cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
AL-ABSHOR : Jurnal Pendidikan Agama Islam
ISSN : -     EISSN : 30627141     DOI : -
Al-Abshor: Jurnal Pendidikan Agama Islam is a peer-reviewed journal published by Yayasan Pesantren Al-Qur’an Shalahuddin Al-Ayyubi, located at Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kulon Progo Regency, Special Region of Yogyakarta 55674. This journal aims to disseminate research results from academics, researchers, and practitioners in the field of Islamic Studies, both in theory and practice. Specifically, this journal invites papers discussing topics such as Islamic Education, Islamic thought, learning in Islamic education, students in Islamic education, Islamic education methods, Islamic teacher education, and Islamic education policies. This journal is published online four times a year, namely in January, April, July, and October.
Articles 116 Documents
Transformasi Pendidikan Karakter Anak Melalui Pola Pengasuhan di Era Digital Ru’uliyanah Sabrianti; Nur Hidayat
Al-Abshor : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 3 (2026): Pendidikan Agama Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/f2sxa306

Abstract

The digital era has brought significant changes to family life, particularly in the interaction patterns between parents and children. Advances in information technology, the internet, and the use of various digital devices have transformed the way children learn, communicate, and obtain information. In this context, character education is no longer solely the responsibility of formal educational institutions but also relies heavily on parents' ability to manage and direct the use of technology within the family environment. This change demands a transformation in parenting styles that adapt to current developments without neglecting the moral and character values ​​that underpin the development of a child's personality. A literature review of various scientific journals, books, and relevant research findings suggests that parenting styles in the digital era require a more adaptive and responsive approach to technological developments. One widely recommended strategy is the implementation of digital parenting, a parenting style that integrates supervision, guidance, and education in the use of digital media. Furthermore, effective, open, and empathy-based communication is crucial in building harmonious relationships between parents and children. Synergistic collaboration between families, schools, and the community also plays a crucial role in supporting the ongoing character education process. Abstrak Era digital telah membawa perubahan yang sangat signifikan dalam kehidupan keluarga, terutama dalam pola interaksi antara orang tua dan anak. Kemajuan teknologi informasi, internet, serta penggunaan berbagai perangkat digital telah mengubah cara anak belajar, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Dalam kondisi tersebut, pendidikan karakter tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan formal, tetapi juga sangat bergantung pada kemampuan orang tua dalam mengelola dan mengarahkan penggunaan teknologi di lingkungan keluarga. Perubahan ini menuntut adanya transformasi pola asuh yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa mengabaikan nilai-nilai moral dan karakter yang menjadi fondasi pembentukan kepribadian anak. Berdasarkan kajian literatur dari berbagai jurnal ilmiah, buku, dan hasil penelitian yang relevan, ditemukan bahwa pola asuh orang tua di era digital memerlukan pendekatan yang lebih adaptif dan responsif terhadap perkembangan teknologi. Salah satu strategi yang banyak direkomendasikan adalah penerapan digital parenting, yaitu pola pengasuhan yang mengintegrasikan pengawasan, pendampingan, dan edukasi dalam penggunaan media digital. Selain itu, komunikasi yang efektif, terbuka, dan berbasis empati menjadi faktor penting dalam membangun hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak. Kolaborasi yang sinergis antara keluarga, sekolah, dan masyarakat juga berperan penting dalam mendukung proses pendidikan karakter secara berkelanjutan.
Nalar Gender Calon Guru Agama Muhammad Ihsan Siregar; Marhumah; Zulfa Khairiah Ali
Al-Abshor : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 3 (2026): Pendidikan Agama Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/fn1phf55

Abstract

Gender-related hadiths remain a significant issue in Islamic education, as they are often interpreted textually, leading to perspectives that may not adequately address contemporary social realities. This study aims to examine Islamic Education (PAI) students’ understanding of gender-related hadiths, explore their gender reasoning, and analyze their readiness to contextualize these hadiths within school settings. This research employed a qualitative case study approach. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis, and were analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña interactive model. The findings reveal that most participants interpret gender-related hadiths through a historical-contextual approach by considering the socio-historical background and moral objectives of the texts. Their gender reasoning tends to emphasize equality of human dignity, justice, and complementary roles between men and women. Furthermore, the participants demonstrated readiness to contextualize gender-related hadiths through participatory learning strategies, historical-contextual approaches, critical literacy development, and the ability to respond to students’ questions in an argumentative and balanced manner. The novelty of this study lies in integrating the analysis of hadith understanding, gender reasoning, and the pedagogical readiness of prospective Islamic education teachers within a single analytical framework. Abstrak Hadis-hadis gender menjadi isu penting dalam pendidikan Islam karena sering dipahami secara tekstual sehingga berpotensi melahirkan pandangan yang kurang relevan dengan realitas sosial kontemporer. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemahaman mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap hadis-hadis gender, mengkaji nalar gender yang mereka bangun, serta menelaah kesiapan mereka dalam mengontekstualisasikan hadis-hadis gender di sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memahami hadis gender secara historis-kontekstual dengan mempertimbangkan latar belakang kemunculan hadis dan pesan moral yang dikandungnya. Nalar gender mahasiswa cenderung mengarah pada prinsip kesetaraan martabat, keadilan, dan komplementaritas antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, mahasiswa menunjukkan kesiapan mengontekstualisasikan hadis gender melalui strategi pembelajaran partisipatif, pendekatan historis-kontekstual, pengembangan literasi kritis, serta kemampuan merespons pertanyaan siswa secara argumentatif. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi analisis pemahaman hadis gender, nalar gender, dan kesiapan pedagogis calon guru agama dalam satu kerangka kajian.
Pemikiran Harun Nasution Terhadap Pendidikan Dan Relevansinya Dengan Dunia Pendidikan Islam Era Modern Danil Hakim Maulidi; Maragustam; Insiyatul Fikriyah
Al-Abshor : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Pendidikan Agama Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/0d40tv25

Abstract

Abstract This research falls within the realm of Islamic educational thought, focusing on the analysis of Harun Nasution's ideas, with a religious-rational character, and their relevance to the development of contemporary Islamic education. Harun Nasution places moral education as the main core of religious education, emphasizing not merely the mastery of religious knowledge and the performance of religious rituals, but also the process of internalizing moral values ​​in individual life. Religious education, in his view, must be able to shape students' ethical awareness regarding the categories of good and bad in human behavior, thereby producing individuals who are socially and spiritually responsible. This research uses a library study method with a qualitative approach, through a critical review of Harun Nasution's works and various relevant literature in the field of Islamic education. The results of the study indicate that Harun Nasution's religious-rational thought emphasizes the importance of reason in understanding Islamic teachings, without neglecting revelation as the primary source of truth. He seeks to integrate rationality with religious values, thus creating a more open and dialogical understanding of Islam regarding the development of science. Thus, Harun Nasution's thinking makes a significant contribution to building an adaptive, contextual, and progressive paradigm of Islamic education. This approach allows Islamic education to remain relevant in facing the challenges of the modern era, while maintaining the fundamental values ​​of Islamic teachings as the main foundation in the formation of human character and civilization. Abstrak Penelitian ini berada dalam ranah kajian pemikiran pendidikan Islam yang berfokus pada analisis gagasan Harun Nasution dengan corak religius-rasional serta relevansinya dalam pengembangan pendidikan Islam kontemporer. Harun Nasution menempatkan pendidikan moral sebagai inti utama dalam pendidikan agama, yang tidak semata-mata menekankan pada penguasaan pengetahuan keagamaan dan pelaksanaan ritual ibadah, tetapi lebih jauh pada proses internalisasi nilai-nilai moral dalam kehidupan individu. Pendidikan agama, dalam pandangannya, harus mampu membentuk kesadaran etis peserta didik mengenai kategori baik dan buruk dalam perilaku manusia, sehingga melahirkan pribadi yang bertanggung jawab secara sosial dan spiritual. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, melalui kajian kritis terhadap karya-karya Harun Nasution serta berbagai literatur yang relevan dalam bidang pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran religius-rasional Harun Nasution menegaskan pentingnya peran akal dalam memahami ajaran Islam, tanpa mengesampingkan wahyu sebagai sumber utama kebenaran. Ia berupaya mengintegrasikan rasionalitas dengan nilai-nilai keagamaan sehingga tercipta pemahaman Islam yang lebih terbuka dan dialogis terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, pemikiran Harun Nasution memberikan kontribusi signifikan dalam membangun paradigma pendidikan Islam yang adaptif, kontekstual, dan progresif. Pendekatan ini memungkinkan pendidikan Islam untuk tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman modern, sekaligus mempertahankan nilai-nilai fundamental ajaran Islam sebagai landasan utama dalam pembentukan karakter dan peradaban manusia.
Pengembangan Fiqh Hadlari Dan Suluk Hadlari Berdasarkan Al-Qur’an Kajian Atas Surah Al-Qashas Ayat 77 Zulfa Hasanah; Rosyida Rakhmania Muha
Al-Abshor : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Pendidikan Agama Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/nqd7sa52

Abstract

This article examines the development of the concepts of Hadlari Fiqh and Hadlari Suluk by making Q.S. Al-Qashas verse 77 as the main normative foundation in building a balance between worldly life and the hereafter. This study departs from the awareness that Islamic teachings do not only regulate aspects of ritual worship, but also provide   guidelines in building a harmonious, just, and civilized life. Therefore, this study aims to analyze the meaning of the verse from the perspective of Qur'anic interpretation and explain its implications for the development of civilizational fiqh and the formation of spiritual-ethical behavior in the lives of Muslims. This study uses a qualitative approach with a library research method, namely by examining various library sources such as the Qur'an, classical and contemporary commentaries, and scientific literature relevant to the research theme. Through this approach, the researcher attempts to explore the deep meaning of Q.S. Al-Qashas verse 77 systematically and contextually. The results of the study indicate that the verse emphasizes the principle of tawazun (balance) as the basis of Hadlari Fiqh, which includes the integration of spiritual, material, social, and ecological dimensions. Furthermore, the value of ihsan contained in the verse represents Suluk Hadlari, namely the orientation towards developing noble morals, social responsibility, and civilizational awareness. This finding confirms that Q.S. Al-Qashas, ​​verse 77, has strong conceptual relevance in developing a holistic, integrative, and contextual paradigm for Islamic education and civilization in facing modern challenges. Abstrak Artikel ini mengkaji pengembangan konsep Fiqh Hadlari dan Suluk Hadlari dengan menjadikan Q.S. Al-Qashas ayat 77 sebagai landasan normatif utama dalam membangun keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Kajian ini berangkat dari kesadaran bahwa ajaran Islam tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, tetapi juga memberikan pedoman komprehensif dalam membangun kehidupan yang harmonis, berkeadilan, dan berkeadaban. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna ayat tersebut dalam perspektif tafsir Al-Qur’an serta menjelaskan implikasinya terhadap pengembangan fiqh peradaban dan pembentukan perilaku spiritual-etik dalam kehidupan umat Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research, yaitu dengan menelaah berbagai sumber kepustakaan seperti Al-Qur’an, kitab tafsir klasik dan kontemporer, serta literatur ilmiah yang relevan dengan tema penelitian. Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya menggali makna mendalam dari Q.S. Al-Qashas ayat 77 secara sistematis dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat tersebut menegaskan prinsip tawazun (keseimbangan) sebagai dasar dalam Fiqh Hadlari, yang mencakup integrasi antara dimensi spiritual, material, sosial, dan ekologis. Selain itu, nilai ihsan yang terkandung dalam ayat tersebut merepresentasikan Suluk Hadlari, yaitu orientasi pembentukan akhlak mulia, tanggung jawab sosial, dan kesadaran peradaban. Temuan ini menegaskan bahwa Q.S. Al-Qashas ayat 77 memiliki relevansi konseptual yang kuat dalam pengembangan paradigma pendidikan dan peradaban Islam yang bersifat holistik, integratif, dan kontekstual dalam menghadapi tantangan modern.
Integrasi Ekoteologi dalam Pendidikan Agama Islam Nur Aini; Moh. Hafid Effendy
Al-Abshor : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Pendidikan Agama Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/pyc91k85

Abstract

The global environmental crisis has driven the Indonesian Ministry of Religious Affairs (Kementerian Agama RI) in 2025 to integrate ecotheology into the Islamic Religious Education curriculum as a response to the need for developing faith-based ecological awareness at the secondary level. This study aims to analyze the concept of ecotheology in the 2025 Ministry policy, examine strategies for integrating it into Islamic Religious Education (PAI), and identify problems and strategic solutions for Senior High Schools/Islamic Senior High Schools (SMA/MA). The method used is a descriptive-analytical literature study of policy documents, scientific articles, and relevant books. The findings show that ecotheology in the policy is built upon five Islamic principles: Tawhid, the concepts of Khalifah and Amanah, Mizan, the prohibition of israf and the encouragement of ihsan, as well as the recognition of God’s sovereignty over nature. The policy also emphasizes the concept of “social dhikr,” which interprets environmental care as an act of worship. Integration is recommended across five learning domains (Qur’an-Hadith, Creed, Ethics, Fiqh, and the History of Islamic Civilization) and aligned with the P5 Sustainable Lifestyle theme and Local Wisdom. The challenges include issues at the levels of: policy (weak technical guidelines and monitoring), curriculum (implicit material and limited teaching resources), teachers (limited pedagogical competence), students (low awareness and a gap between theory and practice), and schools (minimal facilities, limited budgeting, and low community awareness). Strategic solutions include the development of technical guidelines, the establishment of explicit competencies, funding mechanisms and monitoring indicators, module development, continuous teacher training, action-based learning, cross-institutional collaboration, and transformation toward eco-schools/eco-madrasahs. Abstrak Krisis lingkungan global mendorong Kementerian Agama RI pada 2025 mengintegrasikan ekoteologi ke dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam sebagai respons atas kebutuhan pembentukan kesadaran ekologis berbasis iman di jenjang menengah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ekoteologi dalam kebijakan Kemenag 2025, menelaah strategi integrasinya ke PAI, serta mengidentifikasi problematika dan solusi strategis untuk SMA/MA. Metode yang dipakai adalah studi literatur deskriptif-analitis terhadap dokumen kebijakan, artikel ilmiah, dan buku relevan. Temuan menunjukkan bahwa ekoteologi dalam kebijakan tersebut dibangun atas lima prinsip Islam, yaitu Tauhid, Khalifah dan Amanah, Mizan, larangan israf dan anjuran ihsan, serta pengakuan kedaulatan Tuhan atas alam, kebijakan juga menonjolkan konsep “zikir sosial” yang memaknai merawat lingkungan sebagai ibadah. Integrasi disarankan melalui lima ranah pembelajaran (Al-Qur’an-Hadits, Akidah, Akhlak, Fikih, dan Sejarah Peradaban Islam) dan selaras dengan tema P5 Gaya Hidup Berkelanjutan serta Kearifan Lokal. Problematika meliputi dimensi kebijakan (juknis dan monitoring lemah), kurikulum (materi implisit, bahan ajar terbatas), guru (kompetensi pedagogis terbatas), siswa (kesadaran rendah, kesenjangan teori-praktek), dan sekolah (sarpras dan anggaran minim, kesadaran masyarakat rendah). Solusi strategis mencakup penyusunan juknis, penetapan kompetensi eksplisit, mekanisme pendanaan dan indikator pemantauan, pengembangan modul, pelatihan berkelanjutan bagi guru, pembelajaran aksi, kolaborasi lintas lembaga, dan transformasi menuju eco-school/eco-madrasah.
Penerapan Game Based Learning Menggunakan Zep Quiz Untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Peserta Didik Kelas XI Siti Nur Aini; Rohmatin Anzelina Fitri; Fathul Amin
Al-Abshor : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Pendidikan Agama Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/xqq3dz49

Abstract

This study was conducted with the aim of improving students' achievement motivation through the implementation of the Game-Based Learning model using Zep Quiz at MAN 1 Tuban. This study was conducted using a classroom action research method, namely the Kemmis and McTaggart model, which was implemented through two cycles, each cycle including the planning stage, action implementation, observation, and reflection. The research subjects were 32 students. Data were collected through observation, a Likert scale achievement motivation questionnaire, and documentation. Data analysis was carried out descriptively, qualitatively, and quantitatively. From the analysis, the results showed that in cycle I, the average student achievement motivation reached 55% with a learning completeness of 78.13%. After corrective actions were taken in cycle II, the average achievement motivation increased to 78% and the learning completeness reached 100%. This increase was supported by increased student activity, courage to face challenges, learning responsibility, and the ability to respond to feedback during learning. The conclusion of this study shows that the implementation of Game-Based Learning assisted by Zep Quiz is effective in improving achievement motivation and learning outcomes of grade XI students. Further research is recommended to examine the impact of Zep Quiz on other variables, such as critical thinking skills and collaborative learning. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa melalui penerapan model pembelajaran berbasis permainan (Game-Based Learning) dengan memanfaatkan Zep Quiz di MAN 1 Tuban. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas., yaitu model Kemmis dan McTaggart, yang diterapkan melalui dua siklus, masing-masing siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 32 siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, angket motivasi berprestasi skala Likert, dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif, dan juga kuantitatif. Dari analisis, hasil menunjukkan bahwa pada siklus I, rata-rata motivasi berprestasi siswa mencapai 55% dengan kelengkapan pembelajaran sebesar 78,13%. Setelah dilakukan tindakan korektif pada siklus II, rata-rata motivasi berprestasi meningkat menjadi 78% dan kelengkapan pembelajaran mencapai 100%. Peningkatan ini didukung oleh peningkatan keaktifan siswa, keberanian menghadapi tantangan, tanggung jawab belajar, dan kemampuan memberikan umpan balik selama pembelajaran. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Game Based Learning yang dibantu oleh Zep Quiz efektif dalam meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa kelas XI. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengkaji lebih dalam pengaruh penggunaan Zep Quiz terhadap variabel lain, seperti kemampuan berpikir kritis dan kolaborasi belajar.

Page 12 of 12 | Total Record : 116