cover
Contact Name
MAYA KHAIRANI
Contact Email
jimpsi.fk@usk.ac.id
Phone
+6285261502720
Journal Mail Official
jimpsi.fk@usk.ac.id
Editorial Address
Jl. Tgk. Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Banda Aceh, Provinsi Aceh, 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Syiah Kuala Psychology Journal
ISSN : -     EISSN : 3030976X     DOI : 10.24815/skpj
Syiah Kuala Psychology Journal (SKPJ) is an online academic journal and interested in empirical studies in psychological area. SKPJ is a peer-reviewed journal. Syiah Kuala Psycology Journal receives manuscripts that focused on psychological research and applied psychology. Humanities studies related to psychological science are the scope that also considered in Syiah Kuala Psycology Journal. Every published article will go through a peer-review process by experts who have experience in managing journals and publishing articles in prestigious journals. Every published article has met the requirements set by the SKPJ Editorial Board. SKPJ accepts and publishes psychology student research articles which are published twice a year in April and October.
Articles 44 Documents
Self-Compassion dan Body Image Pada Mahasiswi Pengguna Instagram Maharani, Rizha Pera; Putrikita, Katrim Alifa
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.31642

Abstract

Instagram is used in various societies, including female college students. Instagram shows ideal body figures that influence how female students view their bodies. Body image refers to the perspective of a person towards their body shape, either positively or negatively. How individuals assess their body is associated with how individuals like themselves. Self-compassion is the caring and loving that is given to oneself, including accepting weaknesses and realizing that the experiences of others are also being endured. The purpose of this study is to examine the correlation between self-compassion and body image in female college student who use Instagram. This study uses quantitative methods with a correlational approach. The sampling technique used is purposive sampling, involving 200 female college student as Instagram users. Data were collected using self-compassion scale and body image scale. Data analysis was conducted with Pearson product moment correlation analysis. The results showed a positive relationship between self-compassion and body image among female Instagram users.Instagram digunakan di berbagai kalangan, termasuk mahasiswi. Instagram sering menampilkan figure tubuh ideal yang mempengaruhi bagaimana pandangan mahasiswi terhadap tubuhnya. Body image merujuk pada cara pandang seseorang terhadap bentuk tubuhnya, baik positif ataupun negatif. Bagaimana individu menilai tubuhnya ini kemudian dikaitkan dengan bagaimana individu mencintai dirinya sendiri. Self-compassion adalah perhatian dan kasih sayang yang diberikan terhadap diri sendiri, termasuk menerima kelemahan dan menyadari bahwa pengalaman yang dialami juga dialami oleh orang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan antara self-compassion dan body image pada mahasiswi pengguna Instagram. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Teknik sampling yang diterapkan adalah purposive sampling, melibatkan 200 mahasiswi pengguna Instagram. Data dikumpulkan menggunakan skala self-compassion dan skala body image. Analisis data dilakukan dengan analisis korelasi product moment Pearson. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan positif antara self-compassion dan body image di antara mahasiswi pengguna Instagram.
Hubungan Antara Stres Akademik dengan Kualitas Tidur pada Mahasiswa Hakim, Agustian Hasnan; Pratiwi, Cindy; Ramulan, Fayza; Putriani, Putriani; Mutia, Intan; Amna, Zaujatul
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.28833

Abstract

Stres akademik merupakan suatu kondisi berupa tekanan psikologis atau emosional yang dialami mahasiswa sehingga memperburuk kualitas tidurnya, Imana slaah satu penyebabnya yaitu adanya stres akademik yang tentunya berpengaruh terhadap kesejahteraan emosional, mental, dan fisik, serta performansi sisi akademisnya. Adapun yang menjadi tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan antara stres akademik dengan kualitas tidur pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Sebanyak 70 mahasiswa (yang terdiri dari 19 laki-laki dan 51 perempuan) terlibat sebagai sampel penelitian ini yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Perception of Academic Stress Scale (PASS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) digunakan sebagai instrumen pengumpulan data penelitian yang dilakukan secara online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara stres akademik dengan kualitas tidur (p=0,010, r=.305), hal ini dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi stres akadamik yang dialami mahasiswa maka akan semakin rendah kualitas tidur mahasiswa, dan sebaliknya. Hasil temuan lainnya juga menunjukkan bahwa secara umum hampir secara keseluruhan mahasiswa memiliki kualiats tidur yang rendah (91,5%), sedangkan stres akademik berada pada kategori sedang.Academic stress is a condition in which students experience psychological or emotional pressure that decreases their sleep quality. Academic stress is one of the causes of this condition, which affects students' emotional, mental, and physical health, as well asacademic performance. This study aimed to determine the relationship between academic stress and sleep quality among Syiah Kuala University students. A total of 70 students (19 males and 51 females) selected using the purposive sampling technique were used as samples for this study. The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) and Perception of Academic Stress Scale (PASS) were used to gather data for online study. The findings indicated a correlation between academic stress and sleep quality (r =.305, p = 0.010). This can be explained by the relationship between student sleep quality and academic stress levels; students who experience higher levels of academic stress also experience lower levels of sleep. Additional research findings showed that almost all students had low sleep quality (91.5%), while academic stress was moderate.
Konsep Diri dan Kecemasan Sosial Pada Mahasiswa Kholisa, Intan Nurul; Purnamasari, Santi Esterlita; Rinaldi, Martaria Rizky
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30937

Abstract

Social interaction is a fundamental need for university students, who are in the early adulthood developmental stage where the ability to adapt and control anxiety is crucial. Many students experience social anxiety that can hinder their ability to interact effectively. This study aims to determine the relationship between self-concept and social anxiety among early adult university students in Yogyakarta. This research employs a quantitative method with a correlational design. The subjects of this study consisted of 110 students aged 19-28 years, selected using a convenience sampling technique. Data were collected using a social anxiety scale and a self-concept scale. The data analysis method used was Karl Pearson's product moment, resulting in a correlation coefficient of rxy = -0.664 (p 0.000), indicating a negative relationship between self-concept and social anxiety among early adult university students in Yogyakarta. The conclusion of this study is that the more positive the students' self-concept, the lower the level of social anxiety they experience; conversely, the more negative the students' self-concept, the higher the level of social anxiety they experience.Interaksi sosial merupakan kebutuhan fundamental bagi mahasiswa yang berada pada tahap perkembangan dewasa awal, karena kemampuan menyesuaikan diri dan mengendalikan kecemasan sangat penting. Banyak mahasiswa mengalami kecemasan sosial yang dapat menghambat kemampuan mereka untuk berinteraksi secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan kecemasan sosial pada mahasiswa dewasa awal di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian ini terdiri dari 110 mahasiswa berusia 19-28 tahun yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Skala Kecemasan Sosial dan Skala Konsep Diri. Metode analisis data menggunakan product moment dari Karl Pearson, dan hasilnya diperoleh koefisien korelasi sebesar rxy = -0,664 (p 0,000), yang berarti ada hubungan negatif antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada mahasiswa dewasa awal di Yogyakarta. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin positif konsep diri mahasiswa maka semakin rendah tingkat kecemasan sosial yang mereka alami, dan sebaliknya, semakin negatif konsep diri mahasiswa maka semakin tinggi tingkat kecemasan sosial yang mereka alami.
Risiko Terjadinya Kecurangan Akademik Ditinjau dari Orientasi Tujuan Mahasiswa Husna, Mai Tiza; Raffles, Fatihah
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.29752

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan risiko terjadinya kecurangan akademik ditinjau dari orientasi tujuan mahasiswa. Penelitian dilakukan pada salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Padang. Penelitian ini memiliki subjek sebanyak 395 orang mahasiswa. Sampel diperoleh melalui salah satu teknik sampling yaitu proportionate stratified random sampling. Kemudian, data yang diperoleh diolah melalui analisis korelasi Spearman Rank karena data penelitian tidak terdistribusi secara normal. Setelah melakukan analisis korelasi, ditemukan hubungan antara orientasi kinerja (performance orientation) dengan kecurangan akademik dengan koefisien korelasi sebesar 0,106 (p 0,05), dan koefisien korelasi sebesar -0,154 (p 0,05) untuk hubungan antara orientasi pembelajaran (learning orientation) dengan kecurangan akademik. Namun, hubungan antara masing-masing tipe orientasi tujuan dengan kecurangan akademik tergolong sangat rendah.The purpose of this study was to describe the risk of academic fraud in terms of student goal orientation. The research was conducted at one of the state universities in Padang City. This study has a subject of 395 students. The sample was taken through one of the sampling techniques, namely proportionate stratified random sampling. Then, the data obtained was processed through Spearman Rank correlation analysis, because the research data was not normally distributed. After conducting correlation analysis, a relationship between performance orientation and academic cheating was found with a correlation coefficient of 0.106 (p 0.05), and a correlation coefficient of -0.154 (p 0.05) for the relationship between learning orientation and academic cheating. However, the relationship between each type of goal orientation and academic cheating is very low.
Job Embeddedness dan Turnover Intention Pada Guru Honorer Salvina, Desi; Rachmatan, Risana; Aprilia, Eka Dian; Riamanda, Irin
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30560

Abstract

The problems of honorary teachers are quite complex, including income problems, low trust in the organization and dissatisfaction at work. These problems can make honorary teachers have the desire to leave their jobs. The desire to leave a person's job is called turnover intention. One of the factors that can inhibit turnover intention is job embeddedness (work engagement). This study aims to examine the relationship between job embeddedness and turnover intention in honorary teachers. The subjects in this study were honorary teachers. The sampling technique in this study was accidental sampling with the number of participants being 270 honorary teachers. Data was collected using the Global Job Embeddedness Scale (GJES) and Turnover Intention Scale (TIS). The results of the analysis showed a significance value (p) = 0.000 (p0.05) with a correlation value (r) = -0.718 and a determination value of 51.5%. This shows that there is a negative relationship between job embeddedness and turnover intention in honorary teachers. Most subjects are in the category of high job embeddedness and low turnover intention. The benefits of this research can provide insights into the various factors that may encourage honorary teachers to remain in their jobs. By understanding the factors that make them feel connected to their work, educational institutions can develop more effective strategies in the future.Permasalahan guru honorer cukup kompleks di antaranya masalah penghasilan, rendahnya kepercayaan terhadap organisasi dan ketidakpuasan dalam bekerja yang dapat menyebabkan guru honorer memiliki keinginan untuk keluar dari pekerjaannya. Keinginan keluar seseorang dari pekerjaannya disebut turnover intention. Salah satu faktor yang dapat menghambat turnover intention adalah job embeddedness (keterikatan kerja). Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara job embeddedness dengan turnover intention pada guru honorer. Subjek pada penelitian ini adalah guru honorer. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah accidental sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 270 guru honorer. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Global Job Embeddedness Scale (GJES) dan Turnover Intention Scale (TIS). Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi (p) = 0,000 (p0,05) dengan nilai korelasi (r) = -0,718 dan nilai determinasi sebesar 51,5%. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara job embeddedness dengan turnover intention pada guru honorer. Mayoritas subjek berada pada kategori job embeddedness tinggi dan turnover intention rendah. Manfaat dari penelitian ini dapat memberikan wawasan mengenai berbagai faktor yang dapat membuat guru honorer bertahan di pekerjaannya, dengan memahami faktor yang dapat membuat mereka merasa terikat dengan pekerjaannya, sehingga nantinya institusi pendidikan dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif.
Gambaran Burnout pada Mahasiswa Pekerja Paruh Waktu di Banda Aceh Zahra, Misfhilatud; Aini, Zahratul; Ningsih, Ayu Cahya; Nuwansa, Riski; Amna, Zaujatul
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.28862

Abstract

Burnout adalah suatu kondisi kelelahan emosional, depersonalisasi, dan perasaan rendah diri yang disebabkan oleh adanya stres kerja yang berkepanjangan. Sebagian mahasiswa bekerja paruh waktu yang rentan mengalami burnout yang disebabkan kelelahan secara fisik maupun emosional karena bekerja yang pastinya dapat berdampak pada kulilahnya. Adapun yang menjadi tujuan penelitian dilakukan yaitu untuk melihat gambaran burnout pada mahasiswa pekerja paruh waktu di Banda Aceh, yang dilakukan dengan teknik deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara online menggunakan link gform yang berisikan data demografi dan juga Maslach Burnout Inventory sebagai instrumen pengumpulan data penelitian. Berdasarkan data yang diterima hanya 46 sampel yang memenuhi kriteria penelitian sebagai mahasiswa pekerja paruh waktu yang terdiri dari 25 mahasiswa laki-laki dan 21 mahasiswa perempuan, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Secara garis besar hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang bekerja paruh waktu mengalami burnout yang sangat tinggi. data menunjukkan bahwa sebanyak 91,3 persen mahasiswa pekerja paruh waktu berada pada level burnout tingkat tinggi, sedangkan 8,7 persen lainnya mengalami burnout tingkat sedang.Burnout is a disorder marked by depersonalization, feelings of inferiority, and emotional weariness brought on by extended periods of stress at work. Some part-time students are vulnerable to burnout brought on by the mental and physical exhaustion of their jobs, and this can definitely affect their academic achievement. The research used descriptive methodologiesto determine if burnout has been defined in Banda Aceh's part-time working student population. Data collection was carried out online using a Google-form link that containing demographic data and also the Maslach Burnout Inventory as research instrument. Based on the data received, only 46 samples met the research criteria as part-time working students consisting of 25 male students and 21 female students, who were selected using purposive sampling technique. In general, the research findings indicate that students who work part-time have very high levels of burnout; up to 91.3 per cent of these students have high levels of burnout, while the remaining 8.7 per cent have moderate levels of burnout.
Pentingnya Lifelong Learning Skill untuk Kesiapan Kerja Lulusan Sarjana di Sumatera Barat Nisa, Hidayatun; Ardias, Widia Sri; Bakhtiar, Bakhtiar
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.31116

Abstract

This research is motivated by data released by the Central Statistics Agency of West Sumatra in 2020 which shows that the highest unemployment rate comes from undergraduate graduates. This study aims to determine the level of lifelong learning skills and job readiness of undergraduate graduates in West Sumatra and see the role of lifelong learning skills on the job readiness of undergraduate graduates in West Sumatra. This study is a research field research (field research) using a quantitative approach. This research method uses linear regression analysis. The results of this study found that, firstly, the level of lifelong learning skills of bachelor graduates in West Sumatra was dominant in the medium category, namely 63.1% of all respondents, secondly, the level of job readiness of bachelor graduates in West Sumatra was dominant in the medium category, namely 67% of all respondents. The three lifelong learning skills have a significant role in job readiness, and the role given is positive linear. The results of this study also found that of the three aspects of lifelong learning skills, intrapersonal skills have the greatest effective contribution, and cognitive aspects provide the least effective contribution compared to other aspects.Penelitian ini dilatar belakangi oleh data yang dirilis Badan Pusat Statistika Sumatera Barat tahun 2020 yang menunjukkan angka pengangguran paling tinggi berasal dari lulusan sarjana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat lifelong learning skill serta kesiapan kerja dari lulusan sarjana di Sumatera Barat dan melihat peran lifelong learning skill terhadap kesiapan kerja lulusan sarjana di Sumatera Barat. Penelitian ini merupakan penelitian field research (penelitian lapangan) dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linear. Hasil penelitian ini menemukan bahwa, pertama tingkat lifelong learning skill lulusan sarjana di Sumatera Barat dominan berada pada kategori sedang yaitu 63,1% dari keseluruhan responden, kedua tingkat kesiapan kerja lulusan sarjana di Sumatera Barat dominan berada pada kategori sedang yaitu 67% dari keseluruhan responden. Ketiga lifelong learning skill memiliki peran yang signifikan terhadap kesiapan kerja, dan peran yang diberikan bersifat linear positif. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa dari tiga aspek lifelong learning skill ternyata keterampilan intrapersonal memiliki sumbangan efektif paling besar dan aspek kognitif memberikan sumbangan efektif paling kecil dibandingkan aspek lainnya.
Daya Tarik Fisik Wanita Berdasarkan Gaya Hijab Setiawati, Lilis; Afriani, Afriani; Mirza, Mirza; Kumala, Intan Dewi
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.29674

Abstract

Bagi seorang wanita, daya tarik fisik menjadi sangat penting dan diyakini dapat memengaruhi hubungan interpersonal. Gaya berbusana diantaranya penggunaan jilbab khususnya pada wanita muslim dimana adalah sebuah kewajiban dalam agama, menjadi komponen pelengkap dalam menilai daya tarik fisik seorang wanita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan daya tarik fisik wanita dari gaya jilbab oleh mahasiswa pria muslim di Universitas Syiah Kuala. Sampel penelitian berjumlah 42 mahasiswa berasal dari dua Fakultas yang terpilih secara acak dengan menggunakan teknik cluster dan proportionate stratified random sampling. Penelitian ini dilakukan secara eksperimen dengan pendekatan pre-experiment design dengan bentuk one shot case study. Intervensi yang diberikan adalah penyajian sejumlah foto wanita dengan berbagai gaya hijab yang disusun oleh peneliti mengacu pada referensi model dan jenis hijab. Subjek penelitian adalah laki-laki usia dewasa awal yang diminta untuk memberikan penilaian berupa persepsi ketertarikan dalam rentang 1 yaitu tidak menarik sama sekali hingga 7 yaitu sangat menarik pada setiap foto yang diberikan. Hasil analisis menggunakan repeated measure ANOVA menunjukkan nilai greenhouse-geisserdf = 3,75 (p0,05) dan nilai sig = 0,00 (p0,05). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan penilaian daya tarik fisik wanita dilihat dari gaya jilbab syari (bercadar dan tanpa cadar) dan non syari oleh mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Hasil menunjukkan wanita dengan penggunaan jilbab syari (tanpa cadar), baju tunik panjang dan rok yang longgar dianggap lebih menarik dibanding dengan gaya penggunaan jilbab lainnya. For a woman, physical attractiveness becomes very important and affects interpersonal relationships. Clothing styles, such as hijab, especially for Muslim women, become a complementary component in assessing the physical attractiveness of a woman. This study aims to determine the difference in women's bodily attractiveness compared to the style of hijab used by Muslim male students at Syiah Kuala University. The research sample comprised 42 students from two faculties randomly selected using cluster and proportionate stratified random sampling techniques. This research was a pre-experimental design approach in the form of a one-shot case study. The intervention given is the presentation of several photos of women with various hijab styles arranged by the researcher referring to the reference model and type of hijab. Subjects were asked to rate the level of attractiveness in the range of 1, which is not attractive at all, to 7, which is very attractive in each photo provided. The data was analyzed using repeated measure ANOVA and showed the value of greenhouse-geisser df = 3.75 (p 0.05) and sig = 0.00 (p 0.05). It revealed that there are significant differences in the degree of women's physical attractiveness based on the hijab styles. More subjects are likely to rate higher on pictures of women wearing hijab syari than non-syari. Specifically, women who wear hijab (without veil) with long tunic dress and loose skirts are considered more attractive compare with other hijab styles.
Menelaah Sensation Seeking: Perbedaan Antara Remaja Awal Perokok dan Non-Perokok Sari, Rianti Keumala; Sulistyani, Arum; Afriani, Afriani; Faradina, Syarifah
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i1.31953

Abstract

Smoking has become part of the lifestyle of Indonesian society. Even the age at which individuals first start smoking is getting younger. On average, individuals start smoking in early adolescence, which is between the ages of 10 and 14 years. One of the personality factors that contribute to smoking behaviour in early adolescents is sensation seeking, which is the need to seek new, different and complex sensations and experiences, accompanied by a willingness to take risks, both physically and socially, in order to obtain these experiences. This study aims to identify differences in sensation seeking between early adolescents who smoke and those who do not smoke. The study sample comprised 150 early adolescents, 75 smokers and 75 non-smokers. Data collection used the Brief Sensation Seeking Scale (BSSS) adapted to the Indonesian language and culture, with a reliability coefficient of = 0,757. The independent sample t-test analysis showed a difference in the mean value of sensation seeking between early adolescents who smoke (M = 26,08, SD = 5,22) and early adolescents who do not smoke (M = 19,95, SD = 4,78). Based on these findings, it concluded that early adolescents who smoke have higher sensation seeking compared to adolescents who do not smoke t (148) = 7,51, p = 0,00 (two-tailed). The results of this study indicate the role of sensation-seeking in the formation of smoking behaviour. Therefore, smoking prevention efforts are needed with an approach that considers the characteristics of sensation seeking in early adolescence. Merokok telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia, bahkan usia di mana individu pertama kali mulai merokok semakin lebih muda. Rata-rata, individu mulai merokok pada masa remaja awal, yaitu antara usia 11 hingga 14 tahun. Salah satu faktor kepribadian yang berkontribusi terhadap perilaku merokok pada remaja awal adalah sensation seeking, yaitu kebutuhan untuk mencari sensasi dan pengalaman yang baru, berbeda, serta kompleks, yang disertai dengan kesediaan untuk mengambil risiko, baik secara fisik maupun sosial, guna memperoleh pengalaman tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan sensation seeking pada remaja awal yang merokok dan yang tidak merokok. Sampel penelitian berjumlah 150 remaja awal, yang terdiri atas 75 remaja perokok dan 75 remaja non-perokok. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Brief Sensation Seeking Scale (BSSS) yang telah diadaptasi sesuai dengan bahasa dan budaya Indonesia, dengan koefisien reliabilitas sebesar = 0,757. Hasil analisis independent sample t-test menunjukkan adanya perbedaan nilai rerata sensation seeking antara remaja awal yang merokok (M = 26,08, SD = 5,22) dan remaja awal yang tidak merokok (M = 19,95, SD = 4,78). Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa remaja awal yang merokok memiliki sensation seeking yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang tidak merokok t (148) = 7,51, p = 0,00 (two-tailed). Hasil penelitian ini mengindikasikan adanya peran sensation seeking terhadap terbentuknya perilaku merokok. Oleh karena itu diperlukan upaya pencegahan merokok dengan pendekatan yang mempertimbangkan karakteristik sensation seeking pada remaja awal.
Konsep Diri dan Online Disinhibition Effect Pada Dewasa Awal di Banda Aceh Akyun, Suri; Sari, Kartika; Afriani, Afriani; Sulistyani, Arum
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i1.32505

Abstract

Internet has changed the way individuals communicate with others, so that individuals tend to have the freedom to express everything in cyberspace including expressing bad comments or hate speech on social media. The online disinhibition effect was found to be associated with aggressive and deviant behavior carried out online. One of the factors that influences the online disinhibition effect in early adulthood is self-concept. This research aims to determine the relationship between self-concept and the online disinhibition effect in early adulthood in Banda Aceh. A total of 303 early adults in Banda Aceh were selected based on the criteria of being 20-40 years old, using a smartphone or computer, accessing the internet and using social media and domiciled in Banda Aceh. This research uses a convenience sampling sample selection technique. Data collection using the Online Disinhibition Scale (ODS) and Personal Self-Concept Questionnaire (PSQ). The results of the hypothesis test show a correlation coefficient value of (r)=-0.145 and a significance value of (p)=0.016 (p0.05) meaning that there is a negative relationship between self-concept and the online disinhibition effect in early adulthood in Banda Aceh, which means that the higher the self-concept in early adulthood in Banda Aceh, the lower the online disinhibition effect, and vice versa.Internet telah mengubah cara individu berkomunikasi dengan orang lain, sehingga individu cenderung leluasa untuk mengekspresikan segala hal di dunia maya termasuk mengungkapkan komentar buruk atau ujaran kebencian di media sosial. Online disinhibition effect ditemukan berhubungan dengan perilaku agresif dan menyimpang yang dilakukan secara daring. Salah satu faktor yang memengaruhi online disinhibition effect pada dewasa awal adalah konsep diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsep diri dengan online disinhibition effect pada dewasa awal di Banda Aceh. Sebanyak 303 dewasa awal di Banda Aceh dipilih dengan kriteria berusia 20-40 tahun, menggunakan ponsel pintar atau komputer, mengakses internet dan menggunakan sosial media serta berdomisili di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan teknik pemilihan sampel convenience sampling. Pengumpulan data menggunakan Online Disinhibition Scale (ODS) dan Personal Self-Concept Questionnaire (PSQ). Hasil analisis menunjukkan nilai korelasi (r)=-0.145 dan nilai signifikansi (p)=0.016 (p0,05) artinya terdapat hubungan yang negatif antara konsep diri dengan online disinhibition effect pada dewasa awal di Banda Aceh, yang artinya bahwa semakin tinggi konsep diri pada dewasa awal di Banda Aceh maka semakin rendah online disinhibition effect, begitu pula sebaliknya.