cover
Contact Name
Riztika Widyasari
Contact Email
jurnalsangkala@untag-banyuwangi.ac.id
Phone
+6282231019002
Journal Mail Official
jurnalsangkala@untag-banyuwangi.ac.id
Editorial Address
Jl. Adi Sucipto No. 26 Banyuwangi - Jawa Timur
Location
Kab. banyuwangi,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sangkala
ISSN : -     EISSN : 30327741     DOI : https://doi.org/10.62734/js.v3i2.260
Jurnal Sangkala adalah jurnal peer-review, dan berspesialisasi dalam Pendidikan Sejarah. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman dan menyediakan sumber informasi ilmiah bagi pembaca, peneliti, pendidik di dunia akademis tentang Pendidikan Sejarah. Jurnal Sangkala menyajikannya melalui penerbitan artikel, artikel konseptual, artikel ulasan, studi kasus yang berfokus pada pembelajaran sejarah dan pendidikan sejarah serta topik terkait. Jurnal Sangkala diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Sejarah, Universita 17 Agustus 1945 Banyuwangi sebanyak dua kali dalam setiap volumenya (setiap bulan Januari dan Juli).
Articles 95 Documents
Transformasi Tradisi Adat Keboan di Desa Aliyan: Kajian Historis dan Sosial Budaya Rino Dwi Saputra; I Kadek Yudiana; Mahfud Mahfud
JURNAL SANGKALA Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v5i2.1100

Abstract

Tradisi adat Keboan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, merupakan warisan budaya masyarakat Osing yang lahir dari relasi erat antara manusia, alam, dan siklus pertanian. Berakar dari ajaran Buyut Wongso Kenongo, pendiri desa, tradisi ini diselenggarakan setiap bulan Suro sebagai wujud syukur atas hasil bumi sekaligus permohonan keselamatan dan kesuburan lahan. Penelitian ini bertujuan mengkaji transformasi tradisi Keboan, nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya, serta upaya pelestariannya di tengah arus modernisasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan teori simbolik kebudayaan Clifford Geertz, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumen terhadap tiga narasumber kunci (tokoh adat, pelaku ritual, dan generasi muda desa), lalu dianalisis dengan teknik triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Keboan Aliyan mulai dari prosesi selamatan desa, ider bumi, hingga peragaan tingkah laku menyerupai kerbau oleh pelaku yang mengalami kesurupan mengandung lapisan makna religius, agraris, dan relasional yang berfungsi memperkuat kohesi sosial dan identitas kolektif masyarakat Osing. Tradisi ini sempat mengalami kemunduran pada dekade 1990-an akibat gesekan sosial-politik, namun berhasil dihidupkan kembali berkat dukungan warga, keterlibatan generasi muda, serta integrasi ke dalam agenda Banyuwangi Festival oleh pemerintah daerah. Perubahan bentuk pelaksanaan akibat modernisasi dan festivalisasi budaya tidak menghilangkan esensi sakral tradisi ini, melainkan menjadi bentuk reinterpretasi budaya yang mempertahankan eksistensinya sekaligus memperluas pengenalannya kepada masyarakat luas
Tradisi Tumpengan dan Takir Sewu Bulan Suro sebagai Bentuk Penghormatan terhadap Prabu Tawang Alun di Desa Sraten, Banyuwangi Febri Indah Lestari; Mahfud Mahfud; I Kadek Yudiana
JURNAL SANGKALA Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v5i2.1121

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sejarah dan proses pelaksanaan Tradisi Tumpengan dan Takir Sewu Bulan Suro di Desa Sraten, Banyuwangi, mengidentifikasi makna simbolik serta nilai sosial-budaya yang terkandung di dalamnya, dan menganalisis persepsi masyarakat terhadap tradisi tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada Prabu Tawang Alun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan karena paling sesuai untuk mengkaji makna simbolik dan persepsi masyarakat secara langsung melalui keterlibatan peneliti di lokasi penelitian, sehingga data yang diperoleh merefleksikan pengalaman dan pandangan masyarakat secara nyata. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka dengan informan yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini mengandung nilai religius, sosial, dan kultural. Tumpeng dimaknai sebagai ungkapan syukur, sedangkan takir merepresentasikan kebersamaan dan gotong royong masyarakat. Pasca pandemi COVID-19, keterlibatan Lembaga Adat Desa dalam tata kelola tradisi pada 2024 beriringan dengan menurunnya partisipasi generasi muda. Pada 2026, masyarakat berupaya mengembalikan tradisi ke bentuk semula sebagai langkah restorasi identitas budaya dan kohesi sosial
Analisis Makna Simbolik Tradisi Ider Bumi di Desa Labanasem Kabupaten Banyuwangi Moh Chairul Ibad; Sahru Romadloni; I Kadek Yudiana
JURNAL SANGKALA Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v5i2.1157

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis makna simbolik Tradisi Ider Bumi di Desa Labanasem, Kabupaten Banyuwangi, serta mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis etnografi. Pengumpulan data dilakukan pada Juni 2026 bertepatan dengan pelaksanaan Tradisi Ider Bumi tanggal 24 Juni 2026. Informan penelitian berjumlah lima orang yang dipilih secara purposive, terdiri atas tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, panitia pelaksana, dan perangkat desa. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif dengan triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Ider Bumi dilaksanakan setiap 10 Muharram melalui rangkaian salawat, salat hajat, arak-arakan mengelilingi desa, pengumandangan azan, doa Asyura, pembagian jenang suro, dan penanaman batu. Tradisi tersebut mengandung makna perlindungan spiritual, ungkapan syukur, dan pelestarian budaya, serta merepresentasikan nilai religius, gotong royong, tanggung jawab, kerukunan, dan pelestarian kearifan lokal masyarakat Desa Labanasem
Dominasi Tugas Tertulis dalam Pembelajaran Sejarah: Karakteristik Pelaksanaan dan Dampaknya terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Neva Yun Alifta; Agus Mursidi; Miskawi Miskawi
JURNAL SANGKALA Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v5i2.1034

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dominasi tugas tertulis dalam pembelajaran sejarah, mendeskripsikan pelaksanaannya, serta mengkaji dampaknya terhadap keterampilan berpikir kritis siswa kelas X SMK PGRI Rogojampi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan penelitian terdiri atas satu guru sejarah dan lima belas siswa kelas X yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah masih didominasi oleh tugas tertulis berupa rangkuman, soal uraian, dan tugas berbasis buku paket yang diberikan secara rutin setelah pembahasan materi. Dominasi tersebut menjadikan tugas tertulis sebagai aktivitas pembelajaran dan instrumen evaluasi utama. Meskipun membantu siswa memahami dan mengingat materi sejarah, penggunaan tugas tertulis yang terlalu dominan belum mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis secara optimal. Siswa masih mengalami kesulitan dalam menganalisis peristiwa sejarah, menyusun argumentasi berdasarkan fakta, dan menghubungkan peristiwa masa lalu dengan konteks kekinian. Oleh karena itu, diperlukan variasi strategi pembelajaran yang lebih interaktif untuk mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran sejarah   Keywords: history learning, written assignments, critical thinking, vocational students, case study
Keraton Yogyakarta Sebagai Warisan Hidup Di Era Modern: Dinamika Pelestarian Dan Tantangan Transmisi Budaya Kepada Generasi Muda Nurul Lutfiyana Rizky; Saskia Wulandari; Diki Wahyu Saputra; Shofi Salsabila; Dyah Oktavia
JURNAL SANGKALA Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v5i2.1159

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika pelestarian budaya di Keraton Yogyakarta pada era modern, yang ditandai oleh upaya mempertahankan tradisi di tengah perubahan ekosistem budaya generasi muda. Penelitian berfokus pada dua pertanyaan: (1) praktik pelestarian budaya yang dilakukan abdi dalem, dan (2) tantangan internal dalam mewariskan tradisi kepada generasi muda. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi lapangan pada 21 Mei 2026 di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dengan satu abdi dalem aktif sebagai informan yang dipilih secara purposif. Data utama berupa hasil observasi langsung dan transkrip wawancara mendalam, dilengkapi data sekunder berupa dokumen resmi, jurnal, dan publikasi akademis untuk triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan keunikan pelestarian melalui perspektif warisan hidup, serta peran abdi dalem sebagai penjaga kontinuitas nilai budaya Jawa dan etika sosial lintas generasi, sekaligus mediator antara keraton dan masyarakat

Page 10 of 10 | Total Record : 95