cover
Contact Name
Ahmad Albar Al Akso
Contact Email
kohesi55@gmail.com
Phone
+62812330129
Journal Mail Official
kohesi55@gmail.com
Editorial Address
Perum. Griya Kencana Blok 2i No.68 Mojosarirejo Driyorejo Gresik Jawa Timur
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Published by CV SWA Anugrah
ISSN : -     EISSN : 30258855     DOI : -
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan adalah jurnal open access yang diterbitkan oleh CV SWA Anugrah yang didalamnya menerima jurnal hasil penelitian maupun kajian pustaka tentang ilmu kesehatan, kedokteran, kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, keperawatan, ilmu nutrisi, gizi, urgensi stunting dan permasalahan kesehatan di Indonesia dan Internasional. Jurnal ini terbit 4 kali dalam setahun. pada bulan Februari, April, Juli, dan September. Jurnal ini mengundang penulis dan peneliti untuk publish di jurnal kesehatan ini.
Articles 668 Documents
HUBUNGAN POLA TIDUR DENGAN TINGKAT KONSENTRASI BELAJAR PADA SISWA DI SMAIT LATANSA CENDIKIA PASAR KEMIS KAB. TANGERANG TAHUN 2024 Sembiring, Agnes Jessica; Eka Noviana Nasriyanto; Cicirosnita J,Idu; Agnes Jessica Sembiring
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v5i4.5081

Abstract

ABSTRAK Latar belakang : Pola tidur adalah cara unik di mana manusia mengistirahatkan tubuhnya pada waktu tertentu untuk memulihkan dan memperbaiki sistem tubuh. Konsentrasi belajar adalah keterampilan yang berasal dari tingkah laku siswa dan mencakup penguasaan, penggunaan, dan penilaian sikap dan nilai dasar, pengetahuan, dan kecakapan. Salah satu perubahan pola tidur biasanya terjadi karena adanya tuntutan aktivitas sehari-hari. Pola tidur mempengaruhi konsentrasi belajar siswa karena apabila pola tidur buruk, siswa akan mengantuk sehingga mempengaruhi konsentrasi belajar saat di kelas. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola tidur dengan tingkat konsentrasi belajar pada siswa SMAIT Latansa Cendikia Pasar Kemis Kab.Tangerang tahun 2024. Metode : penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan teknik probability sampling dengan cara simple random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMAIT Latansa Cendikia Pasar Kemis Kab.Tangerang yang berjumlah 127 orang responden. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square. Hasil : hasil dari distribusi frekuensi sebagian besar memiliki pola tidur baik sebanyak 120 responden (94,5%) dan sebagian kecil memiliki pola tidur tidak baik sebanyak 7 responden (5,5%), sedangkan untuk konsentrasi belajar sebagian besar memiliki konsentrasi belajar baik sebanyak 84 responden (66,1%), dan sebagian kecil memiliki konsentrasi belajar tidak baik sebanyak 43 responden (33,9%). hasil dari pengolahan data responden menggunkan chi-square menunjukkan Terdapat hubungan yang signifikan antara pola tidur dengan tingkat konsentrasi belajar dengan p-value 0,006. Hasil analisis diperoleh pula nilai OR = 13,459, artinya :“ siswa dengan pola tidur yang baik mempunyai peluang untuk memiliki konsentrasi belajar 13,45 kali lebih besar dibandingkan dengan siswa yang memiliki pola tidur tidak baik. Kesimpulan : hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pola tidur dengan tingkat konsentrasi belajar siswa, jika siswa mempunyai pola tidur yang tidak baik akan menyebabkan siswa mengantuk saat disekolah dan menyebabkan hilangnya konsentrasi belajar siswa dalam proses belajar. Kata kunci : Pola Tidur, Tingkat Konsentrasi Belajar , Remaja ABSTRACT Background: Sleep patterns are a unique way in which humans rest their bodies at certain times to restore and repair the body's systems. Learning concentration is a skill that comes from student behavior and includes mastery, use and assessment of basic attitudes and values, knowledge and skills. One change in sleep patterns usually occurs due to the demands of daily activities. One source that affects students' learning concentration is having problems with their sleep patterns, usually students who have poor sleep patterns will be sleepy when in class, so it can affect students' learning concentration during class. Objective: This research aims to determine the relationship between sleep patterns and the level of study concentration among students at SMAIT Latansa Cendikia Pasar Kemis, Kab.Tangerang in 2024. Method: This research uses quantitative methods with a cross-sectional research design. The sampling technique for this research uses a probability sampling technique using simple random sampling. The sample in this research was SMAIT Latansa Cendikia Pasar Kemis students, Kab.Tangerang, totaling 170 respondents. Data analysis was carried out using the chi-square test. Results: The results of the frequency distribution were that the majority had good sleep patterns, 120 respondents (94,5%) and a small portion had poor sleep patterns, 7 respondents (5,5%), while for study concentration, the majority had good study concentration, 84 respondents (66,1%), and a small portion had poor study concentration as many as 43 respondents (33,9%). The results of processing respondent data using chi-square show that there is a significant relationship between sleep patterns and level of study concentration with a p-value of 0.006. From the results of the analysis, the OR value = 13.459 was also obtained, meaning: "Students with good sleep patterns have a chance to concentrate on learning 13.45 times greater than students who have poor sleep patterns. Conclusion: it can be concluded that there is a relationship between sleep patterns and students' level of concentration on learning, if students have poor sleep patterns it will cause students to become sleepy at school and cause students to lose their concentration in the learning process. Keywords: Sleep Pattern, Study Concentration Level, Teenager
GAMBARAN KEJADIAN KATARAK DAERAH PESISIR DAN PEGUNUNGAN DI SUMATRA BARAT TAHUN 2023 Rivaldo, Robert; Muhammad Hidayat
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v5i5.5084

Abstract

ABSTRAK Katarak adalah keadaan terjadi kekeruhan pada lensa dikarenakan hidrasi lensa dan denaturasi protein lensa. Menurut WHO, sekitar 18 juta orang mengalami kebutaan pada kedua matanya akibat katarak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif retrospektif dengan total sampling data. Diperoleh sampel 24 kasus di pesisir dari total peserta 115 pasien dan 17 kasus di pegunungan dari total peserta 63 pasien yang memenuhi kriteria dari tiap variable yang dihitung frekuensinya. Didapatkan hasil pasien katarak di pesisir sebagian besar diperoleh pada kelompok usia 60-69 tahun (54,2%), di pegunungan (58,8%). Katarak di pesisir paling banyak adalah laki-laki (58,3%) . Pegunungan memiliki responden paling banyak laki- laki (64,7%). Derajat katarak pasien di pesisir memiliki persentase tertinggi pada katarak matur (54,2%). Pegunungan memiliki persentase 82,4% pada derajat katarak matur. Pasien katarak di pesisir memiliki jumlah visus sangat buruk terbanyak (70,8%). Pegunungan memiliki visus pre op sangat buruk (41,2%). Pasien yang tidak menderita penyakit DM (91,7%) di wilayah pesisir, sedangkan pegunungan memiliki persentase 76,5%. Pasien katarak pada pesisir yang tidak memiliki penyakit penyerta Hipertensi (75%), sedangkan pada wilayah pegunungan, pasien yang terkena katarak, tidak diikuti dengan penyakit Hipertensi (82,4%). Karakteristik katarak sering terjadi pada golongan usia 60-69 tahun pada pesisir pantai dan pegunungan. Katarak pada pegunungan dan pesisir lebih banyak terjadi pada pasien dengan jenis kelamin laki-laki. Derajat katarak matur mempunyai persentase tertinggi pada pasien di pesisir dan pegunungan. Visus preop didominasi oleh visus sangat buruk, baik pada pesisir pantai maupun pegunungan. Penyakit komorbid diabetes melitus maupun hipertensi pada penelitian didapatkan banyak pasien tidak memiliki riwayat penyakit penyerta. Kata Kunci: Derajat katarak, jenis kelamin, katarak, penyakit komorbid, sinar ultraviolet, usia, visus preoperasi. ABSTRACT Cataract is a condition in which the lens becomes cloudy due to hydration of the lens and denaturation of lens proteins. According to the World Health Organization (WHO), approximately 18 million people worldwide experience blindness in both eyes due to cataracts. This study employs a retrospective descriptive research method with total data sampling. A sample of 24 cases was collected from the coastal region out of a total of 115 patients, and 17 cases were collected from the mountainous region out of a total of 63 patients who met the criteria for each variable. The frequency of each variable was calculated. The study found that the majority of cataract patients on the coast were aged between 60-69 years (54.2%), while in the mountains this figure was 58.8%. The prevalence of cataracts was higher in men in coastal areas (58.3%), whereas in the mountains, 64.7% of respondents were male. Mature cataracts were the most common type among patients on the coast (54.2%), while in the mountains, the percentage of mature cataracts was 82.4%. Patients on the coast also had the highest proportion of very poor visual acuity (70.8%). The preoperative vision of patients living in mountainous areas was found to be poor (41.2%). In coastal areas, 91.7% of patients did not have diabetes, while in mountainous areas, this percentage was 76.5%. Patients with cataracts in coastal areas did not have comorbid hypertension (75%), whereas in mountainous areas, patients with cataracts did not have hypertension (82.4%). Cataracts are more prevalent in males in the 60-69 age group residing in coastal and mountainous regions. The highest percentage of mature cataracts is found in patients living in these areas. Preoperative vision is generally very poor in these patients. The study found that many patients did not have a history of comorbid diseases such as diabetes mellitus or hypertension. Key Word: age, cataracts, comorbid diseases, degree of cataract, gender, preoperative vision, ultraviolet light.Keywords: Procedure, Insurance, Motor Vehicle
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI HIPERBILIRUBIN DENGAN TERAPI FIELD MESSAGE UNTUK MENURUNKAN SKOR KRAMER DIRUANG PERINATALOGI RS AN-NISA NURSING CARE FOR HIPERBILYRUBIN BABIES USING FIELD BABY MASSAGE THERAPY TO REDUCE CREMERS SCORE IN THE PERINATOLOGY ROOM Aini, Fadiatul; Ria Setia Sari
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v5i5.5086

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Hiperbilirubinemia adalah peningkatan kadar serum bilirubin dalam darah sehingga melebihi nilai normal. Pada bayi baru lahir biasanya dapat mengalami hiperbilirubinemia pada minggu pertama setelah kelahiran. Fototerapi diberikan pada bayi dengan hiperbilirubin untuk menurunkan kadar bilirubin dalam darah, dan terapi field baby massage membantu menurunkan kadar bilirubin perubahan.Tujuan: Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan untuk menganalisis implementasi terapi field baby massage untuk menurunkan skor kramer di Ruang Perinatologi RS AN-NISA Tangerang Tahun 2024. Metode: Pemberian intervensi asuhan keperawatan dan inovasi terapi field baby massage dilakukan area pijitan dibagian dada, perut, wajah, dan tungkai. Hasil: Berdasarkan studi kasus pada pasien kelolaan didapatkan terapi field baby massage memiliki pengaruh terhadap penurunan skor kramer. Kata Kunci: Neonatus, Hiperbilirubin,Field Baby Massage ABSTRACT Background: Hyperbilirubinemia is an increase in serum bilirubin levels in the blood so that it exceeds normal values. Newborn babies usually experience hyperbilirubinemia in the first week after birth. Phototherapy is given to babies with hyperbilirubin to reduce bilirubin levels in the blood, and field baby massage therapy helps reduce changes in bilirubin levels. Objective: This scientific paper aims to analyze the implementation of field baby massage therapy to reduce kramer scores in the Perinatology Room at AN-NISA Hospital Tangerang Year 2024. Method: Providing nursing care interventions and innovative field baby massage therapy using massage areas on the chest, stomach, face and legs. Results: Based on case studies on managed patients, it was found that field baby massage therapy had an influence on reducing Kramer scores. Keywords: Neonates, Hyperbilirubin, Field Baby Massage
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI HIPERBILIRUBIN DENGAN TINDAKAN PERUBAHAN POSISI TIDUR SELAMA FOTOTERAPI TERHADAP PENURUNAN KADAR BILIRUBIN DI RUANG PERINATOLOGI RS AN-NISA TANGERANG NURSING CARE FOR INFANTS WITH HYPERBILIRUBIN MEASURES TO CHANGE SLEEPING PO Hasanah, Hilda; Ria Setia Sari; Siti Muthoharoh
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v5i5.5087

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Bayi baru lahir disebut juga dengan neonatus merupakan individu yang sedang bertumbuh dan baru saja mengalami trauma kelahiran serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. Fototerapi diberikan pada bayi dengan hiperbilirubin untuk menurunkan kadar bilirubin dalam darah, dan perubahan posisi tidur selama fototerapi perlu dilakukan untuk mengoptimalkan paparan sinar ultra violet pada area kulit bayi. Tujuan: Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan untuk menganalisis implementasi perubahan posisi tidur terhadap penurunan kadar bilirubin di Ruang Perinatologi RS AN-NISA Tangerang Tahun 2024. Metode: Pemberian intervensi asuhan keperawatan dan inovasi perubahan posisi tidur seperti miring kanan, miring kiri, telentang dan tengkurap selama 2 jam terhadap penurunan kadar bilirubin. Hasil: Berdasarkan studi kasus pada pasien kelolaan didapatkan pemberian perubahan posisi tidur memiliki pengaruh terhadap penurunan kadar bilirubin. Kata Kunci: Neonatus, Hiperbilirubin, Perubahan Posisi Tidur ABSTRACT Background: Newborn babies, also known as neonates, are individuals who are growing and have just experienced birth trauma and must be able to adjust from intrauterine life to extrauterine life. Phototherapy is given to babies with hyperbilirubin to reduce bilirubin levels in the blood, and changes in sleeping position during phototherapy need to be done to optimize exposure to ultraviolet light on the baby's skin area. Objective: This scientific paper aims to analyze the implementation of changes in sleeping position to reduce bilirubin levels in the Perinatology Room at AN-NISA Tangerang Hospital in 2024. Method: Providing nursing care interventions and innovations in changing sleeping positions such as right side, left side, supine and prone during 2 hours to decrease in bilirubin levels. Results: Based on case studies in managed patients, it was found that changing sleeping positions had an effect on reducing bilirubin levels. Keywords: Neonates, Hyperbilirubin, Changes in Sleeping Position
EFEKTIFITAS PEMBERIAN INTERVENSI PURSE LIP BREATHING EXERCISE UNTUK MENURUNKAN SESAK PADA PASIEN EFUSI PLEURA DI RUANG PERAWATAN UMUM (RPU 1) RUMAH SAKIT AN-NISA TANGERANG Saputri, Dea; Meynur Rohmah; Elidia Dewi
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v5i5.5097

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang Efusi pleura adalah penumpukan cairan abnormal di dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal, sejumlah kecil cairan terus diproduksi dan diserap kembali di dalam rongga ini untuk menjaga pelumasan dan memperlancar pergerakan paru-paru selama pernapasan. Tujuan : Untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien efusi pleura dalam upaya mengurangi sesak dan memperbaiki Spo2 dan respirasi dengan teknik purse lip breathing exercise di Ruang Perawatan Umum 1 di Rumah Sakit An-nisa . Studi kasus menggunakan 1 responden dengan kriteria pasien efusi pleura. Metode Penelitian: Mahasiswi mengimplementasikan asuhan keperawatan pada pasien efusi pleura dengan pemberian terapi purse lip breathing exercise selama 5-15 menit dengan perbandingan jurnal. Hasil: Studi kasus menunjukkan bahwa pemberian teknik relaksasi purse lip breathing exercise selam 5-15 menit mampu mengurangi atau menurunkan sesak pada pasien efusi pleura.Kesimpulan : Terapi relaksasi purse lip breathing exercise yang diberikan pada pasien efusi pleura terbukt dapat mengurangi rasa sesak dan memperbaiki Spo2 dan respirasi. Kata kunci : Efusi pleura, Spo2, purse lip breathing exercise ABSTRACTBackground: Pleural effusion is an abnormal accumulation of fluid in the pleural cavity. Under normal circumstances, small amounts of fluid are continuously produced and reabsorbed within this cavity to maintain lubrication and facilitate lung movement during breathing. Objective: To provide nursing care for pleural effusion patients in an effort to reduce shortness of breath and improve Spo2 and respiration using the purse lip breathing exercise technique in General Treatment Room 1 at An-nisa Hospital. The case study used 1 respondent with the criteria of a pleural effusion patient. Research Method: Female students implement nursing care for pleural effusion patients by providing purse lip breathing exercise therapy for 5-15 minutes with journal comparison. Results: The case study shows that giving purse lip breathing exercise relaxation techniques for 5-15 minutes can reduce or reduce tightness in pleural effusion patients. Conclusion: Purse lip breathing exercise relaxation therapy given to pleural effusion patients has been proven to reduce tightness and improve Spo2 and respiration. Key words: Pleural effusion, Spo2, purse lip breathing exercise
EFEKTIFITAS PEMBERIAN INTERVENSI TERAPI DZIKIR UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN PADA PASIEN ASITES HIPOALBUMINEMIA DI RUANG PERAWATAN UMUM (RPU 1) RUMAH SAKIT AN-NISA TANGERANG Sintiya, Fitri; Meynur Rohmah; Elidia Dewi
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v5i5.5098

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan : Hipoalbuminemia adalah suatu kondisi abnormal yang ditunjukkan dengan level albumin dalam darah yang rendah, dimana albumin merupakan protein utama yang penting dalam tubuh. Beberapa keluhan yang dapat dialami oleh penderita hipoalbuminemia adalah pembengkakan pada wajah atau tungkai dan perut akibat penumpukan cairan (edema). Dari penyakit tersebut pasien mengalami kecemasan dengan intensitas sedang. Terapi dzikir merupakan faktor yang utama dalam mempercepat pemulihan dan dapat menyebabkan penurunan tingkat kecemasan Tujuan : Melaksanakan asuhan keperawatan dengan intervensi terapi dzikir terhadap penurunan kecemasan pada pasien dengan asites hypoalbuminemia. Metode : Implementasi menggunakan studi kasuss. Hasil : adanya pengaruh terapi dzikr terhadap penurunan kecemasan pada pasien dengan asites hypoalbuminemia. Kesimpulan : terapi dzikir merupakan salah satu terapi non farmakologi untuk menurunkan kecemasan pada pasien. Kata kunci : Hipoalbuminemia, Kecemasan, Terapi Dzikir ABSTRACT Introduction : Hypoalbuminemia is an abnormal condition indicated by low levels of albumin in the blood, where albumin is the main protein that is important in the body. Some complaints that sufferers of hypoalbuminemia can experience are swelling of the face or legs and stomach due to fluid buildup (edema). Due to this disease, the patient experiences anxiety of moderate intensity. Dhikr therapy is the main factor in speeding up recovery and can cause a decrease in anxiety levels. Objective : To implement nursing care with dhikr therapy interventions to reduce anxiety in patients with hypoalbuminemia ascites. Method : Implementation using case studies. Results : there is an effect of dhikr therapy on reducing anxiety in patients with hypoalbuminemia ascites. Conclusion : dhikr therapy is a non-pharmacological therapy to reduce anxiety in patients. Keywords: Hypoalbuminemia, Anxiety, Dhikr Therapy
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MENYIMPANG PADA REMAJA AWAL DI SMPN 2 SUKOWONO KABUPATEN JEMBER Dody Irwanto; Mad Zaini; Komarudin, Komarudin
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v5i5.5116

Abstract

Latar Belakang: Perilaku menyimpang juga sering disebut sebagai suatu penyakit dalam masyarakat atau penyakit sosial. Anak-anak remaja sekolah yang melakukan penyimpangan pada umumnya kurang memiliki kontrol diri, justru menyalahgunakan kontrol diri tersebut, dan suka menegakkan standar tingkah laku sendiri. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan masalah perilaku menyimpang pada remaja awal di SMPN 2 Sukowono Kabupaten Jember. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII dan VIII di SMPN 2 Sukowono pada tahun 2023-2024 yang berjumlah 72 siswa yang diperoleh dengan teknik proporsional random sampling dan data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Hasil: Hasil penelitian dengan uji Spearman rho (p < 0,05) menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan perilaku menyimpang pada remaja awal dengan nilai p value sebesar 0,001. Dukungan sosial teman sebaya berada pada kategori baik dengan perilaku menyimpang dalam kategori ringan. Diskusi: Rekomendasi penelitian ini dapat diterapkan dalam pembinaan dan pembelajaran psikologi remaja khususnya dalam menilai adanya perilaku menyimpang pada asuhan keperawatan jiwa.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FRAKTUR EKSTREMITAS POST ORIF ATAS DENGAN TERAPI ROM (RANGE OF MOTION) TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN OTOT DIRUANG PERAWATAN BEDAH RS AN-NISA KOTA TANGERANG TAHUN 2024 Anjani, Dewi Melati; Cicirosnita J. Idu; Samrotul Fuadah
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v5i5.5136

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang : Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh rudapaksa (trauma atau tenaga fisik). Untuk memperbaiki posisi fragmen tulang pada fraktur terbuka yang tidak dapat direposisi tapi sulit dipertahankan dan untuk memberikan hasil yang lebih baik maka perlu dilakukan tindakan operasi ORIF (0pen Reduction Internal Fixation). ORIF adalah suatu jenis pembedahan yang tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang yang diperlukan untuk beberapa patah tulang, fiksasi internal mengacu pada fiksasi sekrup dan piring untuk memfasilitasi penyembuhan . Tujuan : Tindakan ini bertujuan untuk menyembuhkan penyakit, akan tetapi menimbulkan reaksi berupa nyeri dari segi fisiologis maupun psikologis tanpa mempertimbangkan besar atau kecil operasi yang berlangsung. Metode : Metode yang digunakan adalah pengkajian skala peningkatan kekuatan otot dengan skor 0-5. Hasil: Hasil uji yang digunakan adalah Uji Wilcoxon dengan taraf signifikan a 0,05. Berdasarkan hasil pengolahan data maka didapatkan nilai sig. sebesar 0,0001 sehingga bisa disimpulkan dengan intervensi diberikannya terapi ROM dapat mempengaruhi peningkatan kekuatan otot yang dialami oleh pasien fraktur ekstremitas post orif. Kesimpulan: Setelah dilakukan intervensi dan implementasi jurnal yang dilakukan intervensi dan terapi ROM untuk meningkatkan kekuatan otot pada paasien fraktur ekstremitas post orif. Kata Kunci : Fraktur Ekstremitas, Post Orif, Terapi (ROM) Kekuatan Otot.
HUBUNGAN PERILAKU 5S (SENYUM, SALAM, SAPA, SOPAN, SANTUN) PADA PERAWAT DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI RUANG TERATAI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. H. KOESNADI BONDOWOSO Junaedi, Bagaskara Aprilian; Diyan Indriyani; Sri Wahyuni Adriani
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v5i5.5137

Abstract

Abstrak Perilaku 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) dapat menjadi cara pandang pasien terhadap tenaga medis. Fenomena yang terjadi di rumah sakit adalah komplain klien karena kesenjangan antara harapan dan kenyataan klien terhadap pelayanan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan perilaku 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) pada perawat dengan tingkat kepuasan pasien di Ruang Teratai Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Koesnadi Bondowoso. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif korelasi dengan metode cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien rawat inap di Ruang Teratai dengan lama hari perawatan minimal 3 hari dalam satu bulan terakhir Juli tahun 2024 dengan jumlah sampel 75 pasien yang diperoleh dengan teknik purposive sampling dan data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian dengan uji Spearman rho (p < 0,05) menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara perilaku 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun) pada perawat dengan tingkat kepuasan pasien dengan nilai p value sebesar 0,001. Mayoritas perilaku 5S yang dimiliki oleh perawat berada pada kategori optimal dengan tingkat kepuasan pasien dalam kategori puas. Kesimpulan penelitian ini bahwa ada hubungan yang signifikan perilaku 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun) dengan tingkat kepuasan pasien. Rekomendasi penelitian ini dapat diterapkan dalam manajemen keperawatan khususnya dalam menilai kepuasan pasien pada asuhan keperawatan yang telah diberikan oleh perawat. Kata kunci: Perilaku 5S, Kepuasan, Pasien Abstract 5S behaviour (Smile, Greeting, Greeting, Polite, Santun) can be the way patients perceive medical personnel. The phenomenon that occurs in hospitals is client complaints due to the gap between client expectations and reality of service. The purpose of this study was to determine the relationship between 5S behaviour (Smile, Greeting, Greeting, Polite, Courteous) in nurses with the level of patient satisfaction in the Teratai Room of the dr. H. Koesnadi Bondowoso Regional General Hospital. This study used a descriptive quantitative correlation design with a cross-sectional method. The sample in this study were inpatients in the Teratai Room with a minimum length of treatment days of 3 days in the last month of July 2024 with a sample size of 75 patients obtained by purposive sampling technique and data collected using a questionnaire. The results of the study with the Spearman rho test (p < 0.05) showed that there was a significant relationship between 5S behaviour (smile, greeting, greeting, polite, courtesy) in nurses with the level of patient satisfaction with a p value of 0.001. The majority of 5S behaviours owned by nurses are in the optimal category with the level of patient satisfaction in the satisfied category. The conclusion of this study is that there is a significant relationship between 5S behaviour (smile, greeting, greeting, politeness, courtesy) with the level of patient satisfaction. The recommendations of this study can be applied in nursing management, especially in assessing patient satisfaction with nursing care that has been provided by nurses. Keyword: 5S behavior, Satisfaction, Patients
PERBEDAAN KEJADIAN LASERASI PERINEUM PADA IBU BERSALIN ANTARA TEKNIK MENERAN TIUP DAN VALSAVA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDU SANJAYA KALIMANTAN TENGAH Maftukha, Aeni; Suparmi, Suparmi
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v6i1.5140

Abstract

Abstrak Latar Belakang: luasnya luka jalan lahir yang mengakibatakn pendarahan merupakan penyebab kedua perdarahan post partum setelah atonia uteri yang hampir terjadi pada semua persalinan. Sebagai pilihan alternatif untuk teknik meneran yang tidak berisiko terhadap ibu dan janin ini direkomendasikan teknik meneran bertiup saat puncak kontraksi dengan cara ibu menarik nafas dalam melalui hidung kemudian mengeluarkannya melalui mulut dengan meniupkan udara sambil mengeluarkan suara nafas “huuh..huuh...”. Berdasarkan teori dan beberapa hasil penelitian dalam jurnal-jurnal nasional dan internasional menunjukkan bahwa teknik mengedan dengan cara bertiup pada kala II pesalinan dapat mengurangi kejadian robekan perineum dan menurunkan angka kejadian asfiksia pada bayi baru lahir. Tujuan: Untuk menganalisis Teknik Meneran Tiup dan Valsava pada ibu Bersalin terhadap Derajat Laserasi Perinium di Puskesmas Pandu Sanjaya Kalimantan Tengah. Metode: Jenis penelitian ini adalah Quasi Experimental Design. Dengan desain Times Series Eksperimen. Cara pengambilan sampel adalah dengan accidentalsampling dan jumlah responden sebanyak 28 responden. 14 responden yang diterapkan teknik meneran tiup dan 14 responden yang diterapkan teknik meneran valsava. Hasil: Terjadi penurunan derajat laserasi perineum pada ibu bersalin dengan teknik meneran tiup tidak ada laserasi perineum sebanyak 21 responden (91 %), sedangkan pada Teknik meneran valsava terjadi laserasi derajat 2 sebanyak 14 responden (61%) dan Analisa bivariate dengan uji Mann-Whitney U signed ranks test statistics diketahui Asymp. Sig. (2-tailed) bernilai (p = 0.000 < 0.05). Kesimpulan: Teknik meneran tiup lebih efektif terhadap penurunan derajat laserasi perineum dibandingkan dengan teknik meneran valsava. Background: Bleeding due to extensive birth canal injuries is the second cause of post partum bleeding after uterine atony which occurs in almost all deliveries. As an alternative option for the meneran technique which does not pose a risk to the mother and fetus, the meneran blowing technique is recommended at the peak of contractions by the mother taking a deep breath through the nose and then exhaling through the mouth by blowing air while making a breathing sound "huuh...huuh...". Based on theory and several research results in national and international journals, it shows that the technique of pushing by blowing during the second stage of labor can reduce the incidence of perineal tears and reduce the incidence of asphyxia in newborn babies. Objective: To analyze the technique of blowing and Valsalva for women giving birth on the degree of perineal laceration at the Pandu Sanjaya Community Health Center, Central Kalimantan. Method: This type of research is Quasi Experimental Design. With an Experimental Times Series design. The sampling method was accidental sampling and the number of respondents was 28 respondents. 14 respondents applied the inflatable blowing technique and 14 respondents applied the Valsalva blowing technique. Results: There was a decrease in the degree of perineal lacerations in mothers who gave birth using the blow blow technique, there were no perineal lacerations for 21 respondents (91%), while with the Valsalva pressure technique there were 2nd degree lacerations for 14 respondents (61%) and bivariate analysis using the Mann-Whitney test. U signed ranks test statistics known Asymp. Sig. (2-tailed) value (p = 0.000 < 0.05). Conclusion: The blow force technique is more effective in reducing the degree of perineal laceration compared with the Valsalva force technique. Kata kunci : Penurunan Derajat laserasi, Teknik Meneran Tiup Dan Teknik Meneran Valsava

Filter by Year

2023 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 6 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 4 (2023): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 3 (2023): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2023): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2023): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan More Issue