cover
Contact Name
Eka Jelita Lubis
Contact Email
ekajelita14@gmail.com
Phone
+6287738767521
Journal Mail Official
ekajelita14@gmail.com
Editorial Address
kecamatan Kotanopan kab. Mandailing Natal Sumatera Utara
Location
Kab. pasuruan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah Peradaban Islam
ISSN : 29861691     EISSN : 29856477     DOI : https://doi.org/10.38073/batuthah
Kajian pendidikan, sejarah, sosial dan humaniora yang bertema Islam, seperti tentang kelompok atau komunitas Islam, minoritas Muslim, budaya dan tradisi, pendidikan, organisasi dan politik, peradaban, warisan dan arsitektur, perubahan sosial, intelektual dan pemikiran, biografi, historiografi, pers dan literasi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi
Articles 47 Documents
SEJARAH ISLAMISASI NUSANTARA MENURUT SYED NAQUIB AL-ATTHAS Husairi Husairi
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 1 No. 1 (2022): Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Syed Muhammad al Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin al Attas adalah seorang cendekiawan dan filsuf muslim saat ini dari Malaysia. Ia menguasai teologi, filsafat, metafisika, sejarah, dan literatur. Ia juga menulis berbagai buku di bidang pemikiran dan peradaban Islam, khususnya tentang sufisme, kosmologi, filsafat, dan literatur Malaysia. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka. Sedangkan pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan historis dan pendekatan sosiologis. Pendekatan tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan dan berusaha menelusuri asal-usul pertumbuhan Sejarah Islamisasi Nusantara Menurut Syed Naquib Al-Atthas secara kronologis. Islamisasi Nusantara menurut Syed Naquib Al-Atthasyaitu untuk mengukuhkan Islam pada jiwa masyarakat Nusantara dalam pandangan al-Attas membutuhkan proses panjang hingga beberapa abad. Proses tersebut sebut adalah Islamisasi, maksudnya adalah proses pengenalan, pemahaman, serta pengukuhan terhadap makna Islam yang sebanarnya sehingga melekat pada diri manusia. Islamisasi di sini merupakan perjuangan kaum sufi serta para muballig Islam dalam menyebarkan dan sekaligus memberi pemahaman kepada masyarakat Nusantara yang masih terpengaruhi oleh mitologi, alam seni, dan metafisika kabur. Para sufi, mendoktrin Islam dengan memperhatikan tingkat kemampuan masyarakat Nusantara. Islamisasi dalam gambaran al-Attas tersebut merupakan bentuk nyata, dan sampai saat ini masih dirasakan keberlanjutannya. Dengan metode sufistik tersebut, Islam bukan hanya sekdar doktrin melainkan telah menjadi bagian amalan utama bagi masyarakat Nusantara sekaligus meruntuhkan pengetahuan lama yang terpengaruh dengan mitologi sesat ke alam baru yang lebih rasional dan saintifik.
PERANAN TASAWUF SAID NURSI DALAM SEJARAH PERALIHAN POLITIK TURKI Sahri Sahri
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 1 No. 1 (2022): Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tasawuf merupakan suatu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang sedekat-dekatnya dengan melalui beberapa tahapan, diantaranya yaitu: Syari’at, Tarekat, Hakekat, dan Ma’rifat.Al-Quran dan Sunnah merupakan unsur paling signifikan dalam konstruksi tasawuf Said Nursi. Ia menekankan bahwa setiap bangunan tasawuf atau ijtihad sufisme harus senantiasa berada di bawah terang cahaya petunjuk al-Quran dan Sunnah.konstruksi tasawuf secara moderat merupakan salah satu aspek esensial dalam proyek revitalisasi Said Nursi. Dan berupaya merumuskan wacana-wacana sufisme secara moderat dengan tetap bernafaskan al-Quran dan Sunnah.Orisinilitas konstruksi tasawuf Said Nursi bisa dilihat pada empat jalan besar yang ia konsepsikan untuk menuju Sang Pencipta. Langkah-langkah yang digali Said Nursi dari al-Quran tersebut mencakup empat jalan besar yaitu pengakuan atas ketidakberdayaan diri impotence, al-‘ajz, kefakiran poverty, al-faqr, kasih sayang compassion, al-syafaqah, dan refleksi reflection, al-tafakkur. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif yang mana sebuah penelitian ini mempunyai lima tahapan, yaitu (1) pemilihan topik, (2) Heuristik ( pengumpulan sumber), (3) verifikasi( kritik sejarah, keabsahan sumber), (4) Interpretasi : analisis dan sintesis, (5) penulisan. Secara garis besar, ada beberapa aspek untuk memetakan kontstruksi revitalisasi tasawuf Said Nursi :a) Al-Qur’an dan Sunnah Sebagai Inspirator Tasawuf, b) Kontruksi Tasawuf Secara Moderat, c) Tarekat Naqshabandiyah merupakan tarekat paling dekat dengan kehidupan Said Nursi. Di antara tokoh penting Naqshabandiyah yang paling mempengaruhi pemikiran Said Nursi adalah Syeikh Ahmad al-Sirhindi alFaruqi (1563-1624) yang karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul “al-Maktubat”. Dari kitab inilah Nursi mendapat banyak pelajaran sekaligus menjadi basis pemikiran dalam karya-karyanya. Dari alSirhindi ini Nursi memiliki pandangan bahwa pegangan umat Islam adalah Alquran, bukan fanatisme kepada guru tarekat.
TRADISI FALSAFAH DALAM ISLAM (Tokoh dan Pemikirannya) Aziz Akbar
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 1 No. 1 (2022): Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penyusunan artikel ini penulis mengangkat salah satu filusuf besar Islam yang menjadi sorotan utama daripada para filosuf Islam lainnya, yakni Al Farabi. Bahkan tidak hanya menjadi perbincangan di kalangan para filosuf Islam itu saja, tetapi juga di kalangan non-Islam, yakni filosuf Kristen.Pembahasan artikel ini akan dijelaskan mengenai bografi, karya dan pemikiran filsafatnya. Pemikiran filsafat yang akan dikupas adalah tentang pemaduan filsafat, politik dan moral. Penulis mengangkat tiga pemikiran Al-Farabi, karena masing-masing tema tersebut saling berhubungan dalam masalah ciri, sifat dan sosok seorang pemimpin serta tipe atau cork kehidupan dalam sebuah kota atau negara, utamanya mengenai politik dan moral.
PERAN HABIB ABDURRAHMAN BIN HUSEIN AL- QADRI DALAM PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI KOTA PONTIANAK KALIMANTAN BARAT PADA ABAD KE 18 MASEHI S.Ahmad Al Hamid
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 1 No. 1 (2022): Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada setiap pusat penyebaran Islam di Indonesia hampir selalu berdiri sebuah kerajaan/kesultanan Islam, seperti Samudra Pasai, Demak, Cirebon, Banten, Riau, Malaka, Palembang, Banjarmasin, Kutai, Ternate, Goa, dan lain-lain. Salah satu wilayah yang banyak berdiri kerajaan Islam di Nusantara adalah Provinsi Kalimantan Barat, di sini pernah berdiri sejumlah 23 kerajaan/kesultanan Islam. Beberapa di antaranya yang bisa disebutkan di sini antara lain: Qadriyah (Pontianak), Sambas, Tanjungpura, Kubu, Matan, Landak, Singkawang, Simpang, Sukadana, Mempawah, Ketapang, dan lain-lain. Pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif analisis kritis. Pendekatan ini digunakan oleh peneliti karena pengumpulan data bersifat kualitatif dan juga dalam penelitian ini tidak bermaksud untuk menguji hipotesis, dalam arti hanya menggambarkan dan menganalisis secara kritis terhadap suatu permasalahan yang dikaji oleh peneliti yaitu tentang pendekatan peran Habib Abdurrahman Al-Qadri dalam penyebaran islam di kota Pontianak Kalimantan Barat Sedangkan jenis penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini library research atau penelitian kepustakaan di daerah kota Pontianak. Paparanhasil peneliti dapat disimpilkan sebagai berikut: 1) Bahwasanya Habib Abdurrahman Al-Qadri adalah seorang Dzurriyat Rasulullah saw yang merupakan Pendiri Kota Pontianak, dan merupakan perintis Kesultanan Pontianak yang menjadi penunjang dalam bertambahnya pemeluk agama Islam di Pontianak Kalimantan Barat pada abad 18 Masehi., 2) Dengan kekuasaan beliau sebagai seorang raja beliau menyebarkan Islam tidak hanya dengan dakwah biasa tapi juga dengan pernikahan, perdagangan dll, sehingga penyebaran Islam dapat di lanjutkan oleh anak cucu keturunan beliau.
SEJARAH KESULTANAN CIREBON DAN PROBLEMATIKANYA TAHUN 1677-1752 Bahru Rozi; Ahmad Misbah
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 1 No. 1 (2022): Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pecahnya Kesultanan Cirebon sangatlah berdampak pada kehidupan masyarakat di Cirebon, yaitu menyebabkan adanya perubahan dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui gambaran menyeluruh tentang masa awal Kesultanan Cirebon (2) mengetahui faktor pecahnya Kesultanan Cirebon (3) mengetahui dampak pecahnya Kesultanan Cirebon terhadap kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya di Cirebon. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah menurut Kuntowidjoyo,Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Cirebon menjadi sebuah kesultanan yang berdaulat penuh bermula dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati memberhentikan pemberian upeti kepada Kerajaan Pajajaran. Pasca Pemerintahan Panembahan Ratu II Kesultanan Cirebon pada tahun 1677 pecah menjadi Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman. (2) Pecahnya Kesultanan Cirebon diakibatkan adanya campur tangan Kesultanan Banten dan Mataram. Dua kekuatan ini ingin menguasai wilayah Cirebon dan Pelabuhan Cirebon yang letaknya strategis dalam jalur perdagangan internasional. (3) Pecahnya Kesultanan Cirebon berdampak pada perubahan politik dan ekonomi masyarakat Cirebon yaitu hilangnya kekuasaan politik sultan dalam memimpin Cirebon dan monopoli perdagangan oleh VOC baik ekspor maupun impor barang dagangan, Perubahan juga terjadi dalam bidang sosial, yaitu maraknya perbudakan dan penjualan diri di Cirebon akibat kesengsaraan dan kemiskinan. Dalam bidang budaya adanya perubahan dalam sistem mata pencaharian masyarakat, sistem peralatan hidup dan teknologi, organisasi politik, agama dan kesenian Cirebon. Keyword: Sejarah, Kesultanan Cirebon, Problematika
SARANA ISLAMISASI DI JAWA ABAD XV MENURUT BABAD GRESIK Ulum Fasih
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 1 No. 2 (2022): Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/batuthah.v1i2.729

Abstract

Babad Gresik as a traditional historiography contains important narratives about the spread of Islam by preachers. It is told in the Chronicle that the spread of Islam began in the 14th century and was carried out in Gresik by means of trade propaganda. In the 15-16th century, the spread of Islam became more massive, not only limited to Gresik, but Java in general, using different means of preaching than in the 14th century. This paper has a purpose which wants to answer the problem of changing the means of da'wah from trade in the 14th century to marriage in the 15th century. The analytical method that is used in this research is descriptive qualitative analysis with literature study techniques. The result of this research is there is a change of islamization in Java. In 15AD the spread of islam was done through marriage which has been started by Syekh Maulana Ishaq. The cause of this change is that Gresik harbor was continuously losing its existence, so the spread of islam will be ineffective if they keep using trading way.
URGENSI STILASI BUDAYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI AMPEL DENTA ABAD XV Rakai Hino Galeswangi
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 1 No. 2 (2022): Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/batuthah.v1i2.734

Abstract

This research contains about how islam spreads widely from Surabaya City. The spread of Islam has been done by learning way. The founding teacher built a hermitage as the facility to support the learning process. This research has purpose to analyze and interpret an invention at 15th century in East Java, more precisely in the region of Surabaya. The object of this research is The Hermitage of Ampel Denta with the influential figure named Mohammad Ali Rahmatullah or well known as Sunan Ampel. The method of this research is library research with historical study. The data collection was carried out with library study with secondary data review. This research uses structural analysis on written sources, especially sources in foreign language. The result of this analysis is finding the existence of stylization proofs which has been done by Sunan Ampel for doing dawah and learning process in The Hermitage of Ampel Denta. By finding this interpret, this research may be useful for the next researches, especially in Islamic Religion field, education, and history.
PENDEKATAN SEJARAH DALAM PENGKAJIAN ISLAM Abdur Rahman
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 1 No. 2 (2022): Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/batuthah.v1i2.897

Abstract

This article is titled “Historical Approach in Islamic Studies”. Study of Islam is a scientific discipline which as old as the age of Islam appearance itself. This research has purpose to study about the connection between religion and history of human. The basic knowledge from this research is explanation the important role of historical approach in Islamic studies. Analysing  long history of Muslim periodization in building civilizations with different characteristics, but still uphold Islamic brotherhood sourced from al-Quran and al-Hadits. This article is scientific writings based on library research by collecting every form of history informations which are relevant to the topic and sub-containts in the object of research’s scope. The result of this research shows historical approach in Islamic studies can be known by two things: Islam normative (doctrinaire) and Islam history (scientific). Doctrinaire approach is seeing Islam as religion doctrine that has to be done ideally. Then, scientific approach is seeing Islam as a knowledge.
DINASTI THULUNIYAH SANG PEMBANGUN PERADABAN DI MESIR Alif Rohmah Nur Habibah; Mukarromah
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 1 No. 2 (2022): Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/batuthah.v1i2.1027

Abstract

The Thulunid dynasty was the earliest manifestation of the political crystallization of the uncontrolled Turkish element at that time. the sudden emergence in the heart of the caliphate of the Abbasid dynasty was the beginning of the emergence of other minor dynasties of Turkic descent. The figure of Ahmad Ibn Thulus is a typical example of the founders of small dynasties who built their countries on the ruins of the caliphate. This dynasty was separate from the central government of Baghdad or only related to the name of the caliph in Baghdad. Much progress could be made by the Thulus dynasty even though it was short lived. The purpose of writing this scientific paper is to find out how the government of the Thuluniyyah dynasty and its contribution to the development of Islamic civilization and how the causes of the destruction of the dynasty. The analytical method used in this research is descriptive qualitative using literature study. The results of this study are that the Thulusan dynasty was a dynasty that was only 38 years old, many contributions could be made from various midwives such as territorial expansion, establishment of military grades, the field of architecture which was very luxurious and magnificent but the destruction of the Thuluniyah dynasty was due to the lack of a national base in the land they controlled so short-lived.
ISLAM DAN DEMOKRASI DI TUNISIA : (Kajian Sejarah dan Politik) Miftahul Khoiri; Nur Anwar
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 1 No. 2 (2022): Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/batuthah.v1i2.1056

Abstract

Tunisia is a country in the Middle East. Even though they are in the Middle East region which is included in the Arab region, they remain democratic. It all started with the enactment of the jasmine revolution from 2010-2011 which drew the world's attention. Starting from Tunisia, the spirit of revolution which became known as the Arab Spring swept across other Middle Eastern countries. The research study that the author wrote is related to Islam and democracy in Tunisia, to provide an overview of one of the countries in the Arab world which has revolutionized the governance order to become more flexible. In this research study, the historical method was used, which consisted of four stages, namely, finding sources, criticizing, interpreting, and writing. The results of this research study can be said that, Islam and democracy in Tunisia are well developed. This is marked by the existence of a national dialogue when there is a dispute or conflict between groups. When the jasmine revolution occurred in Tunisia which shocked the world, no one would have thought that Tunisia would rise quickly. After carrying out the process of government transition, Tunisia has sped up leaving other Middle Eastern countries in matters of democracy. Tunisia is now the only post-Arab Spring Middle Eastern country that has been able to rise up and implement democratic principles in its country. After the revolution, democratic values ​​were so visible, such as the existence of elections, freedom of opinion, giving space to women, freedom of religion, expression, the emergence of majlis ta'lim Islamic religious studies, the birth of mass organizations is proof that Islam and democracy in Tunisia complement each other.