cover
Contact Name
Ahmad Albar Al Akso
Contact Email
kohesi55@gmail.com
Phone
+62812330129
Journal Mail Official
kohesi55@gmail.com
Editorial Address
Perum. Griya Kencana Blok 2i No.68 Mojosarirejo Driyorejo Gresik Jawa Timur
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Published by CV SWA Anugrah
ISSN : -     EISSN : 30258855     DOI : -
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan adalah jurnal open access yang diterbitkan oleh CV SWA Anugrah yang didalamnya menerima jurnal hasil penelitian maupun kajian pustaka tentang ilmu kesehatan, kedokteran, kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, keperawatan, ilmu nutrisi, gizi, urgensi stunting dan permasalahan kesehatan di Indonesia dan Internasional. Jurnal ini terbit 4 kali dalam setahun. pada bulan Februari, April, Juli, dan September. Jurnal ini mengundang penulis dan peneliti untuk publish di jurnal kesehatan ini.
Articles 668 Documents
SANITASI BURUK SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN DIARE DAN STUNTING PADA ANAK BALITA Zahira, Anindi Aulia; Achdiani, Yani
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji dampak sanitasi yang tidak memadai terhadap prevalensi diare dan stunting pada balita di Indonesia. Tinjauan literatur terhadap studi-studi terkini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan dan perilaku yang berkontribusi terhadap masalah kesehatan tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa akses yang tidak memadai terhadap air minum yang aman, toilet yang tidak higienis, pengelolaan limbah domestik yang tidak memadai, dan kebersihan pribadi yang kurang optimal di kalangan pengasuh secara signifikan meningkatkan risiko diare dan stunting. Diare berulang menghalangi penyerapan nutrisi, menyebabkan malnutrisi dan menghambat pertumbuhan. Inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan infrastruktur sanitasi dan mendorong praktik higienis sangat penting untuk mengatasi tantangan kesehatan ini. Penelitian ini menekankan pentingnya inisiatif terintegrasi antara sanitasi dan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan hasil kesehatan anak. This research investigates the effects of inadequate sanitation on the prevalence of diarrhea and stunting among Indonesian toddlers. A literature review of contemporary studies was performed to ascertain the environmental and behavioral factors contributing to these health issues. Research indicates that insufficient access to potable water, unsanitary latrines, inadequate domestic waste management, and suboptimal personal hygiene among carers markedly elevate the risk of diarrhea and stunting. Recurrent diarrhea hinders nutritional absorption, resulting in malnutrition and inhibition of growth. Initiatives aimed at enhancing sanitary infrastructure and encouraging hygienic practices are essential for alleviating these health challenges. This study underscores the need of integrated sanitation and health education initiatives to improve child health outcomes.
SANITASI AIR BERSIH DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR PADA BALITA Fadilah Taufik, Fachri; Achdiani, Yani
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sanitasi air bersih merupakan aspek penting dalam menjaga kesehatan masyarakat, terutama bagi balita yang memiliki sistem imun belum sempurna. Air yang tercemar dapat menjadi media penularan berbagai penyakit seperti diare, kolera, hepatitis A, dan tifus, yang masih menjadi penyebab utama kematian balita di berbagai daerah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran sanitasi air bersih dalam pencegahan penyakit menular pada balita serta menggambarkan hubungan antara perilaku higienis keluarga dengan kondisi kesehatan anak. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka (literature review) terhadap berbagai sumber ilmiah, laporan WHO, UNICEF, dan penelitian nasional terkait sanitasi air bersih serta kesehatan anak. Hasil kajian menunjukkan bahwa rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit menular sebesar 40–60% dibanding rumah tangga dengan akses air yang tidak layak. Selain itu, edukasi ibu terkait kebersihan air, penyimpanan air minum, dan pengelolaan limbah rumah tangga berkontribusi signifikan terhadap penurunan angka kejadian diare pada balita. Dengan demikian, ketersediaan air bersih yang layak, perilaku sanitasi keluarga yang baik, serta dukungan pemerintah dalam penyediaan infrastruktur menjadi faktor kunci dalam pencegahan penyakit menular pada anak usia dini. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi upaya peningkatan kualitas lingkungan dan kesehatan keluarga di tingkat rumah tangga.
PENGARUH KUALITAS LAYANAN, HARGA, FASILITAS TERHADAP KEPUTUSAN MEMILIH YANG DIMEDIASI OLEH KEPERCAYAAN (STUDI PASIEN NON BPJS DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD PADEMANGAN) Chandiyantari, Riyati; Aminingsih, Purwanti; Ferdians, Achda
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persaingan antar rumah sakit yang semakin ketat menuntut penyediaan layanan yang berpusat pada pasien. RSUD Pademangan menghadapi penurunan kunjungan pasien non-BPJS di Instalasi Rawat Jalan sebesar 19% pada Januari–Juni 2025 dibandingkan periode yang sama tahun 2024, yang berimplikasi pada potensi penurunan pendapatan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kualitas layanan, harga, dan fasilitas terhadap keputusan memilih rumah sakit dengan kepercayaan sebagai variabel mediasi pada pasien non-BPJS di Instalasi Rawat Jalan. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 300 responden yang dipilih secara random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pada Juni–Juli 2025, dan dianalisis dengan Structural Equation Modelling Partial Least Square (SEM-PLS). Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 29–44 tahun (43%), berjenis kelamin perempuan (56%), bekerja pada kategori lain-lain (69%), berpendidikan SMA (69%), dan merupakan pasien lama (80%). Analisis jalur menunjukkan bahwa kualitas layanan, harga, dan fasilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepercayaan maupun terhadap keputusan memilih rumah sakit. Kepercayaan juga berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih serta terbukti memediasi hubungan antara kualitas layanan, harga, dan fasilitas dengan keputusan memilih. Di antara variabel eksogen, fasilitas merupakan faktor yang paling dominan dalam membangun kepercayaan, diikuti kualitas layanan dan harga. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kualitas layanan, harga, dan fasilitas berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung melalui kepercayaan terhadap keputusan memilih rumah sakit pada pasien non-BPJS. Penelitian merekomendasikan agar rumah sakit memprioritaskan perbaikan dan pembaruan fasilitas, menjaga harga yang kompetitif dan terjangkau, memperkuat keamanan transaksi, memberikan pelayanan yang jujur dan menghargai pasien, serta meningkatkan profesionalisme tenaga medis guna memperkuat kepercayaan pasien dan pada akhirnya meningkatkan keputusan pemanfaatan layanan di RSUD Pademangan. Kata kunci: Kualitas Layanan, Harga, Fasilitas, Kepercayaan, Keputusan Memilih RS, pasien Non BPJS Abstract Competition among hospitals is becoming increasingly intense, requiring the provision of patient-centered services. RSUD Pademangan has experienced a 19% decline in outpatient visits from non–BPJS patients in January–June 2025 compared to the same period in 2024, which may lead to a potential decrease in hospital revenue. This study aims to analyze the effect of service quality, price, and facilities on the decision to choose a hospital, with trust as a mediating variable, among non–BPJS patients in the Outpatient Installation. This research employed a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 300 respondents selected through random sampling. Data were collected using a questionnaire in June–July 2025 and analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least Square (SEM-PLS). The results showed that the majority of respondents were 29–44 years old (43%), female (56%), employed in the “others” category (69%), had a senior high school education (69%), and were repeat patients (80%). Path analysis revealed that service quality, price, and facilities had a positive and significant effect on trust as well as on the decision to choose the hospital. Trust also had a significant effect on the decision to choose and was proven to mediate the relationship between service quality, price, and facilities and the decision to choose. Among the exogenous variables, facilities were the most dominant factor in building trust, followed by service quality and price. Thus, it can be concluded that service quality, price, and facilities influence the decision to choose the hospital both directly and indirectly through trust among non–BPJS patients. The study recommends that the hospital prioritize improving and upgrading its facilities, maintain competitive and affordable pricing, strengthen transaction security, provide honest and respectful services to patients, and enhance the professionalism of medical personnel in order to reinforce patient trust and, ultimately, increase service utilization at RSUD Pademangan. Keyword: Service Quality, Price, Facilities, Trust, Decision to Choose Hospital, Non–BPJS Patients
PENGARUH PENGETAHUAN SIKAP DAN PERILAKU PERAWAT TERHADAP PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SERUI PAPUA Handayani, Nurul; Wulandari, Sonya Dewi; Rinaldi, Errico Adhitya
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Promosi kesehatan merupakan bagian penting dalam pelayanan rumah sakit yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan individu serta masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. Namun, di RSUD Serui, pelaksanaan promosi kesehatan belum optimal. Hal ini terlihat dari masih rendahnya keterlibatan perawat dalam memberikan edukasi kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengetahuan, sikap, dan perilaku perawat terhadap pelaksanaan promosi kesehatan di ruang rawat inap RSUD Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelatif dan rancangan potong lintang (cross-sectional). Sampel penelitian berjumlah 56 perawat yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup, dan data dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat memiliki pengetahuan baik (62,5%), sikap positif (54,2%), dan perilaku baik (58,3%). Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa ketiga variabel memiliki hubungan yang signifikan dengan pelaksanaan promosi kesehatan, yaitu pengetahuan (p = 0,014), sikap (p = 0,006), dan perilaku (p = 0,000). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa perilaku merupakan faktor yang paling dominan dengan nilai odds ratio (OR) sebesar 19,375. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pengetahuan, sikap, dan perilaku perawat berpengaruh signifikan terhadap pelaksanaan promosi kesehatan, dengan perilaku sebagai faktor dominan. Disarankan agar rumah sakit meningkatkan pelatihan, motivasi, dan evaluasi rutin terhadap pelaksanaan promosi kesehatan oleh perawat. Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Promosi Kesehatan, Perawat. Abstract Health promotion is an essential component of hospital services aimed at increasing awareness, willingness, and the ability of individuals and communities to maintain and improve their health. However, at Serui Regional General Hospital, the implementation of health promotion has not been optimal, as reflected in the low involvement of nurses in patient education. This study aims to determine the influence of nurses’ knowledge, attitude, and behavior on the implementation of health promotion in the inpatient wards of Serui Regional General Hospital, Yapen Islands Regency, Papua Province. This study used a quantitative method with a descriptive correlational approach and a cross-sectional design. The sample consisted of 56 nurses selected using purposive sampling. The research instrument was a closed-ended questionnaire, and data were analyzed using chi-square tests and multiple logistic regression at a 95% confidence level (α = 0.05). The results showed that most nurses had good knowledge (62.5%), a positive attitude (54.2%), and good behavior (58.3%). Bivariate analysis revealed significant relationships between all three variables and the implementation of health promotion: knowledge (p = 0.014), attitude (p = 0.006), and behavior (p = 0.000). Multivariate analysis indicated that behavior was the most dominant factor, with an odds ratio (OR) of 19,375. In conclusion, nurses’ knowledge, attitude, and behavior significantly influence the implementation of health promotion, with behavior being the most dominant factor. It is recommended that the hospital enhance training, motivation, and regular evaluation of nurses in carrying out health promotion activities. Keywords: Knowledge, Attitude, Behavior, Health Promotion, Nurses.
HUBUNGAN ANTARA KADAR PSA DENGAN DERAJAT KEGANASAN PADA PENDERITA KANKER PROSTAT Masitoh, Irma; Abadi, Moh. Fairuz; Thrisna Dewi, Ni Luh Putu
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker prostat merupakan salah satu keganasan utama pada pria di atas usia 50 tahun. Meskipun pemeriksaan kadar Prostate-Specific Antigen (PSA) digunakan secara luas untuk deteksi awal, akurasinya dalam memprediksi derajat keganasan histopatologis (Gleason Score) masih menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar PSA pre-operasi dengan derajat keganasan pada penderita kanker prostat di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Studi analitik observasional ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan data sekunder dari 79 pasien kanker prostat periode Januari 2019 hingga Desember 2024. Kadar PSA dianalisis menggunakan metode ECLIA, sedangkan derajat keganasan ditentukan berdasarkan sistem Gleason Score, dengan analisis hubungan antar variabel menggunakan uji Rank Spearman. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar PSA dengan derajat keganasan (p = 0,937; r = 0,009), di mana mayoritas pasien dengan derajat keganasan tinggi (poorly differentiated) justru menunjukkan kadar PSA yang bervariasi dan tidak selalu ekstrem tinggi. Disimpulkan bahwa kadar PSA serum tidak selalu berkorelasi linier dengan agresivitas biologis kanker prostat. Fenomena ini dapat terjadi karena jaringan tumor yang terdiferensiasi sangat buruk (poorly differentiated) sering kali kehilangan ekspresi gen penghasil PSA. Oleh karena itu, penentuan prognosis dan strategi terapi tidak boleh hanya bergantung pada kadar PSA, melainkan harus melibatkan evaluasi histopatologis yang komprehensif. Prostate cancer remains a leading malignancy among men aged over 50. While Prostate-Specific Antigen (PSA) levels are widely used as an initial screening tool, their reliability in predicting histological malignancy grade (Gleason Score) remains controversial. This study aimed to investigate the correlation between preoperative PSA levels and the degree of malignancy in prostate cancer patients at Pertamina Central Hospital. This observational analytic study employed a cross-sectional design using secondary data from 79 prostate cancer patients admitted between January 2019 and December 2024. PSA levels were analyzed using the ECLIA method, while malignancy grade was determined via histopathological examination using the Gleason Score system, utilizing the Spearman Rank test for bivariate analysis. Statistical analysis revealed no significant correlation between PSA levels and malignancy grade (p = 0.937; r = 0.009). Notably, a significant proportion of patients with high-grade malignancy (poorly differentiated) did not exhibit proportionally elevated PSA levels. It is concluded that serum PSA levels do not linearly reflect the biological aggressiveness of prostate cancer, potentially due to the loss of PSA-expressing genes in poorly differentiated tumor cells. Consequently, malignancy assessment should not rely solely on PSA levels but must integrate comprehensive clinical and histopathological evaluations to prevent under-diagnosis in aggressive cases.
HUBUNGAN KADAR T3, T4, DAN TSH DENGAN DIAGNOSIS KANKER TIROID: THE RELATIONSHIP OF T3, T4, AND TSH LEVELS WITH THYROID CANCER DIAGNOSIS Anggraini, Desty Prastika; Abadi, Moh Fairuz; Sari, Lia Cahya; Prihatiningsih, Diah
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma tiroid sering kali bersifat euthyroid (kadar hormon normal), namun beberapa literatur terbaru menunjukkan adanya disregulasi hormon pada keganasan, sehingga hubungan spesifik antara profil hormon tiroid dengan diagnosis histopatologis masih menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi kadar serum T3, T4, dan TSH dengan diagnosis karsinoma tiroid di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Studi observasional analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional) ini dilakukan pada data rekam medis pasien nodul tiroid periode 2020–2024, di mana 54 sampel dipilih melalui teknik simple random sampling dengan diagnosis histopatologi sebagai baku emas. Hasil analisis statistik menunjukkan proporsi karsinoma tiroid sebesar 46,3% dan mengungkapkan hubungan yang sangat signifikan antara kadar T4 dengan kejadian karsinoma tiroid (p=0,001). Menariknya, 100% pasien dengan peningkatan kadar T4 terdiagnosis mengalami keganasan, berbeda dengan kadar T3 (p=0,054) dan TSH (p=0,093) yang tidak menunjukkan signifikansi statistik meskipun terdapat tren klinis penurunan T3 pada kasus kanker. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan kadar T4 merupakan indikator potensial untuk memprediksi keganasan pada nodul tiroid di populasi ini, sehingga disarankan sebagai panel rutin dalam stratifikasi risiko pra-operasi. Kata kunci: Hormon T3, Hormon T4, Hormon TSH, Kanker Tiroid Abstract Thyroid carcinoma typically presents as euthyroid; however, recent evidence suggests potential hormonal dysregulation in malignancy, leaving the specific association between thyroid hormone profiles and histopathological diagnosis controversial. This study aimed to analyze the correlation between serum T3, T4, and TSH levels with the diagnosis of thyroid carcinoma at Pertamina Central Hospital. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted using medical records from 2020 to 2024, selecting 54 samples via simple random sampling with histopathology as the gold standard. The results indicated a 46.3% prevalence of carcinoma and revealed a highly significant association between T4 levels and malignancy (p=0.001). Notably, 100% of patients with elevated T4 were diagnosed with cancer, whereas T3 (p=0.054) and TSH (p=0.093) levels showed no statistically significant association, despite a clinical trend of lower T3 in the cancer group. In conclusion, elevated serum T4 levels serve as a potential predictor for malignancy in this population and are recommended for preoperative risk stratification. Keywords: T3 hormone, T4 hormone, TSH hormone, Thyroid cancer
KORELASI DERAJAT KEGANASAN DENGAN HASIL IMUNOHISTOKIMIA (ER, PR, HER2) PADA KANKER PAYUDARA : CORRELATION OF MALIGNANCY GRADE WITH IMMUNOHISTOCHEMISTRY (ER, PR, HER2) IN BREAST CANCER Setiawan, Heri; Cahyani , Anak Agung Ayu Eka; Prasetya , Didik
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker payudara masih menjadi tantangan kesehatan global yang serius sebagai salah satu penyebab utama kematian pada wanita, di mana pemahaman mengenai derajat keganasan dan status imunohistokimia—khususnya Estrogen Receptor (ER), Progesterone Receptor (PR), dan Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2)—memegang peranan krusial dalam penentuan prognosis serta strategi terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi korelasi antara derajat keganasan histopatologis dengan ekspresi ER, PR, dan HER2 pada pasien kanker payudara. Studi ini menggunakan desain analitik korelasi dengan menelaah data sekunder dari 85 pasien di RS Pusat Pertamina selama periode Januari 2022 hingga Desember 2024. Berdasarkan hasil analisis statistik, ditemukan adanya korelasi negatif yang signifikan antara derajat keganasan dengan ekspresi ER dan PR; temuan ini mengindikasikan bahwa tumor dengan derajat keganasan yang lebih tinggi cenderung memiliki ekspresi reseptor hormonal yang lebih rendah. Sebaliknya, penelitian ini tidak menemukan hubungan yang bermakna antara derajat keganasan dengan ekspresi HER2. Hal ini menyimpulkan bahwa meskipun status hormonal (ER/PR) berkaitan erat dengan diferensiasi morfologis tumor, ekspresi HER2 merupakan variabel independen yang tidak dipengaruhi secara langsung oleh derajat keganasan dalam populasi studi ini. Kata Kunci: kanker payudara, derajat keganasan, imunohistokimia (ER, PR, HER2) Abstract Breast cancer remains a significant global health challenge as a leading cause of mortality among women, where understanding the relationship between histological malignancy grade and immunohistochemical status—specifically Estrogen Receptor (ER), Progesterone Receptor (PR), and Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2)—is pivotal for determining prognosis and therapeutic strategies. Consequently, this study aimed to evaluate the correlation between histopathological malignancy grade and the expression of ER, PR, and HER2 in breast cancer patients. Employing a correlational analytic design, the study analyzed secondary data from 85 patients at Pertamina Central Hospital covering the period from January 2022 to December 2024. Statistical analysis revealed a significant negative correlation between malignancy grade and both ER and PR expression, indicating that tumors with higher malignancy grades tend to exhibit lower hormonal receptor expression. Conversely, no significant association was found between malignancy grade and HER2 expression. These findings suggest that while hormonal status (ER/PR) is intricately linked to tumor morphological differentiation, HER2 expression represents an independent variable that is not directly influenced by the degree of malignancy within this study population. Keywords: breast cancer, degree of malignancy, immunohistochemistry (ER, PR, HER2)
KORELASI PEMERIKSAAN IGE TOTAL DENGAN PERSENTASE EOSINOFIL PADA PASIEN TERDIAGNOSA HIPERSENSITIVITAS TIPE 1 : CORRELATION TOTAL IGE LEVELS AND EOSINOPHIL PERCENTAGE IN PATIENTS DIAGNOSED WITH TYPE 1 HYPERSENSITIVITY Fahri, Muhamad; Prihatiningsih, Diah; Sari, Lia Cahya
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipersensitivitas tipe 1 merupakan reaksi imunologis kompleks yang umumnya ditandai oleh peningkatan kadar Imunoglobulin E (IgE) dan aktivasi eosinofil, namun literatur yang ada menunjukkan inkonsistensi mengenai hubungan linier antara kedua parameter biologis tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi korelasi antara kadar IgE total dengan persentase eosinofil pada populasi pasien yang terdiagnosis hipersensitivitas tipe 1, guna memahami pola respons imun yang terjadi. Studi ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, yang melibatkan 114 pasien yang memenuhi kriteria diagnosis klinis di lokasi penelitian. Berdasarkan hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-Square, penelitian ini menemukan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kadar IgE total dengan persentase eosinofil (p = 0,241). Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun IgE dan eosinofil sama-sama berperan sentral dalam patogenesis alergi, keduanya mungkin merepresentasikan jalur aktivasi imun atau fase peradangan yang berbeda, di mana peningkatan kadar IgE tidak serta-merta disertai dengan eosinofilia perifer. Oleh karena itu, faktor lain seperti variasi individual, aktivasi sel mast, atau mediator inflamasi lainnya perlu dipertimbangkan, dan penegakan diagnosis sebaiknya tidak bergantung pada parameter tunggal melainkan melalui pendekatan multiparameter yang komprehensif. Kata Kunci: Eosinofil, hipersensitivitas tipe 1, IgE total Abstract Type 1 hypersensitivity is a complex immune reaction typically characterized by elevated levels of Immunoglobulin E (IgE) and eosinophil activation; however, existing literature presents inconsistent findings regarding the linear relationship between these two biological markers. This study aimed to evaluate the correlation between total IgE levels and eosinophil percentage in patients diagnosed with type 1 hypersensitivity to elucidate the underlying immune response patterns. Employing an analytical observational design with a cross-sectional approach, this study involved 114 patients who met the specific diagnostic criteria at the study site. Statistical analysis using the Chi-Square test revealed no significant correlation between total IgE levels and eosinophil percentage (p = 0.241). These findings indicate that although both IgE and eosinophils play central roles in allergic pathogenesis, they may represent distinct immune activation pathways or different inflammatory phases, where elevated IgE levels are not necessarily accompanied by peripheral eosinophilia. Consequently, other factors such as individual variability, mast cell activation, or alternative inflammatory mediators should be considered, suggesting that clinical diagnosis requires a comprehensive multiparameter approach rather than reliance on a single biomarker. Keywords: Eosinophils, Total IgE, Type 1 Hypersensitivity

Filter by Year

2023 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 6 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 4 (2023): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 3 (2023): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2023): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2023): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan More Issue