cover
Contact Name
Ni Nyoman Tri Sukarsih
Contact Email
litera@undhirabali.ac.id
Phone
+62361426450
Journal Mail Official
litera@undhirabali.ac.id
Editorial Address
Jln. Raya Padang Luwih, Tegaljaya, Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali, 80361
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
Litera : Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 24426865     EISSN : 25487639     DOI : 10.36002
Core Subject : Education,
Jurnal ini menyajikan hasil-hasil penelitian dan hasil pemikiran yang berada pada ranah bahasa dan sastra. Kajian-kajian ilmiah terdiri atas delapan artikel yang menerapkan teori mikro dan makro linguistik untuk membedah fenomena kebahasaan yang ada pada masyarakat. Peran bahasa dan sastra sangat besar terhadap perkembangan dan pembangunan kebahasaan khususnya, yang diharapkan berkontribusi terhadap pembangunan bangsa secara umum.
Articles 180 Documents
PSYCHOLOGICAL ANALYSIS OF NICOLE BARBER IN DEALING WITH CONFLICT IN MARRIAGE STORY MOVIE Swecandari Wake, Yosephina Feolita
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021): LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v7i2.1471

Abstract

ABSTRACTIn a movie, there are intrinsic elements and extrinsic elements. One of the elements thatmakes a film interesting is the conflict and the characters. Conflicts that occur can be inthe form of physical or psychological conflicts. A person's psychology can affect theemergence of a conflict in a character and can also affect how a character can solve theirproblem. The undergraduate thesis entitled "Psychological Analysis of Nicole Barber inDealing with Conflict in Marriage Story Movie" aims to show that there is a relationshipbetween a divorce conflict that happened in Nicole Barber and its psychology. MarriageStory was chosen because at present, divorce is a common thing.Keywords: Psychology, Conflict, Characters, Marriage StoryABSTRAKDalam sebuah film, terdapat unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Salah satu unsur yangmembuat sebuah film menjadi menarik adalah konflik dan karakternya. Konflik yangterjadi dapat berupa konflik fisik maupun psikologi. Psikologi seseorang dapatberpengaruh terhadap munculnya sebuah konflik dalam sebuah karakter dan juga dapatberpengaruh terhadap bagaimana seorang karakter dapat menyelesaikan masalahnya.Skripsi yang berjudul “Psychological Analysis of Nicole Barber in Dealing with Conflictin Marriage Story Movie” bertujuan untuk menunjukkan bahwa terdapat hubunganantara sebuah konflik perceraian yang terjadi pada Nicole Barber dengan psikologinya.Marriage Story dipilih karena pada masa sekarang, perceraian menjadi hal yang seringdijumpai.Kata Kunci: Psikologi, Konflik, Karakter, Marriage Story
MAIN CHARACTER IN KUNG FU PANDA MOVIE BY EITHAN REIFF AND CYROUS VORIS Wibawa, Pande Made Satria
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021): LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v7i2.1472

Abstract

ABSTRACTThis paper is entitled "The Main Character in the Movie Kung Fu Panda byEithanReiff and CyrousVoris". The research data was taken from a film entitled Kung FuPanda. Data collection was carried out through observation methods by watching, reading andtaking notes. Then categorized based on theory. The collected and classified data were analyzedqualitatively and descriptively based on the characterization theory proposed by Kenney(1966), Three Dimensional Aspects proposed by Lajos Egri (1987). The results of the analysis,it is known that Po Ping is the main character in the film. The author uses three-dimensionalaspect of the main character's based on theory proposed by Lajos Egri (1987) which arephysiology, psychology, and sociological aspect. From a psychological point of view the maincharacter shows that he does not give up easily and tries his best to fulfill his destiny as a dragonwarrior, from a physiological point of view the main character is shown by Po as a big fatpanda. From a sociological point of view, the main character is the son of a ramen noodle sellerand become a dragon warrior.Keywords: Character, Characterization, Method of Characterization, Three Dimensions ofCharactersABSTRAKTulisan ini berjudul "Tokoh Utama dalam Film Kung Fu Panda oleh Eithan Reiff danCyrousVoris". Data penelitian diambil dari film yang berjudul Kung Fu Panda. Pengumpulandata dilakukan melalui metode observasi dengan menonton, membaca dan mencatat.Kemudian dikategorikan berdasarkan teori. Data yang terkumpul dan terklasifikasi dianalisissecara kualitatif dan deskriptif berdasarkan teori karakterisasi yang dikemukakan oleh Kenney(1966), Aspek Tiga Dimensi yang dikemukakan oleh Lajos Egri (1987). Hasil analisis diketahuibahwa Po Ping adalah pemeran utama dalam film tersebut. Penulis menggunakan aspek tigadimensi dari tokoh utama berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Lajos Egri (1987) yaituaspek fisiologi, psikologi, dan aspek sosiologis. Dari segi psikologis tokoh utama menunjukkanbahwa ia tidak mudah menyerah dan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi takdirnyasebagai seorang prajurit naga, dari segi fisiologis tokoh utama diperlihatkan oleh Po sebagaiseekor panda gemuk besar. Dari segi sosiologis, tokoh utamanya adalah anak seorang penjualmie ramen dan menjadi seorang pendekar naga.Kata Kunci: Karakter, Karakterisasi, Metode Karakterisasi, Tiga Dimensional AspekKarakter.
ADVERSATIVE CONJUNCTION IN HEALTH ARTICLE ENTITLE COVID-19: NOT ALL HAND SANITIZERS WORK AGAINST IT – HERE’S WHAT YOU SHOULD USE Dewi, Ni Luh Desy Suari; Wardhana, I Gede Neil Prajamukti; Utami, Gek Wulan Novi
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021): LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v7i2.1473

Abstract

ABSTRACTAn article will have a good texture if it has good coherence. An article has a coherence whenthe ideas of the article are related one to another. The coherence of the article can be supportedby the use of a conjunction. Based on the assumption that conjunction takes an important rolein a text, it will be interested to discuss conjunction in an article. The discussion will be focusedon how the author contrasts the information or his opinion. The collected data in this writingwere qualitatively analyzed by using the theory of conjunction proposed by Halliday andHasan. The analysis was started by analyzing the types of adversative conjunction in the healthan article. Then, it continued by describing how these types of adversative conjunction contrastthe idea or information in the article. Based on the analysis, the adversative conjunctions thatcan be found are (1) though, (2) but, (3) only, (4) however, (5) rather and (6) instead. Thecontrasting can be shown by giving further information, by against the statement, by givingcorrection or replacing one thing to the other.Key Word: Conjunction, Adversative Conjunction, ArticleABSTRAKSebuah artikel akan memiliki bentuk yang baik jika memiliki koherensi yang baik. Sebuahartikel dapat dikatakan memiliki koherensi ketika ide-ide dalam artikel tersebut saling terkaitsatu sama lain. Koherensi di dalam sebuah artikel dapat didukung oleh penggunaan katahubung. Berdasarkan asumsi bahwa kata hubung mengambil peran penting dalam sebuah teks,maka dalam analisis ini akan dibahas tentang kata hubung dalam sebuah artikel. Diskusi akandifokuskan pada bagaimana penulis membedakan informasi atau dalam artikel. Data yangdikumpulkan dalam tulisan ini dianalisis secara kualitatif dengan menggunakanteori conjunction yang diajukan oleh Halliday dan Hasan. Analisis ini dimulai denganmenganalisis jenis adversative conjunction dalam sebuah artikel. Kemudian, dilanjutkandengan menjelaskan bagaimana jenis-jenis adversative conjunction ini digunakan untukmembedakan ide atau informasi dalam artikel. Berdasarkan analisis, adversative conjunctionyang dapat ditemukan adalah (1) though, (2) but, (3) only, (4) however, (5) rather and (6)instead. Untuk menunjukkan perbedaan ide atau informasi dalam artikel dapat ditunjukkandengan memberikan informasi lebih lanjut, dengan menentang pernyataan tersebut, denganmemberikan koreksi atau mengganti satu hal dengan yang lain.Kata kunci: Konjungsi, Adversative conjunction, Artikel
ADJEKTIVA YANG MENYATAKAN MAKNA ‘MENTAL’ DALAM BAHASA BALI Aridawati, Ida Ayu Putu
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021): LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v7i2.1474

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini menggunakan pendekatan semantik untuk memberikan gambaranperbendaharaan konsep makna adjektiva dalam bahasa Bali. Masalah yang dibahas dalampenelitian ini adalah adjektiva yang menyatakan makna ‘mental’ dalam Bahasa Bali, yangmencakupi dua aspek, yaitu: (1) adjektiva yang menyatakan makna ‘suasana hati’ dan (2)adjektiva yang menyatakan makna ‘suasana pikiran’. Penelitian ini bertujuan memerikanadjektiva yang menyatakan makna ‘mental’ dalam Bahasa Bali. Dalam pengumpulan datadigunakan metode simak, dibantu dengan teknik pengartuan dan catat. Langkah berikutnyaadalah analisis data, menggunakan metode deskriptif sinkronis, dibantu dengan teknik analisiskomponen. Tahap selanjutnya adalah penyajian hasil analisis data, menggunakan metodeformal dan informal, dibantu dengan teknik induktif dan teknik deduktif. Berdasarkan hasilpembahasan, adjektiva yang menyatakan makna ‘mental’ dalam bahasa Bali memiliki 34leksem. Leksem tersebut terbagi dalam dua kelompok, yaitu 27 leksem yang menyatakanmakna ‘suasana hati’ dan 7 leksem yang menyatakan makna ‘suasana pikiran’. Leksem yangmenyatakan makna suasana hati dapat dibagi lagi menjadi dua, yaitu 10 leksem yangmenyatakan makna ‘suasana hati positif’ dan 17 leksem yang menyatakan makna ‘suasanahati negatif. Selanjutnya, tujuh leksem yang menyatakan makna ‘suasana pikiran’juga dapatdibagi menjadi dua, yaitu 2 leksem yang menyatakan makna ‘suasana pikiran positif’ dan 5leksem yang menyatakan makna ‘suasana pikiran negatif’.Kata Kunci: adjektiva, menyatakan makna ‘mental’, bahasa BaliABSTRACTThis study uses a semantic approach to provide an overview of the vocabulary of the conceptof adjective meaning in Balinese. The problems discussed in this study are adjectives thatexpress the meaning of 'mental' in Balinese, which includes two aspects, namely: (1) adjectivesthat express the meaning of 'mood' and (2) adjectives that express the meaning of 'state ofmind'. This study aims to describe adjectives that express the meaning of 'mental' in Balinese.In collecting data, the listening method was used, assisted by the technique of writing on cardsand taking notes. The next step is data analysis, using synchronous descriptive methods,assisted by component analysis techniques. The next stage is the presentation of the results ofdata analysis, using formal and informal methods, assisted by inductive and deductivetechniques. Based on the results of the discussion, adjectives that express the meaning of'mental' in Balinese have 34 lexemes. The lexemes are divided into two groups, namely 27lexemes which express the meaning of 'mood' and 7 lexemes which express the meaning of'state of mind'. The lexemes that state the meaning of mood can be further divided into two,namely 10 lexemes that state the meaning of 'positive mood' and 17 lexemes that state themeaning of 'negative mood'. Furthermore, 7 lexemes that state the meaning of 'state of mind'can also be divided into two, namely 2 lexemes that state the meaning of 'positive state of mind'and 5 lexemes that express the meaning of 'negative state of mind'.Keywords: adjective, express the meaning of 'mental', Balinese language
THE FUNCTION OF DIRECTIVE SPEECH ACTS FOUND IN FIFTY SHADES FREED NOVEL Dewi, Ni Komang Chandra; Juniartha, I Wayan; Karya, I Wayan Sidha
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021): LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v7i2.1475

Abstract

ABSTRACTSpeech acts are not only found in everyday life but also in the novel. The aims of this researchare to describe the types of directive illocutionary acts function in Fifty Shades Freed movieand to find out the type of directive illocutionary acts function which is mostly used by thecharacters in this novel. This is a descriptive qualitative research. The researcher usedobservation methods in collecting the data. There were some steps in collecting the data: readthe novel several times to understand the plot and examined the dialogue to distinguish thetypes of directive illocutionary act function that found in the utterance between the charactersin the movie. The researcher applied Searle (1979) to analyze the data. The result of theresearch shows that there are 27 utterances containing directive illocutionary acts function.Thedata were classified into four; ordering (21), forbidding (1), requesting (6), and suggesting (1).Of the total 27 directive illocutionary acts function, ordering are the most used types ofdirective illocutionary acts function because the character mostly expressed their utterances byordering.Keywords: Speech act, directive illocutionary act, Fifty Shades FreedABSTRAKTindak tutur tidak hanya ditemukan dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga dalam novel.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis fungsi tindak ilokusi direktif dalamfilm Fifty Shades Freed dan untuk mengetahui jenis fungsi tindak ilokusi direktif yang palingbanyak digunakan oleh para tokoh dalam novel ini. Penelitian ini merupakan penelitiankualitatif deskriptif. Peneliti menggunakan metode observasi dalam mengumpulkan data. Adabeberapa langkah dalam pengumpulan data: membaca novel beberapa kali untuk memahamiplot dan memeriksa dialog untuk membedakan jenis fungsi tindak ilokusi direktif yangditemukan dalam ucapan antara karakter dalam film. Peneliti menerapkan Searle (1979)untuk menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 27 ujaran yangmengandung fungsi tindak ilokusi direktif. Data tersebut diklasifikasikan menjadi empat;memerintahkan (21), melarang (1), meminta (6), dan menyarankan (1). Dari total 27 fungsitindak ilokusi direktif, pengurutan merupakan jenis fungsi tindak ilokusi direktif yang palingbanyak digunakan karena karakter sebagian besar mengungkapkan tuturannya dengan caramemerintahkan.Kata kunci: Tindak tutur, tindak ilokusi direktif, Fifty Shades Freed
METAFORA KONSEPTUAL KATA CINTA DALAM BUKU PANMANEERUNG BAHASA THAILAND: ANALISIS SEMANTIK KOGNITIF Arong, Suhaila
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021): LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v7i2.1476

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul “Metafora Konseptual Kata Cinta Dalam Buku Panmaneerung BahasaThailand: Analisis Semantik Kognetif”. Pembahasannya diorientasikan untukmendeskripsikan jenis-jenis metafora dan skema citra yang muncul dalam puisi bukuPanmaneerung Bahasa Thailand . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodedeskriptif kualitatif, Metode penyediaan data yang digunakan dalam penelitian ini adalahmetode simak dan teknik catat. Metode simak dilakukan dengan menyimak, yaitu menyimakpenggunaan bahasa. Teknik yang digunakan untuk melaksanakan metode ini adalah teknikcatat, yakni dengan mencatat data-data objek penelitian, sementara sumber data diambil daripuisi dalam buku Panmaneerung dalam Bahasa Thailand yang mengandung ungkapanmetafora. Teori yang diguna dalam penelitian ini iaitu teori Lakoff dan Johnson (2003) untukjenis-jenis metafora, Cruse dan Croft (2004) untuk jenis-jenis skema citra. Berdasarkan analisisyang dilakukan, menunjukkan bahwa metafora yang digunakan adalah metafora struktural,metafora orientasional, dan metafora ontologikal, yaitu metafora struktural 4 data, metaforaorientasional 4 data, dan metafora ontologikal 4 data. Ada pun skema citra yang dihasilkansebanyak 5 skema citra, yaitu SPACE (up-down), CONTAINER (full-empty), FORCE(conterforce-attraction-blockage), SCALE (path), dan EXCISTENCE (cycle).Kata kunci: metafora, skema citra, semantik kognitif, puisiABSTRACTThis research is entitled "Conceptual Metaphor of Love Words in Panmaneerung Books inThai Language: Cognitive Semantic Analysis". The discussion is oriented to describing thetypes of metaphors and the scheme of images that appear in Panmaneerung's Thai book poetry.The method used in this study is descriptive qualitative method, the method of providing dataused in this study is the method of note and note technique. The referral method is done bylistening, namely listening to the use of language. The technique used to carry out this methodis a note-taking technique, namely by recording data on the object of research, while the datasource is taken from the poem in Panmaneerung's book in Thai which contains the expressionmetaphor. The theory used in this study is Lakoff and Johnson's (2003) theory for the types ofmetaphors, Cruse and Croft (2004) for types of image schemes. Based on the analysisconducted, it shows that the metaphor used is structural metaphor, orientational metaphor,and ontological metaphor, namely 4 data structural metaphor, 4 data orientational metaphor,and 4 data ontological metaphor. There are also 5 image schemes that are generated, namelySPACE (up-down), CONTAINER (full-empty), FORCE (conterforce-attraction-blockage),SCALE (path), and EXCISTENCE (cycle).Keywords: metaphor, image scheme, cognitive semantics, poetry
CONVERSATIONAL IMPLICATURE IN A MOVIE ENTITLED JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE Aji Saputro, Moses Febriant
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021): LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v7i2.1477

Abstract

ABSTRACTCommunication is an action of giving and receiving information that occur betweentwo or more people. In a conversation, people tend to say more than what they want to say.Conversational implicature usually occur in daily conversation and movies as well. This studyis focused to determine the types of conversational implicature according to Grice (1975) andto determine the connotative meaning of the utterance by using a theory of Leech (1983). Theprimary data source of this study was taken from the movie itself on Netflix. The written data,the script of the movie, taken from a website. The method of collecting the data is note taking.The data from the movie is observed by watching the movie entitled Jumanji: Welcome to TheJungle multiple times and note taking conducted for collecting and separating the data.Qualitative method is used for analysing the data. Purposive random sampling method is usedto choose the data based on its uniqueness between each data. The result of the study showsthat there several conversational implicature uttered by main characters in the movie. There isconnotative meaning in the uttered conversational implicature by main characters that can befound by understanding certain context, circumstances, each characters’ social life in themovie, and their personality as well.Keywords: implicature, conversational implicature, connotativeABSTRAKKomunikasi adalah sebuah kegiatan memberi dan menerima infomasi yang terjadi diantaradua orang atau lebih. Pada sebuah percakapan, banyak orang ingin menyampaikan informasilebih dari apa yang mereka ucapkan. Implikatur percakapan biasanya terjadi padapercakapan sehari-hari dan di dalam film. Penelitian ini membahas mengenai tipe-tipeimplikatur dalam percakapan menurut teori Grice (1975) dan mengenai makna konotatif dariimplikatur tersebut dengan menggunakan teori dari Leech (1983). Metode untukmengumpulkan data yang digunakan dengan mencatat. Data-data dari film tersebut diamatidengan cara menonton film berjudul Jumanji: Welcome to The Jungle secara berulang-ulangdan data-data tersebut dikumpulkan dan dipisahkan sesuai tipe implikatur percakapan olehGrice (1975). Metode kualitatif digunakan untuk menganalisis data-data tersebut. Metodesampel penelitian digunakan untuk memilih data berdasarkan keunikan data tersebut diantaradata-data yang lain. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ada beberapa implikaturpercakapan yang diucapkan oleh pemeran-pemeran utama. Makna konotatif juga dapatditemukan dalam implikatur percakapan dengan memahami konteks-konteks tertentu,keadaan, latar belakang dan kepribadian karakter utama.Kata Kunci: implikatur, implikatur percakapan, konotatif
RESPECT AND ETIQUETTE ROUTINES THE JAVANESE AND WESTERN CONCEPT OF SUNGKAN: A COMPARATIVE STUDY Sukarsih, Ni Nyoman Tri
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021): LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v7i2.1479

Abstract

ABSTRACTCulture can be described through languages. The culture in western country is slightly differentfrom the one in eastern. The differences and similarities can be seen from their etiquettebehaviour, daily routines, etc. After finding Respect and Etiquette routines the Javanese conceptof Sungkan in Indonesia which represent eastern culture and good manners in Australia thatrepresent western culture. They have some differences and similarities. Australians have atradition of denigrating people who are achieve status for some reason other than sport. Theydo not have a culture similar to Javanese where respect is something separate and ingrained. .Inspecific situation western culture has the similarities to eastern, in this case the Indonesianespecially Javanese has a special. Emotional attitude of this kind is so elaborate. The peoplefrom lower class that is called caste or the younger people are taught to be Sungkan to upperclass and older people and it is untranslatable.Key words: Respect, etiquette, sungkan, good manners.ABSTRAKBudaya dapat digambarkan melalui bahasa. Budaya di negara barat sedikit berbeda dari yangada di timur. Perbedaan dan kesamaan dapat dilihat dari perilaku etiket mereka, rutinitas seharihari,dll. Setelah menemukan Respect and Etiquette rutin konsep Jawa Sungkan di Indonesiayang mewakili budaya timur dan sopan santun di Australia yang mewakili budaya barat.Mereka memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan. Orang Australia memiliki tradisimerendahkan orang-orang yang mencapai status untuk beberapa alasan selain olahraga. Merekatidak memiliki budaya yang mirip dengan bahasa Jawa di mana rasa hormat adalah sesuatuyang terpisah dan mendarah daging. . Dalam situasi tertentu budaya barat memiliki kesamaandengan timur, dalam hal ini orang Indonesia khususnya Jawa memiliki keistimewaan. Sikapemosional semacam ini sangat rumit. Orang-orang dari kelas bawah yang disebut kasta atauorang muda diajarkan untuk menjadi Sungkan untuk kelas atas dan orang tua dan itu tidak dapatditerjemahkan.Kata kunci: Rasa hormat, etiket, sungkan, sopan santun.
TEKA-TEKI SILANG SEBAGAI MEDIA PENGAJARAN BAHASA IBU BERBASIS CERITA RAKYAT SEBAGAI SARANA PEMBENTUKAN KARAKTER Dewi, Putu Chrisma; Sari Suyasa, Ni Luh Christine Prawita; Made Ariasih, Anak Agung
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021): LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v7i2.1493

Abstract

ABSTRAKKajian yang berjudul “Teka-Teki Silang Sebagai Media Pengajaran Bahasa Ibu Berbasis Cerita Rakyat Sebagai sarana Pembentukan Karakter” ini mengungkapkan tentang kesadaran para pemangku pendidikan mengenai pentingnya pengajaran bahasa ibu berbasis cerita rakyat serta penerapannya melalui media permainan bahasa teka-teki silang sebagai sarana pembentukan karakter. Kajian ini berhasil mengungkap bahwa para pemangku pendidikan, baik anak, orang tua, dan pihak sekolah benar-benar memahami pentingnya penguasaan bahasa ibu semenjak dini. Namun dalam kenyataannya, hal tersebut masih sulit dilakukan karena faktor penggunaan bahasa ibu di dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat masih relatif kurang. Anak-anak lebih cenderung menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa asing dalam percakapan sehari-hari sehingga penggunaan bahasa ibu semakin kehilangan popularitasnya. Kegiatan mendongeng, khususnya cerita-cerita rakyat yang berbahasa ibu juga sudah mulai ditinggalkan padahal, cerita rakyat tersebut sarat akan pesan moral dan amanat yang mengandung nilai-nilai karakter. Strategi permainan bahasa teka-teki silang dapat diterapkan sebagai media pembelajaran bahasa ibu melalui cerita rakyat dengan memilih kosakata dalam cerita rakyat yang mengandung nilai-nilai karakter. Sehingga, anak-anak dapat belajar dan menambah kosakata bahasa ibu yang nantinya akan berdampak pada pelestarian kebudayaan dan pemertahanan bahasa, serta tercapainya strategi penerapan pendidikan karakter melalui tahapan sosialisasi, internalisasi, pembiasaan, dan pembudayaan.Kata kunci : bahasa ibu, cerita rakyat, karakter, teka-teki silangABSTRACTThe extinction of language could happened when the number of story teller decrease. In Globalization era, the use of mother language slowly abandoned. Therefore, folklore or interesting games needed to intensify the child's interests in learning the mother language. Character education has become a trend in Indonesia’s education. This study has successfully revealed that educational stakeholders, both children, parents, and the school really understand the importance of mastering the mother language since the early stage. But in reality,it is difficult to apply due to the factors of mother language used in family environment, school, and society still relatively less. Children are more likely to use Indonesian or foreign languages in everyday conversations, so the use of mother language constantly losing its popularity. Storytelling activities, folklore, and especially stories that use the mother language also have begun to be abandoned. Though, the folklore is full of moral messages that contain character values. The strategy of using crossword puzzle game can be applied as a mother language learning media based on folklore by selecting vocabularies in folklore that contain character values. Thus, children can learn and add vocabularies of the mother language which will affect the preservation of culture and language defense, as well as the implementation of character education strategy through socialization, internalization, habituation, and culture.Keywords : mother language, folklore, character, crossword puzzle
Cover LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra, Cover
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 8 No. 1 (2022): LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v8i1.1747

Abstract

Cover LITERA : Jurnal Litera Bahasa Dan Sastra

Page 10 of 18 | Total Record : 180