cover
Contact Name
Andri Putra Kesmawan
Contact Email
andriputrakesmawan@gmail.com
Phone
+6281990251989
Journal Mail Official
journal@idpublishing.org
Editorial Address
Perumahan Sidorejo, Jl. Sidorejo Gg. Sadewa No.D3, Sonopakis Kidul, Ngestiharjo, Kapanewon, Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55184
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Law and Justice
ISSN : -     EISSN : 30310016     DOI : https://doi.org.10.47134/lawjustice
Core Subject : Social,
The Indonesian Journal of Law and Justice ISSN 3031 0016 is a peer-reviewed scholarly journal dedicated to presenting high quality research in the field of law and justice in Indonesia. The focus and scope of this journal are, Constitutional Law, Criminal Law and Criminology, Civil and Business Law, International Law, Justice and Human Rights. Indonesian Journal of Law and Justice welcomes contributions in the form of research articles, literature reviews, legal notes, and legal essays related to the aforementioned topics. We invite contributions from various perspectives, both academic and practitioner, to enrich discussions and understanding in the field of law and justice in Indonesia.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 405 Documents
Compensatory Guarantees for Damages Caused by Artificial Intelligence in Law: A Comparative Analytical Study Jyan Bahil Jadaan; Dr. Qayssar Abbas Hasan
Indonesian Journal of Law and Justice Vol. 4 No. 1 (2026): September
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/ijlj.v4i1.6154

Abstract

AI systems play a more significant role in decision-making in healthcare, transport, finance, and commerce. Their autonomous or adaptive operations can inflict bodily injury, cause economic loss, violate privacy, and damage reputation, while obscuring fault, causation, and the identity of the responsible actor. This paper assesses whether the conventional civil-liability rules provide adequate compensation in situations where harm results from the­ conduct of the AI provider, producer, programmer, deployer, operator, data supplier.  Through a comparative analytic method, the study looks at fault-based doctrines, presumed doctrines, strict doctrines and product liability doctrines of the civil law system.  It studies Regulation (EU) 2024/1689 on artificial intelligence, Directive (EU) 2024/2853 on liability for defective products and Article 82 of Regulation (EU) 2016/679 on compensation for unlawful personal-data processing. Next it assesses judicial damages, corrective remedies, mandatory insurance, compensation funds, joint liability and presumptions of proof. The study finds fault-based liability remains useful where negligent design, testing, deployment, supervision or use can be proved but may fail when technical opacity blocks access to evidence. As such, effective victim protection should rely on a layered model, it would combine, ordinary civil liability encompassing fault-based damage claims and risk-based duties, disclosure and record-preservation obligations, rebuttable presumptions, compulsory insurance for defined high-risk systems, and the residual compensation fund. This model enhances access to full and timely reparation while preserving legal certainty.
Peran Pengawas Koperasi Desa Merah Putih dalam Menjamin Tata Kelola Transparan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Sumanto Sumanto; Sri Sukmana Damayanti
Indonesian Journal of Law and Justice Vol. 4 No. 1 (2026): September
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/ijlj.v4i1.6283

Abstract

Koperasi Desa Merah Putih adalah salah satu program prioritas nasional di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih bertujuan untuk mancapai pemerataan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Dalam menjalankan operasionalnya, Koperasi Desa Merah Putih memiliki sejumlah komponen yakni rapat anggota, pengurus, pengawas, pengelola, dan anggota. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah peran pengawas Koperasi Desa Merah Putih dalam menjamin tata kelola transparan berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992. Penelitian ini termasuk dalam penelitian hukum normatif, yang menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Bahan hukum primer yang diteliti berupa Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Bahan hukum sekunder yang digunakan berupa jurnal, buku, dan artikel sehubungan peran pengawas koperasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawas memiliki peran penting dalam menjamin tata kelola transparan. Sebagaimana Pasal 39 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992, pengawas koperasi mempunyai dua tugas yakni mengawasi dan melaporkan hasil pengawasan dalam bentuk tertulis. Adapun wewenang pengawas koperasi yakni meneliti setiap catatan terkait operasional koperasi dan memperoleh segala bentuk keterangan yang dibutuhkan.
Potongan Aplikasi, Perlindungan Hukum, dan Kesejahteraan Mitra Pengemudi di Kota Tangerang Selatan: Studi Kebijakan pada Layanan Ojek Online Muhammad Rachman
Indonesian Journal of Law and Justice Vol. 4 No. 1 (2026): September
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/ijlj.v4i1.6252

Abstract

Dalam praktiknya, potongan komisi yang dikenakan oleh aplikasi transportasi online sering kali melebihi batas 20% yang ditetapkan, sehingga mengurangi pendapatan dan kesejahteraan mitra pengemudi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan kebijakan komisi aplikasi, bentuk perlindungan hukum yang tersedia, serta dampaknya terhadap kesejahteraan mitra pengemudi transportasi online di Kota Tangerang Selatan. Metode yang digunakan adalah kualitatif, dengan pendekatan hukum normatif (doctrinal legal research) melalui tinjauan pustaka terhadap KUHPerdata, Kepmenhub KP 1001/2022, Permenaker No. 5/2021, dan Permenhub No. 12/2019. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemotongan komisi sepihak yang melebihi 20% merupakan pelanggaran kontrak (Pasal 1238 KUHPerdata) yang merugikan para pengemudi. Status pengemudi sebagai ‘Pekerja Non-Gaji’ (BPU) melemahkan posisi tawar mereka dalam perjanjian kemitraan sekaligus mengalihkan beban iuran jaminan sosial kepada mereka secara individu. Lemahnya pengawasan oleh Dinas Perhubungan dan Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan telah mendorong komunitas pengemudi untuk melakukan advokasi digital di platform X dan petisi daring berdasarkan UU ITE dan Undang-Undang Ketenagakerjaan. Kesimpulannya, diperlukan bersama antar kementerian (Bestuurshandeling) danpengawasan yang ketat oleh pemerintah daerah guna memastikan kepastian hukum, transparansi komisi, dan kesejahteraan pengemudi.
Obstruction of Material Truth by Law Enforcement Officers: An Empirical Juridical Study of Article 50A of the Financial Sector Development and Strengthening Law (P2SK Law) Agustinus Bazookandhy
Indonesian Journal of Law and Justice Vol. 4 No. 1 (2026): September
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/ijlj.v4i1.6297

Abstract

The development of Indonesia's financial sector requires legal safeguards that not only promote financial stability but also preserve the integrity of criminal law enforcement. Article 50A of Law Number 4 of 2023 concerning Financial Sector Development and Strengthening (P2SK Law) raises important juridical questions regarding its role in preventing the obstruction of material truth by law enforcement officers. This study aims to examine the legal implications of Article 50A and its relationship with the principles of material truth, due process of law, legal certainty, accountability, and the rule of law within Indonesia's criminal justice system. The research employed a qualitative method using an empirical juridical approach based exclusively on documentary research without involving human participants or field observations. Data were collected from primary, secondary, and tertiary legal materials, including statutory regulations, judicial decisions, official institutional reports, and scholarly publications, and were analyzed using the interactive qualitative model developed by Miles, Huberman, and Saldaña. The findings indicate that Article 50A serves as an important legal safeguard for maintaining the integrity of criminal investigations and strengthening the protection of material truth. Documentary evidence further demonstrates that obstruction of material truth encompasses not only direct interference with investigations but also abuse of authority, evidence manipulation, witness intimidation, conflicts of interest, procedural irregularities, and institutional interference that compromise investigative independence. Moreover, the effectiveness of Article 50A depends upon consistent judicial interpretation, institutional oversight, professional ethics, and comprehensive accountability mechanisms applicable to law enforcement officers. In conclusion, Article 50A of the P2SK Law reinforces constitutional principles by integrating legal certainty, institutional accountability, and the protection of material truth within Indonesia's criminal justice system.
Praktik Perkawinan dengan Model Dua Tata Cara Keagamaan dalam Perspektif Hukum Perkawinan di Indonesia : Studi Penetapan Nomor 916/Pdt.P/2022/PN.Sby Ravicha Selvia Nur Azizah; Abdul Kadir Sabaruddin; Yennita Astarina
Indonesian Journal of Law and Justice Vol. 4 No. 1 (2026): September
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/ijlj.v4i1.6349

Abstract

Penelitian ini menganalisis praktik perkawinan yang dilaksanakan melalui dua tata cara keagamaan dalam Penetapan Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 916/Pdt.P/2022/PN.Sby, dengan fokus pada konstruksi fakta, status agama para pihak, keabsahan perkawinan, hubungan antara keabsahan dan pencatatan, serta ratio decidendi hakim. Penelitian ini merupakan penelitian hukum doktrinal/normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, kasus, dan perbandingan. Bahan hukum dianalisis secara preskriptif melalui penafsiran gramatikal, sistematis, historis, dan teleologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dua tata cara keagamaan tidak dengan sendirinya memenuhi persyaratan keabsahan perkawinan. Dalam perkara yang diteliti, terdapat perbedaan status agama para pemohon dan bukti pelaksanaan perkawinan menurut tata cara keagamaan, sehingga persoalan utamanya bukan hanya pencatatan, tetapi terlebih dahulu apakah syarat substantif perkawinan telah terpenuhi menurut hukum agama sebagaimana dikehendaki Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan. Penetapan tersebut memperlihatkan ketegangan antara perlindungan hak administratif dan konstitusional dengan tuntutan kepastian hukum mengenai keabsahan perkawinan. Kebaruan penelitian terletak pada penggunaan konsep “dua tata cara keagamaan” sebagai pisau analisis untuk membedakan antara fakta pelaksanaan upacara, status agama para pihak, dan akibat hukum pencatatan.