cover
Contact Name
Mokhammad Miftakhul Huda
Contact Email
fenomenaj9@gmail.com
Phone
+6285649117381
Journal Mail Official
fenomenaj9@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Mluwo, Mangli, Kaliwates, Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FENOMENA: Journal of Social Science
ISSN : 14125439     EISSN : 26567369     DOI : https://doi.org/10.35719/fenomena.v22i2
Core Subject : Social,
Aims, Focus And Scope A. Aims: FENOMENA is a leading peer-reviewed and open-access journal, which publishes scholarly works of researchers and scholars from around the world and specializes in the Social Sciences. The journal also has a strong interest in the scientific development of theory that is of global significance. B. Focus: This journal focuses on publishing the highest quality scientific articles emphasizing contemporary Asian issues with interdisciplinary and multidisciplinary approaches. C. Scope: This journal seeks to publish articles that deal with educational development, politics, law, humanities and cultural studies, and economic issues in Asia. Its scope consists of: 1. Education (Curriculums, Teaching, and Learning, Islamic Education, Educational Technology); 2. Politics (Structure and Agency in Social Dynamics, the Role of Government and Non-Governmental Organizations, Concepts and Practical Sociology, Islamic Politics, Government and Public Administration); 3. Law (Human Rights, Social Justice, Islamic Law, Criminal Law, International Relations, Civil Law, Constitutional Law, Customary Law); 4. Humanities and Cultural Studies (Cultural Studies as a Constitutive field, Religion Studies, Islamic Studies, Philosophy, Ethics, Consciousness, Cross-cultural studies, Theology, Psychology, Spirituality, Human Geography, Anthropology, Local Wisdom); 5. Economics (Business and Entrepreneurship, Management, Accounting, Public Finance, Economic Development, and Islamic Economics).
Articles 576 Documents
Peace Building Berbasis Komunitas: Telaah Deskriptif tentang Model Penyelesaian Konflik antar Warga NU dan Muhammadiyah di Wilayah Gresik, Jawa Timur: Community-Based Peacebuilding: A Descriptive Study on Conflict Resolution Models between Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah Members in Gresik, East Java Ahidul Asror
Fenomena Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i1.417

Abstract

Identity-based conflicts between religious communities, such as NU and Muhammadiyah, often trigger social tension, intolerance, and discrimination, undermining social harmony. Formal and elite-driven conflict resolution approaches frequently fail to address local root causes. This study aims to describe community-based peacebuilding efforts and identify local values fostering harmony between NU and Muhammadiyah members in Duduk Sampeyan District, Gresik, East Java. Employing an inductive-empirical qualitative design, data were collected through observation, in-depth interviews, and focus group discussions. The findings reveal that peacebuilding was pursued through the establishment of a joint community forum, formulation of shared vision and mission, and capacity building via community development programs. The most significant finding is that peace can be realized through implementing locally grounded programs, including organic farming, animal manure composting, and clean water provision. The study concludes that community-based approaches addressing socioeconomic issues are more effective in overcoming ideological conflicts. Recommendations emphasize strengthening community forums and collaborative problem-solving as sustainable strategies. Konflik antar komunitas berbasis identitas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah kerap menimbulkan ketegangan sosial, intoleransi, dan diskriminasi yang mengancam kerukunan. Pendekatan resolusi konflik yang bersifat elitis dan formal seringkali tidak menyentuh akar masalah lokal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan upaya perdamaian berbasis komunitas serta mengidentifikasi nilai-nilai lokal yang membangun harmoni antara warga NU dan Muhammadiyah di Kecamatan Duduk Sampeyan, Gresik, Jawa Timur. Dengan menggunakan desain penelitian kualitatif induktif-empiris, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya perdamaian ditempuh melalui pembentukan forum warga bersama, perumusan visi-misi kolektif, dan penguatan kapasitas anggota melalui program pengembangan masyarakat. Temuan terpenting adalah bahwa perdamaian dapat terwujud melalui implementasi program kerja berbasis kebutuhan lokal, seperti pengembangan pertanian organik, pembuatan kompos dari kotoran hewan, dan pengadaan air bersih. Kesimpulannya, pendekatan berbasis komunitas yang menyentuh isu sosial-ekonomi lebih efektif mengatasi konflik ideologis. Rekomendasi penelitian mendorong penguatan forum warga dan penyelesaian masalah bersama sebagai strategi berkelanjutan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Santri Memilih Pondok Pesantren Salafiyah sebagai Tempat Belajar: Factors Influencing Students in Choosing a Salafiyah Islamic Boarding School as a Place of Learning Faisol Nasar bin Madi
Fenomena Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i1.418

Abstract

Amid the increasingly complex and pragmatic demands of modern education, many Islamic boarding schools in Indonesia have shifted toward formal schooling. However, 21.5% remain salafiyah (traditional) pesantren. This study examines the push factors, expectations, and self-preparedness of santri in such institutions. Using a quantitative regression model (y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + e) with data from 60 respondents at Assalafiah Assyafiiyyah Suger Pesantren, the research finds that ethnicity (99% confidence) and parents’ occupation (90% confidence) significantly influence santri’s motivation to choose a salafiyah pesantren, while age and parental education do not. Beyond religious learning for the afterlife, santri aspire to become kyai and establish their own pesantren. Facing a pragmatic life, they rely on “tawakal” (trust in God) and self-reliance learned in the pesantren, with none seeking formal sector employment. The study concludes that salafiyah pesantren remain relevant for moral and spiritual resilience, and recommends integrating rational reasoning into the curriculum while preserving traditional values. Di tengah tuntutan kehidupan modern yang semakin kompleks dan pragmatis, banyak pondok pesantren di Indonesia beralih ke pendidikan formal. Namun, 21,5% pesantren tetap mempertahankan model salafiyah (tradisional). Penelitian ini mengkaji faktor pendorong, harapan, dan kesiapan santri di pesantren salafiyah. Dengan model regresi kuantitatif (y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + e) terhadap 60 responden di Pondok Pesantren Assalafiah Assyafiiyyah Suger, ditemukan bahwa etnis/suku bangsa (tingkat kepercayaan 99%) dan pekerjaan orang tua (90%) berpengaruh signifikan terhadap motivasi santri memilih pesantren salafiyah, sementara usia dan pendidikan orang tua tidak berpengaruh. Selain belajar agama untuk bekal akhirat, santri bercita-cita menjadi kiai dan mendirikan pesantren. Menghadapi kehidupan pragmatis, mereka mengandalkan “tawakal” dan kemandirian yang diperoleh di pondok, tanpa satu pun yang bercita-cita bekerja di sektor formal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pesantren salafiyah tetap relevan untuk ketahanan moral dan spiritual, serta merekomendasikan integrasi penalaran rasional ke dalam kurikulum tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional.
Implementasi Produk Bank Syariah: Studi Kasus PT. Bank Muamalat Indonesia Cabang Jember: Implementation of Sharia Banking Products: A Case Study of PT Bank Muamalat Indonesia, Jember Branch Abdul Rokhim
Fenomena Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i1.419

Abstract

The existence of Islamic banking in Indonesia has gained legal legitimacy through Law No. 10 of 1998, yet the implementation of interest-free products still faces various operational challenges. This study aims to analyze the implementation of Sharia bank products at PT. Bank Muamalat Indonesia, Jember Branch. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings reveal that Bank Muamalat Indonesia Jember Branch applies various products such as Tabungan Umat, Giro Wadi’ah, Mudlarabah Deposits, Mudlarabah Financing, Musyarakah, and Rahn, all based on the profit and loss sharing principle and free from interest. The main drivers include adherence to Islamic law and the principles of justice, partnership, and efficiency. Challenges encountered include the risk of customer dishonesty in reporting profits and the complexity of profit-sharing calculations compared to conventional interest systems. The study recommends improving human resource quality and maintaining consistency in applying Sharia principles. Keberadaan perbankan syariah di Indonesia telah memperoleh legitimasi yuridis melalui UU No. 10 Tahun 1998, namun implementasi produk bebas bunga masih menghadapi berbagai tantangan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi produk-produk Bank Syariah pada PT. Bank Muamalat Indonesia Cabang Jember. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bank Muamalat Indonesia Cabang Jember menerapkan beragam produk seperti Tabungan Umat, Giro Wadi’ah, Deposito Mudlarabah, Pembiayaan Mudlarabah, Musyarakah, serta Rahn, yang seluruhnya berlandaskan prinsip profit and loss sharing dan bebas dari bunga. Pendorong utama implementasi adalah kepatuhan terhadap hukum Islam dan prinsip keadilan, kemitraan, serta efisiensi. Kendala yang dihadapi meliputi risiko ketidakjujuran nasabah dalam melaporkan keuntungan serta kompleksitas perhitungan bagi hasil dibandingkan sistem bunga konvensional. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan konsistensi penerapan prinsip syariah.
Pemikiran Neo-Modernisme Abdurrahman Wahid tentang Islam dan Demokrasi pada Era Pasca-Orde Baru hingga Tahun 2007: Abdurrahman Wahid’s Neo-Modernist Thought on Islam and Democracy in the Post–New Order Era up to 2007 Ubaidillah Nafi'
Fenomena Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i1.420

Abstract

The crisis of modernity, rising religious exclusivism and intolerance, and the gap between religious ideals and social reality form the main background of the discourse on Islam and democracy in post-New Order Indonesia. This research employs a qualitative paradigm with Foucault’s critical hermeneutics, in-depth interviews, participant observation, and document analysis to examine Abdurrahman Wahid’s neo-modernist thought. The findings reveal that Wahid views democracy as the only political choice compatible with Islamic values, rejects the formalization of an Islamic state, accepts Pancasila as the final ideology, and prioritizes pluralism and interreligious tolerance. In conclusion, Wahid’s neo-modernism offers a substantive, inclusive, and dialogical model of Islam-state relations grounded in morality and humanity. The recommendation emphasizes strengthening theological-spiritual and social-humanitarian dialogues to sustain national harmony. Krisis modernitas, meningkatnya eksklusivisme dan intoleransi beragama, serta kesenjangan antara cita-cita agama dan realitas sosial menjadi latar belakang utama diskursus Islam dan demokrasi di Indonesia pasca Orde Baru. Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan pendekatan hermeneutika kritis Foucault serta teknik wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen untuk mengkaji pemikiran neo-modernisme Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gus Dur memandang demokrasi sebagai pilihan politik satu-satunya yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, menolak formalisasi negara Islam, menerima Pancasila sebagai ideologi final, dan mengedepankan pluralisme serta toleransi antarumat beragama. Kesimpulannya, pemikiran neo-modernisme Gus Dur menawarkan model hubungan substantif antara Islam dan negara yang inklusif, dialogis, dan berorientasi pada moralitas serta kemanusiaan. Rekomendasinya, diperlukan penguatan dialog teologis-spiritual dan sosial-kemanusiaan untuk menjaga kerukunan nasional.
Konsep Kerukunan Masyarakat Multikultural Kabupaten Banyuwangi: The Concept of Harmony in the Multicultural Society of Banyuwangi Regency M. Syamsudini
Fenomena Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i1.421

Abstract

Ethno-religious conflicts in post-reform Indonesia have threatened national integration, yet Banyuwangi demonstrates a unique model of multicultural harmony. This study explores the local wisdom and social mechanisms sustaining inter-ethnic harmony in this multicultural region. Using a qualitative case study approach with phenomenological and sociological methods, data were collected through interviews, observation, and documentation from customary, religious, and youth leaders. Findings reveal that Banyuwangi’s society comprises diverse ethnic groups—Javanese, Madurese, Balinese, Osing, Arab, Chinese, Mandar, and Malay—whose long-term interaction has produced hybrid cultural practices and democratic values manifested in traditions of deliberation (musyawarah), mutual cooperation (gotong royong), equality, and freedom. The study concludes that harmony is maintained through ethical dialogue, transparency, critical self-reflection, and mutual recognition of differences, recommending the institutionalization of multicultural education in local curricula and the strengthening of communal bonds against primordialism. Konflik etno-religius di Indonesia pasca-reformasi telah mengancam integrasi bangsa, namun Banyuwangi menunjukkan model kerukunan multikultural yang unik. Penelitian ini mengeksplorasi kearifan lokal dan mekanisme sosial yang menopang kerukunan antaretnis di wilayah multikultural tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan metode fenomenologis dan sosiologis, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dari tokoh adat, agama, dan pemuda. Temuan menunjukkan bahwa masyarakat Banyuwangi terdiri dari beragam etnis—Jawa, Madura, Bali, Osing, Arab, Cina, Mandar, dan Melayu—yang interaksi jangka panjangnya melahirkan praktik budaya hibrid dan nilai-nilai demokrasi yang terwujud dalam tradisi musyawarah, gotong royong, persamaan, dan kebebasan. Penelitian menyimpulkan bahwa kerukunan dipertahankan melalui dialog etis, transparansi, kritik diri, dan pengakuan timbal balik atas perbedaan, dengan merekomendasikan institusionalisasi pendidikan multikultural dalam kurikulum lokal dan penguatan ikatan komunal melawan primordialisme.
Potret Persaudaraan Umat Beragama: Melacak Tradisi Keberagaman demi Terwujudnya Kerukunan Umat Beragama di Desa Tanon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri: Portrait of Interfaith Brotherhood: Tracing the Tradition of Diversity to Achieve Religious Harmony in Tanon Village, Papar District, Kediri Regency Syamsun Ni'am
Fenomena Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i1.422

Abstract

Amid globalization and the rise of religious-based conflicts in various parts of Indonesia, the concept of religious brotherhood has become critically important to re-examine. This study aims to understand the concept of religious harmony and to trace the religious traditions developed by the community of Tanon Village, Kediri, in achieving such harmony. Using a qualitative sociological-phenomenological approach, along with interviews, observation, and documentation, the research found that the Tanon community lives harmoniously despite high religious diversity, including Islam, Christianity, Hinduism, and Buddhism. Key factors supporting this harmony include the tradition of mutual cooperation, the dominance of moderate religious streams such as NU and GKJW, humanitarian-focused preaching, and close relationships among religious leaders. In conclusion, local social and cultural capital effectively maintains interfaith brotherhood. The study recommends strengthening interfaith dialogue and the government’s role as a facilitator to prevent religious-based conflicts. Di tengah arus globalisasi dan maraknya konflik bernuansa agama di berbagai wilayah Indonesia, pemahaman tentang persaudaraan umat beragama menjadi sangat genting untuk dikaji ulang. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konsep kerukunan umat beragama serta menelusuri tradisi keberagamaan yang dikembangkan masyarakat Desa Tanon, Kediri, dalam mewujudkan kerukunan tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif sosiologis-fenomenologis serta teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi, penelitian ini menemukan bahwa masyarakat Tanon mampu hidup harmonis meskipun memiliki keragaman agama yang tinggi, termasuk Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Faktor utama yang mendorong kerukunan meliputi tradisi gotong-royong, dominasi aliran keagamaan moderat seperti NU dan GKJW, dakwah yang berfokus pada isu kemanusiaan, serta hubungan erat antar tokoh agama. Kesimpulannya, modal sosial dan kultural lokal terbukti efektif menjaga persaudaraan lintas iman. Penelitian ini merekomendasikan penguatan dialog antaragama dan peran pemerintah sebagai fasilitator untuk mencegah konflik berbasis agama.
Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Masyarakat Kraton, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember: Implementation of Islamic Inheritance Law in the Kraton Community, Kencong District, Jember Regency Sri Lumatus Sa'adah
Fenomena Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i1.423

Abstract

Legal pluralism in Indonesia often leads to differing applications of inheritance law among Muslim communities, including in Kraton Village, Jember. This study aims to describe the applicable inheritance law, the level of public knowledge about Islamic inheritance law, and its implementation in the community. This qualitative research employs a phenomenological approach, using in-depth interviews, participant observation, and document studies. Subjects were community members aged 30–50 years, selected through purposive and snowball sampling. The findings indicate that the Kraton community applies three inheritance legal systems: customary law, Islamic law, and the Civil Code. Public knowledge of Islamic inheritance law remains low due to limited education and lack of socialization. The implementation applies bilateral individual principles and consensus-based distribution, but the 2:1 gender ratio is practiced only by a few families. Asset distribution occurs one thousand days after death without considering joint marital property. In conclusion, the community prioritizes family harmony over faraid provisions, necessitating intensive education on Islamic inheritance law. Pluralisme hukum di Indonesia sering menimbulkan perbedaan penerapan hukum kewarisan di kalangan masyarakat Muslim, termasuk di Desa Kraton, Jember. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hukum waris yang berlaku, tingkat pengetahuan masyarakat tentang hukum kewarisan Islam, serta pelaksanaannya di masyarakat tersebut. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis ini menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian adalah masyarakat berusia 30–50 tahun, dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kraton menerapkan tiga sistem hukum waris, yaitu hukum adat, hukum Islam, dan KUH Perdata. Pengetahuan masyarakat tentang hukum kewarisan Islam masih rendah karena tingkat pendidikan dan minimnya sosialisasi. Pelaksanaan hukum waris menerapkan asas bilateral individual dan musyawarah berdasarkan keikhlasan, namun asas segendong sepikul (2:1) hanya dijalankan sebagian kecil masyarakat. Pembagian harta dilakukan setelah seribu hari kematian tanpa memperhitungkan harta bersama. Kesimpulannya, masyarakat lebih mengutamakan kerukunan keluarga daripada ketentuan faraid, sehingga diperlukan penyuluhan intensif tentang hukum waris Islam.
Kebijakan Pembangunan Ekonomi Daerah: Kajian Pengembangan Model Kebijakan yang Rasional di Kabupaten Jember: Regional Economic Development Policy: A Study on the Development of a Rational Policy Model in Jember Regency Nurul Widyawati IR
Fenomena Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i1.424

Abstract

Decentralization provides opportunities for local governments to formulate more responsive development policies; however, in Jember Regency, a gap exists between development costs and community welfare due to misallocated budgets and the dominance of top-down approaches. This study aims to evaluate regional economic development policies in Jember Regency for the period 2000-2005 and develop a rational policy model based on local needs. Using a qualitative approach, data were collected through in-depth interviews, focus group discussions, observation, and documentation, then analyzed using grounded theory techniques by Strauss and Corbin. The findings indicate that development during this period focused more on physical infrastructure rather than on community welfare enhancement sectors, leading to increased poverty and unemployment. The study concludes that a policy model based on social equity and community participation is needed, with recommendations to strengthen local institutions and integrate bottom-up approaches into regional development planning. Desentralisasi membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk menyusun kebijakan pembangunan yang lebih responsif, namun di Kabupaten Jember terjadi ketimpangan antara biaya pembangunan dan kesejahteraan masyarakat akibat alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran serta dominasi pendekatan top-down. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kebijakan pembangunan ekonomi daerah di Kabupaten Jember periode 2000-2005 serta mengembangkan model kebijakan yang rasional berbasis kebutuhan lokal. Dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, focus group discussion, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan teknik grounded theory dari Strauss dan Corbin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan selama periode tersebut lebih terfokus pada infrastruktur fisik daripada sektor peningkatan kesejahteraan masyarakat, sehingga kemiskinan dan pengangguran justru meningkat. Disimpulkan bahwa diperlukan model kebijakan berbasis social equity dan partisipasi masyarakat, dengan rekomendasi penguatan kelembagaan lokal serta integrasi pendekatan bottom-up dalam perencanaan pembangunan daerah.
Signifikansi Dakwah Multikultural Ulama Perempuan dalam Proses Pemberdayaan Masyarakat: Studi Kasus pada Aktivitas Dakwah Jam’iyah Muslimat NU Cabang Jember: The Significance of Multicultural Da'wah by Female Ulama in the Community Empowerment Process: A Case Study on the Da'wah Activities of the Jam’iyah Muslimat NU Jember Hepni Hepni
Fenomena Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i1.425

Abstract

The increasing rates of moral decadence, ignorance, and poverty indicate that many preaching activities have not been effective in empowering communities. This study aims to describe the significance of multicultural preaching by female Muslim scholars within the community empowerment process, specifically identifying the configurations, themes, and methods developed by Muslimat NU Jember in 2007. Using a qualitative case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation, then analyzed using interactive data analysis techniques. The findings reveal that the multicultural preaching configuration includes halaqah, intensive studies, public lectures, istighasah, counseling, training, workshops, and majlis taklim. The themes cover maslahah, humanity, amar ma'ruf nahi munkar, social justice, democracy, human rights, education, liberation, women's issues, and multiculturalism derived from the Qur'an and hadith. The methods combine bil lisan, bil qalam, and bil hal through andragogy, mentoring, and participatory learning. The study concludes that multicultural preaching by female scholars significantly contributes to empowering communities, particularly in alleviating ignorance and backwardness. It is recommended that all parties provide serious support for such preaching models and continue developing spiritual education to achieve genuine life success. Meningkatnya angka dekadensi moral, kebodohan, dan kemiskinan mengindikasikan bahwa banyak aktivitas dakwah belum berjalan efektif dalam memberdayakan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan signifikansi dakwah multikultural ulama perempuan dalam proses pemberdayaan masyarakat, khususnya mengidentifikasi konfigurasi, materi, dan metode yang dikembangkan Muslimat NU Jember tahun 2007. Menggunakan desain penelitian kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi, lalu dianalisis dengan teknik analisis data interaktif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi dakwah multikultural meliputi halaqah, kajian intensif, pengajian umum, istighasah, penyuluhan, diklat, workshop, dan majelis taklim. Materi dakwah mencakup kemaslahatan, kemanusiaan, amar ma'ruf nahi munkar, keadilan sosial, demokrasi, HAM, pendidikan, pembebasan, tema kewanitaan, dan multikulturalisme yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadits. Metode yang diterapkan adalah kolaborasi sinergis antara bil lisan, bil qalam, dan bil hal yang dikemas dalam metode andragogi, pendampingan, dan pembelajaran partisipatif. Penelitian menyimpulkan bahwa dakwah multikultural ulama perempuan berkontribusi signifikan dalam pemberdayaan masyarakat dari problem kebodohan dan keterbelakangan. Direkomendasikan kepada semua pihak untuk mendukung model dakwah ini dan terus mengembangkan pendidikan hati demi meraih kesuksesan hidup hakiki.
Pembinaan Pendidikan Agama Islam bagi Mahasiswa Perguruan Tinggi Umum: Studi Kasus di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Jauhar Jember: Islamic Religious Education Development for Students of Public Universities: A Case Study at Al-Jauhar Student Islamic Boarding School, Jember H. Muchlis
Fenomena Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i1.426

Abstract

Islamic religious education in Indonesian general universities is often limited to only two credits, which is considered insufficient to foster deep understanding and practice of Islamic values among students. This study addresses the gap by exploring how the Al-Jauhar Student Islamic Boarding School in Jember provides supplementary religious education. The research aims to describe the implementation of Islamic religious education coaching for university students, including the reasons they join the pesantren, the teaching system applied, and the challenges faced. A qualitative case study approach was employed, utilizing observation, in-depth interviews, and documentation to collect data from caretakers, administrators, teachers, and students. The findings reveal that students are primarily motivated by the desire to deepen their religious knowledge beyond the minimal university curriculum. The teaching system combines traditional salaf methods (wetonan/bandongan) with modern approaches such as lectures, Q&A, and discussions. Key challenges include students’ limited prior knowledge of Islam and Arabic, scheduling conflicts with university classes, and insufficient facilities. The study concludes that integrated coaching in student pesantren effectively complements formal university education, fostering moral and spiritual foundations, and recommends strengthening institutional cooperation and expanding facilities. Pendidikan agama Islam di perguruan tinggi umum Indonesia seringkali hanya diberikan sebanyak dua sks, yang dinilai kurang memadai untuk menumbuhkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Islam secara mendalam. Penelitian ini menjawab kesenjangan tersebut dengan mengeksplorasi bagaimana Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Jauhar di Jember memberikan pembinaan agama tambahan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pembinaan pendidikan agama Islam bagi mahasiswa PTU, meliputi alasan mahasiswa masuk pesantren, sistem pengajaran yang diterapkan, serta kendala yang dihadapi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus, serta teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi utama mahasiswa adalah keinginan memperdalam ilmu agama karena keterbatasan kurikulum di PTU. Sistem pengajaran yang digunakan merupakan perpaduan antara sistem salaf (wetonan/bandongan) dan sistem modern (ceramah, tanya jawab, diskusi). Kendala yang dihadapi meliputi minimnya dasar pengetahuan agama dan bahasa Arab santri, benturan jadwal dengan perkuliahan, serta kurangnya fasilitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembinaan di pesantren mahasiswa secara efektif melengkapi pendidikan formal di PTU dan merekomendasikan penguatan kerja sama institusional serta perluasan fasilitas.

Filter by Year

2002 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 25 No 1 (2026): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 24 No 2 (2025): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 24 No 1 (2025): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 23 No 2 (2024): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 23 No 1 (2024): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 22 No 2 (2023): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 22 No 2 (2023): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 22 No 1 (2023): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 22 No 1 (2023): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 21 No 2 (2022): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 21 No 2 (2022): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 21 No 1 (2022): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 21 No 1 (2022): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 20 No 2 (2021): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 20 No 2 (2021): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 20 No 1 (2021): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 20 No 1 (2021): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 19 No 2 (2020): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 19 No 2 (2020): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 19 No 1 (2020): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 19 No 1 (2020): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 18 No 2 (2019): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 18 No 2 (2019): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 18 No 1 (2019): FENOMENA: Journal of the Social Sciences Vol 18 No 1 (2019): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 17 No 2 (2018): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 17 No 1 (2018): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 16 No 2 (2017): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 16 No 1 (2017): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 15 No 2 (2016): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 15 No 1 (2016): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 14 No 2 (2015): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 14 No 1 (2015): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 13 No 2 (2014): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 13 No 1 (2014): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 12 No 2 (2013): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 12 No 1 (2013): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 11 No 2 (2012): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 11 No 1 (2012): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 10 No 2 (2011): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 10 No 1 (2011): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 9 No 2 (2010): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 9 No 1 (2010): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 8 No 2 (2009): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 8 No 1 (2009): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 7 No 2 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 6 No 2 (2007): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 6 No 1 (2007): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia Vol 5 No 2 (2006): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 5 No 1 (2006): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 4 No 2 (2005): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 4 No 1 (2005): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 3 No 2 (2004): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 3 No 1 (2004): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 2 No 2 (2003): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 2 No 1 (2003): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 1 No 2 (2002): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember Vol 1 No 1 (2002): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember More Issue