cover
Contact Name
MAYA KHAIRANI
Contact Email
jimpsi.fk@usk.ac.id
Phone
+6285261502720
Journal Mail Official
jimpsi.fk@usk.ac.id
Editorial Address
Jl. Tgk. Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Banda Aceh, Provinsi Aceh, 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Syiah Kuala Psychology Journal
ISSN : -     EISSN : 3030976X     DOI : 10.24815/skpj
Syiah Kuala Psychology Journal (SKPJ) is an online academic journal and interested in empirical studies in psychological area. SKPJ is a peer-reviewed journal. Syiah Kuala Psycology Journal receives manuscripts that focused on psychological research and applied psychology. Humanities studies related to psychological science are the scope that also considered in Syiah Kuala Psycology Journal. Every published article will go through a peer-review process by experts who have experience in managing journals and publishing articles in prestigious journals. Every published article has met the requirements set by the SKPJ Editorial Board. SKPJ accepts and publishes psychology student research articles which are published twice a year in April and October.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2025)" : 8 Documents clear
Gambaran Tingkat Stres, Cemas, dan Depresi Pada Mahasiswa Yang Sedang Menyusun Skripsi: Studi Komparasi Exsa, Priya; Mardhiah, Ainun; Raihan, Gebrina; Luthfiya, Nura; Maqfira, Nurul; Azkiya, Nyak Dara; Qarar, Wan Miftahul; Amna, Zaujatul
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.34438

Abstract

A thesis is a scientific paper that is one of the requirements for graduation at the bachelors degree level (S1), which requires students to think critically, work independently, and manage academic pressure well. Writing a thesis often triggers stress, anxiety, and depression, which can affect students' psychological conditions. Gender differences also affect individual responses to academic pressure. The purpose of this study was to determine the level of stress, anxiety, and depression in students who are writing a thesis based on gender using a quantitative approach with a comparative design. 60 students were involved as research samples obtained through accidental sampling techniques, and data were collected online and offline using the DASS-21 instrument, which was then analyzed using the non-parametric independent sample t-test. The results of the study showed differences in the levels of stress, anxiety, and depression between male and female students who are writing a thesis. These findings indicate that students' psychological conditions are influenced by gender factors. The implications of this study can be used as a basis for developing psychological interventions that are more targeted and responsive to gender differences in the university environment.Skripsi merupakan karya tulis ilmiah yang menjadi salah satu syarat kelulusan pada jenjang Sarjana Strata Satu (S1), yang menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis, bekerja mandiri, dan mengelola tekanan akademik dengan baik. Proses penyusunan skripsi sering kali memicu stres, kecemasan, dan depresi, yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa. Perbedaan jenis kelamin juga memengaruhi respons individu terhadap tekanan akademik tersebut. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat stres, kecemasan, dan depresi pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi berdasarkan jenis kelamin dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif. Sebanyak 60 mahasiswa terlibat sebagai sampel penelitian yang diperoleh melalui teknik accidental sampling, dan data dikumpulkan secara daring dan luring menggunakan instrumen DASS-21, yang kemudian dianalisis menggunakan uji non-parametrik Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat stres, kecemasan, dan depresi antara mahasiswa laki-laki dan perempuan yang sedang menyusun skripsi. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi psikologis mahasiswa dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin. Implikasi dari penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan intervensi psikologis yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap perbedaan gender di lingkungan perguruan tinggi.
Keputusan Gen Z Melanjutkan Hidup dengan atau Tanpa Menikah Rahmatillah, Rahmatillah; Muslimah, Ranisah Azza; Azura, Nona; Putriani, Putriani; Aliyah, Nur; Riamanda, Irin
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.30687

Abstract

The decision-making process regarding marital commitment serves as a crucial foundation in determining whether to pursue or forgo marriage. This study aims to explore how members of Generation Z make decisions related to marital commitment and the influencing factors behind those decisions. The research involved five individuals from Generation Z residing in various districts/cities within Aceh Province. Data were collected through in-person and video call interviews, then analyzed using thematic analysis. The findings reveal variations in the decision-making process. Decisions to marry were influenced by strong family support, religious values, positive beliefs about marriage, and love for a partner. In contrast, decisions to remain unmarried were shaped by past experiences such as abuse, parental marital conflict, personal values and beliefs, and a desire for independence. Viewing marriage as an unsuitable solution for personal problems also emerged as a contributing factor. These findings provide insight into the motivations and considerations underlying marital commitment decisions among Generation Z.Proses pengambilan keputusan terhadap komitmen pernikahan merupakan landasan penting dalam menentukan pilihan untuk menikah atau tidak. Penelitian ini bertujuan mengkaji proses pengambilan keputusan Generasi Z terkait komitmen pernikahan serta faktor-faktor yang memengaruhi keputusan tersebut. Subjek penelitian terdiri atas lima individu dari Generasi Z yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung dan panggilan video, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam proses pengambilan keputusan. Keputusan untuk menikah dilandasi oleh dukungan keluarga, nilai agama, keyakinan positif terhadap pernikahan, dan cinta terhadap pasangan. Sementara itu, keputusan untuk tidak menikah dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu seperti pelecehan, ketidakharmonisan rumah tangga orang tua, nilai dan keyakinan pribadi, serta keinginan untuk hidup bebas dan mandiri. Pandangan bahwa pernikahan bukan merupakan solusi atas permasalahan pribadi juga menjadi faktor yang diperhatikan. Temuan ini memberikan gambaran tentang motivasi dan pertimbangan yang mendasari pengambilan keputusan komitmen pernikahan pada Generasi Z.
Hubungan Antara Social Comparison Orientation Dengan Social Media Addiction Pada Mahasiswa Pengguna Tiktok Afsyukma, Marhaban; Sulistyani, Arum; Rachmatan, Risana; Riamanda, Irin
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.34446

Abstract

The use of TikTok has become a routine for college students in this digital era. Prolonged and irregular use of social media platforms has the potential to pose various challenges and result in social media addiction problems. Not only that, social media provides many opportunities and easy access to engage in social comparison and lead to the consequences of social media addiction. This study aims to determine the relationship between social comparison orientation and social media addiction in student TikTok users. The sampling technique used incidental sampling technique. The sample of this study amounted to 352 (75 men and 277 women) students of Syiah Kuala University. SCO in this study was measured using the Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) consisting of 11 items. Meanwhile, the measuring instrument for social media addiction using the Social Media Addiction-Student Form consists of 29 items. The results of statistical analysis of this study indicate a significant positive relationship between social comparison orientation and social media addiction (r = 0.484; p 0.001). These results indicate that the higher the social comparison made, the higher the social media addiction in TikTok users and vice versa. This study emphasizes the role of social comparison in social media addiction where individuals who engage in social comparison tend to develop addictive behavior towards social media and shows that the content consumed can significantly influence it. Penggunaan TikTok telah menjadi sebuah rutinitas mahasiswa di era digital ini. Penggunaan platform media sosial yang berkepanjangan dan tidak teratur berpotensi menimbulkan berbagai tantangan dan mengakibatkan masalah kecanduan media sosial. Tidak hanya itu media sosial memberikan banyak peluang dan akses mudah untuk terlibat dalam perbandingan sosial dan menimbulkan konsekuensi kecanduan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social comparison orientation dengan social media addiction pada mahasiswa pengguna TikTok. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik incidental sampling. Sampel penelitian ini berjumlah 352 (75 laki-laki dan 277 perempuan) mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Mahasiswa pengguna TikTok di Universitas Syiah Kuala menggunakan TikTok sebagai sarana untuk menghilangkan stres akibat tugas yang banyak dan jadwal padat. Aktivitas seperti scrolling TikTok menjadi salah satu cara untuk mencari hiburan dan mengurangi kejenuhan. Social comparison orientation (SCO) pada penelitian ini diukur dengan menggunakan Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) terdiri dari 11 aitem. Sementara itu alat ukur social media addiction menggunakan Social Media Addiction-Student Form terdiri dari 29 aitem. Hasil analisis statistik penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antarasocial comparison orientationdansocial media addiction(r = 0,484; p 0,001). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi perbandingan sosial yang dilakukan, maka semakin tinggi pula kecanduan media sosial pada mahasiswa pengguna TikTok begitu pula sebaliknya. Penelitian ini menekankan peran perbandingan sosial dalam kecanduan media sosial dimana individu yang terlibat dalam perbandingan sosial cenderung mengembangkan perilaku adiktif terhadap media sosial serta menunjukkan bahwa konten yang dikonsumsi dapat mempengaruhi secara signifikan.
Perilaku Cyberslacking dan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Universitas Syiah Kuala Sulha, Khalila; Yulandari, Nucke; Iskandar, Iskandar; Faradina, Syarifah
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.33422

Abstract

University Students are often faced with various academic demands that require good time management and discipline. However, many of them tend to engage in academic procrastination, which is the habit of delaying tasks or academic responsibilities. One factor that can influence this behavior is cyberslacking, which refers to the use of the internet for non-academic activities during study time. In the digital era, easy access to the internet often tempts students to divert their attention to social media, entertainment, or other activities that reduce academic productivity. The purpose of this study is to examine the relationship between cyberslacking and academic procrastination among students at Syiah Kuala University. This study involved 340 students at USK who were selected using simple random sampling techniques. The measurement tools used in this study were the Academic Procrastination Scale developed by McCloskey and Scielzo (2015) and the Cyberslacking Scale developed by Akbulut (2016). The results of this study indicate a significant relationship between cyberslacking and academic procrastination among students at Syiah Kuala University, with a significant value of p 0.001 (r = 0.181). This means that the higher the level of cyberslacking performed by students, the higher their level of academic procrastination, and vice versa.Mahasiswa kerap dihadapkan pada berbagai tuntutan akademik seperti manajemen waktu dan disiplin yang baik. Namun, banyak di antara mereka cenderung melakukan prokrastinasi akademik, yaitu kebiasaan menunda pengerjaan tugas atau kewajiban akademik. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku ini adalah cyberslacking, yaitu penggunaan internet untuk kegiatan non-akademik selama waktu belajar. Dalam era digital, kemudahan akses internet sering kali membuat mahasiswa tergoda untuk mengalihkan perhatian mereka ke media sosial, hiburan, atau aktivitas lainnya yang mengurangi produktivitas akademik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perilaku cyberslackling dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini melibatkan 340 mahasiswa di USK yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini Academic Procrastination Scale yang disusun oleh McCloskey dan Scielzo (2015) dan Cyberslacking Scale yang dikembangkan oleh Akbulut (2016). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat adanya hubungan antara perilaku cyberslacking dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala dengan nilai signifikansi p=0,001 (r=0.181) artinya, semakin tinggi cyberslacking yang dilakukan mahasiswa, maka semakin tinggi juga perilaku prokrastinasi pada mahasiswa, begitu pula sebaliknya.
Apakah Generasi Milenial Puas Terhadap Penikahannya? Studi Deskriptif Rinaldi, Martaria Rizky; Malika, Ni Made Devina Candra; Sari, Kadek Indah Purnama
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.34564

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kepuasan pernikahan pada generasi milenial yang telah menikah serta mengeksplorasi adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 146 partisipan yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000, telah menikah, dan tidak menjalani hubungan jarak jauh. Data dikumpulkan menggunakan Enrich Marital Satisfaction Scale (EMS) yang diadaptasi ke dalam konteks Indonesia. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif serta menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan melaporkan tingkat kepuasan pernikahan yang tinggi (M=97,50) dengan 78.8% responden berada dalam kategori kepuasan tinggi. Tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam kepuasan pernikahan berdasarkan jenis kelamin. Temuan ini mengindikasikan bahwa generasi milenial di Indonesia cenderung memiliki persepsi positif terhadap kualitas relasi pernikahan mereka, sejalan dengan pergeseran nilai dan peran gender yang semakin egaliter. Namun demikian, dinamika kepuasan pernikahan bersifat tidak statis, sehingga perlu perhatian terhadap faktor-faktor yang dapat memengaruhi kualitas hubungan jangka panjang.This study aimed to describe marital satisfaction among married millennials in Indonesia and to explore potential gender differences. A descriptive quantitative approach was used, involving 146 participants born between 1980 and 2000, who were married and not in long-distance relationships. Data were collected using the Enrich Marital Satisfaction Scale (EMS), adapted to the Indonesian context, and analyzed descriptively along with an independent sample t-test. The results showed that the majority of participants reported high levels of marital satisfaction, with a mean score of 97.50 and 78.8% of respondents categorized as having high satisfaction. No significant gender differences in marital satisfaction were found. These findings indicate that Indonesian millennials generally hold a positive perception of their marital relationships, consistent with shifting values and increasingly egalitarian gender roles. Nevertheless, marital satisfaction is dynamic, warranting attention to factors that may influence relationship quality over time.
Hubungan Pemaafan dan Resiliensi pada Remaja Penyintas Perceraian Orang Tua Annisa, Annisa; Sari, Novita; Sari, Kartika; Dahlia, Dahlia
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.34631

Abstract

Divorce is widely viewed as a means of resolving marital conflict; however, it has the potential to negatively affect adolescents. For adolescents, parental divorce is one of the most stressful life events, often associated with long-term emotional and behavioral problems. As a result of their parents' divorce, adolescents feel depressed and struggle to cope with lifes challenges into adulthood. Forgiveness is proven to mitigate the negative impact of parental divorce, enabling adolescents to adapt and bounce back and preparing them to face future challenges both physically and psychologically. This research aims to determine the relationship between forgiveness and resilience in 104 adolescent survivors of parental divorce in Aceh, using quota sampling and participated in completing the Brief Resilience Scale (BRS) and Transgression-Related Interpersonal Motivations (TRIM-18). The data analysis shows a significance value (p) =0.001 and a correlation coefficient (r) = -0.631, indicates significant positive correlation between forgiveness and resilience. This implies that the higher the level of forgiveness, the higher the level of resilience, and conversely, the lower the level of forgiveness, the lower the level of resilience. This research found that these adolescent have high levels of both forgiveness and resilience.Perceraian umumnya dianggap sebagai resolusi konflik interpersonal dalam pernikahan, tetapi fenomena ini dapat berdampak negatif bagi remaja. Bagi remaja, perceraian orang tua adalah salah satu peristiwa kehidupan yang berpotensi menimbulkan stres dikaitkan dengan masalah emosional dan masalah perilaku jangka panjang. Akibat dari perceraian orang tua, remaja merasa tertekan dan kesulitan menghadapi tantangan hidup hingga dewasa. Resiliensi dan pemaafan terbukti dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari perceraian orang tua sehingga remaja mampu beradaptasi dan bangkit kembali dan remaja siap secara fisik dan psikologis untuk menghadapi tantangan di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemaafan dengan resiliensi pada 104 remaja penyintas perceraian orang tua di Aceh yang dipilih menggunakan teknik quota sampling dan berpartisipasi dalam pengisian instrumen Brief Resilience Scale (BRS) dan Transgression-Related Interpersonal Motivations (TRIM-18). Analisis data menunjukkan nilai signifikansi (p) =0.001 dan nilai koefisien korelasi (r) = -0.631, artinya terdapat hubungan positif signifikan antara pemaafan dengan resiliensi. Penelitian ini menemukan bahwa semakin tinggi pemaafan maka semakin tinggi resiliensi, begitu juga sebaliknya semakin rendah pemaafan maka semakin rendah resiliensi. Penelitian ini menemukan bahwa remaja penyintas perceraian orang tua memiliki pemaafan yang tinggi serta resiliensi yang tinggi.
Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Hardiness pada Santri Penghafal Al-Qur'an di Aceh Besar Yasir, Haura Shafiyyah Binti; Mirza, Mirza; Zahrani, Zahrani; Sari, Putri Puspita
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.35091

Abstract

Memorizing the Qur'an is an activity that requires perseverance, patience, motivation, and high resilience, especially for students (santri) who has dual rolesas learners in formal education and as students in Islamic boarding schools (pesantren). They are not only required to participate in academic and non-academic activities, but also expected to consistently add to and review their Quranic memorization daily to meet predetermined targets. This condition demands a high level of hardiness in students to cope with various challenges. This study aims to examine the relationship between social supportwhich includes support from parents, teachers, classmates, close friends, and individuals within the school environmentand hardiness among Quran memorizing students (santri) in Aceh Besar. The research subjects consisted of 230 students selected through cluster random sampling and proportionate stratified random sampling techniques. The research instruments used were the Children and Adolescent Social Support Scale (CASSS) and the Dispositional Resilience Scale (DRS-15). Hypothesis testing was conducted using the Pearson Product Moment Correlation. The results showed a correlation coefficient of r=0.329 (p 0.05) for the parental support dimension, r=0.121 (p 0.05) for teacher support, r = 0.277 (p 0.05) for classmate support, r = 0.213 (p 0.05) for close friend support, and r=0.333 (p 0.05) for support from individuals in the school environment. The findings indicate a significant positive relationship between social support from four sourcesparents, classmates, close friends, and individuals within the school environmentand students hardiness. In contrast, teacher support did not show a significant relationship with student hardiness. The higher the level of social support received, the higher the level of hardiness among the Quran memorizing students.Menghafal Al-Quran merupakan aktivitas yang menuntut ketekunan, kesabaran, motivasi, serta daya tahan yang tinggi, terutama bagi santri yang menjalani peran ganda, satu sisi sebagai pelajar di sekolah formal dan di sisi lain menjadi santri di pesantren. Mereka tidak hanya diwajibkan mengikuti kegiatan akademik dan non-akademik, tetapi juga dituntut untuk menambah dan mengulang hafalan Al-Quran setiap hari guna mencapai target yang telah ditetapkan. Kondisi ini menuntut adanya ketangguhan (hardiness) dalam diri santri untuk menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial, yang mencakup dukungan dari orang tua, guru, teman sekelas, teman dekat, dan orang-orang di lingkungan sekolah dengan hardiness pada santri penghafal Al-Quran di Aceh Besar. Responden penelitian terdiri atas 230 santri yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling dan proportionate stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa skala Children and Adolescent Social Support (CASSS) dan Dispositional Resilience Scale (DRS-15). Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Pearson Product Moment Correlation, hasilnya menunjukkan nilai koefisien korelasi r=0.329 (p0.05) untuk dimensi orang tua, dimensi guru r=0.121 (p0.05), dimensi teman kelas r=0.277 (p0.05), teman dekat r=0.213 (p0.05) dan orang-orang di sekolah saya r=0.333 (p0.05). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif signifikan antara dukungan sosial dari keempat dimensiyaitu dukungan dari orang tua, teman sekelas, teman dekat, dan orang-orang di lingkungan sekolah dengan hardiness santri. Sebaliknya, dukungan social guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan hardiness santri. Semakin tinggi dukungan sosial yang diterima, semakin tinggi pula tingkat hardiness santri.
Hubungan Lingkungan Kerja Psikososial dengan Turnover Intention pada Pekerja Generasi Z Yazid, Sulthanul; Riamanda, Irin; Rachmatan, Risana; Yulandari, Nucke
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.32454

Abstract

Generation Z exhibits a higher tendency to frequently change jobs compared to previous generations, with one of the suspected contributing factors being the psychosocial work environment. This study aims to examine the relationship between the psychosocial work environment and turnover intention among Generation Z workers. This research employed a quantitative approach with a correlational method. The sample was collected using accidental sampling in Banda Aceh. A total of 315 respondents participated in the study by completing the Turnover Intention Scale (TIS-6) and the Copenhagen Psychosocial Questionnaire III (COPSOQ III). Pearson product-moment correlation analysis revealed a strong and significant negative correlation between the psychosocial work environment and turnover intention, with a significance level of (p)=0.000 (p0.05) and a correlation coefficient of (r)=-0.733. These results indicate that the better the quality of the psychosocial work environment experienced by Generation Z workers, the lower their turnover intention. This implies that organizations should invest in supportive psychosocial work environments to enhance Generation Z employee retentiscon and reduce turnover cost.Generasi Z menunjukkan kecenderungan tinggi untuk sering berpindah pekerjaan dibandingkan generasi sebelumnya, dan salah satu faktor yang diduga berkontribusi adalah kondisi lingkungan kerja psikososial. Tujuan penelitian dilakukan adalah untuk mengetahui hubungan antara lingkungan kerja psikososial dengan turnover intention pada pekerja Generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan accidental sampling di Kota Banda Aceh. Sebanyak 315 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi Instrumen Turnover Intention Scale (TIS-6) dan Copenhagen Psychosocial Questionnaire III(COPSOQ III). Analisis menggunakan pearson-product moment menunjukkan adanya tingkat korelasi yang kuat dan signifikan dengan arah hubungan yang negatif antara lingkungan kerja psikososial dengan turnover intention, dengan taraf signifikansi (p)=0,000 (p0,05) dengan nilai koefisien korelasi (r)=-0,733. Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin baik kualitas lingkungan kerja psikososial yang dirasakan pekerja generasi Z, maka semakin rendah turnover intention yang dialami. Implikasinya, perusahaan perlu berinvestasi pada lingkungan kerja psikososial untuk meningkatkan retensi pekerja Generasi Z dan mengurangi biaya turnover.

Page 1 of 1 | Total Record : 8