cover
Contact Name
Adit Widodo Santoso
Contact Email
adit.santoso@ukrida.ac.id
Phone
+6285171706076
Journal Mail Official
meditek@ukrida.ac.id
Editorial Address
Gedung A Lantai 5 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Kristen Krida Wacana, Jl. Arjuna Utara No. 6, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Meditek
ISSN : 26861437     EISSN : 26860201     DOI : https://doi.org/10.36452/jkdoktmeditek
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran MEDITEK merupakan jurnal ilmiah yang mempublikasikan artikel-artikel dalam lingkup bidang kedokteran dan biomedik secara open access. Proses publikasi artikel melalui proses penelaahan oleh pakar sebidang (peer-review) secara double-blind. Jurnal Kedokteran Meditek berafiliasi pada Fakultas Kedokterandan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana, dengan misi mendorong penyebarluasan perkembangan ilmu kedokteran & biomedis di Indonesia maupun secara global dengan menerbitkan 3 edisi dalam setahun, yaitu: Januari, Mei dan September.
Articles 623 Documents
Tinjauan Pustaka: Efikasi Permetrin 5% sebagai Terapi Skabies Dwina Irene; Monica Puspa Sari; Inneke Kusumawati Susanto
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i3.2324

Abstract

Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var hominis. Penyakit ini sangat mudah menyerang manusia yang hidup berkelompok seperti asrama, barak, dan lain-lain. Krim permetrin 5% merupakan tata laksana yang sering digunakan dan dinilai aman serta memiliki efektivitas yang tinggi. Meskipun permetrin sebagai obat pilihan utama yang baik untuk skabies, terdapat beberapa skabisida yang dinilai aman dan efektivitasnya sebanding dengan permetrin. Tujuan penulisan tinjauan pustaka ini dilakukan untuk mengetahui kemanjuran dari krim permetrin 5% yang dibandingkan dengan terapi skabies lainnya. Metode pencarian yang dilakukan pada studi literatur ini dengan cara pencarian basis data elektronik melalui Google scholar, Pubmed, dan Proquest. Dari literatur yang ditemukan didapatkan bahwa efikasi dan efektivitas terhadap obat skabies lebih banyak dimiliki oleh krim permetrin 5%, dengan angka kesembuhan di minggu akhir percobaan rata-rata mencapai 89-100%. Faktor yang memengaruhi efikasi seperti farmakokinetik, kepatuhan penggunaan obat, durasi waktu, dan resistensi terhadap permetrin. Permetrin 5% mempunyai efikasi yang lebih baik dibandingkan obat skabies lainnya. Pengaplikasian permetrin dengan pedoman waktu selama 8-12 jam dinilai cukup mampu mematikan tungau dan mengurangi lesi serta rasa gatal yang cepat.
Perbandingan Efektivitas Terapi Delayed-Onset Muscle Soreness: Studi Literatur Rebecca Olivia Haryuni; Hartanto Hartanto; Budiman Hartono
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i3.2328

Abstract

Delayed onset muscle soreness (DOMS) adalah salah satu tipe cedera otot yang terjadi saat berolahraga. Adanya DOMS ditandai dengan perasaan nyeri dan tidak nyaman pada otot yang digunakan secara berlebihan. Kondisi DOMS dapat berefek pada penurunan ruang gerak otot dan paralisis semu yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan performa otot ke depannya. Mekanisme DOMS memiliki berbagai teori seperti asam laktat, spasme otot, kerusakan jaringan otot, kerusakan jaringan ikat, inflamasi, dan efluks enzim. Aktivitas fisik yang dapat memicu terjadinya DOMS adalah kontraksi eksentrik, yaitu kontraksi intensitas tinggi dan tidak biasa. Berbagai terapi yang dapat dilakukan adalah cold water immersion (CWI), contrast water immersion, cryotheraphy, kompresi, perbaikan aktif, Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID), massage, heat treatment, antioksidan, vibrasi, dan whole body cryotherapy. Studi menunjukkan bahwa tidak semua modalitas terapi dapat menurunkan persepsi nyeri pada DOMS maupun biomarker inflamasi dan kerusakan jaringan. Hasil efektivitas terapi sangat bervariasi mengikuti waktu saat diberikan atau dosisnya.
Pengaruh Postur Duduk Membungkuk dalam Menimbulkan Kifosis Postural Hartanto
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i2.2331

Abstract

Kurangnya aktivitas sehari-hari menyebabkan banyak orang duduk dengan postur membungkuk. Apabila keadaan ini terjadi secara berkepanjangan dapat menjadi sebuah kebiasaan yang dapat menyebabkan kifosis postural. Pada kifosis postural, pertambahan derajat kurvatura tulang vertebra thoracal bersifat fleksibel atau dipengaruhi postur. Postur duduk membungkuk mengakibatkan tubuh menjadi lebih condong ke anterior dan mengubah good alignment tubuh sehingga kurvatura kifosis regio thoracal semakin meningkat dan kurvatura lordosis regio lumbal mendatar seperti pada penderita kifosis postural. Perubahan kurvatura ini dapat menimbulkan regangan yang melampaui batas resistensi pada ligamen bagian posterior vertebra dan meningkatkan tekanan mekanik pada discus intervertebralis. Kondisi ini berpotensi untuk mencetuskan kekakuan otot penegak punggung, keluhan nyeri punggung dan punggung bawah, hingga kepada proses inflamasi dan fenomena creep pada jaringan viscoelastis tulang vertebra. Kejadian kifosis postural progresif yang mengakibatkan kerusakan morfologi tulang dan jaringan lunaknya seperti yang ditemukan pada kifosis Scheuermann  belum ditemukan, meskipun pada keduanya terjadi trauma mekanik yang berkepanjangan.  
Hubungan Kelelahan Kerja dengan Sif Kerja pada Petugas Keamanan William; Flora Rumiati; Marcel Antoni; Wahyu Ari Agustina
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i1.2333

Abstract

Kelelahan kerja merupakan salah satu permasalahan kesehatan dan keselamatan kerja yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya kecelakaan kerja. Risiko kelelahan kerja akan meningkat pada pekerja yang menjalankan sif kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sif kerja dengan kelelahan kerja pada petugas keamanan di Universitas X. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Responden adalah petugas keamanan yang melakukan sif pagi dan sif malam. Pengukuran kelelahan kerja objektif menggunakan waktu reaksi dan subjektif dengan kuesioner alat ukur perasaan kelelahan kerja (KAUPK2). Digunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov untuk melihat hubungan sif kerja dengan kelelahan kerja. Didapatkan 73,33% petugas keamanan sif pagi, dan 66,67% sif malam berusia dewasa. Sebanyak 80% sif pagi dan 80% sif malam berstatus sudah menikah. Petugas sif pagi 56,67% memiliki masa kerja baru, dan 76,67% petugas keamanan sif malam memiliki masa kerja lama. Sebanyak 50% responden sif pagi, dan 56,66 sif malam dalam kategori berat badan lebih. Selama menjalankan sif kerja, 60% responden sif pagi dan 83,33% sif malam tertidur di jam bertugas. Di dapatkan nilai p > 0,05 untuk perbedaan kelelahan kerja objektif dan subjektif pada petugas keamanan sif pagi dan sif malam. Dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan  antara kelelahan kerja dengan sif kerja petugas keamanan di Universitas X.
Efikasi TENS untuk Mengatasi Nyeri Punggung dan Lutut dengan Penyebab Non-Spesifik: A Systematic Review Putu Nandika Tungga Yudanti Mahardani; Komang Diah Kurnia Kesumaputri; Visakha Karuna Wijaya; Dyah Kanya Wati
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i2.2334

Abstract

Nyeri muskuloskeletal menjadi masalah kesehatan utama yang menyerang para petani maupun profesi lainnya akibat beban fisik dan durasi kerja yang tinggi. Dengan keterbatasan modalitas terapi saat ini, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dapat menjadi terapi fisik yang potensial. Systematic review ini bertujuan untuk mengkaji efikasi TENS pada nyeri muskuloskeletal dengan penyebab non-spesifik di dua lokasi tubuh tersering, yaitu punggung dan lutut berdasarkan hasil Visual Analogue Scale (VAS). Pencarian studi Randomized Controlled Trial (RCT) dilakukan dengan menggunakan standardisasi Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Dari 1734 studi, diperoleh 16 studi RCT yang menilai efikasi TENS ditinjau dari nilai VAS dengan rincian 8 studi (181 pasien) pada regio lutut dan 8 studi (278 pasien) pada regio punggung. Rata-rata penurunan VAS pada regio lutut sebesar 46,50% dan regio punggung sebesar 49,81%. Penggunaan terapi TENS selama 30 menit dengan frekuensi rendah (<50 Hz) ataupun tinggi (>50 Hz) sudah dapat memberikan repons terapi. Lamanya durasi, tingginya frekuensi terapi, dan penggunaan TENS dalam bentuk kombinasi tidak sejalan dengan efikasi TENS. TENS memberikan efikasi yang baik terhadap nyeri punggung dan lutut dan memiliki keunggulan karena sifatnya yang portabel, mudah digunakan, dan murah.
Dampak Bangun Lebih Pagi terhadap Irama Sirkadian dan Mengantuk Rimawati Tedjasukmana; Jhordy Christanto Seleng; Steven Sakasasmita
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i2.2338

Abstract

Banyak orang harus bangun lebih pagi sebelum matahari terbit karena tuntutan pekerjaan, sekolah, atau agama. Hal ini kemungkinan akan memengaruhi irama sirkadian. Tujuan penelitian mencari perubahan irama sirkadian pada orang yang bangun dini hari melalui perubahan suhu inti tubuh, dan perubahan proses homeostasis.  Metode penelitian analitik pendekatan potong lintang, sampel penelitian 18 mahasiswa FKIK Ukrida angkatan 2016-2019 (21-24 tahun). Dibagi menjadi 2 kelompok, 13 subjek bangun jam 4-5 pagi (kelompok A) dan 5 subjek bangun jam 6-7 pagi (kelompok B). Suhu inti tubuh subjek diukur dengan termometer digital di ketiak setiap jam bangun selama 3 hari berturut-turut. Subjek mengisi kuesioner Epsworth Sleepiness Scale versi bahasa Indonesia. Analisis statistik menggunakan Chi-square. Hasil penelitian pada kelompok A suhu tubuh maksimum tercapai pada jam 18.00, kelompok B jam 19.00. Pada kelompok A circadian dip pada pukul 13.00, kelompok B pukul 15.00. Kelompok A 84,6% mengantuk berlebihan, kelompok B hanya 20% (p=0,022). Hasil penelitian sesuai perkiraan bahwa terjadi perubahan irama sirkadian pada orang yang bangun dini. Simpulan terjadi phase advance 1-2 jam irama sirkadian subjek bangun dini. Jadi sinar matahari tidak cukup kuat untuk entrainment pada subjek yang bangun dini. Selain itu subjek yang bangun dini lebih banyak mengalami mengantuk berlebihan sehingga menggambarkan pengaruh proses homeostasis.
Ketika Dokter Mengobati Keluarganya: Sebuah Tinjauan Etika Anthony Ekaputra; Liauw Djai Yen; Antonius Ritchie Castilani; Evelyn Angel Hernandes; Angelina Ernestine Putri Lunita; Felicia Gracia; Gregorio Gavriel Singgih
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 29 No 1 (2023): JANUARI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v29i1.2339

Abstract

Praktik dokter yang melakukan terapi kepada keluarga sendiri masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Indonesia belum mengeluarkan hukum terkait hal ini dan belum ada tinjauan etika yang membahas terkait permasalahan tersebut. Mengobati keluarga sendiri dianggap tidak profesional dan bertentangan dengan KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) 2012 Pasal 2, yaitu dokter dituntut untuk menjadi profesional secara independen. Berbagai alasan yang menyebabkan dokter tidak boleh mengobati anggota keluarganya yaitu objektivitas bisa terkompromi, pasien merasa sungkan mengemukakan informasi, otonomi pasien terkompromi, dan prinsip informed consent bisa terabaikan. Situasi khusus yang memperbolehkan dokter melakukan terapi kepada keluarga yaitu penyakit tergolong minor dan emergensi. Karena berbagai pergumulan muncul dari kalangan dokter akan praktik mengobati keluarganya sendiri, oleh karena itu tinjauan ini merangkum berbagai alasan apakah dokter diperbolehkan melakukan terapi terhadap keluarga sendiri dan situasi khusus yang memperbolehkannya. 
Patofisiologi, Diagnosis, dan Tata Laksana Dermatosis Neutrofilik yang Umum Ditemui Hendra Wijaya Wong
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 29 No 1 (2023): JANUARI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v29i1.2340

Abstract

Dermatosis neutrofilik adalah sebuah kelompok penyakit inflamasi kulit dengan predominasi infiltrat neutrofil yang steril dan memiliki manifestasi klinis yang berbeda-beda. Tertundanya diagnosis dan tatalaksana dapat menyebabkan morbiditas yang signifikan bahkan kematian. Tinjauan pustaka ini membahas manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, tata laksana, dan komplikasi dermatosis neutrofilik yang relatif umum ditemui, yaitu sindrom Sweet, pioderma gangrenosum, dermatosis pustular subkorneal, dan penyakit Behcet. Pilihan terapi umumnya bersifat imunosupresif dan perlu disesuaikan dengan diagnosis; pada kebanyakan kasus, kortikosteroid adalah terapi lini pertama diikuti agen imunosupresan lainnya seperti kolkisin dan siklosporin sampai agen biologik yang memiliki target spesifik. Pengenalan akan gambaran klinis dan tatalaksana yang adekuat wajib dimiliki oleh dokter spesialis dermatologi dan venereologi untuk menegakkan diagnosis sedini mungkin dan mencegah komplikasi.
Literature Review: Pengaruh Rokok terhadap Gambaran Histopatologi Kanker Paru Marcelinus Angriawan; Reni Angeline; Rebecca N Angka
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i3.2342

Abstract

Kanker paru menempati urutan nomor dua jenis kanker yang paling sering terdiagnosis serta penyebab kematian nomor satu akibat kanker di dunia. Faktor risiko utama kanker paru adalah terdapatnya riwayat merokok pada pasien. Riyawat merokok memiliki pengaruh terhadap gambaran histopatologi pasien kanker paru. World Health Organization (WHO) 2015 menjelaskan terdapat lima klasifikasi dari tumor paru yaitu tumor epithelial, mesenkimal, limfohistiositik, tumours of ectopic origin dan tumor metastatik. Tumor epithelial merupakan kelompok tumor paru terbanyak. Tujuan dari literature review ini adalah untuk mengetahui apakah gambaran histopatologi pada pasien terdiagnosis kanker paru dapat dipengaruhi oleh riwayat merokok dari pasien tersebut. Metode yang digunakan pada studi ini dengan cara pencarian artikel dalam database jurnal penelitian, pencarian melalui internet, dan tinjauan ulang artikel menggunakan Google scholar dan Pubmed. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan dalam literature review ini, dapat disimpulkan bahwa Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) varian karsinoma sel skuamosa dan Small Cell Lung Cancer (SCLC) yang merupakan tumor neuroendokrin adalah jenis kanker paru yang memiliki hubungan paling erat dengan riwayat merokok, namun secara keseluruhan adenokarsinoma masih menjadi jenis kanker paru dengan prevalensi terbesar yang disebabkan oleh beberapa alasan.
Potensi Hibiscus sabdariffa Linn. Memodulasi GLP-1 dan Neuropeptide Y (NPY) di Nucleus Arcuatus pada Tikus Obes Rickie; Neng Tine Kartinah; Minarma Siagian; Nurhadi Ibrahim; Suci Anggraini
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i2.2346

Abstract

Gangguan pada pusat pengaturan nafsu makan dapat menyebabkan obesitas. Glucagon like Peptide -1 (GLP-1) dan Neuropeptide Y (NPY) merupakan dua peptida penting yang terlibat dalam pengendalian nafsu makan. Beberapa penelitian menunjukkan Hibiscus sabdariffa Linn. memiliki potensi dalam pengendalian obesitas dengan memodulasi kadar GLP-1 dan NPY di perifer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana potensi Hibiscus sabdariffa Linn.(HSL) dalam memodulasi kadar GLP-1 dan NPY di sentral khususnya di Nucleus Arcuatus. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan yang menggunakan jaringan otak tikus tersimpan yang berasal dari 24 ekor tikus Spraque Dawley jantan umur 6 -10 minggu, berat badan antara 90 -160 gram, yang dibagi dalam 4 kelompok yaitu: Normal(C); Obes(Ob); Obes-Hib200(Ob-Hib200); Obes-Hib400(Ob-Hib400). Ekstrak HSL diberikan secara oral satu kali per hari selama 5 minggu. Sampel diperoleh dari hasil isolasi ARC, kemudian dilakukan pengukuran kadar GLP-1 dan NPY menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak HSL dosis 400mg/KgBB/hari dapat meningkatkan kadar GLP-1 paling tinggi, dibandingkan dengan kelompok tikus lainnya, sekaligus dapat menurunkan kadar NPY dibandingkan dengan kelompok tikus Obes(Ob) dan Obes-Hib(200), meskipun secara analisis tidak terdapat perbedaan bermakna. Dosis ekstrak HSL berperan penting dalam efektifitasnya memodulasi kadar GLP-1 dan NPY di ARC untuk membantu mengendalikan nafsu makan sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya obesitas.

Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 2 (2026): Maret Vol 32 No 1 (2026): Januari Vol 31 No 6 (2025): November Vol 31 No 5 (2025): SEPTEMBER Vol 31 No 4 (2025): JULI Vol 31 No 3 (2025): MEI Vol 31 No 2 (2025): MARCH Vol 31 No 1 (2025): JANUARI Vol 30 No 3 (2024): SEPTEMBER Vol 30 No 2 (2024): MEI Vol 30 No 1 (2024): JANUARI Vol 29 No 3 (2023): SEPTEMBER Vol 29 No 2 (2023): MEI Vol 29 No 1 (2023): JANUARI Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 27 No 2 (2021): MEI - AGUSTUS Vol 27 No 1 (2021): JANUARI - APRIL Vol 26 No 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 26 No 2 (2020): MEI-AGUSTUS Vol 26 No 1 (2020): JANUARI - APRIL Vol 25 No 3 (2019): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 25 No 2 (2019): MEI - AGUSTUS Vol 25 No 1 (2019): JANUARI - APRIL VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018 VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018 VOL. 24 NO. 66 APRIL-JUNI 2018 VOL. 24 NO. 65 JANUARI-MARET 2018 VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017 VOL. 23 NO. 63 JULI-SEPTEMBER 2017 VOL. 23 NO. 62 APRIL-JUNI 2017 VOL. 23 NO. 61 JANUARI-MARET 2017 VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016 VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016 VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016 Vol. 21 No. 57 September-Desember 2015 Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015 Vol. 21 No. 55 Januari - April 2015 Vol. 20 No. 54 September-Desember 2014 Vol. 20 No. 53 Mei-Agustus 2014 Vol. 20 No. 52 Januari-April 2014 Vol. 18 No. 48 September - Desember 2012 Vol. 18 No. 47 Mei - Agustus 2012 Vol. 18 No. 46 Januari - April 2012 Vol. 17 No. 45 September - Desember 2011 vol. 17 no. 44 Mei-Agustus 2011 vol. 17 no. 43 Januari-April 2011 Vol. 16 No. 43B Mei - Agustus 2010 Vol. 16 No. 42A Januari - April 2010 vol. 16 no. 42 September-Desember 2009 vol. 15 no. 40 Januari-April 2009 Vol. 15 No. 39C Januari-April 2008 Vol. 15 No. 39E September-Desember 2008 Vol. 15 No. 39B September-Desember 2007 vol. 15 no. 39 Januari-April 2007 Vol. 15 No. 39A Mei-Agustus 2007 vol. 14 no. 38 September-Desember 2006 vol. 14 no. 37 Mei-Agustus 2006 vol. 14 no. 36 Januari-April 2006 vol. 13 no. 35 September-Desember 2005 vol. 13 no. 34 Mei-Agustus 2005 vol. 13 no. 33 Januari-April 2005 vol. 12 no. 32 September-Desember 2004 vol. 12 no. 31 Mei-Agustus 2004 vol. 12 no. 30 January-April 2004 vol. 11 no. 29 Agustus-Desember 2003 vol. 11 no. 28 April-July 2003 Vol. 10 No. 27 Januari-April 2002 Vol. 9 No. 26 September - Desember 2001 Vol. 9 No. 25 Mei-Agustus 2001 Vol. 8 No. 23 September - Desember 2000 Vol. 7 No. 20 Juli-Oktober 1999 Vol. 6 No. 17 Oktober-Desember 1998 Vol. 6 No. 15 April-Juni 1998 Vol. 5 No. 13 Oktober-Desember 1997 Vol. 5 No. 12 Juli-September 1997 Vol. 5 No. 11 Juli-September 1997 Vol. 4 No. 10 September-Desember 1996 Vol. 4 No. 9 Mei-Agustus 1996 Vol. 4 No. 8 Januari-April 1996 Vol. 3 No. 7 September-Desember 1995 Vol. 3 No. 6 Mei-Agustus 1995 Vol. 3 No. 5 Januari-April 1995 More Issue