cover
Contact Name
Admin Vokatif
Contact Email
jurnalvokatif@gmail.com
Phone
+6285261455244
Journal Mail Official
jurnalvokatif@gmail.com
Editorial Address
https://etdci.org/journal/vokatif/EditorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra
ISSN : -     EISSN : 30465931     DOI : http://dx.doi.org/10.51574/Vokatif
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra merupakan jurnal dengan double blind peer reviewed yang berkaitan dengan Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, Sastra dan budaya. Tujuan artikel ini adalah untuk mempublikasikan penelitian dengan kualitas terbaik yang memperluas pemahaman tentang bagaimana individu mengonstruksi, mengolah, mengkomunikasikan, menerapkan, dan memahami Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, Sastra dan budaya. Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra menyambut baik penelitian kuantitatif, kualitatif serta penelitian mixed dengan analisa yang berkualitas tinggi. Jurnal ini berfokus pada penelitian tentang Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra. Kami mendorong penulis untuk mengirimkan artikel yang melanjutkan, memperluas, memodifikasi, atau menantang temuan yang telah diterbit pada suatu jurnal. Partisipan yang diharapkan dalam jurnal ini meliputi para peneliti yang berkonsentrasi pada Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, Sastra dan budaya.
Articles 25 Documents
Search results for , issue "vol. 3 no. 3 (2026)" : 25 Documents clear
STRUKTUR KALIMAT TUNGGAL BAHASA JEPANG: ANALISIS FUNGSI SINTAKSIS Muhammad Ali Imran; Muhammad Nurahmad
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i3.1816

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur kalimat tunggal bahasa Jepang berdasarkan fungsi yang terdapat dalam buku percakapan sehari-hari bahasa Jepang. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman terhadap struktur kalimat bahasa Jepang yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari, khususnya dalam mengidentifikasi hubungan antarkonstituen dalam kalimat tunggal bahasa Jepang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa kalimat tunggal yang terdapat dalam buku percakapan sehari-hari bahasa Jepang. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat, kemudian dianalisis berdasarkan fungsi sintaksis yang meliputi subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan, Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi konstituen pembentuk setiap kalimat, menentukan fungsi serta mengidentifikasi pola struktur yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan variasi struktur kalimat tunggal bahasa Jepang yang digunakan dalam konteks percakapan sehari-hari. Variasi tersebut terlihat dari perbedaan kombinasi fungsi sintaksis yang membentuk setiap kalimat. Berdasarkan hasil analisis, struktur kalimat tunggal tidak hanya ditentukan oleh urutan konstituen, tetapi juga oleh hubungan fungsional. Penelitian ini memberikan gambaran empiris mengenai karakteristik struktur kalimat tunggal bahasa Jepang dalam percakapan sehari-hari dan dapat menjadi referensi dalam kajian sintaksis serta pembelajaran bahasa Jepang, khususnya dalam memahami hubungan antara fungsi, dan struktur kalimat tunggal bahasa Jepang.
DEIKSIS SOSIAL DALAM TUTURAN MASYARAKAT ETNIS TORAJA PADA RITUAL RAMBU SOLO’ Berthin Simega
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i3.2382

Abstract

Salah satu cara memahami budaya suatu etnis adalah melalui kajian deiksis sosial pada bahasa yang digunakan oleh masyarakat etnis tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan deiksis sosial pada ritual adat rambu solo’ etnis Toraja. Penelitian diharapkan menjadi rujukan  para mahasiswa pada penelitian sejenisnya. Dapat pula digunakan sebagai tuntunan guru dalam mengajarkan kearifan lokal. Hasil penelitian ini juga merupakan dukungan terhadap pelestarian budaya Toraja pada unsur bahasa dan sastra lisan Toraja. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Data dikumpulkan  melalui Teknik; (1) teknik simak, yaitu metode pengumpulan data dengan menyimak bahasa dalam situasi komunikasi tertentu, (2) observasi non-partisipan, yaitu: teknik pengumpulan data yakni peneliti tidak ikut terlibat secara langsung dalam kegiatan yang diamati dan (3) teknik catat, yakni  mencatat peristiwa komunikasi. Sumber data penelitian ini  yaitu video ritual rambu solo’ yang terdapat pada channel YouTube Toraja Unik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penggunaan deiksis sosial berupa penanda hubungan sosial, status sosial, dan bentuk penghormatan dalam tuturan masyarakat etnis Toraja. Pertama, hubungan sosial tercermin melalui penggunaan bentuk sapaan tertentu kepada keluarga, petuah adat, pemuka agama, pejabat, dan pemerintahan. Kedua, status sosial ditunjukkan melalui pemilihan kata yang mengacu pada keluarga (pa’rapuan), gelar kehormatan (puang), jabatan pemerintah (toma’parenta), gelar keagamaan (majelis gereja, pengantar, pandita, pastor), pemuka adat (to parengnge’), dan orang yang dituakan baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat (kupoindo'na dan "kupo'ambe'na). Hal ini menandakan adanya hierarki sosial yang harus dihormati dalam masyarakat etnis Toraja melalui bentuk-bentuk kebahasaannya. Ketiga, penghormatan terlihat jelas dari penggunaan pronomina (Indo’-Ambe’) dan sapaan yang bersifat sopan dan penuh etika (tabe’).
REPRESENTASI IDENTITAS MASYARAKAT TORAJA DALAM CERITA RAKYAT LAKIPADADA: ANALISIS SEMIOTIKA SOSIAL Rita Tanduk
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i3.3459

Abstract

Cerita rakyat Toraja merupakan warisan budaya lisan yang merepresentasikan identitas masyarakat melalui sistem tanda, di tengah tantangan transformasi sosial dan globalisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi identitas masyarakat Toraja dalam cerita rakyat Lakipadada melalui perspektif semiotika sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis semiotika sosial berbasis kerangka kerja Hodge dan Kress. Data berupa narasi, dialog, tindakan tokoh, dan simbol adat dikumpulkan melalui teknik close reading serta studi dokumentasi dari naskah cerita rakyat Lakipadada, lalu dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas masyarakat Toraja dikonstruksi melalui hubungan antar-sumber daya semiotik (semiotic resources), seperti tokoh Lakipadada, rumah adat Tongkonan, aturan Aluk, ritual kerbau, musyawarah, dan struktur kekerabatan. Elemen-elemen ini merepresentasikan dimensi kepemimpinan ideal, religius-adat, kolektivitas, dan solidaritas komunal. Makna identitas budaya tersebut bersifat dinamis dan lahir dari interaksi antara tanda, praktik sosial, dan konteks budaya masyarakat Toraja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa cerita rakyat Lakipadada tidak hanya berfungsi sebagai warisan sastra lisan, tetapi juga sebagai media representasi yang secara aktif mengonstruksi, mereproduksi, dan mempertahankan identitas budaya masyarakat. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis pada penerapan semiotika sosial dalam sastra lisan.
HEGEMONI KEKUASAAN DALAM NOVEL QOLBU AL-LAIL KARYA NAGUIB MAHFOUZ: ANALISIS ANTONIO GRAMSCI Lucky Marantika; Mawardi Mawardi; Yadi Mardiansyah
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i3.4519

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis hegemoni kekuasaan dalam novel Qolbu Al-Lail karya Naguib Mahfouz menggunakan perspektif teori hegemoni Antonio Gramsci. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pandangan bahwa kekuasaan dalam karya sastra tidak selalu hadir melalui dominasi yang bersifat represif, tetapi juga bekerja melalui mekanisme persetujuan (consent) yang membentuk kesadaran tokoh melalui nilai, norma, dan ideologi. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Sumber data penelitian berupa novel Qolbu Al-Lail, sedangkan data penelitian berupa narasi dan dialog yang merepresentasikan relasi kuasa antartokoh. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak yang terdiri dari baca dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik hegemoni dalam novel lebih dominan berlangsung melalui mekanisme persetujuan daripada paksaan. Kekuasaan direpresentasikan melalui kepemimpinan moral-intelektual, legitimasi nilai-nilai agama, relasi keluarga, praktik birokrasi, serta konstruksi budaya yang membentuk common sense masyarakat. Tokoh-tokoh yang memiliki otoritas menjalankan fungsi sebagai traditional intellectual yang mereproduksi ideologi dominan melalui institusi keluarga, agama, dan masyarakat sipil (civil society). Sementara itu, counter-hegemony muncul secara terbatas melalui kesadaran kritis tokoh utama terhadap berbagai bentuk dominasi yang dialaminya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Qolbu Al-Lail merepresentasikan hegemoni sebagai praktik kekuasaan yang bekerja secara moral, kultural, dan diskursif melalui proses produksi serta reproduksi ideologi dalam kehidupan sosial. Temuan penelitian ini memperkuat relevansi teori hegemoni Antonio Gramsci dalam kajian sosiologi sastra sekaligus menunjukkan bahwa karya sastra merupakan arena negosiasi ideologi antara dominasi dan perlawanan.
DEVELOPING THE ROOTS-ELT MODEL FOR TEACHING ENGLISH IN REMOTE PRIMARY SCHOOLS: A CONTEXT-RESPONSIVE FRAMEWORK FOR 3T SETTINGS IN NORTH TORAJA, INDONESIA Roni La'biran; Resnita Dewi
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i3.4537

Abstract

Teaching English in remote and resource-constrained primary schools requires a model that is pedagogically simple, culturally meaningful, and resilient when digital infrastructure is limited. This conceptual development study proposes the ROOTS-ELT model for primary-school English teaching in 3T-type settings in North Toraja, Indonesia. The study used a design-oriented synthesis of recent research on teaching English to young learners, rural English education, culturally responsive pedagogy, low-resource instruction, and current Indonesian primary-school English policy. The synthesis identified five interrelated design requirements: familiar cultural content, comprehensible oral input, low-tech multimodal resources, structured peer interaction, and continuous recycling with performance-based assessment. These requirements were translated into five instructional stages represented by ROOTS: Relate to local experience, Offer comprehensible input, Organize collaborative practice, Task learners with meaningful communication, and Spiral review and assessment. The model positions Toraja culture and everyday village life as learning resources while maintaining a clear English-language objective. It treats technology as optional support rather than a prerequisite and allows strategic use of Indonesian and local languages as scaffolding. Because this article develops a conceptual framework rather than reporting a classroom intervention, the model requires empirical validation through teacher review, pilot teaching, learner performance measures, and iterative revision in selected remote primary schools in North Toraja.
FUNGSI INTERAKSIONAL TUTURAN TOKOH DALAM NASKAH DRAMA RUMAH BONEKA KARYA HENRIK IBSEN: KAJIAN PRAGMATIK Yakub Tangdibiri’
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i3.4539

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fungsi interaksional tuturan tokoh dalam naskah drama Rumah Boneka karya Henrik Ibsen melalui kajian pragmatik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa tuturan tokoh yang mengandung fungsi interaksional dalam dialog naskah drama Rumah Boneka. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat. Analisis data dilakukan melalui tahap identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan dengan memperhatikan konteks tuturan serta hubungan antara penutur dan mitra tutur. Hasil penelitian menunjukkan adanya lima bentuk fungsi interaksional tuturan, yaitu bertanya, meminta maaf, mengajak, menyapa, dan berpamitan. Fungsi bertanya digunakan untuk memperoleh informasi dan mempertahankan komunikasi. Fungsi meminta maaf digunakan untuk menjaga hubungan sosial dan menunjukkan perhatian terhadap mitra tutur. Fungsi mengajak digunakan untuk melibatkan mitra tutur dalam suatu tindakan atau aktivitas. Fungsi menyapa digunakan untuk membuka dan mempertahankan interaksi, sedangkan fungsi berpamitan digunakan untuk mengakhiri komunikasi. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tuturan tokoh dalam Rumah Boneka tidak hanya berfungsi menyampaikan pesan, tetapi juga berperan dalam membangun, mempertahankan, dan mengakhiri hubungan sosial antartokoh. Kajian pragmatik terhadap fungsi interaksional tersebut menunjukkan bahwa penggunaan tuturan sangat berkaitan dengan konteks dan tujuan komunikasi.
PERBANDINGAN DIALEK DENDE’ DAN REMBON DALAM BAHASA TORAJA: PERSPEKTIF LINGUISTIK DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Milka Milka
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i3.4540

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan membandingkan karakteristik fonologis dialek Dende’ dan Rembon dalam bahasa Toraja serta mengkaji implementasi hasil perbandingan tersebut dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode komparatif. Data penelitian berupa 25 bentuk kebahasaan yang diperoleh dari penggunaan dialek Dende’ dan Rembon. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, teknik simak dan catat, perekaman, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasikan, membandingkan, dan menginterpretasikan variasi fonologis yang ditemukan pada kedua dialek. Hasil penelitian menunjukkan adanya sejumlah perbedaan fonologis yang meliputi perubahan fonem vokal, perubahan fonem konsonan, geminasi, penghilangan atau penyederhanaan bunyi, serta perbedaan pelafalan. Beberapa bentuk yang menunjukkan variasi tersebut antara lain pamuntu–pamuttu, mentengka–mettekka, mangka–makka, kampa–kappa, salimu’–selimu’, melambi’–malambi’, dan na’edo’–ne’do. Dialek Rembon cenderung menunjukkan penguatan konsonan melalui geminasi dan penyederhanaan bunyi pada bentuk tertentu, sedangkan dialek Dende’ cenderung mempertahankan bentuk fonologis yang lebih lengkap. Meskipun terdapat perbedaan bentuk dan pelafalan, variasi tersebut tidak menyebabkan perubahan makna leksikal sehingga kedua dialek tetap menunjukkan hubungan yang erat dalam sistem bahasa Toraja. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa data perbandingan dialek dapat diimplementasikan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama sebagai sumber pembelajaran variasi bahasa, fonologi, kosakata, keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Data tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan ajar dan aktivitas pembelajaran berbasis kearifan lokal yang kontekstual. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap dokumentasi variasi bahasa Toraja sekaligus menyediakan dasar pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia yang mengintegrasikan bahasa dan budaya lokal.
TORAJA LANGUAGE AS MOTHER TONGUE IN ARTS, CULTURE, AND CRAFTS (SBdP) LEARNING IN ELEMENTARY SCHOOL: A LITERATURE REVIEW Reni Lolotandung; Hakpantria Hakpantria
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i3.4543

Abstract

This study examines how Toraja, an Austronesian language spoken mainly in the Tana Toraja and Toraja Utara regencies of South Sulawesi, Indonesia, can be positioned as a mother tongue within the teaching of Seni Budaya dan Prakarya (SBdP), the Arts, Culture, and Crafts subject taught in Indonesian elementary schools. Using a qualitative descriptive literature review (library research) method, this study sought to answer three research questions: (1) how has the Toraja language been documented as a mother tongue within elementary-level learning; (2) what role can the Toraja mother tongue play within SBdP instruction specifically; and (3) what benefits, challenges, and strategies have been reported in the wider literature on mother-tongue-based and local-wisdom-based elementary education that are relevant to this integration. Thirteen scholarly sources published mainly between 2016 and 2026, together with two foundational theoretical works, were selected through searches of Google Scholar, Garuda, DOAJ, and international databases, screened for relevance to mother-tongue instruction, local-wisdom-based arts education, or Toraja language and culture in schooling, and analyzed using thematic content analysis. Five recurring themes were identified: the Toraja mother tongue as a carrier of cultural values and identity; the marginal curricular position of local languages relative to the national and foreign languages; SBdP and local-wisdom-based arts learning as a natural entry point for mother-tongue integration; the cognitive, linguistic, and socio-emotional benefits documented for mother-tongue-based instruction generally; and the structural and pedagogical challenges, particularly teachers' limited proficiency in Toraja and the scarcity of Toraja-language teaching materials, that constrain implementation. The review concludes that embedding Toraja language use within SBdP activities such as weaving, wood-carving motifs, and traditional song offers a practical and low-cost pathway for revitalizing the mother tongue in elementary classrooms, provided it is supported by teacher training, contextualized materials, and stronger institutional commitment.
PENGEMBANGAN MEDIA PADLET PADA PEMBELAJARAN MENGIDENTIFIKASI PUISI KELAS VIII UPTD SMP NEGERI 2 GUNUNGSITOLI Julman Happy Kurniawan Zega; Noveri Amal Jaya Harefa; Arozatulo Bawamenewi; Riana Riana
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i3.5730

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya pemanfaatan media pembelajaran berbasis digital dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada materi mengidentifikasi unsur-unsur pembangun puisi di kelas VIII UPTD SMP Negeri 2 Gunungsitoli. Pembelajaran yang masih didominasi metode konvensional menyebabkan partisipasi dan hasil belajar peserta didik belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis Padlet yang layak digunakan, mengetahui tingkat kepraktisan media berdasarkan respons peserta didik, serta menguji keefektifannya dalam meningkatkan kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur pembangun puisi. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang meliputi Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VIII UPTD SMP Negeri 2 Gunungsitoli. Data dikumpulkan melalui lembar validasi ahli materi, ahli bahasa, ahli desain, angket respons peserta didik, dan tes hasil belajar. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif menggunakan persentase untuk menentukan tingkat validitas, kepraktisan, dan keefektifan media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis Padlet memenuhi kriteria sangat valid, sangat praktis, dan sangat efektif. Tingkat kepraktisan memperoleh persentase sebesar 96%, sedangkan hasil uji keefektifan menunjukkan rata-rata hasil belajar peserta didik sebesar 81, 83, dan 88, seluruhnya melampaui KKTP 75 dengan tingkat ketuntasan belajar mencapai 98%. Dengan demikian, media pembelajaran berbasis Padlet layak digunakan sebagai alternatif media pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi mengidentifikasi unsur-unsur pembangun puisi di kelas VIII UPTD SMP Negeri 2 Gunungsitoli.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SAVI BERBASIS AUDIOVISUAL KELAS VIII UPTD SMP NEGERI 1 ULU MORO’O Netaneli Gulo; Noibe Halawa; Iman Sudi Zega; Noveri Amal Jaya Harefa
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i3.5732

Abstract

Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan pembelajaran yang sangat penting bagi siswa dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa secara baik dan benar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen melalui model pembelajaran SAVI berbasis audiovisual. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan empat tahapan yaitu: 1) Perencanaan, 2) Tindakan, 3) Observasi, dan 4) Refleksi. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua siklus.  Teknik pengumpulan data lembar observasi, tes esai, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan subjek penelitian sebanyak 30 orang siswa. Dan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan siswa dalam menulis cerpen menggunakan model pembelajaran SAVI berbasis audiovisual. Berdasarkan hasil penelitian maka nilai rata-rata perolehan siklus I nilai terendah adalah 39 dan nilai tertinggi adalah 71 dengan nilai rata-rata adalah 53. Hasil observasi peserta didik pada siklus I pertemuan pertama rata-rata 45% dan pada pertemuan kedua rata-rata 71%. Hasil observasi peneliti siklus I pada pertemuan pertama rata-rata 50%  dan pada pertemuan kedua 50%. Sedangkan pada siklus II nilai terendah siswa 82 dan nilai tertinggi siswa 96 dengan  nilai rata-rata 94. hasil observasi peserta didik pada Siklus II pertemuan pertama rata-rata 85%  dan pada pertemuan kedua rata-rata 94%. Berdasarkan hasil observasi peneliti siklus II pada pertemuan pertama rata-rata 86% dan pada pertemuan kedua 93%. Berdasarkan temuan pada penelitian ini, dapat disimpulkan  bahwa dengan menggunakan model pembelajaran SAVI berbasis audiovisual efektif dalam meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menulis cerpen di kelas VIII-1 UPTD SMP Negeri 1 Ulu Moro’o, Tahun Pembelajaran 2025/2026. Pada pelaksanaan penelitian, peneliti menyampaikan beberapa saran yaitu: Bagi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di UPTD SMP Negeri 1 Ulu Moro’o untuk menggunakan model pembelajaran SAVI berbasis audiovisual agar suasana belajar lebih menarik dan siswa mampu memahami materi dengan efektif serta siswa percaya diri dalam menulis cerpen. Kepada peneliti selanjutnya, peneliti mengharapkan agar penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam menggunakan model pembelajaran SAVI berbasis audiovisual.

Page 1 of 3 | Total Record : 25