cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 309 Documents
Hubungan kadar hemoglobin ibu trimester ketiga dengan risiko kelahiran prematur: Literatur review Lausiri, Satharia; Dewi, Anna Sari; Emilda, Andi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2261

Abstract

Background: Anemia in pregnancy is one of the most common maternal health problems globally and often occurs in the third trimester when maternal and fetal physiological needs increase. Low hemoglobin levels have the potential to cause placental hypoxia and increase the risk of obstetric complications, including preterm birth. Purpose: To determine the association between maternal hemoglobin levels in the third trimester and the risk of preterm birth based on the latest scientific evidence from national and international journals. Method: A systematic literature review was conducted based on the PRISMA 2020 guidelines. Twenty-two articles met the inclusion criteria, which included a population of pregnant women in the third trimester, observational study designs or meta-analyses, and reports of preterm birth outcomes. Results: The majority of the 22 articles showed a significant association between low hemoglobin levels (Hb <11 g/dL) and an increased risk of preterm birth and adverse neonatal outcomes such as low birth weight (LBW) and high-birth-weight (SGA). Conclusion: Low hemoglobin levels in the third trimester are significantly associated with the risk of preterm birth. Routine Hb testing prior to delivery and adequate anemia management are needed as strategies to prevent obstetric complications and improve maternal-infant safety.   Keywords: Hemoglobin; Pregnancy Anemia; Premature Birth; Perinatal Outcome; Third Trimester.   Pendahuluan: Anemia pada kehamilan merupakan salah satu masalah kesehatan maternal paling umum secara global dan sering terjadi pada trimester ketiga ketika kebutuhan fisiologis ibu dan janin meningkat. Kadar hemoglobin yang rendah berpotensi menyebabkan hipoksia plasenta dan meningkatkan risiko komplikasi obstetri, termasuk kelahiran prematur. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kadar hemoglobin ibu trimester ketiga dengan risiko kelahiran prematur berdasarkan bukti ilmiah terkini dari jurnal nasional dan internasional. Metode: Systematic Literature Review dilakukan berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Sebanyak 22 diantaranya memenuhi kriteria inklusi yang meliputi populasi ibu hamil trimester ketiga, desain penelitian observasional, atau meta-analisis, dan laporan hasil kelahiran prematur. Hasil: Mayoritas dari 22 artikel menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin rendah (Hb < 11 g/dL) dan peningkatan risiko kelahiran prematur serta outcome neonatal buruk seperti BBLR dan SGA. Simpulan: Kadar hemoglobin rendah pada trimester ketiga berhubungan signifikan dengan risiko kelahiran prematur. Pemeriksaan Hb rutin menjelang persalinan dan penanganan anemia yang adekuat diperlukan sebagai strategi pencegahan komplikasi obstetri dan peningkatan keselamatan ibu-bayi.   Kata Kunci: Anemia Kehamilan; Hemoglobin; Kelahiran Prematur; Outcome Perinatal; Trimester Ketiga.
Gambaran pasien ileus obstruktif di rumah sakit Anwar, Audiza Nur Indira; Gani, Azis Beru; Fatkhurrohman, Imam; Kurniawan, Agung; Kanang, Indah Lestari Daeng
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2264

Abstract

Background: Obstructive ileus is a digestive surgical emergency caused by mechanical obstruction of the intestinal lumen, resulting in the accumulation of intestinal contents in the proximal portion. This condition accounts for approximately 20% of cases of non-appendicitis acute abdominal pain and has a high incidence worldwide. Purpose: To describe the characteristics of patients with obstructive ileus based on age, sex, and clinical symptoms. Method: This is a descriptive study with a quantitative approach. Data were obtained from the medical records of patients with obstructive ileus treated between March 2023 and May 2025. A total of 52 patients were enrolled using a total sampling method. Data were analyzed univariately and presented as frequency distributions and percentages. Results: Based on gender, the majority of respondents were female (27 respondents (52%), aged 18–65 years (59.61%). The most common clinical symptoms were fecal retention (83%), abdominal pain (81%), abdominal distension (63%), vomiting (37%), nausea (35%), and flatus retention (33%). Conclusion: Obstructive ileus most commonly occurs in people of productive age to old age, with a balanced gender distribution. The dominant clinical symptoms are fecal retention and abdominal pain. These results indicate that obstructive ileus is a major cause of acute abdominal pain, with a characteristic symptom pattern that is important for early diagnosis and appropriate management.   Keywords: Age; Clinical Symptoms; Gender; Obstructive Ileus.   Pendahuluan: Ileus obstruktif merupakan kegawatdaruratan di bidang bedah digestif yang disebabkan oleh hambatan mekanis pada lumen usus, sehingga terjadi akumulasi isi usus di bagian proksimal. Kondisi ini mencakup sekitar 20% dari kasus nyeri abdomen akut non-apendisitis dan memiliki angka kejadian yang tinggi di dunia. Tujuan: Untuk mendeskripsikan karakteristik pasien ileus obstruktif berdasarkan usia, jenis kelamin, dan gejala klinis. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data diperoleh dari rekam medik pasien ileus obstruktif yang dirawat antara Maret 2023 hingga Mei 2025. Sebanyak 52 pasien diikutsertakan dengan metode total sampling. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Berdasarkan jenis kelamin, mayoritas responden adalah perempuan sebanyak 27 responden (52%) dan berumur 18–65 tahun (59,61%). Gejala klinis yang paling banyak ditemukan adalah retensi tinja (83%), nyeri perut (81%), distensi abdomen (63%), muntah (37%), mual (35%), dan retensi flatus (33%). Simpulan: Ileus obstruktif paling banyak terjadi pada usia produktif hingga usia lanjut dengan distribusi jenis kelamin yang seimbang. Gejala klinis dominan berupa retensi tinja dan nyeri perut. Hasil ini menunjukkan bahwa ileus obstruktif merupakan penyebab utama nyeri abdomen akut dengan pola gejala khas yang penting untuk diagnosis dini dan tata laksana yang tepat.   Kata Kunci: Gejala Klinis; Ileus Obstruktif; Jenis Kelamin; Usia.
Kehandalan pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap Sani, Zul Fadli; Imallah, Rosiana Nur; Masitoh, Rohayati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2276

Abstract

Background: Patient satisfaction in hospitals can be achieved through the quality of nursing services provided, one of which is nurse reliability. Nurses with reliability are those who meet patient expectations, such as keeping promises, resolving problems effectively, providing satisfaction, and demonstrating a trustworthy attitude. Purpose: To determine the relationship between nursing service reliability and patient satisfaction in inpatient wards. Method: This quantitative study used a descriptive correlation design with a cross-sectional approach. The sampling technique used purposive sampling, with a sample size of 97 respondents. The research instrument used a questionnaire. Data analysis used the Kendall Tau test. Results: The reliability of nursing services was categorized as good by 81 respondents (83.5%), while patient satisfaction was categorized as satisfied by 78 respondents (80.4%). The data analysis yielded a value of 0.015 <0.05. Conclusion: There is a relationship between nursing service reliability and patient satisfaction in inpatient wards.   Keywords: Nursing Services; Patient Satisfaction; Reliability.   Pendahuluan: Kepuasan pasien di rumah sakit dapat tercipta dari kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan salah satunya adalah kehandalan perawat. Perawat yang memiliki kehandalan yaitu kemampuan untuk memenuhi harapan pasien seperti menepati janji, menyelesaikan permasalahan dengan baik, memberikan kepuasan, serta menunjukkan sikap yang dapat dipercaya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kehandalan pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling, dengan jumlah sampel 97 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan Uji Kendall Tau. Hasil: Kehandalan pelayanan keperawatan mayoritas berada pada kategori baik sebanyak 81 responden (83,5%) dengan kepuasan pasien berada pada kategori puas sebanyak 78 responden (80,4%). Hasil analisis data diperoleh nilai 0.015<0.05. Simpulan: Terdapat hubungan antara kehandalan pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap.   Kata Kunci : Kehandalan; Pelayanan Keperawatan; Kepuasan Pasien
Mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam pengambilan keputusan intraoperatif: Era baru dalam bedah presisi Asdar, Asdar
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2279

Abstract

Background: Metabolic syndrome is increasingly common among young people, including college students, as a result of modern lifestyle changes. Shifts in eating behavior toward high-fat and high-sugar foods, low physical activity, and high academic pressure lead to metabolic imbalance. Purpose: To analyze lifestyle factors contributing to the increased risk of metabolic syndrome among college students. Method: This study used a descriptive qualitative approach, utilizing in-depth interviews and focus group discussions (FGDs) with students from various study programs. Data were analyzed thematically, emphasizing health behavior patterns, dietary habits, physical activity, and students' perceptions of metabolic syndrome prevention efforts. Results: This study identified three main factors that interact and influence the risk of metabolic syndrome: an unbalanced lifestyle characterized by a high-fat diet, lack of sleep, and academic stress; low physical activity and a predominantly sedentary lifestyle that reduce metabolic capacity and blood vessel function; and low preventive awareness and minimal campus institutional support that undermine the implementation of healthy lifestyle behaviors. Conclusion: Preventing metabolic syndrome in college students requires a holistic approach based on a healthy campus (Healthy Campus Framework) that includes the integration of health education, increased physical activity, and strengthening institutional policies that support sustainable healthy lifestyle behaviors.   Keywords: Artificial Intelligence; Intraoperative Decision-Making; Precision Surgery.   Pendahuluan: Sindrom metabolik semakin umum di kalangan anak muda termasuk mahasiswa, sebagai akibat dari perubahan gaya hidup modern. Pergeseran perilaku makan ke arah makanan tinggi lemak dan tinggi gula, aktivitas fisik yang rendah, dan tekanan akademik yang tinggi menyebabkan ketidakseimbangan metabolik. Tujuan: Untuk menganalisis faktor-faktor gaya hidup yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko sindrom metabolik di kalangan mahasiswa. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, memanfaatkan wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan mahasiswa dari berbagai program studi. Data dianalisis secara tematik, menekankan pola perilaku kesehatan, kebiasaan makan, aktivitas fisik, dan persepsi mahasiswa terhadap upaya pencegahan sindrom metabolik. Hasil: Penelitian ini mengidentifikasi tiga faktor utama yang berinteraksi dan memengaruhi risiko sindrom metabolik yaitu gaya hidup tidak seimbang yang ditandai dengan pola makan tinggi lemak, kurang tidur, dan stres akademik; aktivitas fisik yang rendah dan gaya hidup yang didominasi sedenter yang menurunkan kapasitas metabolisme dan fungsi pembuluh darah; dan kesadaran preventif yang rendah dan minimnya dukungan institusi kampus yang melemahkan penerapan perilaku hidup sehat. Simpulan: Pencegahan sindrom metabolik pada mahasiswa memerlukan pendekatan holistik berbasis kampus sehat (Healthy Campus Framework) yang mencakup integrasi edukasi kesehatan, peningkatan aktivitas fisik, dan penguatan kebijakan institusi yang mendukung perilaku hidup sehat berkelanjutan.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Gaya Hidup Sedentary; Mahasiswa; Pencegahan; Sindrom Metabolik.
Self efficacy perawat terhadap tingkat kepatuhan hand hygiene di ruang keperawatan kritis Sawitri Abiad, Malaika; Imallah, Rosiana Nur; Kurniasih, Yuni
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2306

Abstract

Background: Hand hygiene compliance is a key step in preventing nosocomial infections, particularly in critical care units, which have a high risk of infection transmission. Nurses' compliance with the Five Moments of Hand Hygiene is influenced by several factors, one of which is self-efficacy, which is an individual's belief in their ability to consistently perform the action. Purpose: To determine the relationship between nurses' self-efficacy and hand hygiene compliance levels in critical care units. Method: This was a quantitative cross-sectional study using a descriptive correlational approach. A sample of 51 nurses was selected through purposive sampling. Data were collected using a self-efficacy and hand hygiene compliance questionnaire. The relationship was analyzed using the Spearman Rank correlation test. Results: The majority of nurses had high self-efficacy (96.1%) and 92.2% of their hand hygiene compliance was compliant. A significant relationship was found between self-efficacy and hand hygiene compliance (p = 0.024) with a correlation coefficient of 0.317, indicating a positive relationship ranging from weak to moderate. Conclusion: Nurses' self-efficacy was significantly associated with hand hygiene compliance. Nurses with higher self-efficacy tend to be more compliant in implementing the Five Moments of Hand Hygiene. Keywords: Compliance; Five Moments; Hand Hygiene; Nurses; Self-Efficacy. Pendahuluan: Kepatuhan Hand hygiene merupakan langkah utama dalam pencegahan infeksi nosokomial, terutama di ruang perawatan kritis yang memiliki risiko tinggi penularan infeksi. Kepatuhan perawat dalam menerapkan Five Moments Hand Hygiene dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah self efficacy, yakni keyakinan individu terhadap kemampuan diri dalam melaksanakan tindakan secara konsisten. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara self efficacy perawat dengan tingkat kepatuhan hand hygiene di ruang keperawatan kritis. Metode: Penelitian kuantitatif cross-sectional dengan pendekatan deskriptif korelasional. Sampel berjumlah 51 perawat yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner self efficacy dan kepatuhan hand hygiene. Analisis hubungan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Mayoritas perawat memiliki self efficacy tinggi (96.1%) dan kepatuhan hand hygiene kategori patuh (92.2%). Hubungan signifikan antara self efficacy dan kepatuhan hand hygiene sebesar (p = 0.024) dengan koefisien korelasi 0.317 yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan lemah menuju sedang. Simpulan: Self efficacy perawat berhubungan signifikan dengan kepatuhan hand hygiene. Perawat dengan self efficacy lebih tinggi cenderung lebih patuh dalam melaksanakan Five Moments Hand Hygiene. Keywords: Five Moments; Hand Hygiene; Kepatuhan; Perawat; Self Efficacy      
Quality of nursing work life dengan penerapan patient safety pada perawat ruang rawat inap Ningsih, Harin Oktia; Imallah, Rosiana Nur; Kurniasih, Yuni
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2311

Abstract

Background: The implementation of patient safety is influenced by the quality of nursing work life. When nurses have a good quality of nursing work life, encompassing the dimensions of work life-home life, work design, work context, and work word, they will be more compliant with patient safety procedures, thereby maintaining the quality of healthcare services. Purpose: To determine the relationship between Quality of Nursing Work Life and the Implementation of Patient Safety among Nurses. Method: This quantitative, descriptive correlation study with a cross-sectional approach was conducted in the Inpatient Ward of PKU Muhammadiyah Gamping Hospital. The sampling technique used purposive sampling, with a sample size of 61 respondents. The research instrument used a questionnaire. Data analysis used the Kendall Tau test. Results: This study shows that the Quality of Nursing Work Life is mostly in the good category (58 respondents (95.1%), and the implementation of Patient Safety is mostly in the good category (59 respondents (96.5%). The data analysis obtained a p-value (p=0.003), with a value of <0.05, indicating a relationship between Quality of Nursing Work Life and the implementation of patient safety among inpatient nurses. Conclusion: Quality of nursing work life influences the implementation of patient safety in inpatient nurses.   Keywords: Nurses; Patient Safety; Quality of Nursing Work Life.   Pendahuluan: Penerapan patient safety dipengaruhi oleh quality of nursing work life. Ketika perawat memiliki quality of nursing work life yang baik, yaitu mencakup dimensi work life-home life, work design, work context, dan work word, maka perawat akan lebih patuh terhadap prosedur keselamatan pasien sehingga mutu pelayanan kesehatan terjaga. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan Quality of Nursing Work Life dengan Penerapan Patient Safety pada Perawat. Metode: Penelitian kuantitatif jenis deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di Ruang Rawat Inap RS PKU Muhammadiyah Gamping. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling, jumlah sampel 61 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan uji Kendall Tau. Hasil: Penelitian ini menunjukan Quality of Nursing Work life sebagian besar dalam kategori baik sebanyak 58 responden (95.1%) dan penerapan Patient Safety sebagian besar responden dalam kategori baik sebanyak 59 responden (96.5%). Hasil analisa data diperoleh nilai (p=0.003) nilai tersebut (<0.05) artinya ada hubungan Quality of Nursing Work Life dengan penerapan patient safety pada perawat ruang rawat inap. Simpulan: Quality of nursing work life mempengaruhi penerapan patient safety pada perawat ruang rawat inap.   Kata Kunci: Patient Safety; Perawat; Quality Of Nursing Work Life.
Efektivitas relaksasi genggam jari untuk mengatasi nyeri akut pada pasien post debridement selulitis: Studi kasus keperawatan Sari, Hesty Atmana; Sriyati, Sriyati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2312

Abstract

Background: Cellulitis is a serious skin infection that often requires surgical debridement. This procedure causes acute postoperative pain that can hinder mobility, prolong hospitalization, and reduce the patient's quality of life. Pain management requires not only pharmacological interventions but also safe and easy-to-implement non-pharmacological interventions, one of which is the finger-grip relaxation technique. Purpose: To determine the effectiveness of the finger-grip relaxation technique in reducing acute pain intensity in patients after cellulitis debridement. Method: This study used a descriptive design with a nursing process-based case study approach. The subject was one patient with a medical diagnosis of post-debridement cellulitis pedis right who was treated in the At-Tin Ward of PKU Muhammadiyah Gamping Hospital. Nursing care was provided for five days (December 10–14, 2025), encompassing assessment, diagnosis, planning, implementation, and evaluation. Results: The evaluation showed a gradual decrease in pain intensity. The patient's pain scale decreased from a 5 on the first day to a 2 on the fifth day after consistent application of the finger-grip relaxation technique. Conclusion: The finger grip relaxation technique is effective as a non-pharmacological nursing intervention in reducing acute pain in post-cellulitis debridement patients.   Keywords: Acute Pain; Cellulitis; Finger Grip Relaxation; Nursing Care; Post-Debridement.   Pendahuluan: Selulitis merupakan infeksi kulit serius yang sering memerlukan tindakan debridement. Prosedur ini menimbulkan nyeri akut pasca operasi yang dapat menghambat mobilisasi, memperpanjang masa rawat, dan menurunkan kualitas hidup pasien. Pengelolaan nyeri tidak hanya dilakukan secara farmakologis, tetapi juga memerlukan intervensi non-farmakologis yang aman dan mudah diterapkan, salah satunya adalah teknik relaksasi genggam jari. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas penerapan teknik relaksasi genggam jari dalam menurunkan intensitas nyeri akut pada pasien post debridement selulitis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus berbasis proses keperawatan. Subjek penelitian adalah satu pasien dengan diagnosa medis post debridement selulitis pedis dextra yang dirawat di Bangsal At-Tin RS PKU Muhammadiyah Gamping. Asuhan keperawatan dilakukan selama lima hari (10–14 Desember 2025) meliputi tahap pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Hasil: Evaluasi menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri secara bertahap. Skala nyeri pasien menurun dari skala 5 pada hari pertama menjadi skala 2 pada hari kelima setelah penerapan teknik relaksasi genggam jari secara konsisten. Simpulan: Teknik relaksasi genggam jari efektif sebagai intervensi keperawatan non-farmakologis dalam menurunkan nyeri akut pada pasien post debridement selulitis.   Kata Kunci: Asuhan Keperawatan; Nyeri Akut; Post Debridement; Relaksasi Genggam Jari; Selulitis.
Penerapan range of motion terhadap gangguan mobilitas fisik dengan systemic lupus erythematosus Dewi, Salma Setya; Diahsari, Armenia; Prasetyorini, Dwi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2331

Abstract

Background: Systemic lupus erythematosus (SLE) is a chronic, multisystem autoimmune inflammatory disease caused by the deposition of autoantibodies and immunological complexes. This condition is more common in reproductive women and has various clinical manifestations and prognoses. Purpose: To analyze the results of ROM tests in patients with systemic lupus erythematosus. Method: This study consisted of nursing assessment, diagnosis, intervention, implementation, and evaluation. Nursing care was provided in the West Aster Ward of Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta, in July 2025. The study sample consisted of clients with systemic lupus erythematosus. Data collection techniques included interviews, observation, literature review, and physical examination. Results: Most respondents indicated moderate online game addiction (41.7%), experienced emotional disturbances (79.8%), and experienced very severe stress (20.0%). The Kendall Tau test showed a significant relationship between online game addiction and emotional disturbances (p=0.034; r=0.190) with weak strength and a positive direction. Furthermore, there was a significant relationship between online gaming addiction and stress levels (p=0.000; r=0.371), with moderate strength and a positive direction. Conclusion: Range of motion is expected to have an impact on Systemic Lupus Erythematosus patients who experience impaired physical mobility.   Keywords: Range Of Motion; Systemic Lupus Erythematosus.   Pendahuluan: Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) adalah penyakit inflamasi autoimun multisistem kronis yang disebabkan oleh endapan autoantibodi dan kompleks imunologis. Kondisi ini lebih umum terjadi pada wanita yang produktif dan memiliki berbagai manifestasi klinis dan prognosis. Tujuan: Untuk menganalisis hasil tes ROM dengan lupus eritematosus sistemik. Metode: Penelitian ini terdiri dari pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan. Lokasi pemberian asuhan keperawatan dilakukan di Ruang Aster Barat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada bulan juli 2025. Sampel penelitian yaitu klien dengan Systemic Lupus Erythematosus. Teknik pengumpulan data terdiri dari wawancara, observasi, studi pustaka, dan pemeriksaan fisik. Hasil: Sebagian besar responden menunjukkan kecanduan game online pada kategori sedang (41.7%), mengalami gangguan emosional (79.8%), dan mengalami stres sangat berat (20.0%). Hasil uji Kendall Tau memperlihatkan adanya hubungan bermakna antara kecanduan game online dengan gangguan emosi (p=0.034; r=0.190) dengan kekuatan lemah dan arah positif. Selain itu, terdapat hubungan bermakna antara kecanduan game online dengan tingkat stres (p=0.000; r=0.371) dengan kekuatan sedang dan arah positif. Simpulan: Range of motion ini diharapkan dapat berpengaruh pada pasien Lupus Eritematosus Sistemik yang mengalami gangguan mobilitas fisik.                 Kata Kunci: Range Of Motion; Systemic Lupus Erythematosus.
Efektivitas edukasi dash berbasis audiovisual terhadap sikap dan pengetahuan pada lansia dalam mengontrol hipertensi Permatasari, Cindi; Inayati, Aini; Sriyati, Sriyati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2333

Abstract

Background: Hypertension, or high blood pressure, is often referred to as "the silent killer" because it often occurs without symptoms. The non-pharmacological therapy approach, the Dietary Approach to Stop Hypertension (DASH), is highly effective in reducing hypertension. Purpose: To determine the effectiveness of audiovisual-based DASH education on knowledge and attitudes about blood pressure control in elderly hypertensive patients. Method: This study used a quasi-experimental design with a pretest-posttest nonequivalent control group design. The subjects were hypertensive patients at the Baciro Village Elderly Health Post (Posyandu Lansia) and the Ngudi Waluyo Elderly Health Post (Posyandu Lansia) in the intervention group, with a total of 47 elderly hypertensive patients. Data were analyzed using independent sample t-tests and Wilcoxon tests. Results: The DASH diet education for hypertension patients achieved a p-value of 0.001 in the intervention group. A one-week follow-up showed an increase in knowledge scores of 43 participants (91.5%) and attitudes toward the DASH diet in 43 participants (89.4%) with a p-value <0.05. Conclusion: DASH diet education using audiovisual media is effective in changing the knowledge and attitudes of people with hypertension.   Keywords: Knowledge; Attitude; Audiovisual Video; Blood Pressure.   Pendahuluan: Hipertensi atau tekanan darah tinggi, sering disebut sebagai “the silent killer” karena sering terjadi tanpa keluhan. Pendekatan Terapi non farmakologis yaitu Diet Dietary Approach to Stop Hypertension (DASH) sangat efektif dalam menurunkan hipertensi Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas edukasi DASH berbasis audiovisual terhadap pengetahuan dan sikap dalam mengontrol tekanan darah pada lansia hipertensi Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental design dengan rancangan pretest-posttest nonequivalent control group design. Subjek penelitian adalah penderita hipertensi di Posyandu Lansia Kelurahan Baciro dan Posyandu Lansia Ngudi Waluyo terdiri atas kelompok intervensi dengan total 47 lansia hipertensi. Analisis data menggunakan uji independent sample t-test dan wilcoxon test. Hasil: Edukasi diet DASH pada penderita hipertensi memperoleh p-value = 0.001di kelompok intervensi. Kemudian follow-up setelah 1 minggu pasca intervensi, terdapat pula peningkatan skor pengetahuan 43 partisipan (91.5%) dan sikap 43 partisipan (89.4%) terhadap diet DASH dengan p-value<0.05. Simpulan: Edukasi diet DASH menggunakan media audiovisual efektif terhadap perubahan pengetahuan dan sikap penderita hipertensi.   Kata Kunci: Pengetahuan. Sikap. Video Audiovisual; Tekanan Darah.
Quality of nursing work life dengan kejadian burnout perawat di instalasi rawat intensif Praditha, Mersya Rikhsan; Masitoh, Rohayati; Kurniasih, Yuni
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2334

Abstract

Background: Nurses are healthcare workers who provide direct care and play a significant role in the quality of hospital services. High work demands, especially for nurses in intensive care units (ICU, HCU, NICU, and PICU), make them more susceptible to work stress and burnout. One important factor influencing burnout is the quality of nursing work life (QNWL), which encompasses work-home balance, work design, work context, and the work environment. Purpose: To determine the relationship between quality of nursing work life and nurse burnout. Method: This study used a quantitative descriptive correlation design and a cross-sectional approach. The population was nurses in the Intensive Care Unit of Panembahan Senopati Bantul Regional Hospital. A total sampling technique was used to select 47 nurses. Data were collected using a quality of nursing work life and burnout questionnaire. Analysis used the Spearman rank test. Results: The correlation coefficient was 0.105 (very weak) with a significance level of 0.481 >0.05 for the quality of nursing work life and burnout variables. Conclusion: Quality of nursing work life does not affect nurse burnout.   Keywords: Burnout; Nurse; Quality Of Nursing Work Life.   Pendahuluan: Perawat merupakan tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan langsung dan berperan besar dalam kualitas layanan rumah sakit. Tuntutan kerja yang tinggi, terutama pada perawat ruang intensif seperti ICU, HCU, NICU, dan PICU, membuat mereka lebih rentan mengalami stres kerja dan burnout. Salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap burnout adalah quality of nursing work life (QNWL) yang mencakup keseimbangan kerja dan rumah, desain kerja, konteks kerja, dan lingkungan dunia kerja. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan quality of nursing work life dengan kejadian burnout perawat. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi dan pendekatan waktu yang digunakan adalah cross-sectional. Populasi penelitian ini merupakan perawat di Instalasi Rawat Intensif RSUD Panembahan Senopati Bantul, sampel diambil dengan Teknik Total Sampling sebanyak 47 perawat. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner quality of nursing work life dan burnout. Uji analisis menggunakan spearman rank test Hasil: Nilai koefisien korelasi 0.105 (sangat lemah) dengan signifikansi sebesar 0.481 >0.05 pada variabel quality of nursing work life dan burnout. Simpulan: Quality of nursing work life tidak mempengaruhi burnout perawat.   Kata Kunci: Burnout; Perawat; Quality Of Nursing Work Life.