cover
Contact Name
MAYA KHAIRANI
Contact Email
jimpsi.fk@usk.ac.id
Phone
+6285261502720
Journal Mail Official
jimpsi.fk@usk.ac.id
Editorial Address
Jl. Tgk. Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Banda Aceh, Provinsi Aceh, 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Syiah Kuala Psychology Journal
ISSN : -     EISSN : 3030976X     DOI : 10.24815/skpj
Syiah Kuala Psychology Journal (SKPJ) is an online academic journal and interested in empirical studies in psychological area. SKPJ is a peer-reviewed journal. Syiah Kuala Psycology Journal receives manuscripts that focused on psychological research and applied psychology. Humanities studies related to psychological science are the scope that also considered in Syiah Kuala Psycology Journal. Every published article will go through a peer-review process by experts who have experience in managing journals and publishing articles in prestigious journals. Every published article has met the requirements set by the SKPJ Editorial Board. SKPJ accepts and publishes psychology student research articles which are published twice a year in April and October.
Articles 44 Documents
Durasi Penggunaan Media Sosial dan Kecenderungan Adiksi Belanja Daring Pada Mahasiswa Khairunnisa, Sarah; Aprilia, Eka Dian; Julita, Santi; Mirza, Mirza
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i1.32597

Abstract

This study aims to determine the relationship between the duration of social media use and the tendency toward online shopping addiction among students at Universitas Syiah Kuala. This research is based on two main data which show that students aged 1824 are the largest group of social media users and online shopping is the most dominant internet activity. Changes in consumption patterns due to social media have the potential to trigger addictive behavior in online shopping. This research uses a quantitative approach with purposive sampling technique and the sample criteria include students at Universitas Syiah Kuala who use social media for more than three hours per day and shop online at least twice per month. The instruments used were the Social Networking Time Use Scale (SONTUS) and the Online Shopping Addiction Scale (OSAS). The analysis using the Spearman Rho test showed a significant positive relationship between the duration of social media use and the tendency toward online shopping addiction (p = 0.001; r = 0.190). Although significant, the strength of the relationship is very weak. This indicates that the longer students use social media, the more likely they are to exhibit signs of online shopping addiction, although the influence is not dominant. Other factors such as economic conditions, purposes of social media use, and individual characteristics also play a role. This study suggests that students should develop awareness in managing their time on social media to prevent excessive consumer behaviors.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi penggunaan media sosial dengan kecenderungan adiksi belanja daring pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini didasarkan pada dua data penting bahwa mahasiswa usia 18-24 tahun merupakan pengguna media sosial terbesar dan belanja daring menjadi aktivitas dominan di internet. Perubahan pola konsumsi akibat media sosial menimbulkan potensi perlilaku adiktif dalam berbelanja secara daring. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pemilihan sampel purposive dengan kriteria sampel adalah mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari dan berbelanja daring minimal dua kali per bulan. Instrumen yang digunakan yaitu Social Networking Time Use Scale (SONTUS) dan Online Shopping Addiction Scale (OSAS). Hasil analisis menggunakan uji Spearman Rho menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara durasi penggunaan media sosial dengan kecenderungan adiksi belanja daring (p = 0,001; r = 0,190). Meskipun hubungan tersebut signifikan, kekuatannya tergolong sangat lemah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama mahasiswa menggunakan media sosial, maka kecenderungan untuk mengalami adiksi belanja daring meningkat tetapi pengaruhnya tidak dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin lama mahasiswa menggunakan media sosial, maka semakin besar kemungkinan mereka memiliki kecenderungan untuk mengalami adiksi belanja daring. Namun demikian, durasi penggunaan media sosial bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi kecenderungan tersebut. Faktor-faktor lain seperti kondisi ekonomi, tujuan penggunaan media sosial, dan karakteristik individu turut berperan. Penelitian ini menyarankan agar mahasiswa memiliki kesadaran dalam mengelola waktu di media sosial guna mencegah perilaku konsumtif berlebihan.
Penerimaan Sosial dan Empati Terhadap Teman Sebaya Pada Siswa Berkebutuhan Khusus Zahrah, Siti; Viridanda, Wida Yulia; Zahrani, Zahrani; Mawarpury, Marty
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i1.32003

Abstract

Social acceptance is a crucial factor that every individual needs to have, especially children with special needs, so that they are more valued and feel needed by others in close relationships, namely in social groups. Research on social acceptance among peers in students with special needs is interesting to explore more deeply, especially regarding how they feel accepted and integrated in social groups in the school environment. This study aims to analyze the relationship between social acceptance and empathy towards peers among students with special needs in inclusive schools. A total of 125 students from Banda Aceh City State Junior High School aged 12-16 years old (mean=13.6; SD=0.86) selected by convenience sampling technique filled out the Social Acceptance Scale (SAS) instrument and the Interpersonal Reactivity Index (IRI) instrument which had been adapted into Indonesian. Data was analyzed using Pearson Correlation and showed that there was a correlation between social acceptance in the perspective taking dimension (r=0.287, p=0.001) and the empathic concern dimension (r=0.418, p=.001). However, there is no correlation between social acceptance in the fantasy dimension (r=0.150, p=0.095), and the personal distress dimension (r=0.106, p=0.240). The research findings also explain that both male and female students have high social acceptance. This has a positive impact on others, especially on students with special needs.Penerimaan sosial merupakan faktor krusial yang perlu dimiliki setiap individu terutama pada anak berkebutuhan khusus agar mereka lebih dihargai dan merasa diperlukan oleh orang lain dalam hubungan yang dekat yakni dalam kelompok sosial. Penelitian mengenai penerimaan sosial di kalangan teman sebaya pada siswa berkebutuhan khusus menarik untuk dieksplorasi lebih mendalam, terutama terkait bagaimana mereka merasa diterima dan diintegrasikan dalam kelompok sosial di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara penerimaan sosial dengan empati terhadap teman sebaya pada siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. Sebanyak 125 siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri Kota Banda Aceh berusia 12-16 tahun (mean=13.6; SD=0.86) yang dipilih dengan teknik convinience sampling mengisi instrumen Social Acceptance Scale (SAS) dan instrumen Interpersonal Reactivity Index (IRI) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan Pearson Correlation dan menunjukkan bahwa terdapat kolerasi antara penerimaan sosial pada dimensi perspective taking (r=0.287, p=0.001) dan dimensi empathic concern sebesar (r=0.418, p=.001). Namun tidak terdapat korelasi antara penerimaan sosial pada dimensi fantasy (r=0.150, p=0.095), dan dimensi personal distress (r=0.106, p=0.240). Temuan penelitian juga menjelaskan bahwa siswa laki-laki maupun siswa perempuan memiliki penerimaan sosial yang tinggi. Hal ini berdampak positif bagi orang lain terutama pada siswa berkebutuhan khusus.
Makna Kebahagiaan Pada Remaja Yatim Piatu di Banda Aceh Aulia, Muhammad; Junaidi, Win; Adha, Fauzia Aulia; Suyida, Nasywa Alifah; Nurjihan, Tara; Sari, Kartika
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i1.30772

Abstract

Happiness is an important aspect of life that is closely related to mental and emotional well-being. Orphaned adolescents can face more difficulties in achieving happiness. This study aims to explore the meaning of happiness in orphaned adolescents. This research uses a qualitative method with a phenomenological approach. The sampling technique used was purposive sampling with the number of respondents five orphaned teenagers with age criteria between 12-20 years who lost both parents due to death. Data collection was carried out through interviews and observations and then the results obtained were analyzed using Braun and Clarkes thematic analysis. The findings of this study reveal that happiness in orphaned adolescents is closely related to social support and spiritual meaning. This study emphasizes the importance of programs that enhance social support and spiritual development, as well as greater psychological support and understanding of happiness from the perspective of the orphans themselves.Kebahagiaan merupakan aspek penting dalam hidup yang terkait erat dengan kesejahteraan mental dan emosional. Remaja yatim piatu dapat menghadapi lebih banyak kesulitan dalam mencapai kebahagiaan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna kebahagiaan pada remaja yatim piatu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah responden lima orang remaja yatim piatu dengan kriteria usia antara 12-20 tahun yang kehilangan kedua orang tua karena meninggal dunia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi lalu hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa kebahagiaan pada remaja yatim piatu sangat berkaitan erat dengan dukungan sosial dan makna spiritual. Penelitian ini menekankan pentingnya program yang meningkatkan dukungan sosial dan pengembangan spiritual, serta dukungan psikologis yang lebih besar dan pemahaman kebahagiaan dari perspektif anak yatim piatu itu sendiri.
Hubungan Ketangguhan Mental dengan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Aktif Berorganisasi Fadhilah, Rizqan; Riamanda, Irin; Mirza, Mirza; Sulistyani, Arum
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i1.31589

Abstract

Students must be able to harmonize academic and non-academic processes, one of which is organizational activities. It is not uncommon for some students to experience the inability to coordinate academic obligations with active organizational activities, causing the adverse effects of academic procrastination. Therefore, students are expected to be able to foster mental toughness to maintain performance in conditions and circumstances. The study was conducted with the aim of knowing the relationship between mental toughness and academic procrastination in active organizational students. Using a correlational quantitative method using accidental sampling method and as many as 327 active organizational students of class 2020-2022 Syiah Kuala University became research samples by filling out the mental toughness questionnaire 18 (MTQ-18) and Tuckman Procrastination Scale (TPS) research instruments. The study showed a significant value (p) = 0.001 with a correlation coefficient of (r) = - 0.242 which means there is a negative relationship between mental toughness and academic procrastination, the lower the mental toughness, the higher the procrastination and vice versa the higher the mental toughness, the lower the academic procrastination. This study also provides implications in the form of suggestions that students can do to be able to balance college goals with organizational activities, one of which is by increasing enthusiasm for learning to reduce pressure and anxiety during the academic process so that it can also increase mental toughness in themselvesMahasiswa harus dapat menyelaraskan proses akademik maupun non-akademik salah satunya kegiatan organisasi. Tidak jarang bagi beberapa mahasiswa mengalami ketidakmampuan mengoordinasikan kewajiban akademik dengan kegiatan aktif organisasi sehingga menimbulkan dampak buruk prokrastinasi akademik. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan ketangguhan mental untuk mempertahankan kinerja dalam kondisi dan keadaan. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui adanya hubungan ketangguhan mental dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa aktif berorganisasi. Menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan menggunakan metode sampling accidental dan sebanyak 327 mahasiswa aktif berorganisasi angkatan 2020-2022 Universitas Syiah Kuala menjadi sampel penelitian dengan mengisi instrumen penelitian Mental Toughness Questionnaire 18 dan Tuckman Procrastination Scale. Penelitian menunjukkan nilai signifikansi (p)=0.001 dengan koefisien korelasi sebesar (r)=-0.242 yang berarti terdapat hubungan negatif antara ketangguhan mental dengan prokrastinasi akademik, semakin rendah ketangguhan mental maka semakin tinggi prokrastinasi dan sebaliknya semakin tinggi ketangguhan mental maka semakin rendah prokrastinasi akademik. Penelitian ini juga memberikan implikasi berupa saran yang dapat dilakukan mahasiswa agar mampu menyeimbangkan tujuan berkuliah dengan kegiatan organisasi salah satunya dengan meningkatkan antusiasme belajar agar mengurangi tekanan dan kecemasan selama proses akademik berlangsung sehingga juga dapat meningkatkan ketangguhan mental pada diri sendiri.
Binge Watching Platform Video on Demand: Generasi Z dan Hubungannya dengan Fear of Missing Out Utami, Guinea; Arfensia, Danny Sanjaya; Musthofa, M. Hanif; Mahlil, Yudi
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i1.33155

Abstract

Technological developments have changed habits in watching television, it rise up to the phenomenon of binge watching which is watching several episodes of a series at once. Television which previously could only be accessed offline, nowadays can be accessed online via Video on Demand (VoD) services. Most VoD service users are generation Z and are likely to be affected by Fear of Missing Out (FoMO) namely the fear of losing information about a series or film that is being discussed by other people. The aim of this research is to determine the relationship between binge watching video on demand and FoMO in generation Z. This research uses a quantitative approach with a purposive sampling technique. The research subjects were 280 respondents with an age range of 29-21 years and came from various provinces in Indonesia. Data collection in this study used the adaptation measuring tools Binge-Watching Engagement and Symptoms Questionnaire (BWESQ) and Fear of Missing Out Scale (FoMOS). Data analysis using Pearson Correlation shows a significant value of p=0.0010.05 with a correlation (r) of 0.456 which shows that there is a significant relationship between Binge Watching and FoMO.Perkembangan teknologi mengubah kebiasaan dalam menonton televisi sehingga memunculkan fenomena binge watching yaitu menonton beberapa episode serial sekaligus. Televisi yang dulunya hanya dapat diakses secara offline, kini dapat diakses secara online melalui layanan Video on Demand (VoD). Sebagian besar pengguna layanan VoD adalah generasi Z dan berkemungkinan terdampak Fear of Missing Out (FoMO) yaitu takut kehilangan informasi mengenai serial atau film yang sedang didiskusikan oleh orang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan binge watching video on demand dengan FoMO pada generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Subjek penelitian berjumlah 280 responden dengan rentang usia 29-21 tahun dan berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan alat ukur adaptasi Binge-Watching Engagement and Symptoms Questionnaire (BWESQ) dan Fear of Missing Out Scale (FoMOS). Analisis data menggunakan korelasi Pearson menunjukkan nilai signifikansi p=0,0010,05 dengan korelasi (r) 0,456 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara binge watching dan FoMO.
Hubungan Antara Flexible Working Arrangement Terhadap Beban Kerja Subjektif Pada Dosen Universitas X Afifa, Safratul Ghina Dilla; Riamanda, Irin; Rachmatan, Risana; Julita, Santi
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i1.32136

Abstract

Lecturers are educators who have the main responsibility for disseminating knowledge through educational activities, research and community service. Lecture workload is defined as the average frequency of activities carried out within a certain period, in accordance with academic and professional responsibilities. Flexible Working Arrangement (FWA) was introduced as a flexible work scheme that allows adjustments to work time and location in a structured and sustainable manner. This research aims to determine the relationship between flexible working arrangements and subjective workload on lecturers at X University. This research uses a quantitative approach with a correlation type. The sampling technique uses quota sampling with a total sample size of 286 lecturers. The research data collectors involved lecturers who had a minimum position of Assistant Expert, did not hold a structural position, and were not on study assignments. The results of the research analysis showed that there was a negative relationship between flexible working arrangements and subjective workload for lecturers at X University, with a significant value (p)=0.006 and correlation coefficient value (r)=-0.163. This can be interpreted that the higher the flexible working arrangement, the lower the subjective workload. The results of the study also showed that the implementation of flexible working arrangements provides flexibility for workers to arrange work schedules according to personal preferences, thereby reducing the perception of workload. These results indicate that universities, including X University, can implement flexible working arrangements as a strategic policy to improve lecturer welfare, reduce perceived work pressure, and maintain productivity that the relationship between the flexible working arrangement variable is low on subjective workload in lecturers at X University.Dosen merupakan tenaga pendidik yang memiliki tanggung jawab utama dalam penyebarluasan ilmu pengetahuan melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Beban kerja dosen didefinisikan sebagai frekuensi rata-rata aktivitas yang dijalankan dalam kurun waktu tertentu, sesuai dengan tanggung jawab akademik dan profesional. Flexible working arrangement diperkenalkan sebagai salah satu skema kerja fleksibel yang memungkinkan penyesuaian waktu dan lokasi kerja secara terstruktur dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan flexible working arrangement dengan beban kerja subjektif pada dosen Universitas X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis korelasi. Teknik penentuan sampel menggunakan quota sampling dengan jumlah sampel sebanyak 286 dosen. Pengumpulan data penelitian melibatkan dosen yang memiliki jabatan minimal asisten ahli tidak menduduki jabatan struktural, dan tidak sedang tugas belajar. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negative antara flexible working arrangement dengan beban kerja subjektif pada dosen Universitas X, dengan nilai signifikansi (p)=0,006 dan nilai koefisien korelasi (r)=-0,163. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi flexible working arrangement maka semakin rendah beban kerja subjektif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan flexible working arrangement memberikan keleluasaan bagi pekerja untuk mengatur jadwal kerja sesuai preferensi pribadi, sehingga mengurangi persepsi beban kerja. Hasil ini mengindikasikan bahwa perguruan tinggi, termasuk Universitas X, dapat menerapkan flexible working arrangement sebagai kebijakan strategis untuk meningkatkan kesejahteraan dosen, mengurangi tekanan kerja yang dirasakan, dan tetap menjaga produktivitas bahwa hubungan variabel flexible working arrangement rendah terhadap beban kerja subjektif pada dosen Universitas X.
Gambaran Tingkat Stres, Cemas, dan Depresi Pada Mahasiswa Yang Sedang Menyusun Skripsi: Studi Komparasi Exsa, Priya; Mardhiah, Ainun; Raihan, Gebrina; Luthfiya, Nura; Maqfira, Nurul; Azkiya, Nyak Dara; Qarar, Wan Miftahul; Amna, Zaujatul
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.34438

Abstract

A thesis is a scientific paper that is one of the requirements for graduation at the bachelors degree level (S1), which requires students to think critically, work independently, and manage academic pressure well. Writing a thesis often triggers stress, anxiety, and depression, which can affect students' psychological conditions. Gender differences also affect individual responses to academic pressure. The purpose of this study was to determine the level of stress, anxiety, and depression in students who are writing a thesis based on gender using a quantitative approach with a comparative design. 60 students were involved as research samples obtained through accidental sampling techniques, and data were collected online and offline using the DASS-21 instrument, which was then analyzed using the non-parametric independent sample t-test. The results of the study showed differences in the levels of stress, anxiety, and depression between male and female students who are writing a thesis. These findings indicate that students' psychological conditions are influenced by gender factors. The implications of this study can be used as a basis for developing psychological interventions that are more targeted and responsive to gender differences in the university environment.Skripsi merupakan karya tulis ilmiah yang menjadi salah satu syarat kelulusan pada jenjang Sarjana Strata Satu (S1), yang menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis, bekerja mandiri, dan mengelola tekanan akademik dengan baik. Proses penyusunan skripsi sering kali memicu stres, kecemasan, dan depresi, yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa. Perbedaan jenis kelamin juga memengaruhi respons individu terhadap tekanan akademik tersebut. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat stres, kecemasan, dan depresi pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi berdasarkan jenis kelamin dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif. Sebanyak 60 mahasiswa terlibat sebagai sampel penelitian yang diperoleh melalui teknik accidental sampling, dan data dikumpulkan secara daring dan luring menggunakan instrumen DASS-21, yang kemudian dianalisis menggunakan uji non-parametrik Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat stres, kecemasan, dan depresi antara mahasiswa laki-laki dan perempuan yang sedang menyusun skripsi. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi psikologis mahasiswa dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin. Implikasi dari penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan intervensi psikologis yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap perbedaan gender di lingkungan perguruan tinggi.
Keputusan Gen Z Melanjutkan Hidup dengan atau Tanpa Menikah Rahmatillah, Rahmatillah; Muslimah, Ranisah Azza; Azura, Nona; Putriani, Putriani; Aliyah, Nur; Riamanda, Irin
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.30687

Abstract

The decision-making process regarding marital commitment serves as a crucial foundation in determining whether to pursue or forgo marriage. This study aims to explore how members of Generation Z make decisions related to marital commitment and the influencing factors behind those decisions. The research involved five individuals from Generation Z residing in various districts/cities within Aceh Province. Data were collected through in-person and video call interviews, then analyzed using thematic analysis. The findings reveal variations in the decision-making process. Decisions to marry were influenced by strong family support, religious values, positive beliefs about marriage, and love for a partner. In contrast, decisions to remain unmarried were shaped by past experiences such as abuse, parental marital conflict, personal values and beliefs, and a desire for independence. Viewing marriage as an unsuitable solution for personal problems also emerged as a contributing factor. These findings provide insight into the motivations and considerations underlying marital commitment decisions among Generation Z.Proses pengambilan keputusan terhadap komitmen pernikahan merupakan landasan penting dalam menentukan pilihan untuk menikah atau tidak. Penelitian ini bertujuan mengkaji proses pengambilan keputusan Generasi Z terkait komitmen pernikahan serta faktor-faktor yang memengaruhi keputusan tersebut. Subjek penelitian terdiri atas lima individu dari Generasi Z yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung dan panggilan video, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam proses pengambilan keputusan. Keputusan untuk menikah dilandasi oleh dukungan keluarga, nilai agama, keyakinan positif terhadap pernikahan, dan cinta terhadap pasangan. Sementara itu, keputusan untuk tidak menikah dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu seperti pelecehan, ketidakharmonisan rumah tangga orang tua, nilai dan keyakinan pribadi, serta keinginan untuk hidup bebas dan mandiri. Pandangan bahwa pernikahan bukan merupakan solusi atas permasalahan pribadi juga menjadi faktor yang diperhatikan. Temuan ini memberikan gambaran tentang motivasi dan pertimbangan yang mendasari pengambilan keputusan komitmen pernikahan pada Generasi Z.
Hubungan Antara Social Comparison Orientation Dengan Social Media Addiction Pada Mahasiswa Pengguna Tiktok Afsyukma, Marhaban; Sulistyani, Arum; Rachmatan, Risana; Riamanda, Irin
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.34446

Abstract

The use of TikTok has become a routine for college students in this digital era. Prolonged and irregular use of social media platforms has the potential to pose various challenges and result in social media addiction problems. Not only that, social media provides many opportunities and easy access to engage in social comparison and lead to the consequences of social media addiction. This study aims to determine the relationship between social comparison orientation and social media addiction in student TikTok users. The sampling technique used incidental sampling technique. The sample of this study amounted to 352 (75 men and 277 women) students of Syiah Kuala University. SCO in this study was measured using the Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) consisting of 11 items. Meanwhile, the measuring instrument for social media addiction using the Social Media Addiction-Student Form consists of 29 items. The results of statistical analysis of this study indicate a significant positive relationship between social comparison orientation and social media addiction (r = 0.484; p 0.001). These results indicate that the higher the social comparison made, the higher the social media addiction in TikTok users and vice versa. This study emphasizes the role of social comparison in social media addiction where individuals who engage in social comparison tend to develop addictive behavior towards social media and shows that the content consumed can significantly influence it. Penggunaan TikTok telah menjadi sebuah rutinitas mahasiswa di era digital ini. Penggunaan platform media sosial yang berkepanjangan dan tidak teratur berpotensi menimbulkan berbagai tantangan dan mengakibatkan masalah kecanduan media sosial. Tidak hanya itu media sosial memberikan banyak peluang dan akses mudah untuk terlibat dalam perbandingan sosial dan menimbulkan konsekuensi kecanduan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social comparison orientation dengan social media addiction pada mahasiswa pengguna TikTok. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik incidental sampling. Sampel penelitian ini berjumlah 352 (75 laki-laki dan 277 perempuan) mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Mahasiswa pengguna TikTok di Universitas Syiah Kuala menggunakan TikTok sebagai sarana untuk menghilangkan stres akibat tugas yang banyak dan jadwal padat. Aktivitas seperti scrolling TikTok menjadi salah satu cara untuk mencari hiburan dan mengurangi kejenuhan. Social comparison orientation (SCO) pada penelitian ini diukur dengan menggunakan Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) terdiri dari 11 aitem. Sementara itu alat ukur social media addiction menggunakan Social Media Addiction-Student Form terdiri dari 29 aitem. Hasil analisis statistik penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antarasocial comparison orientationdansocial media addiction(r = 0,484; p 0,001). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi perbandingan sosial yang dilakukan, maka semakin tinggi pula kecanduan media sosial pada mahasiswa pengguna TikTok begitu pula sebaliknya. Penelitian ini menekankan peran perbandingan sosial dalam kecanduan media sosial dimana individu yang terlibat dalam perbandingan sosial cenderung mengembangkan perilaku adiktif terhadap media sosial serta menunjukkan bahwa konten yang dikonsumsi dapat mempengaruhi secara signifikan.
Perilaku Cyberslacking dan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Universitas Syiah Kuala Sulha, Khalila; Yulandari, Nucke; Iskandar, Iskandar; Faradina, Syarifah
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.33422

Abstract

University Students are often faced with various academic demands that require good time management and discipline. However, many of them tend to engage in academic procrastination, which is the habit of delaying tasks or academic responsibilities. One factor that can influence this behavior is cyberslacking, which refers to the use of the internet for non-academic activities during study time. In the digital era, easy access to the internet often tempts students to divert their attention to social media, entertainment, or other activities that reduce academic productivity. The purpose of this study is to examine the relationship between cyberslacking and academic procrastination among students at Syiah Kuala University. This study involved 340 students at USK who were selected using simple random sampling techniques. The measurement tools used in this study were the Academic Procrastination Scale developed by McCloskey and Scielzo (2015) and the Cyberslacking Scale developed by Akbulut (2016). The results of this study indicate a significant relationship between cyberslacking and academic procrastination among students at Syiah Kuala University, with a significant value of p 0.001 (r = 0.181). This means that the higher the level of cyberslacking performed by students, the higher their level of academic procrastination, and vice versa.Mahasiswa kerap dihadapkan pada berbagai tuntutan akademik seperti manajemen waktu dan disiplin yang baik. Namun, banyak di antara mereka cenderung melakukan prokrastinasi akademik, yaitu kebiasaan menunda pengerjaan tugas atau kewajiban akademik. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku ini adalah cyberslacking, yaitu penggunaan internet untuk kegiatan non-akademik selama waktu belajar. Dalam era digital, kemudahan akses internet sering kali membuat mahasiswa tergoda untuk mengalihkan perhatian mereka ke media sosial, hiburan, atau aktivitas lainnya yang mengurangi produktivitas akademik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perilaku cyberslackling dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini melibatkan 340 mahasiswa di USK yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini Academic Procrastination Scale yang disusun oleh McCloskey dan Scielzo (2015) dan Cyberslacking Scale yang dikembangkan oleh Akbulut (2016). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat adanya hubungan antara perilaku cyberslacking dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala dengan nilai signifikansi p=0,001 (r=0.181) artinya, semakin tinggi cyberslacking yang dilakukan mahasiswa, maka semakin tinggi juga perilaku prokrastinasi pada mahasiswa, begitu pula sebaliknya.