cover
Contact Name
Chrest Thessy Tupamahu
Contact Email
jurnalmakarios@gmail.com
Phone
+6282334056053
Journal Mail Official
i3jurnal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No.5
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual
ISSN : 28299124     EISSN : 28299132     DOI : https://doi.org/10.52157/mak
Jurnal Makarios merupakan wadah publikasi ilmiah dari hasil penelitian Teologi Kontekstual yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M), Institut Injil Indonesia. Jurnal Makarios menerima artikel dari semua dosen, mahasiswa, dan alumni di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi, maupun institusi lain yang memiliki bidang kajian yang sama. Artikel yang dikirim haruslah belum pernah atau tidak sedang dalam proses dimuat dalam jurnal lainnya. Artikel yang masuk harus sesuai dengan petunjuk penulisan atau format yang telah ditetapkan. Editor akan menolak artikel yang tidak memenuhi persyaratan tanpa proses lebih lanjut. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer melalui proses blind-review. Focus dan Scope Jurnal Makarios, yaitu: Teologi Kontekstual, Teologi Penginjilan, Teologi Kontemporer, Kontekstualisasi Misi, Antropologi Budaya, dan Sosiologi Agama. Jurnal Makarios terbit dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Mei dan November, serta menyediakan akses terbuka langsung ke isinya (content).
Articles 49 Documents
Perbandingan Manfaat Membaca Alkitab Digital dan Alkitab Cetak: Analisis Bibliometrik terhadap Keunggulan dan Kekurangan dalam Era Teknologi Wahyudi, Hari; Ruslin, Ruslin
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 4 No 2 (2025): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v4i2.445

Abstract

Artikel ini bertujuan menyelidiki budaya membaca Alkitab dalam bentuk digital dan maupun cetak di tengah perkembangan teknologi yang makin pesat. Hal ini dilatarbelakangi oleh diskusi terkait manfaat dari kedua bentuk Alkitab tersebut yang pada satu sisi mengandung keunggulan, tetapi pada sisi lain mengandung kekurangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berbasis studi literatur (library research) dan penelitian bibliometrik sebagai metode pelengkap untuk mengkaji literatur yang relevan secara sistematis. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Alkitab cetak maupun alkitab digital bermanfaat bagi para pembaca. Meskipun demikian terdapat juga keunggulan maupun kekurangan. Keunggulan Alkitab digital yaitu, kemudahan akses kapan saja, fitur pencarian praktis, serta keberagaman versi dan bahasa dalam satu perangkat. Di sisi lain, keunggulan Alkitab cetak meliputi pengalaman membaca yang lebih fokus, keterhubungan emosional yang lebih kuat, serta kebebasan dari ketergantungan teknologi. Selai itu, kekurangan dan tantangan dari kedua bentuk Alkitab tersebut, antara lain keterbatasan baterai pada digital dan risiko kerusakan fisik pada cetak, serta pengaruh preferensi personal dalam kenyamanan membaca. Kesimpulannya dari penelitian ini adalah bahwa, pemilihan antara Alkitab digital dan cetak sangat bergantung pada kebutuhan dan gaya hidup pembaca di era teknologi saat ini.
Media Sebagai Alat Bantu: Strategi Penerapan Audiovisual Pada Anak Usia Dini Di Laboratorium Henriene Kids Dominggus Tamu Ama; Olivia Masihoru
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 5 No 1 (2026): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v5i1.493

Abstract

Artikel ini membahas tentang media sebagai alat bantu dan strategi penerapanya di Laboratorium Henriene Kids. Media merupakan alat perantara yang digunakan guru untuk menyampaikan materi pembelajaran yang dapat menarik perhatian anak. Dengan kehadiran media sebagai alat bantu memiliki peran penting dalam mengasah perkembangan kognitif anak usia dini seperti perkembangan bahasa, membaca maupun menulis.   Namun, pada studi sebelumnya media hanya membahas tentang peranannya dalam menumbuhkan kemampuan empati serta mencegah perilaku bullyng pada anak sejak dini. Tujuan studi ini, menganalisa strategi yang digunakan dalam menerapkan media audiovisual pada anak usia dini di Laboratorium Henriene Kids. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, untuk mendapat hasil dalam studi ini, peneliti melakukan obsevasi, wawancara dengan guru-guru di Laboratorium mengenai Strategi yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Hasil penemuan menunjukkan bahwa ada beberapa strategi yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Pertama, belajar sambil bermain. Kedua, pendampingan orangtua. ketiga, mengajak anak berdiskusi dan keempat, reinforcement. Berdasarkan hasil temuan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan media audiovisual pada anak usia dini dapat mengasah pemahaman dalam perkembangan kognitif.
Arumi F. Tinjauan Etis Kristen Terhadap Fenomena Mentalitas Inlander Arumi F. Setianing Christy; Iwan Setiawan
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 5 No 1 (2026): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v5i1.494

Abstract

Delapan puluh tahun kemerdekaan, mentalitas Inlander masih sangat kuat menjerat mentalitas bangsa ini. Mentalitas ini ditandai dengan munculnya rasa tidak percaya diri atas potensi dan kemampuan diri sendiri dan lebih suka mempergunakan hasil temuan bangsa lain. Dan penyakit ini dapat menggerogoti mentalitas dan nasionalisme rakyat Indonesia. Tujuan penelitian ini penelitian ini adalah untuk mengetahui makna dari mentalitas Inlander, dampak mentalitas Inlander, dan tinjauan etis Kristen terhadap mentalitas Inlander. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah literature review yaitu digunakan untuk   mengidentifikasi, mengkaji, mengevaluasi, dan menafsirkan semua penelitian yang tersedia dengan bidang topik fenomena yang menarik. Dan hasil penelitian yang didapatkan adalah mentalitas inlander adalah sebuah bentukan kepribadian oleh karena sebuah kondisi yang membentuk cara berpikir dan cara menilai diri yang kemudian mematikan inisiatif untuk menghasilkan karya. Mentalitas inlander merupakan produk dari dosa. Setelah kejatuhan manusia dalam dosa, mentalitas inlander menjangkit manusia. Namun Firman Tuhan menyatakan bahwa hidup di dalam Dialah, maka kita dimerdekakan (Roma 6:11; 18-19), maka seharusnya orang percaya tidak lagi hidup sebagaimana hamba dosa, melainkan dibaharui hari demi hari (Kolose 3:5-17).
Eskalasi Kompetensi Generasi Gereja di Tengah Tantangan Globalisasi Romelus Blegur; Erikson SM; Betesda Sinaga
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 5 No 1 (2026): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v5i1.496

Abstract

Globalisasi merupakan tantangan bagi generasi gereja, karena itu mesti dihadapi dengan kepribadian yang tangguh. Gereja perlu memahami bahwa, globalisasi merupakan ancaman yang nyata diberbagai segi hidup manusia termasuk generasi gereja. Hal ini mendesak gereja untuk berperan dalam menyiapkan generasi yang memiliki kompetensi diri yang baik agar teguh di tengah arus globalisasi. Tujuan penelitian ini adalah menyelidiki tantangan globalisasi, serta menawarkan solusi bagi gereja untuk menyiapkan generasinya tangguh yang berkompetensi diri yang baik untuk menghadapinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tantangan globalisasi dapat diatasi melalui kesiapan diri generasi gereja dengan penekanan pada beberapa aspek ketangguhan, yaitu ketangguhan spiritual, emosional, karakter, dan intelektual yang berpusat pada kebenaran Allah.
Perceraian Dalam 1 Korintus 7: 10-11 Jeny Marlin; Edo Wardo Parsaoran Sitorus
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 5 No 1 (2026): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v5i1.504

Abstract

Pernikahan sesungguhnya bukanlah sesuatu hal yang kebetulan melainkan rencana Allah, karena itu apa yang sudah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan manusia, (I Korintus 7:10-11). Namun kenyataannnya suara kekristenan tidak bulat dalam menanggapi hal ini, sebab masih ada keluarga Kristen yang bercerai, kemudian ada gereja yang mengijinkan perceraian. Tujuan penelitian ini adalah agar kekristenan tidak menutup mata terhadap fenomena-fenomena yang banyak terjadi dewasa ini, tidak salah dalam memandang dan menginterpretasi bagian alkitab yang berbicara tentang perceraian, salah satunya di dalam 1 Korintus 7:10-11 sehingga setiap pasangan tidak mengakhiri pernikahan bagaimanapun keadaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif desktiptif melalui pendekatan kajian pustaka dengan melakukan proses eksegesis membahas secara mendalam, dilengkapi dengan buku-buku maupun jurnal yang mendukung. Berdasarkan hasil penelitian, Paulus memberikan perintah yang sesungguhnya itu merupakan perintah dari Tuhan Yesus bahwa didalam pernikahan Kristen tidak boleh sekalipun diberikan peluang dengan alasan apapun suami dan istri bercerai.  Bagi pasangan Kristen yang sudah sempat bercerai, Paulus memerintahkan supaya tidak boleh menikah lagi sampai salah satu dari mereka meninggal atau jikalau tidak demikian maka mereka berdamai atau rujuk kembali. Sebagai kesimpulan bahwa dalam kekristenan perceraian tidak diizinkan sama sekali bagaimanapun keadaannya. Pasangan   harus memiliki pemahaman dan perilaku yang benar terhadap perceraian sehingga tidak mengakhiri pernikahan bagaimanapun keadaannya.
Kepemimpinan Sahabat Dalam Konstruksi Yohanes 15:14-15 Frediston Siletty
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 5 No 1 (2026): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v5i1.514

Abstract

Dalam kekristenan, kepemimpinan adalah salah satu topik yang sama pentingnya dengan topik lain dalam Alkitab. Model dan cara Yesus memimpin adalah yang ideal dan didambakan oleh semua pengikut-Nya dan hal ini jelas tertulis dalam Alkitab, bagaimana Ia sebagai Gembala yang baik mengambil waktu untuk mengenal domba-domba-Nya. Pada kenyataannya kepemimpinan Kristen tidak terealisasi secara tepat dan benar akibat ada jarak karena umumnya sebagian orang memandang bahwa pemimpin adalah orang yang berada diatas atau didepan dan jarang melihat mereka sebagai sahabat, itu sebabnya jarak antara pemimpin dan yang dipimpin menjadi jauh dan hal ini biasa terjadi dalam konteks kekristenan. Kepemimpinan sahabat adalah satu satu model kepemimpinan yang belum terlalu dikenal dan masih menjadi sesuatu yang baru bagi kepemimpinan dalam kekristenan, meskipun sebenarnya hal ini telah ada dan tertulis baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Yesus memberikan sebuah teladan kepemimpinan yaitu melalui kepemimpinan sahabat yang sangat relevan dan patut diterapkan dalam kepemimpinan gereja masa kini. Penelitian ini menggunakan metode   penelitian kepustakaan dengan menggunakan buku dan artikel jurnal secara selektif sesuai dengan pokok penelitian. Hasil dari penelitian ini adalah guna mewujudkan kepemimpinan yang di mulai dari kasih persahabatan, menekankan kesetaraan dan keterbukaan karena kepemimpinan adalah soal fungsi, bukan posisi.
Analisis Kritis Kisah Para Rasul 26: 14 Mengenai Panggilan Allah bagi Pemimpin Gereja dalam Konteks Masyarakat Postmodern (God’s calling for Church Leaders) Agus Suryo Jarot Yudhono
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 5 No 1 (2026): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v5i1.528

Abstract

Paper ini bertujuan untuk menemukan alasan yang mendasar mengenai panggilan Allah bagi pemimpin gereja sebagai mitra ditengah-tengah masyarakat postmodern untuk memperlengkapi gereja-Nya sehingga menjadi satu kesatuan utuh bagi pembangunan tubuh Kristus. Tujuan ini tidak terlihat pada pemimpin gereja di era postmodern yang telah kehilangan visi Allah (God’s Vision) terhadap panggilan bagi gereja-Nya, namun telah bergeser pada visi pribadi (Personal’s Vision) yang fokusnya pada money oriented, hedonisme dan popularitas diri. Untuk mengatasi masalah ini dan agar tercapainya tujuan paper ini, maka kajian artikel ini lebih tepat menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis kritis literatur secara ekspositoris. Dari hasil penelitian ini akan melahirkan suatu paradigma baru sehingga terbentuk new frame bagi pemimpin gereja yang sesuai dengan visi Allah terhadap panggilannya. Alasan yang mendasar tersebut berdasarkan pada God’s Calling Purpose (GCP) yang dapat dirumuskan dalam bentuk akronim 3D: Dipanggil (Called), Dipilih (Chosen) dan Diperlengkapi (Equipped). Temuan ini sebagai kontribusi dalam mengatasi pergeseran tujuan awal panggilan Allah terhadap pemimpin gereja dari kepentingan pribadi kepada kepentingan Allah supaya kembali pada misi Allah bagi keselamatan jiwa-jiwa melalui gereja-Nya.
Karakteristik Dan Tugas Penatua Serta Diaken Berdasarkan 1 Timotius 3:1–13 Dan Implikasinya Terhadap Kesetiaan Jemaat Beribadah Di Gereja Pouk Kemang Pratama Bekasi Dimas Arjuna Gulo
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 5 No 1 (2026): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v5i1.529

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan tugas Penatua serta Diaken berdasarkan 1 Timotius 3:1–13 dan implikasinya terhadap kesetiaan jemaat beribadah di Gereja POUK Kemang Pratama Bekasi. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah masih ditemukannya persoalan karakter dan keteladanan pelayan gereja yang berdampak terhadap kehidupan spiritual jemaat. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka dan penelitian lapangan melalui observasi, wawancara, dan penyebaran kuesioner. Populasi penelitian terdiri dari 50 jemaat dengan sampel 35 responden kuesioner dan 15 informan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter Penatua dan Diaken memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesetiaan jemaat dalam beribadah. Jemaat memandang keteladanan karakter, tanggung jawab pelayanan, kerendahan hati, kesetiaan, serta integritas sebagai faktor penting dalam membangun kepercayaan dan motivasi beribadah. Berdasarkan hasil penelitian, Penatua dan Diaken tidak hanya dipanggil untuk menjalankan fungsi administratif gereja, tetapi juga menjadi teladan rohani yang mencerminkan karakter Kristus di tengah jemaat.
Pembaruan Budi Sebagai Pendekatan Pendidikan Kristen Dalam Upaya Membangun Ketahanan Mental Generasi Z Samuel Stefanus Silas
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 5 No 1 (2026): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v5i1.530

Abstract

Generasi Z hidup di tengah perkembangan teknologi digital yang pesat serta perubahan sosial yang berlangsung secara dinamis. Kondisi tersebut menghadirkan berbagai peluang sekaligus tantangan yang dapat memengaruhi kehidupan generasi ini, seperti tekanan sosial, kecemasan, krisis identitas, serta kesulitan dalam membangun ketahanan mental. Persoalan tersebut menunjukkan bahwa upaya membangun ketahanan mental tidak hanya berkaitan dengan penanganan gejala psikologis semata, tetapi juga memerlukan proses pembentukan kehidupan yang menyentuh cara individu memahami, memaknai, dan merespons realitas kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembaruan budi sebagai pendekatan pendidikan Kristen dalam upaya membangun ketahanan mental Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) melalui pengkajian berbagai sumber literatur yang berkaitan dengan pembaruan budi, pendidikan Kristen, ketahanan mental, dan karakteristik Generasi Z. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis melalui proses identifikasi, pengelompokan, pengkajian, dan interpretasi terhadap berbagai konsep yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembaruan budi tidak hanya dipahami sebagai perubahan pada aspek kognitif, tetapi merupakan proses transformasi kehidupan yang menyentuh cara berpikir, pembentukan karakter, dan pemaknaan terhadap pengalaman hidup. Perspektif teologis berdasarkan Roma 12:2 serta pemikiran Dallas Willard menunjukkan bahwa pembaruan budi memiliki peran dalam membentuk kehidupan yang selaras dengan kehendak Allah. Selain itu, perspektif psikologi melalui pemikiran Aaron Beck dan Martin Seligman memperlihatkan bahwa pola pikir memiliki pengaruh terhadap kemampuan individu dalam memaknai pengalaman hidup dan membangun ketahanan mental. Oleh karena itu, pembaruan budi dapat dipahami sebagai pendekatan pendidikan Kristen yang relevan dalam membantu Generasi Z membangun ketahanan mental serta menghadapi berbagai tantangan kehidupan secara lebih sehat dan konstruktif.