cover
Contact Name
Amaq Fadholly
Contact Email
Amaqfadholly@apps.ipb.ac.id
Phone
+6285784750924
Journal Mail Official
jvetbiomed@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Jalan Agatis Kampus IPB Dramaga, Bogor, 16680, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Veteriner dan Biomedis
ISSN : -     EISSN : 29872257     DOI : https://doi.org/10.29244/jvetbiomed
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Veteriner dan Biomedis bertujuan untuk menerbitkan dan menyebarluaskan kajian ilmiah hasil penelitian, pemikiran, dan kajian analisis-kritis mengenai penelitian bidang ilmu kedokteran hewan dan ilmu biomedis. Jurnal Veteriner dan Biomedis menerima artikel ilmiah dengan ruang lingkup penelitian di bidang Kedokteran Dasar Veteriner, Reproduksi Veteriner, Kesehatan Masayarakat Veteriner, Klinik Veteriner, Mikrobiologi Medis, Biologi Molekular, Biomedis, dan topik kajian lainnya yang relevan.
Articles 55 Documents
Uji Toksisitas Akut Sari Buah Apel (Malus domestica) pada Mencit (Mus musculus) Ifana, Cindy Anola; Andriyanto; Pristihadi, Diah Nugrahani
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 2 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.2.1.22-28.

Abstract

Sari buah apel banyak beredar dan dikonsumsi masyarakat sebagai minuman dengan kandungan nutrisi tinggi. Berbagai potensi sari buah apel sebagai bahan alami perlu didukung oleh informasi mengenai tingkat keamanannya. Tingkat keamanan penggunaan sari buah apel dapat diuji dengan uji toksisitas. Pengujian dilakukan pada 20 ekor mencit betina yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok perlakuan dosis 0 g/kg BB diberi aquades, sedangkan kelompok lain diberi sari buah apel dengan dosis pemberian 5, 10, 15, dan 20 g/kg BB dalam dosis tunggal secara peroral. Mortalitas, respon fisiologis, dan gejala klinis diamati selama 14 hari setelah satu kali pemberian sediaan. Parameter lain yang diamati pada penelitian ini yaitu bobot badan, bobot organ absolut, bobot organ relatif, dan makro anatomi organ. Hasil pengujian toksisitas akut pada sari buah apel tidak menyebabkan perbedaan yang nyata terhadap gejala klinis, bobot badan, bobot organ, makroanatomi organ, maupun tingkat kematian. Disimpulkan bahwa sari buah apel termasuk ke dalam sediaan yang bersifat praktis tidak membahayakan.
Efek Potensial Sari Buah Apel (Malus domestica) sebagai Penumbuh Rambut pada Tikus (Rattus norvegicus) Nur Nabilla, Cintya; Andriyanto; Subangkit, Mawar
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 2 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.2.1.29-34.

Abstract

Rambut berfungsi untuk memberikan kehangatan, perlindungan, keindahan serta penunjang penampilan. Kerontokan rambut yang dapat mengakibatkan kebotakan merupakan salah satu problema yang paling dikhawatirkan setiap orang. Kebotakan biasanya diobati dengan mengkonsumsi obat tertentu namun keamanan dari obat-obatan tersebut belum tentu terjamin. Bahan alami menjadi salah satu alternatif yang dapat dipilih, diantaranya adalah sari buah apel (Malus domestica). Penelitian ini bertujuan menguji dan mempelajari efektivitas sari buah apel sebagai penumbuh rambut serta menganalisis frekuensi pengolesan terbaik dengan parameter pertumbuhan rambut dan reaksi iritasi pada tikus (Rattus norvegicus). Sebanyak 6 ekor tikus dibagi menjadi 4 perlakuan pada masing-masing tikus yaitu kontrol (tidak diberi olesan), 1 kali oles sehari, 2 kali oles sehari, dan 3 kali oles sehari. Pengukuran panjang rambut tikus dilakukan pada hari ke-6, 9, 12, dan 15 serta menganalisis skor eritema dan edema atau Primary Dermal Irritation Index (PDII). Hasil penelitian menunjukkan sari buah apel memiliki efek yang signifikan sebagai pemacu pertumbuhan rambut. Pemberian olesan sebanyak 3 kali sehari menjadi kelompok dengan frekuensi pemberian olesan terbaik karena memiliki perbedaan nyata terhadap kelompok kontrol. Tidak ada reaksi iritasi yang ditimbulkan dari sari buah apel saat dilakukan uji iritasi pada tikus.
Phytochemical Potential of Maggot Extract Antimicrobial for Escherichia Colisp. in Diabetic Ulcers of Diabetes Mellitus II Fariz, Fariz Jordan Fadillah; Khairani, Nada; Febriana, Dhimas Galih; Salma, Firda Nazhira; Kasanah, Elsa Sopiatul; Rahmah, Desy Laila
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 2 No. 2 (2024): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.2.2.61-67.

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disorder related to the relative deficiency of insulin secretion, affecting the metabolism of carbohydrates, fats, and proteins, leading to chronic hyperglycemia caused by genetic and environmental factors. This condition significantly impacts the quality of life, primarily due to complications such as diabetic ulcers. Diabetic foot ulcers are non-traumatic lesions on the skin of the foot in individuals with diabetes mellitus, resulting from repeated pressure and associated diabetes complications related to peripheral neuropathy. The healing of wounds can be facilitated through Maggot Debridement Therapy, a treatment involving the application of maggots or larvae of the Black Soldier Fly (BSF). These maggots secrete enzymes that dissolve necrotic tissue, disinfect the wound, and stimulate wound healing. This study aims to analyze the effectiveness of methanol extract from Maggot (H. illucens) in inhibiting the migration of bacterial cultures and its potential as an antimicrobial agent against bacteria found in diabetic foot ulcers (DM II). The maggot was extracted using the maceration method with methanol, and its content was determined through phytochemical and GC-MS tests. The antibacterial test was conducted using E. coli. Phytochemical testing revealed that the methanol extract of maggot contains saponin, as evidenced by the formation of foam after the addition of distilled water and agitation. The results of the antibacterial test indicated that the methanol extract of Maggot (Hermetia illucens) can inhibit the growth of Escherichia coli bacteria concentration of 12,5%.
Sintesis Antihelmintik Nanoherbal Daun Pepaya dan Kemangi dengan Teknik Ultrasonikasi serta Efikasinya Secara In Vivo: The Efficacy of Papaya Leaves and Basil Leaves Synthesis as Nano Herbal Anthelmintic using Ultrasonication In Vivo Test Islami, Nurfara; Arif, Ridi; Reflianti, Reza Mahdiah; Anum, Tasya
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 2 No. 2 (2024): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.2.2.68-73.

Abstract

Infeksi cacing parasit Haemonchus contortus atau haemonchosis yang sering menyerang ruminansia kecil seperti domba dan kambing merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi peternak. Minimnya pengetahuan mengenai penyakit ini serta pengulangan penggunaan antibiotik yang tidak memiliki banyak variasi menyebabkan kerugian ekonomi yang disertai dengan kejadian resistensi antihelmintik. Herbal seperti daun papaya dan kemangi dikenal memiliki zat aktif sebagai antihelmintik serta berpotensi digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan antihelmintik sintetik. Modifikasi sediaan herbal melalui penerapan teknologi nano diharapkan mampu meningkatkan efikasi kedua herbal tersebut sebagai antihelmintik. Pada penelitian ini, pembuatan nano herbal dilakukan dengan membuat maserasi ekstrak daun papaya dan daun kemangi. Selanjutnya, ekstraksi tersebut kemudian dilanjutkan dengan proses homogenisasi emulsi dan ultrasonikasi. Hasil dari ultrasonikasi kemudian diuji menggunakan Particle Size Analyzer (PSA) untuk mengetahui distribusi ukuran partikel. Nilai rataan ukuran kedua sampel tersebut sebesar 921.35 nm. Pada pengujian secara in vivo, pemberian dosis tunggal nanoherbal memberikan hasil kecenderungan penurunan jumlah telur cacing pada kelompok herbal dengan dosis 350 mg/kgBB di hari ke-3 dan hari ke-7 post treatment. Nano herbal kombinasi daun papaya dan daun kemangi dapat berperan sebagai antihelmintik potensial untuk mengatasi haemonchosis pada ruminansia kecil.
Nilai RBC dan RDW Tikus Model Sepsis yang Diterapi dengan Ekstrak Kecoa Periplaneta americana Aritonang, Erfan Andrianto; Gunanti; Rini Madyastuti Purwono; Supriyono
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 2 No. 2 (2024): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.2.2.74-78.

Abstract

Red Blood Cell (RBC) dan Red blood cell Distribution Width (RDW) merupakan variabel hematologi yang banyak dikaji sebagai biomarker sepsis dan prediktor mortalitas pasien sepsis yang dirawat secara intensif. Penelitian ini bertujuan untuk menanalisis potensi EKP sebagai terapi sepsis tikus model melalui variabel nilai RBC dan RDW. Ekstraksi kecoa P. americana menggunakan metode maserasi dengan etanol 70%. Induksi sepsis pada tikus model menggunakan metode bedah cecal ligation and puncture. Tikus model sepsis dibagi menjadi empat kelompok terapi yaitu NaCl 0,9%, deksametason 0,75 mg/kg, EKP 50 mg/kg, dan EKP 100 mg/kg. Terapi dilakukan secara per oral 24 dan 36 jam setelah bedah CLP. Rataan nilai RBC setelah induksi sepsis dan diterapi masing-masing sebesar 6,76; 7,82; 8,01; dan 6,80. Persentase nilai RDW setelah induksi sepsis dan diterapi masing-masing sebesar 14,7; 13,75; 13,88; dan 14,26. Hasil penelitian menunjukan tidak adanya perbedaan signifikan antara setiap kelompok (P > 0,05), namun nilai RBC dan RDW lebih baik pada kelompok yang diterapi dengan deksametason dan EKP 50 mg/kg. Kesimpulan dari penelitian ini adalah EKP 50 mg/kg berpotensi sebagai terapi sepsis berdasarkan nilai RBC dan RDW tikus model sepsis.
Pemberian Ekstrak Air Bidara Laut (Strychnos Ligustrina) terhadap Diferensial Leukosit Mencit yang diinfeksi dengan Plasmodium berghei Nurridho Wahid, Muhammad; Cahyaningsih, Umi; Nugraha, Arifin
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 2 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.2.1.35-42.

Abstract

Plasmodium berghei merupakan hemoprotozoa penyebab penyakit malaria pada mencit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ekstrak air bidara laut terhadap gambaran diferensial leukosit pada mencit yang diinfeksi Plasmodium berghei. Penelitian ini menggunakan 49 ekor mencit Balb/c, dibagi menjadi 7 kelompok yaitu kontrol normal (KN), kontrol infeksi tanpa perlakuan (KI), kontrol infeksi yang diberikan perlakuan obat kombinasi dihydroartemisinin 25 mg/kgbb dan piperakuin fosfat dosis 197 mg/kgbb (K0), EAa (ekstrak aquades), EAb (ekstrak aquades : DHF = 1:1), EAc (ekstrak aquades : DHF = 1:2), EAd (ekstrak aquades : DHF = 2:1). Kecuali KN, semua kelompok mencit diinfeksi Plasmodium berghei sebanyak 1 x 10 6 /ml secara intraperitoneal. Setiap hari diambil darah dari ekor mencit, dibuat apusan tipis dan dilakukan pewarnaan dengan Giemsa 10%, kemudian dilakukan perhitungan diferensial leukosit. Nilai rata-rata persentase diferensial leukosit diolah menggunakan uji ANOVA dan perbedaan hasil persentase pada masing-masing kelompok diketahui dengan menggunakan uji Duncan menggunakan software SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pada kelompok EAa dan EAd mengalami penurunan persentase neutrofil dan meningkatkan persentase limfosit pada hari ke 6 setelah infeksi. Persentase monosit, eosinofil dan basofil tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pengobatan ekstrak air bidara laut dan DHF berpotensi sebagai obat antimalaria dengan menurunkan tingkat parasitemia dan meningkatkan persentase limfosit.
Studi Kasus: Terapi Prostatitis Disertai Urolithiasis pada Anjing Lokal Diaz, Fariz Arrachman; Nurdiansyah, Rio Dwi Haryadi; Bachmid, Salma Safitri; Mufida, Anis Arifatu; May, Ng U; Purwono, Rini Madyastuti; Fitri, Arni Diana; Budiono, Novericko Ginger; Prasetyo, Bayu Febram; Sutardi, Lina Noviyanti; Anisa, Rahma
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 2 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.2.1.43-47.

Abstract

Prostatitis pada anjing dapat disertai dengan urolithiasis. Keduanya dapat disebabkan oleh adanya infeksi bakteri yang masuk melalui saluran kemih. Anjing bernama Momo yang merupakan pasien RSHP IPB University datang dengan keluhan stranguria, hematuria, muntah, dan susah makan di malam sebelumnya. Pemeriksaan dilakukan dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang ultrasonography (USG). Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Momo menderita urolithiasis disertai prostatitis. Sediaan Cefixime, Batugin® Elixir, Meloxicam, Glucosamine, Asam Traneksamat, dan pakan Royal Canin Urinary® diberikan sebagai penanganan. Kumpulan sediaan tersebut diberikan dalam rangka terapi kausatif dan simptomatik dari kasus urolithiasis disertai prostatitis.
Ekstrak Herba Seledri (Apium Graveolens L.) (Microwave-Assisted Extraction) Sebagai Antipiretik Pada Mencit Jantan Yang Diinduksi Demam Dengan Vaksin Dpt-Hb-Hib Rahminiwati, Min; Indriani, Lusi; Hidayanti, Tiyan
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 2 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.2.1.48-55.

Abstract

Seledri (Apium graveolens L) mengandung flavonoid, suatu senyawa yang dilaporkan mempunyai efek antiinflamasi melalui mekanisme inhibisi terhadap cyclo oxidase yakni suatu enzim yang berperan penting dalam proses demam terkait peradangan. Flavonoid mempunyai kelarutan yang baik dalam pelarut polar seperti alkohol. Dengan mempertimbangkan Microwave-Assisted Extraction merupakan salah satu cara penarikan flavonoid yang lebih baik dibandingkan dengan maserasi konvensional, penelitian ini dilakukan untuk menetapkan efektivitas ekstrak etanol 70% herba seledri hasil dari MAE sebagai antipiretik pada mencit yang diinduksi vaksin DPT-HB-HIB. Penelitian dilakukan pada 25 ekor mencit yang dibagi menjadi lima kelompok perlakuan yakni kelompok yang diberi CMC Na 0,5 % sebagai kontrol negatif, paracetamol 1,82 mg/20 g BB sebagai kontrol positif dan ekstrak herba seledri dosis 2, 4, dan 6 mg/20 g BB sebagai kelompok perlakuan. Sediaan diberikan peroral pada mencit yang mengalami demam setelah divaksin dengan DPT. Pengukuran suhu tubuh dilakukan sebelum dan sesudah di vaksin DPT dan setiap 15 menit sekali selama perlakuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak herba seledri dapat menurunkan suhu tubuh mencit. Efek terbaik terjadi pada dosis 6 mg/20 g BB dan efeknya setara dengan kontrol positif. Sedangkan onset paling cepat terjadi pada menit ke-30 pada dosis 4 mg/20 gBB. Dengan demikian ekstrak herba seledri hasil MAE potensial sebagai antipiretik.
Sitotoksisitas Ekstrak Cabe Merah Keriting (Capsicum annum) Terhadap Hela Cell Lines Fadholly, Amaq
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 2 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.2.1.56-60.

Abstract

Kanker merupakan suatu penyakit sel yang ditandai dengan hilangnya fungsi kontrol sel terhadap regulasi daur sel maupun fungsi homeostatis sel pada organisme multiseluler. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek sitotoksik dan nilai IC50 dari esktrak Capsium annuum pada cell line HeLa sebagai salah satu sel uji untuk kanker serviks. Uji aktivitas sitotoksik ekstrak Capsicum annuum dilakukan dengan memberikan 5 seri konsentrasi bahan uji yaitu 50 μg/ml, 100 μg/ml, 200 μg/ml, dan 400 μg/ml pada HeLa cell lines yang kemudian diinkubasikan selama 24 jam. Penghitungan sel dilakukan setelah pemberian MTT dan SDS stopper. Persentase inhibisi yang dihasilkan dari masing-masing konsentrasi sampel uji secara berturut-turut adalah 17,98%, 23,88%, 32,64%, dan 45,62%. Ekstrak Capsicum annuum mempunyai nilai IC50 sebesar 1,098 μg/mL. Berdasarkan data dari National Cancer Institute nilai IC50 dari Capsicum annuum terhadap HeLa cell lines termasuk dalam kategori sitotoksisitas lemah. Sehingga dapat disimpulkan ekstrak Capsicum annuum tidak bersifat sitotoksik terhadap HeLa cell lines.
Potensi Tanaman Alpukat (Persea americana Mill) dalam Bidang Dermatologi Sebayang, Shalina; Rayendra, Raendi; Wientarsih, Ietje; Priosoeryanto, Bambang Pontjo
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 2 No. 2 (2024): September
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.2.2.79-85.

Abstract

Penggunaan obat tradisional yang berasal dari tanaman dapat menjadi alternatif untuk mengatasi masalah kulit. Tanaman alpukat (Persea americana Mill.) diketahui memiliki banyak khasiat karena mengandung flavonoid, saponin, tannin, alkaloid, steroid, dan fenol yang merupakan antioksidan yang berperan dalam menangkal radikal bebas, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif terapi pada beberapa kelainan kulit, serta menjaga kualitas dan penampilan kulit. Metode yang digunakan oleh penulis adalah kajian literatur dari jurnal nasional maupun internasional. Artikel dan jurnal yang didapat dibaca, ditelaah dan dianalisis untuk memberikan informasi baru yang relevan. Hasil penelusuran didapatkan bahwa tanaman alpukat, baik dari daging buah, daun, biji dan kulit memiliki khasiat dalam bidang dermatologi, diantaranya yaitu sebagai antibakteri pada antijerawat, antijamur, tabir surya, agen pemutih, pelembab kulit, dan antiaging. Dapat disimpulkan bahwa tanaman alpukat dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengatasi berbagai masalah kulit, walaupun masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menggali lebih banyak manfaat lain dari tanaman alpukat dalam bidang dermatologi. Kata kunci: Alpukat, Persea americana Mill, dermatologi.