cover
Contact Name
Yonce Melyanus Killa
Contact Email
yonce@unkriswina.ac.id
Phone
+6285239055401
Journal Mail Official
jts@unkriswina.ac.id
Editorial Address
Jalan R. Suprapto No. 35, Waingapu, Prailiu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur., Indonesia
Location
Kab. sumba timur,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
SANDALWOOD JOURNAL OF AGRIBUSINESS AND AGROTECHNOLOGY (SJAA)
ISSN : -     EISSN : 30251818     DOI : https://doi.org/10.58300/jts.v1i1
Core Subject : Agriculture,
Sandalwood Journal Of Agribusiness And Agrotechnology (SJAA) menitikberatkan perhatian pada pengembangan keilmuan di bidang pertanian dalam arti luas yang mencakup budidaya tanaman, tanah dan lahan pertanian, hama dan penyakit tumbuhan, teknologi pascapanen, agribisnis, sosial ekonomi pertanian, dan pengembangan teknologi pertanian.
Articles 56 Documents
Analisis Risiko Usahatani Padi Sawah Di Desa Tebara Kecamatan Kota Waikabubak Kabupaten Sumba Barat Deksi Sida Gallu Moni; Febynigsi R. L. Mbana
Sandalwood Journal Of Agribusiness And Agrotechnology Vol. 4 No. 1 (2026): Edisi Mei 2026 (SJAA)
Publisher : Prodi Agroteknologi dan Agribisnis - Universitas Kristen Wira Wacana Sumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58300/n780s943

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan serta tingkat risiko usahatani padi sawah di Desa Tebara, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut salah satu yang berproduksi padi sawah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus 2025. Metode pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah responden sebanyak 84 petani yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dari total populasi 538 petani. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan sekunder, yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif, meliputi analisis pendapatan dan analisis risiko menggunakan koefisien variasi (CV). Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan usahatani padi sawah sebesar Rp12.471.264 per hektar per musim tanam, yang menunjukkan bahwa usahatani masih menguntungkan dan layak untuk diusahakan. Tingkat risiko produksi tergolong rendah dengan nilai CV sebesar 0,28, sedangkan risiko harga juga tergolong rendah dengan nilai CV sebesar 0,04. Namun, risiko pendapatan tergolong tinggi dengan nilai CV sebesar 0,67, yang mengindikasikan adanya fluktuasi pendapatan yang cukup besar antar petani maupun antar musim tanam. Dengan demikian, meskipun usahatani padi sawah di Desa Tebara memberikan keuntungan dan memiliki risiko produksi serta harga yang relatif stabil, petani masih menghadapi risiko pendapatan yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan biaya dan peningkatan efisiensi usahatani guna meminimalkan risiko pendapatan yang dihadapi petani.
Analisis Antioksidan Dan Organoleptik Teh Herbal Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) Yuan Ardani Malo; Melycorianda Hubi Ndapamuri; Lusia Danga Lewu
Sandalwood Journal Of Agribusiness And Agrotechnology Vol. 4 No. 1 (2026): Edisi Mei 2026 (SJAA)
Publisher : Prodi Agroteknologi dan Agribisnis - Universitas Kristen Wira Wacana Sumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58300/jb988855

Abstract

Tanaman buah naga termasuk tanaman tropis. Curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman ini sekitar 60 mm/bulan atau 720 mm/tahun. Bagian buah naga yang sering dimanfaatkan adalah bagian daging buah yang berwarna merah, putih ataupun ungu sedangkan kulitnya yang mempunyai berat 30 - 35% dari berat buah belum dimanfaatkan secara maksimal dan hanya dibuang sebagai sampah, padahal kulit buah naga mengandung zat bioaktif yang bermanfaat bagi tubuh antara lain antioksidan (dalam bentuk asam askorbat, betakaroten, dan antosianin), dan serat pangan (dalam bentuk pektin). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas antioksidan dan karakteristik organoleptik teh herbal kulit buah naga merah ( Hylocereus polyrhizus ) berdasarkan variasi suhu dan lama pengeringan. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan perlakuan kombinasi suhu pengeringan (50°C, 75°C, dan 100°C) serta lama pengeringan (18 jam, 21 jam, dan 24 jam). Analisis dilakukan terhadap aktivitas antioksidan menggunakan nilai IC50 serta pengujian organoleptik meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur dengan metode hedonik menggunakan 25 panelis pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu dan lama pengeringan mempengaruhi aktivitas antioksidan dan tingkat kesukaan panelis terhadap teh herbal kulit buah naga merah. Nilai aktivitas antioksidan terbaik diperoleh pada perlakuan A3B3 (100°C/24 jam) dengan nilai IC50 sebesar 1.814,720 ppm. Hasil organoleptik menunjukkan bahwa warna yang paling disukai terdapat pada perlakuan A1B3 (50°C/24 jam), aroma pada perlakuan A1B1 (50°C/18 jam), rasa pada perlakuan A2B3 (75°C/24 jam), dan tekstur pada perlakuan A3B1 (100°C/18 jam). Secara umum, teh herbal kulit buah naga merah diterima panelis pada kategori suka.
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Cabai Rawit Pada Skala Rumah Tangga di Kecamatan Kambera Kabupaten Sumba Timur Dominggus Dara Mete; Elsa Christin Saragih
Sandalwood Journal Of Agribusiness And Agrotechnology Vol. 4 No. 1 (2026): Edisi Mei 2026 (SJAA)
Publisher : Prodi Agroteknologi dan Agribisnis - Universitas Kristen Wira Wacana Sumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58300/2y37fy75

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi permintaan cabai rawit pada skala rumah tangga di Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2025 dengan menggunakan metode survei. Populasi penelitian berjumlah 3.968 rumah tangga, sedangkan sampel sebanyak 99 responden ditentukan menggunakan rumus Slovin. Data dianalisis secara deskriptif dan menggunakan regresi linier berganda dengan pendekatan fungsi Cobb-Douglas. Variabel yang dianalisis meliputi harga cabai rawit, harga cabai merah, harga bawang merah, harga tomat, jumlah anggota keluarga, dan pendapatan rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial jumlah anggota keluarga dan pendapatan rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan cabai rawit. Sebaliknya, harga cabai rawit, harga cabai merah, harga bawang merah, dan harga tomat tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan cabai rawit. Secara simultan, seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap permintaan cabai rawit rumah tangga. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,393 menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan 39,3% variasi permintaan cabai rawit, sedangkan 60,7% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Dengan demikian, jumlah anggota keluarga dan pendapatan rumah tangga merupakan faktor utama yang menentukan permintaan cabai rawit di Kecamatan Kambera.
Tingkat Kesesuaian Penanganan Pasca Panen Padi (Oryza sativa L.) Sawah Dan Evaluasi Mutu Beras Di Kecamatan Kambera Kabupaten Sumba Timur Dewirati Kahewa Marak; Marten Umbu Nganji; Melycorianda Hubi Ndapamuri
Sandalwood Journal Of Agribusiness And Agrotechnology Vol. 4 No. 1 (2026): Edisi Mei 2026 (SJAA)
Publisher : Prodi Agroteknologi dan Agribisnis - Universitas Kristen Wira Wacana Sumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58300/qzxtkc22

Abstract

Tanaman Padi (Oryiza Sativa L.) merupakan salah satu komoditi pangan utama penghasil beras yang digunakan sebagai sumber bahan makanan pokok penduduk Indonesia dan sebagian besar dibudidayakan sebagai padi sawah. Salah satu wilayah penghasil beras terbesar di Kabupaten Sumba Timur yaitu Kecamatan Kambera. Tujuan penelitian Untuk mengetahui tingkat kesesuaian SOP penanganan pascapanen padi (Oryza sativa L) sawah Di Kecamatan Kambera dan Untuk mengetahui mutu beras yang dihasilkan Di Kecamatan Kambera sudah sesuai dengan standar mutu beras nasional. Hasil penelitian ini membuktikan penanganan pasca panen padi sawah yang terapkan oleh petani di Kecamatan Kambera belum sepenuhnya sesuai dengan penanganan pasca panen padi sawah yang diatur dalam standar Operasional Produser (S0P) yang berdampak pada ketidak kesesuainannya mutu beras di Kecamatan Kambera dengan mutu beras dalam Standar Nasional Indonesia (SNI).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Cabai Rawit di Pasar Inpres Matawai Kota Waingapu Sumba Timur Susanti Tamar Pangambang; Junaedin Wadu
Sandalwood Journal Of Agribusiness And Agrotechnology Vol. 4 No. 1 (2026): Edisi Mei 2026 (SJAA)
Publisher : Prodi Agroteknologi dan Agribisnis - Universitas Kristen Wira Wacana Sumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58300/gf9ymm69

Abstract

Fluktuasi harga cabai rawit di pasar tradisional wilayah kepulauan sering kali di pengaruhi oleh keterkaitan harga antar-komoditas serta harga dinamika permintaan pasar lokal.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh permintaan konsumen,harga cabai merah keriting,harga cabai besar,harga tomat,dan harga bawang merah terhadap pembentukan harga cabai rawit di Pasar Inpres Matawai Kota Waingapu Kabupaten Sumba Timur.Penelitian kuantitatif deskriptif ini dilaksanakan dari bulan Januari hingga Maret 2025 dengan melibatkan 68 pedagang cabai rawit yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling.Analisis data dilakukan dengan model regresi linear berganda .Hasil analisis menunjukkan bahwa secara simultan seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap harga cabai rawit.Secara parsial permintaan konsumen dan harga cabai besar berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga cabai rawit,sedangkan harga bawang merah berpengaruh negatif dan signifikan.Sebaliknya,harga cabai merah keriting dan harga tomat tidak memiliki pengaruh yang signifikan.Penelitian ini menyimpulkan bahwa permintaan konsumen,komoditas substitusi (cabai besar),dan komoditas komplementer (bawang merah) merupakan faktor kunci pembentuk harga cabai rawit.Diharapkan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dapat memperkuat rantai pasok lokal dan pasokan pasca-panen untuk menstabilkan harga di tingkat pasar eceran.
Pengaruh Pemberian Kompos Feses Kambing Terhadap Peningkatan Sifat Fisik Dan Kimia Tanah Lahan Kering Maxi Sandro Christian Lodo Ola; Lusia Danga Lewu; Yonce Melyanus Killa
Sandalwood Journal Of Agribusiness And Agrotechnology Vol. 4 No. 1 (2026): Edisi Mei 2026 (SJAA)
Publisher : Prodi Agroteknologi dan Agribisnis - Universitas Kristen Wira Wacana Sumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58300/fz898649

Abstract

Produktivitas lahan kering di Sumba Timur rendah akibat keterbatasan air, degradasi tanah, erosi, kandungan bahan organik rendah, dan ketersediaan hara terbatas. Penelitian ini bertujuan mengetahui dosis kompos feses kambing yang paling efektif untuk meningkatkan produktivitas tanah lahan kering. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 taraf perlakuan (0%, 10%, 20%, 30%, 40% per polybag) dan 4 ulangan. Tanah halus homogen dicampur kompos sesuai dosis, diinkubasi 7–14 hari, kemudian diamati parameter bobot isi, kadar air, permeabilitas, porositas, pH, KTK, dan C-organik yang dianalisis menggunakan ANOVA dan uji BNT taraf 5%. Hasil prnrlitian menunjukkan dosis 10–30% (P1–P3) meningkatkan sifat fisik tanah melalui penurunan bobot isi (1,36–1,45 g/cm³) dan peningkatan permeabilitas sangat nyata dari 9,63 cm/jam menjadi 40,23–53,15 cm/jam, mendukung gembur tanah, porositas, drainase, dan aerasi. Namun, dosis 40% (P4) menurunkan kualitas fisik tanah karena bobot isi meningkat menjadi 1,80 g/cm³ akibat pemadatan mekanis atau bahan organik belum terdekomposisi sempurna. Kompos meningkatkan sifat kimia tanah melalui peningkatan pH dari asam moderat 6,34 menuju netral 7,00 pada dosis 40%, akibat pelepasan kation basa (Ca²?, Mg²?, K?) yang menetralkan keasaman dan meningkatkan ketersediaan hara N, P, K. Meskipun demikian, kompos tidak meningkatkan secara nyata kadar air tanah, KTK, dan C-organik. Dosis optimal untuk lahan kering adalah 10–30% yang menurunkan kepadatan, meningkatkan permeabilitas, dan menaikkan pH mendekati netral tanpa menyebabkan pemadatan.