cover
Contact Name
Ahmad Yousuf Kurniawan
Contact Email
frontbiz@ulm.ac.id
Phone
+6281211109125
Journal Mail Official
frontbiz@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Jl. Jend. Ahmad Yani Km. 36, Banjarbaru, Kalimantan Selatan 70714, Indonesia
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Frontier Agribisnis
ISSN : -     EISSN : 30481260     DOI : https://doi.org/10.20527/frontbiz
Frontier Agribisnis adalah jurnal yang dikelola Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat. Tema jurnal ini mencakup agribisnis secara umum, meliputi: analisis penyediaan input pertanian, analisis usaha tani dan perkebunan, analisis pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, penyuluhan dan komunikasi pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan analisis kebijakan pertanian. Terbit 4 kali dalam satu tahun (Maret, Juni, September dan Desember).
Articles 697 Documents
PERSEPSI DAN MINAT GENERASI MUDA DESA SUNGAI RANGAS TENGAH KECAMATAN MARTAPURA BARAT KABUPATEN BANJAR TERHADAP BIDANG PERTANIAN Ahmad Jaelani; Mariani Mariani; Masyhudah Rosni
Frontier Agribisnis Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i2.13060

Abstract

Untuk mempertahankan pembangunan pertanian yang berkelanjutan, diperlukan tiga variabel penting: sumber daya alam, sumber daya manusia, dan teknologi yang sesuai. Salah satu komponen penting untuk pembangunan pertanian yang berkelanjutan adalah tenaga kerja yang terdidik dengan baik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis persepsi serta minat generasi muda Desa Sungai Rangas terhadap bidang pertanian. Metode penarikan populasi yang digunakan yaitu Purposive Sampling dan didapat jumlah populasi sebanyak 178 responden. Dari 178 orang diambil 10% untuk mewakili populasi didapat 18 orang yang dijadikan responden dan menggunakan metode Simple Random Sampling untuk memilih responden yang dijadikan sampel. Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara mealui kuesioner. Analisis yang digunakan adalah Skala Likert. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi generasi muda di Desa Sungai Rangas Tengah dengan skor rata-rata 1.66 termasuk dalam kategori baik. Sedangkan untuk minat generasi muda di Desa Sungai Rangas Tengah terhadap bidang pertanian termasuk dalam kategori berminat dengan skor rata-rata 1.69.
Analisis Finansial Usaha Kue Tradisional Apam Barabai di Desa Bulau Kecamatan Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah Novie Noor Anissa; Kamiliah Wilda; Masyhudah Rosni
Frontier Agribisnis Vol 3, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i4.2115

Abstract

Abstrak. Pada wilayah Kecamatan Barabai banyak industri yang mengolah hasil komoditi daerah yang digunakan untuk kebutuhan sendiri atau diperjualbelikan. Industri rumah tangga yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah kue tradisional apam Barabai. Kue tradisional apam Barabai merupakan kue basah yang dibuat dari tepung beras, santan, gula merah/putih dan tape singkong. Makanan ini berbentuk bulat, berwarna merah kecoklatan atau putih, untuk apam berwarna merah menggunakan gula merah untuk rasanya dan untuk apam yang putih tidak menggunakan gula merah. Usaha dibidang apam Barabai ini tergolong dalam perusahaan perseorangan yang masuk dalam kategori industri rumah tangga. Penelitian ini bertujuan mengetahui besar biaya, penerimaan dan keuntungan dari usaha kue tradisional apam Barabai, mengetahui titik impas serta mengetahui kelayakan usaha dari usaha kue tradisional apam Barabai. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode sensus. Populasi dalam penelitian ini adalah pengusaha kue tradisional apam Barabai di Desa Bulau Kecamatan Barabai. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 12 orang pengusaha. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa  biaya total yang dikeluarkan oleh pengusaha adalah sebesar Rp4.270.491,00 yang terdiri dari biaya tetap sebesar Rp84.867,00/periode (satu bulan) dan biaya variabel Rp4.185.624,00/periode (satu bulan). Penerimaan yang diterima sebesar Rp7.224.667,00/periode (satu bulan) dengan  produksi yang dihasilkan selama satu bulan sebanyak 903,08333 bungkus dan harga jual Rp8.000,00/bungkus dan keuntungan yang didapat adalah sebesar Rp2.954.175,00/periode (satu bulan). Titik impas (break event point) berdasarkan jumlah yang harus dihasilkan adalah minimal sebanyak 25 bungkus dan berdasarkan jumlah penjualan (dalam rupiah) adalah Rp201.776,00/periode (satu bulan). Usaha ini layak secara finansial dengan hasil sebesar 1,69 karena RCR > 1 .Kata kunci: industri rumah tangga, analisis finansial, kue tradisional apam Barabai
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Telur Itik di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar Gusti Dina Aryanti Imanah; Rifiana Rifiana; Muhammad Fauzi
Frontier Agribisnis Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i3.5932

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap permintaan telur itik dan mengetahui elastisitas permintaan telur itik di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar. Data yang digunakan berupa data primer: dari hasil wawancara. Pengambilan sampel dilakukan di salah satu pasar terbesar di Kecamatan Martapura. Metode pengambilan contoh dalam penentuan pasar, digunakan metode purposive sampling dan untuk pengambilan contoh sampel responden digunakan metode accidental sampling.Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap permintaan telur itik serta besarnya elastisitas diidentifikasi menggunakan analisis regresi linier berganda bentuk model Cobb-Douglas yang diestimasi melalui logaritma natural. Pada penelitian ini faktor-faktor yang diduga memiliki pengaruh terhadap permintaan telur itik di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar adalah harga telur itik, harga telur ayam ras, pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan selera.Dari hasil analisis yang dilakukan menunjukkan harga telur itik dan selera memiliki pengaruh sangat nyata terhadap besar kecilnya jumlah permintaan telur itik, kemudian jumlah anggota keluarga menunjukan pengaruh nyata dalam besar kecilnya jumlah permintaan telur itik, sedangkan harga telur ayam ras dan pendapatan tidak memiliki pengaruh nyata terhadap jumlah permintaan telur itik. Elastisitas harga bersifat elastis dan menunjukkan hubungan yang berbanding sebaliknya terhadap besar kecilnya permintaan telur itik ialah–[3,207]>1. Elastisitas silang harga telur ayam ras memiliki sifat inelastis dan memiliki tanda positif yaitu [0,306]<1 yang dapat diartikan telur ayam adalah barang substitusi dari teluritik. Kemudian untuk Elastisitas pendapatan menunjukkan sifat inelastis serta menunjukkan hubungan secara searah diantara pendapatan dengan permintaan telur itik dari hasil[0,158]<1.
Analisis Pendapatan Usahatani Pembibitan Buah Durian di Desa Mandikapau Barat Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar (Studi Kasus Pembibitan Suka Tanam) Sekar Darmayanti Utami; Yudi Ferrianta; Hairi Firmansyah
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10324

Abstract

Kecamatan Karang Intan merupakan satu-satunya daerah penyumbang produksi komoditi durian terbanyak di Kabupaten Banjar. Produksi komoditi buah yang meningkat tentu tidak terlepas dari kualitas bibit yang digunakan. Di Desa Mandikapau Barat terdapat usaha pembibitan buah durian yaitu pembibitan suka tanam. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui penyelenggaraan usaha pembibitan buah durian, (2) Untuk menganalisis besar biaya, penerimaan dan pendapatan usaha pembibitan buah durian dan (3) Untuk Menganalisis usaha pembibitan buah durian di Desa Mandikapau Barat Kecamatan Karang Intan layak untuk terus dikembangkan. Metode penentuan lokasi yang dipilih secara sengaja. Proses penyelenggaraan usaha pembibitan durian di Pembibitan Suka Tanam menurut tahapan kegiatan adalah sebagai berikut: (1) persiapan lahan dan mengolah tanam; (2) pengumpulan biji; (3) penyemaian; (4) penanaman; (5) okulasi; (6) perawatan; dan (7) pemasaran bibit. Pada usahatani pembibitan durian di Pembibitan Suka Tanam Desa Mandikapau Barat mengeluarkan biaya total sebesar Rp 71.052.600/tahun, total penerimaan sebesar Rp 125.300.000/tahun sehingga Bapak Mawardi mendapatkan keuntungan bersih dari pembibitan durian sebesar Rp 54.247.400/tahun. Perhitungan RCR (Revenue Cost Ratio) untuk usaha pembibitan buah durian di pembibitan Suka Tanam Desa Mandikapau Barat adalah 1,76 atau 1 kali lipat dari total biaya yang dikeluarkan yang artinya usahatani pembibitan buah durian ini sangat menguntungkan untuk dikembangkan.
Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Sayuran Dengan Sistem Surjan di Kecamatan Bataguh Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah Made Arta Wardana; Luthfi Fatah; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7824

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarmya biaya, penerimaan, pendapatan, keuntungan, kelayakan serta permasalahan yang dihadapi petani dengan sistem surjan padi lokal dengan sayuran di Kecamatan Bataguh Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. Untuk pemilihan lokasi dilakukan secara purpusive, dimana lokasi yang dipilih dengan memilih petani yang selain mengusahakan padi juga mengusahakan sayuran dengan sistem surjan. Penentuan jumlah sampel dilakukan random sampling yaitu petani yang tergabung dalam kelompok tani dan didapat jumlah sampel sebanyak 40 responden. Data pada penelitian ini diperoleh dari data primer dan data sekunder. Data yang diperoleh kemudian di analisis dengan menghitung besarnya biaya, penerimaan, pendapatan dan keuntungan. Untuk kelayakan digunakan perhitungan R/C Ratio dan B/C Ratio. Hasil penelitian menunjukan untuk per usahatani biaya total sebesar Rp. 5.573.536,4 penerimaan sebesar Rp. 14.451.375 pendapatan sebesar Rp.11.910.276,1 keuntungan sebesar Rp.8.877.838,6 Sedangkan untuk per hektar biaya total sebesar Rp.8.083.466,57 penerimaan sebesar Rp.20.959.208,57, pendapatan sebesar Rp.17.273.766,92, keuntungan sebesar Rp.12.875.743 Kelayakan usahatani dengan sistem surjan pada penelitian ini sebesar 2,60, dimana dari hasil tersebut RCR > 1 maka setiap 1 rupiah biaya yang dikeluarkan dapat memperoleh penerimaan sebesar 2,60 rupiah.dari hasil tersebut RCR>1 maka usahatani tersebut layak di usahakan.
Tingkat Pengetahuan Petani Tentang Sistem Pertanian Terpadu di Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan Sumiharti Sumiharti; Hairi Firmansyah; Taufik Hidayat
Frontier Agribisnis Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i1.673

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengetahui tingkat pengetahuan petani tentang sistem pertanian terpadu antara sayuran dan ternak sapi,  mengetahui faktor internal (pendidikan formal-nonformal, lama berusahatani, pendapatan usahatani) yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan petani tentang sistem pertanian terpadu antara sayuran dan ternak sapi serta mengetahui permasalahan yang dihadapi petani untuk menerapkan sistem pertanian terpadu antara sayuran dan ternak sapi. Penelitian ini dilaksanakan pada Desember 2017 s/d Agustus 2018 di Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru. Jenis data berupa data primer dan sekunder. Penelitian dilakukan dengan metode sensus. Penentuan wilayah penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Purposive Sampling.  Sampel berjumlah 13 petani responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan petani tentang sistem pertanian terpadu antara sayuran dan ternak sapi di Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan tergolong kategori sedang, tingkat pengetahuan petani (TPP) sebesar 77,43% yang meliputi pengelolaan lahan secara terpadu, pengolahan pupuk secara terpadu dan pengelolaan tanaman dan ternak sapi secara terpadu. Tidak terdapat hubungan yang nyata antara seluruh faktor internal dengan tingkat pengetahuan petani tentang sistem pertanian terpadu antara sayuran dan ternak sapi.Kata kunci: pengetahuan, sistem pertanian terpadu, petani sayuran, ternak sapi 
ANALISIS PEMASARAN KANGKUNG DAN BAYAM DI KELURAHAN LANDASAN ULIN UTARA KECAMATAN LIANG ANGGANG KOTA BANJARBARU Siti Rahmah; Mira Yulianti; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i1.2638

Abstract

Kangkung dan bayam merupakan sayuran yang biasa dibudidayakan di Indonesia. Hasil dari budidaya tersebut kemudian dipasarkan melalui saluran pemasaran yang beranekaragam. Saluran pemasaran ini akan menimbulkan bagian harga (share) dari setiap tingkatan salurannya.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran, besar biaya, margin, keuntungan pemasaran dan share yang diterima produsen atau petani, dan masalah yang dihadapi oleh lembaga pemasaran yang terlibat. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru pada bulan April­-Juli 2019. Lokasi penelitian dipilih secara purposive sampling. Metode dalam pengambilan sampel petani yaitu simple random sampling dari 215 populasi petani diambil 30 orang. Pedagang pengumpul dan pengecer dipilih secara snowball sampling. Berdasarkan hasil penelitian terdapat dua saluran pemasaran. Besarnya biaya, margin dan keuntungan pada saluran I sayur kangkung wilayah pemasaran Ulin Raya adalah sebesar Rp 255,10/kg, Rp 920,00/kg dan Rp 664,90/kg, sedangkan untuk sayur bayam adalah sebesar Rp 259,10/kg, Rp 1.000,00/kg dan Rp 740,90/kg. Besarnya biaya, margin, keuntungan pada saluran II wilayah pemasaran Bauntung Banjarbaru adalah sebesar Rp 485,74/kg, Rp 4.000,00/kg dan Rp 3.514,26/kg untuk sayur kangkung, sedangkan untuk sayur bayam adalah sebesar Rp 466,40/kg, Rp 5.000,00/kg dan Rp 4.533,60/kg. Share yang diterima petani pada saluran I adalah 71,25%, pedagang pengecer 28,75% untuk sayur kangkung, sedangkan sayur bayam share yang diterima petani 83,33%, pedagang pengecer 16,67%. Share yang diterima petani pada saluran II adalah 33,33%, pedagang pengumpul 33,33%, pedagang pengecer 33,33% untuk sayur kangkung, sedangkan sayur bayam share yang diterima petani 50%, pedagang pengumpul 30%, pedagang pengecer 20%. Permasalahan yang dihadapi petani adalah petani kurang mengetahui informasi harga pasar. Permasalahan pedagang pengumpul adalah kualitas dan kerusakan sayuran. Permasalahan pedagang pengecer adalah penanganan sebelum laku terjual.Kata kunci: analisis pemasaran, margin pemasaran, Landasan Ulin Utara, kangkung, bayam
Analisis Nilai Tambah dan Keuntungan Industri Kerajinan Purun sebagai Produk Lahan Basah di Kelurahan Palam Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru (Studi Kasus pada Kelompok Pengrajin Purun Galuh Cempaka) Hamzan Wadi; Yusuf Azis; Umi Salawati
Frontier Agribisnis Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i1.5988

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai tambah dari berbagai jenis produk kerajinan purun, menganalisis biaya tetap dan biaya variabel kerajinan purun, serta untuk menganalisis kelayakan usaha kerajinan purun di Kelurahan Palam Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. Penelitian ini merupakan studi kasus dan untuk menganalisis nilai tambah digunakan metode Hayami. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober 2020 hingga Januari 2021 menggunakan data primer dan sekunder. Berdasarkan hasil analisis, nilai tambah untuk bakul yaitu Rp 72.500/kg , nilai tambah tas yaitu Rp 387.592/kg dan nilai tambah topi yaitu Rp 52.500/kg. Nilai tambah terbesar yakni pada pengolahan purun menjadi tas dengan rasio nilai tambah 96,90%. Ini disebabkan karena tas memiliki nilai tambah paling besar yaitu Rp 387.592/kg bahan baku. Sedangkan nilai tambah terkecil yaitu pada pengolahan purun menjadi topi dengan rasio nilai tambah 87,50% dengan nilai tambah Rp 52.500/kg bahan baku. Keuntungan dari setiap jenis output yaitu meliputi; keuntungan dari kerajinan bakul Rp 66.500 dengan tingkat keuntungan 83,13%, kerajinan tas Rp 381.592, dengan tingkat keuntungan 95,40% dan kerajinan topi Rp 46.500 dengan tingkat keuntungan 77,74 %, maka keuntungan terbesar adalah pada kerajinan tas. Usaha pengolahan kerajinan tangan dari tanaman purun menjadi bakul, tas, dan topi memiliki RCR sebesar 5,56, artinya setiap Rp 1 biaya yang digunakan akan memberikan Rp 5,56 penerimaan, sehingga usaha ini layak dijalankan karena RCR > 1.
Kepuasan Petani terhadap Kinerja Penyuluh Pertanian di Kelurahan Guntung Manggis Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru Yurika Afrilia Anzar; Mariani Mariani; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i2.781

Abstract

Selama ini pedoman dan panduan yang telah ditetapkan pemerintah tidaklah selalu selaras dengan kinerja yang dilakukan oleh penyuluh. Penyuluh kadang tidak selalu mengetahui aturan yang harus dipedomani sebagai panduan kerja di lapangan. Sehingga dalam menyusun prioritas kerja dan melaksanakan kegiatan penyuluhan yang penting bagi petani, penyuluh sering bias. Begitu juga halnya yang terjadi di Kelurahan Guntung Manggis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi atribut kualitas pelayanan berdasarkan tingkat kepentingan dan tingkat kinerja penyuluh berdasarkan penilaian petani, menganalisis tingkat kepuasan petani berdasarkan atribut kualitas pelayanan penyuluh pertanian dan merumuskan rekomendasi yang dapat digunakan untuk mempertahankan dan meningkatkan atribut kualitas pelayanan penyuluh pertanian dalam memberikan kepuasan petani di Kelurahan Guntung Manggis Kecamatan Landasan Ulin. Populasi penelitian ini adalah 9 kelompok tani yang berjumlah 179 petani, dari jumlah tersebut diambil 20%. Sehingga diperoleh sampel sebanyak 38 orang, dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, jika dilihat dari median skor yang diperoleh, atribut kualitas pelayanan berdasarkan tingkat kepentingan menurut penilaian petani diperoleh sebesar 4,16 dengan kategori penting. Sementara atribut kualitas pelayanan berdasarkan tingkat kinerja penyuluh pertanian menurut penilaian petani diperoleh skor sebesar 3,33 dengan kategori cukup puas. Tingkat kepuasan petani berdasarkan atribut kualitas pelayanan penyuluh pertanian secara keseluruhan adalah sebesar 67,67%, dengan rentang nilai 61%-80% dengan kategori puas. Berdasarkan hal tersebut mengidentifikasikan bahwa atribut kualitas pelayanan yang ada sudah sesuai dengan kepentingan petani, sehingga petani merasa puas terhadap kinerja yang telah dilakukan oleh penyuluh. Rekomendasi yang dapat digunakan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan penyuluh pertanian dalam memberikan kepuasan petani dengan memprioritaskan atribut melakukan kunjungan dan pelatihan secara rutin (V4), pengadaan sarana dan prasarana yang memang dibutuhkan petani (V5), menyampaikan berita terbaru tentang pasar (V9), menghadapi masalah yang timbul dengan cepat (V12), ikut serta dalam pengambilan keputusan untuk menjalin kerjasama (V14) dan kemampuan dalam mengetahui permasalahan di lapangan (V17).Kata kunci: atribut, kinerja, kepuasan
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PETANI KARET RAKYAT DI KECAMATAN KARANG INTAN, KABUPATEN BANJAR Widhi Wikarno; Abdussamad Abdussamad; Nuri Dewi Yanti
Frontier Agribisnis Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i2.2775

Abstract

Pulau Kalimantan merupakan penghasil karet terbesar ke dua di Indonesia tetapi dari segi produktivitas lebih rendah dari pada Pulau Sumatera, Jawa dan Bali. Selain produksi yang belum optimal dan kualitas bahan olahan karet (Bokar) yang belum standar mengakibatkan rendahnya harga yang diterima petani. Tingkat kesejahteraan petani sering dikaitkan dengan keadaan usahatani yang dicerminkan oleh tingkat pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor – faktor (lama penyimpanan, umur tanaman, frekuensi penyadapan, jumlah tanaman, dan jenis cairan pembeku) yang mempengaruhi pendapatan petani karet rakyat dan kendala yang dihadapi petani dalam mendapatkan deorub di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Responden sebanyak 30 orang di Desa Mandikapau Barat dan 30 orang di Desa Sungai Alang. Hasil uji F menunjukkan bahwa variabel bebas yang digunakan yaitu lama penyimpanan, umur tanaman, jumlah tanaman, frekuensi penyadapan dan dummy secara bersama – sama atau simultan sangat nyata atau signifikan mempengaruhi pendapatan petani karet. Namun, berdasarkan uji t menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani karet yaitu variabel umur tanaman, jumlah tanaman, frekuensi penyadapan dan variabel dummy, sedangkan untuk variabel lama penyimpanan tidak berpengaruh secara signifikan. Hasil yang kedua menunjukan dalam mendapatkan deorub di Kecamatan Karang Intan masih terdapat kendala karena jarang ada yang menjual di toko pertanian  atau kios pengecer di daerah tersebut dan harga deorub di pabrikan juga tidak murah. Tetapi untuk di Desa Mandikapau Barat sudah tidak sulit karena sekarang memiliki alat produksi sejenis deorub sendiri sehingga mandiri dalam menyediakan cairan pembeku, sehingga membantu petani dalam memenuhi kebutuhan cairan pembeku.Kata kunci: pendapatan, karet rakyat, cairan pembeku