cover
Contact Name
MAYA KHAIRANI
Contact Email
jimpsi.fk@usk.ac.id
Phone
+6285261502720
Journal Mail Official
jimpsi.fk@usk.ac.id
Editorial Address
Jl. Tgk. Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Banda Aceh, Provinsi Aceh, 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Syiah Kuala Psychology Journal
ISSN : -     EISSN : 3030976X     DOI : 10.24815/skpj
Syiah Kuala Psychology Journal (SKPJ) is an online academic journal and interested in empirical studies in psychological area. SKPJ is a peer-reviewed journal. Syiah Kuala Psycology Journal receives manuscripts that focused on psychological research and applied psychology. Humanities studies related to psychological science are the scope that also considered in Syiah Kuala Psycology Journal. Every published article will go through a peer-review process by experts who have experience in managing journals and publishing articles in prestigious journals. Every published article has met the requirements set by the SKPJ Editorial Board. SKPJ accepts and publishes psychology student research articles which are published twice a year in April and October.
Articles 44 Documents
Tingkat Kecemasan Berbicara Di Depan Umum Pada Mahasiswa Nurhasanah, Dini; Mukhyi, Talitha Fatiyah; Wirda, Raudhatul; Nadhira, Munifa; Tsabitah, Ghina; Salsabila, Andra; Amna, Zaujatul
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i2.28436

Abstract

Kecemasan bebicara di depan umum merupakan masalah psikologis yang sering dialami mahasiswa pada tahun pertama karena merupakan masa peralihan dari lingkungan sekolah ke perguruan tinggi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri yang dihadapi baik mahasiswa laki-laki maupun perempuan saat dihadapkan pada tugas untuk berbicara di depan umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa laki-lai dan perempuan. Sebanyak 120 mahasiswa baru yang terdiri dari 60 mahasiswa laki-laki dan 60 mahasiswa perempuan terlibat sebagai sampel penelitian ini yang dipilih menggunakan non-probability dengan teknik convinience sampling. Intrumen Personal Report Public Speaking Anxiety Scale (PRPSA) menjadi alat pengumpulan data penelitian yang bersifat unidimensi dengan jumlah item sebanyak 34 ( = 0.84). Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa laki-laki dan perempuan di Banda Aceh. Data menunjukkan secara signifikan mahasiswa perempuan memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasisiswa laki-laki. Di sisi lain, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat kecemasan berbicara di depan umum juga lebih tinggi pada mahasiswa dengan rentang usia remaja dibandingkan dengan usia dewasa awal.Public speaking anxiety is a psychological problem that students often experience in their first year because it is a transition period from school to college. This is a challenge faced by both male and female students when faced with the task of speaking in public. This study aims to determine the differences in public speaking anxiety in male and female students. A total of 120 new students consisting of 60 male students and 60 female students were involved as samples for this research who were selected using non-probability with convenience sampling techniques. The Personal Report Public Speaking Anxiety Scale (PRPSA) instrument is a unidimensional research data collection tool with a total of 34 items ( = 0.84). The results of the research analysis show that there are differences in the level of public speaking anxiety among male and female students in Banda Aceh. Data shows that female students have significantly higher levels of anxiety compared to male students. On the other hand, the research results also show that the level of public speaking anxiety is also higher among students in the teenage age range compared to early adulthood.
Perbedaan Hardiness Mahasiswa Perantau Ditinjau Dari Jenis Kelamin Arisandi, Evi; Nisa, Haiyun
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i1.29993

Abstract

Menempuh pendidikan tinggi merupakan impian dan keinginan setiap individu, sehingga individu akan berjuang untuk melanjutkan studi pada bidang yang diinginkan walaupun harus merantau ke daerah lain. Mahasiswa yang merantau ke daerah lain akan mengalami banyak tantangan dan hambatan dalam proses studinya, sehingga diperlukan ketangguhan atau hardiness. Hardiness merupakan salah satu faktor kepribadian yang turut berperan terhadap respon individu dalam menghadapi peristiwa yang berpotensi menimbulkan stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hardiness pada mahasiswa perantau ditinjau dari jenis kelamin. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah quota sampling dengan jumlah 160 mahasiswa perantau yang terdiri dari 80 laki- laki dan 80 perempuan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah adaptasi Hardiness Scale yang disusun oleh Bartone (1991). Uji hipotesis yang telah dilakukan menunjukkan hasil (p = 0,46, p 0.05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hardiness antara mahasiswa perantau laki-laki dan perempuan.Higher education is the dreams and desires of each individual, so that individuals will strive for further study on the desired field though should be migrated to other areas. Students who wander into other areas will experience many challenges and obstacles in the process of their studies, so that the necessary toughness or hardiness. Hardiness is one of the factors contributing towards the personality of the individual response in the face of a potentially stressful event. This research aimed to know the difference in hardiness on student nomads in terms of gender. Sampling technique used was quota sampling with a total of 160 students of the nomads that consists of 80 men and 80 women. Research instrument used is the adaptation of the Hardiness Scale compiled by Bartone (1991). Test the hypothesis has been done show results (p = 0.46, p 0.05). Based on these results it can be concluded that there is a difference in hardiness among nomads of both men and women.men and women.
Resiliensi Penyintas Bencana Gempa Bumi di Pidie Jaya Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Usia Ramadhan, Ferry; Mawarpury, Marty
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.7612

Abstract

Resiliensi merupakan kualitas individu yang memungkinkannya untuk menyesuaikan diri dengan stres yang ekstrem dan traumatis, kemudian akan kembali ke kondisi sebelumnya dan tampak kebal dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang negatif. Resiliensi dapat dikaji berdasarkan faktor yang memengaruhinya seperti jenis kelamin dan usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan resiliensi pada penyintas bencana gempa bumi di Pidie Jaya ditinjau dari jenis kelamin dan usia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel purposive. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari 163 laki-laki dan 163 subjek perempuan dan kelompok usia terdiri dari 76 subjek remaja, dan 88 subjek dewasa madya. Pengumpulan data menggunakan Connor Davidson Resilience Scale. Hasil analisis menggunakan Mann Whitney U Test menunjukkan nilai signifikasi 0,002 (p0,05) untuk kelompok jenis kelamin dan nilai signifikansi 0,000 (p0,05) untuk kelompok usia, artinya terdapat perbedaan resiliensi ditinjau dari jenis kelamin dan usia. Hasil ini menunjukkan berdasarkan jenis kelamin laki-laki lebih resilien dari pada perempuan dan pada kelompok usia, remaja lebih resilien dari pada dewasa madya.Resilience is a quality of a person that allows him/her to adapt to extreme and traumatic stress, then return to his/her previous condition and appear immunity from negative life events. Resilience can be studied based on influencing factors such as gender and age. This study aims to determine differences in resilience in earthquake survivors in Pidie Jaya in terms of gender and age. This research uses quantitative methods with purposive sampling techniques. Tthe subjects in this study consisted of 163 male and 163 female subjects and the age group consisted of 76 adolescents, and 88 middle adults. Data collection using the Connor Davidson Resilience Scale. The results of the analysis using the Mann Whitney U Test showed a significance value of 0.002 (p0.05) for the gender group and 0.000 (p0.05) for the age group, this means that there are differences in resilience in terms of gender and age.The results indicate that based on gender, men are more resilient than women and in the age group, adolescents are more resilient than middle adults.
Penyesuaian Diri Wanita Yang Menikah Beda Budaya Arifah, Zahrina; Aulia, Fadhila Nurul; Nadhifah, Raisyah Aliyah; Khairunnisa, Ariqa; Khairunnisa.MR, Junicha; Hakim, Agustian Hasnan; Sari, Kartika
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30834

Abstract

Individual adjustment in marriage is essential to achieving a successful and happy marriage. Marriages of different cultures can lead to challenges in marriage life, such as differences in values and customs. This study aims to find out the individual's adaptation to living in a different-cultural marriage. This research uses a qualitative approach to this type of case study. The subjekt selection procedure uses purposive sampling techniques with a total of six individuals who are married to couples of different cultures. Techniques of data collection through observations and interviews. The collected data is analyzed with thematic analysis techniques, using the theory as a reference to coding. The results of the study found that six subjekts were able to adapt well to different cultural marriages. The adaptations carried out included experiences of adaptation and ways of adapting in marriages of different cultures. Adaptation experiences include relationships with spouses, relations with families, and marriage challenges. Therefore, adaptation can be done through communication, agreement, acceptance of differences, understanding, financial management, appetite alignment, and language alignment. The implications of this research are that it can raise public awareness of cultural diversity and the challenges faced by couples of different cultures, reduce prejudice and discrimination, and help couples from various cultures adapt more easily to the new environment.Penyesuaian individu dalam pernikahan merupakan hal penting untuk mencapai pernikahan yang sukses dan bahagia. Pernikahan beda budaya dapat menyebabkan tantangan dalam kehidupan pernikahan berupa adanya perbedaan nilai maupun adat istiadat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyesuaian diri individu dalam menjalani pernikahan beda budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Prosedur pengambilan subjek menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah subjek enam orang individu yang menikah dengan pasangan yang berbeda budaya. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis tematik menggunakan teori sebagai acuan untuk melakukan coding. Hasil penelitian menemukan bahwa enam subjek mampu menyesuaikan diri dalam pernikahan beda budaya dengan baik. penyesuaian diri yang dilakukan meliputi pengalaman penyesuaian diri dan cara menyesuaikan diri dalam pernikahan beda budaya. Pengalaman penyesuaian diri mencakup hubungan dengan pasangan, hubungan dengan keluarga dan tantangan pernikahan. Oleh karena itu, cara untuk penyesuaian diri dapat dilakukan dengan komunikasi, kesepakatan, menerima perbedaan, memahami, pengelolaan keuangan, penyelarasan selera makanan, dan penyelarasan bahasa. Implikasi penelitian ini yaitu dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keberagaman budaya dan tantangan yang dihadapi pasangan beda budaya, mengurangi prasangka dan diskriminasi, serta dapat membantu pasangan beda budaya untuk lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Kontrol Diri dan Kepatuhan Menggunakan Alat Pelindung Diri Petugas Pengangkut Sampah di Banda Aceh Wardani, Sri; Sari, Kartika
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.9832

Abstract

Kontrol diri merupakan kemampuan individu untuk menentukan perilakunya berdasarkan standar tertentu seperti moral, nilai, dan aturan di masyarakat agar mengarah pada perilaku positif. Sedangkan kepatuhan adalah menerima perintah-perintah dari orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan kepatuhan menggunakan alat pelindung diri pada petugas pengangkut sampah di kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk memilih 174 partisipan. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Kontrol Diri yang disusun oleh peneliti berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Tangney dkk. dan Skala Kepatuhan berdasarkan pada teori Blass. Hasil analisis dengan teknik korelasi Spearmans Rho diperoleh nilai (r)=0,621 dengan nilai p=0,000 (p 0.05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tedapat hubungan antara kontrol diri dengan kepatuhan menggunakan alat pelindung diri pada petugas pengangkut sampah di kota Banda Aceh. Hal ini dapat diartikan bahwa kontrol diri berkaitan dengan kemampuan petugas pengangkut sampah mengembangkan kebiasaan hidup sehat untuk melindungi diri dari perilaku berisiko.Self-control is the ability of individuals to determine their behavior based on certain standards such as morals, values, and rules in society to lead to positive behavior. While obedience is taking orders from others. This study aims to determine correlation between self-control and obedience using personal protective equipment on garbage collectors in Banda Aceh. This research used a purposive sampling technique to select 174 participants. The instruments used are the Self Control Scale compiled by researchers based on the theory developed by Tangney et al and the Compliance Scale based on Blass theory. The results of analysis using the Spearman's Rho correlation technique obtained a value of (r) = 0.621 with a p value = 0.000 (p 0.05). The results of this study indicate that there is a correlation between self-control and obedience using personal protective equipment (PPE) on garbage collectors in Banda Aceh. This can be interpreted that self-control is related to the ability of garbage collectors to develop healthy living habits to protect themselves from risky behavior.
Perbedaan Kualitas Tidur Mahasiswa Ditinjau Dari Jenis Kelamin Junaidi, Win; Ayu, Munira; Bella, Sinta; Shaqinah, Sharla Aliffia; Ulfarianti, Ulfarianti; Amna, Zaujatul
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30913

Abstract

Sleep quality is an important aspect for college students that directly affects their health, cognitive function, and academic performance in both women and men. Therefore, research on sex differences in sleep quality based on gender among university students is an interesting topic to be studied further, given the biological and psychosocial differences between men and women that can affect their sleep quality. The purpose of this study was to determine the differences in sleep quality between male and female students studying at the university level in Aceh Province using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) as a research data collection instrument. A total of 484 students (241 males and 243 females) were included as research samples, selected by simple randomization. The results of the data analysis showed that there was no difference in sleep quality between the male and female students. In addition, the research findings also explain that both male and female students have poor sleep quality categorization, and it can be assumed that the poor sleep quality experienced by college students can have long-term implications for their physical health and psychological well-being.Kualitas tidur menjadi salah satu aspek penting bagi mahasiswa yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan, fungsi kognitif, dan performa akademiknya baik perempuan maupun laki-laki. Oleh karena itu, penelitian mengenai perbedaan kualitas tidur berdasarkan jenis kelamin di kalangan mahasiswa menjadi topik yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, mengingat adanya perbedaan biologis dan psikososial antara laki-laki dan perempuan yang dapat memengaruhi kualitas tidurnya. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini dilakukan yaitu untuk mengetahui perbedaan kualitas tidur antara mahasiswa laki-laki dan perempuan yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Propinsi Aceh, dengan menggunakan instrument Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebagai instrumen pengumpulan data penelitian. Sebanyak sebanyak 484 mahasiswa (yang terdiri dari 241 mahasiswa laki-laki dan 243 mahasiswa perempuan) terlibat sebagai sampel penelitian yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kualitas tidur pada mahasiswa laki-laki maupun mahasiswa perempuan. Selain itu, temuan penelitian juga menjelaskan bahwa mahasiswa laki-laki maupun mahasiswa perempuan berada pada kategorisasi kualitas tidur yang buruk, hal ini dapat diasumsikan bahwa kualitas tidur yang buruk yang dialami oleh mahasiswa selama masa kuliah dapat memiliki implikasi jangka panjang terhadap kesehatan fisik dan kesejahteraan psikologisnya.
Hubungan Antara Psychological Capital dengan Keterlibatan Kerja Pada Karyawan Bank X Munika, Diah Pera; Mirza, Mirza
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30535

Abstract

Work engagement is a positive motivational state, compliance, and outlook on work conditions that can be influenced by a person's positive conditions, such as psychological capital. This study aims to determine the relationship between psychological capital and work engagement in Bank X employees. The sample of this study was 54 employees of Bank X. Respondents in the study were selected using a nonprobability sampling technique, namely quota sampling. The collection of research data used Psychological Capital Questionnaire (PCQ) contains 24 statement items and Utrect Work Engagement Scale (UWES) contains 17 statement items that have been adapted into Indonesian. The data obtained were then analyzed using the Pearson correlation technique and showed a correlation result of r = 0.490, with a significance value of p 0.05). These results indicate that there is a positive and significant relationship between psychological capital and work engagement in Bank X employees. This means that the higher the psychological capital, the higher the employee's work engagement or vice versa.Keterlibatan kerja merupakan keadaan motivasional positif, kepatuhan, dan pandangan terhadap kondisi kerja yang dapat dipengaruhi kondisi positif seseorang, seperti psychological capital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara psychological capital dengan keterlibatan kerja pada karyawan Bank X. Sampel penelitian ini adalah 54 karyawan Bank X. Responden dalam penelitian dipilih menggunakan teknik nonprobability sampling yaitu dengan quota sampling. Pengumpulan data penelitian menggunakan Psychological Capital Questionnare (PCQ) berisi 24 butir pernyataan dan Utrect Work Enggagement Scale (UWES) berisi 17 butir pernyataan yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik korelasi Pearson dan menunjukkan hasil korelasi r=0,490, dengan nilai signifikansi p0,05). Hasil ini mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara psychological capital dengan keterlibatan kerja pada karyawan Bank X. Artinya semakin tinggi psychological capital maka semakin tinggi keterlibatan kerja karyawan atau sebaliknya.
Ketakutan akan Kegagalan dan Prokrastinasi pada Mahasiswa Bidikmisi Maulidya, Maulidya; Dahlia, Dahlia; Mawarpury, Marty; Rachmatan, Risana
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.29697

Abstract

Pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia tetapi beberapa individu terkendala biaya. Pemerintah kemudian menyiapkan beasiswa Bidikmisi yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang mampu secara akademik tetapi memiliki keterbatasan ekonomi. Mahasiswa Bidikmisi wajib memiliki IPK minimal 3,00 tetapi masih banyak mahasiswa Bidikmisi memiliki IPK 3,00 karena melakukan prokrastinasi dalam penyelesaian tugas. Salah satu penyebab individu melakukan prokastinasi adalah adanya ketakutan akan kegagalan yang merupakan perasaan terancam menghadapi keadaan yang memungkinkan terjadinya kegagalan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan ketakutan akan kegagalan dengan prokrastinasi pada mahasiswa Bidikmisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik penarikan sampel purposive sehingga diperoleh sampel sebanyak 233 mahasiswa Bidikmisi yang memiliki IPK 3,00. Pengumpulan data menggunakan adaptasi Tuckman Procrastination Scale dan adaptasi The Performance Failure of Appraisal Inventory. Hasil analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment menunjukkan nilai (r)=0,288 dengan nilai (p)=0,000 (p 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara ketakutan akan kegagalan dengan prokrastinasi pada mahasiswa Bidikmisi. Artinya, semakin tinggi ketakutan akan kegagalan maka semakin tinggi prokrastinasi, begitu juga sebaliknya. Ketakutan akan kegagalan yang muncul diakibatkan mahasiswa Bidikmisi kurang yakin akan kemampuan diri dan menghindari penilaian negatif dari orang lain sehingga melakukan prokrastinasi.Education plays an important role in improving Indonesia's human resources, but some individuals are constrained by costs. The government provides Bidikmisi scholarship for students who are academically capable but have economic limitations. Bidikmisi students are required to have a minimum GPA of 3.00, but there are still many Bidikmisi students who have a GPA 3.00 because they procrastinate in completing their assignments. One of the causes of individuals committing procastination is the fear of failure, which is a feeling of being threatened by facing circumstances that allow failure to occur. The purpose of this study was to determine the relationship between fear of failure and procrastination in Bidikmisi students. This study uses a quantitative approach with pusposive sampling technique therefore 233 Bidikmisi students who have a GPA 3.00 were selected. Data collection uses the adaptation of the Tuckman Procrastination Scale and the adaptation of The Performance Failure of Appraisal Inventory. The results of data analysis using the Pearson Product Moment Correlation shows the value of the correlation coefficient (r)=0.288 with a significance value (p)=0.000 (p 0.05). This shows that there is a relationship between fear of failure and procrastination in Bidikmisi students. That is, the higher the fear of failure, the higher the procrastination, and vice versa. The fear of failure that arises is caused by Bidikmisi students not being confident in their own abilities and avoiding negative judgments from other people, resulting in procrastination.
Memahami Motif Melakukan Binge-Watching pada Mahasiswa Perempuan Ummah, Izzatul; Charnita, Shafira Putri; Riyani, Silvi Rahma Putri; Fadhila, Nisrina; Khansa, Siti Athaya; Riamanda, Irin
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30672

Abstract

Binge-watching is the activity of watching multiple episodes of a TV series or drama consecutively without breaks. This activity leads individuals to spend long periods in front of screens, and research has shown that women tend to engage in it more frequently. This study aims to understand the main motives behind binge-watching behavior among female university students. A qualitative research approach using qualitative descriptive methods was employed through interviews with five respondents aged 18-22, who are female students at a university in Aceh. The results revealed several primary motives for binge-watching among female students. While each subject had different motives, stress relief and seeking entertainment were the main reasons for binge-watching. These findings provide a deeper understanding of binge-watching behavior among female students and highlight the need for further research on the impact of binge-watching on other aspects such as mental health and interpersonalrelationships.Binge-watching merupakan aktivitas menonton beberapa episode serial TV atau drama berturut-turut tanpa jeda. Aktivitas ini membuat seseorang berada di depan layar dalam waktu yang lama, dan penelitian mengungkapkan bahwa perempuan lebih sering melakukannya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami motif utama di balik perilaku binge-watching pada mahasiswa perempuan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode kualitatif deskriptif melalui proses wawancara kepada lima responden berusia 18-22 tahun yang merupakan mahasiswa perempuan di sebuah universitas di Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa motif utama mahasiswa perempuan melakukan binge-watching. Setiap subjek memiliki perbedaan motif, namun meredakan stres dan mencari hiburan menjadi motif utama mahasiswa perempuan melakukan binge-watching. Temuan ini dapat memperdalam pemahaman tentang perilaku binge-watching pada mahasiswa perempuan dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak binge-watching pada aspek lain, seperti kondisi kesehatan mental dan hubungan interpersonal.
Intensi Job Hopping pada Generasi Y dan Z Humaira, Sarah; Aprilia, Eka Dian; Mirza, Mirza; Khatijatusshalihah, Khatijatusshalihah
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.29672

Abstract

Fenomena job hopping telah dianggap menjadi masalah dalam lingkungan pekerjaan saat ini. Dalam lingkup pekerjaan, adanya perbedaan karakteristik antar generasi pekerja dapat mengakibatkan individu untuk melakukan job hopping. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran perbedaan intensi job hopping pada generasi Y dan generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode komparasi. Responden dalam penelitian ini sebesar 80 subjek untuk setiap kelompok generasi. Adapun jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 160 pekerja generasi Y dan pekerja generasi Z yang aktif bekerja di suatu instansi/perusahaan/organisasi dan bekerja kurang dari 2 tahun pada tempat kerjanya saat ini. Pengumpulan data penelitian menggunakan skala Job Hopping Intention Scale (JHI) dengan () 0,906. Hasil analisis data uji statistik Independent T-test menunjukkan nilai signifikansi (p) =0,000 (0,000 0,05). Ada perbedaan signifikan pada nilai pekerja generasi Y (M=73,75) dan pekerja generasi Z (M=85,00). Berdasarkan nilai mean, pekerja generasi Z lebih tinggi daripada pekerja generasi Y. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja generasi Z memiliki intensi Job hopping lebih besar dibanding pekerja generasi Y.The phenomenon of job hopping has been considered a problem in the current job environment. In the scope of work, differences in characteristics between generations of workers may result in individuals doing job hopping. This study aims to describe the differences in job hopping intentions in generation Y and generation Z. This study uses a quantitative approach with the comparative method. Respondents in this study amounted to 80 subjects for each generation group. The number of respondents taken in this study is 160 generation Y workers and generation Z workers who actively worked in an agency / company / organization and worked less than 2 years at their current workplace. The collection of research data using a Job Hopping Intention Scale (JHI) with () 0.906. The results of statistical test data analysis of the Independent T-test showed a significance value (p) = 0.000 (0.000 0.05). There is a significant difference in the value of generation Y workers (M= 73.75) and generation Z workers (M = 85.00). Based on the mean value, generation Z workers is higher than generation Y workers. This shows that generation Z workers have greater job hopping intentions than generation Y workers.