cover
Contact Name
Rinto Susilo
Contact Email
medicalsains@gmail.com
Phone
+6285691055898
Journal Mail Official
medicalsains@gmail.com
Editorial Address
https://ojs.ummada.ac.id/index.php/iojs/about/editorialTeam
Location
Kab. cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian
ISSN : 25482114     EISSN : 25412027     DOI : https://doi.org/10.37874/ms
Core Subject : Health,
The Medical Sains journal is a scientific publication media published by the Muhammadiyah Cirebon College of Pharmacy which is published 4 (four) times in 1 (one) year, namely January-March, April-June, July-September and October-December. The journal contains research in the field of pharmacy covering the fields of formulation, pharmacology, communication pharmacy, A natural chemical chemistry, pharmacognomy and other health sciences which is a means for lecturers and researchers in the health sector to share knowledge and establish cooperation in implementing the Tri Dharma of Higher Education. Purpose and Scope The objective of the publication of the Medical Science journal is to publish articles in the field of pharmacy and other health as well as application of pharmaceutical . Based on this, the editorial board of Medical Sains invites lecturers and researchers to contribute to submit research articles related to the following themes: 1. Pharmaceutical formulation technology 2. Pharmacology 3. Community pharmacy 4. Clinical Pharmacy 5. Natural material chemistry 6. Pharmacognosy 7. Pharmaceutical Analysis and Medicinal Chemistry . All papers submitted to medical science journals will be examined by peer review partners who are tailored to their respective fields.
Articles 523 Documents
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SHEET MASK EKSTRAK DAUN BAYAM MERAH (Amarantus tricolor): FORMULATION AND ANTIOXIDANT TEST OF SHEET MASK WITH RED SPINACH (Amarantus tricolor) EXTRACT Musfirotun Ni'am; Siti Nur Afifta; Nur Farlina; Dian Geatri Deasa; Romadhiyana Kisno Saputri
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 4 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i4.510

Abstract

Kerusakan kulit akibat radikal bebas harus dicegah, salah satunya dengan pemakaian antioksidan topikal seperti sheet mask. Bayam merah, memiliki aktivitas antioksidan kuat berpotensi dikembangkan menjadi sumber antioksidan pada sheet mask. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi serta uji aktivitas antioksidan sheet mask dengan kandungan daun bayam merah. Daun bayam merah diekstraksi dengan metode maserasi, sediaan sheet mask dievaluasi dengan pengujian organoleptik dengan parameter bentuk, bau dan warna, uji homogenitas dengan melihat butiran atau partikel diatas object glass yang diolesi sediaan, uji pH menggunakan kertas indikator pH dan uji iritasi dengan mengoleskan sediaan di belakang telinga untuk melihat tanda-tanda iritasi. Aktivitas antioksidan diuji dengan metode DPPH. Semua formulasi sheet mask berbentuk cair kental, memiliki bau yang khas dan memiliki warna putih hingga hijau pekat, homogen, nilai pH 5±0,222 hingga 5,7±0,082 dan tidak menimbulkan iritasi. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan nilai IC50 ekstrak daun bayam merah 68,55±0,041 ppm, sedangkan pada F0, F1, F2 dan F3 berturut-turut adalah 102,14±0,277 ppm, 147,12±1,474 ppm, 132,64±0,343 ppm dan 112,43±0,574 ppm. Sheet mask daun bayam merah homogen, memiliki pH aman untuk kulit dan tidak menyebabkan iritasi. Aktivitas antioksidan ekstrak daun bayam merah dalam kategori kuat dan sheet mask ekstrak daun bayam merah dalam kategori sedang.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN KELOR METODE DPPH DAN FRAP SEBAGAI SEDIAAN OBAT DAN MAKANAN: ANTIOXIDANT ACTIVITIES OF MORAGE LEAF EXTRACT DPPH AND FRAP METHODS AS DRUG AND FOOD Junie Suriawati; Siti Rahayu Rachmawati
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i1.512

Abstract

Daun kelor banyak dibudidayakan oleh masyarakat karena diyakini dapat memberikan banyak manfaat, antara lain bidang farmasi dan makanan. Ekstrak daun kelor (Moringa oleifera L.) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolat, triterpenoida/steroida, dan tanin yang berfungsi sebagai antioksidan. Senyawa zat aktif pada daun kelor dapat diperoleh dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut air, karena pelarut air dapat diaplikasikan ke masyarakat sebagai sediaan yang aman untuk dikonsumsi. Umumnya penelitian ekstrak daun kelor menggunakan pelarut air dengan cara infusa atau pelarut organik. Penelitian ekstrak daun kelor yang diperoleh dengan cara pemerasan belum pernah dilakukan, terutama aktivitas antioksidan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak daun kelor dengan metode DPPH dan FRAP sebagai sediaan obat dan makanan. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode 2,2-difenil-I-pikrilhidrazil/DPPH serta metode aktivitas potensial reduksi besi (Ferric Reduction Antioxidant Power/FRAP) yang masing masing memiliki kelebihan pada metodenya. Hasil penelitian ekstrak daun kelor infusa dan pemerasan memiliki kadar fenol total 50,10331±0,005 mg GAE/g dan 47,55012±0,019 mg GAE/g sedangkan kadar flavonoid total 36,56286±0,026 mg QE/g dan 37,76643±0,025 mg QE/g. IC50 ekstrak daun kelor infusa dan pemerasan dengan metode DPPH sebesar 4,12 ppm dan 26,13 ppm serta IC50 ekstrak daun kelor infusa dan pemerasan dengan metode FRAP adalah 11140,06 ppm dan 21529,00 ppm. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan ekstrak daun kelor dengan metode DPPH memiliki aktivitas antioksidan kuat dan metode FRAP memiliki aktivitas antioksidan lemah, sehingga ekstrak daun kelor tersebut dapat digunakan sebagai sediaan obat dan makanan.  Kata kunci : daun kelor, antioksidan, sediaan obat dan makanan
PENGARUH CARBOPOL 940 TERHADAP STABILITAS FISIK SEDIAAN SALEP KOMBINASI EKSTRAK IKAN GABUS DAN TERIPANG EMAS : THE EFFECT OF CARBOPOL 940 TO THE PHYSICAL STABILITY OF OINTMENT CONTAININNG SNAKEHEAD FISH EXTRACT AND GOLDEN SEA CUCUMBER Jefri; Mohamad Andrie; Wintari Taurina
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i1.514

Abstract

Salep kombinasi madu kelulut dan Ekstrak ikan gabus terbukti memiliki efek dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Penambahan ekstrak teripang emas, ekstrak sirih dan minyak cengkeh pada formula dapat meningkatkan efektivitas salep dalam proses penyembuhan luka, namum pada studi orientasi yang dilakukan, penambahan ekstrak teripang emas, ekstrak sirih dan minyak cengkeh dapat menurunkan konsistensi sediaan salep sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi kestabilan sediaan salep. Penambahan Carbopol 940 sebagai gelling agent dapat meningkatkan konsistensi sediaan dan menjaga kestabilan sediaan salep. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi optimum penggunaan Carbopol 940 terhadap kriteria sifat fisik dan kestabilan sediaan salep yang baik selama masa simpan 28 hari pada suhu 40±20C dan RH 75±5%. Variasi konsentrasi Carbopol 940 yang digunakan adalah 1% dan 2% setelah itu diuji sifat fisik dan stabilitas sediaan. Hasil uji stabilitas didapat salep F2 memiliki stabilitas yang lebih baik dibanding salep F1, terbukti salep F1 mengalami pemisahan fase pada hari ke-21. Sediaan salep F2 memiliki homogenitas dan daya proteksi yang baik. Hasil analisis SPSS menggunakan independent sample t-test pada sifat fisik salep F1 dan F2 menunjukkan perbedaan yang signifikan (?<0,05) pada daya sebar sediaan namun tidak berbeda signifikan pada waktu lekat dan pH sediaan, hal ini menunjukkan penambahan konsentrasi Carbopol memiliki pengaruh yang signifikan terhadap daya sebar sediaan salep. Dari hasil percobaan disimpulkan salep F2 memiliki stabilitas dan sifat fisik yang lebih baik dibanding salep F1.
KARAKTERISASI KITOSAN DAN PEMBUATAN NANOPARTIKEL KITOSAN DARI CANGKANG PUPA BLACK SOLDIER FLY (Hermetia illucens): EXTRACTION CHITOSAN AND CHARACTERIZATION NANOPARTICLE CHITOSAN FROM PUPAE SHEELS OF BLACK SOLDIER FLY (Hermetia illucens) Sivia Nindi Pratiwi; Nastiti Utami; Prashinta Nita Damayanti
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 4 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i4.516

Abstract

Larva Black Soldier Fly (BSF) termasuk dalam larva lalat pengurai yang bukan merupakan vector penyakit. Cangkang pupa merupakan hasil samping budidaya BSF yang belum banyak dimanfaatkan. Cangkang pupa mengandung kitin yang dapat diubah menjadi kitosan yang dapat dimanfaatkan sebagai media penghantaran obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi kitosan cangkang pupa BSF berdasarkan SNI No.7949-2013 dan aplikasinya dalam sediaan nanopartikel. Tahap isolasi kitosan meliputi: demineralisasi dengan HCl 3M, deproteinasi dengan NaOH 2M, depigmentasi dengan  2% dan asam oksalat 2%, serta deasetilasi dengan NaOH 50%. Kitosan hasil isolasi dikarakterisasi dan formulasi nanopartikel dengan metode gelasi ionik. Analisis nanopartikel kitosan dilakukan dengan PSA (Particle Size Analizer) dan FTIR (Fourier Transform Infra-red). Hasil penelitian yang didapat menunjukkan analisis spektra infra-red kitosan hasil isolasi menunjukkan gugus fungsi khas pada kitosan, rendemen kitosan 11,93%. Karakterisasi kitosan berupa serpihan serbuk, berwarna putih kecoklatan, tidak berbau, kadar air 6,683%, kadar abu 0,33%, kadar nitrogen 4,091%, derajat deasetilasi 94,41% sehingga memenuhi SNI No.7949-2013. Formulasi nanopartikel kitosan memberikan hasil ukuran partikel 495,7 nm, gugus OH hidroksil tumpang tindih NH dan C=O karbonil muncul pada spektra nanopartikel kitosan.
MOLEKULER DOCKING TERHADAP RESEPTOR PEROXISOME PROLIFERATOR-ACTIVED RECEPTOR-GAMMA (PPAR-y) SEBAGAI ANTIDIABETES: MOLECULAR DOCKING ON PEROXISOME PROLIFERATOR-ACTIVED RECEPTOR-GAMMA (PPAR-y) RECEPTORS AS ANTIDIABETIC Okta Nursanti; Dayu Liandra; Ginayanti Hadisoebroto; Dytha Andri Deswati
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i1.521

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronik yang muncul baik ketika pancreas tidak mampu memproduksi cukup insulin ataupun ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif tanaman atau tumbuhan telah banyak digunakan oleh masyarakat sebagai pencegah serta pengobatan penyakit diabetes dan juga sebagai suplemen kesehatan. Di dalam nya terkandung senyawa-senyawa yang dapat berperan sebagai obat antidiabetes. Salah satu reseptor yang berperan dalam pengobatan diabetes adalah Peroxisome Proliferator-Actived Receptor-Gamma (PPAR-y) yang bertanggung jawab terhadap sensitisasi insulin dalam jaringan adiposa. Dalam penelitian ini, interaksi antara senyawa-senyawa dalam tanaman paitan (Tithonia diversifolia), klabet (Trigonella foenum-graecum Linn), daun salam (Syzygium polyanthum), mengkudu (Morinda citrifolia, L), dan lidah buaya (Aloe vera) sebagai ligan, dengan PPAR-y diamati menggunakan perangkat lunak Arguslab, merupakan suatu program yang dapat menambatkan molekul ligan pada makromolekul reseptor. Perangkat lunak penambatan molekul yang digunakan adalah Arguslab versi 4.0.1 Dari hasil penambatan molekul (Molecular Docking) menunjukan bahwa  senyawa-senyawa digunakan aman dan lolos dari uji ADMET, Binding Energy delapan ligan tersebut lebih besar dibandingkan ligan alami pioglitazone pada RMSD < 2 Angstrom, tetapi ada satu ligan yang binding energy nya mendekati pioglitazone yaitu lycine dengan nilai binding energy  -7.34728 Kcal/mol. Kata kunci : Diabetes, PPAR-y, Penambatan molekul, Arguslab, Daun paitan
PENGARUH KONSENTRASI CERA ALBA TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN TINGKAT KESUKAAN PRODUK BALSAM STIK AROMATERAPI : THE EFFECT OF CERA ALBA CONCENTRATION ON PHYSICAL CHARACTERISTIC AND PREFERENCE LEVEL OF AROMATHERAPY STICK BALM Emilia Rahmawati; Habibatur Rohmah; Fransisca Dita Mayangsari; Primanitha Ria Utami
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i1.523

Abstract

Balsam stik aromaterapi adalah balsam gosok dalam bentuk stik. Produk ini mudah diaplikasikan. Selain itu, produk ini juga mengandung minyak atsiri yang dapat memberikan efek relaksasi. Oleh karena itu produk ini cukup potensial untuk dikembangkan. Salah satu komponen paling penting dari balsam stik adalah bahan stiffening agent. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi Cera alba (stiffening agent) pada balsam stik aromaterapi terhadap karakteristik fisik dan tingkat kesukaan/hedonik. Variasi konsentrasi Cera alba yang diamati adalah 10% (F1), 20% (F2), 30% (F3), dan 40% (F4). Parameter yang dianalisis dalam uji sifat fisik adalah organoleptis, nilai pH, homogenitas visual, dan konsistensi. Sedangkan parameter yang dianalisis dalam uji kesukaan meliputi konsistensi, warna, dan aroma. Berdasarkan hasil uji sifat fisik diketahui bahwa keempat formula tersebut berwarna putih kekuningan dan memiliki aroma khas minyak gandapura dan minyak serai dapur. Perbedaan keempat formula tersebut terletak pada konsistensinya. Semakin tinggi konsentrasi Cera alba maka konsistensi balsam stik semakin padat. Hasil uji hedonik dianalisis secara statistik menggunakan metode univariat yang dilanjutkan dengan uji Post Hoc Duncan. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa panelis lebih menyukai konsistensi F3 (30%) dan F4 (40%) dibandingkan dengan konsistensi F1 (10%) dan F2 (20%). Formula yang paling disukai oleh panelis adalah formula dengan konsentrasi Cera alba sebesar 30% dan 40%.
POTENSI EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN ASAM JAWA SEBAGAI ANTIJERAWAT DAN TABIR SURYA: POTENTIAL EXTRACT AND FRACTION OF TAMARIND LEAVES AS ANTI ACNE AND SUNSCREEN Chintiana Nindya Putri Chintia; Yuyun Darma Ayu Ningrum
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i1.524

Abstract

Jerawat dan kulit kusam akibat paparan sinar matahari merupakan permasalahan kulit yang kerap dialami oleh individu. Penggunaan skincare dan krim antibiotik berbahan kimia menjadi salah satu alternatif yang banyak digunakan, namun efek samping seperti iritasi kulit dan resistensi menjadi permasalahan baru sehingga mendorong dilakukannya penemuan produk baru berbasis senyawa bahan alam. Daun asam jawa berpotensi dijadikan bahan antijerawat dan tabir surya karena mengandung senyawa fitokimia seperti fenolik, flavonoid, saponin, dan vitamin C. Jumlah kandungan senyawa tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya ekstraksi dan fraksinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan potensi aktivitas antijerawat dan tabir surya antara ekstrak dan fraksi daun asam jawa, adapun parameter antijerawat dilihat dari aktivitas penghambatan terhadap bakteri penyebab jerawat (Staphylococcus epidermidis ATCC 12228) menggunakan metode difusi agar pada konsentrasi 1%, 3%, 5%, sedangkan aktivitas tabir surya dilakukan dengan penentuan nilai SPF secara in vitro untuk melihat seberapa besar kemampuannya dalam melindungi kulit dari paparan sinar UV B. Ekstraksi daun asam jawa dilakukan dengan maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, sedangkan fraksinasi dilakukan menggunakan pelarut etil asetat. Hasil skrining fitokimia dan KLT menunjukkan bahwa keduanya mengandung senyawa polifenol, flavonoid, dan saponin dengan nilai SPF 22,65 pada ekstrak dan 18,37 pada fraksi daun asam jawa. Hasil pengujian aktivitas anibakteri juga menunjukkan bahwa ekstrak memiliki diameter daya hambat yang lebih besar dibandingkan fraksi. Hal ini kemungkinan karena ekstrak mengandung senyawa yang lebih kompleks dibanding fraksi.
REVIEW: FACTORS AFFECTING WAITING TIME FOR OUTPATIENT PRESCRIPTION DRUGS IN HOSPITALS Eka Kristia Ayu Astuti; Ayun Sriatmi; Farid Agushybana
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 4 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i4.530

Abstract

Waiting is an activity which frequently causes uncomfortable feelings, particularly in health services. Patients who attend to health care facilities such as hospitals, are eager to receive good and quality health care system without having to wait for a long time. The quality of pharmaceutical services in hospitals influences the level of patient satisfaction with the services provided by pharmacy staff in drug services to patients. There are still numerous waiting times for outpatient prescription drug services in Indonesian hospitals which do not fulfill minimum service standards. Thus, the objective of this review articles is to determine the factors affecting the waiting time for outpatient prescription services at the hospital. This review was conducted by employing the literature review method with a sample size of 12 articles. The results acquired are several factors influencing the waiting time for outpatient drugs in hospitals encompassing: receiving prescriptions, providing etiquette, working on prescription drug concoctions, submitting drugs, facilities and infrastructure, human resources, hospital management information systems and standard operating procedures. Based on the complexity of the issue which was found in this review, the most dominant and influencing factors on the waiting time of outpatient drugs at the hospital are prescription reception, providing etiquette, preparation of prescription drugs, and submitting drugs.
STUDI LITERATUR: JENIS SEDIAAN, SIFAT FORMULASI, DAN NILAI ANTIOKSIDAN TERBAIK LIP CREAM EKSTRAK BIJI COKLAT (Theobroma cacao L) METODE UJI DPPH: LITERATURE STUDY: TYPES OF FORM, FORMULATION PROPERTIES, AND BEST ANTIOXIDANT VALUE OF LIP COCOA BEEN EXTRACT (Theobroma cacao L) DPPH TEST METHOD Mohammad Fauzy R. Syahruddin; Jason Merari; Endang Diyah Ikasari
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 4 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i4.531

Abstract

Biji coklat (Theobroma cacao L,) memiliki kandungan antosianin yang berpotensi sebagai antioksidan alami untuk diformulasikan dalam sediaan lip cream. Antioksidan merupakan molekul penghambat oksidasi yang dapat melindungi kulit dari kerusakan karna radiasi dan UV. Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui hasil uji aktivitas antioksidan tertinggi formulasi kakao pada berbagai jenis bentuk sediaan menggunakan metode uji DPPH serta sifat formulasi fisik yang dihasilkan secara review literatur. Metode penelitian ini adalah literatur review atau tinjauan pustaka. Jurnal penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi (hasil uji aktivitas antioksidan dengan metode uji antioksidan (DPPH) pada cacao) kemudian dikumpulkan dan dibuat ringkasan jurnal. Ringkasan jurnal penelitian tersebut dimasukan ke dalam tabel diurutkan sesuai alphabet dan tahun terbit jurnal. Berdasarkan hasil review literatur yang dilakukan oleh peneliti menghasilkan berbagai jenis formulasi, bentuk sediaan, sifat fisik yang dihasilkan dan nilai uji aktivitas antioksidan. Pada literatur review yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa penelitian internasional yang dilakukan oleh Kasparaviciene et al, (2016) dalam mengevaluasi aktivitas antioksidan lipstik menghasilkan % inhibisi DPPH sebesar 59,8% ± 1,15 (diperoleh aktifitas antioksidan yang sangat kuat) dengan menggunakan formulasi Sea buckthorn oil (11.66) dan Grapeseed oil (6.00), sedangkan penelitian dengan nilai uji antioksidan terendah adalah pada penelitian Marlina (2019) yaitu senilai IC 50 0,008 mg/ml dengan formulasi krim menggunakan setil alkohol 16%. Sifat fisik yang dihasilkan pada penelitian Kasparaviciene et al, (2016) adalah baik dan homogen.
KAJIAN INTERAKSI OBAT ANTIDEPRESAN DAN ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SUNGAI BANGKONG PONTIANAK: STUDY OF ANTIDEPRESSANT AND ANTIPSYCHOTIC DRUG INTERACTIONS IN SCHIZOPHRENIC PATIENTS AT THE BANGKONG RIVER MENTAL HOSPITAL PONTIANAK Shoma Rizkifani; Ressi Susanti; Tri Febiani
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i1.532

Abstract

Interaksi obat yang digunakan pada pasien skizofrenia didominasi oleh kombinasi antara antidepresan dan antipsikotik. Interaksi ini dapat menyebabkan efektivitas pengobatan berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat antidepresan dan antipsikotik serta mengetahui gambaran potensi interaksi obat di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Sungai Bangkong Pontianak periode Januari-Desember 2020. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dan metode pengambilan sampel dilakukan secara total sampling. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk uraian dan tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat terbanyak adalah sertralin (54,54%) dari golongan SSRI dan risperidon (42,85%) dari golongan antipsikotik atipikal. Interaksi obat yang paling banyak terjadi yakni interaksi farmakodinamik (62,13%) dibandingkan dengan farmakokinetik (37,86%). Tingkat keparahan interaksi yang terjadi dengan kategori moderat (69,79%) lebih besar daripada kategori mayor (30,20%). Penggunaan obat antidepresan sering diresepkan untuk pasien skizofrenia di RSJD Sungai Bangkong Pontianak yaitu sertralin sebanyak 24 kali peresepan, yang dapat mengatasi gejala depresi pada pasien skizofrenia. Sedangkan obat antipsikotik yang lebih bayak diresepkan adalah risperidon sebagai pengatasan gejala positif dan negatif. Potensi interaksi di RSJD Sungai Bangkong Pontianak 100% masih berpotensi mengalami interaksi obat. Jenis interaksi obat yang banyak terjadi berdasarkan mekanismenya yaitu interaksi farmakokinetik metabolisme sebanyak 69 kasus (58,97%), interaksi farmakodinamik sinergisme terjadi sebanyak 48 kasus (41,02%). Interaksi berdasarkan tingkat keparahan yang lebih banyak terjadi adalah interaksi tingkat keparahan moderat sebanyak 21 kasus kejadian.