cover
Contact Name
Amaq Fadholly
Contact Email
Amaqfadholly@apps.ipb.ac.id
Phone
+6285784750924
Journal Mail Official
jvetbiomed@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Jalan Agatis Kampus IPB Dramaga, Bogor, 16680, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Veteriner dan Biomedis
ISSN : -     EISSN : 29872257     DOI : https://doi.org/10.29244/jvetbiomed
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Veteriner dan Biomedis bertujuan untuk menerbitkan dan menyebarluaskan kajian ilmiah hasil penelitian, pemikiran, dan kajian analisis-kritis mengenai penelitian bidang ilmu kedokteran hewan dan ilmu biomedis. Jurnal Veteriner dan Biomedis menerima artikel ilmiah dengan ruang lingkup penelitian di bidang Kedokteran Dasar Veteriner, Reproduksi Veteriner, Kesehatan Masayarakat Veteriner, Klinik Veteriner, Mikrobiologi Medis, Biologi Molekular, Biomedis, dan topik kajian lainnya yang relevan.
Articles 55 Documents
Penanganan Kasus Pyometra Pada Kucing Betina dengan Metode Ovariohysterectomy di Petologi Veterinary Center Adila, Nirmala Sekar; Sutarso; Habib Syaiful Arif Tuska; Fidi Nur Aini Eka Puji Dameanti; Ricadonna Raissa
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.1.58-63.

Abstract

Pyometra merupakan infeksi serius pada uterus yang sering dialami oleh kucing betina yang tidak disterilisasi. Penyebab utama penyakit ini adalah pengaruh hormon progesteron dan infeksi bakteri. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan fisik, hematologi, dan ultrasonografi. Pemeriksaan ultrasonografi pada kasus ini menunjukkan adanya penebalan dinding uterus serta akumulasi cairan pus di lumen uterus. Penanganan pada seekor kucing domestic betina berusia 10 bulan di Petologi Veterinary Center dilakukan melalui prosedur ovariohysterectomy. Tahap awal melibatkan persiapan pre-operasi, termasuk pemberian anestesi propofol, pemasangan endotracheal tube, dan sterilisasi area insisi. Selama operasi, uterus dan ovarium yang terinfeksi diangkat, diikuti dengan ligasi pembuluh darah menggunakan benang monofilament untuk mencegah perdarahan. Pasca operasi, pasien menerima perawatan intensif berupa pengobatan antibiotik (amoxiclav) untuk mengendalikan infeksi, analgesik (meloxicam dan tramadol) untuk mengurangi rasa sakit, serta perawatan luka secara berkala. Hasil evaluasi menunjukkan pemulihan yang baik tanpa komplikasi, mengonfirmasi bahwa ovariohysterectomy adalah metode yang efektif untuk menangani pyometra dan mencegah kekambuhan. Edukasi kepada pemilik hewan mengenai pentingnya sterilisasi dan kebersihan lingkungan sangat diperlukan untuk mengurangi risiko penyakit ini di masa depan. Studi ini memperkuat pentingnya kombinasi prosedur bedah dan terapi suportif dalam keberhasilan penyembuhan penyakit pyometra pada kucing.
Diagnosis dan Penanganan Stillbirth akibat Distokia Fetomaternal pada Kucing Domestik di Klinik Hewan KHJ Solo Bestari, Ade; Icha Yung; Tiara Widyaputri; Ricadonna Raissa; Handayu Untari
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.1.36-43.

Abstract

Seekor kucing betina domestik short hair berumur 1 tahun datang ke Klinik Hewan Jogja, Solo dengan keluhan kesulitan melahirkan. Pada pemeriksaan fisik diketahui terdapat fetus yang sudah mati tersangkut di saluran kelahiran, kucing tidak bisa melahirkan fetus lain yang tersisa, dan kucing mengalami dehidrasi. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya 3 fetus di dalam uterus dengan kondisi tidak hidup dan cairan amnion yang keruh. Pemeriksaan hematologi menunjukkan adanya leukositosis, granulositosis, monositosis, eosinopenia, penurunan nilai MCV, dan peningkatan nilai MCHC. Penanganan kasus ini adalah sectio caesar dan ovariohisterektomi dengan anestesi umum untuk menyelamatkan induk. Premedikasi yang digunakan adalah atropin sulfat 0,6 ml SC dan petidine 0,2 ml IV. Anestesi yang diberikan adalah propofol 0,2 ml IV. Perawatan pascaoperasi dengan terapi injeksi antibiotik ceftriaxone 0,8 ml IV, analgesik pethidine 0,2 ml IV, agen hemostatik asam traneksamat 0,8 ml IV, multivitamin Injektivit B-Plex 0,2 ml SC, dan ChannaFit 1 ml PO q 12h selama 5 hari. Pengobatan topikal diberikan salep gentamicin dengan kandungan antibiotik q24h selama 5 hari. Kucing Omeng dinyatakan sembuh setelah 5 hari pengobatan dengan luka jahitan yang sepenuhnya menyatu dan mengering.
Desain dan Analisis Algoritma Kuantifikasi pada Pengembangan Deteksi Otomatis Telur Strongyle untuk Diagnosis Helminthiasis Arif, Ridi; Hamida, Wanda; Wibowo, Bagas Dwi Suryo; Erlangga, Wishnu Kusumo Agung
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.2.134-140

Abstract

Infeksi cacing nematoda parasit sering menyebabkan kerugian bagi peternak karena sifatnya laten dan berjalan kronis. Beberapa kerugian ditimbulkan diantaranya adalah ternak mengalami gastroenteritis, anemia hingga kematian. Salah satu jenis infeksi paling umum adalah dari nematoda strongyle. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode cepat dan akurat dalam identifikasi dan kuantifikasi jumlah telur cacing tipe strongyle dengan algoritma YOLO. Melalui sistem tersebut diharapkan dapat menghemat waktu dalam mengidentifikasi, menghitung jumlah telur strongyle, dan meminimalisir kesalahan perhitungan sehingga diagnosis strongylidosis lebih efisien dilakukan. Metode penelitian yang digunakan yaitu pengambilan gambar telur strongyle hasil pemeriksaan laboratorium yang digunakan sebagai data set training. Data tersebut kemudian digunakan sebagai database training ke algoritma YOLO. Pengembangan algoritma dilakukan bersama PT. Voxeu Digital Kreatif sebagai mitra penelitian. Uji identifikasi menggunakan 233 gambar sampel dengan hasil analisis mendapatkan nilai precision 98,23%, recall 90,19% dan mAP50 96,32%. Uji kuantifikasi menggunakan 800 gambar yang berasal dari 16 sampel kemudian dibagi menjadi 2 data kelompok. Kelompok 1 mempunyai nilai akurasi 36,67% dan RMSE 5,35. Kelompok 2 mempunyai nilai akurasi 67,05% dan RMSE 2,37. Algoritma YOLO dapat digunakan untuk identifikasi dan kuantifikasi telur tipe strongyle secara otomatis sehingga nantinya dapat dimanfaatkan oleh laboran atau dokter hewan dalam membantu mendiagnosis helminthiasis.
Pengamatan Gejala Klinis Penggunaan Pilokarpin dan Atropin pada Mencit Fadholly, Amaq
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.1.64-68.

Abstract

Abstrak
Laporan Kasus: Efektivitas Prednisolone Dibandingkan dengan Madu Trigona pada Anjing Penderita Dermatitis Atopik Prasetyo, Bayu Febram; Fikram, Muhammad; Mifthadillah, Sekar Ayu; Khamidah, Nabila Nurrisma; Aziziah, Nurul Madinah; Ghazali, Farhan Rizqy; Natawiria, Maria Stella Linda
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.2.%p.

Abstract

Dermatitis atopik pada anjing merupakan penyakit kulit kompleks dengan etiologi multifaktorial, melibatkan peradangan alergi dan infeksi sekunder. Studi ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas pengobatan non- herbal dan herbal pada dua kasus anjing penderita dermatitis atopik di Rumah Sakit Hewan Pendidikan IPB. Anjing Glory diobati menggunakan kombinasi kortikosteroid oral, suplemen kulit, spray topikal anti alergi, dan shampoo medikasi, menunjukkan perbaikan signifikan dalam 14 hari. Sebaliknya, anjing Kacang yang hanya menerima kapsul madu trigona memerlukan waktu 30 hari untuk mencapai pemulihan klinis. Hasil ini mengindikasikan bahwa pengobatan non-herbal lebih cepat dalam mengatasi gejala klinis dibandingkan herbal, seperti madu trigona, meskipun berpotensi menyebabkan efek samping. Pemilihan terapi harus mempertimbangkan efektivitas, keamanan, dan tingkat keparahan penyakit untuk memastikan hasil yang optimal dan mencegah komplikasi.
Tatalaksana Penanganan Kasus Abortus pada Kucing Persia di Karlos Satwa Medika Malang Tariza Dheya, Nabila; Chandra Agustina, Galuh
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.2.%p.

Abstract

Abortus merupakan kematian yang terjadi pada masa kebuntingan dan dapat terjadi pada seluruh umur kebuntingan disertai adanya abnormalitas seperti belum lengkapnya perkembangan fetus yang dapat disebabkan oleh agen infeksius dan non infeksius. Kucing dibawa dengan keluhan keluarnya darah pada vulva dan berbau khas darah sejak hari sebelumnya dibawa ke klinik pada tanggal 3 Agustus 2024. Kucing diperkirakan kawin akhir bulan Juni 2024 atau awal bulan Juli 2024 dan pada pertengahan Juli 2024 pemilik mengadopsi kucing baru yang agresif. Hasil pemeriksaan fisiknya menunjukkan suhu tubuh normal (38,4°C), sedikit tampak letargi, nafsu makan dan minum menurun. Warna mukosa normal dan CRT <2 detik. Hasil pemeriksaan hematologi terjadi leukositosis dengan monositosis, limfositosis dan granulositosis, peningkatan MCHC dan MCH, penurunan RDW-SD serta adanya trombositopenia dengan kadar MPV rendah dan kadar P-LCR tinggi. Pemeriksaan USG menunjukkan fetus tidak ada pergerakan dan tidak ada detak jantung yang mengindikasikan bahwa fetus mengalami kematian. Pemeriksaan leleran vulva tampak infiltrasi sel limfosit, makrofag serta neutrofil dan adanya dugaan bakteri berbentuk basil pendek yang tersebar atau berkelompok kecil. Penanganan kasus abortus dilakukan dengan prosedur ovariohysterectomy.
Penanganan Kasus Pyometra Terbuka Pada Anjing Mix di Klinik Hewan Griya Satwa Lestari Semarang Samohan, Dezara Alshamla Samohan; Syaiful Arif Tuska, Habib; Ekha Puspitoyani, Putri
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.2.%p.

Abstract

Pyometra pada anjing didefinisikan sebagai suatu kondisi adanya akumulasi nanah dalam lumen uterus anjing betina. Pyometra sering menyerang anjing betina dewasa usia 10 tahun, namun dapat juga terjadi pada anjing muda yang belum pernah dikawinkan atau yang sudah beberapa kali melahirkan. Seekor anjing mix berjenis kelamin betina bernama Aiko berumur 13 tahun datang ke klinik dengan keluhan tidak mau makan, dan terdapat leleran keluar dari vulva berbau tidak sedap berwarna kecoklatan. Anjing aiko dalam keadaan quiet, alert, responsive, pemeriksaan suhu tubuh yaitu 38,0oC, berat badan 9,18 kg, dan mukosa berwarna pink, BCS anjing 2/5, turgor kulitnya >2s. Pemeriksaan penunjang berupa USG tampak adanya irregular thickening pada dinding uterus (endometrium) yang tampak hyperechoic. Hasil hematologi menunjukkan bahwa terdapat penurunan MCV, leukositosis, neutropenia, limfositosis, monositosis, eosinopenia, dan trombositopenia. Pemeriksaan kimia menunjukkan bahwa adanya peningkatan jumlah urea, total protein, dan globulin. Berdasarkan dari anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah lengkap dan diteguhkan dengan pemeriksaan ultrasonografi dapat disimpulkan bahwa anjing kasus mengalami pyometra terbuka. Penanganan kasus pyometra adalah dengan tindakan operasi Ovariohisterektomi dan pemberian terapi Cefixime (dosis 5mg/kg, PO, q12h), Rehmania® (1 caps, q12h), Rimadyl® (dosis 4 mg/kg, q12h), Bioplacenton (s.u.e), Ondansetron (dosis 0.2mg/kg). Kondisi anjing menunjukkan progress yang baik setelah 3 hari pasca operasi.
Profil Darah dan Temuan Histopatologi Ikan Mas (Cyprinus carpio) yang Termanifestasi Parasit Myxozoa sp. Santosa Asmali, Adik Sandia; Ghinayatul Ilmi, Dhea Putri; Mahdani, Alya Nur; Cassandra Gunawan, Jasmine Marcella; Suwiryono, Joko; Kurniasih, Ratna Amalia; Hartady, Tyagita
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.2.%p.

Abstract

Manifestasi parasit merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan penurunan tingkat kesehatan ikan. Parasit seperti Myxozoa sp. mengakibatkan gangguan pernapasan, abnormalitas cara berenang, hingga kongesti, dan perubahan warna insang menjadi pusat pada ikan mas karena menyerang kulit, insang, hingga organ internal ikan. Seekor ikan mas dengan berat badan 272,07 gram dan panjang tubuh 25,5 cm menunjukkan gejala klinis terlihat berenang di dasar kolam dengan pergerakan yang kurang aktif. Ikan tersebut selanjutnya dilakukan pemeriksaan di Laboratorium Patologi Balai Pemeriksaan Kesehatan Ikan dan Lingkungan Serang. Pemeriksaan meliputi pemeriksaan parasit, ulas darah, perhitungan hematokrit, hemoglobin, sel darah merah dan sel darah putih, diferensial leukosit, serta pemeriksaan patologi yang terdiri dari nekropsi dan pengamatan preparat histopatologi. Hasil pemeriksaan menunjukkan ikan mas mengalami manifestasi parasit Myxozoa sp. disertai temuan parasit Dactylogyrus sp. Profil darah menunjukkan adanya kelainan pada nilai hemoglobin dan sel darah putih. Abnormalitas histopatologi terlihat pada organ insang, hati, limpa, ginjal, dan usus.
Perbandingan Tingkat Kematian Daphnia magna yang Dipapar Aspirin, Parasetamol, dan Kombinasinya pada Berbagai Dosis Sajidah, Halilah Wafa’; Pristihadi, Diah Nugrahani; Fadholly, Amaq; Firdaus, Munira Laeli; Saragih, Mariah Mada Rahma Nauli; Hanum, Nur Aisah; Iryanto, Anetonia Felicia; Putri, Imelya Andira; Putri, Ramadita Aisyah
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.2.%p.

Abstract

Aspirin memiliki efek analgesik, tetapi sifat asamnya dapat merusak saluran cerna, sehingga aspirin dikombinasikan dengan parasetamol untuk meningkatkan efek analgesik sekaligus menurunkan dosis. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi toksik dan nilai lethal concentration 50 (LC50) setelah paparan 24 jam kombinasi aspirin-parasetamol dibanding kedua obat tunggalnya pada Daphnia magna. Uji menggunakan media air hijau dengan 11 konsentrasi bertingkat sampai 1.800 ppm. Parameter yang diamati meliputi jumlah individu immobile, jumlah kematian, pH air, dan kadar oksigen terlarut pasca paparan. Angka kematian diuji Probit untuk mendapatkan nilai LC50 dan dilanjutkan dengan ANOVA serta Uji Tukey untuk membandingkan potensi toksisitas antar kelompok. Parameter lingkungan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa aspirin, parasetamol, dan kombinasinya dapat menyebabkan imobilisasi dan kematian pada Daphnia magna. Aspirin dan kombinasi aspirin-parasetamol menurunkan pH air hingga di bawah ambang toleransi Daphnia, tetapi tidak mempengaruhi kadar oksigen terlarut pada media air hijau. Aspirin memiliki LC50 sebesar 164,79 ppm dan secara signifikan lebih toksik dibandingkan parasetamol (LC50 = 657,34 ppm; p < 0,05). Kombinasi aspirin-parasetamol menghasilkan LC50 sebesar 403,94 ppm yang tidak berbeda nyata dibandingkan keduanya. Berdasarkan hasil ini, paparan sediaan aspirin, parasetamol, dan kombinasi aspirin-parasetamol secara akut dikategorikan sebagai sediaan praktis tidak toksik pada Daphnia magna.
Impact of Spirulina platensis Extract as an Immunostimulant on the Histopathological Intestinal of Tilapia Fish (Oreochromis niloticus) Infected with Aeromonas salmonicida Ramadhan, Maharani Kartika; Kurniasih; Untari, Tri; Fadholly, Amaq
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.2.%p.

Abstract

Furunculosis in fish results in financial detriment to freshwater aquaculture in Indonesia. Furunculosis, an infectious disease produced by Aeromonas salmonicida, presents a considerable risk to the large-scale farming of both salmonid and non-salmonid species in freshwater environments. This study sought to evaluate the impact of Spirulina platensis extract on the histopatological intestinal health of tilapia infected with Aeromonas salmonicida. Thirty tilapia, each around 10 cm in length, were distributed into five groups. Negative control (P0-) without immersion in Spirulina platensis extract and free from Aeromonas salmonicida infection. Positive control (P0 +) not immersed in Spirulina platensis extract, infected with Aeromonas salmonicida. Tilapia subjected to doses of 400 mg/L (P1), 600 mg/L (P2), and 800 mg/L (P3) The extraction of Spirulina platensis occurred for three hours on the seventh day (first immersion) and the fourteenth day (second immersion), followed by an evaluation of Aeromonas salmonicida infection on the twenty-first day. A necropsy of the fish was performed on day 28. Histopathological analysis revealed that Spirulina platensis extract reduced intestinal villous erosion and inflammatory cell density in the intestines of tilapia. Immunohistochemical staining demonstrated a decrease in the presence of Aeromonas salmonicida within intestinal tissue at a dosage of 800 mg/L. This work indicates that more research is necessary to examine the histological features of the intestines of tilapia infected with Aeromonas salmonicida with those supplemented with Spirulina platensis through feed.