cover
Contact Name
Ahmad Yousuf Kurniawan
Contact Email
frontbiz@ulm.ac.id
Phone
+6281211109125
Journal Mail Official
frontbiz@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Jl. Jend. Ahmad Yani Km. 36, Banjarbaru, Kalimantan Selatan 70714, Indonesia
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Frontier Agribisnis
ISSN : -     EISSN : 30481260     DOI : https://doi.org/10.20527/frontbiz
Frontier Agribisnis adalah jurnal yang dikelola Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat. Tema jurnal ini mencakup agribisnis secara umum, meliputi: analisis penyediaan input pertanian, analisis usaha tani dan perkebunan, analisis pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, penyuluhan dan komunikasi pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan analisis kebijakan pertanian. Terbit 4 kali dalam satu tahun (Maret, Juni, September dan Desember).
Articles 697 Documents
Analisis Pemasaran Jagung Manis (Zea Mays Saccharata Sturt) di Desa Sukaramah Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut Danang Rizam Nuari; Yudi Ferrianta; Nurmelati Septiana
Frontier Agribisnis Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i1.8267

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui saluran pemasaran, biaya pemasaran, margin total, margin share, Farmer’s share dan efisiensi pemasaran serta permasalahan yang dihadapi oleh petani di Desa Sukaramah dalam pemasaran jagung manis. Pengambilan sampel dilakukan secara proportional random sampling. Saluran pemasaran yang ada di Desa Sukaramah Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut memiliki 4 saluran pemasaran. Untuk biaya pemasaran tertinggi terdapat pada saluran IV yaitu Rp 271,44/tongkol tujuan Pasar Tradisional Gembira dan biaya terkecil yaitu Rp 44,50/tongkol pada saluran I. Margin total terbesar terdapat pada saluran III dan IV, yaitu masing-masing mempunyai margin total sebesar Rp 750/tongkolnya. Margin share tertinggi pada saluran I sebesar 100%, sedangkan terendah pada saluran III dan IV sebesar 66,67%. Saluran I indeks efisiensi ekonomis paling baik dibandingkan saluran yang lainnya, karena mempunyai nilai indeks yang paling kecil diantara saluran pemasaran yang lainnya. Sedangkan, tujuan pemasaran Pasar Tradisional Gembira Pelaihari paling efisien dari segi efisiensi teknis, khususnya saluran III. Permasalahan yang dihadapi petani yaitu akses jalan yang susah dilewati saat musim hujan dan harga yang tidak sesuai dengan modal karena tingginya harga pupuk dan lainnya, karena adanya kelangkaan. Kemudian untuk pedagang yaitu harus mempunyai modal yang cukup agar dapat bisa membeli atau mengambil hasil jagung manis dari petani karena kalau tidak atau modal yang kurang resikonya tidak mendapatkan barang atau volumenya hanya sedikit.
Perbedaan Keuntungan Petani Sawi yang Memanfaatkan Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan yang Tidak di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru Sri Annur Rahmadiah; Luki Anjarsiani; Luthfi Fatah
Frontier Agribisnis Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i2.6012

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keuntungan petani sawi yang memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan yang tidak serta untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi petani dalam proses pemberian pinjaman maupun pencairan dana KUR tersebut. Penelitian dilaksanakan sejak bulan Januari 2020 sampai Desember 2020. Penelitian ini menggunakan dua data yaitu data primer yang diperoleh dari wawancara dengan responden dan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari Kelurahan Landasan Ulin Utara, BPP Liang Anggang dan Data PPL. Teknik pengambilan jumlah sampel menggunakan purposive random sampling diambil sebanyak 50 sampel dan untuk menentukan responden menggunakan teknik proportional random sampling, didapatkan 25 responden yang memanfaatkan KUR dan 25 responden yang tidak memanfaatkan KUR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan keuntungan antara petani sawi yang memanfaatkan Pogram KUR dengan yang tidak. Dibuktikan dengan hasil perhitungan Uji T yang lebih besar dibandingkan angka pada uji T dengan derajat bebas 48 dan taraf signifikan 95% yaitu 3,239 > 1,678.
ANALISIS FINANSIAL USAHATANI JAMUR TIRAM (Pleurotus ostreatus) DI KECAMATAN LIANG ANGGANG KOTA BANJARBARU (Studi Kasus Usahatani Agripolit) Muhammad Ichwan; Kamiliah Wilda; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v1i3.614

Abstract

 Indonesia adalah tempat habitatnya jamur, karena jenis jamur yang tumbuh di Indonesia banyak dan beragam, hal ini disebabkan kesadaran dan tingkat pendidikan masyarakat yang tinggi, akibatnya konsumsi jamur meningkat. Tujuan penelitian menganalisis keadaan finansial usahatani jamur tiram, mencakup biaya produksi, penerimaan dan pendapatan, menganalisis titik impas usahatani jamur tiram, mengetahui permasalahan yang dihadapi petani usahatani Jamur Tiram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara pengamatan langsung dan melakukan wawancara dengan responden. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani jamur tiram dengan Jumlah baglog 5000. Menunjukkan biaya total sebesar Rp 19.108.333,/periode (4 bulan), produksi rata-rata sebanyak 4.500 kg/periode, penerimaan sebesar Rp 112.500.000,-/periode, pendapatan sebesar Rp 93.391.667,-/periode. Titik impas atau break event point (BEP) unit usahatani jamur tiram tercapai pada saat rata-rata produksi sebanyak 335 kg/periode atau dinyatakan dengan nilai sebesar Rp 8.378.754,32,-/periode ini layak dan menguntungkan karena berada diatas titik impas. Permasalahan utama yang dihadapi dalam usahatani jamur tiram yaitu, keterlambatan saat memperoleh serbuk gergaji, bibit (bahan baku) dan kelebihan produksi.Kata kunci: biaya, penerimaan, pendapatan, titik impas 
STRUKTUR BIAYA TANAMAN BELUM MENGHASILKAN PADA USAHA KELAPA SAWIT PETANI SWADAYA DI KECAMATAN BATU ENGAU KABUPATEN PASER Nurul Azizzah Maulidina Purnamasari; Hamdani Hamdani; Karimal Arum Shafriani
Frontier Agribisnis Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i1.12258

Abstract

Kelapa sawit dengan kualitas baik dapat memproduksi hingga mencapai usia tanaman 25 tahun. Dukungan untuk hal ini terletak pada praktik perawatan, termasuk pemilihan benih unggul yang bersertifikat dan faktor-faktor lain seperti penggunaan pupuk dan obat-obatan. Dalam melakukan usaha terdapat sejumlah biaya yang harus dibayarkan seperti biaya penanaman awal, perawatan awal. Hal ini membutuhkan biaya yang cukup besar karena kelapa sawit memiliki usia produktif kurang lebih 3-4 tahun setelah tanam. Penelitian ini memiliki tujuan menganalisis jenis biaya, besarnya biaya serta struktur biaya dari usaha kelapa sawit petani swadaya, khususnya biaya pada saat tanaman belum menghasilkan. Penelitian ini menggunakan metode survei dan observasi yang dilakukan kepada petani kelapa sawit swadaya dengan jumlah 58 responden di Kecamatan Batu Engau Kabupaten Paser. Hasil penelitian menunjukkan jenis biaya dan besar biaya yang dikeluarkan tanaman belum menghasilkan pada tahun 2023 adalah berupa biaya investasi yang mencakup lahan Rp17.120.124/Ha, pembelian bibit Rp4.471.830Ha, peralatan Rp5.548.867/Ha, tenaga kerja pembukaan lahan, pengolahan lahan dan penanaman Rp13.160.000/Haserta biaya pupuk awal Rp1.375.000/Ha. Kemudian, untuk biaya operasional mencakup biaya peralatan tambahan Rp3.459.808/Ha, biaya pembelian pupuk Rp9.612.793/Ha, biaya obat-obatan Rp1.947.588/Ha dan biaya tenaga kerja Rp9.119.492/Ha. Persentase perbandingan struktur biaya berdasarkan biaya investasi, biaya yang paling besar ialah pembelian lahan 41.08% dan yang terkecil ialah pupuk awal 3.30%, sedangkan biaya operasional terbesar berada pada pembelian pupuk 39.82% dan yang terkecil adalah obat-obatan 8.07%. Struktur biaya berdasarkan keseluruhan komponen bia-ya pada TBM untuk persentase biaya yang paling besar adalah lahan yakni 26% sedangkan untuk biaya terkecil adalah pupuk awal yakni 2%.
Analisis Usahatani Sayuran Organik di Banjarbaru (Studi Kasus “Kebonan Mas Untung” di Banjarbaru) Rahmad Effendi; Hamdani Hamdani; Eka Radiah
Frontier Agribisnis Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i3.1286

Abstract

Abstrak. Analisis usahatani adalah penguraian bagian-bagian dari suatu keseluruhan yang ada dalam kegiatan usahatani yang ada di Kebonan Mas Untung. Dalam menganalisis kegiatan usahatani diperlukan ketelitian yang tinggi agar tidak ada satu komponen yang ditinggalkan. Usahatani yang dianalisis pada penelitian kali ini tentang sayuran organik. Pentingnya kesehatan membuat setiap orang mencari cara agar tetap sehat, salah satunya dengan mengkonsumsi sayuran organik. Kebonan Mas Untung merupakan produsen sayuran organik yang ada di Banjarbaru yang dimiliki oleh bapak Untung ini dilakukan lima belas jenis tanaman yang diteliti yaitu bayam hijau, bayam merah, cabe rawit, edamame, kailan, kale, labu madu, okra hijau, okra merah, pakchoy, rosela, tomat mawar, tomat sayur, terong kenari dan ubi jalar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani sayuran organik usahatani Kebonan Mas Untung di Banjarbaru, untuk mengetahui kelayakan usahatani sayuran organik Kebonan Mas Untung di Banjarbaru, untuk menganalisis permasalahan yang ada di Kebonan Mas Untung di Banjarbaru. Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober 2018-Februari 2019 di Gunung Kupang, Kelurahan Cempaka, Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. Penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara langsung kepada pemilik usahatani Kebonan Mas Untung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Penerimaan usahatani Kebonan Mas Untung adalah sebesar Rp 645.650.000,- yang diperoleh dari lima belas komoditas sayuran yang dibudidayakan. Sedangkan total biaya dari usahatani Kebonan Mas Untung adalah sebesar                Rp 39.463.535.-. Sehingga nilai dari pendapatan adalah sebesar Rp 606.186.465,-. Usahatani Kebonan Mas Untung juga dikatakan layak karena semua jenis komoditas yang di usahakan memenuhi kategori kelayakan dan tidak terdapat masalah yang signifikan pada usahatani Kebonan Mas Untung.Kata kunci: analisis usahatani, Kebonan Mas Untung
ANALISIS VIABILITAS FINANSIAL PETANI PADI DI DESA ANDAMAN I KECAMATAN ANJIR PASAR KABUPATEN BARITO KUALA Husaini Maulana; Hairin Fajeri; Eka Radiah
Frontier Agribisnis Vol 4, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i4.2933

Abstract

Salah satu komoditas pertanian yang telah lama dibudidayakan dan dijadikan sebagai mata pencaharian utama di Kabupaten Barito Kuala adalah usaha tani padi. Berkaitan dengan potensi sebagai mata pencaharian yang dapat diandalkan secara berkelanjutan (sustainable), usaha tani padi tersebut dapat dinilai dengan analisis viabilitas finansial, Ini adalah penilaian pendapatan pertanian beras, yang digunakan untuk membayar semua biaya produksi dan pengeluaran konsumsi petani pada tahun atau periode sebelumnya. Dalam penelitian ini memiliki tujuan yaitu menganalisis biaya total produksi yang dikeluarkan dalam proses produksi, menganalisis pendapatan bersih petani padi, dan menganalisis viabilitas finansial petani padi di Desa Andaman I, Kecamatan Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala. Penelitian ini dilakukan secara survei. Dalam mengambil sampel, metode yang digunakan yaitu acak sederhana (simple random sampling), sebanyak 37 petani padi yang diwawancarai yang digunakan sebagai sampel di Desa Andaman I Kecamatan Anjir Pasar Kabupaten Barito Kuala. Analisis data yang digunakan adalah biaya tetap, biaya variabel, biaya total produksi, penerimaan, pendapatan bersih, pengeluaran konsumsi serta viabilitas finansial. Penelitian ini menghasilkan bahwa total biaya rata-rata  dari usaha tani padi responden sebesar Rp12.297.895,00 per tahun, total penerimaan rata-rata responden petani padi sebesar Rp32.754.392,00 per tahun, total pendapatan responden petani padi sebesar Rp20.456.497,00 tahun, pengeluaran konsumsi rata-rata responden petani padi sebesar Rp25.979.253,00 per tahun, dan viabilitas finansial petani padi sebesar Rp5.522.756,00. Sehingga penilaian viabilitas finansial responden petani padi di Desa Andaman I, Kecamatan Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala adalah tidak viabel atau  TR < K + C (penerimaan  (total revenue) kurang dari biaya input / produksi (modal) dan pengeluaran konsumsi (consumption)). Permasalahan yang dihadapi responden petani padi yaitu ketersediaan pupuk yang seringkali mengalami keterlambatan di daerah penelitian, petani kurang leluasa dalam menentukan harga karena telah ditentukan oleh pedagang (pengepul) dan perbedaan tingkat kesuburan dan jarak lahan petani yang jauh sehingga menyebabkan jumlah produksi dan harga di kalangan petani tidak sama rata.
Respons Petani Terhadap Program Agrosilvopastura di Desa Sejahtera Mulia, Kecamatan Satui, Tanah Bumbu Farah Yumna Azumi; Muzdalifah Muzdalifah; Nurmelati Septiana
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9418

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons petani penerima terhadap program Agrosilvopastura yang akan dilaksanakan dengan menggunakan pengukuran skala Likert pada variabel ukur pengetahuan petani (X1), peran lembaga (X2), kapabilitas petani (X3), dan respons petani (Y). Hasil penelitian menunjukkan respons petani cenderung tidak menyetujui atau termasuk dalam kategori negatif dengan rata-rata nilai indeks 36% dari keseluruhan variabel ukur. Hal ini dibuktikan dengan petani yang belum mampu mengenali program secara baik karena program Agrosilvopastura masih dalam tahap persiapan pelaksanaan. Keterbatasan akses petani juga menjadi salah satu hambatan dalam menerima informasi mengenai program Agrosilvopastura sehingga petani penerima hanya mampu mengandalkan peran dari Pemerintah Desa dan PT Arutmin Site Satui. Oleh karena itu, belum terdapat perubahan yang signifikan oleh petani penerima dengan adanya program Agrosilvopastura.
Hubungan Karakteristik Petani terhadap Tingkat Pengetahuannya tentang Budidaya Karet di Kecamatan Satui Kabupaten Tanah Bumbu Marsyam Prastiyo; Masyhudah Rosni; Nurmelati Septiana
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7846

Abstract

Karet merupakan salah satu komoditas yang memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian masyarakat di Kecamatan Satui Kabupaten Tanah Bumbu. Penelitian ini memiliki tiga tujuan, yang pertama untuk mengetahui karakteristik petani karet, kedua mengetahui tingkat pengetahuan petani karet dan yang ketiga mengetahui hubungan karakteristik petani dengan tingkat pengetahuan petani karet di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu. Pengambilan sampel di lakukan secara proportional random sampling. Penelitian dilakukan dengan teknik analisis deskriptif dengan uji korelasi rank spearman. Hasilnya, rata-rata umur petani di Kecamatan Satui adalah 47,17 tahun, sebagian besar dari mereka berpendidikan hingga sekolah dasar, dengan rata-rata memiliki pengalaman budidaya selama 12,1 tahun dan juga rata-rata memiliki luas lahan budidaya 1,875 hektare. Petani karet di Kecamatan Satui memiliki pengetahuan yang tinggi dengan persentase sebesar 70% atau memiliki nilai lebih dari 77,78%. Hubungan antara umur petani dengan tingkat pengetahuan memiliki nilai -0,320 atau hubungan lemah, hubungan antara pendidikan formal dengan tingkat pengetahuan petani adalah sebesar 0,743 atau hubungan kuat, hubungan antara pengalaman budidaya dengan tingkat pengetahuan petani adalah sebesar 0,013 atau sangat lemah, dan hubungan luas lahan budidaya petani dengan tingkat pengetahuannya sebesar 0,225 atau lemah.
Manajemen Usaha Penggilingan Padi Skala Kecil di Kecamatan Kurau Kabupaten Tanah Laut Daniel Destian S; Abdussamad Abdussamad; Artahnan Aid
Frontier Agribisnis Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v1i2.776

Abstract

Usaha jasa penggilingan padi umumnya tidak berjalan terus sepanjang tahun bisa disebut bersifat musiman, sebab gabah tidak tersedia sepanjang tahun. Kegiatan usaha jasa penggilingan padi berjalan hanya pada musim panen dan beberapa bulan setelahnya, tergantung pada besarnya hasil panen di wilayah sekitar penggilingan padi berada. Di Kecamatan Kurau ada 18 penggilingan padi yang melakukan aktivitas jasa dan penjualan ada juga yang hanya melakukan aktivitas jasa saja, penggilingan padi yang ada di Kecamatan Kurau merupakan Penggilingan padi skala kecil. Tujuan dari penelitian ini mendiskripsikan manajemen dan aktivitas usaha penggilingan, menganalisis keuntungan pengusaha penggilingan dan hambatan apa saja yang dihadapi oleh pelaku usaha penggilingan padi yang ada di Kecamatan Kurau. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei 2016 sampai Juli 2017 dimulai dari persiapan, pengumpulan data sampai pembuatan laporan. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Purposive sampling adalah salah satu teknik sampling non random sampling dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian. Maka dari itu dari jumlah populasi sebanyak 18 penggilingan padi, diambil 6 penggilingan padi sebagai sampel berdasarkan aktivitas dan kapasitas penggilingan padi.Aktivitas yang dilakukan dalam  melakukan  usaha  penggilingan padi yang ada di Kecamatan kurau meliputi pengadaan input,penjemuran,penggilingan,pengolahan beras dan manajemen usaha penggilingan padi yang ada di Kecamatan Kurau meliputi perencanaan, Pengorganisasian,pengarahan,pengawasan. Biaya yang dikeluarkan oleh penggilingan padi (jasa dan jual) lebih besar terutama untuk membeli gabah, sedangkan biaya yang dikeluarkan oleh penggilingan padi (jasa) relatif kecil karena tidak ada aktivitas pembelian gabah. Penggilingan padi memperoleh keuntungan sebesar Rp 35.519.859,- dari penjulan beras Sedangkan dari jasa penggilingan keuntungan   sebesar Rp 880.932,-.dalam satu minggu. Untuk penggilingan padi mengeluarkan biaya terbesar pada pembelian gabah. Dan untuk penggilingan padi (jasa) memperoleh keuntungan yang sangat minim, namun para pemilik memiliki pekerjaan lain yaitu sebagai petani.Kata kunci: manajemen, penggilingan padi, aktivitas, keuntungan, kecil
PERSEPSI KONSUMEN TERHADAP BUAH SEMANGKA DI KOTA BANJARBARU Yatimah Yatimah; Muzdalifah Muzdalifah; Mira Yulianti
Frontier Agribisnis Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i2.13035

Abstract

Persepsi konsumen beserta atribut-atribut yang dapat dilihat dari atribut rasa, harga, kesegaran, ukuran, tekstur, bentuk, kandungan vitamin dan ketersediaan buah yang merupakan faktor penting dalam proses keputusan konsumen memilih suatu produk. Salah satunya pada buah semangka dengan kandungan vitamin dan manfaat yang bermutu untuk dikonsumsi secara langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi konsumen terhadap buah semangka dan menganalisis perilaku konsumen terhadap buah semangka di Kota Banjarbaru. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang membeli buah semangka di Kota Banjarbaru. Jumlah sampel yang diperoleh dari hasil survei di lapangan sebanyak 65 orang. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan responden dengan alat bantu kuesioner. Sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber jurnal, dinas atau lembaga yangterkait dengan penelitian di Kota Banjarbaru, serta bahan pustaka lainnya seperti hasil penelitian terdahulu. Analisis data yangdigunakan analisis deskriptif yaitu dengan persentase (%) dan perhitungan rata-rata (mean). Hasil penelitian menunjukkan bahwapersepsi konsumen terhadap buah semangka di Kota Banjarbaruyaitu ketersediaan buah semangka dinilai tersedia sebesar 57%,kandungan vitamin pada buah semangka dinilai banyak sebesar54%, kesegaran buah semangka dinilai segar sebesar 51%, bentuk buah semangka yang dinilai bulat sebesar 51%, rasa buah buah semangka dinilai manis sebesar 51%, ukuran buah semangka dinilai cukup besar (2-5kg) sebesar 53%, tekstur buah semangka yang dinilai cukup renyah sebesar 34% dan harga buah semangka dinilai cukup murah (Rp.7000-10.000/Kg) sebesar 55%. Dari kategori peringkat persentase tertinggi adalah ketersediaan buah sebanyak57% dan peringkat terendah pada atribut tekstur buah sebanyak 34%. Sedangkan nilai rata-rata setiap atribut mempunyai kategori penilaian antara baik hingga cukup baik dan nilai secara keseluruhan atribut terkategori baik.