cover
Contact Name
Muhammad Haqqiyuddin Robbani
Contact Email
muha198@brin.go.id
Phone
+62881010041900
Journal Mail Official
jtl@brin.go.id
Editorial Address
Gedung BJ Habibie Lantai 8, Jl. M.H. Thamrin No.8 Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Teknologi Lingkungan
Published by BRIN Publishing
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : https://doi.org/10.55981/jtl
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers and case studies focused on environmental sciences, environmental technology as well as other related topics to environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation. Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) adalah jurnal yang bertujuan untuk menjadi platform peer-review dan sumber informasi yang otoritatif. JTL diterbitkan dua kali setahun dan menyediakan publikasi ilmiah bagi para peneliti, insinyur, praktisi, akademisi, dan pemerhati di bidang yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi lingkungan. Kami menerbitkan makalah penelitian asli dan studi kasus yang berfokus pada ilmu lingkungan, teknologi lingkungan serta topik terkait lainnya yang berhubungan dengan lingkungan termasuk sanitasi, biologi lingkungan, pengolahan air limbah, pengolahan limbah padat, desain dan manajemen lingkungan, analisis mengenai dampak lingkungan, pengendalian pencemaran lingkungan dan konservasi lingkungan.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 26 No. 1 (2025)" : 15 Documents clear
Potensi Penurunan Emisi CO2 Sektor Ketenagalistrikan di Provinsi Kalimantan Barat Melalui Bauran Energi Bersih SOLIHAT, SUFIANA; DRIEJANA, RADEN; SETIAJI, ABIMANYU BONDAN WICAKSONO
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.912

Abstract

Increasing greenhouse gas emissions and climate change have become urgent global challenges. Greenhouse gases, such as carbon dioxide (CO2), are primarily produced by the electricity sector, especially from burning fossil fuels. West Kalimantan Province faces specific challenges in developing its electricity sector due to the ban on bauxite exports and the increasing energy demand resulting from the expansion of smelter industries. This study aims to assess the potential reduction of CO2 emissions in West Kalimantan's electricity sector by implementing a clean energy mix, including hydropower, solar energy, and nuclear energy. A system dynamics approach is employed to model complex changes and policy impacts. The projection results indicate that developing clean energy can decrease CO2 emissions, but achieving a net-zero emission target by 2060 still requires further measures to address fossil fuel power plants. Abstrak Peningkatan emisi gas rumah kaca dan perubahan iklim menjadi tantangan global yang mendesak. Gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2) salah satunya dihasilkan oleh sektor ketenagalistrikan, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil. Provinsi Kalimantan Barat menghadapi tantangan khusus dalam pengembangan sektor ketenagalistrikan akibat larangan ekspor bauksit dan kebutuhan energi yang meningkat karena pengembangan industri smelter. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi penurunan emisi CO2 di sektor ketenagalistrikan Kalimantan Barat melalui penerapan bauran energi bersih, termasuk energi air, surya dan nuklir. Pendekatan sistem dinamik digunakan untuk memodelkan perubahan yang kompleks dan dampak kebijakan. Hasil proyeksi menunjukkan bahwa pengembangan energi bersih dapat mengurangi emisi CO2, tetapi target net-zero emission di tahun 2060 masih memerlukan penanganan lebih lanjut terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.
Strategies to Increase Paddy Rice Production in Sugihwaras Village, Candi District, Sidoarjo Regency AINI, NUR; AMIRIL, NUR; RENJAAN, IRENE PAULA; GAFURANINGTYAS, DEWI; GO, RATNA YULIKA; GO, RISKA TEZARA
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.1660

Abstract

Rice fields, which are cultivated with rice and produce rice, are a highly important food commodity for humans. Approximately 85% of the Indonesian population consumes rice as their staple food. The rice production in Sugihwaras Village, Candi Sub-district, Sidoarjo Regency, plays a crucial role in ensuring the availability of rice and improving the well-being of farmers. However, fluctuations in rice production and the decreasing agricultural land pose challenges for the farmers. This research aims to analyze strategies to increase paddy rice production in Sugihwaras Village, Candi District, Sidoarjo Regency. The analysis is conducted using the Internal-External (IE) matrix, which involves evaluating internal and external factors that influence paddy rice production. The internal factors evaluated include strengths and weaknesses, while the external factors encompass opportunities and threats. Based on the analysis results, several strategies are recommended to enhance paddy rice production in Sugihwaras Village. The recommended strategies include: strengthening farmers' skills and knowledge, optimizing land utilization and irrigation channels, improving accessibility and infrastructure, establishing and enhancing farmer groups, obtaining technical assistance, strengthening government support, and addressing challenges such as climate change. Then in the future, sustainable implementation of these strategies can improve paddy rice commodity production in Sugihwaras Village, provide economic benefits to farmers, and enhance the welfare of the local community. This research contributes to the development of agricultural commodity production enhancement strategies and can serve as a reference for relevant stakeholders in decision-making. Abstrak Sawah yang ditanami padi dan produksi beras merupakan komoditas makanan yang sangat penting bagi manusia. Sekitar 85% dari populasi Indonesia mengonsumsi beras sebagai makanan pokok. Produksi sawah di Desa Sugihwaras, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, memainkan peran penting dalam menjaga ketersediaan beras dan meningkatkan kesejahteraan para petani. Namun, fluktuasi dalam produksi padi dan menyusutnya lahan pertanian menjadi tantangan yang dihadapi oleh para petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi peningkatan produksi komoditas padi sawah di Desa Sugihwaras, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Analisis dilakukan dengan menggunakan matriks Internal-External (IE) yang melibatkan evaluasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi produksi padi sawah. Faktor internal yang dievaluasi meliputi kekuatan (strenght) dan kelemahan (weakness), sedangkan faktor eksternal mencakup peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Berdasarkan hasil analisis, beberapa strategi direkomendasikan untuk meningkatkan produksi padi sawah di Desa Sugihwaras yaitu memperkuat keterampilan dan pengetahuan petani, optimalisasi pemanfaatan lahan dan saluran irigasi, meningkatkan aksesibilitas dan infrastruktur, membangun dan meningkatkan kelompok tani, mendapatkan pendampingan teknis, memperkuat dukungan pemerintah, menghadapi tantangan seperti perubahan iklim. Kedepannya implementasi strategi ini secara holistik dan berkelanjutan dapat meningkatkan produksi komoditas padi sawah di Desa Sugihwaras, memberikan manfaat ekonomi bagi petani, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi peningkatan produksi komoditas pertanian dan dapat menjadi acuan bagi pemangku kepentingan terkait dalam pengambilan keputusan.
Air Quality Assessment Based on Real-Time Continuous Monitoring: Particulate and Nitrogen Dioxide Concentrations in South Tangerang Ihsan, Iif Miftahul; Ma'rufatin, Anies; Zahroh, Nyayu Fatimah; Ikhsan, Iik Nurul; Suwedi, Nawa; Pratama, Reba Anindyajati; Adhi, Rizky Pratama; Handika, Rendi; Lusia, Akira; Nishihashi, Masahide; Terao, Yukio; Hashimoto, Shigeru; Nara, Hideki; Mukai, Hitoshi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.2887

Abstract

The increasing concentration of PM2.5, PM10, and NO2 in urban areas will impact human health. Measuring and calculating the concentration of PM2.5, PM10, and NO2 is one of the efforts to control pollution because it can obtain information on the status or category of these air pollutants. Therefore, this study aims to analyze air quality, including PM2.5, PM10, and NO2 particulates calculated based on the Air Quality Index. Pollutant measurements are carried out continuously and in real-time for 24 hours. Pollutant measurements use a continuous dichotomous aerosol chemical speciation analyzer (ACSA-14) tool placed in the BJ Habibie Science and Technology Area, Serpong, South Tangerang. Analysis of PM2.5, PM10, and NO2 concentrations were analyzed to obtain the average daily concentration during the measurement period and the ISPU method was regulated in the Regulation of the Minister of Environment and Forestry Number 14 of 2020. During the measurement period, the daily average concentrations of PM2.5, PM10, and NO2 were 40.0 μg/m3, 60.4 μg/m3, and 37.4 μg/m3, respectively, with the highest concentrations of 170.8 μg/m3, 336.0 μg/m3, 647.5 μg/m3. The moderate and unhealthy categories dominated the results of the ISPU PM2.5 analysis during the measurement period, respectively, at 55.5% and 23.0%. The good and moderate categories dominate the ISPU PM10 and NO2 analysis results, namely 38.0% and 52.2% for PM10 and 82.5% and 7.5% for NO2, respectively.
Lab Scale Investigation of Inline Powdered Active Carbon-Ultrafiltration Membrane as Pretreatment for Seawater Reverse Osmosis Laksono, Sucipta; Revansa, Labdaswara Bona; Adityosulindro, Sandyanto
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.3605

Abstract

Reverse osmosis is a technology to that treat treats seawater as an alternative source for of drinking water supply. Several studies confirmed that pretreatment stages, designed to tackle high salinity and organic material in seawater, contribute significantly to the reliability of SWRO technology. Despite its effectiveness, declination of the performance of SWRO after several operation times resulted in potential improvement. Enhancement of pretreatment process to increase the performance of SWRO is necessary to be investigated. A combination of powdered activated carbon and ultrafiltration (PAC/UF) is employed at a lab scale experiment using real seawater matrix collected from an outlet dissolved air flotation unit as SWRO pretreatment stage. The Experiment was conducted employing a polyethersulfone (PES) membrane with an average pore size of 30 nm at dead-end operation with constant flux of 60 and 120 L/m²·h, respectively. For activated carbon, commercial coconut shell-based PAC was added inside the membrane holder and directly deposited on top of the membrane surface. The experiment was conducted by comparing a single filtration cycle operation using UF with/without activated carbon. UF membrane filtration performance, as well as membrane retention, was observed. PAC/UF resulted in higher removal of organic concentration (UV-Vis) (93-96%) compared to UF (14-43%). Both experiments resulted in high removal up to >90% for turbidity and chemical oxygen demand. Nevertheless, insignificant removal of salts concentration (<5%) was observed. In terms of performance, combined PAC/UF revealed better performance despite a thicker layer in comparison to UF membrane at a similar filtered specific volume of water production. Therefore, a combination PAC/UF at constant flux operation was found to be promising and reliable pretreatment for SWRO. Abstrak Kebutuhan air minum mengalami peningkatan seiring bertambahnya penduduk, tetapi sumber air bersih mengalami penurunan. Hal ini berdampak terhadap pemanfaatan sumber alternatif air laut untuk pemenuhan kebutuhan air minum dengan teknologi reverse osmosis. Walaupun dapat diandalkan untuk mengurangi salinitas tinggi dan kandungan organik air laut, unit pengolahan seawater reverse osmosis (SWRO) mengalami penurunan kinerja setelah pengoperasian dalam kurun waktu tertentu. Salah satu upaya adalah dengan peningkatan proses prapengolahan untuk SWRO. Pada penelitian ini, kombinasi Karbon Aktif Serbuk dan Ultrafiltrasi mempergunakan air laut yang berasal dari outlet unit prapengolahan pada instalasi SWRO. Percobaan filtrasi dilakukan pada percobaan skala laboratorium mempergunakan membran polyethersulfone (PES) dengan ukuran pori 30 nm pada proses dead-end dengan fluks konstan 60 dan 120 L/m²·jam. Karbon aktif bubuk komersial berbahan dasar tempurung kelapa diletakan di atas permukaan membran. Percobaan dilakukan dengan membandingkan operasi siklus filtrasi tunggal menggunakan UF dengan dan tanpa karbon aktif. Parameter pemantauan kualitas air seperti kandungan organik yang dipergunakan antara lain UV-Vis, kekeruhan, kandungan oksigen kimiawi (COD), dan koduktivitas. Penelitian ini menjelaskan bahwa retensi membran PAC/UF menghasilkan penyisihan konsentrasi organik (UV-Vis) yang lebih tinggi (93-96%) dibandingkan dengan hanya mempergunakan UF (14-43%). Untuk kekeruhan dan kebutuhan oksigen kimiawi, kedua percobaan menghasilkan penyisihan yang tinggi hingga >90%. Jika mengacu pada performa filtrasi membran, volume produksi air yang dihasilkan sebanding untuk percobaan hanya dengan UF dan PAC/UF meskipun lapisan PAC/UF lebih tebal. Berdasarkan temuan pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kombinasi PAC/UF pada operasi fluks konstan dapat dipergunakan prapengolahan yang dapat diandalkan untuk SWRO.
Analisis Carbon Footprint pada Jasa Akomodasi Pariwisata di Kabupaten Badung, Bali Wiratama, I Gusti Ngurah Made; Widyasari, Ni Luh; Darmayasa, I Gede Oka
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.3626

Abstract

Everyone who performs daily activities that require energy will produce carbon dioxide (CO2) emissions. The more activities are carried out, the more energy is used, and thus, the greater the carbon footprint produced. Badung Regency is the center of gravity tourism in Bali. The tourism sector in Badung Regency has been consistently growing over the years. The development of tourism in Badung Regency has environmental implications. The objectives of this research are to identify the carbon footprint values ​​in tourism accommodation services and to analyze the factors influencing the carbon footprint values ​​in tourism accommodation services. The study was conducted in Badung Regency, Bali Province, with a sample of 60 villas selected using the simple random sampling technique. The first research objective involves calculating the carbon footprint based on IPCC guidelines, while the second objective is analyzed through multiple linear regression analysis. The research findings indicate that the primary carbon footprint amount is 25.71 kg CO2-eq/month, or an average of 8.57 kg CO2-eq/month per sub-district. The secondary carbon footprint is 10,520.73 kg CO2-eq/month, or an average of 3,506.91 kg CO2-eq/month. The total carbon footprint of tourism accommodation services is 10,546.45 kg CO2-eq/month, with an average of 3,515.48 kg CO2-eq/month. The correlation coefficient between independent and dependent variables is 80.90%, and the contribution of the independent variables R2 (X1, X2, and X3) to the dependent variable (Y) is 65.50%. The factor that most influences the carbon footprint is the number of villa appliances that use LPG (X2), which is 41.30%. Abstrak Setiap orang yang melakukan aktivitas sehari-hari memerlukan energi dan akan menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2). Semakin banyak aktivitas yang dilakukan, semakin banyak energi yang digunakan, dan dengan demikian semakin besar carbon footprint yang dihasilkan. Kabupaten Badung merupakan pusat tujuan pariwisata Bali. Perkembangan pariwisata di Kabupaten Badung terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Perkembangan pariwisata di Kabupaten Badung akan berdampak pada kondisi lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi nilai jejak karbon pada jasa akomodasi pariwisata dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi nilai jejak karbon pada jasa akomodasi pariwisata. Lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Badung, Provinsi Bali dengan sampel sebanyak 60 vila dan dipilih dengan teknik simple random sampling. Analisis tujuan penelitian yang pertama yaitu menghitung jejak karbon dengan berpedoman pada IPCC, sedangkan tujuan penelitian yang kedua dianalisis dengan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa jumlah carbon footprint primer adalah 25,71 kg CO2-eq/bulan atau dengan rata-rata setiap kecamatan adalah 8,57 kg CO2-eq/bulan. Carbon footprint sekunder adalah 10.520,73 kg CO2-eq/bulan atau dengan rata-rata 3.506,91 kg CO2-eq/bulan. Carbon footprint total jasa akomodasi pariwisata sebesar 10.546,45 kg CO2-eq/bulan atau dengan rata-rata 3.515,48 kg CO2-eq/bulan. Koefisien korelasi antara variabel bebas dan variabel terikat adalah sebesar 80,90% sedangkan kontribusi pengaruh variabel bebas R2 (X1, X2, dan X3) terhadap variabel terikat (Y) sebesar 65,50%. Faktor yang paling memengaruhi carbon footprint adalah jumlah peralatan vila yang menggunakan LPG (X2) yaitu sebesar 41,30%
Uji Coba Resin Penukar Ion Indion 225 H sebagai Adsorben pada Penurunan Kadar Kromium di Dalam Air Limbah Nuryoto, Nuryoto; Alamudin, Dimas; Abdullah, Aldi; Bagaskara, Rafiif Nur Tahta
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.3861

Abstract

ABSTRACT Chromium is extensively used in the leather tanning process, with only 60 - 70% utilized, leaving the remainder as waste. Effective waste management is essential to mitigating environmental impact. This study aims to conduct tests and understand the effectiveness of Indion 225 H as an adsorbent for removing chromium from wastewater by analyzing variables such as the mass of adsorbent per wastewater volume and contact time. The study seeks to optimize chromium removal and develop a mathematical model to explain the adsorption process.  Experiments were conducted using a batch system with adsorbent masses ranging from 0.1 to 0.6 grams per 20 ml of wastewater and contact time from 3 to 5 hours. Results indicate that Indion 225 H can reduce chromium content in the solution by 33%, with optimal conditions being a contact time of 5 hours and adsorbent chromium content in the solution by 33%, with optimal conditions being 0.6 grams per 20 ml of wastewater. The Langmuir Isotherm model accurately describes the adsorption phenomena, and the adsorption kinetics follow a second-order model. ABSTRAK Gambut tropis memiliki nilai ekologis tinggi bagi ekosistem global, dan keberlangsungannya bergantung pada keterlibatan masyarakat. Dukungan masyarakat merupakan elemen penting keberhasilan pengembangan ekowisata di Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) Kahayan-Sebangau. Tidak hanya sebagai penerima manfaat, masyarakat berperan menjaga ekosistem. Dukungan dapat diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan ekowisata. Partisipasi tersebut bermanfaat di bidang ekonomi, sosial, maupun ekologis seperti keberlangsungan ekowisata, mencegah potensi konflik, dan degradasi lingkungan. Penelitian ini meneliti faktor-faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan yang memengaruhi dukungan masyarakat lokal terhadap pariwisata ekologis di lahan gambut Kalimantan Tengah. Penelitian menggunakan pendekatan metode campuran yang menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif digunakan, dan dianalisis melalui partial least squares-structural equation modeling (PLS-SEM). Temuan penelitian menunjukkan dampak ekonomi dan sosial berpengaruh signifikan terhadap dukungan masyarakat, ketika dampak lingkungan memoderasi hubungan yang terjadi. Dampak ekonomi positif meliputi peningkatkan lapangan kerja, pendapatan masyarakat, dan pembangunan infrastruktur pariwisata. Secara sosial meliputi peningkatan interaksi dan program pemberdayaan masyarakat. Namun, ada juga dampak negatif seperti pembangunan yang tidak seimbang, konflik antar masyarakat, dan degradasi lingkungan. Data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner kepada 100 masyarakat lokal, jawaban menggunakan skala Likert dan responden mewakili berbagai kelompok umur, tingkat pendidikan, dan sektor pekerjaan. Analisis menunjukkan validitas konvergen dan diskriminan terpenuhi dengan nilai loading factor >0,708 dan nilai average variance extraction (AVE) >0,5. Model penelitian memenuhi kriteria fit standardization root mean square (SRMR) <0,1. Kesimpulan penelitian bahwa dukungan masyarakat lokal sangat bergantung pada dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan. Mengembangkan ekowisata yang memperhatikan ketiga aspek tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.  
Analisis Perbandingan Ekonomi dari Teknologi MASARO dan Tempat Olah Sampah di Sumbernya (TOSS) dalam Pengelolaan Sampah di Provinsi Jawa Barat ABIDIN, AKHMAD ZAINAL; STEVEN, SOEN; RACHMAN, NASHWA Z.; QAIDA, MUTIARA; YEMENSIA, ELSYE V.; SOEKOTJO, ERNIE S. A.; GRAHA, HAFIS P. R.; PUTRA, RIDWAN P.
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.3882

Abstract

The problem of unmanaged waste, especially in West Java, certainly has a negative impact on humans and the environment. Thus, the topic of waste processing has become important recently. There are several well-known waste processing technologies, namely MASARO and TOSS. Both have great potential because they can process waste into valuable products that can be sold. This study aims to compare the performance of waste processing with these two technologies from their economic aspects. The method for economic analysis is derived from the details of the waste processing process from both technologies. On the other hand, the method for economic analysis is carried out using IRR parameter. Potentially, MASARO produces liquid organic fertilizer and feed concentrate, while TOSS produces pellets which can be an alternative use of fuel. This liquid organic fertilizer and feed concentrate give a big economic boost to MASARO. The production process has a scale ranging from 0.6 to 6.4 tons/month. The results of IRR calculation from MASARO were obtained at 96.59%, indicating that this technology is economically feasible. Meanwhile, the waste processing product from TOSS is in the form of pellets with a diameter of 10 mm and a length of between 10-40 mm. The calorific value is in the range of 3000-4000 kcal/kg and the maximum water content is 15%. When compared to coal, these pellets tend to have higher levels of volatile matter and ash, while lower levels of ash and sulfur. The calculation results demonstrate that the economic aspect of TOSS is also interesting because it has an IRR of 46.99%. Finally, the application of both technologies can be beneficial for West Java because MASARO technology in the long term can lead to agrarian and livestock sustainability, while TOSS technology in the long term can replace dependence on coal. Abstrak Permasalahan sampah yang tidak dikelola, terutama di Jawa Barat, tentu berdampak negatif terhadap manusia dan lingkungan. Dengan demikian, topik pengolahan sampah menjadi penting akhir-akhir ini. Ada beberapa teknologi pengolahan sampah yang terkenal yaitu MASARO dan TOSS. Keduanya memiliki potensi yang besar karena dapat mengolah sampah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan dan dijual. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja pengolahan sampah dengan kedua teknologi tersebut dari aspek ekonomi. Metode dalam analisis ekonomi diturunkan dari detail proses pengolahan sampah dari kedua teknologi. Setelah itu, metode untuk analisis ekonomi dilakukan dengan parameter IRR. Secara potensi, MASARO menghasilkan pupuk dan konsentrat pakan organik cair, sedangkan TOSS menghasilkan pelet yang dapat menjadi alternatif penggunaan bahan bakar. Pupuk dan konsentrat pakan organik cair ini mendongkrak keekonomian yang besar pada MASARO. Proses produksinya memiliki skala yang berkisar dari 0,6 sampai 6,4 ton/bulan. Hasil perhitungan IRR dari MASARO diperoleh sebesar 96,59% menggambarkan bahwa teknologi ini amat layak secara ekonomi. Sementara itu, produk pengolahan sampah dari TOSS adalah berupa pelet dengan diameter 10 mm dengan panjang antara 10-40 mm. Nilai kalornya berada di rentang 3000-4000 kkal/kg dan kadar air maksimalnya 15%. Jika dibandingkan dengan batubara, pelet ini cenderung memiliki kadar zat terbang dan abu yang lebih tinggi, sementara kadar abu dan sulfurnya lebih rendah. Hasil perhitungan membuktikan bahwa aspek ekonomi TOSS juga menarik karena memiliki IRR sebesar 46,99%. Pada akhirnya, penerapan kedua teknologi dapat bermanfaat bagi Jawa Barat karena teknologi MASARO dalam jangka panjang dapat mengarah pada keberlanjutan pertanian dan peternakan, sedangkan teknologi TOSS dalam jangka panjang dapat menggantikan ketergantungan pada batubara.
Pengaruh Waktu Kontak dan Luas Permukaan Elektroda pada Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Menggunakan Metode EAPR (Electro-assisted Phytoremediation) dengan Tanaman Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Febriningrum, Panca Nugrahini; Azalpa, Khansa Arikah; Haviz, Muhammad
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.3884

Abstract

ABSTRACT POME wastewater treatment remains a significant area of research due to the industry’s large scale and high potential for wastewater pollution. This research investigated the effect of variations in contact time and surface area of Zinc (Zn) electrodes on the parameters of pH, COD, BOD, TSS, VSS, and oil and fat values in the POME wastewater. POME wastewater treatment was conducted using the EAPR method with an electric voltage of 9 (nine) volts and utilizing 3 (three) water hyacinth plants, each with 5–8 leaves. The treatment process was terminated once the reduction in pollutant concentration reached a constant number. The results showed that the values that met quality standards were pH values in all treatments and BOD values in the 45-minute contact time variation across all electrode surface areas. As for the other analysis values, they did not meet the quality standards, with the highest COD reduction of 91.46%, the highest TSS reduction of 96.77%, the highest VSS reduction of 24.92%, and the highest oil and fat reduction of 98.89% observed in the 75 minutes contact time variation using a cathode surface area of 500 cm2 and anode 14 cm2. It can be concluded that this method is currently ineffective for POME wastewater treatment as not all parameters meet quality standards. This research is expected to provide valuable insights for future experiments in wastewater treatment. Recommendations for further research include adding a method to increase oxygen levels in wastewater or adding microorganisms to enhance organic breakdown. ABSTRAK Penelitian mengenai pengolahan limbah cair industri minyak kelapa sawit terus dilakukan karena industri ini merupakan industri yang besar dan menghasilkan banyak limbah cair dengan potensi pencemaran yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh waktu kontak dan luas permukaan elektroda seng (Zn) terhadap konsentrasi nilai pH, COD, BOD, TSS, VSS, serta minyak dan lemak. Pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit dilakukan dengan menggunakan metode EAPR bertegangan 9 volt dengan 3 tanaman eceng gondok berdaun 5–8 helai. Perlakuan dihentikan jika penurunan sudah mencapai angka yang konstan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai yang memenuhi baku mutu yaitu nilai pH pada seluruh perlakuan dan nilai BOD pada variasi waktu kontak 45 menit di seluruh variasi luas area permukaan elektroda. Sedangkan untuk nilai analisis yang lain masih belum sesuai dengan baku mutu, dengan penurunan COD tertinggi sebesar 91,46%, penurunan TSS tertinggi sebesar 96,77%, penurunan VSS tertinggi sebesar 24,92%, serta penurunan minyak dan lemak tertinggi sebesar 98,89% pada variasi waktu kontak 75 menit dengan luas permukaan katoda 500 cm2 dan anoda 14 cm2. Dapat disimpulkan bahwa metode ini belum efektif untuk pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit karena belum seluruh analisis memenuhi baku mutu. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk dikaji lebih lanjut untuk pengolahan limbah cair. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu menambahkan metode aerasi supaya dapat meningkatkan kandungan oksigen dalam air limbah atau menambahkan mikroorganisme untuk mengurai kandungan organik.                                 
Analisis Perubahan Garis Pantai Menggunakan Digital Shoreline Analysis System untuk Mendukung Mitigasi Pesisir Kota Pekalongan, Jawa Tengah Endarsih, Alfyah Edina; Kurniasih, Anis; Khomarudin, M. Rokhis
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.3960

Abstract

ABSTRACT Shoreline changes in the form of abrasion or accretion often occur in coastal area due to dynamic natural processes. The northern coastal area of Pekalongan City is one the areas that has been facing significant abrasion, resulting in land loss along the coast. This abrasion process gradually damages the coastal embankments, allowing seawater to inundate inland areas so that tidal flood area expands and begins to encroach on residential areas. Therefore, research about shoreline changes is necessary as one of the mitigation approaches. This study aims to map shoreline changes in Pekalongan City from 2016 to 2022, analyze the values of these changes, and identify the causes in order to determine appropriate mitigation. Monitoring of these changes is conducted through remote sensing methods using Sentinel-2 images by applying threshold values to extract coastlines. The rate of shoreline change is subsequently calculated using Digital Shoreline Analysis System (DSAS) and validated with field conditions through direct observation surveys. The results showed that Pekalongan City experienced significant shoreline changes from 2016 to 2022. Maximum abrasion occurred in Bandengan with an average erosion of 79.5 m, while maximum accretion occurred in Panjang Wetan with an average addition of 3.88 m. Abrasion is the dominant process with a rate of change of 3.95 to 4.02 m/year. The main factor causing abrasion is the interaction between sedimentation with waves, ocean currents and wind. The construction of appropriate types of coastal protection can reduce wave energy and control ocean currents, protecting the coast from abrasion caused by sedimentation. ABSTRAK Perubahan garis pantai dalam bentuk abrasi maupun akresi sering terjadi di lingkungan pesisir yang disebabkan oleh adanya proses alam yang dinamis. Daerah pesisir utara Kota Pekalongan merupakan salah satu daerah yang mengalami abrasi signifikan yang berdampak pada hilangnya lahan di sekitar pantai. Proses abrasi tersebut perlahan menyebabkan kerusakan tanggul pantai yang membuat air laut masuk ke daratan sehingga area genangan banjir rob semakin meluas dan mulai merambah ke permukiman. Oleh sebab itu, penelitian tentang perubahan garis pantai penting dilakukan sebagai salah satu upaya mitigasi bencana abrasi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan perubahan garis pantai di Kota Pekalongan tahun 2016–2022, menganalisis nilai perubahan garis pantai, dan mengidentifikasi penyebab perubahan garis pantai sehingga dapat diketahui langkah mitigasi yang tepat. Pemantauan perubahan ini dilakukan dengan metode penginderaan jauh menggunakan citra Sentinel-2 yang dilakukan thresholding untuk mengekstrasi garis pantai. Laju perubahan garis pantai tersebut selanjutnya dihitung menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dan divalidasi dengan kondisi lapangan melalui survei pengamatan langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Pekalongan mengalami perubahan garis pantai cukup signifikan pada tahun 2016–2022. Abrasi maksimum terjadi di Kelurahan Bandengan dengan pengikisan rata-rata 79,5 m, sementara akresi maksimum terjadi di Kelurahan Panjang Wetan dengan penambahan daratan rata-rata 3,88 m. Abrasi menjadi proses dominan dengan laju perubahan 3,95 hingga 4,02 m/tahun. Faktor utama penyebab terjadinya abrasi adalah interaksi antara sedimentasi dengan gelombang, arus laut, dan angin. Pembangunan jenis pelindung pantai yang sesuai dapat mengurangi energi gelombang dan mengendalikan arus laut sehingga dapat melindungi pantai dari abrasi yang disebabkan oleh sedimentasi.
Analisis Kualitas Sumber Air Baku untuk Pemenuhan Kebutuhan Air Minum di Ibu Kota Nusantara Dewa, Riardi Pratista; Melania Hanny Aryantie; Khaerul Amru; Raissa Anjani; Nicco Plamonia
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.4037

Abstract

The change of Indonesia's capital from Jakarta to The Capital City of Nusantara (IKN) impacts population movement and must be supported by fulfilling basic needs. One of the basic needs is the availability of good quality clean water. This research aims to analyze the quality of raw water sources that will be used to provide the needs of IKN. Water quality analysis was carried out using the pollutant index method at 4 sampling locations along the Sepaku River, namely Lokdam Bridge (T1), Upstream Intake (T2), Sepaku VI Bridge (T3), and PDAM Intake (T4). The water quality parameters analyzed include pH, Dissolved Oxygen (DO), and Total Dissolved Solid (TDS). The pollutant index values at T1 (2.006), T2 (3.882), and T3 (3.849) are categorized as lightly polluted, so they require additional processes that they can be used as a raw water source, especially to fulfill the Central Government Core Area (KIPP) of IKN. Different results were shown at sampling locations along the Tengin River. Even though T4 (1.055) is included as lightly polluted, the pollutant index value decreased at T5 (0.802) and T6 (0.862) due to the self-purification ability. Thus, the Tengin River is considered to have met the requirements as a raw water source for drinking water. However, efforts are still required to maintain water quality in the future. Abstrak Pergantian Ibukota Indonesia dari Jakarta ke Ibu Kota Nusantara (IKN) berdampak pada perpindahan penduduk dan harus disertai dengan pemenuhan kebutuhan pokok salah satunya ketersediaan air bersih dengan kualitas yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas sumber air baku yang akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat di IKN. Analisis kualitas air dilakukan menggunakan metode indeks pencemar pada 6 lokasi sampling di sepanjang Sungai Sepaku yaitu Jembatan Lokdam (T1), hulu intake (T2), Jembatan Sepaku VI (T3), Tengin Kanan (T4), Tengin Kiri (T5), dan intake PDAM (T5). Parameter kualitas air yang dianalisis mencakup pH, dissolved oxygen (DO), dan total dissolved solid (TDS). Nilai indeks pencemar pada T1 (2,006), T2 (3,882), dan T3 (3,849) dikategorikan tercemar ringan sehingga memerlukan proses pengolahan tambahan agar bisa dijadikan sebagai sumber air baku khususnya untuk pemenuhan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Hasil yang berbeda ditunjukkan pada lokasi sampling di sepanjang aliran Sungai Tengin. Walaupun T4 (1,055) termasuk kategori tercemar ringan, nilai indeks pencemar mengalami penurunan pada T5 (0,802) dan T6 (0,862) akibat kemampuan untuk melakukan penjernihan sendiri (self-purification). Sehingga aliran Sungai Tengin dianggap telah memenuhi syarat sebagai sumber air baku air minum. Meskipun demikian, tetap memerlukan upaya untuk menjaga kualitas airnya di masa mendatang.

Page 1 of 2 | Total Record : 15