cover
Contact Name
Wulan Purnama Sari
Contact Email
wulanp@fikom.untar.ac.id
Phone
+6281584336003
Journal Mail Official
kiwari@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No.1 Gedung Utama Lantai 11 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kiwari
ISSN : -     EISSN : 28278763     DOI : 10.24912/ki
Core Subject : Humanities, Social,
Kiwari (EISSN: 2827-8763) merupakan jurnal hasil karya tulis dari mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara. Jurnal ini menjadi forum publikasi bagi hasil karya mahasiswa. Artikel yang diterbitkan masih jauh dari sempurna dan terbuka untuk saran serta kritik yang membangun. Kiwari menerbitkan artikel hasil penelitian dalam bidang ilmu komunikasi, yang meliputi komunikasi politik, komunikasi antar budaya, komunikasi bisnis, komunikasi digital, komunikasi antar pribadi, komunikasi organisasi, dll.
Articles 478 Documents
Strategi Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Menanamkan Nilai Kesederhanaan pada Gen Z dari Keluarga Berada Mulyono, Gladys Pusparini Sri; Rusdi, Farid
Kiwari Vol. 4 No. 4 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i4.36812

Abstract

Generation Z from affluent families live in a social context influenced by a consumer culture and intense exposure to digital media. This situation makes the role of the family in fostering the value of simplicity increasingly important. This study aims to examine how affluent families implement democratic parenting in the process of instilling the value of simplicity in Gen Z adolescents. This study is based on Fitzpatrick's Family Communication theory and the concept of interpersonal communication to understand the interaction patterns formed between parents and children. The research method used is qualitative with a phenomenological approach through in-depth interviews, non-participatory observation, and documentation. The results show that democratic parenting is reflected in open communication practices, providing space for children to express opinions, and joint decision-making. The value of simplicity is conveyed through consistent parental behavior, money management training, and habits that are not oriented towards luxury. Adolescents demonstrate internalization of these values ​​through the ability to control consumption, assess needs rationally, and manage personal finances even in a consumptive environment. Overall, this study confirms that democratic parenting is an effective strategy in fostering a modest attitude in adolescents from affluent families through integrated communication, role models, and habits. Generasi Z dari keluarga berada hidup dalam konteks sosial yang dipengaruhi oleh budaya konsumtif dan paparan intens media digital. Situasi tersebut membuat peran keluarga dalam membangun nilai kesederhanaan menjadi semakin penting. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana keluarga berada menerapkan pola asuh demokratis dalam proses penanaman nilai kesederhanaan pada remaja Gen Z. Kajian ini berlandaskan teori Komunikasi Keluarga Fitzpatrick serta konsep komunikasi interpersonal untuk memahami pola interaksi yang terbentuk antara orang tua dan anak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menujukkan bahwa pola asuh demokratis tercermin melalui praktik komunikasi yang terbuka, pemberian ruang bagi anak untuk berpendapat, serta pengambilan keputusan bersama. Nilai kesederhanaan disampaikan melalui konsistensi perilaku orang tua, latihan pengelolaan uang, dan pembiasaan hidup yang tidak berorientasi pada kemewahan. Remaja menunjukkan internalisasi nilai tersebut melalui kemampuan mengontrol konsumsi, menilai kebutuhan secara rasional, dan mengelola keuangan pribadi meskipun berada di lingkungan yang konsumtif. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pola asuh demokratis merupakan strategi efektif dalam membentuk sikap sederhana pada remaja keluarga berada melalui keterpaduan komunikasi, teladan, dan pembiasaan.
Pergeseran Budaya Nongkrong Gen-Z Makassar dari Kafe Tradisional ke Modern dalam Komunikasi Budaya Wijaya, Lillian Sabrina; Candraningrum, Diah Ayu
Kiwari Vol. 4 No. 4 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i4.36813

Abstract

Hanging out has become a part of the lifestyle of Makassar's youth. Generation Z is one of the generations that embraces this lifestyle. However, hanging out is no longer merely an activity for interaction. This activity has shifted to a symbol of social identity. Traditional cafes are starting to be abandoned by Gen-Z, who are turning to modern cafes. This study investigates the factors behind this shift, focusing on new interaction patterns formed in modern cafes, as well as how identity or image is constructed by Gen-Z in modern cafes. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data collection was carried out through interviews, observation, and documentation. The results show that the shift is driven by social media trends, the aesthetics of the place, and awareness of a place's social status. New interaction patterns that occur in modern cafes are also found, namely the "Hybrid Interaction Pattern" (dual interaction: real and virtual) and the "Functional Interaction Pattern" (productive space for work and study). Budaya nongkrong telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda Makassar. Generasi Z adalah salah satu generasi yang menghidupi gaya hidup ini. Namun, gaya hidup nongkrong kini bukan lagi semata-mata aktivitas untuk berinteraksi. Kegiatan ini telah bergeser menjadi media pembentukan identitas sosial Gen-Z. Kafe tradisional sudah mulai ditinggalkan oleh para Gen-Z yang beralih ke kafe modern. Penelitian ini mencari tahu faktor pergeseran dengan titik fokus melihat proses interaksi baru yang terbentuk di kafe modern, serta bagaimana identitas atau citra dibangun oleh Gen-Z di kafe modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan pergeseran didorong oleh faktor tren media sosial, estetika tempat, dan kesadaran akan status sosial suatu tempat. Ditemukan juga proses interaksi baru yang terjadi di kafe modern, yakni "Proses Interaksi Hybrid" (interaksi ganda: nyata dan virtual) dan "Proses Interaksi Fungsional" (ruang produktif untuk bekerja dan belajar).
Konstruksi Identitas dan Presentasi Diri Digital Pengguna Aplikasi Kencan Bumble Stevany, Ester; Utami, Lusia Savitri Setyo
Kiwari Vol. 4 No. 4 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i4.36814

Abstract

The development of digital media has transformed the way individuals build interpersonal connections, including through online dating applications. Bumble provides a virtual communication space that enables users to construct their digital identities strategically through visual and textual elements. This study aims to examine how Bumble users construct their identities and apply self-presentation strategies within application-mediated interactions. The Hyperpersonal Communication Theory and the concept of Affordance are used to understand how selective self-disclosure and platform features shape these processes. This research employs a qualitative approach using a case study method involving Bumble users. The findings indicate that photos function as the primary component in forming first impressions, as they convey lifestyle cues and the visual character users intend to communicate. Elements such as biographies, interest tags, and prompts complement this narrative by highlighting values, preferences, and relational intentions. Self-presentation is carried out selectively, both by emphasizing positive attributes and by withholding information perceived as sensitive or potentially stigmatizing. Users also adjust their profiles continuously to enhance interaction compatibility. These results demonstrate that digital identity on Bumble is flexible, curated, and continually negotiated in accordance with users’ communication goals and preferences. Perkembangan media digital mengubah cara individu membangun koneksi interpersonal, termasuk melalui aplikasi kencan daring. Bumble menyediakan ruang komunikasi virtual yang memungkinkan pengguna membentuk identitas digital secara strategis melalui elemen visual dan tekstual. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana pengguna Bumble mengonstruksi identitas diri serta menerapkan strategi self-presentation dalam interaksi yang dimediasi aplikasi. Teori Komunikasi Hiperpersonal dan affordance digunakan untuk melihat bagaimana selektivitas penyampaian diri dan fitur aplikasi berperan dalam proses tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus terhadap pengguna Bumble. Hasil penelitian menunjukkan bahwa foto menjadi komponen utama dalam pembentukan kesan awal karena mampu menampilkan gaya hidup dan karakter visual yang ingin dikomunikasikan. Elemen seperti biography, interest tags, dan prompt digunakan untuk melengkapi narasi diri dengan menonjolkan nilai, minat, atau tujuan relasional tertentu. Strategi self-presentation dilakukan secara selektif, baik dengan menegaskan aspek positif maupun menyembunyikan informasi yang dianggap sensitif atau berpotensi menimbulkan stigma. Selain itu, pengguna melakukan penyesuaian profil secara berkelanjutan untuk meningkatkan kecocokan interaksi. Temuan ini menunjukkan bahwa identitas digital pada Bumble bersifat fleksibel, kuratif, dan terus dinegosiasikan sesuai preferensi dan tujuan komunikasi.
Peran Gimik dalam Membangun Brand Personality Windah Basudara di YouTube Kent, Raymond; Candraningrum, Diah Ayu
Kiwari Vol. 4 No. 4 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i4.36815

Abstract

In the rapidly evolving digital era, brand personality has become a crucial element for content creators to establish a unique and recognizable identity amid increasingly competitive content ecosystems. This study examines the role of gimmicks in shaping the brand personality of Windah Basudara on YouTube using Jennifer Aaker’s Brand Personality framework. This research employs a qualitative case study approach through in-depth interviews with Windah Basudara, five loyal viewers, and a communication expert. The findings reveal that gimmicks function as performative strategies intentionally crafted to construct an energetic, loud, dramatic, and entertaining streaming persona—one that differs from his real-life personality. Consistent use of verbal and non-verbal gimmicks strengthens audience engagement, creates a lively viewing experience, and differentiates Windah from other gaming creators. From the audience’s perspective, these gimmicks serve as distinctive traits that foster emotional attachment and enhance viewer loyalty. The study concludes that Windah’s gimmicks predominantly reinforce the excitement dimension, resulting in a strong, unique, and highly engaging brand personality. Dalam era digital yang berkembang pesat, brand personality menjadi elemen penting bagi content creator untuk membangun identitas yang unik dan mudah dikenali di tengah persaingan konten yang semakin kompetitif. Penelitian ini menganalisis peran gimik dalam membentuk brand personality Windah Basudara di YouTube dengan menggunakan teori Brand Personality dari Jennifer Aaker. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara mendalam dengan Windah Basudara, lima penggemar loyal, dan seorang ahli komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gimik berfungsi sebagai strategi performatif yang dirancang secara sengaja untuk membentuk persona streaming yang energik, berisik, dramatis, dan menghibur, persona yang berbeda dari kepribadian aslinya. Konsistensi penggunaan gimik verbal dan non-verbal memperkuat engagement, menciptakan pengalaman menonton yang hidup, serta membedakan Windah dari kreator gaming lainnya. Dari sudut pandang audiens, gimik menjadi ciri khas yang membangun keterikatan emosional dan meningkatkan loyalitas penonton. Temuan ini menegaskan bahwa gimik Windah secara dominan membentuk dimensi excitement, sehingga menghasilkan brand personality yang kuat, unik, dan sangat engaging.
Studi Pengelolaan Brand Voice untuk Konten Digital oleh Social Media Officer Nada, Na Quita; Sari, Wulan Purnama; Utami, Budi
Kiwari Vol. 4 No. 4 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i4.36817

Abstract

As digital creative agencies handle multiple brands across different platforms, the need to maintain a clear and consistent brand voice becomes increasingly important. The paper explores how the Social Media Officer (SMO) at PT Idein Kreatif Indonesia manages this task while navigating the daily demands of content production. The analysis draws on Communication Accommodation Theory to understand how the SMO adjusts tone, rhythm, and language style to match the character of each platform, and on Symbolic Interactionism to see how meanings are shaped through collaboration with designers and decision-makers. Using a qualitative case study approach, the research is based on interviews, direct observation, and internal documents such as brand guidelines and the Creative Communication Strategy. The findings reveal several key practices: adapting the brand’s persona for different platforms, maintaining alignment between verbal and visual elements, and handling the practical challenges that appear in fast-paced creative work. These insights show that brand voice management is not simply a technical routine but a continuous process that involves negotiation, interpretation, and teamwork. The paper concludes by emphasizing the strategic role of SMO in shaping how brands “sound” and “show up” in today’s digital landscape. Dalam perkembangan industri kreatif digital, tuntutan untuk menjaga konsistensi brand voice semakin besar, terutama bagi agensi yang menangani berbagai platform sekaligus. Tulisan ini membahas bagaimana Social Media Officer (SMO) di PT Idein Kreatif Indonesia menata dan menyesuaikan gaya komunikasi brand dalam proses produksi konten sehari-hari. Dengan menggunakan Teori Akomodasi Komunikasi, pembahasan menyoroti bagaimana SMO menyesuaikan pilihan kata, ritme, dan cara bertutur agar sesuai dengan karakter audiens tiap platform. Sementara itu, pendekatan Interaksi Simbolik digunakan untuk melihat bagaimana makna pesan terbentuk melalui interaksi dengan desainer dan pengambil keputusan. Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus melalui wawancara, observasi, dan telaah dokumen internal seperti brand guidelines dan Creative Communication Strategy. Temuan menunjukkan bahwa pengelolaan brand voice melibatkan adaptasi persona merek, penyelarasan elemen verbal dan visual, serta penanganan tantangan yang muncul ketika ritme kerja berubah-ubah. Keseluruhan proses memperlihatkan bahwa menjaga brand voice bukan tugas teknis semata, melainkan proses strategis yang menuntut interpretasi, koordinasi, dan pemahaman mendalam terhadap identitas merek. Melalui hasil ini, peran SMO tampak semakin penting dalam membentuk kehadiran digital sebuah merek.
Efektivitas Komunikasi dan Kredibilitas Legislator sebagai Faktor Penentu Kepercayaan Publik Generasi Z Aguscik, M Abdi Satya; Erdiansyah, Rezi
Kiwari Vol. 4 No. 4 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i4.36818

Abstract

This study aims to analyze the impact of effective communication and trust between Generation Z and Indonesian lawmakers, especially in the digital age. The researchers conducted a survey on how to activate social media from key political information sources. Effective communication is measured by the dimensions of respect, empathy, message clarity, and humanity, and trust promotes communicator integration, attributes, and activities. We evaluate public trust through aspects of cognition, perception, and behavior. We analyze the data with the help of statistical software. The communication and trust of DPR RI have a positive and significant impact on community trust. The coefficient of determination (R²) is 53.2%. Independent variable It shows that when public trust in Generation Z is more than half, remake diversity is influenced by external research models of other factors. Public trust is shaped not only by the content of the political message, but also by the communicator's personality perception and competitiveness. Therefore, this study highlights the importance of transparency, consensus, and reliable political communication strategies for strong public trust in Generation Z. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak komunikasi dan kepercayaan yang efektif antara generasi Z dan legislator Indonesia, khususnya di era digital. Peneliti melakukan survei tentang cara-cara mengaktifkan media sosial dari sumber-sumber utama informasi politik. Komunikasi yang efektif diukur dalam dimensi rasa hormat, empati, kejelasan pesan, dan kemanusiaan, dan kepercayaan mempromosikan integrasi, atribut, dan aktivitas komunikator. Evaluasi kepercayaan masyarakat melalui aspek kognitif, persepsi, dan perilaku. Analisis data dengan bantuan perangkat lunak statistik. Komunikasi dan kepercayaan DPR RI memberikan dampak positif dan penting bagi kepercayaan masyarakat. Koefisien determinasi adalah 53,2%. Ketika kepercayaan publik terhadap variabel independen Generasi Z lebih dari setengahnya, keragaman remake menunjukkan bahwa model penelitian eksternal dari faktor lain dipengaruhi. Kepercayaan publik tidak hanya terbentuk dari isi pesan politik, tetapi juga dari kesadaran dan daya saing komunikator. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya strategi komunikasi politik yang transparan, disepakati, dan andal bagi kepercayaan publik yang kuat terhadap generasi Z.
Representasi Toxic Positivity dalam Anime Takopi's Original Sin (Perspektif Roland Barthes) Nikita, Moira; Sari, Wulan Purnama
Kiwari Vol. 4 No. 4 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i4.36819

Abstract

Anime serves as a medium that can portray social behavior while communicating cultural values to its audience. This study examines the representation of toxic positivity and its connection to trauma in Takopi’s Original Sin using Roland Barthes’ semiotics. The analysis draws on social construction theory, interpersonal communication, and mass communication to understand how emotional norms are formed and reproduced through visual narratives. A qualitative approach is applied through Barthes’ semiotic method, supported by scene documentation and interviews with a psychology lecturer to validate the interpretation. The findings show that toxic positivity appears through verbal and nonverbal signs such as forced smiles, repeated positive statements, and physical gestures used to suppress or conceal negative emotions. Through the layers of denotation, connotation, and myth, these signs reveal how characters internalize social expectations to appear stable despite experiencing emotional pressure. The analysis also shows that traumatic experiences shape how the characters respond to conflict, making the optimism they display function more as a coping mechanism. Overall, the study concludes that toxic positivity in Takopi’s Original Sin is portrayed as an emotional pattern shaped by social pressure, unhealthy relational dynamics, and the characters’ inability to process negative experiences. Anime menjadi media yang mampu menggambarkan perilaku sosial sekaligus menyampaikan nilai budaya kepada penonton. Penelitian ini menganalisis representasi toxic positivity dan kaitannya dengan trauma dalam Takopi’s Original Sin dengan menggunakan semiotika Roland Barthes. Penelitian mengacu pada teori konstruksi sosial, komunikasi interpersonal, dan komunikasi massa untuk melihat bagaimana norma emosional dibentuk dan direproduksi melalui narasi visual. Pendekatan kualitatif diterapkan melalui teknik analisis semiotika Barthes, didukung dokumentasi adegan dan wawancara dengan dosen psikologi sebagai validasi interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toxic positivity muncul melalui tanda verbal dan nonverbal seperti senyum yang dipaksakan, ucapan positif yang diulang, serta gestur fisik yang digunakan untuk menahan atau menutupi emosi negatif. Melalui lapisan denotasi, konotasi, dan mitos, tanda-tanda tersebut memperlihatkan bagaimana karakter mengingat tuntutan sosial untuk terlihat stabil meski sedang tertekan. Analisis juga memperlihatkan bahwa pengalaman traumatis membentuk cara tokoh merespons konflik, sehingga optimisme yang mereka tampilkan lebih berfungsi sebagai mekanisme bertahan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa toxic positivity dalam Takopi’s Original Sin direpresentasikan sebagai pola emosional yang terbentuk oleh tekanan sosial, dinamika hubungan yang tidak sehat, dan ketidakmampuan karakter memproses pengalaman negatif.
Representasi Identitas Kota Musik Dunia dalam Film Dokumenter “Nada Nusantara Ambon" Latumanuwy, Bryan Fardy; Sukendro, Gregorius Genep
Kiwari Vol. 4 No. 4 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i4.36820

Abstract

The documentary film Nada Nusantara Ambon represents Ambon's identity as a World City of Music, recognised by the UNESCO Creative Cities Network since 2019. This study analyses the representation of Ambon's identity through symbols of traditional music culture using Roland Barthes' semiotic approach. The conceptual basis of the study is grounded in Stuart Hall's theory of representation and Kavaratzis' theory of city identity, which emphasises the construction of a city's image and meaning through cultural and symbolic practices. This study uses a descriptive qualitative method with data collection techniques in the form of observation and documentation of films. The analysis was carried out in stages of denotative and connotative meaning to reveal the ideology hidden behind visual signs and narratives. The results show that the film Nada Nusantara Ambon represents the city's identity through the visualisation of traditional musical instruments, cultural narratives, and the social symbol of pela gandong, which emphasises the values of brotherhood and harmony. This representation not only highlights the richness of local culture but also builds the collective identity of the Ambon community, which supports cultural preservation and strengthens the city's branding as a World City of Music at the global level. Film dokumenter Nada Nusantara Ambon merepresentasikan identitas Ambon sebagai Kota Musik Dunia yang diakui dalam jejaring kota kreatif UNESCO sejak 2019. Penelitian ini menganalisis representasi identitas Kota Ambon melalui simbol-simbol budaya musik tradisional dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Landasan konseptual penelitian bertumpu pada teori representasi Stuart Hall dan teori identitas kota dari Kavaratzis yang menekankan konstruksi citra dan makna kota melalui praktik budaya dan simbolik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan dokumentasi terhadap film. Analisis dilakukan dengan tahapan makna denotatif dan konotatif untuk mengungkap ideologi yang tersembunyi di balik tanda visual dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Nada Nusantara Ambon merepresentasikan identitas kota melalui visualisasi alat musik tradisional, narasi budaya, serta simbol sosial pela gandong yang menegaskan nilai persaudaraan dan harmoni. Representasi tersebut tidak hanya menonjolkan kekayaan budaya lokal, tetapi juga membangun identitas kolektif masyarakat Ambon yang mendukung pelestarian budaya dan memperkuat branding kota sebagai Kota Musik Dunia di tingkat global.
Makna Tinju sebagai Lifestyle Sport dalam Perspektif Interaksi Simbolik pada Generasi Z Ramadhan, Daffananda Okto; Pribadi, Muhammad Adi
Kiwari Vol. 4 No. 4 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i4.36825

Abstract

This study aims to explore how Generation Z interprets boxing as part of a lifestyle sport through the perspective of Symbolic Interactionism. The research is grounded in the phenomenon of a shifting meaning of boxing, which is no longer understood solely as a harsh and competitive sport, but also as a form of physical fitness, self-care, and a symbol of a modern lifestyle among young people. A qualitative case study approach was employed. Data were collected through in-depth interviews, observations in boxing training spaces, and visual and digital documentation, and analyzed using a descriptive-reflective method with source triangulation to ensure data credibility. The findings indicate that the meaning of boxing is constructed through a gradual process of symbolic interaction. Social media serves as the initial point of engagement, introducing visual symbols of boxing that generate interest prior to direct experience. Interactions within training environments, particularly with coaches and fellow trainees, reinforce meaning exchange and self-reflection. Over time, training routines are internalized as part of a more active, structured, and self-oriented daily rhythm. Boxing is ultimately interpreted as a symbol of discipline, self-confidence, and a modern lifestyle identity, while also fostering a sense of personal achievement and self-transformation in Generation Z’s everyday life. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Generasi Z memaknai olahraga tinju sebagai bagian dari gaya hidup (lifestyle sport) melalui perspektif Teori Interaksi Simbolik. Penelitian ini berangkat dari fenomena pergeseran makna tinju yang tidak lagi dipahami semata sebagai olahraga keras dan kompetitif, tetapi juga sebagai sarana kebugaran, perawatan diri, serta simbol gaya hidup modern di kalangan generasi muda. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi di ruang latihan, serta dokumentasi visual dan digital, kemudian dianalisis secara deskriptif-reflektif dengan triangulasi sumber untuk menjaga kredibilitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan tinju terbentuk melalui proses interaksi simbolik yang berlangsung secara bertahap. Media sosial berperan sebagai pintu awal perjumpaan Generasi Z dengan simbol visual tinju yang menumbuhkan ketertarikan awal. Pengalaman langsung di ruang latihan, melalui interaksi dengan pelatih dan teman latihan, memperkuat pertukaran makna dan membentuk refleksi diri. Rutinitas latihan kemudian diinternalisasi sebagai bagian dari ritme hidup yang lebih aktif, terarah, dan berorientasi pada perawatan fisik serta emosional. Tinju dimaknai sebagai simbol kedisiplinan, kepercayaan diri, dan identitas gaya hidup modern, sekaligus menghadirkan rasa pencapaian dan transformasi diri dalam kehidupan sehari-hari Generasi Z.
Cover Kiwari Vol. 5 No. 1 Irena, Lydia
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.36903

Abstract

Cover Kiwari Vol. 5 No. 1