cover
Contact Name
Khamami Zada
Contact Email
jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Phone
+6221-74711537
Journal Mail Official
jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Faculty of Sharia & Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir. H. Juanda 95 Ciputat Jakarta 15412 Telp. (62-21) 74711537, Faks. (62-21) 7491821 Website:http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/ahkam E-mail: jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah
ISSN : 14124734     EISSN : 24078646     DOI : 10.15408
Core Subject : Religion, Social,
Focus and Scope FOCUS This journal focused on Islamic Studies and present developments through the publication of articles and research reports. SCOPE Ahkam specializes on islamic law, and is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Fatwa; Islamic Economic Law; Islamic Family Law; Islamic Legal Administration; Islamic Jurisprudence; Islamic Law and Politics; Islamic Legal and Judicial Education; Comparative Islamic Law; Islamic Law and Gender; Islamic Law and Contemporary Issues; Islamic Law and Society; Islamic Criminal Law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 391 Documents
Unlawfulness Within the Bugo Tradition in Morotai: A Comparative Perspective of Positive Criminal Law & Islamic Criminal Law Rahmat Abdullah; Abdul Mutalib; Andri Sutrisno; Agnes Fitryantica; Arikha Saputra
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 26 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v26i1.50060

Abstract

The Bugo tradition in Sangowo Village, Morotai Island Regency, is the practice of taking fruit or goods from someone's garden by leaving a sign as notification to the owner. This practice raises legal issues when confronted with theft under the Criminal Code and sariqah in fiqh al-jināyāt. This study employs a legal-empirical or socio-legal method with conceptual and comparative approaches to analyse Bugo's legal status from the perspectives of positive and Islamic criminal law. The results show that although Bugo formally fulfills the elements of Article 476 of the Criminal Code, its material unlawfulness is nullified because it is a living law accepted by the community and qualifies as a reason for criminal exemption outside the law. From the fiqh al-jināyāt perspective, Bugo does not fulfill the elements of khufyah and qaṣd al-sariqah, while strong shubhah from ʿurf nullifies the ḥadd based on the rule of "idrāʾ al-ḥudūd bi al-shubuhāt" (ḥudūd are averted by doubt). Both legal systems have flexible safety valves and consider social context, yet differ in focus: positive criminal law nullifies the act's unlawful nature, whereas Islamic criminal law nullifies the ḥadd penalty even when the act remains shubhah.   Abstrak Tradisi Bugo di Desa Sangowo, Kabupaten Pulau Morotai, adalah praktik mengambil buah atau barang dari kebun milik orang lain dengan meninggalkan tanda sebagai pemberitahuan kepada pemiliknya. Praktik ini menimbulkan problematika yuridis ketika dihadapkan pada delik pencurian dalam KUHP dan delik sariqah dalam fikih jinayat. Penelitian ini menggunakan metode yuridis-empiris atau socio-legal research dengan pendekatan konseptual serta pendekatan komparatif untuk menganalisis status hukum tradisi Bugo dalam perspektif hukum pidana positif dan hukum pidana Islam. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun tradisi bugo secara formil memenuhi unsur delik Pasal 476 KUHP, sifat melawan hukum materiilnya gugur karena merupakan living law yang diterima masyarakat dan dapat dikualifikasikan sebagai alasan penghapus pidana di luar undang-undang. Dalam perspektif fikih jinayat, tradisi Bugo tidak memenuhi unsur khufyah dan qaṣd al-sariqah, serta menimbulkan shubhah yang kuat dari ʿurf yang menggugurkan ḥadd berdasarkan kaidah “idrāʾ al-ḥudūd bi al-shubuhāt”. Kedua sistem hukum memiliki katup pengaman yang fleksibel dan mempertimbangkan konteks sosial, namun berbeda dalam fokus: hukum pidana positif menggugurkan sifat melawan hukum perbuatan, sementara hukum pidana Islam menggugurkan sanksi ḥadd meskipun perbuatan masih bersifat shubhah.
Gender Relational Ethics in the Nyambai Tradition: A Living Fiqh al- Munākahāt Perspective on Ta’āruf among the Lampung Indigenous Community Wahyu Abdul Jafar; Widad Mahdi Jasim; Ahmed Adil Musa Al-Hayani; Edi Mulyono; Supardi Mursalin
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 26 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v26i1.50150

Abstract

This study examines the Nyambai tradition as a form of cultural ta’āruf among the Saibatin indigenous community of Lampung through the perspective of living fiqh al-munākahāt. Nyambai is a paired traditional dance performed by muli (young women) and mekhanai (young men) that serves as a medium for social interaction, the introduction of potential marriage partners, and an essential element of customary ceremonies, particularly Nayuh wedding rituals. Beyond its aesthetic function, Nyambai embodies social norms and gender ethics that regulate interactions between men and women within the public customary sphere. This qualitative research employs a legal-ethnographic approach, drawing on participant observation, in-depth interviews with customary leaders, performers, and married couples, and documentary analysis of customary texts and fiqh literature. The findings indicate that Nyambai represents a symbolic and regulated form of ta’āruf consistent with key principles of fiqh al-munākahāt, including the protection of honor, proper social conduct, and family formation. The study also highlights ongoing negotiations between customary norms and Islamic legal interpretations.   Abstrak Penelitian ini mengkaji tradisi Nyambai sebagai bentuk budaya ta'āruf di kalangan masyarakat adat Saibatin Lampung melalui perspektif hidup fikih munakahat. Nyambai adalah tarian tradisional berpasangan yang dilakukan oleh muli (wanita muda) dan mekhanai (pria muda), yang berfungsi sebagai media interaksi sosial, pengenalan calon pasangan untuk pernikahan, serta elemen penting dalam upacara adat, terutama dalam ritual pernikahan Nayuh. Di luar fungsi estetikanya, Nyambai mewujudkan norma-norma sosial dan etika gender yang mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan di ranah publik adat. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan hukum-etnografi, mengacu pada pengamatan peserta, wawancara mendalam dengan pemimpin adat, pemain, dan pasangan suami istri, serta analisis dokumenter teks adat dan literatur fikih. Temuan ini menunjukkan bahwa Nyambai mewakili bentuk simbolis yang diatur oleh ta'āruf, yang konsisten dengan prinsip-prinsip utama fikih munakahat, termasuk perlindungan kehormatan, perilaku sosial yang tepat, dan pembentukan keluarga. Studi ini juga menyoroti negosiasi yang sedang berlangsung antara norma-norma adat dan interpretasi hukum Islam.
The Apostasy Penalty in Contemporary Islamic Jurisprudence: A Comparative Analysis and Contextual Interpretation Mohamed Mahmoud El Gammal; Saepul Anwar; Hussein Bbaale
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 26 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v26i1.36147

Abstract

This study examines the evolving discourse on the punishment for apostasy (riddah) in Islamic jurisprudence by analyzing its classical foundations and contemporary relevance. Using a comparative approach, it examines the legal positions of the major Sunni schools and the Ẓāhirī tradition, while assessing responses from modern scholars and fatwa institutions to shifting political structures, social realities, and evolving concepts of citizenship. The research evaluates whether the classical death penalty for apostasy remains theologically justified and legally applicable in contemporary nation-states characterized by religious pluralism and individual rights. Through an examination of Quranic texts, prophetic traditions, historical precedents, and juristic methodologies, the study distinguishes apostasy associated with rebellion, treason, or public sedition from apostasy arising from private belief or personal conviction. The findings suggest that classical jurists frequently linked apostasy to threats against communal stability and political order rather than to disbelief alone. Accordingly, the study argues that contemporary interpretations should be guided by the objectives of Islamic law (maqāṣid al-sharīʿah), particularly the preservation of life, intellect, religion, and human dignity. It concludes that modern applications of apostasy rulings require contextual evaluation and cautions against the political instrumentalization of religious law in contemporary societies.   Abstrak Penelitian ini menganalisis perkembangan pandangan mengenai hukuman bagi pelaku murtad (riddah) dalam fikih dengan menelaah dasar-dasar pemikiran klasik serta relevansinya pada masa kini. Dengan menggunakan pendekatan komparatif, penelitian ini mengkaji pandangan mazhab-mazhab Sunni dan mazhab Ẓāhirī, serta menganalisis tanggapan para ulama dan lembaga fatwa kontemporer terhadap perubahan sistem politik, kondisi sosial, dan konsep kewarganegaraan modern. Penelitian ini bertujuan untuk menilai apakah hukuman mati bagi pelaku murtad yang dikenal dalam fikih klasik masih memiliki dasar teologis dan dapat diterapkan dalam negara modern yang menjunjung pluralisme agama dan hak-hak individu. Melalui analisis terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, hadis Nabi, fakta sejarah, dan metode istinbaṭ hukum para ulama, penelitian ini membedakan antara kemurtadan yang disertai tindakan pemberontakan, pengkhianatan, atau ancaman terhadap ketertiban umum dengan kemurtadan yang hanya berkaitan dengan keyakinan pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak ulama klasik menghubungkan kemurtadan dengan ancaman terhadap stabilitas masyarakat dan negara, bukan semata-mata perubahan agama seseorang. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman hukum kemurtadan pada masa kini perlu mempertimbangkan tujuan-tujuan syariat (maqāṣid al-sharīʿah), terutama perlindungan terhadap jiwa, akal, agama, dan martabat manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan hukum kemurtadan dalam konteks modern memerlukan kajian yang kontekstual dan tidak boleh digunakan sebagai alat kepentingan politik.
Re-examining the Consistency of al-Māwardī’s Interpretative Method on Jināyāt Verses Kamal Fiqry Musa; Achmad Zubairin; Eva Nugraha
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 26 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v26i1.41375

Abstract

Amid accusations of al-Māwardī’s theological alignment with the Muʿtazilite and criticisms that his interpretation of the jināyah (criminal law) verses contradicts human values, this study highlights the anthropocentric nature of his exegetical approach. By analyzing his commentary on jināyah verses, it demonstrates how he employs the tafsīr bi al-ma’thūr (tradition-based) method—relying on the hadith and accounts from the Prophet’s companions and the tābi’īn—which characterizes his work as tafsīr jam’i al-aqwāl (an eclectic method). In presenting the perspectives of the companions and classical scholars, al-Māwardī’s commentary shares similarities with that of al-Ṭabarī (though less comprehensive), Ibn al-Jawzī’s Zād al-Masīr, and al-Ṣābūnī’s Ṣafwah al-Tafāsīr. However, it diverges significantly from al-Ṣābūnī’s other work, Rawā’i‘ al-Bayān Tafsīr Āyāt al-Aḥkām. Furthermore, this research proves that al-Māwardī consistently applies the Shāfi‘ī method of legal deduction (istinbāṭ al-ḥukm), wherein legal rulings must fundamentally derive from the Quran, hadith, opinions of the companions, takhyīr (option), ijmā‘ (consensus), and istidlāl (inferential reasoning).   Abstrak Di tengah tudingan teologi al-Māwardī  yang menganut Muʿtazilah, dan metode penafsiran ayat-ayat jinayat-nya yang menurut sebagian kalangan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan,  artikel ini justru menyoroti metode penafsirannya yang antroposentris. Dengan menganalisis penafsirannya pada ayat-ayat jināyah melalui metode tafsir bi al-ma’thūr yang mendasarkan pada hadis dan riwayat para sahabat dan tābi’īn, tafsir al-Māwardī bercorak tafsīr jam’i al-aqwāl (metode eklektik). Tafsir al-Māwardī memiliki kesamaan dengan tafsir al-Ṭabarī, (meski tidak sekomprehensif al-Ṭabarī), tafsir Ibn al-Jauzī dalam kitab Zād al-Masīr, dan tafsir al-Ṣābūnī  dalam kitab Ṣafwah al-Tafsīr yang juga menghadirkan pendapat-pendapat sahabat dan ulama. Akan tetapi, tafsir ini berbeda dengan kitab al-Ṣābūnī dalam Rawāi’ al-Bāyān Tafsīr Āyāt al-Aḥkām. Penelitian ini juga membuktikan bahwa metode istīnbāṭ hukum yang digunakan al-Māwardī dalam penafsirannya secara konsisten menggunakan metode istinbāṭ al-ḥukm al-Shāfi’ī, yaitu penetapan suatu hukum didasarkan pada dalīl Al-Qur’an, Hadis, pendapat sahabat, takhyīr, ijmā’, dan istidlāl.
The Secularization of Halal: State Bureaucracy vs Semantic Ethics in Indonesia’s Halal Governance Rusli Rusli; Ubay Ubay; Murniati Ruslan; Maswani Maswani; Rizqi Handayani
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 26 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v26i1.48658

Abstract

A deeper conflict within Indonesia’s halal governance system is exposed by the controversy over halal certification for goods bearing names associated with haram concepts. This study examines the historical development of halal-certification organizations, sociological factors influencing halal assurance among producers and consumers, and the public response to the moral conundrum posed by halal-certified goods with names inappropriate to their religions, using a sociological–historical methodology. Primary data was gathered from documents and digital media sources using qualitative methods. The legal-semiotic anomaly appears in Law No. 33/2014 on Halal Product Assurance, where material consideration enables controversial names (such as haram, immoral, or occult elements) to be considered halal due to legal permissibility, creating a separation between halal as a material (legal) aspect and halal as an identity (semantic-ethical). The results show that this anomaly can be explained by an epistemic tension between positivist law and religious ethics, in which the former deems naming insignificant while the latter views the name as part of the meaning of halal. The problem lies in halal governance, where the notion of Halal-Identity is employed as a framework emphasising halal as an identity concept.   Abstrak Konflik mendalam dalam sistem tata kelola halal di Indonesia tampak dari kontroversi sertifikasi halal pada produk yang menggunakan nama berasosiasi dengan konsep ḥaram. Studi ini mengkaji perkembangan historis lembaga sertifikasi halal, faktor sosiologis yang memengaruhi jaminan halal di kalangan produsen dan konsumen, serta respons publik terhadap dilema moral dari produk bersertifikat halal dengan nama yang tidak sesuai secara keagamaan, menggunakan pendekatan sosiologis-historis. Data primer diperoleh dari dokumen dan media digital melalui metode kualitatif. Anomali legal-semiotik muncul dalam UU No. 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal, di mana pertimbangan material memungkinkan nama kontroversial (seperti ḥaram, immoral, atau unsur okultisme) tetap dianggap halal karena sah secara hukum. Hal ini menciptakan pemisahan antara halal sebagai aspek material (legal) dan halal sebagai identitas (semantik-etis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa anomali ini bersumber dari ketegangan epistemik antara hukum positivistik dan etika agama: yang pertama menganggap penamaan tidak relevan secara hukum, sementara yang kedua memandang nama sebagai bagian dari makna halal. Masalah ini menunjukkan bahwa konsep Halal-Identity diperlukan sebagai kerangka analisis yang menegaskan halal sebagai identitas yang utuh.
Navigating Indonesia’s State Ideology: The Siyāsah Shar’iyyah Framework Rido Hermawan; Kurniawan; Rr Dewi Anggraeni; Abdul Rahman Kadir; Achmad Syahid
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i2.48776

Abstract

A state ideology is exposed to threats that may weaken national resilience and sovereignty. This study examines the protection of Indonesia’s state ideology through the perspective of siyāsah shar’iyyah. Using a phenomenological approach, it explores religious paradigms in the governance practices of institutions responsible for safeguarding Pancasila, with emphasis on Islamic organizational management. The study applies a qualitative methodology grounded in the sharia legal paradigm, integrating Islamic legal principles as the analytical framework. Data were collected through in-depth interviews with institutional leaders and members, observation of managerial practices, and analysis of official documents, including operational guidelines and annual reports. The findings show that applying the siyāsah shar’iyyah framework promotes orderly and integrity-based governance through principles such as justice, trustworthiness (amānah), and consultative deliberation (mushāwarah). These values strengthen transparency, accountability, and managerial effectiveness, reinforcing organizational integrity and public trust. However, challenges remain, including resistance to organizational change and limited understanding of sharia-based management. The study concludes that Islamic paradigms can support modern governance when adapted locally.                                                                                            Abstrak Ideologi negara senantiasa menghadapi berbagai ancaman yang berpotensi melemahkan ketahanan dan kedaulatan nasional. Penelitian ini mengkaji upaya perlindungan ideologi negara Indonesia melalui perspektif siyāsah shar’iyyah. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, studi ini mengeksplorasi paradigma keagamaan dalam praktik tata kelola lembaga-lembaga yang bertanggung jawab menjaga ideologi Pancasila, dengan penekanan pada manajemen organisasi berbasis Islam. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif yang berlandaskan pada paradigma hukum syariah, dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip hukum Islam sebagai kerangka analisis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pimpinan dan anggota lembaga, observasi terhadap praktik manajerial, serta analisis dokumen resmi, termasuk pedoman operasional dan laporan tahunan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan kerangka siyāsah shar’iyyah mendorong tata kelola yang tertib dan berintegritas melalui prinsip-prinsip keadilan, amanah, dan musyawarah. Nilai-nilai tersebut memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas manajerial, sekaligus meningkatkan integritas organisasi dan kepercayaan publik. Namun demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, antara lain resistensi terhadap perubahan organisasi dan keterbatasan pemahaman mengenai manajemen berbasis syariah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa paradigma keislaman dapat mendukung tata kelola modern apabila diadaptasi secara kontekstual.
Towards a Sharia Derivatives Law: Harmonizing Religious Fatwas and Financial Regulation in Indonesia Chandra yusuf; Nurul Huda; Perdana Wahyu Santosa; Iskandar Muda
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 26 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v26i1.50050

Abstract

This article examines the legal status of sharia-compliant derivative instruments in Indonesia by analysing the relationship between DSN-MUI Fatwa No. 96/DSN-MUI/IV/2015 and the positive legal framework governing Islamic finance. Although the fatwa permits sharia hedging for genuine risk-management purposes, its legal force remains institutionally incomplete because it has not been fully translated into binding statutory or regulatory instruments. Drawing on normative legal research and a comparative analysis of Malaysia, Pakistan, and the United Arab Emirates, this article develops a Sharia-Institutional Conformity framework. The framework argues that effective harmonisation requires the simultaneous satisfaction of two conditions: substantive sharia compliance and institutional legal certainty. The Indonesian case shows that the first condition has been substantially met through the DSN-MUI fatwa authority. In contrast, the second remains underdeveloped due to fragmented regulatory integration among DSN-MUI, OJK, Bank Indonesia, and legislative institutions. The article contributes to Islamic financial law by reframing the fatwa-law gap not merely as a problem of regulatory absence, but as a structural failure of institutional translation. It recommends a phased harmonisation model consisting of technical implementing regulations, strengthened cross-agency coordination, and ultimately a Sharia Financial Products Law or dedicated Sharia Derivatives Law.   Abstrak Artikel ini mengkaji status hukum instrumen derivatif syariah di Indonesia dengan menganalisis hubungan antara Fatwa DSN-MUI No. 96/DSN-MUI/IV/2015 dan kerangka hukum positif yang mengatur keuangan syariah. Meskipun fatwa tersebut memperbolehkan lindung nilai syariah untuk kebutuhan manajemen risiko yang nyata, kekuatan hukumnya masih belum lengkap secara institusional karena belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam instrumen peraturan yang mengikat. Dengan menggunakan penelitian hukum normatif dan analisis perbandingan terhadap Malaysia, Pakistan, dan Uni Emirat Arab, artikel ini mengembangkan kerangka Sharia-Institutional Conformity. Kerangka ini berargumen bahwa harmonisasi yang efektif mensyaratkan pemenuhan dua kondisi secara simultan: kepatuhan substantif terhadap syariah dan kepastian hukum institusional. Kasus Indonesia menunjukkan bahwa kondisi pertama telah relatif terpenuhi melalui otoritas fatwa DSN-MUI, sedangkan kondisi kedua masih belum memadai karena integrasi regulasi antara DSN-MUI, OJK, Bank Indonesia, dan lembaga legislatif masih terfragmentasi. Artikel ini berkontribusi pada hukum keuangan Islam dengan membingkai kesenjangan antara fatwa dan hukum bukan sekadar sebagai ketiadaan regulasi, melainkan sebagai kegagalan struktural dalam penerjemahan institusional. Artikel ini merekomendasikan model harmonisasi bertahap melalui peraturan teknis, koordinasi lintas lembaga, dan pembentukan Undang-Undang Produk Keuangan Syariah atau Undang-Undang Derivatif Syariah.
From Corporate Logic to Public Welfare: A Siyāsah Shar‘iyyah Framework for Understanding Indonesian State-Owned Enterprises Fathudin; Anna Erliyana; Dian Puji N Simatupang
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 26 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v26i1.50058

Abstract

The establishment of BPI Danantara as Indonesia’s state-owned enterprise (SOE) super-holding has renewed debates over the balance between state control and market logic in managing strategic public assets. This article examines the normative foundations of SOE governance through the framework of siyāsah shar’iyyah, using a normative-conceptual approach grounded in classical and contemporary fiqh literature and constitutional analysis. The study focuses on two dimensions. First, regarding state authority, the post-reform SOE structure—comprising the State-Owned Enterprises Board (BP BUMN), BPI Danantara, and SOE Boards of Directors—corresponds to the doctrines of wilāyah ‘āmmah and wilāyah khāṣṣah, which justify delegated authority while maintaining accountability to the state. Second, regarding public interest, the principle taṣarruf al-imām manūṭun bi al-maṣlaḥah establishes public welfare as a condition of policy legitimacy. Drawing on al-Gazālī’s classification of maṣlaḥah mursalah, the analysis shows that efficiency gains at the taḥsīniyyāt level cannot justify weakening state control over interests categorized as ḍarūriyyāt. The study concludes that SOE governance must satisfy both constitutional and sharia-based legitimacy by prioritizing the collective public interest.   Abstrak Pembentukan BPI Danantara sebagai superholding BUMN Indonesia telah memperbarui perdebatan mengenai keseimbangan antara kontrol negara dan logika pasar dalam pengelolaan aset publik strategis. Artikel ini mengkaji landasan normatif tata kelola BUMN melalui kerangka siyāsah shar'iyyah dengan pendekatan normatif-konseptual yang bertumpu pada literatur fikih klasik dan kontemporer serta analisis konstitusional. Kajian ini berfokus pada dua dimensi. Pertama, terkait kewenangan negara, struktur BUMN pascareformasi yang terdiri atas BP BUMN, BPI Danantara, dan Direksi BUMN sesuai dengan doktrin wilāyah ‘āmmah dan wilāyah khāṣṣah, yang memberikan dasar normatif bagi pendelegasian kewenangan dengan tetap menjaga akuntabilitas kepada negara. Kedua, terkait kepentingan publik, prinsip taṣarruf al-imām manūṭun bi al-maṣlaḥah menempatkan kemaslahatan publik sebagai dasar legitimasi kebijakan. Berdasarkan klasifikasi maṣlaḥah mursalah menurut al-Gazālī, analisis menunjukkan bahwa efisiensi pada tingkat taḥsīniyyāt tidak dapat dijadikan alasan untuk mengurangi kontrol negara atas kepentingan yang termasuk dalam kategori ḍarūriyyāt. Studi ini menyimpulkan bahwa tata kelola BUMN harus memenuhi legitimasi konstitusional sekaligus legitimasi normatif berbasis Syariah dengan tetap memprioritaskan kepentingan publik secara kolektif.
Human Rights Fulfilment in Lapindo Mudflow-Affected Communities:  A Maqāsid Fulfilment Index Approach Arie Baskhoro; Thi Phuoc Lai Nguyen; Amany Lubis
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 26 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v26i1.50181

Abstract

Long-term recovery after the Lapindo mudflow cannot be assessed solely by technical rehabilitation, relocation, compensation, or service restoration. This study analyzes human rights fulfillment among affected Muslim communities using a minimum obligation framework based on maqāṣid al-sharī‘ah. The five dimensions (religion, life, intellect, family, and wealth) are expressed as 25 rights indicators within the Maqāṣid Fulfilment Index (MFI). Data from 300 respondents in Tanggulangin, Jabon, and Porong were analyzed using normalized scoring, the Kruskal-Wallis test, stakeholder accountability mapping, and normative legal benchmarking. Results show moderate but uneven fulfillment. Life and intellect are relatively stronger, while wealth, compensation, legal aid, documentation, and religious and family support remain weak. This study introduces a measurable tool to link rights deficits with vulnerability, institutional accountability, and recovery pathways in long-term disaster governance. It reframes recovery as a question of measurable protection, responsibility, and remedy over time.   Abstrak Pemulihan jangka panjang pasca letusan lumpur Lapindo tidak dapat dinilai hanya melalui rehabilitasi teknis, relokasi, kompensasi, atau pemulihan layanan. Studi ini menilai pemenuhan hak asasi manusia komunitas Muslim terdampak melalui kerangka kewajiban minimum berbasis maqāṣid al-sharī‘ah. Lima dimensi yang diukur, yaitu agama, jiwa, akal, keluarga, dan harta, dioperasionalkan menjadi 25 indikator hak dalam Maqāṣid Fulfilment Index (MFI). Data dikumpulkan dari 300 responden di Tanggulangin, Jabon, dan Porong, lalu dianalisis melalui skor ternormalisasi, uji Kruskal Wallis, pemetaan akuntabilitas pemangku kepentingan, dan pembandingan norma hukum. Hasil menunjukkan pemenuhan sedang tetapi tidak merata. Jiwa dan akal relatif lebih kuat, sedangkan harta, kompensasi, bantuan hukum, dokumentasi, serta dukungan agama dan keluarga masih rapuh. Studi ini berkontribusi melalui instrumen terukur yang menghubungkan defisit pemenuhan hak dengan distribusi kerentanan, akuntabilitas institusional, dan jalur pemulihan dalam tata kelola bencana jangka panjang. Dengan demikian, pemulihan dibaca sebagai persoalan perlindungan, tanggung jawab, dan remedy yang terukur dari waktu ke waktu.
Istiḥsān and Judicial Recalibration of Marital Property Rights in Indonesia's Religious Courts Darmawan; Nur Lailatul Musyafaah; Mohammad Ikhwanuddin; Muhammad Syafiq Mughni
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 26 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v26i1.50333

Abstract

This study analyzes the evolution of marital property division (harta bersama) jurisprudence in Indonesia’s Religious Courts through the lens of istiḥsān as a method of Islamic legal reasoning (uṣūl al-fiqh). Traditionally, courts applied a rigid 50:50 division upon divorce or death, grounded in the Compilation of Islamic Law and Law No. 1 of 1974. Recent Supreme Court cassation decisions, however, demonstrate a shift toward proportionate division while maintaining doctrinal coherence. Using doctrinal analysis and a structured synthesis of three leading decisions, this study identifies three jurisprudential patterns: 1) reaffirmation of equal division when deviation is unjustified; 2) calibrated adjustment based on economic contribution, unpaid domestic labor, maintenance failure, and childcare responsibilities; and 3) proper sequencing in death cases by allocating marital property before distributing the estate through inheritance. These rulings operationalize istiḥsān within the maqāṣid al-sharīʿah framework to achieve substantive justice where formal equality undermines fairness. The study proposes a practical framework to enhance consistency, gender justice, and legal certainty in future adjudication.   Abstrak Penelitian ini menganalisis perkembangan yurisprudensi pembagian harta bersama di Pengadilan Agama Indonesia melalui pendekatan istiḥsān sebagai metode penalaran hukum Islam (uṣūl al-fiqh). Selama ini, pengadilan cenderung menerapkan pembagian kaku 50:50 dalam perkara perceraian maupun kematian, sebagaimana diatur dalam Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Namun, sejumlah putusan kasasi Mahkamah Agung terbaru menunjukkan pergeseran menuju pembagian proporsional tanpa meninggalkan konsistensi doktrinal. Melalui analisis doktrinal dan sintesis terstruktur terhadap tiga putusan kunci, penelitian ini mengidentifikasi tiga pola utama: 1) penguatan pembagian setara ketika tidak terdapat alasan pembeda; 2) penyesuaian proporsional berdasarkan kontribusi ekonomi, kerja domestik tidak berbayar; 3) kegagalan nafkah, dan beban pengasuhan anak; 3) serta penegasan urutan hukum dalam perkara kematian dengan memisahkan harta bersama sebelum pembagian waris. Pendekatan ini menempatkan istiḥsān dalam kerangka maqāṣid al-sharīʿah untuk mewujudkan keadilan substantif, kepastian hukum, dan keadilan gender.