cover
Contact Name
Rahmi Dwi Febriani
Contact Email
rahmidwif@fip.unp.ac.id
Phone
+6281266343071
Journal Mail Official
rahmidwif@fip.unp.ac.id
Editorial Address
Komplek Arai Pinang , Blok E, No. 4, Lima kaum
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Consilium
ISSN : 27983269     EISSN : 27979946     DOI : 10.24036/0406cons
Consilium aims to publish articles dedicated to all aspects of the latest outstanding developments in the field of counseling, applied counseling practice, and features articles that advance the empirical, theoretical, and methodological understanding of counseling and education.
Articles 90 Documents
Student Empathy in Terms of Gender Differences Imallatul Istma; Daharnis Daharnis
Consilium Vol 2, No 1 (2022): Consilium
Publisher : Consilium

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/0795cons

Abstract

Empathy ability is very important for every individual, especially in terms of interacting with the social environment, but students can still be found who have low empathy skills when interacting with their surroundings, especially in the school environment. This study aims to describe student empathy and differences in student empathy in terms of gender. This research uses a quantitative method with a comparative descriptive research type. The population in this study were students in class X and XI SMKN 6 Padang in the 2022/2023 school year with a total of 489 students and a sample of 251 students using proportional random sampling. Collecting data in this study using a student empathy questionnaire. Data were processed using descriptive analysis and t-test with the help of SPSS version 20. The results showed that the empathy of students at SMKN 6 Padang was in the "high" category with a percentage of (78.3%). There is a significant difference between students' empathy in terms of gender. The percentage of empathy between male students (76.52%) and female students (79.6%) with a significance value (2-tailed) of 0.000. The results of this study have implications for Guidance and Counseling service activities.
Prokrastinasi Akademik Siswa, Keterampilan Belajar Muharahman, Muharahman; Daharnis, Daharnis
Consilium Vol 3, No 1 (2023): Consilium
Publisher : Consilium

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/0897cons

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan hubungan keterampilan belajar dengan prokrastinasi akademik siswa. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mendeskripsikan keterampilan belajar siswa, (2) mendeskripsikan prokrastinasi akademik siswa, (3) mendeskripsikan hubungan keterampilan belajar dengan prokrastinasi akademik siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMAN 10 Padang yang tersebar pada kelas X (Fase E), XI (Fase F) dan XII yang berjumlah 1106 siswa. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 378 orang siswa yang diambil dengan teknik stratified random sampling . Instrumen yang digunakan yaitu angket atau kuesioner dengan skala model Likert . Data dianalisis menggunakan bantuan statistik deskriptif-korelasional dengan SPSS versi 25. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa (1) keterampilan belajar siswa berada pada kategori tinggi, (2) prokrastinasi akademik siswa umumnya berada pada kategori sedang, (3) terdapat hubungan negatif dan signifikan antara keterampilan belajar dengan prokrastinasi akademik siswa; keterampilan belajar berkontribusi sebesar 4% terhadap prokrastinasi akademik siswa.
Comparative study of independent learning of the eldest and youngest students at SMP Negeri 15 Padang Nadisa Humaira; Asmidir Ilyas
Consilium Vol 1, No 1 (2021): Consilium
Publisher : Consilium

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/0417cons

Abstract

Every child has a different position in the family, there are firstborn, middle, youngest, only children. Each child's personality is different, even twins have different characteristics from one another. Children are expected to have high independence, one of which is independence in learning. Children who have independence in learning can do work without help from others, even children develop strategies in learning, set target values to be achieved, and evaluate the results of tasks that have been done. In fact, most of the youngest children are not able to be independent in learning, and some of the oldest children are already able to learn independently. This research aims to: (1) describe the learning independence of the eldest child and the youngest child, (2) describe the difference in the level of learning independence of the eldest child and the youngest child. This research uses a quantitative approach with a comparative descriptive research type. The subjects of this study were the eighth-grade students of SMP Negeri 15 Padang with the status of the eldest and the youngest children of 2 siblings and 4 siblings, amounting to 40 first-born students and 40 youngest students. Collecting data using a Likert scale model questionnaire, data were analyzed using descriptive analysis techniques and different test techniques with the help of the SPSS program version 20.0. The results revealed: (1) the learning independence of the eldest child is in the independent category with an average percentage of an achievement score of 67.5%, (2) the learning independence of the youngest child is in the fairly independent category with an average percentage of an achievement score of 55%, ( 3) available difference in the level of learning independence of the firstborn and youngest child with Sig. (2-tailed) 0.000 ? 0.05.
Hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan kegiatan belajar siswa Nofiazein, Rani; Daharnis, Daharnis; Nirwana, Herman; Taufik, Taufik
Consilium Vol 4, No 1 (2024): Consilium
Publisher : Consilium

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/01120cons

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kegiatan belajar siswa yang berada pada kategori sedang. Diduga salah satu faktor penyebabnya yaitu dukungan sosial teman sebaya. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan dukungan sosial teman sebaya siswa, 2) mendeskripsikan kegiatan belajar siswa, dan 3) menguji seberapa besar hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan kegiatan belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif korelasional. Penelitian ini menggunakan populasi kelas X dan kelas XI siswa SMA Negeri 1 Sitiung sebanyak 636 siswa, sampel penelitian sebanyak 267 siswa dengan menggunakan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen dukungan sosial teman sebaya dan instrumen kegiatan belajar dengan skala model Likert. Data dianalisis dengan teknik statistik deskriptif dan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS 25.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat dukungan sosial teman sebaya berada pada kategori baik, tingkat kegiatan belajar siswa berada pada kategori baik, dan terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara dukungan sosial teman sebaya dengan kegiatan belajar dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,748 dan signifikansi 0,000. Implikasi terhadap bimbingan dan konseling (BK) yaitu dengan memberikan layanan konseling individual, layanan konseling kelompok, dan layanan penguasaan konten.
Analisis Tipe Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung Pada Siswa Yang Berasal Dari Keluarga Broken Home Faizah, Mufidatul; Afdal, Afdal
Consilium Vol 4, No 1 (2024): Consilium
Publisher : Consilium

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/01150cons

Abstract

Salah satu ahli yang menjelaskan tentang kepribadian adalah Carl Gustav Jung. Ia membagi kepribadian menjadi kepribadian introvert dan ekstrovert. Beberapa faktor dapat mempengaruhi terbentuknya kepribadian salah satunya adalah kondisi keluarga. Bentuk kondisi keluarga yang ada salah satunya adalah keluarga broken home karena cerai hidup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe kepribadian siswa yang berasal dari keluarga broken home. Subjek penelitian pada penelitian ini 3 orang sebagai subjek utama dan 4 orang sebagai informan tambahan. Metode penelitian yang digunakan adalah kaulitatif deskriptif, instrument yang digunakan adalah panduan wawancara yang di dalamnya berisikan aspek-aspek keperibadian. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe kepribadian menurut Carl Gustav Jung pada siswa yang berasal dari keluarga broken home. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui wawancara dan pengamatan diketahui bahwa dari aspek-aspek kepribadian yang ada, subjek yang merupakan siswa yang berasal dari keluarga broken home menunjukan ciri ciri tipe kepribadian introvert. Aspek-aspek yang dominan menjunjukan ciri tipe kepribadian introvert pada subjek yang berasal dari keluarga broken home antara lain dilihat dari aspek aktivitas, mengambil resiko, kesukaan bergaul, pernyataan perasaan dan penuturan dorongan hati.
Analisis Kondisi Work Family Balance pada Wanita Karier yang Sudah Menikah di RSUD Mukomuko Mirdasari, Fitricia; Afdal, Afdal
Consilium Vol 4, No 1 (2024): Consilium
Publisher : Consilium

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/01205cons

Abstract

Penelitian ini dilakukan karena masih banyak wanita karier yang menghabiskan banyak waktu di tempat kerja sehingga tidak dapat memenuhi tanggungjawabnya di rumah secara maksimal, kemudian masih ada wanita karier yang sulit bekerja dengan profesional karena masalah yang terjadi di keluarganya seperti bertengkar dengan suami atau anak. Terdapat juga wanita karier yang tidak bisa memanfaatkan jadwal kerjanya sehingga di luar jam kerjanya ia tidak dapat merencanakan kegiatan keluarga dengan teratur seperti berekreasi, makan bersama atau sekedar berkumpul bersama, sehingga kebersamaan dengan keluarganya kurang bisa terpenuhi. Perempuan yang menjadi istri dan ibu sekaligus pekerja, cenderung memiliki masalah dalam menjalankan setiap perannya dengan baik dan seimbang, dimana seharusnya mereka sebagai individu merasa terikat dan puas terhadap perannya di pekerjaan maupun di keluarga, itulah yang disebut work family balance. Maka penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan kondisi work family balance pada wanita karier yang sudah menikah di RSUD Mukomuko. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner/angket work family balance. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 279 orang wanita karier yang sudah menikah di RSUD Mukomuko dan dalam pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling sehingga diperoleh sampel sebanyak 165 orang wanita karier yang sudah menikah di RSUD Mukomuko. Data analisis dengan menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Kondisi work family balance pada wanita karier yang sudah menikah secara umum berada pada kategori “Sedang” dengan persentase 49%. Artinya mereka sudah cukup puas dan cukup mampu menjalankan peran-perannya dengan baik dalam kehidupan pribadi dan pekerjaannya. 2) Kondisi work family balance pada wanita karier yang sudah menikah dilihat dari aspek WIPL (Work Interference with Personal Life) berada pada kategori “Rendah” dengan persentase 31%. Artinya, pekerjaan tidak mengganggu kehidupan pribadinya dikarenakan mereka mampu mengelola stres terhadap pekerjaan dengan baik, meningkatkan kepuasan hidup dan menjaga kesehatannya. 3) Kondisi work family balance pada wanita karier yang sudah menikah pada aspek PLIW (Personal Life Interference with Work) berada pada kategori “Rendah” dengan persentase 30%. Artinya, kehidupan pribadi tidak mengganggu pekerjaannya dikarenakan mereka mampu fokus dalam bekerja sehingga mereka pun puas dengan pekerjaannya dan itu yang menciptakan tumbuhnya motivasi kerja. 4) Kondisi work family balance pada wanita karier yang sudah menikah pada aspek PLEW (Personal Life Enhancement of Work) berada pada kategori “Tinggi” dengan persentase 35%. Artinya, kehidupan pribadi meningkatkan kehidupan pekerjaannya dikarenakan adanya dukungan keluarga, dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti hobi dan kegiatan masyarakat yang membawa pengaruh positif. 5) Kondisi work family balance pada wanita karier yang sudah menikah pada aspek WEPL (Work Enhancement of Personal Life) berada pada kategori “Sangat Tinggi” dengan persentase 48%. Artinya, pekerjaan meningkatkan kualitas kehidupan pribadinya dikarenakan kebersamaan dalam keluarga yang intens, pengelolaan emosi yang baik, dan pencapaian hidup yang telah terpenuhi.
Perilaku Agresif Siswa SMP dari Keluarga Single Parent Putri, Wanda Noffita
Consilium Vol 4, No 1 (2024): Consilium
Publisher : Consilium

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/01306cons

Abstract

AbstractPerilaku agresif merupakan tindakan yang dilakukan individu dengan tujuan menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun verbal. Pada remaja, khususnya siswa SMP, perilaku agresif sering muncul sebagai bentuk pelampiasan emosi yang tidak terkontrol. Kondisi ini dapat semakin dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, terutama pada anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga single parent, di mana kurangnya perhatian dan dukungan emosional dari kedua orang tua dapat memicu timbulnya perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk perilaku agresif yang ditunjukkan oleh siswa SMP dari keluarga single parent, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi munculnya perilaku tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian berjumlah empat siswa SMPN 01 Pancung Soal yang berasal dari keluarga single parent, dengan delapan informan pendukung yang terdiri dari teman dekat dan ibu masing-masing subjek. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku agresif siswa meliputi agresi verbal, seperti mengejek, membentak, berkata kasar, serta agresi fisik, seperti mendorong dan memukul. Faktor-faktor yang memengaruhi munculnya perilaku agresif ini antara lain kondisi emosional yang labil akibat kurangnya figur ayah, pola asuh yang tidak konsisten dari ibu, pengaruh teman sebaya, serta perasaan tersisih dan diremehkan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa siswa SMP dari keluarga single parent cenderung menunjukkan perilaku agresif sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri terhadap tekanan emosional dan sosial. Penelitian ini memberikan gambaran penting bagi orang tua, sekolah, dan konselor untuk memberikan pendampingan yang tepat dalam mengendalikan emosi serta mengembangkan perilaku positif pada siswa. Keywords: Perilaku Agresif, Single Parent, Siswa SMP.Article Info:
Gambaran Penerimaan Diri Siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA) Elpas, Zafira; Netrawati, Netrawati
Consilium Vol 4, No 1 (2024): Consilium
Publisher : Consilium

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/01307cons

Abstract

Penerimaan diri penting bagi remaja karena berperan penting dalam pembentukan identitas dan kestabilan emosi. Remaja yang mampu menerima diri cenderung lebih percaya diri, mampu mengelola emosi dan menjalin hubungan sosial yang sehat. Penelitian ini bertujuan menggambarkan penerimaan diri siswa berdasarkan teori Bernard. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan sampel 285 siswa melalui teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan berupa angket skala likert berdasarkan teori Bernard yang mencakup dua aspek: kesadaran diri untuk menghargai sikap positif dan menanggapi kejadian negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerimaan diri siswa SMAN 1 Ampek Angkek secara umum berada dalam kategori baik (71,58%), (2) aspek menghargai sikap positif juga tergolong baik (66,67%), (3) aspek menanggapi kejadian negatif berada dalam kategori baik (63,86%). Temuan ini diharapkan menjadi acuan bagi guru, konselor, dan orang tua dalam mendukung remaja mengembangkan penerimaan diri melalui pendekatan edukatif dan psikologis yang sesuai.
THE RELATIONSHIP OF LEARNING MOTIVATION WITH STUDENT DISCIPLINE muzah, yurike
Consilium Vol 4, No 1 (2024): Consilium
Publisher : Consilium

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/01067cons

Abstract

One of the factors that influences student learning motivation is student discipline. This research aims to describe: (1) the level of student learning motivation, (2) the level of student discipline, and (3) examine the relationship between learning motivation and student discipline. This research uses quantitative methods with descriptive correlational research. The population of this study was 1,331 students at SMKN 3 Padang who were registered in the January-June semester of the 2024 academic year with a research sample of 308 students selected using the Stratified Random Sampling technique. The instruments used are the "List of Learning Motivation Fill-Ins" and the "Student Discipline Fill-In List". Data were analyzed using descriptive correlational Pearson Product Moment. The results of the research show that: (1) the learning motivation of SMK 3 Padang students is in the high category, (2) the discipline of SMK 3 Padang students is in the high category, and (3) there is a significant positive relationship between learning motivation and student discipline with the coefficient The correlation is 0.892 with a significance value of 0.000 at a high level of relationship. This means that the higher the student's learning motivation, the higher the student's discipline.
Dimensi Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pemikiran Gus Dur serta Penerapannya dalam Bimbingan dan Konseling Ardi, Lailatul Afifah; Karneli, Yeni; Handayani, Puji Gusri
Consilium Vol 5, No 1 (2025): Consilium
Publisher : Consilium

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/01332cons

Abstract

Penelitian ini membahas terkait dimensi ontologi, epistemology, dan aksiologi dalam pemikiran Abdurrahman Wahid atau Gus Dur serta relevansinya dalam bidang Bimbingan dan Konseling. Kajian dilakukan melalui studi literatur (literature review) dengan menelusuri berbagai sumber ilmiah yang membahas filsafat Gus Dur dan nilai-nilai kemanusiaannya. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa Gus Dur memandang manusia sebagai makhluk yang hidup dalam keragaman sehingga setiap individu memiliki martabat yang layak untuk dihormati. Berdasarkan dimensi epistemologi, pengetahuan menurut Gus Dur ialah berkembang melalui dialog dan keterbukaan terhadap pengalaman orang lain. Sedangkan dari sisi aksiologi, nilai utama yang ditekankan adalah keadilan, kemusiaan, dan toleransi. Berdasarkan dimensi ontologi, epistemologi, dan aksiologi tersebut memiliki relevansi dengan bidang keilmuan serta praktiknya dalam BK, terutama dalam hal membangun pemahaman yang utuh terkait klien dan menciptakan suasana konseling yang aman dan menghargai perbedaan. Melalui kajian ini, dapat dilihat bahwa pemikiran Gus Dur dapat memperkaya pendekatan dalam BK yang lebih humanistik dan multikultural.