cover
Contact Name
Ahmad Yousuf Kurniawan
Contact Email
frontbiz@ulm.ac.id
Phone
+6281211109125
Journal Mail Official
frontbiz@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Jl. Jend. Ahmad Yani Km. 36, Banjarbaru, Kalimantan Selatan 70714, Indonesia
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Frontier Agribisnis
ISSN : -     EISSN : 30481260     DOI : https://doi.org/10.20527/frontbiz
Frontier Agribisnis adalah jurnal yang dikelola Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat. Tema jurnal ini mencakup agribisnis secara umum, meliputi: analisis penyediaan input pertanian, analisis usaha tani dan perkebunan, analisis pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, penyuluhan dan komunikasi pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan analisis kebijakan pertanian. Terbit 4 kali dalam satu tahun (Maret, Juni, September dan Desember).
Articles 697 Documents
Analisis Nilai Tambah Tahu Bakso Crispy 25 di Loktabat Selatan Kota Banjarbaru (Studi Kasus: Industri Rumah Tangga Bapak Nurul Huda) Rajif Abirawa Prabowo; Nuri Dewi Yanti; Eka Radiah
Frontier Agribisnis Vol 3, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i4.1965

Abstract

Agroindustri dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, salah satunya industri pertanian yang kegiatannya terkait dengan sektor pertanian. Keterkaitan tersebut menjadi salah satu ciri dari Negara berkembang yang strukturnya mengalami transformasi dari ekonomi pertanian (agriculture) menuju industri pertanian (agroindustri). Wujud keterkaitan ini adalah sektor pertanian sebagai industri yang meningkatkan nilai tambah pada hasil pertanian menjadi produk yang kompetitif. Adanya nilai tambah terhadap penjualan Tahu Bakso Crispy 25, didasari oleh perbedaan harga jual antara tahu pong dan tahu bakso crispy. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskriptifkan pengolahan Tahu Bakso Crispy 25, mengetahui besarnya biaya dan penerimaan pada usaha pengolahan Tahu Bakso Crispy 25, mengetahui besarnya keuntungan dan nilai tambah dari usaha pengolahan Tahu Bakso Crispy 25 tersebut. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif digunakan untuk menceritakan cara pengolahan Tahu Bakso Crispy 25, besarnya biaya total, penerimaan, besarnya keuntungan dan nilai tambah. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa produksi Tahu Bakso Crispy 25 selama periode produksi mencapai 1.588/bungkus. Kemudian untuk penerimaan usaha pengolahan Tahu Bakso Crispy 25 selama 2 minggu periode produksi sebesar Rp15.880.000 dengan total biaya sebesar Rp12.509.964. Kemudian keuntungan sebesar Rp3.370.036. Selanjutnya untuk nilai tambah yang diperoleh dalam usaha pengolahan Tahu Bakso Crispy 25 sebesar Rp9.554.000.Kata kunci: total biaya, penerimaan, keuntungan, nilai tambah, Tahu Bakso Crispy 25
Analisis Pemasaran Sapi Potong di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut Ibnu Husin; Muzdalifah Muzdalifah; Yusuf Aziz
Frontier Agribisnis Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i3.5922

Abstract

Kecamatan Takisung menjadi salah satu sentra sapi potong di Kabupaten Tanah Laut. Pemilihan saluran pemasaran yang pendek merupakan salah satu sistem pemasaran yang efisien, sehingga akan menguntungkan peternak dan konsumen. Penelitian ini bermaksud untuk mengidentifikasi bentuk saluran pemasaran sapi potong, mengetahui biaya, keuntungan, dan margin pemasaran, beserta bagian harga (farmer’s share) yang diterima produsen sapi potong. Selanjutnya untuk mendeteksi efisiensi pemasaran persaluran pemasaran sapi potong di Kecamatan Takisung Kabupaten TanahLaut. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut dengan responden peternak dipilih secara acak terproporsi total sampel 30 dari desa yang dipilih secara sengaja yaitu Desa Sumber Makmur, Desa Takisung dan DesaGunung Makmur. Untuk memilih pedagang lokal dan pedagang pemotong digunakan metode snowball sampling yaitu teknik pengambilan data dari peternak kemudian menjadi sumber informasi tentang pedagang pengumpul dan pedagang lainnya yang dominan yang dijadikan contoh. Waktu penelitian pada bulan April 2019 hingga Juni 2019. Hasil penelitian ada 4 bentuk saluran pemasaran ternak sapi potong didaerah Kecamatan Takisung, yaitu peternak – konsumen, peternak – pedagang pemotong, dan peternak – pedaganglokal – konsumen, serta peternak – pedagang lokal – pedagang pemotong – konsumen. Selanjutnya biaya, keuntungan, dan marjin pemasaran serta farmer’s share per ekor untuk persaluran pemasaran yaitu saluran 1 dengan biaya, keuntungan, dan marjin pemasaran Rp0 dan farmer’s share memperoleh hasil 100%. Saluran 2 dengan biaya Rp 570.000, keuntungan Rp 4.950.000 dan marjin Rp5.520.000 serta farmer’s share memperoleh hasil 73,74%. Selanjutnya saluran 3 dengan biaya Rp243.000, keuntungan Rp457.000 dan marjin Rp700.000 serta farmer’s share memperoleh hasil 95,39%. Terakhir saluran 4 dengan biaya Rp1.766.000,  keuntungan Rp5.124.000 dan marjin Rp5.920.000 serta farmer’s share memperoleh hasil 71,84%. 3. Saluran pemasaran 1 relatif paling efesien dibandingkan dengan tiga saluran pemasaran lainnya karena memiliki farmer’s share terbesar.
Analisis Usaha Rumahtangga Pengolahan Kerupuk Amplang di Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan (Studi Kasus Pengolahan Amplang Semut) Errik Setiawan; Nuri Dewi Yanti; Karimal Arum Shafriani
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10315

Abstract

Kerupuk Amplang Semut Bakaraut merupakan salah satu usaha pengolahan kerupuk amplang yang cukup lama dan terus berkembang dan berproduksi sampai saat ini. Usaha tersebut terdapat di Desa Manurung. Dalam hal ini, seringkali produsen kerupuk amplang tidak memperhatikan bagaimana manajemen usaha yang baik agar dapat terus berkembang dan memperbanyak keuntungan industri kerupuk amplang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya, penerimaan, pendapatan dan keuntungan usaha industri rumah tangga amplang serta kelayakan usaha pada industri rumah tangga pengolahan amplang Semut Bakaraut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Industri rumah tangga pengolahan kerupuk amplang semut bakaraut mengeluarkan biaya total sebesar Rp 469.116.465/tahun dan penerimaan yang diperoleh sebesar Rp 548.280.000/tahun sehinggam endapatkan keuntungan sebesar Rp 79.163.535/tahun. Industri rumah tangga pengolahan kerupuk amplang Semut Bakaraut mengalami keuntungan dengan tingkat rasio kelayakan usaha dengan nilai R/C >1 yaitu sebesar 1,17 yang artinya industri rumahtangga tersebut dapat dikatakan layak dan diusahakan.
Profil Industri Rumah Tangga Keripik di Kelurahan Sekumpul Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar (Studi Kasus Keripik Singkong Cita Rasa) Noor Aidayanti; Kamiliah Wilda; Hairi Firmansyah
Frontier Agribisnis Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i3.7815

Abstract

Industri pengolahan hasil pertanian adalah kegiatan merubah bentuk dari hasil pertanian sehingga dapat memenuhi kebutuhan manusia. Pengolahan hasil pertanian dapat berupa makanan yang memenuhi kebutuhan manusia, salah satunya adalah keripik singkong. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil industri rumah tangga yang meliputi karakteristik pelaku usaha, aspek manajemen, aspek produksi, aspek keuangan dan aspek pemasaran serta menganalisis permasalahan yang dihadapi dalam industri rumah tangga keripik singkong Cita Rasa. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif untuk mendapatkan profil industri rumah tangga, aspek manajemen, aspek produksi, saluran pemasaran dan permasalahan yang dihadapi. Sedangkan untuk menghitung biaya, penerimaan dan keuntungan usaha dengan menggunakan rumus matematis. Dari hasil penelitian diperoleh, biaya total yang dikeluarkan Usaha keripik singkong Cita Rasa selama 3 bulan sebesar Rp 157.107.374 Penerimaan sebesar Rp 452.310.000 dan Keuntungan sebesar Rp 295.202.626 Saluran pemasaran pada keripik singkong cita rasa ada dua yaitu, saluran tingkat 0 dan saluran 1 tingkat.
PERBANDINGAN PENDAPATAN BERSIH PETANI KARET LUMP PENGGUNA PEMBEKU DEORUB DAN NON-DEORUB DI DESA KARUH KECAMATAN BATUMANDI KABUPATEN BALANGAN Nabawi Nabawi; Abdussamad Abdussamad; Nuri Dewi Yanti
Frontier Agribisnis Vol 2, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i4.664

Abstract

Pada era sekarang karet yang di hasilkan petani memiliki mutu yang kurang baik karena tidak menggunakan bahan pembeku yang direkomendasikan melainkan pupuk, tawas, gadung dan pembeku lainnya yang mudah di dapat oleh petani. Rendahnya mutu karet yang dihasilkan petani salah satu penyebab turunnya harga yang membuat pendapatan petani karet juga menurun. Salah satu pembeku lateks yang direkomendasikan oleh pemerintah selain asam semut ialah deorub (asap cair) yang terbuat dari cangkang sawit, pembekuan. dengan deorub memiliki keunggulan antara lain tidak menimbulkan bau busuk dan dapat meningkatkan kadar karet kering (K3). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui biaya, pendapatan bersih petani karet lump pengguna deorub dan non deorub, untuk mengetahui perbandingan pendapatan bersih petani lump pengguna deorub dan non deorub, untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh petani karet lump di Desa Karuh. Data yang digunakan adalah primer dan sekunder. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode secara sensus untuk petani pengguna deorub dan simple random sampling untuk petani non deorub (pupuk SP 36) dengan memilih 50 responden di Desa Karuh Kecamatan Batumandi. Analisis yang digunakan yaitu analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian dalam jangka waktu satu bulan rata-rata biaya total petani karet dengan zat penggumpal deorub sebesar Rp 945.093/ha/bulan dengan penerimaan sebesar Rp 1.846.732/ha/bulan dan pendapatan bersih sebesar Rp 901.639/ha/bulan. Sedangkan untuk rata-rata biaya total petani karet non deorub (pupuk SP 36) dalam jangka waktu satu bulan sebesar Rp 1.119.718/ha/bulan dengan penerimaan sebesar Rp 1.896.683/ha/bulan dan pendapatan bersih sebesar Rp 776.965/ha/bulan. Perbandingan pendapatan bersih petani lump pengguna zat penggumpal deorub dan non deorub (pupuk SP 36). Pada tingkat kepercayaan 95% menggunakan uji satu arah (one tail) sehingga nanti yang dilihat yaitu. one tail, Hasil ini menunjukkan bahwa nilai statistik t yang diperoleh adalah 1.277, dan nilai p‐value pengujian adalah 0.104. Dengan menggunakan kaidah pengambilan keputusan berdasarkan p‐value, maka pada α=0.05 maka dapat disimpulkan terima H dan tolak H yang berarti tidak ada perbedaan pendapatan bersih petani karet lump pengguna deorub dan non deorub.Kata kunci: pendapatan bersih, petani karet, deorub, non deorub
ANALISIS FINANSIAL USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI DESA PANDU SENJAYA, KECAMATAN PANGKALAN LADA, KABUPATEN KOTA WARINGIN BARAT, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH (STUDI KASUS USAHA PENGGEMUKAN SAPI BAPAK PANUT) Sriyono Sriyono; Nina Budiwati; Hairi Firmansyah
Frontier Agribisnis Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i1.2625

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penyelenggaraan usaha penggemukan sapi, besarnya biaya, penerimaan, keuntungan dan menganalisis kelayakan usaha dan apa saja permasalahan dan solusi bagi usaha penggemukan sapi tersebut. Penelitian ini menggunakan studi kasus yaitu pada industri penggemukan sapi di Desa Pandu Senjaya, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kota Waringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah. Jenis data yang di gunakan dalam penelitan ini meliputi data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya yang di keluarkan sebesar Rp 334.884.890, penerimaan Rp 383.130.857, keuntungan Rp 48.245.967. Berdasarkan perhitungan kelayakan usaha di peroleh nilai R/C sebesar 1,14. Usaha penggemuka sapi tersebut menunjukan bahwa secara keseluruhan usaha penggemukan sapi mengalami keuntungan dengan tingkat rasio R/C sebesar 1,14. Maka dapat disimpulkan bahwa usaha penggemukan sapi tersebut tergolong layak untuk dijalankan karena R/C lebih dari 1, hal ini menunjukan bahwa setiap Rp 1 biaya produksi yang dikeluarkan oleh pemilik usaha mampu memberikan pengembalian penerimaan sebesar Rp 1,14. Artinya total penerimaan produksi dan kegiatan usaha tersebut masih mengalami keuntungan.Kata kunci: studi kasus, analisis usaha, penggemukan sapi 
Analisis Komparasi Usahatani Tumpangsari Cabai Rawit dan Terung Kenari Dengan Cabai Rawit Monokultur di Kecamatan Kapuas Barat (Studi Kasus Usahatani Bapak Yanir dan Bapak Mursito) Muhammad Decky; Usamah Hanafie; Emy Rahmawati
Frontier Agribisnis Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i2.6043

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyelenggaraan pola tanam tumpangsari cabai rawit-terung kenari, menganalisis keuntungan usahatani pola tanam tumpangsari cabai rawit-terung kenari dibandingkan dengan pola tanam monokultur cabai rawit dan menganalisis masalah dalam usahatani pola tanam tumpangsari cabai rawit-terung kenari. Penelitian ini dilaksanakan pada usahatani Bapak Yanir dan Bapak Mursito di Kecamatan Kapuas Barat. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara secara langsung kepada pemilik usahatani dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan. Data sekunder dikumpulkan melalui Dinas Arsip dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas. Hasil penelitian menunjukan penyelenggaraan budidaya pola tanam tumpangsari cabai rawit-terung kenari dilaksanakan selama sebelas bulan dari pengolahan lahan hingga pemanenan dilaksanakan, jarak tanam yang diterapkan yaitu cabai rawit 60 cm x 60 cm dan terung kenari 70 cm x 30 cm, waktu pemanenan tanaman cabai rawit yaitu 80-90 hari setelah tanam dan terung kenari dipanen lebih awal yaitu 50-60 hari setelah tanam. Keuntungan usahatani tumpangsari cabai rawit-terung kenari sebesar Rp 32.535.481 /musim tanam lebih besar dibandingkan dengan usahatani monokultur cabai rawit sebesar Rp 22.675.851 /musim tanam dengan selisih keuntungan sebesar Rp 9.859.630 /musim tanam. Masalah yang dihadapi usahatani tumpangsari cabai rawit-terung kenari milik Bapak Yanir berupa penyakit antraknosa atau patek. Usahatani pola tanam tumpangsari cabai rawit-terung kenari lebih menguntungkan dibandingkan dengan usahatani pola tanam monokultur cabai rawit.
Analisis Preferensi Konsumen Remaja Terhadap Keputusan Pembelian Makanan Seblak di Kota Banjarbaru (Studi Kasus Pada Mahasiswa S1 Prodi Agribisnis Faperta Ulm Banjarbaru) Nur Maulida Yanti; Djoko Santoso; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10347

Abstract

Pengembangan kuliner makanan seblak dapat dilakukan dengan mencaritahu preferensi atau kesukaan konsumen terhadap makanan seblak. Preferensi konsumen dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kegunaan dan nilai relatif penting pada setiap atribut dalam suatu produk. Konsumen memiliki sikap yang berbeda−beda dalam mempertimbangkan atribut yang dianggap penting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis varian produk dan varian menu makanan seblak yang menjadi preferensi konsumen dan menganalisis atribut yang paling dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembellian makanan seblak di Kota Banjarbaru. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menyebarkan kuesioner pada Mahsaiswa aktif Agribisnis yang berusia 18−23 tahun dan di peroleh 106 orang yang memenuhi syarat sebagai responden. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif statistik. Dalam analisis preferensi konsumen terhadap varian produk dan varian menu makanan seblak di kota Banjarbaru didapatkan bahwa dari 2 varian produk makanan seblak yaitu seblak basah dan seblak kering serta 3 varian menu seblak biasa (kerupuk), seblak ceker (sedang) dan seblak komplit yang menjadi preferensi konsumen remaja adalah varian produk seblak basah dengan varian menu seblak komplit yang di dapat dari persentase sebesar sebesar 31% atau total skor yaitu 450. Atribut yang paling dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian makanan seblak di Kota Banjarbaru didapatkan hasil bahwa secara berurutan atribut yang di pertimbangkan adalah rasa, aroma, tingkat kepedasan, porsi dan harga.
Analisis Pengembangan Usaha Kue Roti Baras sebagai Makanan Khas Kalimantan Selatan (Studi Kasus Pada Kue Roti Baras “Wadai Kita”) Salsabilla Nur Widya; Hairin Fajeri; Hairi Firmansyah
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7876

Abstract

Roti Baras Wadai Kita merupakan salah satu kue tradisional asal Hulu Sungai Tengah yang sudah sangat jarang ditemui dan mulai tidak dikenali masyarakat luas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pengembangan usaha yang tepat dengan mencari faktor Strength, Weakness, Opportunities, dan Threats (SWOT) dari kue Roti Baras Wadai Kita sehingga dapat bersaing dengan produsen kue-kue lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kekuatan dari produk lebih besar dari faktor kelemahan produk serta peluang produk lebih tinggi dibandingkan ancaman pada produk. Hal ini mengartikan bahwa strategi yang tepat untuk perusahaan adalah strategi agresif dikarenakan perusahaan berada pada kuadran I. Terdapat 8 variabel yang signifikan terhadap karakter pelanggannya, yaitu cita rasa, harga produk, keunikan brand, keunikan produk, lokasi pemasaran, pelayanan, bahan baku, kualitas dan rasa produk.
Analisis Pemasaran Ayam Broiler Sistem Pemeliharaan Pola Mandiri di Kabupaten Tanah Bumbu Muhammad Mubasyir; Nina Budiwati; Muhammad Fauzi
Frontier Agribisnis Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i1.6002

Abstract

Pemasaran daging ayam broiler ditentukan oleh lembaga-lembaga pemasaran yang berada dalam saluran pemasaran. Tujuan penelitian menganalisis saluran pemasaran, biaya pemasaran, keuntungan pemasaran, margin pemasaran dan farmer’s share serta permasalahan dihadapi dalam pemasaran ayam broiler. Jumlah sampel penelitian sebanyak 3 orang peternak, 1 orang pedagang pengumpul dan 11 orang pengecer. Analisis dilakukan dengan biaya pemasaran, keuntungan pemasaran, margin pemasaran, farmer’s share dan deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, saluran pemasaran ayam broiler sistem pemeliharaan pola mandiri di Kabupaten Tanah Bumbu memiliki dua pola. Besar biaya pemasaran dan margin total untuk saluran I adalah Rp 370,58 dan Rp 3.714,29. Besar biaya pemasaran dan margin total untuk saluran II adalah Rp 2.284,82 dan Rp 8.896,10. Keuntungan tertinggi diantara lembaga pemasaran pada pedagang pengumpul Rp 3.343,70/kg, sedangkan yang terendah pada pedagang pengecer Rp 3.273,66/kg. Farmer’s share sauran I dan II sebesar 83,12% dan 67,27%. Permasalahan yang sering dihadapi peternak dalam pemasaran ayam broiler sistem pemeliharaan pola mandiri di Kabupaten Tanah Bumbu, yaitu modal usaha penyelenggaraan ternak ayam yang cukup besar.