cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Mother and Child Health Concerns
ISSN : 27984095     EISSN : 27984192     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, khususnya di bidang kesehatan ibu dan anak yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juni dan Desember
Articles 182 Documents
Efektivitas program positive deviance terhadap peningkatan status gizi balita melalui kegiatan pos gizi: Literature review Sugiarti , Sugiarti; Sunarsih, Sunarsih; Kohir, Dedek Saiful; Rahmayati, El; Purwati, Purwati
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): June Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v3i1.336

Abstract

Background: Toddlers are a risk population. Toddlers are a group that is at risk of experiencing malnutrition due to age and their dependence on parents in fulfilling their nutrition, including the lack of control from parents and society against all forms of health threats to toddlers. Positive deviance/Hearth is a community-based intervention that identifies the main challenges contributing to malnutrition in the community and finds local solutions to address them by observing positive behaviors practiced in “positive deviance”, children from poor households with better nutritional outcomes better than families who have the same problem in society. Purpose: To identify the effectiveness of the positive deviation program in improving the nutritional status of toddlers through nutrition post activities. Method: Writing articles using a systematic literature study. Articles were searched for and collected from online databases using: Google Scholar, Scopus, Science Direct, Google Scholar, ProQuest and Elsivier. Literature is limited to the range of 2016 to 2022. Results: It was found that poverty is not the main cause of malnutrition in children under five. This is corroborated by the finding that there are positive behaviors in poor families that can cause toddlers to continue to grow normally, and this activity can be exemplified through the positive deviation approach. The results showed that there was a relationship between the participation of mothers in nutrition post activities and the nutritional status of toddlers. This is due to the positive feeding practices and good care during the nutrition post session practiced by the mother of the toddler. Positive deviation activities carried out in the community require good planning, so that the implementation of the program can bring benefits in accordance with the goal of improving the nutritional status of children under five. Because an evaluation is needed in this program so that the nutritional status of toddlers who have improved can be maintained. Conclusion: Poor nutritional status of children under five is a very complex health problem and requires treatment through both intensive and sensitive efforts, positive deviation is a very effective program to implement.   Keywords: Effectiveness; Positive Deviance, Increase; Toddler Nutrition.   Pendahuluan: Balita adalah populasi berisiko. Balita merupakan kelompok yang berisiko mengalami kurang nutrisi karena faktor usia dan ketergantungannya terhadap orang tua dalam pemenuhan nutrisinya termasuk kurangnya kontrol dari orang tua dan masyarakat terhadap segala bentuk ancaman kesehatan terhadap balita. Positive deviance/Pos Gizi adalah intervensi berbasis masyarakat yang mengidentifikasi tantangan utama yang berkontribusi terhadap kekurangan gizi di masyarakat dan menemukan solusi lokal untuk mengatasinya dengan mengamati perilaku positif yang dipraktikkan dalam “penyimpangan positif”, anak-anak dari rumah tangga miskin dengan hasil gizi yang lebih baik dibandingkan keluarga yang memiliki masalah yang sama di masyarakat. Tujuan: Untuk mengidentifikasi efektifitas program positive deviance terhadap peningkatan status gizi balita melalui kegiatan pos gizi. Metode: Penulisan artikel menggunakan studi literatur tersistematis. Artikel dicari dan dikumpulkan dari online database yaitu menggunakan: Google scholar , Scopus, Science Direct, Google Cendikia, ProQuest dan Elsivier.  Literatur terbatas pada rentang tahun 2016 sampai 2022. Hasil: Ditemukan bahwa kemiskinan bukan menjadi penyebab utama kejadian gizi kurang pada balita. Hal ini dikuatkan dengan temuan bahwa terdapat perilaku yang positif pada keluarga miskin yang dapat menyebabkan balita tetap bertumbuh dengan normal, dan kegiatan ini dapat dicontoh melalui pendekatan positive deviance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara keikutsertaan ibu dalam kegiatan pos gizi dengan status gizi balita. Hal ini disebabkan karena praktik pemberian makan yang positif dan pengasuhan yang baik selama sesi pos gizi dipraktikkan oleh ibu balita.  Kegiatan positive deviance yang dilakukan dalam masyarakat, membutuhkan perancanaan yang baik, sehingga pelaksanaan program bisa membawa manfaat sesuai dengan tujuan yaitu meningkatkan status gizi balita. Karena diperlukan adanya evaluasi dalam program ini sehingga status gizi balita yang telah membaik dapat dipertahankan. Simpulan: Status gizi balita yang kurang merupakan masalah kesehatan yang sangat kompleks dan membutuhkan penanganan baik melalui upaya intensif maupun sensitif, positive deviance adalah salah satu program yang sangat efektif untuk dilakukan.
Aplikasi senam yoga pada penurunan nyeri punggung pada ibu hamil Suwares, Fara Millinia; Wardiyah, Aryanti; Rilyani, Rilyani
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): June Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v3i1.366

Abstract

Background: The gestation period lasts 280 days (40 weeks or 9 months and 10 days) from conception to the birth of the fetus, counting from the first day of the last menstruation. Data obtained from Riskesdas in 2021 shows that pregnant women who do K4 are 82.1% in Lampung and the proportion of first referral health facilities when experiencing pregnancy complications is 6.9% at the Puskesmas. The results of the pre-survey conducted at the Clinik dr. Eliza, Sp.OG Metro City To 10 respondents of third trimester pregnant women, it was found that all third trimester pregnant women experienced serious back pain, so that they sometimes complained of pain and shortness of breath due to an increasingly enlarged stomach. Providing relaxation in the form of massage effluarage and deep breathing relaxation techniques is still rarely done by midwives and families. Purpose: To provide nursing care to third trimester pregnant women with lower back pain through the provision of prenatal yoga therapy at the Clinik dr. Eliza, Sp.OG Metro City in 2023. Method: This type of research uses descriptive qualitative research, this research uses descriptive research methods in the form of case studies with the Nursing Care approach, which includes assessment, nursing diagnosis, planning, implementation, and evaluation. Results: The decrease in the level of low back pain in pregnant women occurs due to the movements performed during prenatal yoga. Conclusion: There is an effect of applying yoga exercises to third trimester pregnant women with a decrease in back pain.   Keywords: Lower Back Pain; Prenatal Yoga Therapy; Pregnant Women   Pendahuluan: Masa kehamilan berlangsung selama 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 10 hari) dari konsepsi sampai lahirnya janin dihitung dari hari pertama haid terakhir. Data yang diperoleh dari Riskesdas pada tahun 2021 menunjukkan bahwa ibu hamil yang melakukan K4 sebanyak 82,1 % di Lampung dan proporsi fasilitas kesehatan tempat rujukan pertama saat mengalami komplikasi kehamilan 6,9 % di Puskesmas. Hasil prasurvey yang dilakukan di Klinik Praktik dr. Eliza, Sp.OG Kota Metro Kepada 10 responden ibu hamil TM III, didapat keseluruhan ibu hamil TM III mengalami nyeri punggung yang serius, hingga terkadang mengeluh kesakitan dan sesak akibat dorongan perut yang semakin membesar. Pemberian relaksasi berupa massage effleurage dan teknik  relaksasi nafas dalam masih jarang dilakukan oleh bidan dan keluarga. Tujuan: Memberikan asuhan keperawatan pada ibu hamil TM III dengan nyeri punggung bagian bawah melalui pemberian terapi prenatal yoga di Klinik Praktik dr. Eliza, Sp.OG Kota Metro Tahun 2023 Metode: Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan Asuhan Keperawatan, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil: Penurunan tingkat nyeri punggung bawah pada ibu hamil terjadi akibat gerakan-gerakan yang dilakukan selama prenatal yoga. Simpulan:­ Terdapat pengaruh penerapan senam yoga pada ibu hamil TM III dengan penurunan nyeri punggung
Penerapan terapi kompres aloevera untuk menurunkan suhu tubuh pada pasien hipertermi Afsani , Mahda; Yulendasari, Rika; Chrisanto, Eka Yudha
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): June Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v3i1.367

Abstract

Background: According to WHO in 2018 there were 65 million cases of fever in children with different types of disease and 62% of cases of illness accompanied by fever symptoms, with a presentation rate of 33% and most cases were in Southeast Asia as well as South Asia. Purpose: To make a report on family nursing care by applying aloevera compress therapy to reduce body temperature in hyper thermic patients. Method: This writing uses the case study method with the Family Nursing Care approach with 2 respondents. The instruments used are SOPs for applying aloevera compress therapy to reduce body temperature in hyper thermic patients, observation sheets, and body temperature measuring devices. The study was conducted from 8 May to 10 May 2023 with the method of applying aloevera compress therapy to lower body temperature in hyper thermic patients. Results: body temperature before the intervention was 38.5º C, it became 37.5º C. Conclusion: The results of evaluating the application of aloevera compresses to patient An. F and An. H with fever within 3 days got the results: Hyperthermia associated with the disease process is resolved.   Keywords: Hyperthermia, Aloevera Compress Therapy; Lowering Body Temperature   Pendahuluan: Menurut WHO tahun 2018 terdapat 65 juta kejadian kasus demam pada anak dengan jenis penyakit yang berbeda serta 62% jumlah kasus penyakit yang disertai gejala demam, dengan tingkat presentasi kematian 33% dan kasus terbanyak terdapat di Asia Tenggara juga Asia Selatan. Tujuan: Untuk membuat laporan asuhan keperawatan keluarga dengan penerapan terapi kompres aloevera untuk menurunkan suhu tubuh pada pasien hipertermi. Metode: Penulisan ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan Asuhan Keperawatan Keluarga dengan 2 responden. Instrumen yang digunakan yakni SOP penerapan terapi kompres aloevera untuk menurunkan suhu tubuh pada pasien hipertermi, lembar observasi , dan alat pengukur suhu tubuh.. Penelitian dilakukan dari 8 mei hingga 10 mei 2023 dengan metode penerapan penerapan terapi kompres aloevera untuk menurunkan suhu tubuh pada pasien hipertermi. Hasil: suhu tubuh sebelum diberkan intervensi 38,5 o C, menjadi 37,5o C. Simpulan: Hasil evaluasi penerapan kompres aloevera pada pasien An. F dan An. H dengan demam dalam kurun waktu 3 hari mendapat hasil: Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit teratasi.
Studi Kasus Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Dengue Hemorrhagic Fever di Ruangan PICU Lainsamputty, Ferdy; Saluy, Priscillia Merylin
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): June Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v3i1.376

Abstract

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by the dengue virus and transmitted by the Aedes Aegypti mosquito. Dengue virus infection causes high mortality and morbidity worldwide. Purpose: To analyze the determination of nursing diagnoses of DHF patients related to related practice and theory. Methods: The study used a qualitative method with a case study approach. Results: Three nursing problems were found which were arranged based on priority: 1) Hypovolemia, 2) Risk of bleeding, 3) Activity intolerance. Conclusion: Not all nursing problems that exist in theory are the same as found in real cases.  Keywords: Nursing Care Plan; Child; Dengue Hemorrhagic Fever. Pendahuluan: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Infeksi virus dengue menyebabkan kematian dan kesakitan yang tinggi di seluruh dunia. Tujuan: Untuk menganalisa penentuan diagnosis keperawatan terdahap pasien DHF terkait dengan praktek dan teori yang berhubungan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil: Ditemukan tiga masalah keperawatan yang disusun berdasarkan prioritas yaitu: 1) Hipovolemia, 2) Risiko perdarahan, 3) Intoleransi aktivitas. Simpulan: Tidak semua masalah keperawatan yang ada dalam teori sama ditemukan pada kasus yang nyata.  
Pemberian aroma terapi pappermint pada ibu hamil TM I dengan masalah mual dan muntah Setiyawan, Agung Budi; Wardiyah, Aryanti; Wandini, Riska
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 3 No. 2 (2023): December Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v3i2.398

Abstract

Background: The results of a pre-survey conducted at the Dono Arum Health Center in Central Lampung Regency on 15 pregnant women in the first trimester by conducting free interviews, it was found that 11 mothers (73.3%) had problems with nausea and vomiting with symptoms of nausea in the morning, and after eating or drinking containing fat or oil, and accompanied by vomiting 6-7 times per day accompanied by impaired activity. Meanwhile, 4 mothers (26.7%) experienced mild nausea and vomiting, with a frequency of vomiting 3-4 times per day and were still able to do their activities at home. Purpose: Provide nursing care in nursing care to Mrs. I with the problem of nausea and vomiting through the complementary method of giving peppermint aromatherapy in Dono Arum Village in 2023 Method: This type of research uses descriptive qualitative research, this research uses descriptive research methods in the form of case studies with the Nursing Care approach, which includes assessment, nursing diagnosis, planning, implementation, and evaluation. Results: In this nursing care there are two patients, namely Mrs.D and Mrs.S with the problem of nausea and vomiting in TM I pregnant women caused by smelling unpleasant aromas and unpleasant food, with this the authors to overcome these problems with therapy complementary with peppermint aromatherapy, which has a positive impact on both patients.   Keywords: Complementary peppermint aromatherapy; Nausea and Vomiting; Nursing Care.   Pendahuluan: Hasil prasurvey yang dilakukan di Puskesmas Dono Arum Kabupaten Lampung Tengah terhadap 15 ibu hamil Trimester I dengan melakukan wawancara bebas, diketahui 11 ibu (73,3%) mengalami masalah mual muntah dengan tanda gejala mual pada pagi hari, dan setelah makan atau minum yang mengandung lemak atau minyak, dan disertai muntah sebanyak 6-7 kali perhari disertai mengalami gangguan aktivitas. Sedangkan 4 ibu (26,7%) mengalami mual dan muntah ringan, dengan frekuensi muntah sebanyak 3-4 kali perhari dan masih bisa beraktivitas dirumah. Tujuan: Memberikan asuhan keperawatan pada asuhan keperawatan pada Ny. I dengan masalah mual dan muntah melalui metode komplementer pemberian aroma terapi pappermint di Desa Dono ArumTahun 2023 Metode: Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan Asuhan Keperawatan, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil: Dalam asuham keperawatan ini terdapat dua pasien yaitu Ny. D dan Ny. S dengan masalah mual muntah pada ibu hamil TM I disebebabkan karena mencium aroma aroma yang tidak sedap, dan makanan yang tidak sedap, dengan ini penulis untuk mengatasi masalah tersebut dengan terapi komplemter dengan aromaterapi peppermint, yamg dimna memberikan dampak positif pada kedua pasien tersebut.
Asuhan keperawatan pada ibu postpartum menggunakan terapi jus labu siam untuk menurunkan tekanan darah Andriyani, Veni; Rilyani, Rilyani; Wardiyah, Aryanti
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 3 No. 2 (2023): December Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v4i1.402

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease and the main cause of premature death worldwide. The World Health Organization (WHO) currently estimates that the prevalence of hypertension worldwide is 22% of the total world population. Approximately 10.4 million deaths are attributed to hypertension as the main factor of cardiovascular disease. Meanwhile, the cause of maternal death other than bleeding and infection is postpartum hypertension. Hypertension is responsible for approximately 165% of deaths annually worldwide and is a major contributor to morbidity and mortality associated with cardiovascular disease. Approximately 10% of maternal deaths are caused by hypertensive disorders of pregnancy that occur in the postpartum period. Purpose: providing nursing care by administering chayote juice to lower blood pressure in postpartum mothers with hypertension in Way Terusan Village, Central Lampung in 2024. Method: This research uses quantitative methods with descriptive research types with a case study approach to nursing care, which includes assessment, nursing diagnosis, planning, implementation and evaluation. Results: Nursing care carried out on 2 patients who received the same therapy showed that there was an effect of giving chayote juice on reducing blood pressure in postpartum mothers, namely at the beginning before administration, Ny.T blood pressure was 160/100 mmHg to 120/80 mmHg, while for Ny.S at the beginning before administering blood pressure from 160/90 mmHg to 110/80 mmHg. Conclusion: Nursing care provided to Ny. T and Ny. S using chayote juice therapy to lower blood pressure so that blood pressure decreases and can be controlled. Keywords: Chayote Juice; Hypertension; Postpartum. Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dan penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini memperkirakan prevalensi hipertensi di seluruh dunia adalah 22% dari total populasi dunia. Sekitar 10,4 juta kematian dikatikan dengan hipertensi sebagai faktor utama dari penyakit kardiovaskular. Sedangkan untuk penyebab kematian ibu selain perdarahan dan infeksi adalah hipertensi postpartum. Hipertensi bertanggung jawab sekitar 16,5% kematian tiap tahunnya diseluruh dunia dan merupakan penyumbang utama morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler. Sekitar 10% kematian ibu disebabkan gangguan hipertensi kehamilan yang terjadi pada periode postpartum. Tujuan: Melakukan asuhan keperawatan dengan pemberian Jus Labu Siam Untuk Menurunkan Tekanan Darah pada Ibu Postpartum dengan hipertensi di Desa Way Terusan Lampung Tengah Tahun 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus asuhan keperawatan, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil: asuhan keperawatan yang dilakukan terhadap 2 pasien yang mendapatkan terapi yang sama didapatkan hasil adanya pengaruh pemberian jus labu siam terhadap penurunan tekanan darah pada ibu postpartum, yaitu diawal sebelum pemberian tekanan darah Ny.T 160/100 mmHg menjadi 120/80 mmHg sedangkan untuk Ny.S diawal sebelum pemberian tekanan darah 160/90 mmHg menjadi 110/80 mmHg. Simpulan: asuhan keperawatan yang dilakukan pada Ny.T dan Ny.S dengan menggunakan terapi jus labu siam untuk menurunkan tekanan darah sehingga tekanan darah menurun dan dapat terkontrol.
Asuhan keperawatan untuk masalah keperawatan nyeri akut pada ibu post sectio cesarea (sc) dengan penerapan imajinasi terbimbing (guided imagery) Budiarti, Budiarti; Wardyah, Aryanti; Rilyani, Rilyani
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 3 No. 2 (2023): December Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v3i2.412

Abstract

Background: At Abdul Moeloek Regional General Hospital, the incidence of maternal delivery using the Sectio Caesarea (SC) method in 2019 was 528 people, in 2020 it was 663 people, and in 2021 it was 678 people. In 2022, the incidence of maternal delivery using the Sectio Caesarea (SC) method was 643 people, while in 2023 there were 684 people and this shows that there has been a decrease and increase in the incidence of maternal delivery using the Sectio Caesarea (SC). CS delivery causes several complications, one of which is pain in the incision area or tearing of tissue in the abdominal wall and uterus. The level of pain will be felt more than 12 hours after surgery. The therapy used is non-pharmacological therapy to reduce pain from cesarean section, if with non-pharmacological therapy, namely guided imagery techniques. Purpose: To determine the effect of applying guided imagery in reducing pain in post-section cesarean (SC) patients at Abdul Moeloek Regional General Hospital, Bandar Lampung. Method: This research is a descriptive research with a case study approach. The subjects in this study were two respondents who suffered from post-cesarean section (SC) in the obstetrics room of Abdul Moeloek Hospital. Result: Nursing care has been carried out on post-cesarean section (SC) mothers with the application of guided imagery therapy in the obstetrics room of Abdul Moeloek Hospital. The management of acute pain nursing with the application of Guided imagery nursing actions that the author carried out for 3 days found active pain problems in post-cesarean section (SC) mothers where the problems of both clients were all resolved as evidenced by the clients Mrs. A and Mrs. M normal pain scale and during the action both clients were cooperative. Conclusion: There is an effect of the application of Guided imagery to reduce pain in post-cesarean section (SC) mothers. Keywords: Guided Imagery; Pain; Sectio Caesarea. Pendahuluan: Di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek angka kejadian persalinan ibu dengan metode Sectio Caesarea (SC) pada tahun 2019 sebanyak 528 orang, tahun 2020 sebanyak 663 orang, dan pada tahun 2021 sebanyak 678 orang. Pada tahun 2022 angka kejadian persalinan Ibu dengan metode Sectio Caesarea (SC) pada 643 orang sedangkan ditahun 2023 terdapat 684 orang dan hal tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan dan peningkatan angka kejadian persalinan ibu secara Sectio Caesarea (SC). Persalinan SC memunculkan beberapa komplikasi salah satunya adalah nyeri pada daerah insisi atau robekannya jaringan pada dinding perut dan uterus. Tingkat nyeri akan terasa lebih dari 12 jam pasca operasi. Terapi yang digunakan ialah terapi non farmakologi untuk mengurangi nyeri sectio caesarea, apabila dengan terapi non farmakologi yaitu teknik imajinasi terbimbing atau Guided imagery. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh penerapan guided imagery dalam mengurangi rasa nyeri pada pasien post sectio cesarea (SC) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek Bandar Lampung. Metode: Penelitian ini adalah jenis penelitian deskristif dengan pendekatan studi kasus.  Subjek dalam deng penelitian ini adalah penderita ibu post sectio cesarea (SC) sebanyak dua responden yang ada di ruang kebidanan RSUD Abdul Moeloek. Hasil: Telah dilaksanakan asuhan keperawatan pada ibu post sectio cesarea (SC) dengan penerapan terapi imajinasi terbimbing (guided imagery) di ruang kebidanan RSUD Abdul Moeloek. Pengelolaan  keperawatan nyeri akut dengan  penerapan  tindakan  keperawatan Guided imagery yang  penulis  lakukan  selama  3  hari  didapatkan  masalah  nyeri aktif  pada ibu post sectio cesarea (SC) dimana masalah kedua  klien  teratasi  semua  dibuktikan  dengan klien  ny. A dan Ny. M skala nyeri normal dan selama tindakan kedua klien koperatif. Simpulan: Terdapat pengaruh penerapan Guided imagery untuk mengurangi nyeri pada pasien ibu post sectio cesarea (SC).
Asuhan keperawatan pada ibu post sectio cesarea (SC) dengan masalah keperawatan ketidakefektifan pemberian ASI menggunakan pijat oksitosin Cahyanti, Anisa; Rilyani, Rilyani; Wardiyah, Aryanti
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 3 No. 2 (2023): December Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v3i2.414

Abstract

Background: Caesarean section is a surgery to give birth to a child through an incision in the abdominal wall and uterus. Problems that can arise in post-cesarean section patients such as ineffective breastfeeding. Ineffective breastfeeding is a condition where the mother and baby experience dissatisfaction or difficulty while breastfeeding (IDHS, 2017). Breast milk production can be accelerated with non-pharmacological measures, namely through oxytocin massage which can be done by massaging the area around the back (pars thoracic vertebrae). Purpose: Able to carry out nursing care for post sectio caesarea (SC) mothers with nursing problems ineffective breastfeeding using oxytocin massage in Metro City 2023. Method: Writing this final report using a descriptive research design with a case study design. Subjects used by 2 people who experienced breastfeeding nursing problems were not effective. This research was conducted in June 2023. This case study was conducted for 3 days with Oxytocin Massage for 2-3 minutes 2 times per day in the morning and evening. Results: Nursing management of ineffectiveness in breastfeeding with the application of oxytocin massage nursing actions that the author carried out for 3 days found the problem of Ineffective Breastfeeding in Postoperative Mothers with Sectio Caesarea associated with inadequate supply of breast milk in both clients resolved, all evidenced by clients Mrs. M and Mrs. A The production of breast milk is smooth and during the action the two clients are cooperative. Conclusion: There is an effect of oxytocin massage to increase milk production. Suggestion: For future researcher to examine factors that affect breast milk production in postpartum mothers such as nutrition during pregnancy and factors that affect anxiety production in postpartum mothers such as conditions after cesarean. Keywords: Oxytocin Massage; Pregnant Women; Sectio Caesarea. Pendahuluan: Seksio sesarea adalah suatu pembedahan untuk melahirkan anak lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus. Masalah yang dapat muncul pada pasien post seksio sesarea seperti menyusui tidak efektif. Menyusui tidak efektif merupakan suatu kondisi dimana ibu dan bayi mengalami ketidakpuasan atau kesulitan pada saat menyusui (SDKI, 2017). Pengeluaran ASI dapat dipercepat dengan tindakan non farmakologi,yaitu melalui pijat oksitosin yang dapat dilakukan dengan cara memijat areadisekitar punggung (vertebra pars thoratica). Tujuan: Mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada ibu post sectio cesarea (SC) dengan masalah keperawatan ketidakefektifan pemberian ASI menggunakan pijat oksitosin di Kota Metro 2023. Metode: Pada penulisan laporan tugas akhir ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan rancangan studi kasus. Subjek yang digunakan 2 orang yang mengalami masalah keperawatan menyusui tidak efektif. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2023. Studi kasus ini dilakukan selama 3 hari dengan tindaka Pijat Oksitosin selama 2-3 menit 2 kali perhari pada pagi dan sore hari. Hasil: Pengelolaan  keperawatan ketidakefektifan  dalam  pemberian  ASI  dengan  penerapan  tindakan  keperawatan  pijat oksitosin  yang  penulis  lakukan  selama  3  hari  didapatkan  masalah  Menyusui  Tidak Efektif   Pada   Ibu   Post   Operasi   Dengan   Sectio   Caesarea berhubungan   dengan ketidakadekutan suplai ASI  pada  kedua  klien  teratasi  semua  dibuktikan  dengan klien  Ny  M dan Ny. A produksi ASI nya lancar dan selama tindakan kedua klien koperatif. Simpulan: Terdapat pengaruh pijat oksitosin untuk meningkatkan produksi ASI. Saran: Kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti faktor yang mempengaruhi penegeluaran ASI pada ibu post partum seperti nutria selama hamil dan faktor yang mempengaruhi pengeluaran kecemasan pada ibu post partum seperti keadaan setelah sesar.
Asuhan keperawatan keluarga pada ibu hamil dengan anemia menggunakan madu Mardiani, Wiwin; Keswara, Umi Romayati; Andoko, Andoko
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 3 No. 2 (2023): December Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v3i2.428

Abstract

Background: Anemia is a blood disorder which generally occurs when the red blood cells in the tubum become too low where the hemoglobin level is less than normal, namely 11g% in pregnant women. Prevalence, anemia in the world is classified as a serious problem as well in Indonesia, including Lampung, anemia is a public health problem, especially for pregnant women, at 92.6%. In pregnancy, it is usually due to a lack of nutritional intake during pregnancy where the need for iron increases. One non-pharmacological therapy effort is to consume natural ingredients such as honey. Honey has many ingredients that are beneficial for the body, especially for pregnant women, where 100 grams of honey contains 0.42 mg of fe/iron and 2 micrograms of folate, 0.5 mg of vitamin C. Purpose: To make a report on nursing care for families with anemia using honey in Purbolinggo sub-district, East Lampung in 2024. Method: This writing uses case study research with a Family Nursing Care approach with 2 respondents who are in the Purbolingo District work area. The instruments used are the SOP for Hb examination using the NESCO Multi Check measuring instrument to obtain data on the results of pre-test and post-test Hb examinations, observation sheets, namely by administering honey therapy. Results:  The results of the study showed that the Hb level before mother D underwent therapy was 9.8 gr/dl while mother R was 9.2. After both of them underwent honey therapy, the Hb level for mother D was 11.4 gr/dl and mother R was 11.4 gr/dl. 11.5 gr/dl. Conclusion: It can be concluded that there was an effect of giving honey therapy to two clients who suffered from anemia during pregnancy. Keywords: Hemoglobin Levels; Honey; Pregnant Women. Pendahuluan: Anemia adalah salah satu kelainan darah yang umumnya terjadi ketika sel darah merah dalam tubuh menjadi terlalu rendah, dimana kadar hemoglobin kurang dari normal yakni < 11gr% pada ibu hamil. Prevalensi anemia di dunia tergolong masalah berat, begitu juga di Indonesia termasuk Lampung, anemia merupakan masalah kesehatan Masyarakat khususnya bagi ibu hamil sebesar 92,6%. Pada kehamilan biasanya dikarenakan kurangnya asupan gizi saat hamil dimana kebutuhan zat besi semakin meningkat. Salah satu Upaya terapi non farmakologi adalah dengan mengkonsumsi bahan alami seperti madu. Madu memiliki banyak kandungan yang bermanfaat bagi tubuh, khususnya wanita hamil dimana dalam madu 100-gram mengandung Fe/ zat besi 0,42 mg dan folat 2 microgram, vitamin C 0,5 mg Tujuan: Untuk membuat laporan asuhan keperawatan keluarga dengan anemia menggunakan madu di Kecamatan Purbolinggo Lampung Timur tahun 2024 Metode: Penulisan ini menggunakan penelitian studi kasus dengan pendekatan Asuhan Keperawatan Keluarga dengan 2 responden yang berada diwilayah kerja Kecamatan Purbolingo. Instrumen yang digunakan yakni SOP pemeriksaan Hb dengan menggunakan alat ukur NESCO Multi Check dalam mendapatkan data hasil  pemeriksaan  Hb  pretest  dan  posttest  ,  lembar observasi  yaitu  dengan pemberian terapi madu. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kadar Hb sebelum dilakukan terapi ibu D adalah 9,8 gr/dl sedangkan ibu R adalah 9,2, setelah keduanya melakukan terapi madu didapatkan hasil kadar Hb untuk ibu D sebanyak 11,4 gr/dl dan ibu R sebanyak 11,5 gr/dl. Simpulan: Dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian terapi madu pada ke dua klien yang mengidap anemia pada saat kehamilan.
Hubungan sindrom menopause dengan kualitas hidup wanita Aulya, Nurul; Iswandari, Novita Dewi; Sarkiah, Sarkiah; Wahdah, Rabia
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v4i2.442

Abstract

Abstract Background: Menopause syndrome is a set of symptoms or complaints that women feel when they start entering menopause. The complaints in question are physical complaints and psychological complaints. It causes discomfort that interferes with daily work so that it can reduce the quality of life of menopausal women. Purpose: To determine the relationship of menopausal syndrome with the quality of life of menopausal women in the work area of the South Alalak Health Center, Banjarmasin City. Method: This study used a quantitative analytic survey with a cross-sectional approach. The population was 110 menopausal women in the work area of the South Alalak Health Center, Banjarmasin City. The sample was selected using purposive sampling techniques, as many as 87 respondents. Data analysis using SPSS with the Spearman Rank test. Results: The study showed 55 respondents (63.2%) did not experience menopausal syndrome, 28 respondents (32.2%) experienced mild menopausal syndrome, and 4 respondents (4.6%) experienced moderate menopausal syndrome. There were 29 respondents (33.3%) who had a poor quality of life, 54 respondents (62.1%) had a moderate quality of life, and 4 respondents (4.6%) had a good quality of life. The results of statistical tests using Rank Spearman stated that there was a relationship between menopausal syndrome and women's quality of life (p-value = 0.000, correlation coefficient = -0.739). Conclusion: There is a relationship between menopausal syndrome and the quality of life of women in the work area of the South Alalak Health Center, Banjarmasin City. The direction of the relationship is negative (unidirectional) which can be seen from the correlation coefficient, meaning that the higher the intensity of menopausal syndrome, the lower the level of quality of life. Suggestion: It is expected that the health center can continue to improve services for menopausal women and elderly posyandu.   Keywords: Menopause; Menopause Syndrome; Quality of Life.   Pendahuluan: Sindrom menopause merupakan sekumpulan gejala atau keluhan yang dirasakan wanita saat mulai memasuki masa menopause. Keluhan-keluhan yang dimaksud berupa keluhan fisik dan keluhan psikologis. Hal itu menimbulkan ketidaknyamanan yang mengganggu pekerjaan sehari-hari sehingga dapat menurunkan kualitas hidup wanita menopause. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan sindrom menopause dengan kualitas hidup wanita menopause di wilayah kerja Puskesmas Alalak Selatan Kota Banjarmasin. Metode: Penelitian survei analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi sebanyak 110 wanita menopause di wilayah kerja Puskesmas Alalak Selatan Kota Banjarmasin. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 87 responden. Analisis data menggunakan SPSS dengan uji Rank Spearman. Hasil: Penelitian menunjukkan 55 responden (63.2%) tidak mengalami sindrom menopause, 28 responden (32.2%) mengalami sindrom menopause kategori ringan, dan 4 responden (4.6%) mengalami sindrom menopause sedang. Ada 29 responden (33.3%) memiliki kualitas hidup buruk, 54 responden (62.1%) responden memiliki kualitas hidup sedang, dan 4 responden (4.6%) memiliki kualitas hidup baik. Hasil uji statistik menggunakan Rank Spearman menyatakan adanya hubungan antara sindrom menopause dengan kualitas hidup wanita (p-value = 0.000; correlation coefficient = -0.739). Simpulan: Ada hubungan sindrom menopause dengan kualitas hidup wanita di wilayah kerja Puskesmas Alalak Selatan Kota Banjarmasin. Arah hubungan bersifat negatif (tidak searah) yang dapat dilihat correlation coefficient, artinya semakin tinggi intensitas sindrom menopause maka semakin rendah tingkat kualitas hidup. Saran: Diharapkan puskesmas dapat terus meningkatkan pelayanan terhadap wanita menopause dan posyandu lansia.   Kata Kunci: Kualitas Hidup; Menopause; Sindrom Menopause.

Page 6 of 19 | Total Record : 182