cover
Contact Name
I Putu Udiyana Wasista
Contact Email
udiyanawasista@isi-dps.ac.id
Phone
+6287861236918
Journal Mail Official
balidwipantarawaskita@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Jl. Nusa Indah, Sumerta, Kec. Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Bali-Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
ISSN : 28087992     EISSN : 2808795X     DOI : -
Core Subject : Art,
Seminar Nasional Republik Seni Nusantara adalah sebuah forum akademis yang membahas berbagai aspek seni dan budaya Nusantara. Dalam prosiding ini, para peneliti dan akademisi berkumpul untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka mengenai seni dan budaya, dengan fokus khusus pada konteks Republik Seni Nusantara. Proses ini memberikan wadah untuk bertukar gagasan dan pengetahuan dalam upaya memahami, mendokumentasikan, dan mempromosikan warisan seni dan budaya yang kaya dan beragam di wilayah Nusantara.
Articles 130 Documents
“GANGGARAM” PERTUNJUKAN CAK AIR Mariyana, I Nyoman; Putra, I Made Dwi Andika; Santika, Sang Nyoman Gede Adhi
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan kesenian kecak dari awal terciptanya hingga kini terus melaju dengan pesat. Telah banyak tumbuh sekaa-sekaa kecak di daerah baik dalam bentuk kecak tradisi maupun kecak yang sudah dikembangkan dari segi pertunjukannya. Sebagai pewarisan tradisi, kesenian kecak kerap kali kita jumpai pada pertunjukan wisata yang disajikan di hadapan wisatawan. Pada umumnya konsep penyajiannya masih menggunakan pola-pola tradisional, baik kostum, tema, maupun garap musikalnya. Saat ini penyajian kesenian kecak lebih sering kita jumpai mempergunakan api sebagai pendukung garapan yang sering dikenal dengan sebutan kecak api. Diperlukan gubahan baru dalam penciptaannya. Kecak air, sebuah tawaran baru dalam penyajian kecak yang diciptakan sebagai penunjang komoditi pariwisata. Pertunjukan cak ini menggunakan air sebagai media pendukung garapan dengan judul “GanggaRam”. GanggaRam diambil dari kata Gangga sebagai simbol pemujaan Dewi Gangga, dan kata Ram dalam bahasa Sansekerta berarti yang menyenangkan. “GanggaRam” adalah pertunjukan kecak sebagai simbol pemujaan kepada Dewi Gangga yang memberikan sumber kehidupan dan kebahagian kepada manusia. Penciptaan karya “GanggaRam” ini menggunakan metode penciptaan dari Alma M. Hawkins melalui 3 tahapan, yaitu Exploration (eksplorasi), Improvisation (improvisasi), dan Forming (pembentukan). Tercipta sebuah karya gubahan baru dari penyajian cak air yang mampu bersaing dalam industi pariwisata sebagai produk unggulan wisata air terjun. Pesan yang ingin disampaikan dari karya ini adalah manusia harus mampu menjaga alam dan memanfaatkan air dengan baik untuk kelangsungan semua mahluk hidup di bumi.
KONSEP TIRTHA SEBAGAI INSPIRASI DALAM PENCIPTAAN TARI UDHAKANJALI Ruspawati, Ida Ayu Wimba
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air memiliki fungsi penting dalam proses ritual Hindu secara universal. Sebagai sebuah konsep filosofis, interpretasi tentang air dalam konteks sosio-religi masyarakat Hindu Bali sebagai sumber inspirasi untuk penciptaan tari terbuka untuk diselidiki lebih lanjut. Penelitian ini berusaha untuk menyelidiki konsep tirtha dalam agama Hindu sebagai sumber inspirasi untuk karya-karya tari Udhakanjali. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis konsep filosofis dari tirtha dalam agama Hindu dan untuk mengidentifikasi dan menerjemahkan konsep ini ke dalam elemen-elemen artistik dari tarian. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dan pendekatan analisis tekstual. Sebagai sumber data, digunakan dokumentasi audiovisual dari Tari Udhakanjali dan literatur akademis yang meneliti konsep filosofis dari air, dilengkapi dengan wawancara dengan narasumber terkait. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa rumusan konsep tirtha sebagai inspirasi penciptaan Tari Udhakanjali terbentuk dari analisis tekstual terhadap pustaka suci Hindu dan analisis tekstual terhadap praktik sosio-religius masyarakat Bali tentang air. Pentingnya konsep filosofis air dalam Tarian Udhakanjali diwakili oleh tiga elemen artistik penting: (1) Bentuk Tarian, (2) Struktur Tarian, dan (3) Elemen Artistik. Sifat agung dan anggun dari Dewi Gangga merupakan inspirasi dari bentuk tarian kelompok yang terdiri dari sembilan orang. Struktur pertunjukan yang terdiri dari enam bagian mewujudkan prosesi pemujaan terhadap Dewi Gangga pada Puja Surya Sewana serta karakteristik air yang tenang namun dinamis. Gerakan, musik, tata rias, dan busana tarian ini berasal dari konsep tirtha, yaitu air sebagai persembahan dan anugerah. Temuan dari penelitian ini memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah konsep filosofis religius yang abstrak dapat digunakan sebagai sumber inspirasi untuk penciptaan karya seni dengan cara mengkaji dari berbagai perspektif.
“PADU AREP” FILM DOKUMENTER GENDING RARE DALAM HEGEMONI BUDAYA POP Putra, I Made Denny Chrisna; Pamungkas, Epriliana Fitri Ayu; Bumiarta, Made Rai Budaya
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan cinta kasih antara orang tua dengan anaknya, termasuk pola didik, bisa diumpamakan sebagai samudra yang hadir dalam khazanah material dan spiritual, mengandung makna yang mendalam. Seperti samudra yang menyediakan kehidupan bagi berbagai makhluk laut, orang tua juga melalui gending rare memberikan pendidikan dan dukungan untuk membantu anak berkembang secara karakter dan emosional. Berdasarkan pengamatan, dalam lima tahun trakhir gending rare mulai kehilangan popularitas di kalangan masyarakat Bali. Pengaruh globalisasi memunculkan anggapan bahwa menyanyikannya merupakan keterbelakangan budaya sehingga orang tua lebih memilih untuk menyanyikan anaknya lagu asing dan popular, begitu pula dengan anak-anak. Upaya melestarikan seni budaya di tengah arus globalisasi dan hegemoni budaya pop diperlukan langkah yang tepat. Penciptaan film dokumenter diterapkan dalam upaya mempopulerkan kembali gending rare pada masyarakat luas. Penggunaan narasi dan kehadiran subjektifitas pembuat mampu membentuk opini penonton. Penciptaan film dokumenter “Padu Arep” menggunakan metode yang diawali dengan riset dan menerapkan tiga tahap baku proses produksi karya film yaitu pra-produksi, produksi dan pasca produksi. Kebaruan dalam penciptaan ini menjawab permasalahan untuk melestarikan gending rare dan mempopulerkannya kembali melalui penciptaan karya film dokumenter berjudul “Padu Arep” yang memiliki arti mencocokan bersama-sama atau bermakna menggali, melihat, mendengar, dan bertutur bersama. Implikasi dari penelitian ini mengajak penonton mempopulerkan kembali gending rare ditengah hegemoni budaya pop melalui pemanfaatan media film dan membangun kesadaran bersama akan pentingnya menjaga warisan yang tidak berwujud ini.
MEMAKNAI “CHOPIN LARUNG” Ardini, Ni Wayan; Sumerjana, Ketut; Darmayuda, I Komang
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Chopin Larung” merupakan salah satu mahakarya seniman legendaris Indonesia Guruh Soekarno Putra pada tahun 1975 yang dapat ditemukan dalam album Guruh Gipsy (1977). Komposisi musikal dengan lirik lagu sedih berbahasa Bali halus ini secara objektif sangat indah dinikmati hingga kini. Pada lagu ini Guruh mampu menangkap fenomena pariwisata Bali yang diwakili Kuta dengan pariwisata pantai, yang merupakan bagian dari pariwisata tirta/air (water tourism). Dari persoalan ini, literature review ini bertujuan menganalisis pesan-pesan bermakna yang terkandung dalam bentuk musical estetika lagu ini. Data dianalisis secara kualitatif menggunakan teknik interaktif berupa reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan. Keindahan “Chopin Larung” ditemukan dari pencampuran musik tradisional Bali dan musik Barat begitu padu. Dimasukkannya sebagian karya Frederic Chopin “Fantasia Impromptu” tersebut menjelang akhir komposisi menyebabkan lagu terdengar menghentak tetapi tampak nyambung dengan tema duka lagu. Sebagai “lagu nasionalis”, “Chopin Larung” mengkritik besarnya karakter Barat westernisasi dalam pariwisata Bali, dalam hal ini Kuta yang bermodal pariwisata pantai, yang meminggirkan sakralitas budaya lokal. Dihubungkan dengan situasi masa kini, si komposer bahkan mampu meramal bakal terjadinya fenomena overtourism. Tidak mengherankan, dalam komposisi ini, ketika mati, Chopin pun dibayangkan dilarung di selatan, tepatnya di laut.
RELEVANSI APLIKASI KONSEP SEGARA DALAM ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI PADA FILM DOKUMENTER CALACCITRA UNDAGI MAHOTTAMA: BIOGRAFI I GUSTI MADE GEDE (1843-1940) Noorwatha, I Kadek Dwi; Puriartha, I Kadek; Prabhawita, Gede Basuyoga
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian dan penciptaan ini untuk mengungkap kesinambungan makna antara narasi film ketika kode estetik arsitektur tradisional Bali dipindahkan ke visual-naratif film documenter. Metode yang digunakan adalah Visual Content Analysis yang secara interpretatif-kritis mengkaji kesepadanan kode estetik arsitektur tradisional Bali ke dalam narasi visual film. Film CUM sebagai hasil karya penelitian dan penciptaan seni, struktur film dan struktur naratifnya menggunakan pendekatan ilmiah yang dibagi dalam beberapa sekuens berdasarkan hitungan cani-watu-segara-gunung-rubuh. Konsep segara diaplikasikan sebagai pembahasan aspek biografis tokoh melalui voice over.Kesinambungan yang harmonis tersebut dapat dilihat pada kesesuaian konsep segara dalam arsitektur tradisional baik secara layout dengan aplikasi dapur (paon), filosofi; serta dalam epsitemologi budaya Bali seperti konsep segara tanpa tepi dan konsep Baruna Brata dalam Asta Brata sejalan dengan maksud sineas dalam penempatannya pada film. Sinergitas antara kesesuaian kode estetik arsitektur tradisional dan film merupakan sebuah terobosan dan upaya pelestarian nilai arsitektur tradisional Bali yang semakin tergerus di era modern, sekaligus memberikan nilai tambah pada karakter film yang berbasis budaya visual Bali.
PRESERVASI MOTIF TENUN SONGKET TRADISIONAL BALI Pebryani, Nyoman Dewi
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Bali memiliki ragam peninggalan budaya tak benda, salah satunya adalah pembuatan tekstil tradisional dengan teknik ikat—yang dikenal dengan tenun Endek dan teknik sungkit—yang dikenal dengan tenun Songket. Proses pembuatan tenun Songket membutuhkan waktu yang cukup lama, karena motif tenun dibentuk dengan menyungkit benang lungsi helai per helai pada alat tenun cagcag. Motif-motif yang telah dibuat oleh seniman tekstil ini kemudian disimpan dalam bentuk tulad—terdiri dari susunan beberapa lidi dengan informasi motif di dalamnya. Beberapa informasi motif pada tulad yang telah disimpan bertahun-tahun tidak lagi utuh, dikarenakan lidi yang diperguunakan kebanyakan sudah rapuh dan patah. Untuk mempertahankan motif-motif pada tulad yang dimiliki oleh para seniman tekstil ini, maka diperlukan usaha untuk melindungi atau preservasi motif dengan melakukan proses penggambaran digital motif yang ada pada tulad. Data tulad dikumpulkan dengan menguunjungi pengrajin Songket yang ada di Pulau Bali. Proses pengumpulan data ini dibarengi dengan proses wawancara dengan pengrajin Songket untuk mendapatkan gambaran proses perhitungan motif pada tulad. Melalui pemahaman pada proses pembuatan motif tenun Songket pada tulad akan membantu peneliti dalam proses penggambaran secara digital mengguunakan bantuan aplikasi pada wastrabali.id. Temuan dari penelitian ini adalah informasi mengenai proses pembentukan tulad serta file digital motif Songket dari beberapa tulad. Kontribusi dari penelitian ini adalah file digital motif tenun Songket yang disimpan dalam bentuk database. Database tersebut dapat diguunakan sebagai panduan bagi generasi selanjutnya dalam membuat motif tenun Songket dan sebagai acuan pengembangan desain motif-motif Songket yang baru.
REINTERPRETASI IDEOLOGI LAUT DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI MINA MAHA MANU Widyastuti , Ida Ayu Gede Sasrani
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian terhadap landasan ideologis penciptaan sangat penting dilakukan untuk memberikan panduan langkah penciptaan karya yang kohesif antara gagasan dan garapan. Penelitian ini mendalami ideologi di balik karya seni tari Mina Maha Manu yang mencerminkan kompleksitas pesan lingkungan dan harmoni antara manusia dan alam. Untuk itu, dilakukan analisis terhadap bagaimana ideologi karya seni dirumuskan oleh koreografer dan bagaimana implementasinya ke dalam elemen artistik. Dalam konteks seni tari sebagai medium ekspresi, karya ini menggabungkan tradisi dan inovasi untuk mengangkat isu lingkungan yang mendesak. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk menganalisis landasan ideologis yang merumuskan pesan-pesan koreografer dalam elemen-elemen artistik karya. Temuan menunjukkan bahwa world view koreografer terhadap laut, dipandang sebagai sumber inspirasi bagi simbolisme, makna artistik dan spiritual dalam karya seni Mina Maha Manu. Secara epistemologis, koreografer mengakui bahwa pengalaman sebelumnya dalam menciptakan karya tari memainkan peran penting dalam pendekatan mereka untuk menciptakan karya baru. Untuk itu koreografer menggunakan pendekatan kontemporer untuk mengekspresikan gagasan mereka dalam karya Mina Maha Manu. Penelitian ini memiliki dampak dua dimensi: (1) mengungkap peran seni tari dalam menyampaikan pesan ideologis dan (2) menerjemahkan tradisi ke dalam isu kontemporer sekaligus memberikan wawasan baru tentang keterhubungan manusia dan lingkungan. Kendati fokus pada satu karya seni tari, penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang konstruksi ideologi dalam kreativitas karya seni dan relevansinya dalam pemaknaan kekaryaan seni secara kekinian.
LAUT DAN SAMUDERA MEDIUM SENI: OMBAK SEGARA DALAM TARIAN BALI Budiarsa, I Wayan
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seminar Nasional Bali Sangga Dwipantara ISI Denpasar, tema "Sindhu-Taksu-Sadhu" yakni memaknai Sindhu-Taksu-Sadhu sebagai ranah suci, menapakkan jasmani dan rohani menuju tahapan spiritual. Dicontohkan upacara “melasti” dalam Hindu, laut sebagai ritus pelebur kekotoran, serta tempat memohon air kehidupan (Tirta Kamandalu) ri telengin samudra. Laut dan Samudera Medium Seni telah sejak dahulu dijadikan media inspirasai, khususnya dalam bidang seni tari. Laut dan Samudera adalah wilayah suci bagi keyakinan Agama Hindu yang patut dimuliakan sehingga memberikan implikasi positif terhadap kehidupan manusia. Seniman dengan daya estetisnya mempresentasikan laut samudera ke ranah seni olah gerak yang disebut tari. Tarian Bali melalui gerakannya yang khas banyak menggambarkan keindahan laut samudera mengungkap imajinasi seniman merangkai gerakan tari yang diwujudkan dengan istilah Ombak Segara. Klasifikasi gerak tarian Bali dapat di bagi menjadi gerakan murni dan gerakan maknawi. Gerakan murni; ungkapan gerak yang hanya mengandung unsur estetis, sedangkan gerakan maknawi adalah gerakan yang mengandung arti. Beberapa tarian yang menggunakan gerakan Ombak Segara diantaranya; tokoh Condong dan Kakan-kakan dalam dramatari Gambuh, tari Legong Keraton, tari Pendet, tari Panyembrama, tari Gabor, tari Puspawresti, tari Sisia, dan lain sebagainya. Dalam wujud tari, di Bali muncul sebuah garapan tari populer yang disebut tari Nelayan yang menggambarkan kehidupan para nelayan dengan segala aktivitasnya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menerapkan metode atau tahapan pengumpulan data melalui tahapan wawancara, kepustakaan, dan dokumentasi. Tujuannya untuk mendeskripsikan pengertian istilah gerak Ombak Segara dari beberapa informan kunci. Implikasi dari penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman keilmuan secara teoritis dan praktis bagi mahasiswa yang luarannya sebagai pendidik Seni Budaya.
THE INSATIABLE : REPRESENTASI FENOMENA FAST FASHION TERHADAP EKOSISTEM LAUT DALAM KARYA BUSANA Diantari, Ni Kadek Yuni; Priatmaka, I Gusti Bagus
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fast fashion merupakan sebuah sistem produksi produk fashion secara masal dalam kurun waktu yang singkat dengan tren terkini dan harga terjangkau. Akan tetapi keberadaan fast fashion menjadi problematika lingkungan akibat dampak yang ditimbulkannya terhadap ekosistem laut dari microplastic sebagai residu produksi fast fashion serta limbah dari pewarna sintetis pakaian. Dampak dari fenomena fast fashion ini direpresentasikan dalam sebuah karya fashion yang berjudul “The insatiable”. Karya ini juga menggambarkan industri fast fashion sebagai pemicu masyarakat untuk bersikap konsumtif tanpa rasa puas terhadap produk fashion yang telah dikonsumsi. Semakin konsumtif masyarakat terhadap produk fast fashion makin meningkat pula limbah pakaian yang dihasilkan. Limbah pakaian fast fashion ini di daur ulang dengan metode upcycle fashion dan menerapkan teknik monumental tekstil yakni patchwork. Karya fashion ini digarap melalui tahapan Frangipani “The secret Steps of Art Fashion”. Melalui karya ini masyarakat diharapkan lebih bijaksana dalam mengkonsumsi produk fashion khususnya fast fashion agar dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan pada ekosistem laut.
MEDIA VIDEO ANIMASI DAN BUKU PROFIL SENI PRASI SERTA KAIN TENUN SONGKET KECAMATAN SIDEMEN, KABUPATEN KARANGASEM Putraka, Agus Ngurah Arya; Sarjani, Ni Ketut Pande; Astuti, Ni Ketut Rini
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bagaikan lautan potensi kesenian yang begitu indah dan terus bergerak perlahan, terdengar tenang dalam suasana asri di suatu kecamatan yang terletak di kabupaten Karangasem sangat begitu memikat dan mempesona. Potensi seni yang sudah lama ada dan tetap terjaga di setiap desa bagaikan hamparan samudra yang menyimpan begitu banyak kekayaan didalamnya, kecamatan itu bernama Sidemen, dimana seni prasi dan kain tenun songket menjadi dua potensi penting dalam sejarah perkembangan kecamatan Sidemen, selain hasil kesenian dan kekayaan alam lainnya yang tersedia di kecamatan yang asri ini, penulis terpanggil untuk dapat lebih memperkenal seni prasi dan kain tenun songket yang menjadi identitas seni dan budaya kecamatan Sidemen sejak tahun 1970-an, melalui Media komunikasi visual yang merupakan bidang keilmuan penulis akan dirancang media video animasi dan buku profil kecamatan Sidemen, kabupaten Karangasem. Dimana pada media video animasi dan buku profil yang dirancang akan mengulas tentang sejarah perkembangan seni prasi dan kain tenun songket di kecamatan Sidemen, sehingga harapannya media komunikasi visual nantinya akan mampu mempromosikan potensi seni serta memperkenalkan budaya yang ada di kecamatan Sidemen dimata nasional hingga dimata internasional sebagai kecamatan wisata pusat seni prasi dan kain songket serta memperkenalkan kecamatan Sidemen sebagai salah satu kecamatan yang memiliki peran penting dalam perkembangan seni prasi dan kain tenun songket di provinsi Bali. Hingga pada akhirnya media video animasi dan buku profil kecamatan Sidemen ini dapat digunakan sebagai catatan sejarah kecamatan Sidemen dimasa lalu untuk disampaikan dan diteruskan oleh generasi muda kecamatan Sidemen di masa yang akan datang.

Page 7 of 13 | Total Record : 130