cover
Contact Name
Muhammad Haqqiyuddin Robbani
Contact Email
muha198@brin.go.id
Phone
+62881010041900
Journal Mail Official
jtl@brin.go.id
Editorial Address
Gedung BJ Habibie Lantai 8, Jl. M.H. Thamrin No.8 Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Teknologi Lingkungan
Published by BRIN Publishing
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : https://doi.org/10.55981/jtl
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers and case studies focused on environmental sciences, environmental technology as well as other related topics to environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation. Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) adalah jurnal yang bertujuan untuk menjadi platform peer-review dan sumber informasi yang otoritatif. JTL diterbitkan dua kali setahun dan menyediakan publikasi ilmiah bagi para peneliti, insinyur, praktisi, akademisi, dan pemerhati di bidang yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi lingkungan. Kami menerbitkan makalah penelitian asli dan studi kasus yang berfokus pada ilmu lingkungan, teknologi lingkungan serta topik terkait lainnya yang berhubungan dengan lingkungan termasuk sanitasi, biologi lingkungan, pengolahan air limbah, pengolahan limbah padat, desain dan manajemen lingkungan, analisis mengenai dampak lingkungan, pengendalian pencemaran lingkungan dan konservasi lingkungan.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol. 26 No. 2 (2025)" : 14 Documents clear
Comparative Analysis of GEOS-Chem, SAPRC99, and MOZART Mechanisms in WRF-Chem for Simulating Pollutant Dispersion from Forest Fires: Analisis Perbandingan Mekanisme GEOS-Chem, SAPRC99, dan MOZART dalam WRF-Chem untuk Simulasi Dispersi Polutan dari Kejadian Kebakaran Hutan Oktaviana, Ade Ayu; Pratama, Alvin; Kombara, Prawira Yudha; Mareta, Lesi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.3956

Abstract

Abstrak Mekanisme kimia polutan dan parameter meteorologi merupakan bagian penting dalam menentukan sebaran polutan. Dengan mengetahui parameter tersebut, maka dapat diestimasi arah persebaran polutan dan besaran dampak yang ditimbulkan di lingkungan. Hal ini dapat diestimasi menggunakan pemodelan numerik seperti WRF-Chem. Model ini merupakan kombinasi dari prediksi cuaca dan proses kimia atmosfer. Penggunaan mekanisme kimia yang berbeda dalam menjalankan model WRF-Chem akan berdampak pada keluaran model. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis lebih lanjut tentang penggunaan mekanisme kimia yang berbeda dalam model WRF-Chem. Penelitian ini memanfaatkan fire inventory untuk mekanisme kimia polutan yang dikeluarkan oleh NCAR, yaitu GEOS-Chem, SAPRC99, dan MOZART. Studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah saat kejadian kebakaran hutan di Provinsi Riau pada bulan September 2019, dengan fokus analisis pada karbon monoksida dan particulate matter (PM10). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan analisis menggunakan parameter statistik, seperti korelasi, bias, dan RMSE untuk mengetahui tingkat akurasi model. Dari hasil simulasi, skema MOZART merupakan skema terbaik dengan korelasi sedang hingga kuat. Namun, seluruh skema dalam simulasi ini cenderung underestimate dan memiliki nilai error yang tinggi terhadap observasi. Hal ini menunjukkan bahwa skema kimia dari fire inventory masih mempunyai tantangan besar dalam memprediksi nilai konsentrasi polutan. Untuk arah sebaran, MOZART, dan SAPRC99 menunjukkan pola spasial yang mirip dengan citra satelit.   Abstract The chemical mechanisms of pollutants and meteorological parameters play a crucial role in determining the distribution of pollutants. Understanding these factors enables the estimation of pollutant dispersion direction and its potential environmental impact. It can be estimated using numerical models, such as WRF-Chem, a coupled system integrating weather prediction and atmospheric chemical processes. The use of different chemical mechanisms within WRF-Chem influences the model output. This study aimed to evaluate the spatial and statistical performance of the WRF-Chem model using three different chemical mechanisms—MOZART, GEOS-Chem, and SAPRC99—from the FINN emission inventory, during a forest fire episode in Riau Province in September 2019. The analysis focused on carbon monoxide (CO) and particulate matter (PM₁₀), using statistical metrics such as correlation, bias, and RMSE, along with spatial validation against Sentinel-5P satellite imagery. Simulation results showed that the MOZART mechanism provided the best overall performance, exhibiting moderate to strong correlation with observational data. However, all chemical schemes tended to underestimate pollutant concentrations and showed relatively high error margins. Spatially, MOZART and SAPRC99 demonstrated dispersion patterns closely aligned with satellite observations. These findings highlight the potential and limitations of current chemical mechanisms in accurately simulating pollutant dispersion during forest fire events.  
Isolation and Characterization of Copper-Resistant Bacteria Pseudomonas alcaligenes CuFr 1.1 and Pseudomonas chengduensis CuFr 1.3 from Tembagapura Mine, Papua: Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Resisten Tembaga Pseudomonas alcaligenes CuFr 1.1 dan Pseudomonas chengduensis CuFr 1.3 dari Pertambangan Tembagapura, Papua Irawati, Wahyu; Pinontoan, Reinhard; Torreno, Jovan Nathanael; Zebua, Satria Putri Aryani; Situmorang, Widya
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.5785

Abstract

Abstrak Kontaminasi tembaga di tanah merupakan ancaman serius bagi ekosistem dan kesehatan manusia karena efek toksiknya terhadap tanaman, hewan, dan manusia. Salah satu sumber utama pencemaran ini adalah tambang Tembagapura di Papua. Pendekatan yang efektif untuk mengurangi pencemaran tembaga adalah bioremediasi menggunakan bakteri indigenous yang diisolasi dari lingkungan tercemar karena telah beradaptasi dengan kondisi setempat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengisolasi bakteri resisten tembaga, (2) mengkarakterisasi morfologi koloninya, (3) menguji resistensi terhadap tembaga, dan (4) mengidentifikasi isolat terpilih berdasarkan gen 16S rDNA. Sampel tanah dikumpulkan dari area tambang Tembagapura dan isolasi bakteri dilakukan menggunakan media Luria Bertani (LB) yang ditambahkan 3 mM CuSO₄. Pengujian resistensi dilakukan dengan metode gores (streak plate) untuk menentukan nilai konsentrasi hambat minimum (MIC). Lima isolat bakteri resisten tembaga yang berhasil diperoleh: CuFr 1.1, CuFr 1.2, CuFr 1.3, CuFr 2.1, dan CuFr 2.2. Di antara kelima isolat tersebut, CuFr 1.1 dan CuFr 1.3 menunjukkan resistensi tertinggi dengan nilai MIC mencapai 9 mM. Identifikasi molekuler berdasarkan sekuens gen 16S rDNA menunjukkan bahwa CuFr 1.1 adalah Pseudomonas alcaligenes, sedangkan CuFr 1.3 adalah Pseudomonas chengduensis. Temuan ini merupakan laporan awal mengenai keberadaan bakteri indigenous resisten tembaga dari tambang Tembagapura. Isolat tersebut menunjukkan potensi besar sebagai biosorben tembaga dan kandidat agen bioremediasi pada lokasi yang terkontaminasi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi mekanisme biosorpsi dan efektivitasnya pada skala lapangan.   Abstract Copper contamination in soil poses a serious threat to ecosystems and human health due to its toxic effects on plants, animals, and humans. One major source of this pollution is the Tembagapura mine in Papua. An effective approach to mitigate copper pollution is bioremediation using indigenous bacteria isolated from contaminated environments, as they are better adapted to local conditions. This study aimed to: (1) isolate copper-resistant bacteria, (2) characterize their colony morphology, (3) assess their resistance to copper, and (4) identify selected isolates based on the 16S rDNA gene. Soil samples were collected from the Tembagapura mining site, and bacterial isolation was performed using Luria Bertani agar supplemented with 3 mM CuSO₄. Resistance testing was conducted using the streak plate method to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Five copper-resistant bacterial isolates were obtained: CuFr 1.1, CuFr 1.2, CuFr 1.3, CuFr 2.1, and CuFr 2.2. Among these, CuFr 1.1 and CuFr 1.3 exhibited the highest resistance, with MIC values reaching 9 mM. Molecular identification using 16S rDNA sequencing revealed that CuFr 1.1 is Pseudomonas alcaligenes, while CuFr 1.3 is Pseudomonas chengduensis. These findings provide the first report of copper-resistant indigenous bacteria from the Tembagapura mine. The isolates show promising potential for development as copper biosorbents and future application as bioremediation agents at contaminated sites. Further research is needed to explore their biosorption mechanisms and performance in field-scale applications.
Evaluation of the Biophysical and Chemical Conditions of the Aquatic Environment During the Rainy Season to Mitigate the Ecological Disaster of Ciguatera Fish Poisoning (CFP) and Harmful Algal Bloom (HABs) in the Gili Matra Marine Tourism Park-Lombok: Evaluasi Kondisi Biofisikakimia Lingkungan Perairan Pada Musim Hujan Untuk Mitigasi Bencana Ekologi Ciguatera Fish Poisoning (CFP) dan Marak Alga Berbahaya (MAB) di Taman Wisata Perairan Gili Matra-Lombok Sachoemar, Suhendar Indrakusmaya; Rachman, Arief; Aliah, Ratu Siti; Megawati, Novi; Romadhona, Ekky Ilham; Meirinawati, Hanny; Prayogo, Teguh; Dewa, Riardi Pratista; Zamroni, Yuliadi; Ahyadi, Hilman; Fitriya, Nurul; Hamzah, Faisal; Garno, Yudhi Soetrisno; Susanto, Joko Prayitno; Riyadi, Agung; Haryanti; Ihsan, Iif Miftahul; Setiarti Sukotjo; Iskandar; Leonita, Shinta; Diswandi; Rahman; Muhami; Makosim, Syahril
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.7213

Abstract

Abstrak Ciguatera Fish Poisoning (CFP) dan fenomena Marak Alga Berbahaya (MAB) yang disebabkan oleh dinoflagellata bentik beracun merupakan salah satu bencana ekologi atau lingkungan yang dapat mengancam kesehatan manusia di kawasan pesisir Indonesia, seperti di kawasan Taman Wisata Perairan (TWP) Gili Matra yang terdiri dari 3 pulau yaitu Gili Meno, Air, dan Trawangan. TWP Gili Matra merupakan pusat wisata bahari dan kawasan konservasi laut di kawasan Nusa Tenggara Barat yang diketahui mengalami tekanan akibat aktivitas manusia dari kegiatan pariwisata dan perikanan yang berdampak negatif kepada ekosistem pesisir, terutama terumbu karang. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kelimpahan komunitas dinoflagellata bentik beracun yang berpotensi menyebabkan terjadinya CFP dan MAB di TWP Gili Matra. Untuk itu diperlukan upaya mitigasinya agar risiko bencana ekologi CFP dan MAB dikemudian hari yang selain dapat menyebabkan terjadinya kerusakan ekosistem perairan TWP Gili Matra, tetapi juga kerugian ekonomi yang cukup besar, tidak terjadi. Menurut perhitungan ekonomi para ahli, nilai ekonomi kegiatan pariwisata di TWP Gili Matra, mencapai 26,86 triliun rupiah per tahun.  Salah satu upaya mitigasi bencana ekologi CFP dan MAB adalah dengan mengetahui kondisi lingkungan perairan di TWP Gili Matra pada musim hujan. Berdasarkan hasil survei diketahui kondisi biofisikakimia lingkungan perairan pada musim hujan bulan Desember 2022 dan Maret 2024 dalam keadaan yang sangat baik dengan tingkat eutrofikasi sebagai indikator kualitas lingkungan perairan pada tingkat ultraoligotrofik dengan nilai skor TSI (Trophic State Index) 12,9-19,4 (<30) yang mengindikasikan bahwa kesuburan perairan sangat rendah, air jernih, konsentrasi oksigen terlarut tinggi sepanjang tahun dan mencapai zona hipolimnion.   Abstract Ciguatera Fish Poisoning (CFP) and the phenomenon of Harmful Algal Bloom (HABs) caused by toxic benthic dinoflagellates are one of the ecological or environmental disasters that can threaten human health in coastal areas of Indonesia, such as in the Gili Matra Aquatic Tourism Park (ATP) area which consists of three islands, namely Gili Meno, Air, and Trawangan. ATP Gili Matra is a center for marine tourism and conservation areas in the West Nusa Tenggara region which is known to be under pressure due to human activities from tourism and fisheries activities that have a negative impact on coastal ecosystems, especially coral reefs. This condition can increase the abundance of toxic benthic dinoflagellate communities that have the potential to cause CFP and HABs in ATP Gili Matra. For this reason, mitigation efforts are needed so the risk of CFP and HABs ecological disasters in the future which can not only cause damage to the ATP Gili Matra aquatic ecosystem, but also significant economic losses, does not occur. According to economic calculations by experts, the economic value of tourism activities in ATP Gili Matra reaches IDR 26.86 trillion per year. One of the efforts to mitigate the ecological disaster of CFP and HABs is to understand the condition of the aquatic environment in ATP Gili Matra during the rainy season. Based on the survey results, it is known that the biophysical and chemical conditions of the aquatic environment during the rainy season in December 2022 and March 2024 are in very good condition with the level of eutrophication as an indicator of the quality of the aquatic environment at the ultraoligotrophic level with a TSI (Trophic State Index) score of 12.9-19.4 (<30) which indicates that water fertility is very low, the water is clear, the concentration of dissolved oxygen is high throughout the year and reaches the hypolimnion zone.
Alkaline Activated Natural Zeolite as a Microbial Immobilization Media in Anaerobic Digestion for Tapioca Wastewater Treatment: Zeolit Alam Teraktivasi Basa sebagai Media Imobilisasi Mikrobial di Peruraian Anaerobik untuk Pengolahan Limbah Cair Tapioka Sanjaya, Andri; Agustina, Berliana Putri; Prayoga, Ageng Kaka; Salsabila, Dwinda; Arhab, Jabir Shoji; Damayanti, Damayanti; Auriyani, Wika Atro; Fahni, Yunita; Saputri, Desi Riana
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.7432

Abstract

Abstrak Produksi biogas dari limbah cair singkong menawarkan sumber energi yang berkelanjutan, meskipun efisiensinya masih menjadi tantangan. Penggunaan zeolit alami sebagai media untuk mengimobilisasi bakteri anaerob menunjukkan potensi, namun efisiensi proses ini dapat lebih ditingkatkan dengan aktivasi zeolit. Namun, pengetahuan tentang bagaimana zeolit yang diaktifkan secara basa (NaOH) mempengaruhi aktivitas mikroba dan hasil biogas masih terbatas. Dalam penelitian ini, kami menunjukkan bahwa zeolit alam Lampung yang diaktifkan secara basa signifikan meningkatkan produksi biogas dengan menyediakan media imobilisasi yang lebih efektif bagi bakteri anaerob. Analisis Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) mengungkapkan perubahan struktural, dengan pergeseran gelombang Si-O dan Al-O, yang menunjukkan interaksi kimia yang lebih baik setelah aktivasi. Scanning electron microscope-energy dispersive x-ray spectroscopy (SEM-EDX) mengonfirmasi peningkatan kandungan Al dan Na; Al meningkat secara signifikan dari 5,62% menjadi 7,48%, yang menunjukkan peningkatan kandungan Al dalam struktur zeolit setelah aktivasi. Sementara itu, analisis xray diffraction (XRD) mengungkapkan kristalinitas 21% pada zeolit yang diaktifasi, yang menunjukkanpermukaan mendukung untuk perlekatan mikroba. Analisis Brunauer-Emmett-Teller (BET) menunjukkan struktur mesopori (34,335 Å) yang meningkatkan kontak bakteri dengan substrat. Reaktor dengan zeolit yang diaktifkan mencapai puncak produksi biogas sebesar 620 mL, melebihi kontrol karena peningkatan stabilitas mikroba dan pengurangan akumulasi asam lemak volatil (VFA). Hasil ini menunjukkan bahwa zeolit yang diaktivasi secara basa dapat secara signifikan meningkatkan efisiensi sistem produksi biogas dengan meningkatkan imobilisasi mikroba dan stabilitas proses   Abstract Biogas production from cassava wastewater offers a sustainable energy source, though efficiency remains challenging. Natural zeolite is a promising material for anaerobic bacteria immobilization media. However, there is limited knowledge of how alkaline-activated (NaOH) zeolite affects microbial activity and biogas yield. Here, we show that alkaline-activated Lampung natural zeolite significantly enhances biogas production by providing a more effective immobilization medium for anaerobic bacteria. Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) analysis reveals structural changes, with a shift in Si-O and Al-O vibrations, indicating improved chemical interaction post-activation. Scanning electron microscope-energy dispersive x-ray spectroscopy (SEM-EDX) confirms increased Aland Na content; the Al increased significantly from 5.62% to 7.48%, which may indicate an increase in Al content within the zeolite structure after activation. Meanwhile, the x-ray diffraction (XRD) analysis revealed a 21% crystallinity in the activated zeolite, suggesting a favorable surface for microbial attachment. Brunauer-Emmett-Teller (BET) analysis shows a mesoporous structure (34.335 Å) that improves bacterial contact with the substrate. The reactor with activated zeolite achieved peak biogas production of 620 mL, outperforming the control due to enhanced microbial stability and reduced volatile fatty acid (VFA) accumulation. These results sugest that alkaline-activated zeolite can significantly boost the efficiency of biogas production systems by improving microbial immobilization and process stability
Model of Hospital Waste Processing Equipment to Remove Heavy Metal Pb: Model Alat Pengolah Limbah Rumah Sakit Untuk Menurunkan Logam Berat Pb Ganefati, Sri Puji; Haryanti, Sri; Windarso, Sardjito Eko; Narto; Sugianto
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.7774

Abstract

Abstrak Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang menghasilkan limbah berupa padat, cair, dan gas. Limbah cair yang dihasilkan dari aktivitas rumah sakit mengandung bahan berbahaya dan beracun, sehingga perlu dilakukan pengolahan sebelum dibuang ke badan air. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan kadar Pb dengan metode kuasi eksperimen yaitu menggunakan arang biji alpukat dan arang bambu. Pengambilan sampel menggunakan metode grab sampling, yaitu sebanyak 50 liter. Arang biji alpukat dan arang bambu memiliki kemampuan penyerapan yang baik, sehingga mampu menurunkan kadar Pb limbah cair rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan kadar Pb sebesar 0,007 mg/L yang artinya tidak melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 6 Tahun 2021 yaitu maksimum sebesar 0,01 mg/L. Penurunan kadar Pb rata-rata tertinggi yaitu pada campuran arang biji alpukat dan arang bambu sebesar 39.27%.   Abstract Hospitals are healthcare facilities that produce solid, liquid, and gas waste. Liquid waste produced from hospital activities contains hazardous and toxic materials, so it needs to be treated before being discharged into water bodies. This study aims to remove Pb levels using the experimental quartz method, namely using avocado seed charcoal and bamboo charcoal. Sampling was conducted using the grab sampling method, with a total of 50 liters collected.  Avocado seed charcoal and bamboo charcoal have good adsorption capabilities, so they can remove Pb levels in hospital liquid waste. The method of this research is quasi-experimental. The results of the study showed that there was a decrease in Pb levels of 0.007 mg/L, which means that it does not exceed the quality standards set by the Regulation of the Minister of Environment and Forestry No. 6 of 2021, which is a maximum of 0.01 mg/L. The highest average reduction in Pb levels was in the mixture of avocado seed charcoal and bamboo charcoal at 39.27%.  
Yield and Characteristics of Biodiesel from Variations in the Mass Ratio of Waste Cooking Oil Mixtures with Different Waste Sources through Homogeneous Catalyzed Esterification and Transesterification Reactions: Rendemen dan Karakteristik Biodiesel dari Variasi Rasio Massa Campuran Limbah Minyak Goreng dengan Perbedaan Sumber Limbah Melalui Reaksi Esterifikasi dan Transesterifikasi Berkatalis Homogen Haryono; Noviyanti, Atiek Rostika; Kurnia, Irwan
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.8170

Abstract

Abstrak Bahan bakar fosil sebagai sumber dominan pemenuhan kebutuhan energi merupakan sumber energi tak terbarukan, sehingga cadangannya akan semakin berkurang seiring dengan peningkatan laju konsumsinya. Biodiesel memiliki potensi sebagai bahan bakar menjanjikan yang dapat menggantikan bahan bakar fosil. Biodiesel digunakan sebagai energi terbarukan dan berkelanjutan karena kandungan sulfur yang hampir tidak ada, netral karbon, dan tidak beracun bagi lingkungan. Biodiesel dapat dihasilkan dari asam lemak yang diperoleh dari beberapa bahan baku, seperti minyak nabati, lemak hewan, dan limbah minyak goreng. Namun demikian, pemanfaatan minyak non pangan sebagai bahan baku produksi biodiesel merupakan langkah strategis. Limbah minyak goreng (LMG) sebagai salah satu jenis minyak non pangan memiliki karakteristik bervariasi. Karakteristik dari limbah minyak goreng tersebut akan mempengaruhi kualitas dan jumlah produksi biodiesel. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh komposisi (rasio massa) campuran LMG dari sumber limbah berbeda (ayam goreng, AG; seafood, SF; dan gorengan, GR) sebagai bahan baku pada sintesis biodiesel dengan katalis asam sulfat dan kalium hidroksida. Penelitian diawali dengan pencampuran LMG dengan variasi komposisi LMG (LMG-AG:LMG-SF:LMG-GR) sebagai rasio massa R1(2:3:1), R2(2:2:2), R3(1:2:3), dan R4(3:1:2). Tahap berikutnya adalah pemurnian dan karakterisasi terhadap campuran LMG, esterifikasi dengan katalis asam sulfat, transesterifikasi dengan katalis kalium hidroksida, pemurnian biodiesel, dan karakterisasi biodiesel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sintesis biodiesel dari campuran LMG dengan komposisi R3 menghasilkan biodiesel dengan rendemen tertinggi, yaitu 92,12%. Sedangan biodiesel dari campuran LMG dengan komposisi R1 memiliki karakteristik paling sesuai dengan standar kualitas biodiesel menurut Keputusan Dirjen EBTKE tahun 2022 berdasarkan parameter-parameter yang diuji.   Abstrak Fossil fuels, as the dominant source of meeting energy needs, are non-renewable energy sources, so their reserves will decrease as the rate of consumption increases. Biodiesel has the potential to be a promising  fuel that can replace fossil fuels. Biodiesel is a renewable and sustainable energy source because it contains almost no sulfur, is carbon neutral, and is non-toxic to the environment. Biodiesel can be produced from fatty acids from several raw materials, such as vegetable oil, animal fat, and waste cooking oil. However, using non-food oil as raw material for biodiesel production is a strategic step. Cooking oil waste, as a type of non-food oil, has varied characteristics. The characteristics of waste cooking oil will affect the quality and quantity of biodiesel production. The research aims to determine the effect of the composition (mass ratio) of WCO mixtures from different waste sources (fried chicken, AG; seafood, SF; and fried foods, GR) as raw materials on the synthesis of biodiesel with sulfuric acid and potassium hydroxide catalysts. The research began with mixing WCO with variations in WCO composition (WCO-AG:WCO-SF:WCO-GR) as mass ratios R1(2:3:1), R2(2:2:2), R3(1:2:3), and R4(3 :1:2). The next stage is purification and characterization of the WCO mixture, esterification with a sulfuric acid catalyst, transesterification with a potassium hydroxide catalyst, biodiesel purification, and biodiesel characterization. The research results showed that the synthesis of biodiesel from a mixture of WCO with R3 composition produced biodiesel with the highest yield, namely 92.12%. Meanwhile, biodiesel from the WCO mixture with composition R1 has the characteristics that best comply with biodiesel quality standards according to the Decree of the Director General of EBTKE in 2022, based on the parameters tested.
Modeling and Analysis of Total Suspended Particulate (TSP) on the Cement Industry Distribution Route in Grobogan Regency, Central Java: Pemodelan dan Analisis Sebaran Total Partikulat Tersuspensi (TSP) pada Jalur Distribusi Industri Semen di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah Sukriya, Ikha Novita Ma'wa; Purnaweni, Hartuti; Muhammad, Fuad
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.8574

Abstract

Abstrak Peningkatan aktivitas transportasi dan operasional industri berkontribusi signifikan terhadap pencemaran udara, termasuk emisi polutan gas dan materi partikulat. Paparan total partikulat tersuspensi atau total suspended particulate (TSP) dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi makhluk hidup. Aktivitas utama maupun penunjang dalam industri semen menghasilkan emisi polutan dalam jumlah besar ke udara dan lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan dan menganalisis distribusi konsentrasi TSP di udara ambien pada musim kering dan musim basah yang bersumber dari kegiatan transportasi bahan baku dan hasil produksi semen. Pemodelan dispersi dilakukan menggunakan model American Meteorological Environmental Protection Agency Regulatory Model (AERMOD). Laju emisi TSP dihitung dan digunakan sebagai input untuk mengestimasi beban emisi dan nilai konsentrasi TSP. Analisis arah angin (wind rose) dilakukan untuk menentukan pola arah sebaran konsentrasi TSP yang dihasilkan oleh AERMOD. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa konsentrasi TSP cenderung tinggi di sisi kanan dan kiri jalur utama, mengikuti arah angin dominan. Peningkatan konsentrasi tahunan TSP berkisar antara 3 hingga 325 µg/m³ dalam radius 7,2 meter dari as jalan raya, namun tidak ditemukan permukiman penduduk dalam radius tersebut. Pada musim basah, peningkatan konsentrasi tertinggi tercatat antara 200 hingga 281 µg/m³ dalam radius 38 meter dari as jalan, dengan jumlah rumah terdampak sebanyak 76 unit. Sementara itu, pada musim kering, konsentrasi tertinggi antara 2 hingga 176 µg/m³ dalam radius 80,3 meter, dengan 125 rumah yang berpotensi menerima paparan partikulat. Tingkat paparan materi partikulat di kawasan permukiman ini tergolong mengkhawatirkan, sehingga diperlukan studi lanjutan terkait dampak kesehatan dan persepsi masyarakat terhadap kualitas udara di wilayah terdampak.   Abstract Increased transportation activities and industrial operations contribute significantly to air pollution, including emissions of gaseous pollutants and particulate matter. Exposure to total suspended particulate (TSP) can increase the risk of respiratory problems  in living beings. Both  primary and ancillary activities in the cement industry produce large amounts of pollutant emissions into the air and the surrounding environment. This study aims to model and analyze the distribution of TSP concentrations in ambient air in the dry and wet seasons sourced from the transportation of raw materials and cement products. Dispersion modeling was conducted using the American Meteorological Society/Environmental Protection Agency Regulatory Model (AERMOD). The TSP emission rate was calculated and used as input to estimate the emission load and TSP concentration values. A wind rose was analyzed to determine the directional pattern of TSP concentration distribution generated by AERMOD. The modeling results show that TSP concentrations tend to be high on the right and left sides of the main road, following the dominant wind direction. The annual increase in TSP concentrations ranged from 3 to 325 µg/m³ within a radius of 7.2 meters from the road axle, but no residential areas were found within this radius. In the wet season, the highest concentration increase was recorded between 200 and 281 µg/m³ within a radius of 38 meters from the road axle, with a total of 76 houses affected. Meanwhile, in the dry season, the highest concentrations ranged from 2 to 176 µg/m³ within a radius of 80.3 meters, with 125 houses potentially receiving particulate matter exposure. The exposure to particulate matter in this residential area is alarming, so further studies are needed regarding health impacts and community perceptions of air quality in the affected area.
Potassium Permanganate Confined in Porous Carbon Pretreated Using Wet Ozone Oxidation for Hydrogen Sulfide Removal (H2S): Kalium Permanganat Terimpregnasi dalam Karbon Aktif Teraktivasi Oksidasi Ozon Basah untuk Penghilangan Hidrogen Sulfida (H2S) Suhirman; Ariyanto, Teguh; Prasetyo, Imam; Hardhianti, Meiga Putri Wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.11385

Abstract

Abstrak Kontaminan gas merupakan masalah besar pada proses industri dan lingkungan, terutama hidrogen sulfida (H2S). Gas ini tidak berwarna, tidak berbau, korosif terhadap jaringan pipa gas alam, merusak katalis logam, dan menyebabkan hujan asam. Selain itu, gas ini sangat mudah terbakar dan sangat beracun, sehingga perlu dihilangkan meskipun dalam konsentrasi kecil. Salah satu metode untuk menghilangkan H2S, yang belum dipelajari secara luas, adalah oksidasi dengan kalium permanganat (KMnO4) yang diimpregnasikan pada karbon berpori atau dinamai nano-confinement KMnO4. Cangkang sawit (PKS) digunakan sebagai bahan baku karbon berpori, yang melimpah, terbarukan, dan murah. Proses produksi nano-confinement KMnO4 terdiri atas eberapa langkah. Langkah pertama adalah pirolisis cangkang sawit dalam tungku pada suhu 800°C, diikuti oleh aktivasi karbon uap. Ini menghasilkan karbon berpori cangkang sawit (CPKS). Tahap kedua adalah pembuatan karbon berpori dari cangkang sawit yang cenderung hidrofilik dengan cara oksidasi praperlakuan menggunakan ozonasi basah, yang selanjutnya dinamakan CKPS-Oz. Kalium permanganat yang teremban dalam karbon berpori dari cangkang sawit (KMnO4/CPKS-Oz) diproduksi dengan cara impregnasi secara basah variasi KMnO4 sebesar 5, 10, dan 20% wt. Hasil uji kinerja menunjukkan bahwa KMnO4/CPKS-Oz mampu menghilangkan H2S hingga 98% dan lebih efektif dibandingkan hanya menggunakan KMnO4 (67%). Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi antara oksidasi ozon basah dan impregnasi KMnO₄ ke dalam karbon aktif dari tempurung kelapa sawit (CPKS) menghasilkan peningkatan kapasitas oksidasi gas H₂S secara signifikan. Metode ini merupakan pendekatan baru yang belum banyak dilaporkan dalam pemanfaatan CPKS untuk penghilangan gas H₂S   Abstrak A gas contaminant is a big problem in the process industry and environment, especially hydrogen sulfide (H2S). It is colorless, odorless, corrosive to natural gas pipelines, damages metal catalysts, and causes acid rain. Moreover, it is extremely flammable and highly toxic, so it needs to be removed even in small concentrations. One method to remove H2S, which has yet to be studied widely, is oxidation by nano-confinement permanganate potassium (KMnO4) in a porous carbon support. Palm kernel shells (PKS) were used as a raw material of porous carbon, which is abundant, renewable, and cheap. The production process of nano-confinement KMnO4 consists of several steps. The first step is the pyrolysis of palm kernel shells in the furnace at 800°C, followed by steam activation of carbon. It produced palm kernel shells porous carbon (CPKS). The second step was to produce porous carbon of palm kernel shell that tends to be hydrophilic by pretreatment oxidation using wet ozone treatment, which was then named CKPS-Oz. Potassium permanganate confined in porous carbon from palm kernel shell (KMnO4/CPKS-Oz) was produced by incipient wet-impregnation with KMnO4 variations of 5, 10, and 20%wt. The performance test showed that KMnO4/CPKS-Oz could remove H2S up to 98% and was more effective than only using KMnO4 (67%). This work presents a novel synergistic strategy by integrating wet ozone oxidation and KMnO₄ confinement within palm kernel shell–derived porous carbon (CPKS), providing a sustainable and highly efficient material tailored explicitly for hydrogen sulfide (H₂S) removal from gas streams.
A Systematic Analysis of GIS as a Decision Support Tool for the Sustainable Management of Floating Net Cages in Lake Batur, Bali, Indonesia: Analisis Sistematik SIG sebagai Alat Pendukung Keputusan untuk Pengelolaan Keramba Jaring Apung yang Berkelanjutan di Danau Batur, Bali, Indonesia Yustiati, Ayi; Lusia, Akira
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.11386

Abstract

Abstrak Perluasan budidaya ikan menggunakan sistem keramba jaring apung (KJA) di Danau Batur, Bali telah menimbulkan berbagai tantangan lingkungan, antara lain eutrofikasi, sedimentasi, penurunan kualitas air, serta konflik dengan sektor pariwisata dan pemangku kepentingan budaya. Studi ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis potensi sistem informasi geografis (SIG) sebagai alat bantu pengambilan keputusan dalam pengelolaan KJA yang berkelanjutan di Danau Batur, Bali, Indonesia. Dengan menggunakan metode tinjauan pustaka yang terstruktur, studi ini mengevaluasi penerapan SIG dalam penataan ruang budidaya perairan pada berbagai sistem perairan tawar di Indonesia dan wilayah internasional yang sebanding. Analisis mengidentifikasi variabel biofisik dan sosio-spasial utama yang penting untuk penempatan KJA secara optimal, seperti kedalaman air, kadar oksigen terlarut, arus perairan, kedekatan dengan zona sensitif, serta akses terhadap infrastruktur. Studi kasus dari Danau Toba, Danau Maninjau, dan Waduk Cirata menunjukkan efektivitas SIG dalam menentukan zona budidaya yang sesuai, mengevaluasi daya dukung lingkungan, dan mengurangi konflik pemanfaatan ruang. Meskipun memiliki potensi tinggi, pemanfaatan SIG di Danau Batur masih terbatas akibat lemahnya koordinasi kelembagaan, kurangnya integrasi data spasial, dan rendahnya keterlibatan pemangku kepentingan. Studi ini menyimpulkan bahwa SIG, jika dipadukan dengan pemetaan partisipatif dan selaras dengan kerangka regulasi, dapat mendukung tata kelola budidaya yang transparan, ekologis, dan sensitif terhadap nilai budaya. Artikel ini juga memberikan rekomendasi untuk membangun sistem zonasi berbasis SIG, meningkatkan mekanisme perizinan dan pengawasan, serta mengintegrasikan data lingkungan dan sosial-budaya dalam pengambilan keputusan spasial. Temuan ini berkontribusi pada penguatan perencanaan budidaya berkelanjutan di Danau Batur dan danau-danau dataran tinggi lainnya di Indonesia.   Abstract The rapid expansion of fish farming using the floating net cage (FNC) system in Lake Batur, Bali, has given rise to various environmental challenges, including eutrophication, sedimentation, declining water quality, and conflicts with the tourism sector and cultural stakeholders. This study aims to systematically analyze the potential of Geographic Information Systems (GIS) as a decision support tool for sustainable FNC management in Lake Batur. The study uses a systematic literature review to examine relevant GIS applications in aquaculture zoning across freshwater systems in Indonesia and comparable international contexts. The analysis identifies key biophysical and socio-spatial variables essential for optimal cage placement, such as water depth, dissolved oxygen, current flow, proximity to sensitive zones, and infrastructure access. Case studies from Lake Toba, Lake Maninjau, and the Cirata Reservoir demonstrate the effectiveness of GIS in delineating suitable aquaculture zones, evaluating environmental carrying capacity, and reducing spatial conflicts. Despite its high potential, the use of GIS in Lake Batur remains limited due to weak institutional coordination, a lack of integrated spatial datasets, and minimal stakeholder engagement. This study concludes that when coupled with participatory mapping and aligned with regulatory frameworks, GIS can support transparent, ecologically sound, and culturally sensitive aquaculture governance. The paper recommends establishing GIS-based zoning, improving licensing and monitoring systems, and integrating environmental and socio-cultural data into spatial decision-making. These findings contribute to advancing sustainable aquaculture planning in Lake Batur and other highland lake systems in Indonesia.
Assessment of Environmental Pollution Potential Due to Effluent from Catfish Aquaculture Ponds in an Integrated Chicken-Fish Farming System in Blitar Regency: Evaluasi Potensi Pencemaran Lingkungan Akibat Efluen Air Kolam Budidaya Lele pada Sistem Peternakan Ayam-Ikan Terpadu di Kabupaten Blitar Efadeswarni; Kurniawan, Budi; Pratomo, Hurip
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.11569

Abstract

Abstrak Sistem pertanian terpadu ayam-ikan merupakan model agroekologis yang menggabungkan pemeliharaan ayam petelur dan budidaya ikan lele dalam satu siklus produksi. Sistem ini mampu menurunkan biaya pakan hingga 30–40% melalui pemanfaatan kotoran ayam sebagai sumber nutrien bagi ikan. Meskipun memberikan manfaat ekonomi, sistem ini memiliki potensi risiko lingkungan yang signifikan apabila air kolam tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi pencemaran dari buangan air kolam lele dalam sistem terpadu di Kabupaten Blitar dengan menganalisis parameter kualitas air, meliputi pH, suhu, oksigen terlarut (DO), total padatan terlarut (TDS), total padatan tersuspensi (TSS), kebutuhan oksigen biologis (BOD), kebutuhan oksigen kimiawi (COD), amonia, nitrat, nitrogen total (TN), fosfat total (TP), dan fecal coliform. Studi dilakukan di tiga lokasi, masing-masing terdiri atas dua kolam terpadu, satu kolam kontrol, dan satu sumber air baku. Kolam terpadu menunjukkan kadar BOD, COD, dan fecal coliform tertinggi, yang mengindikasikan kontaminasi organik dan mikrobiologis yang signifikan. Uji-t independen menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05) antara kolam terpadu dan kolam kontrol, sedangkan kolam kontrol tidak berbeda signifikan dengan air baku. Berdasarkan Indeks Pencemar (IP) yang dihitung mengacu pada Kepmen LH No. 115/2003, seluruh kolam terpadu diklasifikasikan dalam kategori tercemar berat (IP>10), dengan beberapa nilai melebihi 2200. Studi ini memberikan kontribusi baru melalui penerapan analisis kuantitatif dan klasifikasi indeks pencemaran pada model budidaya yang masih jarang diteliti, serta menegaskan pentingnya penerapan strategi pengolahan air limbah untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dalam praktik akuakultur terpadu.   Abstract The integrated chicken-fish farming system is an agroecological model that combines layer chicken rearing and catfish aquaculture within a single production cycle. This system reduces feed costs by up to 30–40% through the utilization of chicken manure as a nutrient source for fish. Despite its economic benefits, the system poses a significant environmental risk if pond water is not managed correctly. This study aimed to evaluate the pollution potential of catfish pond effluents within integrated systems in Blitar Regency by analyzing key water quality parameters, including pH, temperature, dissolved oxygen (DO), total dissolved solids (TDS), total suspended solids (TSS), biochemical oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD), ammonia, nitrate, total nitrogen (TN), total phosphate (TP), and fecal coliform. The study was conducted at three sites, each comprising two integrated ponds, one control pond, and one raw water source. The integrated ponds exhibited the highest BOD, COD, and fecal coliform levels, indicating substantial organic and microbial contamination. Independent t-tests revealed significant differences (p<0.05) between integrated and control ponds, while control ponds showed no significant difference from raw water. Based on the Pollution Index (PI) calculated using the Decree of Minister of Environment of The Republic of Indonesia Number 115 of 2003, all integrated ponds were classified as heavily polluted (PI>10), with some values exceeding 2200. This study provides a novel contribution by applying quantitative pollution indexing to a rarely assessed farming model, offering empirical evidence that supports the urgent need for wastewater treatment strategies to ensure the environmental sustainability of integrated aquaculture practices.

Page 1 of 2 | Total Record : 14