cover
Contact Name
I Putu Udiyana Wasista
Contact Email
udiyanawasista@isi-dps.ac.id
Phone
+6287861236918
Journal Mail Official
balidwipantarawaskita@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Jl. Nusa Indah, Sumerta, Kec. Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Bali-Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
ISSN : 28087992     EISSN : 2808795X     DOI : -
Core Subject : Art,
Seminar Nasional Republik Seni Nusantara adalah sebuah forum akademis yang membahas berbagai aspek seni dan budaya Nusantara. Dalam prosiding ini, para peneliti dan akademisi berkumpul untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka mengenai seni dan budaya, dengan fokus khusus pada konteks Republik Seni Nusantara. Proses ini memberikan wadah untuk bertukar gagasan dan pengetahuan dalam upaya memahami, mendokumentasikan, dan mempromosikan warisan seni dan budaya yang kaya dan beragam di wilayah Nusantara.
Articles 130 Documents
RITUAL PEMULIAAN SAMUDRA DI RUANG VIRTUAL SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN LITERASI Suciartini, Ni Nyoman Ayu; Pratama, Putu Wahyu
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai pendidikan dan literasi budaya dalam ritual pemuliaan laut dan samudra yang dikemas dalam ruang virtual dan digital. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis sebagai kajian dalam analisis data. dapat digunakan sebagai media pendiidkan dan literasi budaya. Salah satu akun YouTube dalam akun Nusa Penida Destinations dalam ruang digital dan virtual mengabadikan atau mendokumentasikan prosesi, tahapan, pemaknaan, dan sejarah yang melatarbelakangi ritual nyepi segara ini diadakan. Banyak warganet mencari referensi terkait ritual ini melalui media digital dan ruang virtual. Masyarakat, tidak saja di Bali, melainkan masyarakat dalam teritorial yang lebih luas dapat memahami prosesi pemuliaan laut dan samudra khususnya yang ada di wilayah Nusa Penida. Dalam narasi di media digital yang disampaikan oleh tokoh agama, tokoh adat, maupun masyarakat sekitar dapat memberikan edukasi dan sosialisasi terkait kearifan lokal yang dimiliki oleh Bali dalam pemuliaan air. Generasi muda menjadi mengetahui dan memaknai bahwa adanya kearifan lokal ini patut didokumentasikan dan dapat dijadikan sebagai sumber atau media pembelajaran terkait makna dan filosofi nyepi segara. Keberadaan dan kecanggihan teknologi dan informasi, jika dimanfaatkan dengan bijak dan positif, mampu menjadi alat yang sangat ampuh untuk menjaga eksistensi kearifan lokal, budaya, seni tradisi bahkan ritual keagamaan yang sarat akan nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai kehidupan, dan literasi budaya. Berdasarkan data transformasi ritual pemuliaan air, nyepi segara yang dikemas dalam format digital dan virtual ini tampak bahwa format sajian virtual dan digital ini dikemas lebih kreatif, inovatif, tidak monoton sehingga menjadi sumber belajar, media pembelajaran dan sumber motivasi untuk masyarakat Bali, khususnya dalam pelestarian budaya, seni tradisi, dan ritual itu sendiri. Media virtual dan digital yang mendokumentasikan budaya, ritual, adat tardisi secara utuh dan penuh dapat menjadi sumber belajar, media literasi, dan dapat pula membangun ekonomi kreatif bagi masyarakat desa dan memberdayakan desa sebagai sesuatu yang potensial.
TERUMBU KARANG SEBAGAI MEDIUM EKSPRESI DALAM PENCIPTAAN KARYA KERAMIK DEKORATIF Artayani, Ida Ayu Gede
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni tercipta dari aktivitas manusia yang tak terbatas dalam creative process, oleh rasa dan karsa menjadi “pengawal” utama dalam berolah keratif sampai karya terwujud. Adapun pemicu utama dalam berolah kreatif, tidak terlepas dari pemikiran akan pencetusan ide dan konsep melalui tahapan observasi akan fenomena yang dijadikan objek garapan karya. Dalam hal ini, dibutuhkan upaya eksploratif melalui pengetahuan, keterampilan dan rasa estetis. Proses kreatif dalam penciptaan karya ini, terinspirasi dari kehidupan alam bawah laut yang memiliki keunikan dengan keberagaman bentuk, dan memiliki manfaat untuk keberlangsungan ekologi maupun ekonomi bagi kehidupan manusia. Penciptaan karya keramik dengan ide “Terumbu Karang” menggunakan metode perancangan/penciptaan karya seni kriya (pre-factum, practice-led research) Hendriyana:2018:12, dengan pendekatan empat langkah penciptaan yaitu: persiapan, eksplorasi, kematangan konsep (perancangan) dan perwujudan karya. Secara tekstual penciptaan karya ini mewakili representasi pengalaman estetis yang dituangkan melalui media tanah liat (stoneware caremic). Urgensi dari penciptaan karya ini, sebagai konsumsi visual dalam penyajian karya dan menjawab tantangan di masyarakat terhadap penciptaan karya kreatif dan inovatif, bahwa karya keramik tidak hanya untuk kebutuhan profan, namun berkembang sebagai fungsi dekoratif. Hasil penciptaan ini diharapkan menjadi sumber inspirasi untuk penelitian lebih lanjut, khususnya eksplorasi bahan keramik dan sebagai seruan kepada masyarakat dalam pelestarian ekologi laut demi keberlangsungan kehidupan bahari.
KEHIDUPAN LAUT SEBAGAI TEMA WORKSHOP PEMBUATAN SOUVENIR DAUR ULANG BAGI SISWA SMA NEGERI 2 ABIANSEMAL Budiaprilliana, Luh; Utami, Ni Made Purnami; Karuni, Ni Kadek
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isu tentang Bali krisis sampah plastik menjadi kekhawatiran bagi kita semua. Hampir seluruh masyarakat turut serta berupaya untuk ikut andil dalam penanggulangannya. Salah satunya dengan melakukan pengelolaan sampah berupa daur ulang yang merupakan salah satu bagian dari konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam pengelolaan sampah. Daur ulang terhadap sampah domestik yang dihasilkan ini juga menjadi program dari SMA Negeri 2 Abiansemal dan menjadi salah satu fokus program yang dimotori oleh OSIS SMA Negeri 2 Abiansemal. Atas urgensi untuk realisasi program tersebut maka SMA Negeri 2 Abiansemal bekerjasama dengan tim pengabdian untuk mengadakan workshop daur ulang sampah menjadi produk souvenir yang memiliki nilai seni bagi siswa – siswi di sekolah tersebut. Tema Kehidupan Laut dalam workshop pembuatan souvenir daur ulang ini dimaksudkan sebagai pemantik bagi siswa – siswi agar lebih menumbuhkan kepedulian terhadap ekosistem kehidupan di laut dan kelestarian laut. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan workshop ini adalah menggunakan metode eksploratif learning by doing dan demonstratif. Hasil workshop disampaikan dengan deskriptif kualitatif. Workshop pembuatan souvenir daur ulang ini tidak hanya menjawab kebutuhan SMA Negeri 2 Abiansemal untuk merealisasikan program pengelolaan sampah domestiknya, namun juga meningkatkan keterampilan siswa dalam bidang seni rupa dengan dapat mewujudkan produk souvenir bernilai seni. Kehidupan laut yang menjadi tema workshop membuat siswa lebih tertarik untuk mengeksplorasi bentuk biota laut seperti ikan, kerang, terumbu karang, dsb. Mereka menyadari bahwa menjaga lingkungan sekitar juga merupakan kontribusi untuk menjaga kelestarian laut. Dampak lain dari program ini adalah terwujudnya inisiasi pembentukan Klub Recycle di SMA Negeri 2 Abiansemal.
AESTHETIC FORM OF SEGARA ART Wirakesuma, I Nengah; Mustika, I Ketut
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penciptaan karya seni rupa dalam berbagai dimensinya memiliki estetika yang unik dan menarik bagi orang lain yang melihatnya. Gaya, karakter dan identitas diri pada karya cipta seni sering kali mencerminkan ciri dan karakter diri para senimannya. Gaya sebagai identitas diri itu tidak muncul begitu saja akan tetapi muncul setelah melalui proses panjang pematangan ide, gagasan dan konsep penciptaan yang mendalam. Eksistensi penjelajahan, perenungan, eksperimen, eksplorasi dan evaluasi medium, bahan dan alat-alat yang digunakan harus terus-menurus diasah dan dipelajari secara sungguh-sungguh guna mendapatkan karya seni rupa yang berkualitas, bermutu tinggi serta memiliki nilai-nilai estetika yang menarik sesuai kebutuhan kreativitas senimannya. Perwujudan karya estetika segara rupa merupakan implementasi berbagai dinamika, misteri, dan dimensi permukaan gelombang samudra di muka bumi. Elemen-elemen seni rupa diantaranya cahaya, titik, garis, ruang, bidang, warna, tekture, dan komposisi sebagai elemen dasar dalam proses penciptaan seni harus di kuasai secara terstruktur agar karya cipta seni yang diciptakan menjadi lebih indah, menarik dan harmoni, serta memiliki kedalaman makna bagi masyarakat pendukungnya, penikmat seni, pengamat seni, kurator seni dan kolektor seni.
MELASTI SEBAGAI SUMBER INSPIRASI DALAM KARYA LUKIS Kariana, I Nengah; Putra, I Gusti Putu Ngurah Cahyana Ady; Kondra, I Wayan; Mudana, I Wayan; Ruta, I Made
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian dan penciptaan tentang Melasti adalah menciptakan karya seni lukis sebagai pengalaman estetis, mengekspresikannya melalui elemen-elemen penciptaan seni lukis dan penerapan tehnik dengan kombinasi media. Tujuan umumnya adalah sebagai dokumentasi dan memberi inspirasi pada seniman pemula memperkaya kasanah dan menambah kepekaan para seniman muda terhadap aktifitas dan fenomena yang ada dalam kehidupan di lingkungan sekitarnya. Metode penciptaan yang digunakan adalah metode observasi, wawancara, kepustakaan dan dokumentasi. Berikut dalam penciptaan karya, pencipta menggunakan metode observasi, eksperiman, peforming, dengan memperhatikan aspek ideoflastis dan fisikoflastis. Hasil/Temuan penelitian dan penciptaan berupa dokumentasi dan hasil karya 7 buah karya lukis yang merepresentasikan upacara melasti mulai dari prosesi awal Melasti, perjalanan Melasti, suasana dan spirit Melasti, serta aktifitas dan prosesi upacara di pura sehabis Melasti. Kesimpulan, Upacara Melasti yang dilakukan masyarakat Bali, terutama menjelang Hari Raya Nyepi, melahirkan berbagai inspirasi dalam penciptaan karya seni dalam hal ini adalah karya lukis. Upacara Melasti juga dapat dijadikan sebagai smber inspirasi yang sangat kaya bagi para seniman diluar seniman lukis. Implikasi dari Upacara Melasti dan karya lukis yang tercipta bagi masyarakat Bali, dapat terwujudnya rasa dan jiwa kebersamaan, kesetaraan, serta meningkatkat jiwa spiritual utuk sujud dan bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.
CARATAN COBLONG SIMBOLIS PURUSA PREDANA SEBAGAI INSPIRASI DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI KRAMIK Mertanadi, I Made; Suardana, I Wayan; Karuni, Ni Kadek
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Caratan dan Coblong adalah salah satu benda yang berbentuk wadah, yang sering dipergunakan sebagai sarana upacara yadnya di Bali. Namun dari seringnya pemakaian gerabah ini masyarakat belum banyak yang mengerti dan memahami makna simbolisnya. Maka perlu dilakukan penelitian dan penciptaan yang akan menghasilkan karya keramik dengan mengungkap konsep purusa dan predana. Serta mengungkap metode dan teknik pembentukan karya seni keramik dengan inspirasi dari caratan dan coblong. Tujuan penelitian dan penciptaan ini adalah ingin mengetahui historis munculnya caratan coblong, makna, dan fungsinya, menghasilkan karya keramik yang mengungkap konsep purusa predana dalam caratan coblong dan ingin mengembangkan caratan coblong menjadi sebuah karya seni murni atau terapan yang lebih spektakuler dan monumental. Penciptaan ini juga dilakukan sebagai upaya melestarikan tradisi yang ada di Bali dan menggali ide baru untuk menghasilkan karya keramik yang unik, estetik dan inovatif. Metode yang digunakan dalam penciptaan adalah ekplorasi, perancangan, dan perwujudan. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisa data dilakukan dengan identifikasi data, reduksi data, analisa data dan kesimpulan. Pendekatan teori yang digunakan adalah teori makna, fungsi, dan estetika. Hasil penciptaan karya keramik menunjukkan bahwa ide dasar Caratan dan Coblong yang mempunyai makna simbolis dapat ditranformasi pada karya ciptaan baru yang indah dan menarik. Terjadi inovasi yang besar dari berbagai dimensi, baik bentuk, fungsi, teknik, dan penampilan.
METAFORA SAMUDRA DALAM CERITA DEWA RUCI, MAKNA SUGESTI BIMA MEMBENTUK JATI DIRI Wicaksana, I Dewa Ketut; Wicaksandita, I Dewa Ketut
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bima adalah salah satu tokoh Pandawa, yang berkat sugesti samudra ia mampu mengafirmasi diri memperoleh kemanunggalanya. Lakon Dewa Ruci menggambarkan upaya Bima (manusia) mencapai kebenaran (sadhu), melalui medium lautan/samudra (sindhu) sebagai perenungan/ penyucian diri sampai ia bertemu Dewa Ruci, energi spritual (taksu) dalam dirinya. Tergambarlah ‘hukum ketertarikan’ (law of attraction) sebagai efek interaksi Bima yang merupakan subjek tersugesti dan samudra sebagai objek penyugesti. Penelitian ini bertujuan menelaah secara estetik-filosofis metafora lautan dan samudra dalam kisah Dewa Ruci; menganalisis signifikansi makna dan sugesti atas afirmasi diri Bima sebagai refleksi generasi muda menempa jati diri. Riset kualitatif berpendekatan studi kasus dipergunakan sebagai metode penelitian ini, dengan analisis teori estetika (significant form), teori sastra (semiotika-strukturalisme) dan teori pisikologi (low of attraction & kognitif). Temuan kunci penelitian ini: Relevansi metafor tematik, sebagai alternatif proses kognitif ‘berfikir ke dalam’ (think inside) bagi generasi muda mengenali dan meningkatkan kualitas etika dan moralnya, di tengah ketumpangtindihan informasi. Pertama, lautan/samudra merupakan metafora kompleksitas alam fikir dan raga manusia seluas batas kemampuan mengekplorasi filosofi makna spiritual atas pengalamanya; Naga melambangkan tantangan, dan konflik pengalaman internal-eksternal yang memengaruhi perkembangan jiwa dan raga; Dewa Ruci, merupakan batas jangkauan jati diri yang bersifat dinamis. Kedua, Signifikansinya, bahwa proses kognitif Bima memahami kemanunggalan memiliki pola yang sama seperti generasi muda mempelajari jati dirinya. Bima haruslah tersesat untuk memasuki ruang yang tidak ia pernah pahami. Disinilah samudra berperan menuntun Bima melampaui objek itu sendiri, sehingga Bima berkeputusan menceburkan diri ke laut yang bermakna menyelam ke dalam alam fikirnya agar mampu mengenali versi sempurna dirinya yaitu Dewa Ruci.
EKSPERIMENTAL KONSEPTUAL DI NUNGKALIK FESTIVAL PANTAI SEGARA AYU DAN ISI DENPASAR Sujana, I Wayan; Sumerjana, Ketut
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menuliskan eksperimental konseptual yang diterapkan pada Nungkalik Internasional Festival di Segara Ayu Sanur dan Institut Seni Indonesia Denpasar. Eksperimental konseptual model interaksi seni semacam ini, telah penulis kerjakan selama kurun waktu lima belas tahun pada site yang berbeda. Melalui eksperimental konseptual secara intens dan konsisten berkontibusi lahirnya konsep-konsep dan metoda yang dapat dikloning, dan berguna bagi dunia akedemis seni. Permasalahan penelitian yang timbul adalah apa yang dimagsudkan eksperimental konseptual di nungkalik internasional festival, kemudian bagaimana implementasi, dan mengasilkan konsep visual, gerak, musik seperti apa? Menggunakan pandangan teori Bertie Feldman pada bukunya “Curating Dramaturgies How Dramaturgy and Curating are Intersecting in the Contemporary Arts” dan metode MAL. Antara workshop dengan perform hampir tidak ada jarak, ketika masuk tahap perform semua mengikuti alur perform. Pengumpulan data melalui observasi lapangan, implementasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan eksperimen dengan dilandasi konsep yang rijid dapat menjembatani kultur, karakter, komonikasi yang beragam dalam proses interaksi seni. Ekspresi konsep seni yang dihasilkan berupa seni visual, gerak, dan musik ekspresive simbolik.
PELATIHAN WAYANG PARWA GAYA BEBADUNGAN DI SANGGAR MAJALANGU, KELURAHAN KEROBOKAN, KECAMATAN KUTA UTARA, KABUPATEN BADUNG Marajaya, I Made; Marheni, Ni Komang Sekar; Suteja, I Kt.
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini pertunjukan wayang kulit khususnya Wayang Parwa semakin jarang ditemukan dalam masyarakat. Pertunjukan Wayang Parwa dengan sumber lakon Epos Mahabharata dan diiringi dengan gamelan Gender Wayang termasuk golongan paling tertua dari jenis pertunjukan wayang lainnya. Wayang Parwa biasanya dipakai sebagai dasar untuk belajar praktek pakeliran baik melalui pendidikan formal maupun non formal seperti halnya di sanggar-sanggar maupun di masyarakat. Wayang Parwa memiliki banyak versi yang disebut dengan gaya/styl. Di Bali ditemukan empat gaya Wayang Kulit Parwa yaitu; Gaya Bebadungan, Gaya Sukawati, Gaya Tunjuk, dan Gaya Bali Utara (Buleleng). Meredupnya popularitas Wayang Kulit Parwa juga disebabkan oleh munculnya berbagai varian wayang kulit inovatif seperti; Wayang Cenk Blonk, Wayang Joblar, Wayang D’Karbit, Wayang Genjek, Wayang Kang Cing Wi, dan lain-lain yang memiliki ciri khas tersendiri. Untuk menjaga kelestarian pertunjukan Wayang Parwa Gaya Bebadungan khususnya di Kabupaten Badung perlu dilakukan upaya-upaya konservatif yang salah satunya adalah melalui pelatihan. Kegiatan pelatihan dilakukan bekerjasama dengan Sanggar Majalangu, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung yang dipimpin oleh I Made Agus Adi Santika. Kegiatan ini didanai oleh dana DIPA ISI Denpasar tahun 2023 melalui LP2MPP. Pelatihan diberikan kepada salah satu dari anggota Sanggar Majalangu dengan menggunakan metode pembelajaran teori praktek pakeliran. Proses pelatihan dilakukan secara bertahap mulai dari adegan pamungkah, igel Kayonan, panyahcah parwa, bebaturan, sendu samita, panggalang ratu, pangalang penasar (Tualen), angkat-angkatan, pepeson, dan pangkat siat.
ANIMASI UPIN IPIN: MEDIUM DIALOG KEBANGSAAN INDONESIA-MALAYSIA Yasa, Gede Pasek Putra Adnyana
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara histori, budaya Indonesia-Malaysia memiliki keterkaitan yang erat, meskipun dalam hal politik, hubungan negara Indonesia-Malaysia sering mengalami konflik. Meskipun muncul konflik dan wacana tentang potensi perang, namun hingga saat ini, konflik tersebut tidak pernah mencapai titik nyata yang mengancam eksistensi kedua bangsa. Upaya diplomasi selalu ada untuk meredakan ketegangan. Selama satu dekade terakhir, animasi Upin Ipin dari Malaysia telah berkembang dan meraih popularitas di Indonesia. Meskipun dalam satu dekade ini terjadi beberapa kali konflik antara Indonesia dan Malaysia, animasi Upin Ipin tetap diterima dengan baik di Indonesia. Bahkan jumlah tayangan animasi Upin Ipin di televisi Indonesia semakin meningkat. Tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis potensi animasi Upin dan Ipin sebagai salah satu bentuk diplomasi Indonesia-Malaysia. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan analisis deskriptif kritis dan pemanfaatan teori analisis wacana untuk mengkaji data penelitian. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa animasi Upin Ipin memiliki tujuan untuk mempererat dialog dan hubungan antara Malaysia dan Indonesia. Karakter Susanti dari Indonesia yang hadir dalam animasi Upin Ipin dapat diartikan sebagai simbol yang menggambarkan hubungan baik antara kedua negara. Artikel ini memberikan kontribusi dalam memahami bahwa animasi Upin Ipin bukan hanya sekadar hiburan semata, melainkan juga dapat berfungsi sebagai media untuk memperkuat dialog dan kesatuan antar bangsa.

Page 8 of 13 | Total Record : 130