cover
Contact Name
Herlandri Eka Jayaputri
Contact Email
herlandrieka@gmail.com
Phone
+6281336684413
Journal Mail Official
biakakperik@gmail.com
Editorial Address
Jl. Adibay Raya (depan Perumnas Sumberker No. 1), Biak-Papua
Location
Kab. biak numfor,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services
ISSN : -     EISSN : 27763501     DOI : https://doi.org/10.58950/jpk
Core Subject : Engineering,
Jurnal Perikanan Kamasan diterbitkan untuk mempromosikan tinjauan kritis dari berbagai isu ivestigasi yang menarik dibidang perikanan antara peneliti, akademisi,mahasiswa, dan masyarakat umum, sebagai media komunikasi penyebaran dan pemanfaatn kegiatan ilmiah yang lebih luas. Bidang kajian agribisnis perikanan, perianan budidaya, biologi perikanan, manajemen dan pemanfaatan sumberdaya perikanan.
Articles 61 Documents
Pengaruh Kepadatan pada Transportasi Basah Tertutup Dari Kediri ke Surabaya terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum): Effect of Stocking Density on Survival and Water Quality of Freshwater Pomfret (Colossoma macropomum) Fry During Closed Wet Transportation Hermanto Hermanto; Sri Oetami Madyowati; Sumaryam Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v7i1.103

Abstract

Transportasi benih ikan dalam sistem basah tertutup berisiko menurunkan kualitas air akibat akumulasi hasil respirasi dan ekskresi, terutama pada kepadatan tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kepadatan terhadap sintasan dan kualitas air benih ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum) ukuran 3–5 cm selama transportasi darat tertutup. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan kepadatan, yaitu 50, 75, 100, dan 125 ekor per kantong, masing-masing enam ulangan. Transportasi dilakukan pada rute Kediri–Surabaya dengan durasi sekitar 4 jam. Parameter yang diamati meliputi kelangsungan hidup, suhu, derajat keasaman (pH), dan oksigen terlarut sebelum dan sesudah transportasi. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup benih. Kepadatan 50, 75, dan 100 ekor per kantong menghasilkan sintasan berturut-turut sebesar 98,33%, 96,89%, dan 94,50%, serta tidak berbeda nyata. Sebaliknya, kepadatan 125 ekor per kantong menurunkan sintasan menjadi 80,93%, disertai penurunan oksigen terlarut hingga 4,23 mg/L, penurunan pH menjadi 6,65, dan peningkatan suhu menjadi 27,75°C. Disimpulkan bahwa kepadatan hingga 100 ekor per kantong merupakan batas aman untuk mempertahankan sintasan benih bawal air tawar selama transportasi basah tertutup berdurasi sekitar 4 jam.
Deteksi dan Prevalensi Infeksi (Enterocytozoon Hepatopenaei) pada Benur Udang Vanname (Litopenaeus Vannamei) di Jawa Timur : Detection and Prevalence of Enterocytozoon hepatopenaei Infection in Pacific White Shrimp (Litopenaeus vannamei) Post-Larvae in East Java, Indonesia Nunuk Ari Setyawati; Sri Oetami Madyowati; Achmad Kusyairi
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.104

Abstract

Udang vanname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas akuakultur bernilai ekonomi tinggi yang rentan terhadap hepatopancreatic microsporidiosis akibat infeksi Enterocytozoon hepatopenaei (EHP). Infeksi EHP pada stadia benur umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas sehingga deteksi dini diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit ke tambak pembesaran. Penelitian ini bertujuan mendeteksi keberadaan EHP dan menentukan prevalensi infeksinya pada benur udang vanname stadia PL16–PL20 yang berasal dari empat lokasi di Jawa Timur. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik purposive sampling. Sebanyak 80 sampel benur dikumpulkan dari Banyuwangi, Situbondo, Sidoarjo, dan Tuban, masing-masing sebanyak 20 sampel. Deteksi EHP dilakukan melalui ekstraksi deoxyribonucleic acid (DNA), amplifikasi menggunakan polymerase chain reaction (PCR) dengan target fragmen 510 pasangan basa, dan visualisasi menggunakan elektroforesis gel agarosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel dari Banyuwangi dan Situbondo negatif terhadap EHP dengan prevalensi 0%. Sebaliknya, lima dari 20 sampel benur asal Sidoarjo terdeteksi positif dengan prevalensi 25%, sedangkan tiga dari 20 sampel asal Tuban positif dengan prevalensi 15%. Temuan ini menunjukkan bahwa infeksi EHP dapat terjadi sejak stadia benur dan memperlihatkan variasi prevalensi antarwilayah. Oleh karena itu, penerapan biosekuriti yang ketat, pengelolaan kualitas air yang optimal, serta penggunaan induk dan benur bersertifikat bebas patogen perlu diprioritaskan untuk mengurangi risiko penyebaran EHP pada sistem budidaya udang vanname.
Pengaruh Kepadatan pada Pengangkutan Sistem Basah Tertutup terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Lele (Clarias sp.) Umur 30 Hari: Effect of Different Stocking Densities during Closed Wet Transportation on the Survival of 30-Day-Old Catfish (Clarias sp.) Fry Doni Setiyo Wahyudi; Sumaryam; Achmad Kusyairi
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.105

Abstract

Distribusi benih ikan lele memerlukan sistem pengangkutan yang mampu mempertahankan tingkat kelangsungan hidup selama proses transportasi. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan transportasi adalah kepadatan benih dalam media pengangkutan, karena kepadatan yang terlalu tinggi dapat meningkatkan stres dan menurunkan kualitas lingkungan media. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepadatan berbeda dalam sistem pengangkutan basah tertutup terhadap kelangsungan hidup benih ikan lele (Clarias sp.) umur 30 hari serta menentukan kepadatan yang paling efektif. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan kepadatan, yaitu 125, 150, 175, dan 200 ekor per kantong dalam 1,5 L air, masing-masing dengan enam ulangan. Benih dipuasakan selama 24 jam sebelum diangkut selama ±5 jam menggunakan perbandingan air dan oksigen 1:2. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup, suhu, dan pH media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup benih. Kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada kepadatan 125 ekor/kantong sebesar 99,20%, diikuti 150 ekor/kantong sebesar 98,56%, 175 ekor/kantong sebesar 97,24%, dan 200 ekor/kantong sebesar 83,08%. Suhu akhir berkisar antara 26,7–26,9 °C dan pH antara 6,3–6,6. Berdasarkan hasil penelitian, kepadatan 125 ekor/kantong direkomendasikan sebagai kepadatan yang paling aman untuk pengangkutan benih ikan lele selama lima jam dalam sistem basah tertutup.
Pengaruh Kepadatan Tebar terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Transportasi Sistem Basah Tertutup: Effect of Stocking Density on the Survival of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) Fry during Closed Wet Transportation Hadi Bambang Purnomo; Maria Agustin; Didik Budiyanto
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.108

Abstract

Transportasi sistem basah tertutup merupakan metode yang umum digunakan dalam distribusi benih ikan nila (Oreochromis niloticus), namun peningkatan kepadatan tebar selama pengangkutan dapat menurunkan kualitas media, meningkatkan stres, dan menurunkan kelangsungan hidup benih. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kepadatan tebar terhadap kelangsungan hidup benih ikan nila pada transportasi sistem basah tertutup. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan kepadatan, yaitu 1.000, 1.500, 2.000, dan 2.500 ekor per 5 L air, masing-masing dengan enam ulangan. Benih berukuran 2–3 cm diberok selama 24 jam, kemudian diangkut menggunakan kantong plastik berisi air dan oksigen murni pada rute Kediri–Sidoarjo selama 4 jam 5 menit. Parameter yang diukur meliputi kelangsungan hidup, suhu, pH, oksigen terlarut, dan amonia. Data kelangsungan hidup dianalisis menggunakan analisis sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan tebar berpengaruh sangat nyata terhadap kelangsungan hidup benih ikan nila. Kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada kepadatan 1.000 ekor/5 L sebesar 97,50%, kemudian menurun menjadi 94,50%, 88,67%, dan 81,17% pada kepadatan berturut-turut 1.500, 2.000, dan 2.500 ekor/5 L. Kualitas air selama transportasi masih berada pada kisaran yang dapat ditoleransi, meskipun konsentrasi amonia cenderung meningkat pada kepadatan yang lebih tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan 1.000 ekor/5 L merupakan kepadatan optimal untuk transportasi sistem basah tertutup benih ikan nila karena mampu mempertahankan tingkat kelangsungan hidup tertinggi
Prevalensi dan Keanekaragaman Ektoparasit pada Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) yang Dipelihara pada Berbagai Tipe Dasar Kolam di Kabupaten Jember: Prevalence and Diversity of Ectoparasites in Gourami (Osphronemus gouramy) Reared in Ponds with Different Bottom Types in Jember Regency I Dewa Made Jaka Budi Kurniawan; Sri Oetami Madyowati; Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.109

Abstract

Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan komoditas budidaya air tawar bernilai ekonomi tinggi yang rentan mengalami penurunan produktivitas akibat infestasi ektoparasit. Perbedaan tipe dasar kolam diduga memengaruhi kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan parasit. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis ektoparasit dan menentukan prevalensinya pada ikan gurami yang dipelihara pada berbagai tipe dasar kolam di Kabupaten Jember. Penelitian dilaksanakan pada November 2025 menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan sampel secara purposive terhadap 30 ekor ikan gurami yang berasal dari tiga tipe kolam, yaitu dasar tanah, beton, dan terpal, masing-masing sebanyak 10 ekor. Pemeriksaan ektoparasit dilakukan secara klinis dan mikroskopis pada lendir, sirip, dan insang, sedangkan prevalensi dihitung berdasarkan persentase ikan yang terinfeksi. Kualitas air diamati melalui pengukuran suhu, pH, dan oksigen terlarut. Hasil penelitian mengidentifikasi empat jenis ektoparasit, yaitu Trichodina sp., Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., dan Oodinium sp. Jumlah ektoparasit tertinggi ditemukan pada kolam dasar tanah (290 individu), diikuti kolam beton (157 individu) dan kolam terpal (106 individu). Trichodina sp. merupakan ektoparasit yang paling dominan dengan prevalensi tertinggi mencapai 100% pada kolam dasar tanah. Kisaran kualitas air selama penelitian, yaitu suhu 27,0–29,9 °C, pH 7,0, dan oksigen terlarut 4,0–5,7 mg/L, masih mendukung kehidupan ikan sekaligus memungkinkan perkembangan ektoparasit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe dasar kolam berhubungan dengan tingkat infestasi ektoparasit sehingga pengelolaan dasar kolam dan pengendalian akumulasi bahan organik perlu diterapkan untuk mengurangi risiko infeksi pada budidaya ikan gurami
Efektivitas Ekstrak Daun Waru (Hibiscus tiliaceus L) terhadap Daya Hambat Bakteri Aeromonas Salmonicida secara In Vitro: Effectiveness of Sea Hibiscus (Hibiscus tiliaceus L.) Leaf Extract against Aeromonas salmonicida under In Vitro Conditions Mutaham; Maria Agustin; Didik Budiyanto
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.110

Abstract

Penyakit bakterial pada budidaya ikan umumnya masih dikendalikan menggunakan antibiotik, meskipun penggunaannya berpotensi menimbulkan resistensi bakteri, residu pada produk perikanan, dan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas ekstrak daun waru (Hibiscus tiliaceus L.) dalam menghambat pertumbuhan Aeromonas salmonicida secara in vitro. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan dosis ekstrak (10, 30, 50, dan 70 ppt), masing-masing enam ulangan, serta didahului oleh pengujian Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Minimum Bactericidal Concentration (MBC). Aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi agar sumuran, sedangkan data dianalisis dengan analisis ragam yang dilanjutkan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Hasil pengujian MIC menunjukkan bahwa konsentrasi 100 ppt menghasilkan media bening, sedangkan pengujian MBC pada konsentrasi yang sama tidak menunjukkan pertumbuhan koloni bakteri. Diameter zona hambat meningkat seiring peningkatan dosis ekstrak, yaitu 6,98 ± 0,15 mm (10 ppt), 10,35 ± 0,48 mm (30 ppt), 11,25 ± 0,30 mm (50 ppt), dan 12,70 ± 0,40 mm (70 ppt). Analisis ragam menunjukkan perbedaan yang nyata antarperlakuan (P < 0,05), dengan hubungan dosis dan diameter zona hambat mengikuti persamaan Y = 6,12 + 0,09X (R² = 0,96). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun waru efektif menghambat pertumbuhan A. salmonicida, dengan dosis 70 ppt memberikan aktivitas antibakteri tertinggi pada uji difusi, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai sumber antibakteri alami untuk mendukung pengendalian penyakit bakterial pada budidaya ikan.
Prevalensi dan Identifikasi Ektoparasit pada Ikan Lele (Clarias sp.) yang Dilalulintaskan melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Satuan Pelayanan Ketapang Banyuwangi: Prevalence and Identification of Ectoparasites in Catfish (Clarias sp.) Examined at the Animal, Fish, and Plant Quarantine Service Unit, Ketapang, Banyuwangi Hery Saputro; Sri Oetami Madyowati; Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.111

Abstract

Lalu lintas ikan hidup berpotensi menjadi jalur penyebaran ektoparasit apabila tidak disertai dengan pemeriksaan kesehatan ikan yang memadai. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis ektoparasit dan menentukan prevalensi infeksi pada ikan lele (Clarias sp.) yang dilalulintaskan melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Satuan Pelayanan Ketapang Banyuwangi. Penelitian dilaksanakan pada November–Desember 2025 menggunakan pendekatan deskriptif laboratoris. Sebanyak 120 ekor ikan lele diperiksa, terdiri atas 56 ekor berasal dari Kabupaten Banyuwangi dan 64 ekor dari Kabupaten Jember. Pemeriksaan meliputi pengamatan klinis, pembuatan preparat lendir, sirip, dan insang, yang dilanjutkan dengan identifikasi ektoparasit secara mikroskopis. Prevalensi infeksi dihitung berdasarkan proporsi ikan yang terinfeksi terhadap jumlah ikan yang diperiksa, sedangkan kualitas air dievaluasi melalui pengukuran suhu, pH, dan oksigen terlarut (DO). Hasil penelitian mengidentifikasi tiga genus ektoparasit, yaitu Trichodina sp., Gyrodactylus sp., dan Dactylogyrus sp. Trichodina sp. merupakan ektoparasit yang paling dominan dengan prevalensi masing-masing sebesar 68% pada ikan asal Banyuwangi dan 81% pada ikan asal Jember. Prevalensi Gyrodactylus sp. tercatat sebesar 36% dan 48%, sedangkan Dactylogyrus sp. menunjukkan prevalensi terendah, yaitu 9% dan 11%. Ektoparasit terutama ditemukan pada insang, diikuti oleh kulit dan sirip. Selain itu, media pembawa ikan dari Jember memiliki kadar DO yang lebih rendah dibandingkan Banyuwangi, yang mengindikasikan kondisi lingkungan yang kurang optimal bagi kesehatan ikan. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pemeriksaan mikroskopis secara rutin sebagai bagian dari tindakan karantina untuk mendukung pengawasan kesehatan ikan dan mencegah penyebaran ektoparasit melalui lalu lintas ikan hidup.
Deteksi dan Prevalensi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada Lobster Bambu (Panulirus versicolor) Menggunakan Nested PCR di Jawa Timur: Detection and Prevalence of White Spot Syndrome Virus (WSSV) in Bamboo Lobster (Panulirus versicolor) Using Nested PCR in East Java Destik Rosyana; Maria Agustin; Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.112

Abstract

Lobster bambu (Panulirus versicolor) merupakan komoditas krustasea bernilai ekonomi tinggi yang berpotensi menjadi pembawa berbagai agen penyakit, termasuk White Spot Syndrome Virus (WSSV). Penelitian ini bertujuan mendeteksi keberadaan WSSV dan menentukan prevalensinya pada lobster bambu yang dilalulintaskan melalui sistem karantina di Jawa Timur. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan molekuler terhadap 20 ekor lobster bambu asal Sumenep, Madura, yang diperiksa pada periode November–Desember 2025. Jaringan insang dan pleopod diekstraksi menggunakan silica extraction kit dan dianalisis menggunakan nested Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan primer 146F1/146R1 dan 146F2/146R2. Produk amplifikasi divisualisasikan melalui elektroforesis gel agarosa 1,5%. Hasil pengamatan klinis menunjukkan seluruh lobster tampak sehat tanpa gejala khas infeksi WSSV. Namun, hasil nested PCR mendeteksi satu sampel positif yang ditandai oleh pita DNA berukuran sekitar 941 bp, sedangkan 19 sampel lainnya menunjukkan hasil negatif. Berdasarkan hasil tersebut, prevalensi WSSV pada lobster bambu sebesar 5%. Temuan ini menunjukkan bahwa lobster bambu yang tampak sehat berpotensi berperan sebagai pembawa subklinis WSSV. Oleh karena itu, penerapan skrining molekuler secara rutin diperlukan untuk mendukung biosekuriti dan pengawasan lalu lintas komoditas krustasea melalui sistem karantina.
Variasi Morfometrik Kepiting Bakau (Scylla serrata dan Scylla tranquebarica) di Desa Tanjung Barari, Kabupaten Biak Numfor, Papua: Morphometric Variation of Mangrove Crabs (Scylla serrata and Scylla tranquebarica) in Tanjung Barari Village, Biak Numfor Regency, Papua Bernhard Katiandagho; Baren Rumanasen; Engli S. Likumahua
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.113

Abstract

Kepiting bakau (Scylla serrata dan Scylla tranquebarica) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomis tinggi yang hidup di ekosistem mangrove pesisir tropis, termasuk di wilayah Papua. Kajian morfometrik penting dilakukan untuk memahami variasi populasi serta mendukung pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan karakter truss morfometrik kepiting bakau yang berasal dari dua lokasi di Desa Tanjung Barari, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Penelitian dilaksanakan pada Januari hingga Maret 2026 menggunakan metode random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 40 individu pada setiap lokasi penelitian. Pengukuran morfometrik dilakukan menggunakan perangkat lunak TPSUtil dan TPSDig berdasarkan titik-titik landmark anatomi yang telah ditentukan. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji t independen, ANOVA satu arah, uji Kruskal–Wallis, serta Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata karakter truss morfometrik pada kedua lokasi relatif serupa. Nilai tertinggi ditemukan pada karakter lebar karapas maksimum (G5), sedangkan nilai terendah terdapat pada bagian anterior tubuh. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan (p > 0,05) antara kedua lokasi penelitian. Analisis PCA menunjukkan bahwa variasi morfometrik terutama dipengaruhi oleh ukuran karapas dan tidak memperlihatkan pemisahan kelompok yang jelas antar populasi. Dengan demikian, populasi kepiting bakau pada kedua lokasi memiliki karakter truss morfometrik yang relatif homogen, yang mengindikasikan kondisi lingkungan yang serupa serta kemungkinan adanya keterkaitan ekologis antar populasi
Pengaruh Dosis Minyak Sereh (Cymbopogon nardus) terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Koi (Cyprinus carpio) pada Transportasi Sistem Basah Tertutup: Effect of Citronella Oil (Cymbopogon nardus) Dosage on the Survival of Koi (Cyprinus carpio) Fingerlings during Closed Wet Transportation Rio Prastono; Achmad Kusyairi; Sri Oetami Madyowati
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v7i1.114

Abstract

Transportasi benih ikan koi (Cyprinus carpio) dengan sistem basah tertutup berpotensi meningkatkan stres, konsumsi oksigen, dan mortalitas akibat keterbatasan ruang angkut. Minyak sereh (Cymbopogon nardus), yang mengandung sitronelal, geraniol, dan sitronelol, berpotensi digunakan sebagai sedatif alami untuk mengurangi respons stres selama transportasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh dosis minyak sereh terhadap kelangsungan hidup benih koi serta menentukan dosis yang paling efektif untuk transportasi sistem basah tertutup. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dosis minyak sereh (1, 2, 3, dan 4 mL/L), masing-masing enam ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas 30 ekor benih koi berukuran 10–12 cm yang diangkut selama lima jam dalam kantong plastik berisi 8 L air dan oksigen murni. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis minyak sereh berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup benih koi. Dosis 2 mL/L menghasilkan survival rate tertinggi sebesar 97,78%, sedangkan dosis 1, 3, dan 4 mL/L masing-masing menghasilkan 79,44%, 57,22%, dan 15,00%. Selama transportasi, kualitas air masih berada pada kisaran layak, yaitu suhu 25,8–26,4°C, pH 6,8–7,2, dan oksigen terlarut 5,2–6,8 mg/L. Dengan demikian, dosis 2 mL/L direkomendasikan sebagai dosis efektif minyak sereh untuk meningkatkan keberhasilan transportasi benih koi pada sistem basah tertutup.