekspedisi yang mendapatkan kerugian akibat kehilangan barang yang diakibatkan oleh kecerobohan perusahaan ekspedisi, serta mempersembahkan rasa aman dan nyaman bagi pelanggan saat menggunakan jasa ekspedisi yang ditawarkan oleh perusahaan. Fokus utama adalah bagaimana konsumen merasa hak-nya terpenuhi apabila terjadi kelalaian yang disebabkan oleh perusahaan ekspedisi. Perusahaan ekspedisi memiliki kontribusi yang amat berarti dalam bidang perdagangan. Berkaitan tentang sistem informasi dan teknologi yang dimanfaatkan pada aktivitas yang berhubungan dengan transportasi, perusahaan ekspedisi memainkan peran penting dalam masyarakat sebagai pengukur kemajuan kehidupan dan peradaban. Di sisi lain, perusahaan ekspedisi sering kali melalaikan kewajiban mereka untuk mengirimkan barang dagangan kepada pelanggan. Pendekatan normatif, atau mengumpulkan dan menganalisis data melalui studi kepustakaan, digunakan dalam penulisan naskah akademis ini. Secara khusus, data yang relevan dengan masalah yang disoroti diperoleh melalui studi literatur. Sumber utama data primer untuk penyusunan makalah ini adalah naskah akademis yang terkait peraturan dan hukum. Perusahaan diwajibkan oleh UU No. 8 Tahun 1999 untuk mengganti kerugian yang mereka sebabkan terhadap pelanggan atau barang dan jasa yang tidak konsisten dengan pesanan. Restitusi, penggantian, atau keduanya mungkin diperlukan sebagai bagian dari kewajiban tersebut. Kata Kunci: Perusahaan Ekspedisi, Konsumen, Pertanggungjawaban
Akibat Hukum Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Dalam Kasus Ekspor Minyak Goreng (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 41/Pid.Sus-TPK/2024/PN.Jkt.Pst) Amran, Yuko; Markoni, Markoni; Judge, Zulfikar; Wdarto, Joko; Elawati, Tuti
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.283

Abstract

The phenomenon of widespread corruption crimes in Indonesia reflects a serious issue in law enforcement. Ironically, perpetrators of corruption are not only found among the executive or legislative branches but also within the judiciary, which should serve as the last bastion for seekers of justice. The bribery case involving a judge in the cooking oil export scandal serves as concrete evidence of how judicial integrity is at stake. This study aims to analyze the legal consequences of bribery committed by a judge in relation to an onslag (acquittal) verdict, using the case study of the Central Jakarta District Court Decision Number 41/Pid.Sus-TPK/2024/PN.Jkt.Pst. The research method employed is normative juridical, utilizing the theories of abuse of power, legal accountability, and corruption. The findings show that the onslag decision rendered by the judge was proven to have been influenced by the bribe received. The study concludes that the act of corruption committed by the judge in the cooking oil export case constitutes a systemic and structured crime involving abuse of authority, bribery, and self-enrichment. The legal consequences include imprisonment, fines, revocation of certain rights, dishonorable dismissal, and the loss of public trust in the judiciary. The study recommends that the Supreme Court, the Judicial Commission, and the House of Representatives strengthen judicial oversight, reform the legal system, and impose stricter sanctions on corrupt judges. Keywords: legal consequences, corruption crime, judge, cooking oil export.   Abstrak Fenomena maraknya tindak pidana korupsi di Indonesia menunjukkan persoalan serius dalam penegakan hukum. Ironisnya, pelaku korupsi tidak hanya berasal dari kalangan eksekutif atau legislatif, tetapi juga dari lembaga peradilan yang seharusnya menjadi benteng terakhir pencari keadilan. Kasus suap ekspor minyak goreng yang melibatkan hakim merupakan salah satu contoh nyata bagaimana integritas hakim dipertaruhkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis akibat hukum dari suap yang dilakukan oleh Hakim terhadap putusan onslag studi kasus Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 41/Pid.Sus-TPK/2024/PN.Jkt.Pst. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, dengan menggunakan teori penyagunaan wewenang, teori pertanggungjawaban hukum, dan teori tentang korupsi. Akibat hukumnya hakim yang memberikan putusan onslaag tersebut terbukti bahwa putusannya itu karena dipengaruhi faktor suap yang diterimanya. Kesimpulan bahwa tindak pidana korupsi yang dilakukan hakim dalam perkara ekspor minyak goreng merupakan kejahatan sistemik dan terstruktur yang meliputi penyalahgunaan wewenang, penerimaan suap, dan upaya memperkaya diri. Akibat hukumnya tidak hanya berupa pidana penjara, denda, dan pencabutan hak tertentu, tetapi juga pemberhentian tidak dengan hormat serta hilangnya kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan. Sarannya agar Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, DPR perlu memperkuat pengawasan hakim, mereformasi sistem hukum, memperketat sanksi bagi hakim korup.   Kata kunci: akibat hukum, tindak pidana korupsi, hakim, ekspor minyak goreng.
Pembagian Harta Gono Gini Dari Hasil Royalti Hak Cipta Lagu Dalam Perspektif Keadilan Distributif (Studi Putusan Kasasi Mahkamah Agung Nomor 479 K/Ag/2024) Widiawati, Widiawati; Nazah, Farida Nurun; Fitria, Annisa; Khantika, I Made
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.284

Abstract

This study aims to analyze the legal considerations of the Supreme Court Justices in Decision Number 479 K/Ag/2024 concerning the division of song copyright royalties as part of community property after divorce, viewed from the perspective of distributive justice. The background of this research arises from a new legal phenomenon in Indonesia, in which royalties derived from intellectual property—previously considered purely immaterial rights—have begun to be recognized as part of joint marital assets  in family law disputes. The research adopts a normative juridical method using statutory and case approaches, focusing on an in-depth examination of judicial reasoning and relevant legal instruments governing copyright, marriage, and Islamic family law. The findings reveal that Supreme Court Decision No. 479 K/Ag/2024 serves as a significant precedent in the Indonesian legal system, marking the first recognition of song royalties as divisible community property between spouses following divorce. The judgment not only reaffirms the protection of the creator’s economic rights but also expands the concept of justice in family law through the application of Aristotelian distributive justice, whereby division is made according to the proportional contribution and involvement of each party in the creation of the work. A normative and philosophical analysis of the decision indicates that substantive justice prevails over formal justice, taking into account the continuous nature of royalty income as a dynamic asset. Consequently, this study contributes to the development of intellectual property and Islamic family law in Indonesia, particularly in integrating the principles of distributive justice into the jurisprudence of religious courts. Keywords: Royalty, Community Property, Copyright, Distributive Justice. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dasar pertimbangan hukum Hakim Agung dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 479 K/Ag/2024 mengenai pembagian royalti hak cipta lagu sebagai bagian dari harta gono gini pasca perceraian, ditinjau dari perspektif keadilan distributif. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena hukum baru di Indonesia, di mana royalti hak cipta yang bersifat immateriil mulai diakui sebagai bagian dari harta bersama (community property) dalam sengketa perceraian. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan statute approach dan case approach, berfokus pada analisis putusan pengadilan serta peraturan perundang-undangan terkait hak cipta, perkawinan, dan hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Putusan MA No. 479 K/Ag/2024 menjadi preseden penting dalam sistem hukum Indonesia, karena untuk pertama kalinya royalti lagu dinyatakan sebagai harta bersama yang dapat dibagi secara proporsional antara suami dan istri setelah perceraian. Putusan ini tidak hanya menegaskan perlindungan terhadap hak ekonomi pencipta, tetapi juga memperluas makna keadilan dalam hukum keluarga melalui penerapan prinsip keadilan distributif Aristoteles, di mana pembagian dilakukan berdasarkan kontribusi dan proporsi keterlibatan masing-masing pihak dalam penciptaan karya. Analisis normatif dan filosofis terhadap putusan tersebut menunjukkan bahwa keadilan substantif lebih diutamakan daripada keadilan formal, dengan mempertimbangkan nilai manfaat berkelanjutan (continuous income) dari royalti sebagai aset dinamis. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan hukum kekayaan intelektual dan hukum keluarga Islam di Indonesia, khususnya dalam mengintegrasikan nilai keadilan distributif dalam praktik peradilan agama. Kata Kunci : Royalti, Harta Gono Gini, Hak Cipta Lagu, Keadilan Distributif
Perbuatan Melawan Hukum sebagai Upaya Perlindungan terhadap Hak Subjektif Kennedy, Alexander
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.287

Abstract

The concept of Perbuatan Melawan Hukum (PMH) or tort in Indonesian civil law functions not only as a legal basis for claims of compensation but also as a mechanism to protect individuals’ subjective rights. Initially, “unlawful act” was narrowly interpreted as a violation of written laws; however, jurisprudential development, particularly since the landmark Lindenbaum vs Cohen (1919) case, has broadened its scope to include violations of propriety, morality, and rights recognized by society. This study examines the regulation of PMH under the Indonesian Civil Code (KUHPerdata) and its jurisprudential development, as well as its role in protecting subjective rights. Using a normative juridical method with statute and case approaches, the research draws on primary, secondary, and tertiary legal materials. The findings indicate that PMH serves a dual function, remedial (restoring losses) and preventive (deterring violations) and can protect subjective rights even when no specific legislation exists. However, challenges remain in proving fault, causation, and avoiding inconsistency in judicial decisions. The study recommends clear judicial guidelines, adaptive civil law reform, and enhanced judicial capacity to ensure consistent application of PMH as an instrument of rights protection within the framework of the rule of law. Keywords: Unlawful Act; Subjective Rights; Civil Law; Jurisprudence; Legal Protection. Abstrak Perbuatan Melawan Hukum (PMH) merupakan instrumen penting dalam hukum perdata Indonesia yang berfungsi tidak hanya sebagai dasar tuntutan ganti rugi, tetapi juga sebagai mekanisme perlindungan hak subjektif individu. Awalnya, konsep “melawan hukum” diartikan secara sempit sebagai pelanggaran terhadap peraturan tertulis, namun perkembangan yurisprudensi, khususnya sejak perkara Lindenbaum vs Cohen (1919), memperluas cakupannya hingga mencakup pelanggaran norma kepatutan, kesusilaan, dan hak yang diakui masyarakat. Permasalahan yang dikaji meliputi pengaturan PMH dalam KUHPerdata dan perkembangan penerapannya melalui yurisprudensi, serta perannya dalam melindungi hak subjektif. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan dan kasus, didukung analisis bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa PMH memiliki fungsi ganda, yaitu remedial (pemulihan kerugian) dan preventif (pencegahan pelanggaran), serta mampu melindungi hak subjektif meski belum diatur khusus dalam undang-undang. Namun, tantangan muncul pada pembuktian unsur kesalahan, hubungan kausal, dan potensi inkonsistensi putusan hakim. Disarankan adanya pedoman yudisial yang jelas, pembaruan hukum perdata yang adaptif, dan peningkatan kapasitas hakim untuk memastikan konsistensi penerapan PMH sebagai instrumen perlindungan hak dalam kerangka negara hukum.