cover
Contact Name
Nabil Abduh Aqil
Contact Email
nabilabduhaqil@gmail.com
Phone
+6282386587011
Journal Mail Official
rslr@usu.ac.id
Editorial Address
Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara Jl. Civitas Akademika, No. 9, Padang Bulan, Kec. Medan Baru, Kota Medan, 20155 E-mail: rslr@usu.ac.id
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Recht Studiosum Law Review
Published by TALENTA PUBLISHER
ISSN : 29859867     EISSN : 29617812     DOI : https://doi.org/10.32734/rslr.v2i2.11278
Core Subject : Social,
Recht Studiosum Law Review (E-ISSN: 2961-7812) is a legal science journal and is a double blind peer review journal published by Talenta Publisher, Universitas Sumatera Utara which is managed by the academic community of the Faculty of Law, Universitas Sumatera Utara, Indonesia. This journal was first published in May 2022, aiming to attract interest, facilitate and serve as a forum for practitioners and academics who are interested in the field of law and the development of legal science at the national and international level. The focus and scope of this journal are legal issues in the field of Criminal Law; Civil law; Constitutional Law; International law; Administrative law; Islamic law; Business Law; Medical Law; Environmental law; Customary law; Agrarian Law; Philosophy of Law and Issues Related to Law. This journal publishes articles (Research and Review Articles), every May and November.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 78 Documents
Cross Border Carbon Trading and the Principle of Climate Justice: An Analysis of the Implementation of the Paris Agreement (A Comparative Study of Indonesia and India) Ade Putra Hasibuan; Eva Aini; Vinay Kumar Yadav
Recht Studiosum Law Review Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 5 Nomor 1 (Mei - 2026)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/rslr.v5i1.25188

Abstract

The climate crisis cannot be resolved simply by reducing global emissions, it must also be addressed equitably. The climate crisis is the result of economic development focused on growth without regard for the Earth's capacity. This article analyzes the implementation of the Paris Agreement on cross border carbon trading and the principles of climate justice between Indonesia and India, as well as the challenges of their enforcement. This research uses a normative juridical method with a library research approach, examining various international and national legal instruments such as the Paris Agreement, laws governing carbon emission use and equitable justice for both countries as well as their impacts. The results indicate that quantifying carbon emission reductions requires legal reform related to carbon trading regulations. The current regulation, Presidential Regulation Number 98 of 2021, lacks technical regulations. This makes it difficult to take progressive steps regarding carbon trading. The issue of legal certainty is also evident in the enactment of the Presidential Regulation. The legal form of the Presidential Regulation still only involves the Government in drafting the regulations, and this is very easy to change at any time. For the sake of legal certainty in regulating carbon trading in the future, consideration must be given to harmonizing and amending laws governing aspects of carbon trading, particularly the Environmental Law, the Forestry Law and the Regional Government Law, by incorporating aspects of justice for the community so that justice for the community, both inter and intra generational, can be realized. India's updated NDC represents the country's transition framework building requires to a path than that Western countries to achieve emission and is assistance advanced technology financing will need substantial its.
Uncertain Transition: Judicial Disparity and the Limits of Supreme Court Circular Letters in the Era of Criminal Law Codification Risma Yulestari; La Ode Muhamad Sulihin; La Ode Muhammad Ichsan; La Ode Muhammad Saleh Saputra; Alif Talib
Recht Studiosum Law Review Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 5 Nomor 1 (Mei - 2026)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/rslr.v5i1.25190

Abstract

The simultaneous implementation of the National Penal Code (Law Number 1 of 2023) and the New Code of Criminal Procedure (Law Number 20 of 2025) on January 2, 2026 marks a fundamental transformation in Indonesia’s criminal justice system, while also creating significant challenges in ensuring consistency of legal application during the transitional period. This study aims to identify the forms of judicial disparity, evaluate the effectiveness of Supreme Court Circular Letter Number 1 of 2026, and formulate an ideal model for ensuring legal certainty. The research employs a normative legal method using statute and conceptual approaches, supported by limited case and comparative approaches. The findings reveal three main forms of disparity, namely regime disparity, sentencing disparity, and procedural disparity, which stem from the ambiguity of transitional norms and the absence of detailed operational guidelines. Supreme Court Circular Letter Number 1 of 2026 is found to be insufficiently effective as a disparity-prevention instrument due to its limited normative authority, substantive scope, and implementation. Therefore, this study proposes a three-pillar model for ensuring legal certainty, consisting of strengthening normative instruments through a Supreme Court Regulation, establishing an inter-institutional coordination forum, and enhancing judicial interpretive capacity through continuing legal education. This model is expected to reduce disparity and promote fair legal certainty during the transitional period.
Diskursus Kekuatan Hukum Fatwa DSN-MUI dalam Yurisprudensi Peradilan Indonesia: Analisis Komparatif dengan Mekanisme Rujukan Wajib Shariah Advisory Council Malaysia M. Mustofah Bisri
Recht Studiosum Law Review Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 5 Nomor 1 (Mei - 2026)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/rslr.v5i1.25212

Abstract

Kekuatan hukum fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dalam yurisprudensi Indonesia problematis karena tidak adanya mekanisme prosedural yang mengikat hakim. Hal ini berbeda dengan mekanisme rujukan wajib Malaysia berdasarkan Central Bank of Malaysia Act 2009 (Act 701) dan Islamic Financial Services Act 2013 (IFSA 2013). Penelitian hukum normatif dengan pendekatan komparatif dan konseptual ini menganalisis kedudukan fatwa DSN-MUI berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah serta Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/32/PBI/2008 yang mewajibkan positivisasi fatwa ke dalam regulasi sektor, tetapi tidak mengikat hakim secara prosedural. Sebaliknya, Pasal 56 Act 701 mewajibkan pengadilan Malaysia merujuk persoalan syariah kepada Shariah Advisory Council (SAC), dan penetapan SAC bersifat mengikat terhadap pengadilan sebagaimana ditegaskan Mahkamah Persekutuan Malaysia dalam putusan JRI Resources Sdn Bhd v Kuwait Finance House (M) Bhd [2019] 3 MLJ 1. Tantangan utama Indonesia adalah ketiadaan mekanisme rujukan wajib, keterbatasan kapasitas hakim, serta dualisme peradilan agama dan negeri yang melahirkan disparitas putusan. Malaysia justru menghadapi perdebatan konstitusional mengenai batas kewenangan SAC terhadap doktrin pemisahan kekuasaan. Penelitian ini merekomendasikan adopsi limited mandatory reference mechanism bagi Indonesia serta pembentukan mekanisme review terbatas atas penetapan SAC bagi Malaysia.
Rekonseptualisasi Regulasi Lingkungan Kontemporer Indonesia Melalui Konsep Ekokrasi Sebagai Langkah Konkret Mewujudkan Sustainable Development Goals Dimas Tri Wicaksono; Friyandi Prasetya
Recht Studiosum Law Review Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 5 Nomor 1 (Mei - 2026)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/rslr.v5i1.25217

Abstract

Tekanan eksploitasi alam yang kian mengkhawatirkan di tengah kebutuhan industri yang terus meningkat menciptakan dampak negatif yang saling bersahutan. Kondisi ini menimbulkan tantangan hukum terhadap keberlanjutan lingkungan, sebab dalam praktiknya pemberdayaan alam baik pertambangan dan alih fungsi lahan guna kepentinga industri seringkali tidak sejalan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan konsep ekokrasi sebagai respon kurangnya efektivitas berbagai yuridiksi lingkungan di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif, melalui analisis peraturan perundang-undangan, jurnal ilmiah, serta bahan bacaan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Undang- Undang lingkungan Indonesia secara normatif masih relevan, namun implementasinya belum sepenuhnya efektif dalam menghadapi praktik deforestasi dan alih lahan ilegal cacat prosedur, terutama ketika adanya confict of interest antara kepentingan ekonomi dan kepentingan ekologi. Praktik tersebut berpotensi merusak lingkungan yang berdampak pada keberlanjutan kehidupan flora, fauna serta memicu bencana alam yang bermuara pada kerugian jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan reformulasi hukum lingkungan guna menciptakan kepastian hukum dan keadilan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan Sustainable Development.
Legalitas Hak Bela Diri dalam Serangan Israel terhadap Iran: Analisis Pasal 51 Piagam PBB Berdasarkan Prinsip Necessity, Imminence dan Proportionality Habib Rizieq Ramadhan; Dachrian Arya Putra; Vincent Nouval Theo; Muhammad Ziedane
Recht Studiosum Law Review Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 5 Nomor 1 (Mei - 2026)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/rslr.v5i1.25231

Abstract

Meningkatnya konflik antara Iran dan Israel dari bayangan perang yang berkepanjangan menjadi konfrontasi militer secara langsung menimbulkan pertanyaan hukum kritis mengenai penggunaan kekuatan di bawah hukum internasional. Studi ini meneliti tindakan legalitas Israel terhadap Iran dalam kerangka Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan fokus pada persyaratan serangan bersenjata, kebutuhan, kedekatan, dan proporsionalitas. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan menganalisis instrumen hukum internasional yang relevan untuk menilai apakah penggunaan kekuatan dapat dibenarkan sebagai pembelaan diri. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa tindakan Israel tidak memenuhi kriteria hukum yang telah ditetapkan. Ketidakhadiran serangan bersenjata sebelumnya, ditambah dengan bukti yang tidak cukup tentang kedekatan dan kegagalan untuk memenuhi prinsip-prinsip kebutuhan dan proporsionalitas, menimbulkan legitimasi klaimnya. Studi tersebut lebih lanjut menyatakan bahwa pembenaran yang diterapkan lebih selaras dengan penggunaan kekuatan preventif daripada pembelaan diri antisipatif, yang tetap sangat diperdebatkan dan umumnya tidak diakui di bawah hukum internasional. Penelitian ini menyoroti risiko dari interpretasi luas Pasal 51, yang dapat mengikis larangan penggunaan kekuatan dan mencakup tatanan hukum internasional. Kesimpulannya adalah bahwa menegaskan kembali batas-batas normatif dari pembelaan diri sangat penting untuk menjaga keutuhan rezim jus ad bellum.
Rekonstruksi Hubungan Pekerja Gig sebagai Hubungan Sui Generis di Era Digital Ayham Altaira; Andi Imam Rafi; Fauzil Adhim Arie Putra
Recht Studiosum Law Review Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 5 Nomor 1 (Mei - 2026)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/rslr.v5i1.25247

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kerentanan hukum pekerja gig di Indonesia akibat status kemitraan semu yang menciptakan ketimpangan posisi tawar dan pengalihan risiko operasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi kemitraan platform yang menciptakan kerentanan hukum tersebut, mengkaji komparasi regulasi global yang adaptif, serta merumuskan model perlindungan hukum ideal berbasis keadilan sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, perbandingan, dan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrak platform saat ini mengandung klausula eksonerasi yang mencerminkan penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden), sehingga membatalkan asas keseimbangan perjanjian. Berdasarkan perbandingan regulasi di Malaysia dan California, penelitian ini menawarkan rekonstruksi hukum dengan menetapkan pekerja gig sebagai subjek hukum sui generis. Model perlindungan yang diusulkan bertumpu pada tanggung jawab mutlak platform (platform vicarious liability) melalui tiga pilar utama: hak ekonomi (upah minimum digital), hak sosial (jaminan sosial wajib), dan hak digital (transparansi algoritma dan algorithmic due process). Sebagai simpulan, penelitian ini merekomendasikan pembentukan Undang-Undang Pekerja Digital dan Tribunal Pekerja Gig untuk menyediakan mekanisme penyelesaian sengketa yang adaptif, cepat, dan berkeadilan distributif guna mengatasi kebuntuan rezim hukum konvensional di era ekonomi platform.
Rekonstruksi Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) Melalui Integrasi Otoritas Lintas Sektoral Sebagai Upaya Preventif Migrasi Ilegal Buruh Migran Indonesia Kelvin Pratama Harefa; Dimas Hafiz Audistafa; Shanti Maulina; Krisna Dewi Pradifta Anggraini
Recht Studiosum Law Review Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 5 Nomor 1 (Mei - 2026)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/rslr.v5i1.25248

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas regulasi perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) pasca berlakunya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 serta merumuskan rekonstruksi model Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) sebagai upaya preventif migrasi ilegal. Meskipun instrumen hukum saat ini bersifat progresif, pada tataran implementasi ditemukan fenomena "perlindungan semu" (pseudo-protection) yang disebabkan oleh structural disconnect antara birokrasi yang administratif-formalistik dengan realitas sosiologis di tingkat desa. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor disparitas ekonomi, asimetri informasi, dan kerumitan birokrasi menjadi katalisator utama maraknya jalur non-prosedural. Studi kasus evakuasi PMI di Iran pada Maret 2026 menjadi refleksi pentingnya kehadiran negara melampaui sekat administratif. Penelitian ini menawarkan rekonstruksi LTSA berbasis integrasi lintas sektoral melalui lima pilar utama, yakni digitalisasi platform informasi nasional, integrasi strategis delapan sektor inti termasuk kepolisian dan diplomasi, penguatan standar kompetensi berbasis kemampuan, reorientasi kebijakan lapangan kerja domestik, serta mekanisme monitoring berkelanjutan (post-placement). Transformasi dari service-based system menuju protection-based system ini diharapkan dapat memangkas peran calo, meminimalisasi risiko perdagangan orang, dan mengembalikan fungsi hukum sebagai instrumen yang melayani manusia (human-centered law) demi menjamin kedaulatan serta martabat buruh migran Indonesia di mancanegara.
Penerapan Prinsip Hukum Lingkungan Internasional dalam Pertambangan Rakyat Berbasis SDGs di Sumatera Utara Siti Khairunnissa; Muhammad Ghuffran; Mia Aulina Lubis; Khairunnisa
Recht Studiosum Law Review Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 5 Nomor 1 (Mei - 2026)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/rslr.v5i1.25549

Abstract

Pertambangan rakyat di Sumatera Utara merupakan salah satu sektor ekonomi masyarakat yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja. Namun demikian, kegiatan pertambangan rakyat berhubungan erat dengan konsep pengelolaan lingkungan hidup, di mana kegiatan usaha ini berpengaruh pada dampak kerusakan lingkungan karena menurunnya kualitas lingkungan sebagai akibat perubahan fungsi lahan, bahkan berdampak terhadap ekosistem yang lainnya serta konflik sosial akibat lemahnya pengawasan serta rendahnya penerapan prinsip-prinsip hukum lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip hukum lingkungan internasional dalam pengelolaan pertambangan rakyat berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) di Sumatera Utara. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip hukum lingkungan internasional seperti sustainable development, precautionary principle, polluter pays principle, intergenerational equity, dan public participation belum diterapkan secara optimal dalam praktik pertambangan rakyat di Sumatera Utara. Implementasi SDGs, khususnya tujuan ke -8,  ke-12, ke-13, dan ke-15, masih menghadapi kendala berupa lemahnya regulasi teknis, rendahnya kesadaran hukum masyarakat, keterbatasan pengawasan pemerintah daerah, serta aktivitas pertambangan tanpa izin. Penelitian ini merekomendasikan penguatan regulasi berbasis keberlanjutan, peningkatan partisipasi masyarakat, pengawasan lingkungan terpadu, serta integrasi prinsip hukum lingkungan internasional ke dalam kebijakan pertambangan rakyat di daerah guna mendukung pembangunan berkelanjutan.