cover
Contact Name
Amaq Fadholly
Contact Email
Amaqfadholly@apps.ipb.ac.id
Phone
+6285784750924
Journal Mail Official
jvetbiomed@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Jalan Agatis Kampus IPB Dramaga, Bogor, 16680, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Veteriner dan Biomedis
ISSN : -     EISSN : 29872257     DOI : https://doi.org/10.29244/jvetbiomed
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Veteriner dan Biomedis bertujuan untuk menerbitkan dan menyebarluaskan kajian ilmiah hasil penelitian, pemikiran, dan kajian analisis-kritis mengenai penelitian bidang ilmu kedokteran hewan dan ilmu biomedis. Jurnal Veteriner dan Biomedis menerima artikel ilmiah dengan ruang lingkup penelitian di bidang Kedokteran Dasar Veteriner, Reproduksi Veteriner, Kesehatan Masayarakat Veteriner, Klinik Veteriner, Mikrobiologi Medis, Biologi Molekular, Biomedis, dan topik kajian lainnya yang relevan.
Articles 61 Documents
Cytotoxicity of Gambir Leaf Infusion (Uncaria gambir Roxb.) on T47D Cells: In Vitro Assay Fadholly, Amaq
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.2.%p.

Abstract

Cancer is a cellular pathology marked by the disruption of regulatory mechanisms governing the cell cycle and homeostasis in multicellular organisms. This study seeks to evaluate the cytotoxic effects and IC50 value of Uncina gambir leaf infusion on the T47D cell line, utilized as a model for mammary cancer. The cytotoxic activity of Uncina gambir leaf extract  was assessed by delivering five concentrations of the test substance: 10 μg/ml, 20 μg/ml, 40 μg/ml, and 80 μg/ml to T47D cell lines, followed by a 24-hour incubation period. Cell counting was conducted following the administration of MTT and SDS stop solution. The inhibition percentages for each test sample concentration were 25.11%, 33.76%, 43.79%, and 48.09%, respectively. The extract of Uncina gambir leaf infusion exhibits an IC50 value of 502.12 μg/mL. The IC50 value of Uncina gambir leaf infusion against T47D cell lines acts as non toxic for the cytotoxicity group. Consequently, it may be inferred that Uncina gambir leaf extract exhibits no cytotoxicity towards T47D cell lines.
Diagnosis dan Penanganan Kasus Endometritis pada Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) di Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Periode Januari 2025 Agant, Gyda Lana Desmonda; Residiwati, Gretania
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.2.%p.

Abstract

Endometritis merupakan salah satu gangguan reproduksi utama pada sapi perah yang berdampak negatif terhadap efisiensi reproduksi dan produktivitas susu. Studi ini bertujuan untuk mendiagnosis dan menangani kasus endometritis klinis pada sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) berusia 3,9 tahun dengan BCS 2,5/5 dan riwayat partus 2 kali di Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) selama periode Januari 2025. Proses diagnosis melibatkan anamnesis, pemeriksaan klinis, serta evaluasi penunjang menggunakan metricheck, sitologi leleran vagina, dan pemeriksaan hematologi lengkap. Hasil metricheck menunjukkan skor 3 yang mengindikasikan eksudat mukopurulen dalam uterus. Sitologi mengungkap adanya neutrofil dan limfosit serta keberadaan bakteri. Pemeriksaan hematologi menunjukkan leukositosis dan neutrofilia, mendukung adanya inflamasi aktif. Terapi dilakukan melalui irigasi intrauterin menggunakan antibiotik Penstrep-400® yang berisi procain penicillin G dan hydrostreptomycin, Glucortin® yang berisi anti-inflamasi dexamethasone, povidone iodine, Lutalyse® yang berisi hormon PGF2 alfa, serta ditambahkan NaCl secukupnya. Selain itu diinjeksikan anti radang Tolfedine® yang memiliki kandungan tolfenamic acid secara intramuskular. Hasil menunjukkan perbaikan kondisi klinis dan pengembalian fungsi reproduksi yang dibuktikan dengan leleran yang keluar di vulva sapi tampak jernih dan kembalinya siklus normal birahi. Studi ini menegaskan pentingnya diagnosis terintegrasi dan penanganan tepat waktu dalam meningkatkan prognosis endometritis pada sapi perah.
Efikasi Infusa Daun Sawo Duren (Chrysophyllum Cainito L.) Sebagai Antidiare Pada Mencit (Mus Musculus) Istiqmal, Kahfi Aulia; Agungpriyono, Srihadi; Fadholly, Amaq
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.2.%p.

Abstract

Daun sawo duren (Chrysophyllum cainito L.) atau kenitu mengandung senyawa berupa alkaloid, fenol, sterol, triterpen dan flavonoid. Senyawa tersebut memiliki potensi sebagai sediaan antidiare. Penelitian ini bertujuan mengetahui efikasi antidiare infusa daun sawo duren dengan menggunakan metode proteksi intestinal dan mengetahui kandungan metabolit sekunder daun sawo duren menggunakan pemeriksaan fitokimia. Penelitian ini juga mencari konsentrasi sedian infusa daun sawo duren yang paling efektif sebagai antidiare pada mencit. Mencit jantan sebanyak 30 ekor dikelompokkan menjadi tiga kelompok yang terdiri atas dua kelompok kontrol yaitu kontrol positif berupa suspensi loperamide HCl dan kontrol negatif menggunakan Oleum ricini. Tiga kelompok perlakuan lainnya menggunakan infusa dengan konsentrasi bertingkat (25%, 50%, 100%). Data hasil penelitian antidiare diolah menggunakan aplikasi minitab-18 dengan metode uji one way ANOVA dan uji tukey. Hasil penelitian menunjukkan infusa daun sawo duren dengan konsentrasi 25%, 50%, dan 100% memiliki aktivitas antidiare.
Front Matter Vol 3 No 2 Jurnal Veteriner dan Biomedis
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.2.ii-iv.

Abstract

Front Matter
Back Matter Vol 3 No 2 Jurnal Veteriner dan Biomedis
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.2.v-vi.

Abstract

Back Matter
Efektivitas Ekstrak Daun Mimba sebagai Antiparasit Skabies pada Kelinci Hias Rex Pujiningtyas, Arum Tira Swara Ratna; Utami, Kartika Budi; Bintari, Intan Galuh
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 4 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.4.1.1-7

Abstract

Skabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei, umum menyerang kelinci dan berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas spray ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) sebagai antiparasit alami untuk pengobatan skabies pada kelinci hias Rex di usaha peternakan rakyat Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan: kontrol, spray mimba dosis 5%, 15%, 25%, serta obat kimia sebagai pembanding, masing-masing dengan empat ulangan. Parameter yang diamati meliputi prevalensi skabies, pertambahan bobot badan, pertumbuhan rambut, pengurangan area kerak, lama penyembuhan, dan analisis biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spray mimba dosis 15% paling efektif, meningkatkan bobot badan, mempercepat pertumbuhan rambut, mengurangi area kerak, dan lebih ekonomis dibandingkan obat kimia. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa spray ekstrak daun mimba dosis 15% merupakan alternatif alami yang efektif dan aman untuk menangani skabies pada kelinci hias Rex.
Penanganan Kasus Fraktur Tibia-Fibula pada Kucing Domestik di GloriaVet Pet Health Solution Bandung Rahma, Kinanti Dwi; Amani, Aqila Zata; Satyaningtijas, Aryani Sismin; Widhyari, Sus Derthi; Satriawan, Ivan; Pradianto, Bagus Ilham
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 4 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.4.1.8-14.

Abstract

Fraktur pada tibia dan fibula di kucing biasanya terjadi akibat trauma. Evaluasi fraktur yang tepat harus dilakukan untuk menentukan tindakan yang sesuai. Kucing Virgo didiagnosa mengalami fraktur comminuted reducible pada tibia dan fraktur short oblique akibat tertabrak mobil setelah dilakukannya diagnosa penunjang berupa hematologi dan radiografi. Hasil dari planning yang dilakukan adalah pemasangan implan berupa bone plate dan intramedullary pin untuk mengurangi gaya bending dan rotation pada tulang. Operasi yang dilakukan merupakan operasi reduksi terbuka. Pengobatan pasca operasi juga sangat penting. Pengobatan terdiri dari pemberian antibiotik, analgesik, antifibrinolitik, dan fisioterapi.
Analisis Perubahan Hematologi, Ureum dan Kreatin pada Kucing Domestik yang Menjalani Kastrasi dengan Anastesi Kombinasi Ketamin-Xylazin dan Ketamin-Acepromazine Abdurrahman, Farid; Kristanto, Dwi; Adikara, Yuanara Augusta Rahmat; Indasari, Elly Nur; Prasetyo, Dodik
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 4 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.4.1.15-20.

Abstract

Kastrasi merupakan prosedur bedah umum pada kucing jantan untuk menghilangkan kemampuan reproduksi dan menekan perilaku seperti spraying dan agresivitas. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas dan keamanan dua kombinasi anestesi, Ketamin–Acepromazin (K1) dan Ketamin–Xylazin (K2), pada prosedur kastrasi terbuka melalui insisi skrotal. Kombinasi anestesi dipilih berdasarkan durasi kerja, efek analgesia, dan kestabilan fisiologis selama tindakan singkat (±15–30 menit). Evaluasi dilakukan melalui skor ASA serta analisis hematologi (RBC, HB, HCT, WBC, PLT) dan biokimia (urea, kreatinin) sebelum dan 24 jam setelah anestesi. Semua subjek berada dalam kategori ASA 1 dan 2, menandakan risiko anestesi rendah. Pada baseline, Kelompok K2 memiliki nilai RBC, HB, dan HCT lebih tinggi secara signifikan dibanding K1, namun tidak ada perbedaan antar kelompok setelah 24 jam. Penurunan kreatinin pada K1 mengindikasikan pemulihan fungsi ginjal, sedangkan urea sedikit lebih tinggi dari referensi tetapi tetap normal. Kedua kombinasi anestesi menunjukkan kestabilan fisiologis tanpa komplikasi serius. Kombinasi Ketamin–Xylazin memberikan sedasi dan analgesia lebih kuat dengan respons hematologi adaptif terhadap stres. Penelitian ini mendukung penggunaan kedua kombinasi anestesi untuk kastrasi kucing sehat, serta menekankan pentingnya pemantauan fisiologis dan biokimia guna menjamin keselamatan hewan.
Deteksi Gen Resistansi Antibiotik Golongan Tetrasiklin pada Escherichia coli yang Diisolasi dari Kotoran Sapi Perah di Kota Bogor Kusuma, Nurlita Indah; Elsharkawy, Sara; Tiuria, Risa; Latif, Hadri
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 4 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.4.1.21-27.

Abstract

Escherichia coli (E. coli) merupakan bakteri indikator resistansi antibiotik yang banyak teridentifikasi pada kotoran sapi perah dan dapat menjadi reservoir utama dalam penyebaran gen resistansi antibiotik dari peternakan ke lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan mendeteksi dan menganalisis keberadaan gen resistansi antibiotik golongan tetrasiklin (tet) pada E. coli yang diisolasi dari kotoran sapi perah di Kota Bogor. Sebanyak 15 isolat E. coli dari 15 peternakan di Peternakan Sapi Perah Kebon Pedes, Kota Bogor yang telah dikonfirmasi pada penelitian sebelumnya, kemudian dilakukan deteksi gen tet menggunakan MinION Oxford Nanopore Technologies. Hasil pengujian menunjukkan 8 dari 15 (53,3%) isolat E. coli teridentifikasi membawa gen tet dengan pola distribusi satu hingga dua gen per isolat. Gen yang paling banyak ditemukan adalah tetB (20%), diikuti oleh tetA, tetM, dan tetO dengan persentase yang sama (7%).  Sebanyak 60% gen yang teridentifikasi berasal dari plasmid dan 40% lainnya berasal dari kromosom. Dominasi gen pada plasmid mengindikasikan tingginya potensi penyebaran gen resistansi ke lingkungan sekitar, yang berisiko terhadap kesehatan masyarakat.
Diagnosa dan Penanganan Kasus Feline Ceruminous Cystomatosis pada Kucing Persia di DNA Animal Clinic Bogor Husna, Safira Mustafida; Daroendio, R. Soenarti; Widyaputri, Tiara
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 4 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.4.1.28-33.

Abstract

Feline ceruminous cystomatosis merupakan kondisi proliferatif jinak pada kelenjar serumen kucing yang ditandai dengan pembentukan kista multipel berisi cairan pada liang telinga. Kondisi ini dapat menimbulkan bau tidak sedap, akumulasi serumen, dan terbentuk massa pada telinga. Studi kasus ini bertujuan menggambarkan proses diagnosis dan penanganan feline ceruminous cystomatosis pada seekor kucing Persia berusia 8 tahun. Pasien datang dengan keluhan bau telinga dan benjolan pada liang telinga. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik, Fine Needle Aspiration (FNA), sitologi, serta pemeriksaan hematologi dan kimia darah. Sitologi menunjukkan kelompok sel epitel sekretori dengan morfologi seragam, pleomorfisme minimal, serta anisositosis dan anisokariosis ringan, konsisten dengan proliferasi jinak kelenjar serumen. Pemeriksaan hematologi mengidentifikasi polisitemia relatif, anisositosis, dan trombositopenia, sementara profil kimia darah normal. Berdasarkan temuan tersebut, pasien didiagnosis dengan feline ceruminous cystomatosis dengan prognosa fausta. Penanganan dilakukan dengan prosedur electrosurgery untuk eksisi nodul kistik. Prosedur berlangsung tanpa komplikasi dan pasien menunjukkan pemulihan klinis yang baik pascaoperasi. Temuan ini menegaskan pentingnya evaluasi sitologi dan pemilihan teknik pembedahan yang tepat untuk mencapai hasil terapeutik optimal.