cover
Contact Name
Bagus Muhammad Ihsan
Contact Email
ihsanfillah24@gmail.com
Phone
+6285659274496
Journal Mail Official
ihsanfillah24@gmail.com
Editorial Address
Jl. Lapan, Siantan Hulu, Kec. Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78242-Kalimantan Barat-Kampus A Poltekkes Kemenkes Pontianak
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa
ISSN : 25979523     EISSN : 25979531     DOI : https://doi.org/10.30602/jlk
The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of Medical Laboratory. Jurnal Laboratorium Khatulistiwa particularly focuses on the main problems in the development of the Medical Laboratory health areas as follows: Toxicology Immunoserology Bacteriology Clinical Chemistry Parasitologi Micology And other related disciplines.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2017): November 2017" : 15 Documents clear
Pengaruh Variasi Waktu Simpan terhadap Kadar Protein pada Ikan Tongkol Maulidiyah Salim; Linda Triana
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.87

Abstract

Abstract: Fish is one of the sources of animal protein with the nutrients such as protein, lipid and other minerals. People generally save fish in the freezer so that it won’t decay. This research was aimed to analyze the effect of storage time variation with protein level in mackerel tuna. This research was an quasi-experiment research where the results had been analyzed by using regression test. Samples used in this research were fresh mackerel tuna based on visual criteria and their weight about ± 1000 grams. The chosen samples with purposive sampling technic and 4 times replication so total samples were 24. The method using for protein testing was Kjeldahl Method. Results of the research obtained the average of protein level in fresh mackerel tuna amount as 24,52%, 2-day-froze mackerel tuna fish amount as 22,05%, 4-day-froze mackerel tuna 20,29%, 6-day-froze mackerel tuna 18,45% and 8-day froze mackerel tuna 16,03%. The result of regression test showed that there were no significant effect between 2 days storage time variation (p=0,290), 4 days (p=0,242), 6 days (p=0,485) and 8 days (p=0,059) with the protein level of mackerel tuna. Abstrak: Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani dengan kandungan gizi seperti protein, lemak, dan mineral lainnya. Masyarakat umumnya menyimpan ikan dalam freezer agar tidak mengalami pembusukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi waktu simpan dengan kadar protein pada ikan tongkol. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dimana hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan uji regresi. Sampel yang digunakan adalah ikan tongkol yang segar secara visual dan memiliki berat ±1000 gr. Sampel diperoleh dengan teknik purposive sampling dan dilakukan replikasi sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 sampel. Metode yang digunakan untuk pemeriksaan protein adalah metode Kjeldahl. Hasil penelitian menunjukkan diperoleh rata-rata kadar protein pada ikan tongkol segar sebesar 24,52%, ikan tongkol beku hari ke-2 sebesar 22,05%, ikan tongkol beku hari ke-4 20,29%, ikan tongkol beku hari ke-6 18,45% dan ikan tongkol beku hari ke-8 16,03%. Hasi uji regresi menunjukkan tidak ada pengaruh yang nyata antara variasi waktu simpan 2 hari (p=0,290), 4 hari (p=0,242), 6 hari (p=0,485) dan 8 hari (p=0,059) terhadap kadar protein ikan tongkol.
Efektifitas Ekstrak Ethanol Daun Pepaya (Carica Papaya L) terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia Coli dengan Metode Difusi Sugito Sugito; Edy Suwandi
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.91

Abstract

Abstract: Papaya plant (Carica papaya L) is also called medicinal plant which is used in traditional medicine. Part of papaya plants (Carica papaya L) which often utilized are papaya leaf (Carica papaya L) because its content of substances or active ingredients is antibacterial, cancer prevention, increase appetite, and treat some diseases caused by bacteria. The aim of this research was to determined the extracted ethanol of papaya leaf (Carica Papaya L) with the growth of Escherichia coli bacteria by the diffusion method. Research design which used in this study was experimental research, with the method of sampling purposive sampling, then the results analyzed with Friedman Test. A result of research from 5 replications test of extract concentration of papaya leaf by diffusion method obtained that the minimum average concentration was 10,00 and maximize was 14,20. While the minimum inhibitory zone diameter was 10 mm with the concentration of 10% and the maximum was 15 mm with the concentration of 20%. A result of Friedman test, it was found that (p = 0,00 <0,05) so it can be declared that there was a difference of papaya leaf extract (Carica Papaya L) effect on Escherichia coli bacteria growth by the diffusion method.Abstrak: Tanaman pepaya (Carica papaya L) disebut juga tanaman obat yang bermanfaat untuk pengobatan tradisional. Bagian yang sering dimanfaatkan pada tanaman pepaya (Carica papaya L) adalah daun pepaya (Carica papaya L) karena mengandung zat atau bahan aktif yang bersifat sebagai antibakteri, pencegahan kanker, menambah nafsu makan dan mengobati beberapa penyakit yang disebabkan oleb bakteri. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui ekstrak ethanol daun pepaya (Carica Papaya L) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan metode difusi. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan metode pengambilan sampel purposive sampling, selanjutnya hasil dianalisis menggunakan uji Friedman. Hasil penelitian dari 5 penggulangan uji konsentrasi ekstrak daun pepaya dengan metode difusi dapat diketahui rata-rata konsentrasi minimum 10,00 dan maksimun 14,20. Sedangkan diameter zona hambat minimum adalah 10 mm dengan konsentrasi 10% dan maksimun adalah 15 mm dengan konsentrasi 20%. Hasil Friedmen test diperoleh nilai (p = 0,00 < 0,05) sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan efektiftas ekstrak daun pepaya (Carica Papaya L) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan metode difusi.
Pengaruh Lamanya Penyimpanan Serum pada Suhu 20-80 0c Selama Satu Minggu terhadap Kadar Kolesterol Total Laila Kamila; Slamet Slamet
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.90

Abstract

Abstract: Laboratory examinations are essential to establish diseases diagnosis so the results should be accurate. Therefore, it is necessary to control the pre-analytic, analytic and post-analytic. Cholesterol examination is one of the ways to establish the diagnosis of DM, Heart and hypertension. This study was aimed to determine the effect of duration of serum storage at a temperature of 2°-8°C for a week with total cholesterol levels. Samples were checked daily for a week. The samples of this study were the 2nd and 3rd grade of Health Analyst’s students who lived in the male dormitory where total samples were 5 samples. The study was conducted from March to June 2013. Each sample was checked for total serum cholesterol levels which stored at a temperature of 2°-8°C for a week. This examination used CHOD-PAP method. From the results of data analysis with Friedman Test method, it was determined that total cholesterol levels in serum which stored at temperature 2°-8°C for a week obtained Chi-Square value = 28.827 and p = 0.000 where showed that there was effect of duration of serum storage at temperature 2°-8°C for a week with total cholesterol level.Abstrak: Pemeriksaan laboratorium sangat penting untuk menegakkan diagnosa penyakit sehingga hasil harus akurat. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian terhadap pra-analitik, analitik dan pasca analitik. Pemeriksaan kolesterol merupakan salah satu upaya untuk menegakkan diagnosa penyakit DM, Jantung, dan hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lamanya penyimpanan serum pada suhu 2°- 8°C selama 1 minggu terhadap kadar kolesterol total. Sampel diperiksa setiap hari selama 1 minggu. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa tingkat 2 dan 3 Analis Kesehatan yang tinggal di asrama putra dengan jumlah sampel sebanyak 5 sampel. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Juni 2013. Masing-masing sampel diperiksa kadar kolesterol total pada serum yang disimpan pada suhu 2°- 8°C selama 1 minggu. Pemeriksaan ini menggunakan metode CHOD-PAP. Dari hasil analisis data dengan metode Friedman Test, diketahui bahwa kadar kolesterol total pada serum yang disimpan pada suhu 2°- 8°C selama 1 minggu didapatkan besaran nilai Chi Square = 28,827 dan p = 0.000. Hasil uji signifkansi Chi Square metode Friedman test menunjukkan bahwa p < 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh lamanya penyimpanan pada serum yang disimpan pada suhu 2°- 8°C selama 1 minggu terhadap kadar kolesterol total.
Perbedaan Konsentrasi Ekstrak Jahe Merah dan Jahe Putih terhadap Daya Hambat Pertumbuhan Candida Albicans Maulidiyah Salim; Suwono Suwono; Tessa Siswina
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.101

Abstract

Abstract: Ginger is a plant that can be used as an antifungal drug because it contains active substances such as limonene, caprylic-acid and gingerol. The famous those varieties are red and white ginger. This study was aimed to determine the difference of concentration between red rhizome-ginger extract and white ginger to the inhibitory potency of C.albicans fungus by looking at the number of growth colonies on PDA media. This research method was quasi-experimental, sampling technique by purposive sampling. Each red and white ginger ethanol extract was performed with 10 treatments using DMSO (Dimethyl Sulfoxide) as a solvent in concentrations of 2, 4%, 6%, 8%, 10%, 12%, 14%, 16%, 18 % and 20%. The inhibitory test of red and white ginger ethanol extracts was carried out by using dilution method, with a mushroom suspension of Candida albicans isolate adapted to Mc Farland’s turbidity standard of 0.5. Based on the result, it was determined that value of KMB (Minimum Kill Content) red ginger extract start at 4% concentration and white ginger extract start at 6%. Independent t-Test test results obtained p = 0,025. From this research, it can be concluded that there were different concentrations of red and white ginger extract in inhibiting the growth of Candida albicans fungus. Abstrak: Jahe adalah tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat antijamur karena mengandung zat aktif limonene, caprilic-acid dan gingerol. Varietas yang terkenal yaitu jahe merah dan jahe putih. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan konsentrasi ekstrak rimpang jahe merah dan jahe putih terhadap daya hambat jamur C.albicans dengan melihat jumlah koloni yang tumbuh pada media PDA. Metode penelitian ini adalah eksperimental semu, teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Masing-masing ekstrak etanol jahe merah dan jahe putih dilakukan dengan 10 perlakuan dengan menggunakan DMSO (Dimethyl Sulfoxide) sebagai pelarut pada konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, 10%, 12%, 14%, 16%, 18% dan 20%. Uji daya hambat ekstrak etanol jahe merah dan jahe putih dilakukan menggunakan metode dilusi, dengan suspensi jamur dari isolat Candida albicans yang disesuaikan dengan standar kekeruhan Mc Farland 0,5. Berdasarkan hasil penelitian diketahui nilai KMB (Kadar Bunuh Minimum) ekstrak jahe merah mulai pada konsentrasi 4% dan ekstrak jahe putih mulai pada 6%. Hasil uji Independent t-Test didapatkan hasil p = 0,025. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan konsentrasi ekstrak jahe merah dan jahe putih dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Paru pada Pekerja Pengelasan Di Kota Pontianak Slamet Slamet; Laila Kamila
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.100

Abstract

Abstract:  One of the wastes material from the welding process is particulate that has exposure potential to workers. This study was aimed to measure pulmonary function disorders on welding workers and factors influencing it in Pontianak City. This research was an observational research using cross-sectional design, with 78 samples of worker were taken by random sampling. Data of respirable welding dust levels were obtained by measurement using personal dust sampler, while pulmonary function disorder data obtained by examining the pulmonary function of workers using spirometry, and other data obtained by interview. Data analyzed by univariate and bivariate analysis with Kendall-tau and chi-square (α = 0,05). Result of study showed that respirable dust still below threshold limit value (TLV = 3 mg/m3), the highest = 2,791 mg/m3, the lowest = 0,085 mg/m3, mean = 0,83 mg/m3 and SD = 0,70, and 59 respondents (75.6%) had pulmonary function disorders. Statistical test results showed there was significant association between level of respirable dust (p-value = 0,001), and working hour/day (p-value = 0,008, OR = 6,321, 95%CI = 1,663-24,026 with pulmonary function disorders. Conclusion of this study was respirable dust level and duration of exposure were potential factors of pulmonary function disorders in welding workers in Pontianak City.Abstrak: Salah satu bahan buangan dari proses pengelasan adalah partikulat yang berpotensi menimbulkan paparan pada pekerjanya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengukur gangguan fungsi paru pada pekerja pengelasan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Kota Pontianak. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional, dengan jumlah sampel 78 pekerja diambil secara random sampling. Data kadar debu las terhirup diukur menggunakan personal dust sampler, sedangkan data fungsi paru pekerja diukur menggunakan spirometri, dan untuk data lain diperoleh melalui wawancara. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Kendall-tau dan Chi-square (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan kadar debu terhirup masih dibawah Nilai Ambang Batas (NAB = 3 mg/m3), tertinggi = 2,791 mg/m3, terendah = 0,085 mg/m3, rata-rata = 0,83 mg/m3 dengan standar deviasi 0,70 dan sebanyak 59 responden (75,6%) mengalami gangguan fungsi paru. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara kadar debuterhirup (p-value = 0,001) dan lama paparan (p-value = 0,008, OR = 6,321, 95%CI = 1,663-24,026) dengan gangguan fungsi paru. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kadar debu terhirup dan lama paparan merupakan faktor potensial terjadinya gangguan fungsi paru pada pekerja pengelasan di Kota Pontianak.
Hubungan Jumlah Trombosit dengan Nilai Prothrombin Time dan Activated Partial Thromboplastin Time pada Pasien Persiapan Tindakan Operasi Caesar Wahdaniah Wahdaniah; Sri Tumpuk
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.88

Abstract

Abstract: Sometimes in postpartum haemorrhage, there is happen great haemorrhage which is blood platelets (thrombocyte) have an important role in the process of hemostasis. Prothrombin (PT) assays are useful for assessing the ability of coagulation factors of extrinsic pathways and joint pathways. The period of activated partial thromboplastin (aPTT) is a laboratory test for assessing coagulation abnormalities in intrinsic pathways and joint pathways. This study was aimed to analyze the correlation of platelet counts with PT and aPTT values in patients preparing for caesarean section in Public Hospital of St. Antonius Pontianak. This study used a cross-sectional design with a sample of all pregnant women who performed a caesarean section preparation of 43 people. Based on data analysis using Spearman test on PT variable obtained p-value = 0.059 (p > 0,05) indicating that there is no relation between platelet count with value of PT and at variable aPTT obtained value p = 0,737 (p > 0,05) there is no correlation between platelet count and aPTT value.Abstrak: Perdarahan pasca melahirkan ada kalanya terjadi perdarahan yang hebat dimana trombosit berperan penting dalam proses homeostatis. Uji masa protrombin (PT) berguna untuk menilai kemampuan faktor koagulasi jalur ekstrinsik dan jalur bersama. Masa tromboplastin parsial teraktivasi (aPTT) adalah uji laboratorium untuk menilai kelainan koagulasi pada jalur intrinsik dan jalur bersama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan jumlah trombosit dengan nilai PT dan aPTT pada pasien persiapan tindakan operasi caesar di RSU. St. Antonius Pontianak. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel semua pasien ibu hamil yang melakukan persiapan tindakan operasi caesar sebanyak 43 orang. Berdasarkan analisis data menggunakan uji Spearman pada variabel PT diperoleh nilai p = 0.059 (p > 0,05) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jumlah trombosit dengan nilai PT dan pada variabel aPTT diperoleh nilai p = 0.737 (p > 0.05) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jumlah trombosit dengan nilai aPTT.
Personal Hygiene terhadap Infeksi Pityriasis Versikolor pada Nelayan Di Desa Penjajap Kecamatan Pemangkat Supriyanto Supriyanto; Indah Purwaningsih
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.99

Abstract

Abstract: Pityriasis versicolor or better known as “panu” is a superfcial fungal infection characterized by changes in skin pigment due to Stratum corneum colonization by dimorphic lipophilic fungi from normal skin flora. Pitiriasis versicolor is an infectious disease that is estimated occur due to poor sanitation (personal hygine) and lack of clean water. This research was aimed to determine factors related to Pityriasis versicolor infection. It used retrospective design where researcher tried to looking back about the incident of Pitiriasis versicolor on 76 fshermen who choosen by using simple random sampling. Based on the result of reseach, it was determine that bath habit (p = 0,000), clothing hygiene (p = 0,839), towels cleanliness (p = 0,699), clean water supply (p = 0,000), home environment hygiene (p = 0,588), for p<0,05 then these factors were related to the occurrence of Pitiriasis versicolor infection on fshermen in Penjajap Village Pemangkat. Thus, it could be conclude that there was signifcant correlation between bath habit and clean water supply with the incidence of Pityriasis versicolor infection. While the cleanliness of clothing, cleanliness of towels, and cleanliness of the home environment is not associated with the incidence of Pityriasis versicolor infection. Abstrak: Pityriasis versikolor atau lebih dikenal dengan panu adalah infeksi jamur superfsial yang ditandai perubahan pigmen kulit akibat kolonisasi stratum korneum oleh jamur lipoflik dimorfk dari flora normal kulit. Pityriasis versikolor merupakan penyakit menular yang diperkirakan terjadi karena sanitasi (personal hygiene) yang buruk dan kurangnya air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor personal hygiene terhadap infeksi pityriasis versikolor. Penelitian ini menggunakan rancangan retrospektif dimana peneliti berusaha melihat ke belakang (backward looking) terhadap kejadian pityriasis versikolor pada 76 nelayan yang terpilih sebagai responden dengan teknik simple random sampling. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kebiasaan mandi (p = 0,000), kebersihan pakaian (p = 0,839), kebersihan handuk (p = 0,699), persediaan air bersih (p = 0,000), kebersihan lingkungan rumah (p = 0,588), untuk p < 0,05 maka faktor-faktor tersebut berhubungan terhadap terjadinya infeksi pityriasis versikolor pada nelayan di Desa Penjajap Kecamatan Pemangkat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifkan antara kebiasaan mandi dan persediaan air bersih dengan kejadian infeksi pityriasis versikolor. Sedangkan kebersihan pakaian, kebersihan handuk, dan kebersihan lingkungan rumah tidak berhubungan dengan kejadian infeksi pityriasis versikolor.
Pengaruh Perendaman Larutan Kapur Sirih terhadap Kadar Asam Sianida pada Biji Karet Ratih Indrawati; Gervacia Jenny Ratnawaty
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.98

Abstract

Abstract: Rubber seeds contain high protein, but there is also toxin called hydrogen cyanide (HCN), with cyanide content of 330 mg of every 100 g. Cyanide levels contained in rubber seeds are quite high. The effort to lower the cyanide level is by immersion in a solution of whiting. The purpose of this research was to determine the influence of dyeing in various concentration of lime betel leaf (0,3%, 0,6%, 0,9%, 1,2% and 1,5%) for 6 hours to cyanide acid level in rubber seed. The method of cyanide acid content determination using ion selective electrode with 30 samples determined by purposive sampling. While the research method used was quasi-experimental with statistical analysis using ANOVA test. Based on the research result, the average of cyanide acid content in the rubber seeds without dyeing was 4666,625 mg/kg, after dyeing in the lime solution for 6 hours with concentration 0,3% equal to 59,60 mg/kg, concentration 0,6% was 33.25 mg/kg, 0.9% concentration was 16.70 mg/kg, concentration of 1.2% was 28.70 mg/kg, and after dyeing in 1.5% concentration was 32.775 mg/kg. Statistically obtained p-value = 0.000 (p <0,05) so that there was influence of immersion of lime betel solution in various concentration to cyanide acid level in rubber seed.Abstrak: Biji karet mempunyai kandungan protein yang tinggi, namun didalamnya terdapat suatu racun yaitu hydrogen cyanide (HCN), dengan kadar sianida 330 mg dari setiap 100 g. Kadar sianida yang terkandung pada biji karet tergolong tinggi. Upaya untuk menurunkan kadar sianida adalah dengan melakukan perendaman dalam larutan kapur sirih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perendaman larutan kapur sirih dalam berbagai konsentrasi yaitu 0,3%, 0,6%, 0,9%, 1,2% dan 1,5% selama 6 jam terhadap kadar asam sianida pada biji karet. Metode penetapan kadar asam sianida menggunakan elektrode selektif ion dengan sampel penelitian sebanyak 30 sampel yang ditentukan secara purposive sampling. Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu dengan analisis statistik menggunakan uji Anova. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rata-rata kadar asam sianida pada biji karet tanpa perendaman yaitu 4666,625 mg/kg, sesudah direndam larutan kapur sirih selama 6 jam dengan konsentrasi 0,3% sebesar 59,60 mg/kg, konsentrasi 0,6% sebesar 33,25 mg/kg, konsentrasi 0,9% sebesar 16,70 mg/kg, konsentrasi 1,2% sebesar 28,70 mg/kg, dan sesudah direndam konsentrasi 1,5% sebesar 32,775 mg/kg. Secara statistik diperoleh nilai p=0,000 (p < 0,05) sehingga ada pengaruh perendaman larutan kapur sirih dalam berbagai konsentrasi terhadap kadar asam sianida pada biji karet.
Pengaruh Ekstrak Bunga Cengkeh (Syzygium Aromaticum) terhadap Zona Hambat Jamur Tricophyton Rubrum Etiek Nurhayati; Kuswiyanto Kuswiyanto; Karta Pilo
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.92

Abstract

Abstract: Clove flower (Syzygium aromaticum) is one type of traditional medicine. The active substance in clove flower is used as antimicrobial and cure skin diseases caused by Trichophyton rubrum fungus such as Tinea capitis, Tinea barbae and Tinea corporis. This study was aimed to determine the effect of various concentrations of clove flower extract (Syzygium aromaticum) with Trichophyton rubrum inhibition zone by the diffusion method. The method of this research was quasi-experimental. Sampling technique by purposive sampling. The sample used was n-hexane extract of clove flower obtained from maceration process made in 9 concentrations and dilution was done by using dimethyl sulfoxide 15%. Each consisted of clove flower extract with concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80% and 90%. The influence test using disc method or diffusion method then analyzed with Linear Regression Test. Based on the result of research from 9 concentrations, it can be seen that the widest obstacle zone was 11 mm at 10% concentration whereas the widest zone of resistance was 40 mm at 90% concentration. Statistical analysis showed the results (p = 0,000 <a 0.005) so it can be concluded there was the effect of various concentrations of clove flower extract (Syzygium aromaticum) to Trichophyton rubrum inhibition zone by the diffusion methodAbstrak: Bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) merupakan salah satu jenis obat tradisional. Zat aktif dalam bunga cengkeh digunakan sebagai antimikroba dan menyembuhkan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur Trichophyton rubrum seperti Tinea kapitis, Tinea barbae dan Tinea korporis. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap zona hambat jamur Trichophyton rubrum dengan metode difusi. Metode penelitian ini adalah eksperimental semu. Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Sampel yang digunakan adalah ekstrak n-heksana bunga cengkeh diperoleh dari proses maserasi yang dibuat dalam 9 konsentrasi dan dilakukan pengenceran menggunakan dimetil sulfoksida 15%. Masing-masing terdiri atas ekstrak bunga cengkeh dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80% dan 90% . Uji pengaruh menggunakan metode cakram atau metode difusi kemudian dianalisis menggunakan uji Regresi Linier. Berdasarkan hasil penelitian dari 9 konsentrasi dapat diketahui bahwa luas zona hambatan yang terendah yaitu 11 mm pada konsentrasi 10% sedangkan luas zona hambatan yang tertinggi yaitu 40 mm pada konsentrasi 90%. Analisis statistik menunjukkan hasil (p = 0,000 < a 0,005) sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh berbagai konsentrasi ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap zona hambat jamur Trichophyton rubrum dengan metode difusi.
Perbedaan Kadar Glukosa Darah 2 Jam Post Prandial Linda Triana; Maulidiyah Salim
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.97

Abstract

Abstract: One of the simple carbohydrates is glucose that acts as the main energy producer. The function of the body will be felicitous when blood glucose levels are within normal limits. Glucose removal levels are considered normal if glucose levels return to normal within 2 hours after it rises in the first hour. If the blood glucose level within 2 hours after given fed is abnormal, it can be done by Oral Glucose Tolerance Test to get additional information about the presence of carbohydrate metabolism disorders. This study was aimed to determine the difference of blood glucose levels within 2 hours postprandial between samples who given fed with loads of 75 grams glucose. The type of research used in this research was analytic observational with comparative study approach. Samples obtained 33 samples with treatment 4 times in each sample. The method used in this research was an enzymatic method. The results of this study showed the average blood glucose level within 2 hours postprandial which given fed with loads was 10.10% while the average measurement of blood glucose level within 2 hours postprandial loaded with 75 grams glucose was 7.61%. T-test obtained t value of 1.092 with a significant level at p = 0.284 (p> 0.05) so the conclusion there was no difference of blood glucose level within 2 hours postprandial between who given fed with loads of 75-gram glucose.Abstrak: Salah satu karbohidrat sederhana adalah glukosa yang berperan sebagai penghasil energi utama. Fungsi dari tubuh akan menjadi sangat baik apabila kadar glukosa darah berada pada batas yang normal. Kadar pembuangan glukosa dianggap normal jika kadar glukosa kembali normal dalam waktu 2 jam setelah kenaikan pada 1 jam pertama. Apabila kadar glukosa darah dalam waktu 2 jam setelah makan abnormal, maka dapat dilakukan Tes Toleransi Glukosa Oral untuk mendapatkan keterangan tambahan tentang adanya gangguan metabolisme karbohidrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa darah 2 jam post prandial antara yang diberi beban makanan dengan beban glukosa 75 gram. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan comparative study. Sampel didapatkan 33 sampel dengan perlakuan 4 kali pada setiap sampelnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode enzimatik. Hasil penelitian ini menunjukan rata-rata kadar glukosa darah 2 jam post prandial yang diberi beban makanan yaitu 10,10% sedangkan hasil pengukuran rata-rata kadar glukosa darah 2 jam post prandial yang diberi beban glukosa 75 gram yaitu 7,61%. Uji T-test didapatkan nilai t hitung sebesar 1,092 dengan tingkat signifkan pada p = 0,284 (p>0,05) sehingga Ha ditolak dengan kesimpulan tidak ada perbedaan kadar glukosa darah 2 jam post prandial antara yang diberi beban makanan dengan beban glukosa 75 gram.

Page 1 of 2 | Total Record : 15