cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 306 Documents
Hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien rawat inap Suryanto, Syafauzi; Rokhmah, Noor Ariyani; Kurniasih, Yuni
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2340

Abstract

  Background:  Therapeutic communication is communication carried out during nursing care or service delivery in a hospital setting. In this context, therapeutic communication plays a crucial role in fostering the therapeutic relationship between nurses and clients, thereby enabling clients to feel satisfied with the services provided by nurses. Patient satisfaction is a crucial indicator for improving hospital services. Purpose: The purpose of this study was to determine the relationship between nurses’ therapeutic communication and inpatient satisfaction. Results: This study employed a quantitative research design using an analytic correlation method with a cross-sectional approach. The sampling technique employed was random sampling, involving a total of 85 respondents from the inpatient wards. Data analysis was performed using the Spearman Rank test. The results showed a significant relationship between nurses’ therapeutic communication and inpatient satisfaction at Yogyakarta Hospital, with a p-value of 0.000, which is smaller than the significance level (α = 0.05), and a correlation coefficient of 0.520, indicating a strong and positive relationship. Conclusion: There is a relationship between nurses’ therapeutic communication and inpatient satisfaction at Yogyakarta Hospital.   Keywords: Inpatient Car; Nurses’ Therapeutic Communication; Patient Satisfaction.   Pendahuluan: Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan selama pemberian perawatan atau pelayanan di lingkungan rumah sakit. Berdasarkan hal ini, komunikasi terapeutik memainkan peran penting dalam membangun hubungan terapeutik antara perawat dan pasien, sehingga memungkinkan pasien merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh perawat. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien rawat inap. Metode: Penelitian ini  menggunakan desain penelitian kuantitatif  dengan metode deskriptif korelasi analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling dan sampel pada penelitian ini sebanyak 85 responden di ruang rawat inap Rumah Sakit Yogyakarta. Teknik analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien rawat inap, p-value = 0.000 yang lebih kecil dari batas signifikansi (α = 0.05) dengan tingkat signifikan 0,520 mengindikasikan bahwa kekuatan hubungan berada pada kategori kuat dan memiliki arah positif. Simpulan: Terdapat hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien rawat inap di Rumah Sakit Yogyakarta.   Kata Kunci : Kepuasan Pasien; Komunikasi Terapeutik Perawat; Rawat Inap.
Laporan kasus pasien nyeri akut pada apendisitis akut Nafi'ah, Aisha; Kurniasih, Yuni; Puspitawati, Dian Maulina
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2351

Abstract

Background: Acute appendicitis is an inflammation of the appendix, which is caused by various things such as obstruction of the lumen due to fecalith, lymphoid tissue hyperplasia, foreign objects and other factors due to secondary infections caused by intestinal bacteria due to lumen stasis, low fiber diet, chronic constipation. Purpose: To determine the nursing care provided to Mrs. R with Appendicitis. Results: : After being given early mobilization training, the patient's deep breathing relaxation experienced significant changes. Method: This study used an observational study method with a nursing care approach design consisting of assessment, diagnosis, nursing planning, implementation, and evaluation. The instruments used in this study were collaboration with medical personnel and independent nursing care. Conclusion: The nursing care applied for three days was proven to help relieve complaints in Mrs. R and made pain, pain frequency, patient pain scale decrease, and patient vital signs showed improvement. Keywords: Acute Appendicitis; Acute Pain; Early Mobilization; Deep Breathing Relaxation; Pain Management. Pendahuluan: Appendicitis akut merupakan inflamasi pada umbai cacing, disebabkan berbagai hal seperti obstruksi lumen akibat fekalit, hyperplasia jaringan limfoid, benda asing dan faktor lainnya karena infeksi sekunder disebabkan bakteri usus akibat stasis lumen, diet rendah serat, konstipasi kronis. Tujuan: Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang diberikan pada Nona. R dengan Apendisitis. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi observasional dengan desain pendekatan asuhan keperawatan dari pengkajian, penegakan diagnosa, perencanaan keperawatan, pelaksanaan, dan evaluasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berkolaborasi dengan tenaga medis dan asuhan keperawatan mandiri. Hasil: Setelah diberikan Latihan mobilisasi dini, relaksasi nafas dalam pasien mengalami perubahan yang signifikan. Simpulan: Asuhan keperawatan yang diterapkan selama tiga hari terbukti membantu meringankan keluhan pada Nona. R dan membuat nyeri, frekuensi nyeri, skala nyeri pasien menurun, dan tanda-tanda vital pasien menunjukkan perbaikan. Kata Kunci : Appendicitis Akut (APP), Manajemen Nyeri, Nyeri Akut, Mobilisasi Dini, Relaksasi Nafas Dalam            
Studi kasus pada pasien kanker payudara untuk perbaikan dan pengelolaan kecemasan melalui edukasi terapi relaksasi benson Emeliawati, Emeliawati; Inayati , Aini
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2352

Abstract

Background: Breast cancer is the most common cancer among women and a serious health problem in Indonesia. Chemotherapy, as the primary treatment, can cause physical and psychological side effects, including anxiety due to decreased physical condition and uncertainty about recovery. Purpose: To determine the effectiveness of spiritual-based Benson relaxation therapy education as an anxiety management strategy in breast cancer patients undergoing chemotherapy. Method: This study used a descriptive case study design with a nursing care approach for patients diagnosed with breast cancer. Results: After 3x24 hours of nursing interventions, the patient's knowledge level increased, with the following outcome criteria: behavior as recommended (increased), ability to explain knowledge about a topic (increased), behavior in accordance with knowledge (increased), and misperceptions about the problem (increased). Conclusion: Benson relaxation therapy education is effective as an anxiety management strategy in breast cancer patients undergoing chemotherapy.   Keywords: Anxiety; Benson Relaxation Therapy; Breast Cancer; Education.   Pendahuluan: Kanker payudara adalah kanker yang paling banyak dialami perempuan dan menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Kemoterapi sebagai terapi utama dapat menimbulkan efek samping fisik dan psikologis, salah satunya kecemasan akibat kondisi tubuh yang menurun dan ketidakpastian kesembuhan. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas edukasi terapi relaksasi benson berbasis spiritual sebagai strategi manajemen kecemasan pada pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif berbasis studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada pasien yang didiagnosa kanker payudara. Hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam tingkat pengetahuan pasien meningkat dengan kriteria hasil perilaku sesuai anjuran (meningkat), kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat, persepsi yang keliru terhadap masalah meningkat. Simpulan: Edukasi terapi relaksasi benson efektif sebagai strategi manajemen kecemasan pada pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi.   Kata Kunci: Edukasi; Kanker Payudara; Kecemasan; Terapi Relaksasi Benson.
Analisis implementasi sistem informasi manajemen rumah sakit pada unit rekam medis Pratiwi, Era
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2375

Abstract

Background: The Hospital Management Information System (SIMRS) is a crucial tool for improving service quality, operational efficiency, and data recording accuracy in hospitals, including in the medical records unit. Syekh Yusuf Regional General Hospital, Gowa, has implemented SIMRS since 2018, but is still in the transition phase from a manual to a digital (hybrid) system. This situation requires an evaluation of the system's implementation to ensure its effectiveness and sustainability. Purpose: To analyze the implementation of SIMRS in the medical records unit based on human, organizational, and technological aspects (the HOT-Fit model). Method: This study used a qualitative phenomenological approach with four informants (the head of medical records, two medical records officers, and one IT officer). Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, then analyzed through the stages of reduction, presentation, and conclusion drawing. Results: SIMRS implementation went quite well. The human resource aspect showed that most staff understood how to use the system, although technical guidance was still needed. The organizational aspect demonstrated management support in the form of regular training and supervision. Furthermore, the technological aspect assessed the system as adequate but was hampered by internet network and device specifications. Conclusion: SIMRS implementation has shown positive progress, but optimization is still needed through infrastructure improvements, user competency, and ongoing managerial support.   Keywords: Hospital Information System; Implementation; Medical Records; SIMRS.   Pendahuluan: Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan alat penting dalam meningkatkan mutu pelayanan, efisiensi operasional, dan akurasi pencatatan data di rumah sakit, termasuk pada unit kerja rekam medis. RSUD Syekh Yusuf Gowa telah menerapkan SIMRS sejak 2018, namun masih berada pada tahap transisi dari sistem manual ke digital (hybrid). Kondisi ini menuntut adanya evaluasi terhadap implementasi sistem untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutannya. Tujuan: Menganalisis implementasi SIMRS pada unit kerja rekam medis berdasarkan aspek manusia, organisasi, dan teknologi (model HOT-Fit). Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan empat informan (kepala rekam medis, dua petugas rekam medis, dan satu petugas IT). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil: Implementasi SIMRS berjalan cukup baik. Aspek manusia menunjukkan sebagian besar petugas memahami penggunaan sistem meskipun masih memerlukan bimbingan teknis. Aspek organisasi menunjukkan dukungan manajemen berupa pelatihan dan supervisi rutin. Selanjutnya aspek teknologi, sistem dinilai memadai namun terkendala jaringan internet dan spesifikasi perangkat. Simpulan: Implementasi SIMRS menunjukkan perkembangan positif, namun optimalisasi masih dibutuhkan melalui peningkatan infrastruktur, kompetensi pengguna, dan dukungan manajerial berkelanjutan.   Kata Kunci: HOT-Fit; Implementasi; Rekam Medis; SIMRS.
Hubungan supervisi kepala ruang dengan implementasi sasaran keselamatan pasien di ruang rawat inap Salsabila, Aninda Putri; Kurniasih, Yuni; Rokhmah, Noor Ariyani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2453

Abstract

Background: Patient safety has been a major concern in the healthcare world for the past two decades. Patient falls in Indonesia are reported as one of the three most common hospital incidents. The Special Region of Yogyakarta ranks third in the country for the number of incidents. If this situation is not addressed, the number of patient safety incidents will increase, service quality will decline, and public trust in hospitals will decline. Purpose: To determine the relationship between ward head supervision and the implementation of patient safety goals in inpatient wards. Method: This study used a quantitative cross-sectional design with a correlational approach. A sample of 60 nurses was selected through purposive sampling. Data were collected using a questionnaire regarding ward head supervision and the implementation of patient safety goals. The relationship was analyzed using Kendall's tau correlation test. Results: The majority of respondents (51.7%) reported adequate supervision of ward heads, and 48.3% reported good supervision of ward heads. Implementation of patient safety goals was categorized as good (100%). There is a significant relationship between ward head supervision and the implementation of patient safety goals (p-value = 0.001 <0.05) with a correlation coefficient of 0.320, indicating a positive relationship with low-moderate strength. Conclusion: There is a significant relationship between ward head supervision and the implementation of patient safety goals in inpatient wards.   Keywords: Head Nurse Supervision; Nurses; Patient Safety.   Pendahuluan: Keselamatan pasien telah menjadi perhatian utama di dunia kesehatan selama dua dekade terakhir. kejadian pasien jatuh di Indonesia dilaporkan sebagai salah satu dari tiga insiden terbesar yang terjadi di rumah sakit. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menempati urutan ketiga dalam jumlah kasus insiden di seluruh Indonesia. Apabila kondisi ini tidak ditangani, maka angka terjadinya insiden keselamatan pasien semakin tinggi, menurunnya mutu pelayanan, dan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara supervisi kepala ruang dengan implementasi sasaran keselamatan pasien di ruang rawat inap. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional dengan pendekatan korelasional. Sampel berjumlah 60 perawat yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner supervisi kepala ruang dan implementasi sasaran keselamatan pasien. Analisis hubungan menggunakan uji korelasi kendall’s tau. Hasil: Mayoritas supervisi kepala ruang cukup sebanyak (51.7%) responden dan supervisi kepala ruang baik sebanyak (48.3%) responden. Implementasi sasaran keselamatan pasien dalam kategori baik (100%). Terdapat hubungan signifikan antara supervisi kepala ruang dengan implementasi sasaran keselamatan pasien (p-value = 0.001<0.05) dengan koefisien korelasi 0.320 yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan rendah-sedang. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara supervisi kepala ruang dengan implementasi sasaran keselamatan pasien di ruang rawat inap.   Kata Kunci: Keselamatan Pasien; Perawat; Supervisi Kepala Ruang.
Pengaruh media video animasi berbasis islami terhadap pengetahuan dan sikap remaja tentang pencegahan perilaku seks bebas Itsnayanti, Shofi Andini; Astuti, Indra Tri; Khasanah, Nopi Nur
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2456

Abstract

Background: Adolescence is a developmental transition period into adulthood, encompassing cognitive and emotional aspects. This underlies the development of promiscuous sexual behavior. The prevalence of sexually active adolescents aged 14–15 years has reached 20%. Purpose: To determine the influence of Islamic-based animated video media on preventing promiscuous sexual behavior on adolescents' knowledge and attitudes. Method: This quantitative study used a quasi-experimental approach with pre-test and post-test designs. The sample size was 30 respondents. Bivariate analysis of paired data on knowledge and attitudes used the Wilcoxon signed-rank test. Unpaired data on knowledge used the Mann-Whitney test, and unpaired data on attitudes used the Chi-square test. Results: The Mann-Whitney test in the intervention group and the control group obtained p = 0.447>0.05, meaning there is no significant difference between the results of the intervention group and the control group for knowledge. The Chi-square test for attitudes in the intervention group and the control group obtained p = 0.089>0.05, meaning there is no significant difference in the results between the intervention group and the control group for attitudes. Conclusion: There is no influence of Islamic-based animated video media on preventing promiscuous sexual behavior on adolescents' knowledge and attitudes.   Keywords: Adolescent; Animation Videos; Free Sex Education.   Pendahuluan: Masa remaja merupakan transisi masa perkembangan menjadi dewasa, meliputi aspek kognitif dan emosional. Hal ini mendasari terjadinya perilaku seks bebas. Prevalensi remaja yang sudah melakukan seks bebas usia 14-15 tahun mencapai 20%. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh media video animasi berbasis Islami tentang pencegahan perilaku seks bebas terhadap pengetahuan dan sikap remaja. Metode: Jenis penelitian kuantitatif menggunakan quasi-experimental dengan pendekatan pre-test designs dan post-test designs. Jumlah sampel penelitian ini adalah 30 responden. Analisis bivariat data berpasangan pengetahuan dan sikap menggunakan uji Wilcoxon signed rank test. Data tidak berpasangan pengetahuan menggunakan uji Mann Whitney dan data tidak berpasangan sikap menggunakan uji Chi Square. Hasil: Uji Mann-whitney pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol didapatkan hasil p = 0.447>0.05 artinya tidak terdapat perbedaan bermakna antara hasil dari kelompok intervensi dengan kelompok kontrol untuk pengetahuan. Sedangkan Uji Chi-square untuk sikap pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol didapatkan hasil p = 0.089>0.05 artinya tidak terdapat perbedaan bermakna hasil antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol untuk sikap. Simpulan: Tidak ada pengaruh media video animasi berbasis Islami tentang pencegahan perilaku seks bebas terhadap pengetahuan dan sikap remaja.   Kata Kunci: Edukasi Seks Bebas; Remaja; Video Animasi.
Kepatuhan komunikasi SBAR dalam pelaksanaan transfer pasien ruang rawat inap ke ruang intensif oleh PPJA di ruang rinjani: Studi kasus Wanda, Ira Purba; Asmaningrum, Nurfika; Faradisa, Elok; Suparman, Maman
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2461

Abstract

Background: Communication failure during critical patient transfer is a leading cause of patient safety incidents globally. Despite available standards, implementation gaps frequently occur due to high workloads and dynamic clinical situations. Purpose: To analyze the compliance level of SBAR communication during patient transfer from inpatient wards to the intensive care unit. Method: This research is a case study with a descriptive observational design conducted in November 2025. The population included Primary Nurses (PPJA) in the Rinjani Ward. A sample of 14 respondents was selected via accidental sampling. Data were collected through direct observation using a checklist adopted from the hospital's Standard Operating Procedures (SPO). Results: The overall compliance level of SBAR communication was high, averaging 92%, supported by the dominance of nurses with over 5 years of experience and Ners education background. However, a critical gap was found in the read-back verification element (TBAK), which only reached 60%. Conclusion: While a safety culture is established, the closed-loop communication cycle remains incomplete, particularly in the verification aspect.   Keyword: Adherence; SBAR communication; Transfer Patient.   Pendahuluan: Kegagalan komunikasi selama transfer pasien kritis merupakan penyebab utama insiden keselamatan pasien secara global. Meskipun standar baku tersedia, kesenjangan implementasi komunikasi sering terjadi akibat beban kerja tinggi, dan situasi klinis yang dinamis. Tujuan: Untuk menganalisis tingkat kepatuhan komunikasi SBAR dalam pelaksanaan transfer pasien dari ruang rawat inap ke ruang intensif. Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus dengan pendekatan deskriptif observasional. Populasi penelitian adalah Perawat Penanggung Jawab Asuhan (PPJA) di Ruang Rinjani dengan sampel sebanyak 14 responden yang diambil menggunakan teknik accidental sampling pada bulan November 2025. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung menggunakan lembar checklist sesuai SPO rumah sakit. Hasil: Kepatuhan komunikasi SBAR secara umum tergolong tinggi dengan rata-rata 92%, didukung oleh dominasi perawat dengan masa kerja <5 tahun dan latar belakang pendidikan Ners. Namun, ditemukan kesenjangan kritis pada elemen verifikasi ulang (read-back) yang hanya mencapai 60%. Simpulan: Meskipun budaya keselamatan telah terbentuk, siklus komunikasi tertutup (closed-loop) belum sempurna akibat faktor situasional.   Kata kunci: Kepatuhan; Komunikasi SBAR; Transfer Pasien.
Edukasi meningkatkan pengetahuan orang tua dalam pertolongan pertama pada kejang demam Marzuna, Marzuna; Setiawati, Setiawati; Nirwanto, Nirwanto; Rilyani, Rilyani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2467

Abstract

Backgroud: Febrile seizures are a common condition in children, especially those aged 6-5 years. Although febrile seizures are generally harmless, parental knowledge of proper first aid is crucial to reduce anxiety and ensure appropriate action when a child experiences a febrile seizure. Education regarding first aid for children with febrile seizures can improve parental knowledge and assist them in providing appropriate care. Purpose: To determine the effect of education regarding first aid for children with febrile seizures on parental knowledge. Method: This study used a quantitative approach using a pre-experimental one-group pre-test and post-test design. The study was conducted by administering pre-test and post-test educational questionnaires to parents of children with febrile seizures in the Panjang Community Health Center (Puskesmas) work area. The data obtained were analyzed using a paired t-test to determine differences in knowledge before and after education. Results: The statistical analysis showed a significant difference in parental knowledge before and after education, with a p-value <0.05. Conclusion: There is an influence of providing education on the level of parental knowledge. Keywords: Education; Febrile Seizures; First Aid; Parental Knowledge. Pendahuluan: Kejang demam adalah kondisi yang sering terjadi pada anak-anak, terutama pada usia 6-5 tahun. Meskipun umumnya kejang demam tidak berbahaya, pengetahuan orang tua mengenai pertolongan pertama yang tepat sangat penting untuk mengurangi kecemasan, dan memastikan tindakan yang tepat saat anak mengalami kejang demam. Edukasi mengenai pertolongan pertama pada anak kejang demam dapat meningkatkan pengetahuan orang tua dan membantu mereka dalam memberikan pertolongan yang tepat. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh edukasi mengenai pertolongan pertama pada anak kejang demam terhadap pengetahuan orang tua. Metode: Jenis penelitian dengan pendekatan kuantitatif menggunakan desain pre-experimental one group pre-test and post-test design. Penelitian dilakukan dengan memberikan kuesioner pre-test dan post-test edukasi kepada orang tua yang memiliki anak yang mengalami kejang demam di wilayah kerja puskesmas panjang. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t berpasangan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan sebelum dan setelah edukasi. Hasil: Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai pengetahuan orang tua sebelum dan sesudah diberikan edukasi dengan p-value <0.05. Simpulan: Ada pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan orang tua. Kata Kunci: Edukasi; Kejang Demam; Pengetahuan Orang Tua; Pertolongan Pertama.      
Efektifitas manajemen asuhan kebidanan pada pasien hipertensi dengan indikasi stroke Muthia, Jihan; Fadillah, Siti; Gulo, Ester Winner Sucipta; Damanik, Gihonachei Monicha; Rezeki , Sri; Arizal, Desy
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2469

Abstract

Background: Hypertension is a global health problem that significantly contributes to the increasing morbidity and mortality from cardiovascular disease, particularly stroke. Midwifery care management plays a crucial role in providing a holistic approach through clinical monitoring, health education, and psychological support to prevent the patient's condition from worsening. Purpose: To evaluate the implementation of midwifery care management in hypertensive patients with stroke indications. Method: The study used a case study design with a qualitative descriptive approach. The subject was a hypertensive patient admitted to the Stroke Care Unit (SCU) of Medan Haji General Hospital in November 2025. The care process was implemented based on Varney's seven steps, including assessment, diagnosis, planning, implementation, and evaluation. Results: The assessment revealed the patient had stage 2 hypertension with complaints of headache and neck stiffness. After midwifery care management, which included vital sign monitoring, collaborative antihypertensive therapy, low-salt diet education, rest position adjustment, and psychological support, the patient's blood pressure gradually decreased to a stable level of 120/80 mmHg, and the headache disappeared. Conclusion: Structured and holistic midwifery care management is effective in stabilizing blood pressure and preventing further complications in hypertensive patients with stroke indications.   Keywords: Hypertension; Midwifery Care; Stroke Care Unit.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang berkontribusi besar terhadap meningkatnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit kardiovaskular, khususnya stroke. Manajemen asuhan kebidanan berperan penting dalam memberikan pendekatan holistik melalui pemantauan klinis, edukasi kesehatan, serta dukungan psikologis untuk mencegah perburukan kondisi pasien. Tujuan: Untuk mengevaluasi penerapan manajemen asuhan kebidanan pada pasien hipertensi dengan indikasi stroke. Metode: Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah satu pasien hipertensi yang dirawat di ruang Stroke Care Unit (SCU) RSU Haji Medan Tahun 2025 pada bulan November 2025. Proses asuhan dilaksanakan berdasarkan tujuh langkah Varney yang meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Hasil: Proses pengkajian menunjukkan pasien mengalami hipertensi tahap 2 disertai keluhan nyeri kepala dan kaku tengkuk. Setelah dilakukan manajemen asuhan kebidanan yang meliputi pemantauan tanda vital, kolaborasi terapi antihipertensi, edukasi diet rendah garam, pengaturan posisi istirahat, serta dukungan psikologis, tekanan darah pasien menurun secara bertahap hingga stabil pada 120/80 mmHg dan keluhan nyeri kepala menghilang. Simpulan: Manajemen asuhan kebidanan yang terstruktur dan holistik efektif dalam menstabilkan tekanan darah serta mencegah komplikasi lanjutan pada pasien hipertensi dengan indikasi stroke.   Kata Kunci: Asuhan Kebidanan; Hipertensi; Stroke Care Unit.
Perbandingan iskemik dan hemoragik terhadap prognosis dan pemulihan pasca stroke: Literatur review Bakri, Zarah Asvirah; Kaelan, Cahyono; Muchsin, Achmad Harun
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2484

Abstract

Background: According to the World Health Organization (WHO), stroke is a disturbance in brain function with clinical signs that last more than 24 hours or can lead to death. Stroke is divided into ischemic and hemorrhagic strokes, which have different pathophysiological mechanisms, prognoses, and functional outcomes. Rehabilitation interventions, particularly physical therapy, are the primary approach to improving motor function recovery after stroke. Purpose: To determine the differences in prognosis and recovery between ischemic and hemorrhagic strokes. Method: This study is a systematic literature review that discusses prognosis and recovery after stroke by comparing ischemic and hemorrhagic strokes. Twenty journals were analyzed and synthesized. Results: Prognosis and recovery after stroke are influenced by stroke type, initial severity, and the quality and intensity of rehabilitation. Ischemic strokes generally have a better prognosis than hemorrhagic strokes, which tend to have higher mortality and disability rates. However, intensive rehabilitation interventions, including specific therapies such as mirror therapy, can result in significant functional recovery in both types of stroke. Conclusion: An individualized and comprehensive rehabilitation approach is essential to maximize functional outcomes. Early prognostic predictions should be used cautiously, and intervention strategies targeting cerebral edema and blood-brain barrier dysfunction have the potential to support long-term outcomes. Keywords: Hemorrhagic; Ischemic; Post-Stroke; Prognosis; Recovery. Pendahuluan: Stroke menurut World Health Organization (WHO) merupakan gangguan fungsi otak dengan tanda klinis yang berlangsung lebih dari 24 jam atau dapat menyebabkan kematian. Stroke dibedakan menjadi stroke iskemik dan hemoragik yang memiliki mekanisme patofisiologi, prognosis, serta luaran fungsional yang berbeda. Intervensi rehabilitasi, terutama terapi fisik, menjadi pendekatan utama untuk meningkatkan pemulihan fungsi motorik pasca-stroke. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan prognosis dan pemulihan stroke iskemik dan hemoragik pasca-stroke. Metode: Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan systematic literature review yang membahas prognosis dan pemulihan pasca-stroke melalui perbandingan stroke iskemik dan hemoragik. Sebanyak 20 jurnal dianalisis dan disintesis. Hasil: Prognosis dan pemulihan pasca-stroke dipengaruhi oleh tipe stroke, tingkat keparahan awal, serta kualitas dan intensitas rehabilitasi. Stroke iskemik umumnya memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan stroke hemoragik yang cenderung menunjukkan angka mortalitas dan disabilitas lebih tinggi. Namun, intervensi rehabilitasi yang intensif termasuk terapi spesifik seperti mirror therapy dapat menghasilkan pemulihan fungsional yang bermakna pada kedua tipe stroke. Simpulan: Pendekatan rehabilitasi yang individual dan komprehensif sangat penting untuk memaksimalkan luaran fungsional. Prediksi prognosis awal perlu digunakan secara hati-hati, dan strategi intervensi yang menargetkan edema serebral serta disfungsi blood–brain barrier berpotensi mendukung outcome jangka panjang. Kata Kunci: Hemoragik; Iskemik; Pasca-Stroke; Pemulihan; Prognosis.