cover
Contact Name
Muhammad Isrul
Contact Email
isrulfar@gmail.com
Phone
+628114053811
Journal Mail Official
jurnalpharmaciamw@gmail.com
Editorial Address
Jl. Jend. A.H. Nasution No. G-37, Kambu, Kendari, Sulawesi Tenggara
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
ISSN : -     EISSN : 28296850     DOI : https://doi.org/10.54883/jpmw
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya (JPMW) Merupakan Jurnal dengan system Open Journal untuk informasi bidang ilmu farmasi yang memuat kajian tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk tulisan ilmiah, studi kepustakaan dan studi empirik. Bidang ruang lingkup naskah yang diterbitkan dalam Jurnal Pharmacia Mandala Waluya (JPMW) antara lain Farmakologi, Teknologi Sediaan Farmasi, Farmakognosi-Fitokimia, Mikrobiologi, Kimia Farmasi, dan Farmasi Klinik-Komunitas.
Articles 169 Documents
Analisis Perencanaan Dan Pengadaan Obat Berdasarkan Metode ABC VEN di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kota Kendari Dian Rahmaniar Trisnaputri; Dita Melani Saputri; Laode Hamiru
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmw.v5i3.678

Abstract

Perencanaan dan pengadaan obat merupakan aspek penting dari sistem pelayanan rumah sakit, khususnya dalammemastikan ketersediaan dan penggunaan obat generik yang efisien. Rumah Sakit Umum Kota Kendari menghadapitantangan serius berupa kelebihan stok dan kekurangan stok, yang berdampak pada pelayanan farmasi. Studi inibertujuan untuk menganalisis perencanaan pengadaan obat generik menggunakan metode ABC (berdasarkan nilaiinvestasi) dan VEN (berdasarkan urgensi terapeutik) serta mengidentifikasi kombinasi keduanya untuk menetapkanprioritas pengadaan obat yang lebih tepat. Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan populasi 208item obat generik berdasarkan laporan tahun 2024, yang dianalisis menggunakan klasifikasi ABC-VEN.Hasil menunjukkanbahwa 40 item (19%) diklasifikasikan sebagai kelompok A dengan konsumsi anggaran 70%, 48 item sebagai kelompok B(20%), dan 120 item sebagai kelompok C (58%) dengan konsumsi hanya 10%. Berdasarkan klasifikasi VEN, sebagian besarobat termasuk dalam kategori Esensial (E), diikuti oleh Vital (V) dan Non-Esensial (N). Kombinasi metode ABC-VENmenghasilkan kelompok prioritas tinggi seperti AV dan AE, yang memerlukan pemantauan ketat.Disarankan agar rumahsakit secara rutin mengevaluasi perencanaan obat menggunakan metode kombinasi ini untuk mengurangi risikokekurangan dan pemborosan. Penelitian selanjutnya dapat memperluas cakupan data dengan menganalisis obat non-generik dan mempertimbangkan tren penggunaan klinis
Evaluasi Kadar Protein Proses Produksi Protein Bar Daun Kelor (Moringa oleifera L.) Dengan Metode Kjeldahl Inggria Eka Pawestri; Nawafila Februyani; Ainu Zuhriyah
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmw.v5i3.682

Abstract

Daun kelor (Moringa oleifera L.) merupakan tanaman lokal yang kaya protein dan berpotensi dikembangkan sebagaipangan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan kadar protein pada serbuk daunkelor dan produk protein bar berbasis daun kelor menggunakan metode Kjeldahl. Penelitian menggunakan desaineksperimental laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, yaitu konsentrasi serbuk daun kelor pada formulasi protein bar yang terdiri atas F0 (0%), F1 (10%), F2 (15%), dan F3 (20%) dengan tiga kali replikasi. Analisis kadar protein dilakukan melalui tahapan destruksi, destilasi, dan titrasi metode Kjeldahl, kemudian data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serbuk daun kelor memiliki kadar nitrogen sebesar 3,17% dan kadar protein sebesar 19,82%. Pada protein bar, kadar protein meningkat seiring penambahan konsentrasi serbuk daun kelor, yaitu F0 sebesar 7,12%, F1 sebesar 8,2%, F2 sebesar 8,61%, dan F3 sebesar 9,14%. Hasil organoleptik menunjukkan bahwa penambahan serbuk daun kelor memengaruhi warna dan aroma produk, namun tidak memengaruhi tekstur. Uji normalitas menunjukkan data berdistribusi normal, sedangkan uji homogenitas menunjukkan data tidak homogen sehingga analisis lanjut menggunakan metode Games-Howell. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar perlakuan (p<0,05). Berdasarkan hasil penelitian, penambahan serbuk daun kelor terbukti meningkatkan kadar protein protein bar dan berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional tinggi protein berbasis bahan lokal.
Skrining Fitokimia Dan Uji Antioksidan Pada Tumbuhan Paku Di Kawasan Air Terjun Kakek Bodo Saidatul Anisa; Shaddiqah Munawaroh Fauziah; Uun Rohmawati
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmw.v5i3.688

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan metabolit sekunder serta mengevaluasi aktivitas antioksidantumbuhan paku di kawasan Air Terjun Kakek Bodo, Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini merupakan penelitianeksperimental laboratorik dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan melaluiskrining fitokimia, sedangkan analisis kuantitatif dilakukan menggunakan metode Ferric Reducing Antioxidant Power(FRAP). Sampel penelitian terdiri atas tujuh spesies tumbuhan paku yang diekstraksi menggunakan etanol 96%. Hasilskrining fitokimia menunjukkan adanya variasi kandungan metabolit sekunder antarspesies, dengan senyawa taninsebagai komponen yang paling dominan. Senyawa fenolat, triterpenoid, dan steroid terdeteksi secara bervariasi,sedangkan flavonoid dan saponin tidak terdeteksi pada seluruh sampel. Berdasarkan hasil skrining fitokimia, tiga spesiesterpilih, yaitu Athyrium filix-femina, Pecnemia irregularis, dan Nephrolepis cordifolia, dilanjutkan pada pengujianaktivitas antioksidan metode FRAP. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai FRAP meningkat seiring bertambahnyakonsentrasi ekstrak, yang menandakan adanya kemampuan reduksi ion Fe³⁺ menjadi Fe²⁺. Di antara ketiga spesies yangdiuji, Nephrolepis cordifolia menunjukkan nilai FRAP tertinggi secara deskriptif dengan nilai maksimum sebesar 285 μMFe²⁺, diikuti oleh Athyrium filix-femina dan Pecnemia irregularis. Nilai koefisien determinasi (R²) yang mendekati 1menunjukkan hubungan linear yang kuat antara konsentrasi ekstrak dan nilai FRAP. Secara keseluruhan, hasil penelitianmenunjukkan bahwa tumbuhan paku di kawasan Air Terjun Kakek Bodo berpotensi sebagai sumber antioksidan alami,yang diduga berkaitan dengan keberadaan senyawa fenolat dan tanin.
Optimasi Kombinasi Ekstrak Biji Kakao (Theobroma cacao L.) dan Kulit Delima (Punica granatum L.) dalam sediaan Krim Wulida Nuril Fajriyah; Setyo Nurwaini
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmw.v5i3.689

Abstract

Sinar ultra violet dapat menimbulkan masalah kulit seperti sunburn, fotosensitivitas eritema hingga kanker kulit.Dampak negatif paparan ultra violet dapat dicegah dengan penggunaan tabir surya. Optimasi kombinasi ekstrak bijikakao dan kulit delima dalam sediaan krim diharapkan menghasilkan formula yang optimum dengan evaluasi fisikoptimal serta evaluasi efektivitas tabir surya dengan nilai Sun Protection Factor. Penetapan formula optimum ditentukanoleh sifat fisik krim dan efektivitas tabir surya dengan nilai Sun Protection Factor menggunakan metode Simplex LatticeDesign software Design Expert 11. Hasil verifikasi dianalisis menggunakan uji one sample t-test atau wilcoxon test untukmengetahui perbedaan nilai antara formula prediksi dan formula verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwaformula optimum yaitu pada formula 1 dan 7 dengan komposisi bahan yang sama. Proporsi ekstrak biji kakao dan kulitdelima yang menghasilkan formula optimum masing-masing sebesar 10% dan 5,5% dengan sifat fisika kimia yang baik,selain pada respon daya sebar dan daya lekat. Evaluasi daya lekat, daya sebar, pH, viskositas dan nilai Sun ProtectionFactor tidak ada perbedaan signifikan antara formula prediksi Simplex Lattice Design dengan hasil verifikasi. Pengujianefektivitas formula optimum tabir surya secara in vitro krim kombinasi ekstrak biji kakao dan kulit delima menghasilkannilai Sun Protection Factor sebesar 4,93±0,14 memiliki proteksi sedang.
Profil Sensitivitas Antibiotik terhadap Isolat Bakteri dari Spesimen Sputum Pasien ISPA di Puskesmas Kota Ternate Erpi Nurdin; Mukhtasyam Zuchrullah; Apriany Lessy
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling sering dijumpai di fasilitas pelayanan kesehatan dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas. Penggunaan antibiotik sebagai terapi ISPA seringkali tidak didahului oleh uji sensitivitas, sehingga berpotensi menimbulkan resistensi bakteri. Untuk mengetahui sensitivitas bakteri yang diisolasi dari spesimen sputum penderita ISPA terhadap beberapa jenis antibiotik serta mengidentifikasi antibiotik yang paling efektif. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif pada 30 sampel sputum pasien ISPA di empat Puskesmas wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Ternate, yaitu Puskesmas Siko, Kota, Kalumpang, dan Kalumata. Metode uji sensivitas yang digunakan adalah metode difusi cakram (Kirby-Bauer) terhadap empat antibiotik yaitu amoksisilin, siprofloksasin, gentamisin, dan levofloksasin. Hasil: Amoksisilin menunjukkantingkat resistensi yang tinggi pada Staphylococcus aureus (81,2%), Staphylococcus epidermidis (70%), dan Proteus mirabilis (100%), sedangkan Streptococcus pyogenes didominasi kategori intermediate (66,7%). Siprofloksasin dan gentamisin menunjukkan aktivitas antibakteri yang sangat baik dengan tingkat sensitivitas 100% pada Staphylococcus aureus, S. epidermidis, dan Proteus mirabilis, serta sensitivitas sebesar 66,7% pada Streptococcus pyogenes. Levofloksasin juga memperlihatkan efektivitas yang tinggi dengan sensitivitas sebesar 87,5% pada Staphylococcus aureus, 80% pada Staphylococcus epidermidis, serta 100% pada Streptococcus pyogenes dan Proteus mirabilis. Siprofloksasin, gentamisin, dan levofloksasin memiliki aktivitas yang lebih efektif dibandingkan amoksisilin terhadapbakteri yang diuji. Tingginya tingkat resistensi terhadap amoksisilin menunjukkan perlunya penggunaan antibiotik secara rasional berdasarkan hasil uji sensitivitas untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan meminimalkan perkembangan resistensi bakteri
Sintesis Dan Karakterisasi Nanopartikel Minyak Atsiri Apel Merah untuk Formulasi Nanoparfum Berbasis Air Yulianita Cristy Anjawati Simalango; Horasdia Saragih
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmw.v5i3.703

Abstract

Kebutuhan parfum berbasis air dan menggunakan bahan pewangi minyak atsiri alami sangat diperlukan karenaparfum berbasis alkohol dan bahan pewangi sintetis cenderung membuat kulit kering dan iritasi. Namun, minyakatsiri alami bersifat hidrofobik sehinggaa tidak larut dalam air. Untuk mengatasi masalah ini teknologi nanopartikeltelah digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan mengkarakterisasi nanopartikel minyak atsiri apelmerah yang dikembangkan untuk formulasi nanoparfum berbasis air. Tujuan penelitian ini adalah untukmenghasilkan nanoparfum berbasis air dari bahan pewangi minyak atsiri apel merah. Sintesis dilakukan denganmenggunakan teknik atomisasi dan polimer PEG-40 HCO digunakan sebagai surfaktan. Dari hasil yang diperolehmenunjukkan bahwa konsentrasi minyak atsiri yang digunakan saat sintesis sangat mempengaruhi banyaknyapopulasi nanopartikel yang dihasilkan, mempengaruhi distribusi ukurannya, diameter rata-rata dan potensialzeta. Diameter rata-rata nanopartikel yang dihasilkan adalah ≤ 296,7 nm. Potensial zetanya terentang dari -1,4mV sampai -5,4 mV, yang tergolong sangat rendah dan mengindikasikan stabilitas elektrostatik yang lemah. Padasebagian formula, ditemukan terbentuknya dua populasi nanopartikel dengan ukuran yang berbeda secarasignifikan, yang merupakan temuan penting dalam penelitian ini. Penelitian ini berada pada tahap sintesis dankarakterisasi nanopartikel, belum mencakup evaluasi performa parfum seperti stabilitas aroma atau uji sensorik.
Formulasi dan Evaluasi Gel Ekstrak Etanol 70% Kulit Jeruk Gerga Lebong Elsye Fitria Rahayu; Oktoviani; Rose Intan Perma Sari; Oky Hermansyah; Samwilson Slamet
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmw.v5i3.706

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak etanol 70% kulit jeruk Gerga Lebong ke dalam bentuk sediaangel serta mengevaluasi sifat fisiknya. Kulit jeruk Gerga Lebong merupakan limbah pertanian yang mengandung flavonoiddan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai bahan aktif topikal. Ekstrak diformulasikan dalam empat formula dengankonsentrasi 0% (F0), 1% (F1), 1,5% (F2), dan 2% (F3) menggunakan HPMC sebagai basis gel. Evaluasi fisik meliputi ujiorganoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas, dan uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwaseluruh formula memiliki bentuk semi padat, homogen, pH, daya sebar, dan daya lekat yang memenuhi persyaratansediaan gel topikal. Nilai viskositas seluruh formula masih berada dalam rentang yang dapat diterima untuk sediaan gel,meskipun mengalami penurunan seiring peningkatan konsentrasi ekstrak. Perbedaan konsentrasi ekstrak memengaruhiwarna, aroma, viskositas, dan daya sebar sediaan. Berdasarkan hasil evaluasi fisik dan uji hedonik, formula F3merupakan formula terbaik karena memenuhi seluruh parameter fisik yang dipersyaratkan serta menunjukkan tingkatkesukaan panelis tertinggi pada parameter bentuk/tekstur, warna, dan aroma.
Perbandingan Uji Toksisitas Ekstrak Daun Tapak Dara (Catharanthus rosues L.) Sebelum dan Sesudah Proses Bleaching Dzilla Himmatun Nisa; Akhmad Al – Bari; Ria Indah Kusuma Pitaloka
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmw.v5i3.709

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya mengetahui adanya pengaruh pada proses bleaching terhadap kandungan senyawa aktif dan tingkat toksisitas ekstrak tanaman obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan tingkat toksisitas ekstrak etanol daun tapak dara (Catharanthus roseus L.) sebelum dan sesudah perlakuan bleaching serta mengkaji pengaruh variasi lama waktu bleaching terhadap nilai LC₅₀ menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, kemudian dilanjutkan dengan proses bleaching menggunakan arang aktif teraktivasi dengan variasi waktu 30 menit, 1 jam, dan 2 jam. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak sebelum bleaching mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin, sedangkan setelah bleaching terjadi penurunan kandungan senyawa, terutama flavonoid yang tidak lagi terdeteksi. Hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa nilai LC₅₀ ekstrak tanpa perlakuan bleaching sebesar 387,154 ppm. Pada perlakuan bleaching selama 30 menit, nilai LC₅₀ meningkat menjadi 428,421 ppm, sedangkan pada bleaching selama 1 jam dan 2 jam masing-masing sebesar 508,580 ppm dan 581,779 ppm. Peningkatan nilai LC₅₀ menunjukkan adanya penurunan toksisitas seiring dengan bertambahnya lama waktu bleaching. Hal tersebut mengindikasikan bahwa lama proses bleaching dapat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif serta menurunkan toksisitas pada ekstrak daun tapak dara. Dari hasil yang didapatkan nilai LC50 sebelum maupun sesudah bleaching berada di bawah 1000 ppm, sehinga ekstrak tersebut masih tergolong dalam kategori toksik berdasarkan metode BSLT.
Perbandingan Metode Maserasi Dan Ultrasonik Terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) Mahfuzun Bone; Maria Almeida; Riki; Muhammad Isrul; Sulistiawati
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmw.v5i3.743

Abstract

Radikal bebas merupakan molekul reaktif yang dapat menyebabkan kerusakan sel apabila jumlahnya melebihikapasitas pertahanan tubuh. Antioksidan alami diperlukan untuk membantu menangkal radikal bebas, salahsatunya dapat diperoleh dari daun cengkeh (Syzygium aromaticum L.) yang mengandung senyawa bioaktif sepertieugenol dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode ekstraksi maserasi dan ultrasonikterhadap rendemen dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun cengkeh. Jenis penelitian ini adalah penelitiananalitik. Sampel yang digunakan berupa daun cengkeh yang diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% denganmetode maserasi dan ultrasonik. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH denganpembanding vitamin C dan diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa metode maserasi menghasilkan rendemen sebesar 35,6%, sedangkan metodeultrasonik menghasilkan rendemen sebesar 8,96%. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrakmaserasi memiliki nilai IC₅₀ sebesar 3,31 μg/mL, sedangkan ekstrak ultrasonik memiliki nilai IC₅₀ sebesar 18,36μg/mL. Kedua ekstrak termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sangat kuat karena memiliki nilai IC₅₀ < 50μg/mL. Berdasarkan hasil tersebut, metode maserasi lebih efektif dibandingkan metode ultrasonik dalammenghasilkan ekstrak daun cengkeh dengan rendemen lebih tinggi dan aktivitas antioksidan yang lebih kuat.Kata kunci: daun cengkeh; ekstraksi; maserasi; ultrasonik; antioksidan.

Filter by Year

2022 2026