cover
Contact Name
MAYA KHAIRANI
Contact Email
jimpsi.fk@usk.ac.id
Phone
+6285261502720
Journal Mail Official
jimpsi.fk@usk.ac.id
Editorial Address
Jl. Tgk. Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Banda Aceh, Provinsi Aceh, 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Syiah Kuala Psychology Journal
ISSN : -     EISSN : 3030976X     DOI : 10.24815/skpj
Syiah Kuala Psychology Journal (SKPJ) is an online academic journal and interested in empirical studies in psychological area. SKPJ is a peer-reviewed journal. Syiah Kuala Psycology Journal receives manuscripts that focused on psychological research and applied psychology. Humanities studies related to psychological science are the scope that also considered in Syiah Kuala Psycology Journal. Every published article will go through a peer-review process by experts who have experience in managing journals and publishing articles in prestigious journals. Every published article has met the requirements set by the SKPJ Editorial Board. SKPJ accepts and publishes psychology student research articles which are published twice a year in April and October.
Articles 44 Documents
Apakah Generasi Milenial Puas Terhadap Penikahannya? Studi Deskriptif Rinaldi, Martaria Rizky; Malika, Ni Made Devina Candra; Sari, Kadek Indah Purnama
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.34564

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kepuasan pernikahan pada generasi milenial yang telah menikah serta mengeksplorasi adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 146 partisipan yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000, telah menikah, dan tidak menjalani hubungan jarak jauh. Data dikumpulkan menggunakan Enrich Marital Satisfaction Scale (EMS) yang diadaptasi ke dalam konteks Indonesia. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif serta menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan melaporkan tingkat kepuasan pernikahan yang tinggi (M=97,50) dengan 78.8% responden berada dalam kategori kepuasan tinggi. Tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam kepuasan pernikahan berdasarkan jenis kelamin. Temuan ini mengindikasikan bahwa generasi milenial di Indonesia cenderung memiliki persepsi positif terhadap kualitas relasi pernikahan mereka, sejalan dengan pergeseran nilai dan peran gender yang semakin egaliter. Namun demikian, dinamika kepuasan pernikahan bersifat tidak statis, sehingga perlu perhatian terhadap faktor-faktor yang dapat memengaruhi kualitas hubungan jangka panjang.This study aimed to describe marital satisfaction among married millennials in Indonesia and to explore potential gender differences. A descriptive quantitative approach was used, involving 146 participants born between 1980 and 2000, who were married and not in long-distance relationships. Data were collected using the Enrich Marital Satisfaction Scale (EMS), adapted to the Indonesian context, and analyzed descriptively along with an independent sample t-test. The results showed that the majority of participants reported high levels of marital satisfaction, with a mean score of 97.50 and 78.8% of respondents categorized as having high satisfaction. No significant gender differences in marital satisfaction were found. These findings indicate that Indonesian millennials generally hold a positive perception of their marital relationships, consistent with shifting values and increasingly egalitarian gender roles. Nevertheless, marital satisfaction is dynamic, warranting attention to factors that may influence relationship quality over time.
Hubungan Pemaafan dan Resiliensi pada Remaja Penyintas Perceraian Orang Tua Annisa, Annisa; Sari, Novita; Sari, Kartika; Dahlia, Dahlia
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.34631

Abstract

Divorce is widely viewed as a means of resolving marital conflict; however, it has the potential to negatively affect adolescents. For adolescents, parental divorce is one of the most stressful life events, often associated with long-term emotional and behavioral problems. As a result of their parents' divorce, adolescents feel depressed and struggle to cope with lifes challenges into adulthood. Forgiveness is proven to mitigate the negative impact of parental divorce, enabling adolescents to adapt and bounce back and preparing them to face future challenges both physically and psychologically. This research aims to determine the relationship between forgiveness and resilience in 104 adolescent survivors of parental divorce in Aceh, using quota sampling and participated in completing the Brief Resilience Scale (BRS) and Transgression-Related Interpersonal Motivations (TRIM-18). The data analysis shows a significance value (p) =0.001 and a correlation coefficient (r) = -0.631, indicates significant positive correlation between forgiveness and resilience. This implies that the higher the level of forgiveness, the higher the level of resilience, and conversely, the lower the level of forgiveness, the lower the level of resilience. This research found that these adolescent have high levels of both forgiveness and resilience.Perceraian umumnya dianggap sebagai resolusi konflik interpersonal dalam pernikahan, tetapi fenomena ini dapat berdampak negatif bagi remaja. Bagi remaja, perceraian orang tua adalah salah satu peristiwa kehidupan yang berpotensi menimbulkan stres dikaitkan dengan masalah emosional dan masalah perilaku jangka panjang. Akibat dari perceraian orang tua, remaja merasa tertekan dan kesulitan menghadapi tantangan hidup hingga dewasa. Resiliensi dan pemaafan terbukti dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari perceraian orang tua sehingga remaja mampu beradaptasi dan bangkit kembali dan remaja siap secara fisik dan psikologis untuk menghadapi tantangan di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemaafan dengan resiliensi pada 104 remaja penyintas perceraian orang tua di Aceh yang dipilih menggunakan teknik quota sampling dan berpartisipasi dalam pengisian instrumen Brief Resilience Scale (BRS) dan Transgression-Related Interpersonal Motivations (TRIM-18). Analisis data menunjukkan nilai signifikansi (p) =0.001 dan nilai koefisien korelasi (r) = -0.631, artinya terdapat hubungan positif signifikan antara pemaafan dengan resiliensi. Penelitian ini menemukan bahwa semakin tinggi pemaafan maka semakin tinggi resiliensi, begitu juga sebaliknya semakin rendah pemaafan maka semakin rendah resiliensi. Penelitian ini menemukan bahwa remaja penyintas perceraian orang tua memiliki pemaafan yang tinggi serta resiliensi yang tinggi.
Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Hardiness pada Santri Penghafal Al-Qur'an di Aceh Besar Yasir, Haura Shafiyyah Binti; Mirza, Mirza; Zahrani, Zahrani; Sari, Putri Puspita
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.35091

Abstract

Memorizing the Qur'an is an activity that requires perseverance, patience, motivation, and high resilience, especially for students (santri) who has dual rolesas learners in formal education and as students in Islamic boarding schools (pesantren). They are not only required to participate in academic and non-academic activities, but also expected to consistently add to and review their Quranic memorization daily to meet predetermined targets. This condition demands a high level of hardiness in students to cope with various challenges. This study aims to examine the relationship between social supportwhich includes support from parents, teachers, classmates, close friends, and individuals within the school environmentand hardiness among Quran memorizing students (santri) in Aceh Besar. The research subjects consisted of 230 students selected through cluster random sampling and proportionate stratified random sampling techniques. The research instruments used were the Children and Adolescent Social Support Scale (CASSS) and the Dispositional Resilience Scale (DRS-15). Hypothesis testing was conducted using the Pearson Product Moment Correlation. The results showed a correlation coefficient of r=0.329 (p 0.05) for the parental support dimension, r=0.121 (p 0.05) for teacher support, r = 0.277 (p 0.05) for classmate support, r = 0.213 (p 0.05) for close friend support, and r=0.333 (p 0.05) for support from individuals in the school environment. The findings indicate a significant positive relationship between social support from four sourcesparents, classmates, close friends, and individuals within the school environmentand students hardiness. In contrast, teacher support did not show a significant relationship with student hardiness. The higher the level of social support received, the higher the level of hardiness among the Quran memorizing students.Menghafal Al-Quran merupakan aktivitas yang menuntut ketekunan, kesabaran, motivasi, serta daya tahan yang tinggi, terutama bagi santri yang menjalani peran ganda, satu sisi sebagai pelajar di sekolah formal dan di sisi lain menjadi santri di pesantren. Mereka tidak hanya diwajibkan mengikuti kegiatan akademik dan non-akademik, tetapi juga dituntut untuk menambah dan mengulang hafalan Al-Quran setiap hari guna mencapai target yang telah ditetapkan. Kondisi ini menuntut adanya ketangguhan (hardiness) dalam diri santri untuk menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial, yang mencakup dukungan dari orang tua, guru, teman sekelas, teman dekat, dan orang-orang di lingkungan sekolah dengan hardiness pada santri penghafal Al-Quran di Aceh Besar. Responden penelitian terdiri atas 230 santri yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling dan proportionate stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa skala Children and Adolescent Social Support (CASSS) dan Dispositional Resilience Scale (DRS-15). Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Pearson Product Moment Correlation, hasilnya menunjukkan nilai koefisien korelasi r=0.329 (p0.05) untuk dimensi orang tua, dimensi guru r=0.121 (p0.05), dimensi teman kelas r=0.277 (p0.05), teman dekat r=0.213 (p0.05) dan orang-orang di sekolah saya r=0.333 (p0.05). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif signifikan antara dukungan sosial dari keempat dimensiyaitu dukungan dari orang tua, teman sekelas, teman dekat, dan orang-orang di lingkungan sekolah dengan hardiness santri. Sebaliknya, dukungan social guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan hardiness santri. Semakin tinggi dukungan sosial yang diterima, semakin tinggi pula tingkat hardiness santri.
Hubungan Lingkungan Kerja Psikososial dengan Turnover Intention pada Pekerja Generasi Z Yazid, Sulthanul; Riamanda, Irin; Rachmatan, Risana; Yulandari, Nucke
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.32454

Abstract

Generation Z exhibits a higher tendency to frequently change jobs compared to previous generations, with one of the suspected contributing factors being the psychosocial work environment. This study aims to examine the relationship between the psychosocial work environment and turnover intention among Generation Z workers. This research employed a quantitative approach with a correlational method. The sample was collected using accidental sampling in Banda Aceh. A total of 315 respondents participated in the study by completing the Turnover Intention Scale (TIS-6) and the Copenhagen Psychosocial Questionnaire III (COPSOQ III). Pearson product-moment correlation analysis revealed a strong and significant negative correlation between the psychosocial work environment and turnover intention, with a significance level of (p)=0.000 (p0.05) and a correlation coefficient of (r)=-0.733. These results indicate that the better the quality of the psychosocial work environment experienced by Generation Z workers, the lower their turnover intention. This implies that organizations should invest in supportive psychosocial work environments to enhance Generation Z employee retentiscon and reduce turnover cost.Generasi Z menunjukkan kecenderungan tinggi untuk sering berpindah pekerjaan dibandingkan generasi sebelumnya, dan salah satu faktor yang diduga berkontribusi adalah kondisi lingkungan kerja psikososial. Tujuan penelitian dilakukan adalah untuk mengetahui hubungan antara lingkungan kerja psikososial dengan turnover intention pada pekerja Generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan accidental sampling di Kota Banda Aceh. Sebanyak 315 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi Instrumen Turnover Intention Scale (TIS-6) dan Copenhagen Psychosocial Questionnaire III(COPSOQ III). Analisis menggunakan pearson-product moment menunjukkan adanya tingkat korelasi yang kuat dan signifikan dengan arah hubungan yang negatif antara lingkungan kerja psikososial dengan turnover intention, dengan taraf signifikansi (p)=0,000 (p0,05) dengan nilai koefisien korelasi (r)=-0,733. Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin baik kualitas lingkungan kerja psikososial yang dirasakan pekerja generasi Z, maka semakin rendah turnover intention yang dialami. Implikasinya, perusahaan perlu berinvestasi pada lingkungan kerja psikososial untuk meningkatkan retensi pekerja Generasi Z dan mengurangi biaya turnover.