cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 249 Documents
Faktor risiko kebersihan makanan dan sanitasi rumah tangga terhadap kejadian demam tifoid Rajagukguk, Nanda Frisila; Sutarto, Sutarto; Wardani, Nanda Fitri; Windarti, Indri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2160

Abstract

Background: Food hygiene and household sanitation practices have a significant impact on the spread of typhoid fever, which remains a major public health problem in low- and middle-income countries. Evidence from four studies examining risk factors for typhoid fever related to food and household sanitation is summarized in this synthesis. Purpose: To examine the impact of household sanitation conditions and food hygiene practices on the prevalence of typhoid fever, offering evidence that can guide community initiatives and policy improvements. Method: A systematic review was conducted to examine the results of cross-sectional, cohort, and case-control studies. Key factors for typhoid transmission were identified by extracting reported associations, such as odds ratios (ORs), adjusted odds ratios (aORs), and risk ratios (RRs). Results: Several studies have shown that consuming raw, unwashed vegetables, food from street vendors, and street food are all strongly associated with an increased risk of contracting typhoid. This increased risk is also associated with access to hazardous drinking water, poor sanitation facilities, and household water treatment has been found to have a protective effect. Conclusion: Consistent evidence from several study designs suggests that food hygiene, water safety, and household sanitation play a significant role in the spread of typhoid fever. Keywords: Typhoid Fever; Risk Factors; Food Hygiene; Household Sanitation. Pendahuluan: Praktik higiene makanan dan sanitasi rumah memiliki dampak besar terhadap penyebaran demam tifoid yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Bukti dari empat penelitian yang mengkaji faktor risiko demam tifoid terkait makanan dan sanitasi rumah tangga dirangkum dalam sintesis ini. Tujuan: Untuk mengkaji dampak kondisi sanitasi rumah tangga dan praktik higiene makanan terhadap prevalensi demam tifoid dengan menawarkan bukti yang dapat memandu inisiatif masyarakat dan peningkatan kebijakan. Metode: Penelitian dengan pendekatan systematic review dilakukan untuk mengkaji hasil dari studi potong lintang, kohort, dan kasus-kontrol. Faktor-faktor kunci penularan tifoid diidentifikasi dengan mengekstraksi asosiasi yang dilaporkan, seperti rasio peluang (OR), rasio peluang yang disesuaikan (aOR), dan rasio risiko (RR). Hasil: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi sayuran mentah yang tidak dicuci, makanan dari pedagang kaki lima, dan makanan jajanan semuanya sangat terkait dengan peningkatan risiko tertular tifoid. Peningkatan risiko juga dikaitkan dengan akses air minum yang berbahaya, fasilitas sanitasi yang buruk serta pengolahan air rumah tangga ditemukan memiliki efek perlindungan. Simpulan: Terdapat bukti konsisten dari beberapa desain studi yang menunjukkan bahwa higiene makanan, keamanan air, dan sanitasi rumah tangga berperan penting dalam penyebaran demam tifoid. Kata Kunci: Demam Tifoid; Faktor Resiko; Kebersihan Makanan; Sanitasi Rumah Tangga.      
Pengukuran kebugaran jasmani yang mudah dan reliable untuk remaja putri; Literature review Amalia, Usnida Khoiru; Larasati, TA; Septiani, Linda; Saftarina, Fitria
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2167

Abstract

Background: Routine assessment of physical fitness in adolescent girls plays a crucial role in health promotion and disease prevention. However, the implementation of conventional fitness testing protocols is often limited by complex procedures, extensive equipment requirements, and low psychological acceptance among adolescent girls. Purpose: To develop and recommend an easy, practical, and reliable physical fitness measurement protocol suitable for adolescent girls. Results: The findings indicate that selected field-based fitness tests demonstrate satisfactory validity and reliability while requiring minimal equipment and shorter implementation time. The 2-Minute Step Test and the 3-Minute Run/Walk Test are effective for assessing cardiorespiratory endurance, modified push-ups and the plank test are appropriate for measuring muscular strength and endurance, and the Waist-to-Height Ratio (WHtR) provides a simple yet accurate indicator of body composition. Conclusion: A combined protocol consisting of the 2-Minute Step Test, modified push-ups, plank test, and WHtR measurement can be utilized as an easy, reliable, and adolescent-friendly fitness assessment method in school and community settings.   Keywords: Physical Fitness; Measurement; Reliability   Pendahuluan: Kebugaran jasmani merupakan indikator penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental remaja putri. Pemantauan kebugaran secara rutin berkontribusi terhadap pencegahan penyakit tidak menular serta peningkatan kualitas hidup di masa depan. Namun, penerapan pengukuran kebugaran jasmani di lingkungan sekolah dan komunitas sering menghadapi kendala berupa keterbatasan sarana, waktu, serta rendahnya penerimaan psikologis terhadap tes konvensional yang kompleks dan melelahkan. Tujuan: Untuk mengembangkan dan merekomendasikan protokol pengukuran kebugaran jasmani yang mudah diterapkan, praktis, dan terpercaya bagi remaja putri. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan systematic literature review dengan menelusuri artikel ilmiah pada basis data PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar. Artikel yang dianalisis merupakan publikasi sepuluh tahun terakhir yang membahas kemudahan, validitas, dan reliabilitas tes kebugaran jasmani pada populasi remaja putri. Hasil: Beberapa tes lapangan alternatif memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang baik serta lebih mudah diimplementasikan dibandingkan tes konvensional. Protokol pengukuran yang direkomendasikan hanya memerlukan peralatan sederhana seperti stopwatch, matras, dan pita ukur, sehingga dapat diterapkan secara luas di lingkungan sekolah. Simpulan: Protokol pengukuran kebugaran jasmani yang dikembangkan memenuhi kriteria kemudahan dan keterpercayaan, serta berpotensi meningkatkan partisipasi remaja putri dalam asesmen kebugaran jasmani secara rutin.   Kata Kunci: Kebugaran Jasmani; Pengukuran; Protokol Mudah; Remaja Putri; Tes Lapangan;
Pemanfaatan ekstrak daun sirih hijau (piper betle L.) sebagai agen fitoterapi topikal dalam perawatan luka kulit: Tinjauan berdasarkan bukti ilmiah Nursakinah, Namira Az-Zahra; Rudiyanto, Waluyo; Z, Zahara Nurfatihah; Sibero, Hendra Tarigen
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2185

Abstract

Background: Skin wounds remain a common health problem in both primary healthcare settings and hospitals due to the high risk of infection, delayed healing, and increased treatment costs. The use of synthetic topical agents in wound care is often associated with side effects and the risk of antimicrobial resistance, prompting the search for safer and more affordable natural-based alternatives. Purpose: To review and synthesize scientific evidence regarding the use of green betel leaf extract (Piper betle L.) as a topical phytotherapeutic agent in the treatment of skin wounds. Method: This systematic literature review was conducted based on PRISMA guidelines. The literature search was conducted through the Scopus database using the keywords "Piper betle L." AND "wound" for the publication period 2020–2025. Results: Five articles met the inclusion criteria, demonstrating that green betel leaf extract has antimicrobial activity against pathogens that cause wound infections, reduces the inflammatory response, and accelerates epithelialization and collagen formation. Conclusion: Green betel leaf extract (Piper betle L.) has strong potential as a topical phytotherapeutic agent in the treatment of skin wounds. Scientific evidence suggests that its antimicrobial, anti-inflammatory, and antioxidant properties contribute to accelerating the wound healing process. Keywords: Green Betel Leaf; Phytotherapy; Skin Wounds; Piper betle L.; Systematic Review. Pendahuluan: Luka kulit masih menjadi masalah kesehatan yang sering dijumpai baik di pelayanan kesehatan primer maupun rumah sakit karena berisiko tinggi mengalami infeksi, keterlambatan penyembuhan, dan peningkatan biaya perawatan. Penggunaan agen topikal sintetis dalam perawatan luka sering dikaitkan dengan efek samping serta risiko resistensi antimikroba, sehingga mendorong pencarian alternatif berbasis bahan alam yang lebih aman dan terjangkau. Tujuan: Untuk meninjau dan mensintesis bukti ilmiah mengenai pemanfaatan ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) sebagai agen fitoterapi topikal dalam perawatan luka kulit. Metode: Penelitian systematic literature review disusun berdasarkan pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data Scopus dengan kata kunci “Piper betle L.” AND “wound” pada periode publikasi 2020–2025. Hasil: Sebanyak lima artikel memenuhi kriteria inklusi yang menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih hijau memiliki aktivitas antimikroba terhadap patogen penyebab infeksi luka, menurunkan respons inflamasi, serta mempercepat epitelisasi dan pembentukan kolagen. Simpulan: Ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) memiliki potensi kuat sebagai agen fitoterapi topikal dalam perawatan luka kulit. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa sifat antimikroba, antiinflamasi, dan antioksidannya berkontribusi terhadap percepatan proses penyembuhan luka. Kata Kunci: Daun Sirih Hijau; Fitoterapi; Luka Kulit; Piper betle L;Tinjauan Sistematis.      
Efektivitas diet bebas gluten dalam menurunkan gejala dan peradangan mukosa pada celiac disease⁠: A systematic review Ulinnuha, Najwa; Djausal, Anisa Nuraisa; Tampubolon, Lydia Theresia; Zuraida, Reni
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Celiac disease is a chronic autoimmune disorder triggered by gluten consumption, leading to persistent intestinal inflammation, villous atrophy, and a wide range of gastrointestinal and extraintestinal symptoms. If left untreated, ongoing mucosal damage may result in malabsorption and long-term complications. A gluten-free diet (GFD) is currently the only established therapeutic approach; however, its effectiveness in alleviating clinical symptoms and promoting mucosal healing requires comprehensive evaluation. Purpose: To systematically review scientific evidence regarding the effectiveness of a gluten-free diet in reducing clinical symptoms and intestinal mucosal inflammation in patients with celiac disease. Method: This was a systematic literature review conducted based on the PRISMA guidelines. A literature search was conducted through PubMed, Scopus, and Web of Science databases using keywords related to celiac disease and gluten-free diets for the period 2019–2025. Results: Ten articles met the inclusion criteria. The study results showed that adherence to a gluten-free diet was associated with a significant reduction in gastrointestinal symptoms, a decrease in serological inflammatory markers, and histopathological improvement in the intestinal mucosa, including villous regeneration and decreased intraepithelial lymphocyte infiltration. Conclusion: A gluten-free diet is an effective primary intervention in controlling celiac disease activity, characterized by a reduction in clinical symptoms, improvement in inflammatory markers, and restoration of the intestinal mucosa..   Keywords: Celiac Disease; Gluten-Free Diet; Intestinal Inflammation; Mucosal Healing; Systematic Review.   Pendahuluan: Penyakit celiac adalah gangguan autoimun kronis yang dipicu oleh konsumsi gluten yang menyebabkan peradangan usus yang terus-menerus, atrofi vili, dan berbagai gejala gastrointestinal dan ekstra gastrointestinal. Apabila tidak diobati, kerusakan mukosa yang berkelanjutan dapat mengakibatkan malabsorpsi dan komplikasi jangka panjang. Gluten-Free Diet (GFD) saat ini merupakan satu-satunya pendekatan terapeutik yang telah terbukti; namun efektivitasnya dalam mengurangi gejala klinis dan mendorong penyembuhan mukosa memerlukan evaluasi komprehensif. Tujuan: Untuk meninjau dan mensintesis bukti ilmiah mengenai efektivitas diet bebas gluten dalam menurunkan gejala klinis dan peradangan mukosa usus pada pasien dengan celiac disease melalui pendekatan systematic literature review. Metode: Penelitian systematic literature review yang disusun berdasarkan pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data PubMed, Scopus, dan Web of Science menggunakan kata kunci terkait celiac disease dan gluten-free diet pada periode 2019–2025. Hasil: Sebanyak 10 artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap diet bebas gluten berhubungan dengan penurunan signifikan gejala gastrointestinal, penurunan marker inflamasi serologis, serta perbaikan histopatologi mukosa usus berupa regenerasi vili dan penurunan infiltrasi limfosit intraepitel. Simpulan: Diet bebas gluten merupakan intervensi utama yang efektif dalam mengendalikan aktivitas penyakit celiac, ditandai dengan penurunan gejala klinis, perbaikan marker inflamasi, serta pemulihan mukosa usus.   Kata Kunci: Diet Bebas Gluten; Penyakit Celiac; Penyembuhan Mukosa; Peradangan Usus; Tinjauan Sistematis
Pengaruh latihan keseimbangan terhadap penurunan risiko jatuh pada lansia Visabilillah, Ananda Putri; Mawarti, Indah; Mekeama, Luri; Sari, Yulia Indah Permata; Imran, Suryadi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2204

Abstract

Background: The aging process causes a decline in muscle strength, sensory function, and balance in older adults, which leads to postural instability when standing and walking, increasing the risk of falls. Falls in older adults can have negative impacts such as injury, activity limitations, and decreased independence. Therefore, balance training is necessary to improve postural stability and the ability to maintain balance. Purpose: To determine the effect of balance training on reducing the risk of falls in older adults. Methods: This quasi-experimental study used a non-equivalent control group design. The sample size was 36 older adults divided into an intervention group (18 individuals) and a control group (18 individuals). Data were analyzed using the Wilcoxon and Mann–Whitney tests. Results: There was a significant reduction in fall risk in the intervention group after balance training (p < 0.5), while no significant change was found in the control group (p > 0.05). Comparison between groups showed a significant difference after intervention (p < 0.05). Conclusion: Balance training has been shown to provide significant benefits in improving balance ability and reducing fall risk in the elderly. Elderly individuals who regularly engage in balance training demonstrated greater postural stability improvements compared to those who did not receive training, suggesting that balance training can be implemented sustainably as a fall prevention measure in the elderly.   Keywords: Balance Training. Elderly; Fall Risk.   Pendahuluan: Proses penuaan menyebabkan penurunan kekuatan otot, fungsi sensorik, dan kemampuan keseimbangan tubuh pada lansia yang berdampak pada ketidakstabilan postur saat berdiri dan berjalan sehingga meningkatkan risiko jatuh. Kejadian jatuh pada lansia dapat menimbulkan dampak negatif berupa cedera, keterbatasan aktivitas, dan penurunan kemandirian, sehingga latihan keseimbangan diperlukan untuk meningkatkan stabilitas postural dan kemampuan mempertahankan keseimbangan tubuh. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh latihan keseimbangan terhadap penurunan risiko jatuh pada lansia. Metode: Penelitian dengan desain quasi-eksperimental menggunakan non-equivalent control group design. Sampel berjumlah 36 lansia yang dibagi menjadi kelompok intervensi (18 orang) dan kelompok kontrol (18 orang). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney. Hasil: Terdapat penurunan risiko jatuh yang signifikan pada kelompok intervensi setelah diberikan latihan keseimbangan (p < 0,.5), sedangkan pada kelompok kontrol tidak ditemukan perubahan yang signifikan (p > 0.05). Perbandingan antar kelompok menunjukkan perbedaan yang bermakna setelah intervensi (p < 0.05). Simpulan: Latihan keseimbangan terbukti memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan kemampuan keseimbangan tubuh dan menurunkan risiko jatuh pada lansia. Lansia yang melakukan latihan keseimbangan secara teratur menunjukkan peningkatan stabilitas postural yang lebih baik dibandingkan lansia yang tidak mendapatkan latihan, sehingga latihan keseimbangan dapat diterapkan secara berkelanjutan sebagai upaya pencegahan risiko jatuh pada lansia.   Kata Kunci: Lansia; Latihan Keseimbangan; Risiko Jatuh,.
Implementasi penyimpanan obat high alert kategori lasa (look alike sound alike) Zaijul, Ummu; Nadjamuddin, Mirfaidah; Jannah, Miftahul
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2215

Abstract

Background: Look-Alike, Sound-Alike (LASA) High Alert medications carry a high risk of medication errors due to similarities in name, shape, or packaging. Errors in storage and labeling of LASA medications can seriously impact patient safety, requiring a standardized storage system that aligns with hospital pharmaceutical service standards. Purpose: To describe the implementation of LASA High Alert medication storage based on applicable standard operating procedures. Method: This study used a qualitative descriptive design with observation and semi-structured interviews. Data were collected in May–June 2025 through checklist observations, interviews with pharmacists and pharmacist assistants, and documentation. Data analysis was conducted descriptively using a Guttman scale of compliance assessment. Results: Observations indicated that storage of LASA High Alert medications was implemented with a 100% compliance rate, categorized as very good. LASA medications were stored separately, labeled specifically, arranged alphabetically, applying the FEFO and FIFO principles, and using the Tall Man Lettering method. Conclusion: Implementation of LASA High Alert medication storage was very successful and met standards, supporting efforts to improve patient safety.   Keywords: High Alert; Lasa; Medication Storage; Patient Safety.   Pendahuluan: Obat High Alert kategori Look Alike Sound Alike (LASA) memiliki risiko tinggi menyebabkan medication error akibat kemiripan nama, bentuk, atau kemasan. Kesalahan dalam penyimpanan dan pelabelan obat LASA dapat berdampak serius terhadap keselamatan pasien, sehingga diperlukan sistem penyimpanan yang terstandarisasi dan sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian rumah sakit. Tujuan: Untuk mendeskripsikan implementasi penyimpanan obat High Alert kategori LASA berdasarkan standar operasional prosedur yang berlaku. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi dan wawancara semistruktur. Data dikumpulkan pada Mei–Juni 2025 melalui observasi checklist, wawancara terhadap apoteker dan asisten apoteker, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan sistem penilaian persentase kesesuaian berdasarkan skala Guttman. Hasil: Hasil observasi menunjukkan bahwa penyimpanan obat High Alert kategori LASA telah dilaksanakan dengan tingkat kesesuaian 100% dan masuk dalam kategori sangat baik. Obat LASA disimpan terpisah, diberi label khusus, disusun secara alfabetis, menerapkan prinsip FEFO dan FIFO, serta menggunakan metode Tall Man Lettering. Simpulan: Implementasi penyimpanan obat High Alert kategori LASA telah berjalan sangat baik dan sesuai standar, serta mendukung upaya peningkatan keselamatan pasien.   Kata Kunci: High Alert; Keselamatan Pasien; Lasa; Penyimpanan Obat.
Overview of treatment success with short, long, and BPaL/M regimens in patients with drug resistant tuberculosis Nasution, Artika Ananda Putri; Soleha, Tri Umiana; Jausal, Anisa Nuraisa; Gozali, Achmad
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2220

Abstract

Background: Drug-resistant tuberculosis (DR-TB) remains a major challenge in global TB control efforts, particularly in middle-income countries such as Indonesia. Long-term regimens lasting 18–24 months have been associated with low treatment success rates due to their prolonged duration and high incidence of adverse drug reactions. More recent developments, namely the bedaquiline–pretomanid–linezolid regimen with or without moxifloxacin (BPaL/M), have demonstrated treatment success rates of up to 89–90% in international clinical trials. Purpose: To describe the treatment success of short-term, long-term, and BPaL/M regimens among patients with drug-resistant tuberculosis. Method: A retrospective descriptive study was conducted using medical record data of DR-TB patients who received long-term, short-term, or BPaL/M regimens during 2023–2024. Treatment outcome classification followed the WHO 2022 guidelines. The variables collected included patient characteristics, type of regimen, and treatment outcomes based on WHO standards: cured, treatment completed, treatment failed, lost to follow-up, and died. Results: Of the 148 DR-TB patients who met the inclusion criteria, 98 patients (66.2%) received long-term regimens, 17 patients (11.5%) received short-term regimens, and 33 patients (22.3%) were treated with the BPaL/M regimen. The treatment success rate (cured + treatment completed) for the short-term regimen was 76.5%, which was lower compared to the long-term regimen at 83.7%. The BPaL/M regimen demonstrated the highest treatment success rate at 87.9%. Conclusion: The treatment success rates for DR-TB patients at Dr. H. Abdul Moeloek Hospital indicate that the BPaL/M regimen provides the most favorable outcomes compared to long-term and short-term regimens. Keywords: BPaL/M Regimen; Drug-Resistant Tuberculosis; Long-Term Regimen; Short-Term Regimen; Treatment Success.    
Hubungan penanganan atonia uteri terhadap tindakan KBI dan KBE Rizki, Hudeni; Sihaloho, Endang; Sinulingga, Yeni Friska; Daulay, Evlindari Sentani; Ristiani, Ristiani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2286

Abstract

Background: Uterine atony is a major cause of postpartum hemorrhage, contributing significantly to maternal morbidity and mortality. Prompt and appropriate management of uterine atony, including the use of manual interventions such as Internal Bimanual Compression (IBC) and External Bimanual Compression (EBCC), is crucial for successful hemorrhage control and the prevention of further complications. However, clinical practice still finds variation in the quality of uterine atony management and the implementation of IBC and ECCC procedures. Purpose: To determine the relationship between uterine atony management and IBC and ECCC procedures. Method: This was an observational analytical study using a cross-sectional approach conducted at the Helen Tarigan Clinic, with data collected from July to November 2025. A sample of 34 women giving birth with uterine atony was selected using a total sampling technique. Data were obtained through a review of medical records and analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test with a significance level of α = 0.05. Results: There was a significant association between uterine atony management and IBC and IBC procedures, with a p-value of 0.032. Good uterine atony management was more frequently followed by IBC and IBC procedures than suboptimal management. Conclusion: Uterine atony management was significantly associated with IBC and IBC procedures, thus optimizing initial management plays a crucial role in controlling postpartum hemorrhage.   Keywords: Bimanual Compression; Postpartum Hemorrhage; Uterine Atony.   Pendahuluan: Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum yang berkontribusi signifikan terhadap morbiditas dan mortalitas maternal. Penanganan atonia uteri yang cepat dan tepat, termasuk penggunaan intervensi manual seperti Kompresi Bimanual Internal (KBI) dan Kompresi Bimanual Eksternal (KBE), sangat menentukan keberhasilan pengendalian perdarahan serta pencegahan komplikasi lanjutan. Namun, dalam praktik klinis masih ditemukan variasi dalam kualitas penanganan atonia uteri dan penerapan tindakan KBI serta KBE. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara penanganan atonia uteri terhadap tindakan KBI dan KBE. Metode: Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan di Klinik Helen Tarigan dengan pengumpulan data pada periode Juli hingga November 2025. Sampel berjumlah 34 ibu bersalin dengan atonia uteri yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh melalui telaah rekam medis dan dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0.05. Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara penanganan atonia uteri dengan tindakan KBI dan KBE, dengan nilai p-value sebesar 0.032. Penanganan atonia uteri yang baik lebih banyak diikuti dengan pelaksanaan tindakan KBI dan KBE dibandingkan penanganan yang kurang optimal. Simpulan: Penanganan atonia uteri berhubungan secara signifikan dengan tindakan KBI dan KBE, sehingga optimalisasi penanganan awal berperan penting dalam pengendalian perdarahan postpartum.   Kata Kunci: Atonia Uteri; Kompresi Bimanual; Perdarahan Postpartum.
Pengaruh sistem pengendalian manajemen dan motivasi terhadap kinerja pegawai admisi Gaol, Crisna Lumban; Hutagaol, Dewi Ayu L.; Siboro, Kino; Purba, Dewi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.1999

Abstract

Background: The performance of admissions staff is a critical component in determining the quality of initial hospital services. The background to this research stems from the weak management control system and low employee motivation, which impact the inefficiency of administrative processes at Doloksanggul Regional Hospital. Purpose: To analyze the influence of management control systems and motivation on the performance of admissions employees. Method: The study used a quantitative approach with a total sampling of 27 admissions staff. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed using multiple linear regression using SPSS. Results: The management control system has a positive relationship with employee performance (β=0.320; p=0.076), and work motivation also shows a positive relationship with employee performance (β=0.324; p=0.164). However, both have not reached statistical significance (p<0.05). The coefficient of determination (R²) of 0.214 indicates a contribution of approximately 21.4% of both variables to employee performance variation. Conclusion: Although not statistically significant, the management control system and motivation still show a positive relationship and have practical relevance in improving the performance of admissions staff, especially in the context of health services that require accuracy and speed of service.   Keywords: Employee Performance; Hospital Admission; Management Control System; Motivation.   Pendahuluan: Kinerja pegawai admisi merupakan komponen penting dalam menentukan mutu pelayanan awal di rumah sakit. Latar belakang penelitian ini berangkat dari permasalahan lemahnya sistem pengendalian manajemen dan rendahnya motivasi kerja pegawai yang berdampak pada ketidakefisienan proses administrasi di RSUD Doloksanggul. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh sistem pengendalian manajemen dan motivasi terhadap kinerja pegawai admisi. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan total sampling pada seluruh pegawai admisi berjumlah 27 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan dianalisis dengan regresi linier berganda menggunakan SPSS. Hasil: Sistem pengendalian manajemen memiliki hubungan positif terhadap kinerja pegawai (β=0,320; p=0,076), demikian juga motivasi kerja menunjukkan arah hubungan positif terhadap kinerja pegawai (β=0,324; p=0,164). Namun, keduanya belum mencapai signifikansi statistik (p<0,05). Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,214 menunjukkan kontribusi sekitar 21,4% dari kedua variabel terhadap variasi kinerja pegawai. Simpulan: Meskipun tidak signifikan secara statistik, sistem pengendalian manajemen dan motivasi tetap menunjukkan hubungan positif dan memiliki relevansi praktis dalam meningkatkan kinerja pegawai admisi, terutama pada konteks pelayanan kesehatan yang membutuhkan ketelitian dan kecepatan layanan.   Kata Kunci: Admisi Rumah Sakit; Kinerja Pegawai; Motivas; Sistem Pengendalian Manajemen.