cover
Contact Name
Jakson Sespa Toisuta
Contact Email
jakson.toisuta28@gmail.com
Phone
+6285103507153
Journal Mail Official
jakson.toisuta28@gmail.com
Editorial Address
Jl. G. Bambapuang I. No.26 C. Lariangbangi, Kec.Makassar, Kota Makassar - Sulawesi Selatan
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 29629349     EISSN : 28298381     DOI : https://doi.org/10.62738/ej.v1i1
EULOGIA (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani) adalah merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2829-8381 (online), ISSN: 2962-9349 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar. dengan lingkup kajian penelitian adalah: Teologi Sistematika Teologi Biblikal Pelayanan Pastoral Konseling Gereja, Misi, dan Masyarakat Pendidikan Kristen Kepemimpinan Kristen Musik Gerejawi
Articles 49 Documents
Kajian Teologis Sola Gratia Dari Perspektif Paulus Serta Implementasinya Bagi Jemaat Masa Kini Malan, Aprianus; Ibrahim, Ibrahim; Leatemia, Yurico A.W.
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v5i1.118

Abstract

Abstrak: Doktrin Sola Gratia merupakan salah satu dari lima prinsip utama Reformasi Protestan abad ke-16 yang menegaskan bahwa keselamatan hanya datang dari kasih karunia Allah, bukan dari usaha atau perbuatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teologis doktrin Sola Gratia dari sudut pandang rasul Paulus dan mengeksplorasi penerapan praktisnya dalam kehidupan bergereja saat ini. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan teologis-biblis, mengacu pada analisis teks-teks Alkitab dan literatur teologis terkait. yang didasarkan pada tulisan-tulisan Rasul Paulus dalam Surat-Surat Roma, Efesus, dan Galatia. Paulus, setelah pertobatannya, menegaskan bahwa keselamatan bukanlah hasil usaha manusia atau ketaatan pada hukum Taurat, tetapi hanya pemberian kasih karunia Allah yang diterima melalui iman kepada Yesus Kristus. Dalam Surat Roma, doktrin ini dijelaskan sebagai dasar pembenaran manusia dan pemberdayaan kehidupan baru yang membebaskan dari kuasa dosa. Surat Efesus menekankan kasih karunia sebagai dasar keselamatan, kesatuan orang percaya, dan panggilan untuk hidup dalam kekudusan dan kasih. Surat Galatia dengan tegas menolak pembenaran melalui hukum Taurat dan menegaskan kebebasan dalam Kristus yang diberikan oleh kasih karunia. Doktrin Sola Gratia dalam tulisan-tulisan Paulus menolak legalisme dan menegaskan universalitas kasih karunia Allah yang mempersatukan dan menguatkan orang percaya untuk hidup dalam ketaatan dan ucapan syukur sebagai tanggapan atas keselamatan yang diterima secara cuma-cuma. Kata Kunci: Sola Gratia; Kasih Karunia; Iman; Paulus; Gereja: Saat Ini. Abstrak: Doktrin Sola Gratia adalah salah satu dari lima prinsip utama Reformasi Protestan abad ke-16 yang menegaskan bahwa keselamatan hanya berasal dari anugerah Tuhan, bukan dari usaha atau perbuatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teologis doktrin Sola Gratia dalam perspektif rasul Paulus serta mengeksplorasi implementasi praktisnya dalam kehidupan jemaat masa kini. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan teologis-biblika, mengacu pada analisis teks Alkitab dan literatur teologi terkait. berdasarkan tulisan Rasul Paulus dalam Surat Roma, Efesus, dan Galatia. Paulus, setelah pertobatannya, menegaskan bahwa keselamatan bukan hasil usaha manusia atau ketaatan hukum Taurat, melainkan semata-mata pemberian kasih karunia Tuhan yang diterima melalui iman kepada Yesus Kristus. Dalam Surat Roma, doktrin ini dijelaskan sebagai dasar pembenaran manusia dan pemberdayaan hidup baru yang memerdekakan dari kuasa dosa. Surat Efesus menekankan anugerah sebagai dasar keselamatan, persatuan umat beriman, dan panggilan hidup dalam kekudusan dan kasih. Surat Galatia dengan tegas menolak pembenaran melalui hukum Taurat dan menegaskan kebebasan dalam Kristus yang diberikan oleh anugerah. Doktrin Sola Gratia dalam tulisan Paulus menolak legalisme dan menegaskan universalitas kasih karunia Tuhan yang mempersatukan serta memperkuat umat percaya untuk hidup dalam ketaatan dan ucapan syukur sebagai respons atas keselamatan yang diterima secara cuma-cuma. Kata kunci: Sola Gratia; Anugrah; Iman; Kasih Karunia; Paulus; Jemaat: Masa Kini.
Peran Keluarga Gembala Sidang Sebagai Role Model Dalam Pembentukan Kerohanian Dan Karakter Jemaat Gereja T, Hermogenes; Paruba, Natalia Saul
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v5i1.106

Abstract

Abstract:This study aims to examine in depth the role of the congregational pastoral family as a role model in the formation of the spirituality and character of the church congregation through a qualitative approach of literature study. The pastor's family, as the closest unit of church leaders, is often the spotlight and role model for the congregation in living daily Christian life. This study collects and analyzes various sources of theological literature, spiritual leadership, and ecclesiastical documents that discuss the integrity, example, and influence of the congregational pastor family as spiritual leaders on the church community. The results of the study show that the spiritual life, family harmony, and moral example of the pastoral family greatly affect the growth of faith and the formation of the character of the congregation, because the lifestyle of the pastoral family of the congregation is one of the factors of reflection and example in the growth of faith and the character of the congregation. However, this role also brings great challenges and requires support from the church so that the pastoral family can carry out its functions in a healthy and balanced manner. This study concludes that authentic examples of pastoral families are key to forming spiritually and ethically mature congregational communities.Keywords: pastoral family, role model, spirituality, character, church congregation, literature studyAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam peran keluarga gembala sidang sebagai role model dalam pembentukan kerohanian dan karakter jemaat gereja melalui pendekatan kualitatif studi literatur. Keluarga gembala, sebagai unit terdekat dari pemimpin gereja, sering kali menjadi sorotan dan panutan bagi jemaat dalam menjalani kehidupan Kristen sehari-hari. Studi ini mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber literatur teologi, kepemimpinan rohani, serta dokumen gerejawi yang membahas integritas, keteladanan, dan pengaruh keluarga gembala sidang sebagai pemimpin rohani terhadap komunitas gereja. Hasil kajian menunjukkan bahwa kehidupan rohani, keharmonisan keluarga, dan keteladanan moral dari keluarga gembala sangat mempengaruhi pertumbuhan iman serta pembentukan karakter jemaat, karena gaya hidup keluarga gembala sidang menjadi salah satu faktor cerminan dan keteladanan dalam pertumbuhan iman dan karakter jemaat. Namun, peran tersebut juga membawa tantangan besar dan menuntut dukungan dari gereja agar keluarga gembala dapat menjalankan fungsinya secara sehat dan seimbang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keteladanan yang autentik dari keluarga gembala merupakan kunci dalam membentuk komunitas jemaat yang matang secara spiritual dan etis.Kata Kunci: keluarga gembala, role model, kerohanian, karakter, jemaat gereja, studi literatur
Etika Pendidikan Agama Kristen Sebagai Pilar Dalam Membangun Karakter Siswa Yang Berlandaskan Nilai Kristiani Lende, Stefani Natalia; Arifianto, Yonatan Alex
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v5i1.108

Abstract

Abstract: Character education has become a central issue in the world of modern education, given the rampant moral degradation among the younger generation, especially today's schoolchildren. In this context, Christian Religious Education has a strategic role as a means of fostering values and ethics rooted in the teachings of Christ. Unfortunately, the approach to religious education is often still cognitive and has not touched the dimensions of character building holistically. The phenomenon of weak integration between the teaching of faith and the formation of real behaviour in Christian schools shows the need for renewal in the pedagogical approach. This research aims to analyse how ethics in Christian Religious Education can serve as the main pillar in building students' character that reflects Christian values. This research uses a descriptive qualitative method with a literature study approach and curriculum document analysis. The results of the study show that the integration of the values of love, justice, humility, and responsibility in the learning process can strengthen the formation of Christian character. Ethics instilled through religious teaching becomes a moral foundation that guides students in making the right decisions amidst the challenges of the times. Therefore, Christian Religious Education not only forms the knowledge of faith, but also becomes an effective tool in growing a whole person with integrity.Keywords: Christian Religious Education, Ethics, Student Character, Christian Values, Moral Formation Abstrak: Pendidikan karakter menjadi isu sentral dalam dunia pendidikan modern, mengingat maraknya degradasi moral di kalangan generasi muda terutama naradidik sekolah dewasa ini. Dalam konteks ini, Pendidikan Agama Kristen memiliki peran strategis sebagai sarana pembinaan nilai dan etika yang berakar pada ajaran Kristus. Sayangnya, pendekatan pendidikan agama seringkali masih bersifat kognitif dan belum menyentuh dimensi pembentukan karakter secara holistik. Fenomena lemahnya integrasi antara pengajaran iman dan pembentukan perilaku nyata di sekolah-sekolah Kristen menunjukkan perlunya pembaruan dalam pendekatan pedagogis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana etika dalam Pendidikan Agama Kristen dapat berfungsi sebagai pilar utama dalam membangun karakter siswa yang mencerminkan nilai-nilai Kristiani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dan analisis dokumen kurikulum. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi antara nilai kasih, keadilan, kerendahan hati, dan tanggung jawab dalam proses pembelajaran dapat memperkuat pembentukan karakter Kristiani. Etika yang ditanamkan melalui pengajaran agama menjadi landasan moral yang menuntun siswa dalam pengambilan keputusan yang benar di tengah tantangan zaman. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Kristen tidak hanya membentuk pengetahuan iman, tetapi juga menjadi sarana efektif dalam menumbuhkan pribadi yang utuh dan berintegritas.
Memahami Substitusi Penal Dalam Roma 8:1 Melalui Perspektif Teologi Kovenan Purwougroho, Daniel Pesah
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v5i1.109

Abstract

Abstract: This paper aims to understand penal substitution in Romans 8:1 through the perspective of covenant theology. Penal substitution is a doctrine that states that Jesus Christ takes the place of man to bear the sins that should have been borne by mankind. Romans 8:1 is the culmination of Paul's argument on justification and forgiveness of sins that can explain penal substitution. The role of Jesus Christ is significant from a covenantal perspective. Through the perfect obedience of Jesus Christ, the covenant of works that could not be fulfilled by man could be fulfilled in Jesus Christ. The obedience of Jesus Christ on the cross also brings believers to experience God's grace and can live in peace with God. Through a descriptive qualitative approach, the author tries to understand penal substitution in Romans 8:1 through a covenantal perspective. The author asserts that Romans 8:1 helps to understand penal substitution from a covenantal perspective because it all boils down to the redemptive work of Jesus Christ. This paper offers an integrative presentation to place Romans 8:1 as the climactic affirmation of penal substitution within the framework of covenant theology.Keywords: Romans 8:1, Penal Substitution, Covenant TheologyAbstrak:Tulisan ini bertujuan untuk memahami substitusi penal dalam Roma 8:1 melalui perspektif teologi kovenan. Substitusi penal merupakan doktrin yang menyatakan bahwa Yesus Kristus menggantikan manusia untuk menanggung dosa yang semestinya ditanggung umat manusia. Roma 8:1 merupakan puncak argumen Paulus mengenai pembenaran dan pengampunan dosa yang dapat menjelaskan substitusi penal. Peran Yesus Kristus sangat signifikan di dalam perspektif kovenan. Melalui ketaatan Yesus Kristus yang sempurna, kovenan kerja yang tidak dapat digenapi oleh manusia dapat terpenuhi di dalam Yesus Kristus. Ketaatan Yesus Kristus di atas kayu salib juga membawa orang percaya mengalami anugerah Allah dan dapat hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis mencoba memahami substitusi penal dalam Roma 8:1 melalui perspektif kovenan. Penulis menegaskan bahwa Roma 8:1 membantu memahami substitusi penal dalam perspektif kovenan karena semua bermuara kepada karya penebusan Yesus Kristus. Tulisan ini menawarkan penyajian yang integratif utnuk menempatkan Roma 8:1 sebagai penegasan klimaks substitusi penal dalam kerangka teologi kovenan.Kata Kunci : Roma 8:1, Substitusi Penal, Teologi Kovenan
Strategi Untuk Meningkatkan Kualitas Pemimpin Pujian Di Jemaat Gereja Bethany Palopo, Sulawesi Selatan Toisuta, Jakson Sespa; Alam, Alam
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v5i1.110

Abstract

AbstractThis study aims to identify and formulate effective strategies in improving the quality of worship leaders in the Bethany Palopo Church Congregation, South Sulawesi. The quality of the praise leader has an important role in building an atmosphere of worship that supports the spiritual growth of the congregation. The research approach used is qualitative descriptive with a case study method. Data was collected through in-depth interviews, direct observations, and documentation of worship leaders, congregation pastors, and members of the music and praise teams. The results of the study show that the main challenges faced are the lack of continuous training, the lack of a theological understanding of praise and worship, and limitations in the technical and leadership aspects. The proposed strategy includes regular spiritual and musical-based training, mentoring by senior leaders, development of an internal training curriculum, as well as periodic evaluations of the performance and spiritual growth of the praise leader. The implications of this research are expected to be the basis for the development of a more structured and sustainable coaching program, in order to create praise leaders who are not only technically competent, but also have high spiritual maturity and integrity.Keywords: Bethany Church; improvement strategies; leadership qualities ; worship; worship leader; spiritual training. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan merumuskan strategi yang efektif dalam meningkatkan kualitas pemimpin pujian di Jemaat Gereja Bethany Palopo, Sulawesi Selatan. Kualitas pemimpin pujian memiliki peran penting dalam membangun atmosfer ibadah yang mendukung pertumbuhan rohani jemaat. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi terhadap para pemimpin pujian, gembala jemaat, serta anggota tim musik dan pujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama yang dihadapi adalah kurangnya pelatihan berkelanjutan, minimnya pemahaman teologis tentang pujian dan penyembahan, serta keterbatasan dalam aspek teknis dan kepemimpinan. Strategi yang diusulkan mencakup pelatihan rutin berbasis spiritual dan musikal, mentoring oleh pemimpin senior, pengembangan kurikulum pelatihan internal, serta evaluasi berkala terhadap kinerja dan pertumbuhan rohani pemimpin pujian. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan program pembinaan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, guna menciptakan pemimpin pujian yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kedewasaan rohani dan integritas yang tinggi.Kata kunci: ibadah; Gereja Bethany; kualitas kepemimpinan; pemimpin pujian; pelatihan rohani.strategi peningkatan.
Kasih Karunia Dan Hukum Taurat Berdasarkan Titus 2:11-12 Bagi Transformasi Kerohanian Jemaat Kontemporer Wennar, Wennar; Kusnadi, Hendric
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 2 (2025): November 2025 (On Progres...)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v5i2.116

Abstract

This study analyzes the concept of grace in Titus 2:11–12 by comparing it with the role of the Torah in shaping the spiritual life of contemporary congregations. Using a historical-grammatical exegetical approach and theological literature review, the research explores the meaning of grace within the Cretan cultural context and how it can be actualized in today's church communities. The findings reveal that grace in Christ not only offers forgiveness of sins but also acts as a transformative power that shapes Christ-like character and fosters a holy life. Grace transcends the limitations of the Torah, which merely exposes sin without empowering obedience. This study highlights how grace contributes to forming an inclusive, dynamic, and spiritually growth-oriented church community. As a new contribution, this research expands the understanding of grace beyond the individual level to include its collective role in shaping church communities. Practical implications include developing grace-based ministry programs, enhancing teaching effectiveness, and empowering believers to serve as an active response to God's love.
Studi Eksegesis atas Filipi 4 : 6-7 dalam Konteks Anxiety Disorder Zaman Modern Talu, Siselia Jacobina; Tewu, Peggy S
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 2 (2025): November 2025 (On Progres...)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v5i2.158

Abstract

Kecemasan merupakan salah satu gangguan mental yang paling umum dialami manusia di era modern, ditandai oleh ketidakpastian hidup, tekanan sosial, serta tantangan eksistensial yang kompleks. Studi ini bertujuan untuk menelaah pengharapan Kristen dalam menghadapi kecemasan melalui pendekatan eksegesis terhadap Filipi 4:6–7, sebuah teks yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi yang tengah mengalami tekanan dan kekhawatiran. Metode yang digunakan adalah studi literatur dan analisis eksegetikal terhadap teks Alkitab, dikaitkan dengan pemahaman gangguan kecemasan dari perspektif psikologi modern. Hasil studi menunjukkan bahwa Paulus tidak hanya menawarkan larangan untuk tidak khawatir, tetapi memberikan solusi spiritual yang konkret melalui praktik doa, permohonan, dan ucapan syukur. Janji akan damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal menjadi inti dari pengharapan Kristen yang tetap relevan untuk menjawab kebutuhan spiritual manusia modern. Temuan ini menyiratkan bahwa iman Kristen dapat menjadi sumber kekuatan dan ketenangan dalam menghadapi kecemasan, serta memberikan kontribusi terhadap pendekatan holistik dalam penanganan gangguan kecemasan yang melibatkan dimensi spiritual.
Peluang Dan Tantangan Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Menghadapi Era Digitalisasi Dan Kecerdasan Buatan Toisuta, Jakson Sespa; Pheanto, Yuli; Paruba, Natalia Saul
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 2 (2025): November 2025 (On Progres...)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v5i2.162

Abstract

Era digital dan kemajuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK). Guru PAK dituntut untuk mampu mengintegrasikan teknologi tanpa kehilangan fungsi utama sebagai pembimbing iman dan pembentuk karakter Kristiani. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis peluang serta tantangan yang dihadapi oleh guru PAK dalam konteks digitalisasi pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur (library research), yang menganalisis berbagai sumber ilmiah seperti artikel jurnal, buku referensi, dan publikasi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa era digital membuka peluang besar bagi guru PAK, seperti akses terhadap sumber ajar digital, media pembelajaran interaktif, serta penggunaan AI dalam penguatan proses belajar. Namun demikian, guru PAK juga menghadapi tantangan serius, seperti keterbatasan literasi digital, tantangan pedagogis, hingga risiko degradasi relasi spiritual. Oleh karena itu, diperlukan strategi adaptasi yang mencakup peningkatan kompetensi digital, penguatan spiritualitas, pengembangan kurikulum kontekstual, dan pembangunan komunitas profesional guru. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kapasitas guru secara holistik agar Pendidikan Agama Kristen tetap relevan dan transformatif di tengah arus digitalisasi.Kata Kunci: Pendidikan Agama Kristen, Guru PAK, Era Digital, Kecerdasan Buatan, Literasi Digital, Strategi Adaptasi
Membangun Jembatan Antar Generasi: Strategi Gereja Merangkul Milenial dan Generasi Z Ibrahim, Ibrahim
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 2 (2025): November 2025 (On Progres...)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v5i2.161

Abstract

Abstract: This article discusses the church's theological and pastoral strategies in responding to the generational gap between seniors and Millennials and Generation Z in the digital age. This study uses a reflective qualitative approach with a contextual theological framework through a literature study of contemporary theological and social literature. The results of the study show that the crisis in the involvement of the younger generation is not only due to technological changes, but also the incompatibility of the church's spiritual paradigm with the faith needs of the digital generation. Millennials and Gen Z want a community that is authentic, open, and relevant to the realities of life. Therefore, the church needs to reinterpret its calling incarnation, presenting God's love in digital culture and cross-generational relationships. The proposed strategies include the formation of communities as safe spaces, collaborative leadership, and digital-based faith building. Thus, the multigenerational church becomes a form of trinitarian ecclesiology that integrates differences as the richness of God's love for the modern world.  Keywords: Church; Millennials; Generation Z; Contextual Theology; Digital; Multigenerational. Abstrak: Artikel ini membahas strategi teologis dan pastoral gereja dalam merespons kesenjangan generasi antara kaum senior dengan generasi Milenial dan Generasi Z di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif reflektif dengan kerangka teologi kontekstual melalui studi pustaka terhadap literatur teologi dan sosial kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa krisis keterlibatan generasi muda bukan sekadar akibat perubahan teknologi, tetapi juga ketidaksesuaian paradigma spiritual gereja dengan kebutuhan iman generasi digital. Milenial dan Gen Z menghendaki komunitas yang otentik, terbuka, dan relevan dengan realitas hidup. Karena itu, gereja perlu menafsir ulang panggilannya secara inkarnasional, menghadirkan kasih Allah dalam budaya digital dan relasi lintas generasi. Strategi yang diusulkan mencakup pembentukan komunitas sebagai ruang aman, kepemimpinan kolaboratif, dan pembinaan iman berbasis digital. Dengan demikian, gereja multigenerasi menjadi wujud eklesiologi trinitaris yang mengintegrasikan perbedaan sebagai kekayaan kasih Allah bagi dunia modern. Kata kunci: Gereja; Milenial; Generasi Z; Teologi Kontekstual; Digital; Multigenerasi