cover
Contact Name
Edisah Putra Nainggolan
Contact Email
edisahputra@umsu.ac.id
Phone
+6282165975455
Journal Mail Official
tutwurihandayanikip@gmail.com
Editorial Address
Perum Taman Karyajaya Indah Blok C15 Medan
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan
ISSN : -     EISSN : 2830232X     DOI : https://doi.org/10.59086/jkip
Core Subject : Education,
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan is a journal that contains articles on research results in the field of teacher training and education. Articles published in Tut Wuri Handayani have gone through a peer-review process, to maintain the best quality of articles in scientific development in the field of teacher training and education. Tut Wuri Handayani published 4 times a year March, June, September, December. Tut Wuri Handayani Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan accepts manuscripts in the field of research which are included in the scientific field: Instructional Media, Instructional Models, Learning Approach, Instructional Strategies, Instructional Methods, Teaching Techniques, Teaching Tactics, and Early childhood education, Adult education, Mathematics and science education, Guidance and counseling education, Educational technology, Character education, Special needs education, Global issues in education, Technical and vocational education, Language education, Social science education, Educational management, Sports science and physical education, Other areas in education
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 114 Documents
Persepsi Pelatih dan Atlet terhadap Penggunaan Teknologi dalam Kepelatihan Olahraga: Studi Kualitatif melalui Observasi dan Wawancara Tanjung, Bardan Diansyah Hafiz; Rahman , Aulia; Waskita , Ghozi Indra
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i1.1471

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam persepsi pelatih dan atlet terhadap integrasi teknologi monitoring dalam proses pelatihan olahraga. Kebaruan penelitian ini terletak pada pergeseran fokus dari efisiensi alat teknis menuju eksplorasi aspek psikososial serta resistensi psikologis atlet yang seringkali terabaikan dalam studi sport science konvensional. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pemilihan informan dilakukan melalui teknik purposive sampling yang berlokasi di GOR Dispora Pancing, Deli Serdang, Sumatera Utara, dengan melibatkan seorang pelatih (Bapak Aulia Habib) dan tiga orang atlet (Sukri Simatupang, Surya Ferdiansyah, dan Emelio Kenzo). Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif di lapangan dan wawancara mendalam, yang kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahap reduksi, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatih memandang teknologi sebagai instrumen validasi yang memiliki kegunaan tinggi (perceived kegunaannya). Namun, pada sisi atlet, ditemukan dikotomi persepsi di mana transparansi data digital mampu meningkatkan motivasi intrinsik bagi sebagian individu, sementara atlet lainnya justru merasakan kecemasan kinerja (performance anxiety) akibat pengawasan digital yang konstan. Kesimpulannya, penerapan teknologi di lapangan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat, tetapi sangat bergantung pada harmonisasi komunikasi antara pelatih dan atlet. Implikasi praktis dari temuan ini menekankan pentingnya pelatihan literasi digital bagi pelatih lokal agar pemantauan data dapat diposisikan sebagai media pengembangan prestasi yang humanis, bukan sekadar alat pengawasan administratif. This study aims to analyze in depth the perceptions of coaches and athletes regarding the integration of monitoring technology in the sports coaching process. The novelty of this research lies in the shift of focus from technical efficiency to the exploration of psychosocial aspects and athletes' psychological resistance, which are often neglected in conventional sport science studies. The method used is descriptive qualitative with a case study approach. Informant selection was carried out through a purposive sampling technique located at GOR Dispora Pancing, Deli Serdang, North Sumatra, involving a coach (Mr. Aulia Habib) and three athletes (Sukri Simatupang, Surya Ferdiansyah, and Emelio Kenzo). Data were collected through participatory field observations and in-depth interviews, which were then analyzed using the Miles and Huberman interactive model through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The results showed that the coach perceived technology as an instinct validation instrument with high perceived usefulness. However, on the athlete's side, a dichotomy of perception was found where digital data transparency could increase intrinsic motivation for some individuals, while other athletes actually felt performance anxiety due to constant digital surveillance. In conclusion, the success of technology adoption in the field is not only determined by the sophistication of the device but highly depends on the harmonization of communication between coaches and athletes. The practical implications of these findings emphasize the importance of digital literacy training for local coaches so that monitoring data can be positioned as a humanistic achievement development medium, rather than just an administrative surveillance tool.
Toward the Development of Anglais pour le Tourisme et l’Hôtellerie Teaching Materials: A Needs Analysis on Integrating the Local Culture of North Sumatra Fitri Tarigan; Resti Citra Dewi; Surya Kelana Putra; Lilis Novianti
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i2.1536

Abstract

The rapid growth of international tourism in North Sumatra driven by its designation as one of Indonesia’s Super Priority Tourist Destinations and the recognition of Lake Toba as a UNESCO Global Geopark in 2020 has increased the demand for tourism professionals who can communicate in French and English, particularly with Francophone visitors. However, university courses such as Anglais pour le Tourisme et l’Hôtellerie (ATH)  still rely on European-based teaching materials that feel disconnected from students’ local realities, often overlooking the linguistic needs, cultural context, and practical situations they will encounter in North Sumatra, highlighting the urgent need for more locally grounded and relevant instructional resources.In response to this gap, the present study aims to conduct a systematic needs analysis as a foundation for developing Anglais pour le Tourisme et l’Hôtellerie  (ATH) instructional materials that are grounded in the local culture of North Sumatra. This study adopted a mixed-methods approach, combining quantitative data from questionnaires with qualitative data obtained through interviews, observations, and document analysis. Data were collected from 100 undergraduate students using a 25-item structured questionnaire, supported by semi-structured interviews and an analysis of ten existing sets of teaching materials. The findings indicate that 80% of students begin the course at the CEFR A1 level, while 83.3% perceive the current materials as irrelevant to their future professional needs. Five key communicative domains emerged as priority areas: guided tour narration (94.2%), hotel reception interactions (91.7%), restaurant service communication (87.5%), complaint handling (79.2%), and promotional writing (72.5%). Furthermore, the document analysis revealed that none of the existing materials include references to Indonesian tourism contexts, with four essential lexical domains entirely missing. Overall, these findings highlight a significant mismatch between the existing ESP materials and the actual needs of learners. At the same time, they provide a clear empirical basis for the development of instructional materials that are culturally relevant and locally grounded, particularly for tourism and hospitality education in North Sumatra.   Pesatnya pertumbuhan pariwisata internasional di Sumatera Utara yang didorong oleh penetapan wilayah ini sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas Indonesia serta pengakuan Danau Toba sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2020 telah meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga profesional pariwisata yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Prancis dan bahasa Inggris, khususnya dalam melayani wisatawan Francophone. Namun demikian, mata kuliah Anglais pour le Tourisme et l’Hôtellerie di perguruan tinggi masih menggunakan bahan ajar berbasis konteks Eropa yang kurang relevan dengan realitas lokal mahasiswa. Bahan ajar tersebut cenderung mengabaikan kebutuhan linguistik, konteks budaya, serta situasi praktis yang akan dihadapi mahasiswa di lingkungan pariwisata Sumatera Utara. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan pengembangan sumber pembelajaran yang lebih kontekstual, relevan, dan berbasis budaya lokal. Sebagai respons terhadap kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kebutuhan secara sistematis sebagai landasan dalam pengembangan bahan ajar ATH yang berbasis budaya lokal Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan mengombinasikan data kuantitatif dari angket dan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara, observasi, serta analisis dokumen. Data dikumpulkan dari 100 mahasiswa sarjana melalui kuesioner terstruktur yang terdiri atas 25 butir pertanyaan, didukung oleh wawancara semi-terstruktur dan analisis terhadap sepuluh perangkat bahan ajar yang telah digunakan sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% mahasiswa memulai perkuliahan pada tingkat kemahiran A1 berdasarkan CEFR, sementara 83,3% responden menilai bahwa bahan ajar yang digunakan saat ini tidak relevan dengan kebutuhan profesional mereka di masa depan. Penelitian ini juga mengidentifikasi lima domain komunikasi utama yang menjadi prioritas pembelajaran, yaitu narasi pemanduan wisata (94,2%), interaksi resepsionis hotel (91,7%), komunikasi layanan restoran (87,5%), penanganan keluhan wisatawan (79,2%), dan penulisan promosi pariwisata (72,5%). Selain itu, hasil analisis dokumen menunjukkan bahwa tidak satu pun bahan ajar yang dianalisis memuat konteks pariwisata Indonesia, dan terdapat empat domain leksikal penting yang sama sekali belum tercakup. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian yang signifikan antara bahan ajar ESP yang tersedia dengan kebutuhan nyata peserta didik. Di sisi lain, hasil penelitian ini juga memberikan dasar empiris yang kuat bagi pengembangan bahan ajar yang relevan secara budaya dan berakar pada konteks lokal, khususnya dalam pendidikan pariwisata dan perhotelan di Sumatera Utara.  
Analisis Kesulitan Mahasiswa Dalam Penyelesaian Skripsi di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Maumere Siti Nuria; Yulimira Syafriati Y.M. Sani; Fitriah Fitriah
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i1.1604

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi di Program Studi Pendidikan Biologi. Penelitian ini di lakukan di kampus Universitas Muhammadiyah Maumere. Sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa alumni angkatan 2017, 2019 dan 2020 yang kesulitan menyelesaikan skripsi. Metode yang gunanakan adalah kualitatif secara umum dikenal beberapa jenis metode pengumpulan data, antara lain metode observasi, dokumentasi dan pemberian link Google Form. Teknik analisis data dilakukan dengan persentase dan analisis secara deskriptif. Data yang telah diperoleh dikelompokkan, di sajikan dalam bentuk data yang muda dibaca, kemudian dianalisis dan disimpulkan dengan teknik persentase Hasil menunjukkan bahwa keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan tesis dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. Meskipun sebagian besar mahasiswa memiliki kesehatan yang baik dan dukungan sosial yang kuat dari keluarga, kesulitan dalam memahami materi dan menganalisis data (indikator material) adalah hambatan utama. Keterampilan analitis yang lemah dan kurangnya referensi yang mendalam merupakan penyebab utama kesulitan ini. Meskipun fasilitas akademik umumnya memadai, akses yang tidak merata terhadap teknologi tetap menjadi hambatan bagi sebagian mahasiswa. Faktor ekonomi, stres, dan kurangnya pengetahuan juga mempengaruhi motivasi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan keberhasilan penyelesaian tesis, perlu dilakukan peningkatan keterampilan analitis mahasiswa melalui pelatihan dan pendampingan, meningkatkan akses yang adil terhadap fasilitas dan teknologi, serta dukungan finansial dan psikologis untuk mengatasi stres dan meningkatkan motivasi.   This research aims to identify the difficulties faced by students in completing their theses in the Biology Education Study Program. The study was conducted at Muhammadiyah University of Maumere. The sample consisted of alumni from the 2017, 2019, and 2020 cohorts who experienced difficulties in completing their theses. This research employed a qualitative method. Data collection techniques included observation, documentation, and the distribution of a Google Form link. Data were analyzed using percentage techniques and descriptive analysis. The data collected were categorized, presented in a readable format, then analyzed and concluded using percentage analysis. The results show that students' success in completing their theses is influenced by various interrelated factors. Although most students enjoy good health and strong social support from their families, difficulties in understanding materials and analyzing data (material indicators) were identified as the main obstacles. Weak analytical skills and a lack of in- depth references were the primary causes of these difficulties. Despite generally adequate academic facilities, unequal access to technology remained a barrier for some students. Economic factors, stress, and lack of knowledge also impacted student motivation. Therefore, to improve thesis completion rates, it is necessary to enhance students’ analytical skills through training and mentoring, ensure equitable access to academic facilities and technology, and provide financial and psychological support to reduce stress and boost motivation. 
Pemanfaatan Teknologi Pendidikan dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Santri Dedi Saputra; Raysa Puteri Ardhiyani; Surya Habibi; Ai Anggraini
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i2.1568

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan teknologi pendidikan dalam meningkatkan motivasi belajar santri di Pondok Pesantren Modern Cendekia Qur’ani Muara Tebo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi pendidikan seperti video pembelajaran, proyektor, presentasi digital, dan internet mampu meningkatkan perhatian, keaktifan, dan minat belajar santri. Pembelajaran menjadi lebih interaktif, menarik, dan mudah dipahami dibandingkan metode konvensional. Namun, implementasi teknologi pendidikan masih menghadapi kendala berupa keterbatasan fasilitas dan jaringan internet. Penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan motivasi belajar santri di lingkungan pesantren modern.   This study aims to analyze the use of educational technology in improving students’ learning motivation at Pondok Pesantren Modern Cendekia Qur’ani Muara Tebo. This research employed a descriptive qualitative approach using observation, interviews, and documentation techniques. The findings show that the use of educational technology such as learning videos, projectors, digital presentations, and internet resources increased students’ attention, participation, and learning motivation. Learning activities became more interactive, engaging, and easier to understand compared to conventional methods. However, the implementation of educational technology still faces challenges related to limited facilities and internet access. This study concludes that educational technology plays an important role in enhancing students’ learning motivation in modern Islamic boarding schools.
Pengaruh Penerapan Pembelajaran Resource Based Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Fiqih Kelas X Madrasah Aliyah Al Washliyah 22 Tembung Rahmat Rizky; Rustam Ependi; Romat Efendi Sipahutar
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i2.1579

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh model pembelajaran Resource Based Learning (RBL) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih kelas X di MA Al Washliyah 22 Tembung Tahun Pelajaran 2024/2025. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa karena pembelajaran masih berpusat pada guru, sehingga siswa cenderung pasif. Untuk mengatasi hal tersebut, diterapkan model RBL yang mendorong siswa memanfaatkan berbagai sumber belajar seperti buku dan media digital, agar lebih aktif, mandiri, dan berpikir kritis. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment jenis one-group pretest–posttest, yaitu membandingkan hasil belajar sebelum dan sesudah penerapan RBL. Data dikumpulkan melalui tes lalu dianalisis secara statistik. Hasilnya menunjukkan bahwa RBL memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil belajar Fiqih, sehingga model ini layak dijadikan alternatif strategi pembelajaran yang efektif.   This study aims to determine the effect of the Resource Based Learning (RBL) model on students' learning outcomes in the Fiqih subject for Grade X at MA Al Washliyah 22 Tembung in the Academic Year 2024/2025. The background of this research is the low learning outcomes of students due to teacher-centered learning, which causes students to be passive. To address this issue, the RBL model was applied to encourage students to utilize various learning resources such as books and digital media, so that they become more active, independent, and critical thinkers. This study used a quantitative approach with a quasi-experimental design of the one-group pretest–posttest type, comparing learning outcomes before and after the implementation of RBL. Data were collected through tests and analyzed statistically. The results show that RBL has a positive and significant effect on improving students' Fiqih learning outcomes, making this model worthy of consideration as an effective alternative learning strategy.
Efektivitas Model Pembelajaran Make a Match dalam Meningkatkan Penguasaan Mufrodat Siswa Heriansah Heriansah; Hamdal Hamdal; Nurkholis Nurkholis; Aulia Mada Khoriyah
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i2.1586

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya penguasaan kosakata Bahasa Arab siswa, sehingga diperlukan model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas serta besaran pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dalam penguasaan kosakata Bahasa Arab siswa kelas IV SQ PKBM Abu Bakar Ash-Shiddiq Pulau Damar Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental jenis one-group pretest-posttest design. Populasi penelitian berjumlah 61 siswa, dengan sampel sebanyak 12 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tes kosakata, sedangkan analisis data meliputi uji validitas, reliabilitas, uji normalitas, uji paired sample t-test, dan uji koefisien determinasi (R-Square) dengan bantuan IBM SPSS Statistics 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen valid dan reliabel dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,949. Data berdistribusi normal dengan nilai signifikansi pretest 0,367 dan posttest 0,200 (> 0,05). Hasil uji paired sample t-test menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, yang berarti terdapat pengaruh signifikan model pembelajaran terhadap peningkatan penguasaan kosakata siswa. Namun demikian, hasil uji R-Square menunjukkan nilai sebesar 0,297 (29,7%), yang mengindikasikan bahwa kontribusi model pembelajaran tergolong rendah, sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model Make a Match efektif secara statistik, namun perlu dikombinasikan dengan strategi lain agar hasil pembelajaran lebih optimal. This study was motivated by the low level of students’ Arabic vocabulary mastery, which indicates the need for an effective instructional model to improve learning outcomes. The objective of this study was to determine the effectiveness and the magnitude of the effect of the Make a Match cooperative learning model on students’ Arabic vocabulary mastery at the fourth-grade level of SQ PKBM Abu Bakar Ash-Shiddiq Pulau Damar, Bandar Lampung. This study employed a quantitative approach using a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest format. The population consisted of 61 students, while the sample included 12 students selected through purposive sampling.Data were collected using vocabulary tests and analyzed through validity, reliability, normality, paired sample t-test, and coefficient of determination (R-Square) tests with the assistance of IBM SPSS Statistics 26. The results indicated that the instrument was valid and reliable, with a Cronbach’s Alpha value of 0.949. The data were normally distributed, with significance values of 0.367 for the pretest and 0.200 for the posttest (> 0.05). The paired sample t-test showed a significance value of 0.000 < 0.05, indicating a statistically significant effect of the Make a Match model on improving students’ vocabulary mastery. However, the R-Square value was 0.297 (29.7%), suggesting that the effect size was relatively low, with the remaining variance influenced by other factors. In conclusion, the Make a Match cooperative learning model is statistically effective but should be combined with other instructional strategies to achieve more optimal learning outcomes.
Evaluasi Kualitas Jawaban Generative Pre-Trained Transformer (Gpt) Berdasarkan Matrik Performa Pada Soal Ujian Teks Di Mts Negeri 5 Kebumen Miyako Harumi; Fahmi Fachri
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i2.1637

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas jawaban yang dihasilkan ChatGPT dan membandingkannya dengan jawaban guru berbasis buku ajar pada soal ujian teks di MTs Negeri 5 Kebumen. Kebaruan penelitian terletak pada penggunaan matriks performa terstruktur yang mencakup aspek kebenaran jawaban, ketepatan konteks, kelengkapan informasi, dan kejelasan penyampaian untuk membandingkan performa kecerdasan buatan dengan sumber belajar konvensional. Penelitian menggunakan pendekatan evaluatif dengan analisis deskriptif terhadap 10 soal ujian teks yang divalidasi guru mata pelajaran. Data diperoleh melalui analisis dokumen, observasi, wawancara, dan penilaian menggunakan rubrik matriks performa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jawaban guru memperoleh skor rata-rata 16 (100%) dengan kategori sangat baik, sedangkan ChatGPT memperoleh skor rata-rata 11 (68,75%) dengan kategori baik. Perbedaan terbesar ditemukan pada aspek kelengkapan jawaban dan ketepatan konteks. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun ChatGPT mampu menghasilkan jawaban yang relevan dan cepat, kualitas akademiknya masih berada di bawah jawaban manusia yang berbasis kurikulum dan pengalaman pedagogis. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan evaluasi pemanfaatan kecerdasan buatan pada proses pembelajaran dan asesmen pendidikan.   This study aims to evaluate the quality of answers generated by ChatGPT and compare them with teacher-generated answers based on textbooks for text-based examination questions at MTs Negeri 5 Kebumen. The novelty of this study lies in the use of a structured performance matrix encompassing answer accuracy, contextual appropriateness, completeness of information, and clarity of presentation to compare the performance of artificial intelligence with conventional learning resources. The study employed an evaluative approach with descriptive analysis of 10 text-based examination questions validated by subject teachers. Data were collected through document analysis, observations, interviews, and assessments using a performance matrix rubric. The findings revealed that teacher-generated answers achieved an average score of 16 (100%), categorized as excellent, whereas ChatGPT-generated answers obtained an average score of 11 (68.75%), categorized as good. The largest differences were identified in the aspects of answer completeness and contextual appropriateness. These findings indicate that although ChatGPT can provide relevant and rapid responses, its academic quality remains below that of human-generated answers grounded in curriculum standards and pedagogical experience. This study contributes to the development of evaluation frameworks for the use of artificial intelligence in teaching, learning, and educational assessment processes.
Analisis Tindak Tutur Direktif Ilokusi Dalam Novel 24/7 Menjaga Cinta Sejati Karya Sabrina Febrianti Safaah Mukaromah; Misra Nofrita
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i2.1647

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk tindak tutur direktif yang terdapat dalam novel 24/7 Menjaga Cinta Sejati karya Sabrina Febrianti. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik, dengan objek penelitian berupa tuturan dalam dialog antartokoh yang mengandung tindak tutur direktif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca, simak, dan catat, sedangkan teknik analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan mendeskripsikan data berdasarkan teori George Yule. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 51 data tindak tutur direktif yang terdiri atas tindak tutur direktif perintah sebanyak 21 data, pemesanan sebanyak 3 data, permohonan sebanyak 7 data, dan pemberian saran sebanyak 20 data. Tindak tutur direktif perintah merupakan bentuk yang paling dominan digunakan dalam novel tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi antartokoh dalam novel banyak menggunakan tuturan yang bertujuan untuk mempengaruhi atau mengarahkan tindakan mitra tutur. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tindak tutur direktif dalam novel tersebut memiliki variasi bentuk yang beragam dan berperan penting dalam membangun alur cerita serta hubungan antartokoh. This study aims to describe the forms of directive speech acts found in the novel 24/7 Menjaga Cinta Sejati by Sabrina Febrianti. This research employs a qualitative descriptive method with a pragmatic approach, with the research object being utterances in dialogues between characters that contain directive speech acts. Data collection techniques were carried out through reading, observing, and note-taking, while data analysis techniques were conducted by identifying, classifying, and describing the data based on George Yule’s theory. The results of the study show that there are 51 data of directive speech acts consisting of 21 data of directive commands, 3 data of ordering, 7 data of requests, and 20 data of suggestions. Directive speech acts in the form of commands are the most dominant type used in the novel. This indicates that interactions between characters in the novel frequently use utterances aimed at influencing or directing the actions of the interlocutors. Therefore, it can be concluded that directive speech acts in the novel have various forms and play an important role in building the storyline and relationships between characters.
Peran Hubungan Masyarakat (HUMAS) dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Melalui Keterlibatan Masyarakat. Aldila Winda Pramita; Perida Ritonga; Muhammad Satya Putra
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i2.1720

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji peran hubungan masyarakat (humas) dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui keterlibatan masyarakat. Humas berfungsi sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat untuk membangun kepercayaan, menyampaikan informasi, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang transparan dan partisipatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Hasilnya menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang efektif melalui media digital, pertemuan, dan publikasi dapat meningkatkan citra sekolah dan partisipasi masyarakat. Pengelolaan humas yang baik juga memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, dunia usaha, dan organisasi sosial, sehingga mendukung pengembangan pendidikan yang berkelanjutan. Selain itu, manajemen humas yang optimal berdampak pada meningkatnya motivasi belajar siswa, keterlibatan orang tua, serta kualitas pengajaran melalui pelatihan guru dan penyediaan fasilitas. Dengan demikian, humas bukan hanya berperan administratif, tetapi juga menjadi unsur strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan.   This study aims to examine the role of public relations (PR) in improving educational quality through community involvement. Public relations serves as a liaison between schools and the community, building trust, conveying information, and creating a transparent and participatory educational environment. This study used a qualitative approach with a desk study method. The results indicate that effective communication strategies through digital media, meetings, and publications can improve school image and community participation. Good human resource management also strengthens collaboration with various parties, such as the government, the business world, and social organizations, thus supporting sustainable educational development. Furthermore, optimal human resource management impacts student learning motivation, parental involvement, and teaching quality through teacher training and the provision of facilities. Thus, human resources play more than just an administrative role but also a strategic element in improving educational quality.
Telaah Struktur Materi Elemen Bilangan Dalam Pembelajaran Matematika Sekolah Menengah Atas Revani Marliza; Rahmadani Rahmadani; Muhammad Azri Siregar; Zidansyah Dongoran; Nurhasanah Nurhasanah
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i2.1776

Abstract

Elemen bilangan merupakan salah satu komponen fundamental dalam pembelajaran matematika di jenjang SMA. Namun, pembelajaran yang berlangsung masih cenderung berorientasi pada penguasaan prosedur perhitungan, sementara keterkaitan konseptual antarmateri belum mendapat perhatian yang optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur materi elemen bilangan pada tingkat SMA, meliputi susunan hierarki materi, hubungan konseptual antarbahasan, kedalaman dan cakupan materi berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP) Kurikulum Merdeka, serta bentuk representasi dan konteks permasalahan yang digunakan dalam pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis dokumen terhadap dokumen kurikulum, buku teks matematika SMA, serta artikel ilmiah nasional dan internasional yang terbit pada periode 2020–2024. Hasil kajian menunjukkan bahwa struktur penyajian materi bilangan belum sepenuhnya menerapkan prinsip scaffolding kognitif secara berkelanjutan. Keterkaitan konsep antara eksponen, logaritma, dan barisan bilangan masih kurang dijelaskan secara eksplisit sehingga integrasi pemahaman matematis belum terbentuk secara optimal. Selain itu, pembelajaran masih didominasi oleh aspek prosedural dan representasi simbolik, sementara penggunaan konteks nyata relatif terbatas. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan Kurikulum Merdeka dan implementasi pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi materi melalui penguatan hubungan antarkonsep, pemanfaatan representasi yang beragam, serta penyajian masalah autentik untuk mendukung pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik.   The number element is a fundamental component of mathematics education at the high school level. However, current instruction tends to prioritize the mastery of calculation procedures, while the conceptual connections between topics have not received optimal attention. This study aims to analyze the structure of the number element curriculum at the high school level, examining the hierarchical arrangement of content, conceptual relationships between topics, content depth and scope based on the *Kurikulum Merdeka* (Independent Curriculum) Learning Outcomes (CP), and the forms of representation and problem contexts employed in instruction. A qualitative approach was adopted, utilizing document analysis of curriculum documents, high school mathematics textbooks, and national and international scholarly articles published between 2020 and 2024. The findings indicate that the structural presentation of number-related content does not fully implement the principle of cognitive scaffolding in a sustained manner. Conceptual links between exponents, logarithms, and number sequences are not explicitly explained, hindering the optimal integration of mathematical understanding. Furthermore, instruction remains dominated by procedural aspects and symbolic representations, with relatively limited use of real-world contexts. These findings reveal a gap between the requirements of the *Kurikulum Merdeka* and actual classroom implementation. Consequently, a reconstruction of the content is necessary—emphasizing inter-conceptual relationships, utilizing diverse representations, and presenting authentic problems—to foster the development of students' higher-order thinking skills.

Page 11 of 12 | Total Record : 114