cover
Contact Name
Katon Abdul Fatah
Contact Email
katonfath@gmail.com
Phone
+628975841020
Journal Mail Official
arima@jurnalistiqomah.org
Editorial Address
Desa, Metuk No.8 , Kec, Mojosongo Kab, Boyolali, 57322
Location
Kab. boyolali,
Jawa tengah
INDONESIA
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora
ISSN : 30264898     EISSN : 3026488X     DOI : https://doi.org/10.62017/arima.v1i4
Core Subject : Social,
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Jurnal yang diterbitkan 4 (empat) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November oleh Publikasi Inspirasi Indonesia. Jurnal ini adalah jurnal studi ilmu-ilmu Sosial humaniora dan pendidikan yang bersifat peer-review dan terbuka. Bidang kajian dalam jurnal ini termasuk linguistik, sastra, filsafat, psikologi, hukum, pendidikan, sosial, administrasi dan studi budaya. ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora dan Pendidikan menerima makalah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Articles 443 Documents
FORMATION OF LEADERSHIP CHARACTER THROUGH KI HADJAR DEWANTARA’S EDUCATIONAL PHILOSOPHY IN THE CONTEXT OF ANTI CORRUPTION Faizah, Ummi; Nasikhin; Fihris; Muthia, Ratna
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 4 (2025): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v2i4.4814

Abstract

This research aims to explore and analyze the role of Ki Hadjar Dewantara's educational philosophy as a foundation in shaping the character of anti-corruption leadership among the younger generation. The main focus of the research is to explore moral values such as honesty, responsibility, exemplary, and mutual cooperation contained in Ki Hadjar Dewantara's teachings, and how these values can be applied in formal and non-formal education environments to foster leadership attitudes with integrity. The research method uses a qualitative approach with a literature review design, where data is obtained through documentation studies and synthesis of literature from various sources such as books, journals, and official documents. Data analysis techniques refer to the Miles and Huberman model, including data reduction, data presentation, and conclusion drawing, with data validity strengthened through source triangulation and member checking. The most important finding in this study is the relevance of Ki Hadjar Dewantara's principles, such as “tut wuri handayani,” “ing ngarso sung tuladha,” and “among,” in creating young leaders who are transparent, responsible, and dedicated to society. These principles can be implemented through exemplary learning methods, character education programs, and non-formal activities such as fundraising or leadership training. The contribution of this research lies in the development of a theoretical framework and the development of theoretical frameworks.
Asesmen Psikologi dalam Bingkai Etika sebagai Refleksi Kritis atas Tanggung Jawab Konselor terhadap Klien Indy Hikmatul Maulidiyah
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 4 (2025): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v2i4.4830

Abstract

Asesmen psikologi merupakan elemen penting dalam layanan konseling yang berperan dalam mengidentifikasi kondisi psikologis klien secara menyeluruh. Namun, pelaksanaan asesmen tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga harus berlandaskan prinsip-prinsip etika profesi. Artikel ini bertujuan untuk merefleksikan secara kritis tanggung jawab konselor dalam menjalankan asesmen psikologi secara etis dan manusiawi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dari berbagai sumber ilmiah. Pembahasan difokuskan pada lima aspek utama, yaitu: penerapan informed consent, perlindungan kerahasiaan klien, kompetensi profesional konselor, kepekaan terhadap keragaman budaya, serta penerapan prinsip keadilan dan akuntabilitas. Hasil kajian menunjukkan bahwa asesmen yang dijalankan secara etis berkontribusi pada peningkatan efektivitas layanan, menjaga kepercayaan klien, serta memperkuat profesionalisme konselor. Tantangan yang dihadapi mencakup kurangnya pemahaman terhadap etika asesmen, penggunaan alat ukur yang bias budaya, serta lemahnya pengawasan institusional. Artikel ini merekomendasikan pentingnya pelatihan etika asesmen secara berkelanjutan, pengembangan instrumen berbasis budaya lokal, dan penguatan sistem kebijakan etik di lembaga layanan. Dengan integrasi prinsip etika,  asesmen psikologi dapat menjadi proses yang adil, reflektif, dan berpihak pada kemanusiaan.
Penerapan Etika Profesional dalam Asesmen Psikologis pada Layanan Bimbingan dan Konseling Stevi Marcelina Rahmadya
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 4 (2025): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v2i4.4831

Abstract

Bimbingan dan konseling adalah layanan profesional yang mendukung siswa mencapai perkembangan optimal dan harus dilakukan oleh konselor yang memiliki keahlian khusus. Konselor menggunakan alat seperti tes psikologi untuk mengevaluasi potensi, mendiagnosis, dan memantau siswa. Namun, mereka sering menghadapi masalah etis, terutama menjaga kerahasiaan hasil evaluasi yang harus digunakan secara bijak dan tidak dibagikan tanpa izin. Menjaga objektivitas juga menjadi tantangan akibat bias pribadi, tekanan luar, atau keterbatasan alat. Untuk itu, konselor perlu menerapkan prinsip ilmiah, menggunakan alat teruji, dan menjaga batas profesional agar hasil evaluasi tetap netral dan dapat dipertanggungjawabkan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji penerapan kode etik konselor dalam asesmen psikologis, khususnya dalam menjaga kerahasiaan hasil, serta menelaah tantangan dan solusi dalam menjaga objektivitas asesmen agar tetap adil, akurat, dan berintegritas. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan penelitian kepustakaan. Hasil menunjukkan bahwa data asesmen harus dirahasiakan dan hanya digunakan demi kepentingan konseli. Tantangan dalam menjaga kerahasiaan meliputi risiko kebocoran data, tekanan eksternal, bias interpretasi, dan kurangnya kompetensi, dengan solusi berupa penggunaan alat tervalidasi, pelatihan konselor, penerapan prinsip ilmiah, sistem data yang aman, serta komunikasi hasil yang etis dan berbasis multi-metode. Adapun hasil kajian mencakup: (1) Etika Penggunaan Tes Psikologi, (2) Kompetensi Konselor Dalam Melakukan Tes, (3) Asesmen Psikologi di Sekolah, (4) Relevansi Tes Psikologi dengan Layanan Bimbingan dan Konseling, (5) Kerahasiaan Hasil Asesmen, (6) Tantangan dan Solusi Objektivitas Asesmen, serta (7) Studi Kasus Aplikasi Asesmen Psikologi di Sekolah.
Pentingnya Validitas dan Reliabilitas dalam Pengembangan Tes Psikologi: Tinjauan Teoritis dan Praktis Dita Dea Amanda
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 4 (2025): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v2i4.4835

Abstract

Validitas dan reliabilitas merupakan elemen kunci dalam pengembangan tes psikologi agar hasil evaluasi akurat dan konsisten. Artikel ini bertujuan menjelaskan konsep, penerapan, serta studi kasus terkait pengembangan Inventori Minat Karier (IMK) berbasis teori Holland. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dan studi kasus deskriptif. Hasil menunjukkan validitas isi tinggi melalui CVI, validitas konstruk melalui CFA, serta reliabilitas memadai dengan nilai Cronbach’s Alpha > 0,80. Simpulan menunjukkan pentingnya penguasaan konsep psikometri dan penerapan uji kualitas alat ukur dalam praktik bimbingan dan konseling.
Implementasi Etika Profesional Dalam Menjaga Kerahasiaan Dan Objektivitas Asesmen Psikologi Di Bimbingan Dan Konseling Nurul Khasanah
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 4 (2025): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v2i4.4839

Abstract

Penelitian ini mengkaji penerapan etika profesional dalam menjaga kerahasiaan dan objektivitas asesmen psikologi pada bimbingan dan konseling. Tujuan utama adalah memahami cara menjaga kerahasiaan hasil asesmen serta mengidentifikasi tantangan dan solusi dalam menjaga objektivitas. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan analisis literatur terkait prinsip etika dan mekanisme perlindungan data. Hasil menunjukkan bahwa menjaga kerahasiaan melibatkan pembatasan akses data dan persetujuan klien, kecuali dalam keadaan darurat. Komunikasi hasil asesmen harus dilakukan secara jelas dan empatik agar klien dapat memahami tanpa merasa cemas. Objektivitas asesmen menghadapi tantangan dari bias personal, tekanan eksternal, dan keragaman budaya, sehingga diperlukan penggunaan alat asesmen yang valid, pelatihan berkelanjutan, dan konsultasi antar sejawat. Strategi ini terbukti efektif menjaga kualitas asesmen dan kerahasiaan data. Kesimpulannya, peningkatan kapasitas profesional dan kerja sama institusional sangat penting untuk mengoptimalkan penerapan etika profesional dalam asesmen psikologi di bimbingan dan konseling.
Efektivitas Penggunaan Tes Kepribadian Objektif dan Proyektif dalam Bimbingan dan Konseling Prastika Cahya Widyawati
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 4 (2025): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v2i4.4849

Abstract

Asesmen atau tes kepribadian merupakan elemen krusial dalam proses bimbingan dan konseling, karena membantu konselor memahami karakteristik, kebutuhan serta potensi permasalahan psikologis klien secara lebih komprehensif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas penggunaan tes kepribadian objektif dan proyektif dalam praktik bimbingan dan konseling. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka yang merangkum teori dan temuan empiris dari berbagai sumber ilmiah terkait kedua jenis tes. Hasil kajian menunjukkan bahwa tes kepribadian objektif, seperti MMPI dan EPPS, unggul dalam hal validitas, reliabilitas, serta efisiensi penggunaan untuk diagnosis awal. Sementara itu, tes proyektif seperti Rorschach dan DAP efektif dalam menggali aspek emosional dan konflik bawah sadar klien, serta membangun pemahaman mendalam dalam hubungan konseling. Kedua jenis tes memiliki kekuatan masing-masing dan dapat digunakan secara komplementer untuk memperoleh gambaran psikologis yang lebih menyeluruh. Kesimpulannya, efektivitas asesmen kepribadian dalam bimbingan dan konseling sangat bergantung pada pemilihan instrumen yang sesuai dengan tujuan konseling dan karakteristik klien.
Etika dalam Asesmen Psikologi di Bimbingan dan Konseling: Kode Etik, Prinsip Khusus, Dan Implikasi Hukum Nashwa Nur Afrina Putri
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 4 (2025): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v2i4.4850

Abstract

Asesmen psikologis adalah bagian yang sangat penting dalam proses bimbingan dan konseling yang bertujuan untuk mengetahui karakter dan kebutuhan individu secara menyeluruh. Namun, dalam pelaksanaannya, harus selalu memperhatikan aspek etika profesional, hukum, serta tanggung jawab sosial. Di Indonesia, asesmen psikologi dalam bimbingan dan konseling diatur oleh berbagai kode etik profesi, termasuk Kode Etik Bimbingan dan Konseling dari ABKIN dan Kode Etik Psikologi dari HIMPSI, serta regulasi peraturan hukum yang berlaku. Tujuan artikel ini adalah untuk mengevaluasi secara mendalam prinsip-prinsip etis yang harus diikuti oleh konselor dalam pelaksanaan asesmen psikologis, termasuk menjaga kerahasiaan informasi, mempertahankan objektivitas, dan menjalankan asesmen berdasarkan kompetensi profesional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian pustaka dengan menganalisis literatur ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025 untuk memberikan gambaran terbaru mengenai praktik asesmen yang etis. Hasil analisis menunjukkan bahwa integritas, persetujuan yang diinformasikan, perlindungan terhadap kerahasiaan hasil asesmen, serta penggunaan alat asesmen yang sudah terstandar adalah basis utama dalam asesmen yang etis. Di samping itu, tantangan seperti tekanan dari institusi, keterbatasan sumber daya, dan bias dari konselor dapat mempengaruhi objektivitas, sehingga dibutuhkan strategi pencagahan yang efektif. Artikel ini bertujuan untuk memperkuat praktek bimbingan dan konseling yang berbasis etika dan sangat relevan bagi konselor, pendidik, serta pembuat kebijakan.
Peran Tes Intelegensi Dalam Mengetahui Kemampuan Kognitif Siswa: Analisis Bimbingan dan Konseling Aulia Ziyadatur Rahmah
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 4 (2025): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v2i4.4851

Abstract

Tes intelegensi adalah salah satu alat asesmen tes psikologis yang digunakan untuk menilai kemampuan kognitif individu, termasuk kemampuan berpikir logis, memecahkan masalah, menerima informasi baru, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. Dalam konteks layanan bimbingan dan konseling, tes ini berfungsi sebagai alat evaluasi yang membantu konselor memahami potensi intelektual siswa secara objektif. Informasi yang diperoleh menjadi dasar penting untuk mengembangkan program layanan yang sesuai dengan perkembangan individu. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran dan penerapan tes intelegensi dalam layanan bimbingan dan konseling di lingkungan pendidikan, menilai manfaat dan batasan yang ada dalam perspektif budaya dan etika, serta membahas contoh alat tes yang sering digunakan, seperti Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC-V) dan Culture Fair Intelligence Test (CFIT), beserta metode interpretasi hasilnya. Hasil temuan menunjukkan bahwa tes intelegensi dapat efektif untuk mengungkap kemampuan kognitif siswa dan mendukung pengambilan keputusan dengan tingkat ketepatan yang lebih baik. Namun, hasil dari tes tersebut perlu ditambahkan dengan data evaluasi lainnya seperti observasi, wawancara, serta skala yang tidak terkait dengan kemampuan berpikir untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh dan menyeluruh mengenai individu. Hasil penelitian ini menekankan pentingnya penggunaan tes intelegensi dalam konseling harus dilakukan secara profesional, etis, dan berorientasi pada pemberdayaan siswa, bukan sekadar memberikan label.
Etika Asesmen Dalam Bimbingan dan Konseling: Pilar Profesionalisme Konselor Amalina Diananda
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i1.4867

Abstract

Artikel ini membahas secara komprehensif mengenai pentingnya penerapan etika dalam asesmen pada layanan bimbingan dan konseling, khususnya dalam konteks pendidikan. Asesmen merupakan bagian integral dalam proses konseling yang bertujuan untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang kondisi konseli. Namun demikian, pelaksanaannya harus dilandasi oleh prinsip-prinsip etis seperti kerahasiaan, keadilan, keamanan alat tes, serta akurasi interpretasi hasil. Artikel ini menyoroti peran etika dalam memperkuat profesionalisme konselor, pentingnya menjaga kerahasiaan konseli, serta tantangan dalam menjaga objektivitas asesmen. Selain itu, dibahas pula potensi dampak negatif yang ditimbulkan akibat pelanggaran etika asesmen, seperti hilangnya kepercayaan konseli dan rusaknya citra profesi konselor. Dengan pendekatan deskriptif-analitis, tulisan ini menegaskan bahwa konselor tidak hanya dituntut kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral dalam menjalankan tugasnya, agar layanan konseling berjalan secara efektif, adil, dan bermartabat.Top of Form
ETIKA DALAM ASESMEN PSIKOLOGI : MENJAGA OBJEKTIVITAS DAN KERAHASIAAN Aisya Briliana Putri Kartika
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i1.4873

Abstract

Asesmen psikologi diperuntukkan untuk mengetahui informasi terhadap diri seseorang yang meliputi kepribadiaan,minat,bakat,dan lain sebagi hal tentang informasi seseorang.Nantinya akan menjadi untuk mengetahui lebih lanjut terhadap kondisi individu,pemahaman diri individu.Dalam pelaksanaan asesmen dibutuhkan sebuah etika pelaksanaan..Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran etika dalam asesmen psikologi untuk menjaga kerahasiaan dan objektivitas dan mengetahui etika yang diperlukan seorang konselor dalam profesi tersebut.Penelitiaan ini menggunakan analisis dengan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan kepustakaa.Hasil penelitian ini mampu mengetahui pentingnyaadanya etika yang dimiliki seorang konselor terutama peran etika dalam asesmen psikologi.Terkait bagaimana menjaga objektivitas dan kerahasiaan hingga batasan-batasan dalam penerapan kerahasiaan sebagai etika yang dimiliki konselor dalam menjalani profesinya.