cover
Contact Name
Jakson Sespa Toisuta
Contact Email
jakson.toisuta28@gmail.com
Phone
+6285103507153
Journal Mail Official
jakson.toisuta28@gmail.com
Editorial Address
Jl. G. Bambapuang I. No.26 C. Lariangbangi, Kec.Makassar, Kota Makassar - Sulawesi Selatan
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 29629349     EISSN : 28298381     DOI : https://doi.org/10.62738/ej.v1i1
EULOGIA (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani) adalah merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2829-8381 (online), ISSN: 2962-9349 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar. dengan lingkup kajian penelitian adalah: Teologi Sistematika Teologi Biblikal Pelayanan Pastoral Konseling Gereja, Misi, dan Masyarakat Pendidikan Kristen Kepemimpinan Kristen Musik Gerejawi
Articles 49 Documents
Implementasi Pendidikan Agama Kristen Berbasis Formasi Rohani bagi Generasi Z Masa Kini Fify Joseph
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v1i1.7

Abstract

The existence of the Implementation of Spiritual Formation-Based Christian Religious Education in every realm of education, makes a person's spirituality move forward and continue to grow and level up. This means that Christian education that takes place is not merely knowledge but there is active action instead to become doers of God’s Words.A spiritual formation that is applied in the life of a believer will help him or her to sharpen his/her spirituality and strength of faith so that he/she is able to overcome the desires in the flesh that are contrary to the will of the Father. Of course, this is not just a response, but spiritual practices instead that are continuously practiced in daily life. If not, it will experience spiritual stagnation or dryness and even spiritual death.This study uses a qualitative research method with a literature study, where the author will elaborate on the characteristics of Generation Z through various supporting literature, and propose the application of Spiritual Formation-Based Christian Religious Education for Generation Z in preparing them to face the challenges of today's faith, so that conclusions can be drawn on the Implementation of Religious Education. Spiritual Formation-Based Christianity is a teaching or learning process that focuses on the continuous application of spiritual discipline through mentoring and discipleship, with the aim of having a character and personality similar to Jesus Christ in his daily life.  AbstrakAdanya Implementasi Pendidikan Agama Kristen Berbasis Formasi Rohani pada setiap ranah pendidikan, menjadikan spirtualitas seseorang bergerak maju dan terus bertumbuh serta naik level. Artinya pendidikan yang berlangsung bukan hanya pengetahuan semata melainkan terdapat tindakan aktif untuk menjadi pelaku-pelaku Firman.Suatu formasi rohani yang diterapkan dalam kehidupan orang percaya, akan membantunya untuk  mempertajam kerohanian serta kekuatan iman, sehingga mampu mengalahkan keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Bapa. Hal ini tentu bukan hanya sekadar respon melainkan praktik-praktik rohani yang terus dilatih dan dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak, maka akan mengalami stagnasi atau kekeringan rohani bahkan sampai kematian rohani. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi pustaka, di mana penulis akan mengelaborasi karak-teristik generasi Z melalui beragam pustaka yang mendukung, serta mengusulkan penerapan Pendidikan Agama Kristen Berbasis Formasi Rohani  bagi generasi Z dalam mempersiapkannya menghadapi tantangan iman masa kini, sehingga diperoleh kesimpulan Implementasi Pendidikan Agama Kristen Berbasis Formasi Rohani adalah proses pengajaran atau pembelajaran yang berfokus pada penerapan disiplin rohani secara terus-menerus melalui pembimbingan dan pemu-ridan, dengan tujuan untuk memiliki karakter dan pribadi serupa dengan Yesus Kristus dalam kehidupannya sehari-hari.
Makna Frasa Kerjakan Keselamatanmu Dalam Filipi 2:12 Serta Implikasinya Bagi Orang Kristen Suwandy Loardi; Ibrahim Ibrahim
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 2 (2023): November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v3i2.52

Abstract

ABSTRACTThe purpose of this research is to find out the true meaning of the phrase work out your own salvation in Philippians 2:12. The method used in this paper uses descriptive qualitative research methods and biblical studies. The results of this research can be concluded that the command "work out your own salvation" is a command that Paul conveyed to the congregation at that time who were believers to be able to obediently work out for themselves the salvation they already had with fear and trembling, because God Himself had done it. everything in the believer. The word do in the middle form shows that believers are asked to do this for themselves, in this context that is working for salvation. Then the passive form refers to the statement in verse 13 which says that it is actually God who works for believers both the will and the ability to act.Keywords: Work Out Own Your Salvation; ChristiansABSTRAKTujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui makna sesungguhnya dari frasa kerjakan keselamatanmu dalam Filipi 2:12. Metode Yang digunakan tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dan kajian biblika. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perintah “kerjakan keselamatanmu” merupakan perintah yang Paulus sampaikan kepada jemaat pada saat itu yang adalah orang percaya untuk dapat dengan taat mengerjakan bagi dirinya sendiri keselamatan yang telah dimiliki itu dengan takut dan gentar, karena Allah sendiri yang telah mengerjakan segala sesuatunya di dalam orang percaya. Kata Kerjakan dalam bentuk middle menunjukkan bahwa orang percaya diminta untuk mengerjakan hal ini bagi dirinya sendiri, dalam konteks ini yaitu mengerjakan keselamatan. Lalu bentuk passive menunjuk pada pernyataan di ayat 13 yang mengatakan bahwa sebenarnya Allahlah  yang mengerjakan bagi orang percaya baik kemauan maupun kemampuan bertindak.Kata Kunci: Kerjakan Keselamatanmu; Orang Kristen
Studi Teologis Providensia Allah Pada Gereja Masa Kini Lilis Kurniawati; Dina Kristiani
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v2i2.39

Abstract

In this scientific paper, the author describes the current theological study of God's providence. Often people have an inaccurate understanding of God's providence. With the development of the times, problems have also developed that are increasingly complicated and complex, and in them, the issues that exist with God's church (His people) are inseparable. The almighty and loving God works by using various means He has ordained to maintain and regulate what He has created, specifically for His redeemed people (His church). God reveals His providence to people by showing His unceasing works. God reveals Himself by showing His inclusion accompanying His church, so it remains. The church is a means for co-workers with God in managing other people's lives so that fellow believers serve and love one another so that God's providence is also manifested through the personal lives of His people. AbstrakPada penulisan karya ilmiah ini, penulis menguraikan tentang studi Teologis providensia Allah pada masa kini. Seringkali orang memiliki pemahaman yang kurang tepat mengenai providensia Allah. Dengan berkembangnya jaman, berkembang pula masalah yang semakin rumit dan komplesk dan didalmnya tidak terlepas permasalahan yang ada terhadap gereja Allah (umat-Nya). Allah yang maha kuasa dan kasih itu bekerja dengan memakai berbagai sarana yang Dia tetapkan untuk memelihara serta mengatur apa yang telah Dia ciptakan, secara khusus bagi umat ketebusan-Nya (gereja-Nya). Allah menyatakan providensia-Nya kepada umat dengan menunjukan karya pekerjaa-Nya yang tidak pernah berhenti. Allah menyatakan diri-Nya dengan menunjukan penyertaan-Nya yang mengiringi gereja-Nya sehingga tetap ada pada eksistensinya sampai saat ini. Gereja menjadi sarana teman sekerja Allah dalam mengatur kehidupan umat yang lain sehingga sesama umat saling melayani dan mengasihi agar providensia Allah juga ternyatakan lewat kehidupan kepribadian umat-Nya.
Pemahaman Etika Kristen terhadap Keterlibatan Jemaat Gereja Bethel Indonesia di Toraja dalam Tradisi Rambu Solo’ Danny David H. Wurarah
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v1i2.12

Abstract

A Christian who already has Christ in his life is a person who fulfills all the demands of Christ in his life, and should be able to transform and bring the values of Christian faith and ethics into Toraja customs, especially Rambu Solo'. A critical attitude needs to be possessed by Christians in Toraja, respecting cultural customs does not mean compromising the worship of idols and the spirits of the dead.The Christian life is a life that no longer does what the world wants it to do. Because the desires of the world are different from what Christ wants (1 John 2:15-16). This understanding of Christ against culture shows that Christ has complete authority over Christians and emphatically rejects cultural demands that contradict biblical truth for loyalty to God. AbstrakOrang Kristen yang sudah memiliki Kristus dalam hidupnya adalah orang yang memenuhi segala tuntutan Kristus dalam hidupnya, seharusnya dapat mentranformasi dan membawa nilai – nilai iman dan etika Kristen di dalam adat istiadat Toraja khususnya Rambu Solo’. Sikap kritis perlu dimiliki oleh umat Kristen di Toraja, menghormati adat budaya bukan berarti kompromi terhadap penyembahan berhala dan arwah orang mati.Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang tidak  melakukan lagi apa yang diinginkan oleh keinginan dunia. Karena  keinginan dunia berbeda dengan apa yang diinginkan oleh Kristus (1 Yoh.2:15-16). Pemahaman atas Kristus melawan kebudayaan memperlihatkan bahwa Kristus memiliki otoritas penuh atas orang Kristen dan dengan tegas menolak tuntutan kebudayaan yang bertentangan dengan kebenaran Alkitab untuk kesetiaan kepada Allah.
Perspektif Etika Kristen Terhadap Perceraian Dan Gagasan Untuk Mencegah Perceraian Lawolo, Aprianus; Hatlan, Ruby
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v4i1.71

Abstract

Abstract: Marriage is a divine mandate from God, He is the one who planned for it to happen. Allah gave humans the privilege of forming a family. However, marriage often becomes a way for people to simply channel their lust. As a result, divorce is inevitable. In fact, divorce often occurs due to cases of violence, and even infidelity. And ironically divorce also occurs in Christian families. Highlighting this, the author will look at it from the perspective of Christian ethics. Christian ethics is a science based on the Word of God, meaning that this ethics will explain the phenomenon of divorce that occurs among Christian families by looking at how the Bible actually provides an understanding of divorce cases. Therefore, the purpose of this study is to see how Christian ethics viewpoints respond to the phenomenon of divorce cases and offer ideas that can be applied by Christian couples before marriage or after marriage. The author uses a descriptive qualitative method with a literature study approach. The results of this study show that Christianity actually sees that divorce is not God's original idea, but arises because of the hard human heart and prioritizes one's own selfishness. marriage can remain well established when each partner has an attitude of prioritizing God's will, an attitude of humility, and also loving one another.Keywords: Divine Mandate; Divorce; God's Will; Humility; Love, Marriage;.  Abstrak: Abstrak Pernikahan adalah mandat ilahi dari Allah, Ialah yang merencanakan pernikahan itu dapat terwujud. Allah memberikan manusia keistimewaan untuk membentuk sebuah keluarga. Akan tetapi, pernikahan acapkali menjadi cara seseorang untuk sekadar menyalurkan nafsu mereka. Alhasil dampak dari tindakan tersebut adalah perceraian tidak terhindarkan. Bahkan perceraian kerap terjadi karena kasus kekerasan, dan bahkan perselingkuhan. Dan ironisnya perceraian juga terjadi di dalam kelurga Kristen. Menyoroti hal tersebut penulis akan melihatnya dari sudut pandang etika Kristen. Etika Kristen merupakan ilmu yang berasaskan pada Firman Tuhan artinya etika ini akan menjelaskan tentang fenomena perceraian yang terjadi di kalangan keluarga Kristen dengan melihat bagimana sebenarnya Alkitab memberikan pemahaman mengenai kasus perceraian. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah melihat bagimana sudut pandang etika Kristen di dalam menanggapi fenomena kasus percerain dan menawarkan gagasan yang bisa diterapkan oleh pasangan Kristen sebelum melangsungkan pernikahan atau setelah menikah. Penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebenarnya Kekristenan melihat bahwa perceraian bukanlah ide awal dari Tuhan, melainkan muncul karena hati manusia yang keras dan mengutamakan keegoisan sendiri. pernikahan dapat tetap terjalin dengan baik ketika setiap pasangan memiliki sikap mendahulukan kehendak Allah, sikap rendah hati, dan juga saling mengasihi satu sama lain.Kata kunci: Mandat Ilahi; Mengasihi; Kehendak Allah; Kerendahan hati; Pernikahan, Perceraian.
Dampak Politik Identitas Dalam Beragama Bagi Pertumbuhan Gereja di Indonesia Yogi Mohama; Basuki Tri Nugroho
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v3i1.44

Abstract

Abstract : Indonesia is a large country and has an interesting diversity of languages, ethnicities, races and religions. From this diversity identity politics is often found in the Indonesian people. Oftentimes, identity politics is also used as a stumbling block by some groups in society, so that political values turn into conflict and discrimination. This has an impact on the growth of the Church. The church is not given the freedom to grow in some areas in Indonesia, especially in some areas where the Christian population is only a minority. There are many religious activities which cannot be carried out and also the prohibition on the construction of houses of worship so that the growth of the Church is hampered by an element of identity politics which is ridden by certain groups of people. Based on that, this research was then carried out using a descriptive qualitative method with a literature study approach, studying and explaining empirically the impact of identity politics on church growth. Sources of data obtained through observation, secondary data sourced from references and scientific journals. The data obtained is described, then displayed, then conclusions are made. The result obtained was that the growth of the Church was suppressed both in terms of the construction of Church buildings and in terms of religious events which could not be carried out in some areas with a small Christian population or a minority population.Keywords : Identity Politics : Church Growth : Minority Population Abstrak : Indonesia merupakan suatu negara yang besar dan memiliki keanekaragaman yang menarik mulai dari bahasa, suku, ras dan agama. Dari keanekaragaman ini sering ditemukan politik identitas di bangsa Indonoseia. Sering kali juga politik identitas dijadikan batu sandungan oleh sebagian kelompok masyarakat, sehingga nilai politik berubah menjadi konflik dan diskriminasi. Hal ini yang menjadi dampak bagi pertumbuhan Gereja. Gereja tidak di berikan kebebasan untuk bertumbuh di sebagian daerah di Indonesia secara Khusus di beberapa daerah yang jumlah penduduk beragama Kristennya hanya menjadi penduduk minoritas. Banyak kegiatan – kegiatan keagamaan yang tidak boleh di laksanakan dan juga larangan pembangunan rumah ibadah sehingga membuat pertumbuhan Gereja terhambat oleh suatu unsur politik identitas yang di tunggangi oleh kelompok masyarakat tertentu. Berdasarkan hal itu, kemudian dilaksanakan penelitian ini dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, mengkaji serta memaparkan secara empiris mengenai dampak politik identitas bagi pertumbuhan gereja. Sumber data diperoleh melalui observasi, data sekunder bersumber dari referensi dan jurnal ilmiah. Data yang diperoleh dideskripsikan, kemudian di-display, lalu membuat kesimpulan. Hasil yang diperoleh yaitu terhimpitnya pertumbuhan Gereja baik dalam segi pembangunan gedung Gereja maupun dalam hal acara keagamaan yang tidak bisa dijalankan sebagian daerah yang penduduk Kristennya sedikit atau menjadi penduduk minoritas.Kata kunci :  Politik Identitas : Pertumbuhan Gereja : Penduduk Minoritas
Analisis Pemahaman Jemaat tentang Dampak Pandemi Covid-19 Bagi Pertumbuhan Iman Orang Percaya Teddy Angdri
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v2i1.22

Abstract

This study was conducted with the aim of analyzing and knowing the understanding of the congregation at the Indonesian Bethel Church Filadelfia Makassar about the impact of the Covid-19 pandemic on the growth of the congregation’s faith, whether the Covid-19 pandemic has shaken the faith of the congregation or not. The research method used is the descriptive qualitative method, collecting research data by observing, documenting, and conducting interviews with 8 sources determined by the purposive sampling technique. research data processing with data reduction techniques, display data then discussed and made conclusions. The results of the research obtained are that due to the Covid-19 pandemic, the faith of the congregation has not been shaken or decreased, it is known from the answers of the informants that with the Covid-19 pandemic, faith has actually been strengthened more earnestly seeking God, actively building a family altar, truly worshiping even though it is only online from home, and still believing in God’s protection, everything that happens is already in God’s will. AbstrakPenelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis dan mengetahui pemahaman jemaat di Gereja Bethel Indonesia Filadelfia Makassar tentang dampak pandemi Covid-19 bagi pertumbuhan iman jemaat, apakah dengan adanya pandemi Covid-19 ini membuat iman jemaat menjadi terguncang atau tidak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, pengumpulan data penelitian dengan melakukan observasi, dokumentasi dan melakukan wawancara kepada 8 narasumber yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Pengolahan data penelitian dengan teknik reduksi data, display data kemudian dibahas dan dibuat kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah akibat pandemi Covid-19 ini tidak membuat iman jemaat menjadi terguncang atau menurun, hal itu diketahui dari jawaban para narasumber bahwa dengan adanya pandemi Covid-19 ini justru membuat iman percaya makin dikuatkan dengan makin sungguh-sungguh mencari Tuhan, makin giat membangun mezbah keluarga, sungguh-sungguh beribadah meskipun hanya secara online dari rumah saja, dan tetap percaya akan perlindungan Tuhan, segala sesuatu yang terjadi sudah ada dalam kehendak Tuhan. 
Mengaplikasikan Model Pengajaran Kristus dalam Kompetensi Pedagogik Guru untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah Yuli Pheanto
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v1i1.8

Abstract

One of the determinants of the success of students in the learning process is largely determined by the quality or competence of the teaching teacher. As Christian teachers, we must follow the teaching model taught by the Great Teacher, namely the Lord Jesus Christ, who applies teacher competencies so that teachers can improve the quality of education in schools where teachers teach. A Christian teacher must be able to imitate Jesus's teaching model, which applies teaching competencies, including pedagogic competence which is the ability of a teacher to manage students, where will be able to improve the quality of education in the school where the teacher teaches. The method used is a qualitative method through a phenomenological strategy. From the results of the study, it was concluded that a teacher must be able to apply pedagogic competence in his duties as a teacher, as possessed by Christ so that he can carry out his duties properly and can also improve the quality of education in the school where he teaches. The model of Christ's teaching that must be applied is the application of Christian values, planting and developing the values of Christ's character to students, which is based on the Bible.  AbstrakSalah satu faktor penentu keberhasilan peserta didik dalam proses belajar, sangat ditentukan oleh kualitas atau kompetensi yang dimiliki oleh guru yang mengajar. Sebagai seorang guru Kristen, harus mengikuti model pengajaran yang diajarkan oleh Sang Guru Agung yaitu Tuhan Yesus Kristus, yang menerapkan kompetensi-kompetensi guru agar guru dapat mening-katkan mutu pendidikan di sekolah tempat guru mengajar.  Seorang guru Kristen harus dapat meneladani model pengajaran Yesus, yang menerapkan kompetensi-kompetensi mengajar, diantaranya kompetensi pedagogik yang merupakan  kemampuan seorang guru dalam pengelo-laan peserta didik, di mana hal ini akan dapat meningkatkan mutu pendidikan dari sekolah tempat guru mengajar.  Metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui strategi fenomenologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menghasilkan gambaran dan memahami secara mendalam tentang penerapan model pengajaran Kristus dalam kompetensi pedagogik guru untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Dari hasil penelitian, diperoleh kesim-pulan yaitu seorang guru harus mampu menerapkan kompetensi pedagogik dalam tugas tanggung jawabnya sebagai guru, seperti yang dimiliki oleh Kristus agar ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan dapat pula meningkatkan pula mutu pendidikan di sekolah tempat ia mengajar. Model pengajaran Kristus yang harus diterapkan adalah penerapan nilai-nilai Kekristenan, penanaman dan pengembangan nilai karakter Kristus kepada peserta didik, yang didasari dengan Firman Tuhan/Alkitab..  
Pengembangan Keterampilan Dasar Mengajar Calon Guru Melalui Mata Kuliah Microteaching di STT Blessing Indonesia Makassar Danny David H. Wurarah; Tri Retno Delpiero Mohama
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 2 (2023): November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v3i2.56

Abstract

Education in Indonesia has problems with the quality of education, this is a challenge for teaching staff to advance the quality of education in Indonesia, so that an educator is required to have competence as a professional teacher and become an education pioneer.  To see the progress in the competency of prospective teaching staff, this research was then carried out which aims to analyze the basic teaching skills of prospective teachers through the Microteaching course as prospective teaching staff.  This research uses a descriptive qualitative method approach, the subjects that will be studied in this research are students of the Blessing Indonesia Makassar Theological College, the VI semester Christian Religious Education study program consisting of 10 students, 2 male students and 8 female students.  Then the results were found that the basic teaching skills of students in the sixth semester of the Christian Religious Education Study Program at Blessing Indonesia Makassar Theological College in the Microteaching course had an average score for the achievement aspect with Good criteria.  However, the skills for opening and closing lessons have achieved very good criteria.Keywords: Basic Teaching Skills ;  Microteaching ; Education Pendidikan di Indonesia memiliki permasalahan pada mutu Pendidikan, ini merupakan suatu tantangan bagi tenaga pendidik untuk memecahkan masalah serta memajukan mutu Pendidikan di Indonesia, sehingga seorang pendidik dituntut agar bisa memiliki kompetensi sebagai seorang guru profesional serta menjadi pelopor Pendidikan. Untuk melihat kemajuan kompetensi calon tenaga pendidik, kemudian dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk menganalisis bagaimana keterampilan dasar mengajar calon guru lewat mata kuliah Microteaching sebagai calon tenaga pendidik. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif deskriptif, subjek yang akan diteliti dalam penelitian ini yaitu Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar, program studi Pendidikan Agama Kristen semester VI yang terdiri dari 10 mahasiswa, 2 mahasiswa laki-laki dan 8 mahasiswa perempuan. Kemudian ditemukan hasil bahwa kemampuan dasar keterampilan mengajar mahasiswa semester VI Program Studi Pendidikan Agama Kristen Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar dalam mata kuliah Microteaching memiliki nilai rata-rata aspek capaian dengan kriteria Baik. Namun pada keterampilan membuka dan menutup pelajaran memiliki capaian dengan kriteria Sangat Baik.Kata Kunci : Keterampilan Dasar Mengajar ; Microteaching ; Pendidikan  
Etika Kepemimpinan dalam Gereja sebagai Role Model Keberhasilan Menata Organisasi Sarman Parhusip Nainggolan; Ribkah Femmy Tamibaha
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v2i2.38

Abstract

The leader is the skipper and the organization's driver. The future or fate of the organization depends on its leaders. The organization will be safe if the leader is an accomplished and wise person. Therefore, the leadership style in an organization also affects the climate of communication and coordination within the organization. In turn, it also impacts the participation of its members in advancing the organization. In this article, the author uses a qualitative method with a literature study approach to discover how to organize a thriving organization by having ethical leaders who become role mode in church leadership. The results of this study indicate that leadership ethics must be owned by a leader so that his administration can run effectively and efficiently to achieve common goals that have been determined according to the norms and values that apply. In preparing for future leadership, the church must develop its leadership by educating and preparing leaders for the church's future in the coming days. AbstrakPemimpin merupakan nakhoda, dialah supir organisasi. Masa depan atau nasib organisasi tergantung pada pemimpinnya. Kalau pemimpinnya seorang yang ulung dan berhikmat, selamatlah organisasinya. Oleh karena itu, gaya kepemimpinan dalam suatu organisasi mempengaruhi pula iklim komunikasi dan kordinasi dalam organisasi itu. Pada gilirannya, berdampak juga pada peran serta anggotanya dalam memajukan organisasi. Dalam artikel ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka untuk menemukan bagaimana menata organisasi yang berhasil dengan memiliki pemimpin beretika yang menjadi role mode dalam kepemimpinan gereja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Etika kepemimpinan harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar kepemimpinannya dapat berjalan dengan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditentukan sesuai norma dan nilai yang berlaku. Dalam mempersiapkan kepemimpinan masa depan gereja harus mengembangkan kepemimpinanya dengan mendidik dan mempersiapkan pemimpin untuk masa depan gereja dihari mendatang.