cover
Contact Name
Adit Widodo Santoso
Contact Email
adit.santoso@ukrida.ac.id
Phone
+6285171706076
Journal Mail Official
meditek@ukrida.ac.id
Editorial Address
Gedung A Lantai 5 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Kristen Krida Wacana, Jl. Arjuna Utara No. 6, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Meditek
ISSN : 26861437     EISSN : 26860201     DOI : https://doi.org/10.36452/jkdoktmeditek
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran MEDITEK merupakan jurnal ilmiah yang mempublikasikan artikel-artikel dalam lingkup bidang kedokteran dan biomedik secara open access. Proses publikasi artikel melalui proses penelaahan oleh pakar sebidang (peer-review) secara double-blind. Jurnal Kedokteran Meditek berafiliasi pada Fakultas Kedokterandan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana, dengan misi mendorong penyebarluasan perkembangan ilmu kedokteran & biomedis di Indonesia maupun secara global dengan menerbitkan 3 edisi dalam setahun, yaitu: Januari, Mei dan September.
Articles 623 Documents
Description The Nerve Conduction Velocity Of Tibial Nerve To The Use Of High Heels On Students 2017 Faculty Of Medicine UKRIDA Handy Winata; Yustita Sari Tongko; Steven Sakasasmita
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v27i3.2233

Abstract

Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa pemakaian sepatu hak tinggi minimal 5 cm selama lebih atau sama dengan 1 tahun dengan durasi minimal 6 jam menyebabkan keluhan nyeri ringan hingga berat. Secara umum otot-otot tungkai bawah dipersarafi terutama oleh nervus tibialis. Salah satu pemeriksaan neurofisiologis untuk menilai aktivitas sistem saraf perifer berupa pemeriksaan nilai Kecepatan Hantaran Saraf (KHS) dengan menggunakan alat berupa Elektroneuromiografi (ENMG). Terdapat dua faktor utama yang memengaruhi hasil nilai KHS, yaitu faktor fisiologis berupa usia, indeks massa tubuh, tinggi badan, berat badan, dan jenis kelamin. Faktor kedua yaitu non-fisiologis berupa diameter serabut saraf, derajat mielinisasi dan jarak stimulasi. Desain penelitian ini adalah cross-sectional, dengan analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif, dan metode statistik menggunakan persentase dan rerata. Responden adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida sebanyak 42 orang. Hasil rerata nilai kecepatan hantaran saraf motorik tibialis berdasarkan ukuran tinggi hak 1-4 cm sebesar 56,43 m/s, 5-7 cm sebesar 52,77 m/s dan >7 cm sebesar 69,39 m/s. Hasil berdasarkan durasi penggunaan sepatu hak tinggi <1 tahun sebesar 54,96 m/s, 2-3 tahun 57,41 m/s dan >3 tahun sebesar 56,09 m/s, hasil ini menunjukkan bahwa berdasarkan ukuran tinggi hak maupun durasi penggunaan sepatu terhadap rerata nilai kecepatan hantaran saraf motorik tibialis tidak ditemukan hasil yang terlalu berbeda pada penelitian ini.
Karakteristik Pasien Kanker Stadium 4 yang Mendapatkan Perawatan Paliatif di Rumah Sakit X Ronald Wongkar; Rebecca N Angka; Reni Angeline
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i2.2235

Abstract

Kanker menjadi penyebab kematian nomor dua di dunia. Di Indonesia terjadi peningkatan jumlah pasien kanker dari 1,4/1000 penduduk pada tahun 2013 menjadi 1,79/1000 penduduk pada tahun 2018. Sebanyak 70% pasien datang pada stadium 4 sehingga diperlukan perawatan paliatif. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dan teknik waktu secara cross sectional dengan tujuan untuk mengetahui jumlah dan karakteristik pasien kanker stadium lanjut yang mendapatkan perawatan paliatif di Rumah Sakit X pada Januari-Juni 2020. Karakteristik yang diambil berupa jenis kanker, umur, jenis kelamin, status pernikahan, jenis pekerjaan, asal daerah, stadium ketika terdiagnosis, jenis pengobatan, keluhan awal, keluhan tersering, dan metode bayar yang digunakan. Kebanyakan pasien berjenis kelamin perempuan dan sudah menikah. Jenis kanker terbanyak yaitu kanker paru pada laki-laki dan kanker payudara pada perempuan dengan distribusi umur terbanyak pada 45-54 tahun dan mayoritas pasien berasal dari DKI Jakarta, bekerja sebagai karyawan swasta dan ibu rumah tangga. Semua kanker terdiagnosis pada stadium 4 sehingga pasien mendapatkan terapi kombinasi. Gejala terbanyak yang dirasakan pasien berupa nyeri dan kebanyakan pasien menggunakan asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Oleh karena setiap tahun jumlah pasien kanker terus meningkat dan datang pada stadium 4, maka diperlukan perawatan paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Body Dysmorphic Disorder di Layanan Estetik: Prevalensi, Problematika, dan Deteksi Dini Agustini Song; Mahaputra Mahaputra
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i1.2236

Abstract

Body Dysmorphic Disorder (BDD) merupakan salah satu gangguan jiwa dengan prevalensi yang bermakna namun seringkali tidak terdiagnosis. Orang dengan BDD sering datang ke layanan estetik untuk merubah penampilan mereka melalui tindakan operasi. Hingga saat ini belum ada data atau literatur mengenai BDD di layanan estetik di Indonesia. Tujuan tulisan ini adalah membahas mengenai prevalensi BDD di layanan estetik, problematika yang dihadapi oleh dokter layanan estetik, dan deteksi dini BDD di layanan estetik. Metode penelusuran dengan pencarian pustaka yang relevan secara online. Prevalensi BDD di layanan estetik lebih besar daripada populasi umum karena mayoritas orang dengan BDD mencari pengobatan ke layanan non-psikiatri seperti klinik bedah plastik estetik dan dermatologi. Di sisi lain, kesadaran dokter layanan estetik terhadap klien dengan BDD masih rendah dan masih terdapat perbedaan pendapat mengenai BDD sebagai kontraindikasi tindakan operasi. Tindakan operasi pada klien dengan BDD berpotensi memperburuk BDD dan menyebabkan ancaman terhadap dokter yang menangani, seperti gugatan legal bahkan pembunuhan. Deteksi dini BDD di layanan estetik dapat dilakukan dengan alat skrining BDD dan dilanjutkan dengan rujukan ke layanan psikiatri. Kesadaran dan deteksi dini BDD di layanan estetik krusial agar orang dengan BDD mendapatkan penanganan psikiatri yang dibutuhkan dan risiko masalah legal bagi dokter yang menangani dapat dikurangi.
Faktor Risiko Prediktor Bakteremia pada Pasien Nekrolisis Epidermal Evidence Based Case Report Shafira Anindya; Parikesit Muhammad; Windy Keumala Budianti
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i1.2240

Abstract

Nekrolisis epidermal (NE) yang terbagi atas Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan nekrolisis epidermal toksik (NET) merupakan reaksi simpang obat berat dengan mortalitas tinggi. Penyebab kematian terbanyak pada NE adalah sepsis, namun gejala sepsis tidak spesifik pada NE dan hasil kultur darah membutuhkan waktu lama. Oleh karena itu penting mengetahui prediktor yang berpengaruh terhadap peningkatan risiko bakteremia pada pasien dengan NE. Evidence-based case report ini bertujuan mengetahui faktor prediktor terjadinya bakteremia pada pasien NE berdasarkan literatur. Pencarian artikel menggunakan basis data PubMed, Cochrane, dan Scopus yang relevan dengan pertanyaan klinis untuk kemudian ditelaah. Didapatkan dua artikel kohort yang sesuai. Studi Koh dkk. mendapatkan tiga prediktor yang berpengaruh terhadap kejadian bakteremia pada pasien NE; yaitu hemoglobin ≤ 10 g/dL (odds ratio [OR] 2,4; interval kepercayaan [IK] 95% 2,2-2,6), luas epidermolisis ≥ 10% (OR 14,3; IK 95% 13,4-15,2) dan penyakit komorbid kardiovaskular (OR 2,1; IK 95% 2,0-2,3). Studi De Prost dkk. mendapatkan tiga prediktor yaitu usia > 40 tahun (hazard ratio [HR] 2,5; IK 95% 1,35-4,63), leukosit > 10.000/mm3 (HR 1,9; IK 95% 0,96-3,61), serta LPB ≥ 30% (HR 2,5; IK 95% 1,13-5,47). Epidermolisis yang lebih luas merupakan faktor prediktor terjadinya bakteremia pada NE di kedua studi. Faktor risiko lainnya memerlukan penelitian lebih lanjut.
Analisis Efikasi dan Efektivitas Vaksin COVID-19 terhadap Varian SARS-CoV-2: Sebuah Tinjauan Literatur Willi Fragcana Putra
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i1.2243

Abstract

Varian of Concern dari SARS-CoV-2 memiliki karakteristik penyebaran yang lebih tinggi, meningkatkan keparahan penyakit dan berpotensi menurunkan efikasi dan efektivitas vaksin jika dibandingkan dengan varian wild. WHO melaporkan varian COVID-19 yang menjadi perhatian adalah Alpha (B.1.1.7), Beta (B.1.351), Gamma (P.1) dan Delta (B.1.617.2). Review ini bertujuan sebagai sumber data untuk efikasi dan efektivitas vaksin yang disetujui di Indonesia, yaitu Moderna (mRNA-1273), Pfizer/BioNTech (BNT162b2), Oxford/AstraZeneca (AZD1222), Sinopharm Beijing (BBIBP-CorV Vero Cells) dan Sinovac (CoronaVac) terhadap infeksi varian SARS-CoV-2 tanpa gejala dan dengan gejala yang diikuti tingkat keparahan akibat infeksi (rawat inap atau kematian). Tujuan penulisan tinjauan literatur ini adalah untuk menganalisis efikasi dan efektivitas vaksin COVID-19 terhadap varian SARS-CoV-2. Review ini penting sebagai sumber data pendukung mengenai efikasi dan efektivitas vaksin yang disetujui di Indonesia berdasarkan uji coba fase yang dilakukan secara global. Hasilnya menunjukkan Varian of Concern dari SARS-CoV-2 memiliki kemampuan mengurangi netralisasi antibodi secara in vitro. Namun, belum ada laporan terkait dampak signifikan varian SARS-CoV-2 terhadap efikasi dan efektivitas vaksin yang menunjukkan bahwa mutasi virus secara dominan meningkatkan laju penularan, tetapi tidak selalu menurunkan proteksi respons imun.
Peranan Mycoplasma genitalium pada Infeksi Menular Seksual Erico Lemuel Yonathan
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i2.2264

Abstract

Mycoplasma genitalium merupakan suatu mikroorganisme yang berasal dari kelas Mollicutes, tumbuh lambat, dan mampu bereplikasi secara independen. Mycoplasma genitalium telah ditetapkan sebagai salah satu organisme patogen penyebab infeksi menular seksual dalam beberapa dekade terakhir. Transmisi M. genitalium dapat secara genito-genital, ano-genital, namun jarang secara oro-genital. Infeksi M. genitalium dapat bersifat asimptomatik, namun dapat berupa uretritis akut atau kronik, servisitis, dan penyakit radang panggul. Deteksi M. genitalium dengan pewarnaan Gram dan kultur sulit dilakukan, sehingga memerlukan amplifikasi asam nukleat. Penderita infeksi M. genitalium perlu diberikan edukasi menyeluruh mengenai penyakitnya bersama dengan pasangan seksualnya, dan disarankan melakukan abstinensia hubungan seksual selama 14 hari atau hingga gejala sembuh. Terapi infeksi M. genitalium berupa antibiotik seperti makrolida, fluorokuinolon, tetrasiklin, dan pristinamisin. Tingkat resistensi antibiotik yang tinggi merupakan tantangan dalam menangani infeksi M. genitalium. Artikel ini akan merangkum mengenai infeksi M. genitalium, termasuk epidemiologi, gejala klinis, diagnosis, tata laksana, dan tantangan dalam mengobati infeksi M. genitalium, serta peranannya dalam infeksi menular seksual.
Kadar 25(OH)D pada Pasien Lupus Eritematosus Sistemik di Indonesia Kereun Yobelium Witan; Elli Arsita; Todung Donald Aposan Silalahi
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i2.2267

Abstract

Vitamin D memiliki peran dalam sistem kekebalan tubuh, terutama sistem imun adaptif dalam toleransi diri dan menghasilkan antibodi pada pasien dengan autoimun. Defisiensi vitamin D merupakan hal yang sering ditemukan pada pasien Lupus Eritematosus Sistemik (LES). Hal ini dapat dikarenakan pantangan terhadap paparan sinar matahari, insufisiensi ginjal, penggunaan obat–obatan yang menurunkan regulasi reseptor vitamin D, dan penggunaan sunscreen. Tujuan penulisan ilmiah ini adalah untuk mengetahui kadar vitamin D pada pasien LES di Indonesia. Data didapatkan dari jurnal penelitian yang diambil melalui Google Scholar, Proquest, Pubmed, dan Science Direct. Hasil pencarian didapatkan 4 artikel yang mengambil lokasi penelitian di Malang, 2 artikel di Jakarta, dan 1 artikel di Yogyakarta. Simpulannya adalah bahwa 63,74% pasien LES di Indonesia memiliki defisiensi kadar vitamin D yang disebabkan oleh kurangnya paparan sinar matahari, warna kulit, penggunaan sunblock, memiliki manifestasi klinis nefritis, penggunaan obat–obatan (kortikosteroid dan anti malaria), Indeks Masa Tubuh (IMT) di atas normal, kurangnya konsumsi makanan yang mengandung vitamin D, dan konsumsi suplemen vitamin D yang tidak adekuat.
Hubungan antara Adiksi Telepon Pintar dengan Refleks Berkedip dan Kuantitas Air Mata Salma Tania; Nurfitri Bustamam; Winda Lestari
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i1.2278

Abstract

Adiksi telpon pintar meningkatkan paparan blue light yang bersifat merusak kornea dan lapisan air mata sehingga dapat mempengaruhi refleks berkedip dan sekresi air mata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara adiksi telepon pintar dengan refleks berkedip dan kuantitas air mata pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Penelitian menggunakan desain potong lintang. Sebanyak 88 subjek dengan kriteria menggunakan telpon pintar, tidak memakai softlens dan obat tetes mata serta tidak memiliki riwayat operasi mata, alergi mata, dan Sindroma Sjorgen, ditentukan menggunakan teknik simple random sampling. Data diambil menggunakan kuesioner smartphone addiction scale, rekaman video, dan Schirmer I Test. Hasil penelitian didapatkan subjek berusia 20 (18-23) tahun, 76,1% perempuan dan 45,5% menggunakan telpon pintar lebih dari 6 jam sehari. Sebanyak 52,3% subjek mempunyai adiksi telepon pintar dengan frekuensi refleks berkedip 11 (3-32) kali/menit dan kuantitas air mata 30,5 (4-35) mm dalam 5 menit. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan tidak ada hubungan antara adiksi telepon pintar dengan refleks berkedip (p = 0,537), tetapi ada hubungan antara adiksi telepon pintar dengan kuantitas air mata (p = 0,011).
Pemberian Hidrolisat Protein Kacang Polong Terhadap Kadar Superoksida Dismutase dan Perbaikan Kerusakan Ginjal Tikus Laboratorium Jeanny E Ladi; David Kristiadi Herjanto; Roro Wahyudianingsih; Meilinah Hidayat
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i1.2282

Abstract

Antioksidan merupakan substansi yang dapat mencegah kerusakan sel akibat stres oksidatif. Hidrolisat protein dari kacang polong hijau (Pisum sativum) dengan bromelain (HPPHB) diharapkan meningkatkan kadar antioksidan superoxide dismutase (SOD) dan mampu mencegah kerusakan ginjal. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh HPPHB terhadap kadar SOD, kadar kreatinin plasma dan histopatologis ginjal tikus yang diinduksi Cisplatin. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, pemberian HPPHB dosis 100, 200 dan 400 mg/kgBB/h selama 28 hari terhadap kadar SOD tikus jantan dan betina Sprague Dawley (SD) tanpa induksi dan tikus yang diinduksi Cisplatin dengan parameter kadar kreatinin plasma dan histopatologis ginjal dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE). Hasil menunjukkan kadar SOD kelompok tikus kontrol berbeda bermakna dan sangat bermakna dengan kelompok perlakuan. Hasil pemeriksaan kreatinin plasma menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat bermakna (p<0,01) antara kontrol positip dengan kelompok dosis 400 mg/kgBB. Hasil analisis mikroskopis histopatologis parameter nekrosis: kelompok perlakuan dosis 200 menunjukkan paling sedikit nekrosis di antara ke tiga dosis,  berbeda signifikan dengan kontrol positip, maupun kontrol negatip (p<0,05). Parameter densitas sel mesangium, semua kelompok dosis perlakuan tidak berbeda signifikan dengan kontrol negatip maupun kontrol positip. Simpulan, HPPHB meningkatkan kadar SOD dan menunjukkan efek perbaikan kadar kreatinin plasma dan nekrosis sel tubulus ginjal tikus SD yang diinduksi Cisplatin.
Indeks Subjek dan Penulis Jurnal Kedokteran Meditek
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v27i3.2284

Abstract

.

Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 2 (2026): Maret Vol 32 No 1 (2026): Januari Vol 31 No 6 (2025): November Vol 31 No 5 (2025): SEPTEMBER Vol 31 No 4 (2025): JULI Vol 31 No 3 (2025): MEI Vol 31 No 2 (2025): MARCH Vol 31 No 1 (2025): JANUARI Vol 30 No 3 (2024): SEPTEMBER Vol 30 No 2 (2024): MEI Vol 30 No 1 (2024): JANUARI Vol 29 No 3 (2023): SEPTEMBER Vol 29 No 2 (2023): MEI Vol 29 No 1 (2023): JANUARI Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 27 No 2 (2021): MEI - AGUSTUS Vol 27 No 1 (2021): JANUARI - APRIL Vol 26 No 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 26 No 2 (2020): MEI-AGUSTUS Vol 26 No 1 (2020): JANUARI - APRIL Vol 25 No 3 (2019): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 25 No 2 (2019): MEI - AGUSTUS Vol 25 No 1 (2019): JANUARI - APRIL VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018 VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018 VOL. 24 NO. 66 APRIL-JUNI 2018 VOL. 24 NO. 65 JANUARI-MARET 2018 VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017 VOL. 23 NO. 63 JULI-SEPTEMBER 2017 VOL. 23 NO. 62 APRIL-JUNI 2017 VOL. 23 NO. 61 JANUARI-MARET 2017 VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016 VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016 VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016 Vol. 21 No. 57 September-Desember 2015 Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015 Vol. 21 No. 55 Januari - April 2015 Vol. 20 No. 54 September-Desember 2014 Vol. 20 No. 53 Mei-Agustus 2014 Vol. 20 No. 52 Januari-April 2014 Vol. 18 No. 48 September - Desember 2012 Vol. 18 No. 47 Mei - Agustus 2012 Vol. 18 No. 46 Januari - April 2012 Vol. 17 No. 45 September - Desember 2011 vol. 17 no. 44 Mei-Agustus 2011 vol. 17 no. 43 Januari-April 2011 Vol. 16 No. 43B Mei - Agustus 2010 Vol. 16 No. 42A Januari - April 2010 vol. 16 no. 42 September-Desember 2009 vol. 15 no. 40 Januari-April 2009 Vol. 15 No. 39C Januari-April 2008 Vol. 15 No. 39E September-Desember 2008 vol. 15 no. 39 Januari-April 2007 Vol. 15 No. 39A Mei-Agustus 2007 Vol. 15 No. 39B September-Desember 2007 vol. 14 no. 38 September-Desember 2006 vol. 14 no. 37 Mei-Agustus 2006 vol. 14 no. 36 Januari-April 2006 vol. 13 no. 35 September-Desember 2005 vol. 13 no. 34 Mei-Agustus 2005 vol. 13 no. 33 Januari-April 2005 vol. 12 no. 32 September-Desember 2004 vol. 12 no. 31 Mei-Agustus 2004 vol. 12 no. 30 January-April 2004 vol. 11 no. 29 Agustus-Desember 2003 vol. 11 no. 28 April-July 2003 Vol. 10 No. 27 Januari-April 2002 Vol. 9 No. 26 September - Desember 2001 Vol. 9 No. 25 Mei-Agustus 2001 Vol. 8 No. 23 September - Desember 2000 Vol. 7 No. 20 Juli-Oktober 1999 Vol. 6 No. 17 Oktober-Desember 1998 Vol. 6 No. 15 April-Juni 1998 Vol. 5 No. 13 Oktober-Desember 1997 Vol. 5 No. 12 Juli-September 1997 Vol. 5 No. 11 Juli-September 1997 Vol. 4 No. 10 September-Desember 1996 Vol. 4 No. 9 Mei-Agustus 1996 Vol. 4 No. 8 Januari-April 1996 Vol. 3 No. 7 September-Desember 1995 Vol. 3 No. 6 Mei-Agustus 1995 Vol. 3 No. 5 Januari-April 1995 More Issue