cover
Contact Name
Ginanti Larasandy
Contact Email
glarasandy@gmail.com
Phone
+6281907742120
Journal Mail Official
glarasandy@gmail.com
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Mataram Jalan Prabu Rangkasari, Dasan Cermen, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Midwifery Student Journal (MS Jou)
ISSN : -     EISSN : 29634792     DOI : https://doi.org/10.32807/msjou
Core Subject : Health, Education,
MIDWIFERY STUDENT JURNAL (MS Jou) is a journal that aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original research papers, review articles, and case studies focused on midwifery. Published 2 (two) times per year, in April and October. MIDWIFERY STUDENT JURNAL (MS Jou) focuses on various multi-disciplines of midwifery, among others : Premarital Teen and preconception, Pregnancy, Labor and newborn, Childbirth and breastfeeding, Toddlers and pre-school children, Family planning and reproductive health, Obstetrics and gynecology, Maternal and neonatal emergencies, Menopause, Midwifery and health policy, Midwifery education, The management of midwifery care and midwifery communities, Complementery in midwifery
Articles 30 Documents
Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua, Status Ekonomi, dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Balita di Gunungsari Kabupaten Lombok Barat Girang Dzikra; I Gede Angga Adnyana; Velia Maya Samodra; Fahriana Azmi
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 1 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v4i1.68

Abstract

Latar Belakang : Anak-anak sangatlah rentan untuk terkena penyakit, hal ini dikarenakan imunitas pada anak masih bersifat imatur dan akan terus berkembang seiring pertambahan usia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) diare merupakan penyakit kedua tertinggi penyebab kematian pada anak usia dibawah 5 tahun dengan kasus kematian mencapai 370.000 anak pada tahun 2019. Tujuan : Mengetahui hubungan tingkat Pendidikan orang tua, status ekonomi, dan sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Metode : Penelitian ini dilakukan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Data penelitian kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil : Data penelitian didapatkan bahwa sebanyak 24 (30%) responden tidak mengalami kejadian diare, sedangkan sebanyak 56 (70%) responden  mengalami kejadian diare. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua (p-value = 1,195), status ekonomi (p-value = 0,256), penyediaan air bersih (p-value = 0,254), jamban keluarga (p-value = 0,147), dan pengelolaan limbah cair (p-value = 0,336) terhadap kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua, status ekonomi, penyediaan air bersih, jamban keluarga, dan pengelolaan limbah cair terhadap kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Berdasarkan hasil penelitian ini, khususnya untuk Pemerintah dan instansi Kesehatan harus berfokus terkait penanganan dan pencegahan pengendalian faktor risiko kejadian diare. Abstract Background: Children are highly vulnerable to diseases due to their immature immune systems, which continue to develop as they age. According to data from the World Health Organization (WHO), diarrhea is the second highest cause of death among children under 5 years old, with 370,000 deaths recorded in 2019. Objective: To determine the relationship between parental education level, economic status, and environmental sanitation with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Method: This research was conducted in the Gunungsari district of West Lombok Regency on November 11-12, 2023, using purposive sampling technique. The data were analyzed using univariate and bivariate analyses. Results: The research data revealed that 24 (30%) respondents did not experience diarrhea, while 56 (70%) respondents experienced diarrhea. Bivariate analysis showed no significant relationship between parental education level (p-value = 1.195), economic status (p-value = 0.256), provision of clean water (p-value = 0.254), family toilets (p-value = 0.147), and liquid waste management (p-value = 0.336) with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Conclusion: There is no significant relationship between parental education level, economic status, provision of clean water, family toilets, and liquid waste management with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Based on these research findings, particularly for the government and health institutions, the focus should be on handling and preventing the control of diarrhea risk factors.
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita (Usia 0-59 Bulan) di Wilayah Kerja Puskesmas Klungkung I Ida Bagus Arya Ramatantra; Sukandriani Utami; Aena Mardiah; Shinta Wulandhari
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 1 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v4i1.69

Abstract

Latar Belakang : Stunting adalah salah satu permasalahan gizi yang terus terjadi di Indonesia sehingga memerlukan perhatian khusus guna mengurangi angka kejadiannya. Laporan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat, pada tahun 2021 sebanyak 24,4% balita Indonesia mengalami stunting. World Health Organization (WHO) menjelaskan, bahwa stunting akan berdampak ke pertumbuhan dan perkembangan anak. Tujuan : Mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian Stunting pada Balita (Usia 0-59 Bulan) di wilayah kerja Puskesmas Klungkung I. Metode  : Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Klungkung I, Desa Kamasan, Kecamatan Gelgel, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali pada tanggal 30 Oktober – 2 November 2023. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Data penelitian dianalisis secara univariat dan bivariat dengan analisis Chi-square. Hasil : Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat 75 balita (75%) mengalami stunting dan sebanyak 25 balita (25%) tidak mengalami stunting. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara berat badan lahir (p-value = 0.477 ; CI = 0,360-8,684), panjang badan lahir (p-value = 0.907 ; CI = 0,380-2,359) dan tinggi badan ibu (p-value = 1,000 ; CI = 0,291-3,437) terhadap kejadian stunting. Sedangkan terdapat hubungan antara sosial ekonomi (p-value < 0,000 ; CI = 6,401-136,507), ASI-Eksklusif (p-value < 0,000 ; CI = 2,257-7,540), MP-ASI (p-value < 0,000 ; CI = 11,109-705,048), riwayat imunisasi (p-value = 0,020 ; CI = 1,231-1,614) dan riwayat infeksi (p-value = 0,001 ; CI = 0,008-0,515) terhadap kejadian stunting. Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara sosial ekonomi, ASI Eksklusif, MP-ASI, riwayat  imunisasi, dan riwayat infeksi terhadap kejadian stunting. Bagi instansi kesehatan dapat meningkatkan pemantauan secara rutin terhadap pemberian vaksinasi, ASI Eksklusif dan MP-ASI serta meningkatkan pelatihan terhadap kader desa untuk mencegah terjadinya stunting.   Abstract Background: Stunting is an ongoing nutritional issue in Indonesia that requires special attention to reduce its prevalence. The Indonesian Nutritional Status Study (SSGI) report notes that in 2021, 24.4% of Indonesian toddlers experienced stunting. The World Health Organization (WHO) explains that stunting affects the growth and development of children. Objective: To identify factors related to stunting incidence in toddlers (aged 0-59 months) in the working area of Klungkung I Health Center. Method: The research was conducted in the working area of Klungkung I Community Health Center, Kamasan Village, Gelgel Subdistrict, Klungkung Regency, Bali Province, from October 30 to November 2, 2023. Cluster random sampling was used as technique to gather the sample. Research data were analyzed through univariate and bivariate analysis and also using Chi-square analysis. Results: The study found that 75 toddlers (75%) experienced stunting, while 25 toddlers (25%) did not. Bivariate analysis results show no significant relationship between birth weight (p-value = 0.477; CI = 0.360-8.684), birth length (p-value = 0.907; CI = 0.380-2.359), and maternal height (p-value = 1.000; CI = 0.291-3.437) with stunting incidence. However, there is a significant relationship between socioeconomic status (p-value < 0.000; CI = 6.401-136.507), exclusive breastfeeding (p-value < 0.000; CI = 2.257-7.540), complementary feeding (p-value < 0.000; CI = 11.109-705.048), immunization history (p-value = 0.020; CI = 1.231-1.614), and infection history (p-value = 0.001; CI = 0.008-0.515) with stunting incidence. Conclusion: There is a significant association between socioeconomic status, exclusive breastfeeding, complementary feeding, immunization history, and infection history with stunting incidence. Health institutions can enhance regular monitoring of vaccination, exclusive breastfeeding, and complementary feeding, as well as provide training to village health cadres to prevent stunting.
Hubungan Personal Hygiene, Pengetahuan dan Kelembapan Kamar Terhadap Kejadian Pitiriasis Versikolor di Panti Asuhan Nurul Jannah NW Ampenan Lalu Denis Arynata; Lysa Mariam; Made Ayu Mirag Wulandari; Suci Nirmala
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 1 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v4i1.70

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Pitiriasis versikolor di Indonesia mempunyai prevalensi cukup besar, di Pontianak hingga Mei 2015 sebanyak 1.337 kasus dari 23 puskesmas yang terdapat di Kota Pontianak (Natalia, 2018). Data kejadian Pitiriasis versikolor di RSUP NTB sebesar 72.377 kasus untuk Kota Mataram 8.042 dan 972 kasus untuk Kecamatan Ampenan dan paling banyak di dominasi oleh remaja usia <15 tahun. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan personal hygiene, pengetahuan dan kelembapan kamar terhadap kejadian pitiriasis versikolor di Panti Asuhan Nurul Jannah NW Ampenan. Metode Penelitian: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, jenis penelitian yang akan digunakan yaitu metode observasional analitik dengan pengambilan data secara cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 65 orang dengan teknik sampling yaitu total sampling. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji Chi Square, di dapatkan nilai p value 0,003 (p< 0,05) untuk hubungan personal hygiene dengan kejadian pitiriasis versikolor, di dapatkan nilai p value 0,005 (p<0,05) untuk hubungan pengetahuan dengan kejadian pitiriasis versikolor dan untuk kelembaban kamar nilai p-value tidak bisa terdeteksi karena semua hasil kelembapan kamar lembab, sedangkan untuk mendapatkan hasil dari rumus Chi square yaitu harus ada dari kedua variabel yang dengan hasil berbeda. Simpulan. Ada hubungan antara personal hygiene, pengetahuan dan kelembapan kamar terhadap kejadian Pitiriasis versikolor di panti asuhan Nurul Jannah NW Ampenan. Abstract Background. Pityriasis versicolor disease in Indonesia has quite a large prevalence, in Pontianak as of May 2015 there were 1,337 cases from 23 health centers in Pontianak City (Natalia, 2018). Data on the incidence of pityriasis versicolor in the NTB General Hospital was 72,377 cases for Mataram City, 8,042 cases and 972 cases for Ampenan District and was mostly dominated by teenagers aged <15 years. Objective. To determine the relationship between personal hygiene, knowledge and room humidity on the incidence of pityriasis versicolor at the Panti Asuhan Nurul Jannah NW Ampenan. Research methods. This research is quantitative research, the type of research that will be used is the analytical observational method with cross-sectional data collection. The population in this study was 65 people with a sampling technique, namely total sampling. Results. Based on the results of research using the Chi Square test, a p-value of 0.003 (p<0.05) was obtained for the relationship between personal hygiene and the incidence of pityriasis versicolor, a p value of 0.005 (p<0.05) was obtained for the relationship between knowledge and the incidence of pityriasis. versicolor and for room humidity the p-value cannot be detected because all room humidity results are damp, whereas to get results from the Chi square formula, there must be two variables with different results. Conclusion. There is a relationship between personal hygiene, knowledge and room humidity on the incidence of Pityriasis versicolor at the Panti Asuhan Nurul Jannah NW Ampenan.
Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Tingkat Pendidikan Terhadap Perilaku Pencegahan Anemi Pada Remaja Putri di Desa Malaka Baiq Woni Aulia Permadi Putri; Ayu Anulus; Nisia Putri Rahayu; I Putu Dedy Arjita
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 2 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v4i2.71

Abstract

Latar Belakang:  Perilaku pencegahan anemia masuk pada jenis perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance), perilaku ini merupakan perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bila sakit. Menurut Green Lawrence dalam teori ini bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor perilaku dan faktor diluar perilaku. Faktor perilaku dipengaruhi oleh 3 hal yakni Predisposing factor, Reinforcing factor dan Enabling factor. Tujuan:  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan Pengetahuan, Sikap dan Tingkat Pendidikan terhadap Perilaku Pencegahan Anemia pada remaja putri di Desa Malaka. Metode:  Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional study. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Malaka. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji chi-square. Batas nilai signifikansi adalah p-value <0,05. Hasil Penelitian: Karakteristik responden sebagian besar di dominasi oleh remaja putri usia 10-15 tahun, dan pendidikan SMP.  Pada analisis bivariat didapatkan hasil masing-masing variabel (p-value <0,05) dengan nilai  hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan anemia  ( < 0,001), hubungan sikap dengan perilaku pencegahan anemia (< 0,001), hubungan tingkat pendidikan dengan perilaku pencegahan anemia (< 0,001). Kesimpulan: Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan, terdapat hubungan  antara pengetahuan, sikap, dan tingkat pendidikan terhadap perilaku pencegahan anemia pada remaja putri di desa malaka. Abstract Background : Anemia prevention behavior is included in the type of health maintenance behavior, this behavior is a person's behavior or efforts to maintain or maintain health so as not to get sick and efforts to heal if sick. According to Green Lawrence, in this theory, a person's health is influenced by two factors, namely behavioral factors and factors outside of behavior. Behavioral factors are influenced by 3 things, namely Predisposing factors, Reinforcing factors and Enabling factors. Objective : This research was conducted to determine the relationship between knowledge, attitudes and education level on anemia prevention behavior among young women in Malaka Village. Method: The type of research used is observational analytics using a cross sectional study research design. The sampling technique uses purposive sampling. This research was carried out in Malaka Village. The data obtained were analyzed using the chi-square test. The significance limit is p-value <0.05. Results : The characteristics of respondents were mostly dominated by young women aged 10-15 years, and with junior high school education. In the bivariate analysis, the results of each variable were obtained (p-value <0.05) with a value of the relationship between knowledge and anemia prevention behavior (<0.001), the relationship between attitudes and anemia prevention behavior (<0.001), the relationship between education level and anemia prevention behavior (<0.001). < 0.001). Conclusion: Based on the results of statistical tests carried out, there is a relationship between knowledge, attitudes and level of education on anemia prevention behavior among young women in Malacca village.  
Hubungan Pernikahan Dini terhadap Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres pada Wanita di Dusun Sade, Lombok Tengah I Gusti Agung Komang Lintang Calistha; Ayu Anulus; Sulatun Hidayati; Dany Karmila
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 2 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Pernikahan dini masih banyak terjadi di dunia maupun Indonesia. Nusa Tenggara Barat masih menempati posisi tertinggi jika dibandingkan wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Banyak kasus pernikahan dini yang dilaporkan di Lombok Tengah sehingga sampai saat ini Lombok Tengah berada di urutan ke-2. Dusun Sade merupakan salah satu Dusun di Lombok Tengah yang dijadikan sebagai tempat wisata. Adanya budaya merariq kodek sebagai salah satu faktor penyumbang banyaknya kejadian pernikahan dini pada wanita. Terjadinya pernikahan dini dapat disebabkan oleh faktor predisposing, enabling dan reinforcing. Pernikahan dini meningkatkan risiko terhadap kejadian fistula obstetrik, anemia dan eklampsia selain itu gangguan psikologi berupa kejadian depersi, kecemasan dan stres. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi gambaran kasus pernikahan dini, tingkat depresi, kecemasan, stres, dan menganalisis hubungan status pernikahan dini terhadap kejadian depresi, kecemasan dan stres pada wanita di Dusun Sade. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional. Total sampel adalah 99 wanita Dusun Sade yang dipilih secara simple random sampling. Data diambil dengan kuesioner DASS-42 dan diolah dengan analisis univariat dan bivariat (chi-square). Hasil penelitian melaporkan bahwa sebanyak 59 (59,6%) wanita menikah dini. Hasil statistik menunjukkan bahwa hubungan antara pernikahan dini terhadap kejadian depresi (PR= 1,156; 95% CI = 0,384-3,483; p= 0,796), kecemasan (PR= 0,627; 95% CI = 0,275-1,428; p= 0,265), dan stres (PR= 0,659; 95% CI = 0,264-1,646; p=0,371), secara statistik tidak signifikan. Kesimpulan:  yaitu kejadian depresi, kecemasan, dan stres tidak langsung berhubungan dengan pernikahan dini pada wanita di Dusun Sade, Lombok Tengah. Abstract Early marriage still occurs a lot in the world and in Indonesia. West Nusa Tenggara still occupies the highest position when compared to Java, Bali and Nusa Tenggara. Many cases of early marriage have been reported in Central Lombok so that currently Central Lombok is in 2nd place. Sade Hamlet is one of the hamlets in Central Lombok which is used as a tourist spot. The existence of the merariq codec culture is one of the contributing factors to the many incidents of early marriage among women. The occurrence of early marriage can be caused by predisposing, enabling and reinforcing factors. Early marriage increases the risk of obstetric fistula, anemia and eclampsia as well as psychological disorders in the form of depression, anxiety and stress. The aim of this research is to identify the description of cases of early marriage, levels of depression, anxiety, stress, and analyze the relationship between early marriage status and the incidence of depression, anxiety and stress in women in Sade Hamlet. This research is a quantitative research using a cross sectional approach. The total sample was 99 women from Sade Hamlet who were selected using simple random sampling. Data was taken using the DASS-42 questionnaire and processed using univariate and bivariate analysis (chi-square). The research results reported that as many as 59 (59.6%) women married early. Statistical results show that there is a relationship between early marriage and the incidence of depression (PR= 1.156; 95% CI = 0.384-3.483; p= 0.796), anxiety (PR= 0.627; 95% CI = 0.275-1.428; p= 0.265), and stress (PR= 0.659; 95% CI = 0.264-1.646; p=0.371), not statistically significant. The conclusion is that the incidence of depression, anxiety and stress is not directly related to early marriage in women in Sade Hamlet, Central Lombok.
Hubungan Gangguan Kebisingan dan Tingkat Stress dengan Kejadian Hipertensi pada Pegawai PLN Ampenan UP3 Kota Mataram Nusa Tenggara Barat 2023 Kun Firdaus Salam; Nurul Endah; Alfian Muhajir; Lalu Buly Fatrahady Utama
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 2 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v4i2.73

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi adalah suatu kondisi pembuluh darah memiliki tekanan darah tinggi (tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg). Pajanan bising yang terus-menerus dapat mengganggu tidur dan istirahat, serta memicu stres dan ketegangan pada sistem saraf, yang kemudian dapat meningkatkan tekanan darah. Suatu studi Epidemiologi di Amerika Serikat menyatakan bahwa masyarakat yang terpapar bising, cenderung memiliki emosi yang tidak stabil sehingga menimbulkan stress. Metode : Penelitian ini menggunakan desain cross- sectional dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (gangguan kebisingan dan lama bekerja) dengan variabel dependen (Hipertensi) pada saat yang sama. Hasil dan Pembahasan : Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan gangguan kebisingan dan tingkat stres dengan kejadian hipertensi pada pegawai PLN Ampenan UP3 Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat tahun 2023 dengan sampel sebanyak 71 responden, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden mengalami gangguan kebisingan yaitu sebanyak 41 orang (57,7%), memiliki tingkat stres normal sebanyak 36 orang (50,7%), serta memiliki tekanan darah normal sebanyak 41 orang (57,7%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara gangguan kebisingan dengan kejadian hipertensi dengan nilai p-value 0,007 (p < 0,05), serta terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kejadian hipertensi dengan nilai p-value 0,000 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa gangguan kebisingan dan tingkat stres berperan terhadap kejadian hipertensi pada pegawai PLN Ampenan UP3 Kota Mataram. Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa gangguan kebisingan dan tingkat stres berhubungan signifikan dengan kejadian hipertensi pada pegawai PLN Ampenan UP3 Kota Mataram tahun 2023, sehingga faktor lingkungan kerja dan psikologis perlu diperhatikan dalam pencegahan hipertensi. Abstract Background: Hypertension is a condition in which blood vessels have high blood pressure (systolic blood pressure ≥140 mmHg or diastolic blood pressure ≥90 mmHg). Continuous exposure to noise can disturb sleep and rest, and trigger stress and tension in the nervous system, which may subsequently increase blood pressure. An epidemiological study in the United States reported that people exposed to noise tend to have unstable emotions, leading to stress. Methods: This study used a cross-sectional design aimed at determining the relationship between independent variables (noise disturbance and length of employment) and the dependent variable (hypertension) at the same time. Results and Discussion: Based on the results of the study on the relationship between noise disturbance and stress level with the incidence of hypertension among employees of PLN Ampenan UP3, Mataram City, West Nusa Tenggara in 2023, involving 71 respondents, most respondents experienced noise disturbance (41 people; 57.7%), had normal stress levels (36 people; 50.7%), and had normal blood pressure (41 people; 57.7%). The analysis showed a significant relationship between noise disturbance and the incidence of hypertension with a p-value of 0.007 (p < 0.05), as well as a significant relationship between stress level and the incidence of hypertension with a p-value of 0.000 (p < 0.05). These findings indicate that noise disturbance and stress level play a role in the occurrence of hypertension among PLN Ampenan UP3 employees. Conclusion: It can be concluded that noise disturbance and stress level are significantly associated with the incidence of hypertension among PLN Ampenan UP3 employees in 2023; therefore, workplace environmental and psychological factors should be considered in efforts to prevent hypertension.
Hubungan Antara Kebiasaan Merokok Dalam Rumah, Status Ekonomi dan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Pneumonia pada Anak Usia 0-5 Tahun di RSUD Kota Mataram Wulidah A. Quratain; Risky Irawan Putra Priono; Sukandriani Utami; Kadek Dwi Pramana
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 2 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v4i2.74

Abstract

Latar Belakang: Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak usia di bawah lima tahun, terutama di negara berkembang. Berbagai faktor lingkungan dan sosial berperan dalam meningkatkan risiko pneumonia, di antaranya kebiasaan merokok di dalam rumah, status ekonomi keluarga, dan tingkat pengetahuan ibu. Tujuan: Mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dalam rumah, status ekonomi, dan pengetahuan ibu dengan kejadian pneumonia pada anak usia 0–5 tahun di RSUD Kota Mataram. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif analitik observasional dengan desain case control. Sampel sebanyak 60 responden diambil menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil: Sebanyak 30 anak (50%) didiagnosis pneumonia. Kebiasaan merokok dalam rumah ditemukan pada 24 responden (40%), status ekonomi rendah pada 22 responden (36,7%), dan pengetahuan ibu kurang pada 19 responden (31,7%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dalam rumah (p = 0,001), status ekonomi (p = 0,035), dan pengetahuan ibu (p = 0,004) dengan kejadian pneumonia. Kesimpulan: Kebiasaan merokok dalam rumah, status ekonomi rendah, dan pengetahuan ibu yang kurang berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia pada anak usia 0–5 tahun di RSUD Kota Mataram. Abstract Background: Pneumonia is a leading cause of morbidity and mortality among children under five years old, particularly in developing countries. Environmental and socioeconomic factors such as smoking habits at home, family economic status, and maternal knowledge play an important role in increasing pneumonia risk. Objective: To determine the relationship between smoking habits at home, economic status, and maternal knowledge with the incidence of pneumonia in children aged 0–5 years at Mataram City Regional Hospital. Methods: This study used an observational analytic quantitative design with a case-control approach. A total of 60 respondents were selected using total sampling. Data were collected through questionnaires and medical records and analyzed using the Chi-Square test with a significance level of p <0.05. Results: Thirty children (50%) were diagnosed with pneumonia. Smoking at home was reported in 24 respondents (40%), low economic status in 22 respondents (36.7%), and poor maternal knowledge in 19 respondents (31.7%). Statistical analysis showed significant associations between smoking at home (p = 0.001), low economic status (p = 0.035), poor maternal knowledge (p = 0.004), and pneumonia incidence. Conclusion: Smoking at home, low economic status, and poor maternal knowledge are significantly associated with pneumonia in children aged 0–5 years at Mataram City Regional Hospital.
Studi Kasus: Asuhan Kebidanan Berkelanjutan Berbasis Pencegahan Stunting Pada Ny. M G4P3A0H3 Usia Kehamilan 32 Minggu Sampai Masa Nifas Vania Aulia Zulfasari; Fitra Arsy Nur Cory’ah; Intan Gumilang Pratiwi
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 5 No. 1 (2026): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v5i1.44

Abstract

  Latar Belakang: Di Indonesia, jumlah kematian ibu terdapat 4.005 pada tahun 2022 dan meningkat menjadi 4.129 pada tahun 2023. Sementara, jumlah kematian bayi mencapai 20.882 pada tahun 2022 dan meningkat 29.945 pada tahun 2023.sedangkan AKI melahirkan mencapai 189 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB mencapai 16,85 per 1.000 kelahiran hidup, angka kematian ibu di NTB sebesar 257 per 100.000 kelahiran hidup. Tujuan : Mampu melakukan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny M  di Puskesmas Suranadi Periode 13 Februari s.d 20 Mei 2024, dengan menggunakan metode pendokumentasian 7 langkah varney pada pengkajian awal dan selanjutnya menggunakan metode pendokumentasian SOAP pada catatan perkembangan. Metode : metode studi penelahaan kasus (case study). Lokasi di Puskesmas Suranadi subyek Ny M G4P3A0H3 Teknik pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Hasil : Setelah di lakukan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny M di Puskesmas Suranadi ibu sudah menyikuti anjuran yang di berikan dan keluhan ibu teratasi, keadaan ibu sehat sehingga masa hamil sampai nifas berjalan normal Tetapi pada saat neonatal terdapat kelainan yaitu Atresia Ani. Kesimpulan: penulis telah melakukan Asuhan Kebidanan Berkelanjutan pada Ny M dari masa kehamilannya dalam keadaan sehat proses persalinan normal, masa nifas involusi berjalan normal, bayi sehat dan konseling KB, ibu memilih alat kontrasepsi KB Implan. Abstract Background : In Indonesia, the number of maternal deaths was 4,005 in 2022 and increased to 4,129 in 2023. Meanwhile, the number of infant deaths reached 20,882 in 2022 and increased to 29,945 in 2023. While the maternal mortality rate reached 189 per 100,000 live births and IMR reached 16.85 per 1,000 live births, the maternal mortality rate in NTB was 257 per 100,000 live births. Objective : To be able to perform continuous midwifery care on Mrs. M at the Suranadi Health Center from February 13 to May 20, 2024, by using the Varney 7-step documentation method in the initial assessment and then using the SOAP documentation method in the progress notes. Method : case study method. Location at the Suranadi Health Center subject Mrs. M G4P3A0H3 Data collection techniques using primary data and secondary data. Results : After doing continuous midwifery care on Mrs. M at the Suranadi Health Center, the the mother complied with the recommendations the recommendations given and the mother's complaints are resolved, the mother's condition is healthy so that the pregnancy until the postpartum period runs normally but at the time of neonatal there is an abnormality, namely Atresia Ani. Conclusion : the author has carried out Continuous Midwifery Care on Mrs. M from her pregnancy in a healthy state, the normal delivery process, the postpartum period of involution runs normally, the baby is healthy and family planning counseling, the mother chooses the implantable contraceptive.    
Pengaruh Alat Peraga BIDAR terhadap Pengetahuan dan Keterampilan SADARI pada Remaja Putri Sri Wahyuni; Desi Rofita; St. Halimatusyaadiah; Baiq Iin Rumintang
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 5 No. 1 (2026): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v5i1.65

Abstract

Latar Belakang: Bidar (Bra Trampil SADARI) merupakan alat peraga yang dirancang menyerupai payudara manusia untuk melatih pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Tujuan: Menganalisis pengaruh penggunaan Bidar terhadap pengetahuan dan keterampilan SADARI pada remaja putri. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi-experimental posttest only control group. Sampel sebanyak 30 remaja putri dipilih menggunakan purposive sampling, terdiri atas 15 responden kelompok Bidar dan 15 kelompok phantom payudara. Data dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney. Hasil: Rerata pengetahuan kelompok intervensi lebih tinggi dibanding kelompok kontrol (89,71 vs 82,51), demikian pula keterampilan (90,00 vs 81,45). Uji Mann–Whitney menunjukkan perbedaan bermakna pada pengetahuan (p=0,022) dan keterampilan (p=0,016). Kesimpulan: Penggunaan Bidar lebih efektif dibandingkan phantom payudara dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan SADARI pada remaja putri, sehingga berpotensi menjadi media edukasi inovatif untuk mendukung deteksi dini kanker payudara. Abstract Background: BIDAR (Bra Trampil SADARI) is an educational teaching aid designed to resemble the human breast for training breast self-examination (BSE) skills. Objective: This study aimed to analyze the effect of using BIDAR on knowledge and BSE skills among adolescent girls. Methods: This quantitative study employed a quasi-experimental design with a posttest-only control group. A total of 30 adolescent girls were selected using purposive sampling, consisting of 15 participants in the BIDAR intervention group and 15 participants in the breast phantom control group. Data were analyzed using the Mann–Whitney test. Results: The mean knowledge score in the intervention group was higher than that in the control group (89.71 vs. 82.51), as was the mean BSE skill score (90.00 vs. 81.45). The Mann–Whitney test showed statistically significant differences in knowledge (p = 0.022) and BSE skills (p = 0.016). Conclusion: The use of BIDAR was more effective than the breast phantom in improving knowledge and BSE skills among adolescent girls, indicating its potential as an innovative educational medium to support the early detection of breast cancer.
Pengaruh Scrapbook terhadap Perilaku Personal Hygiene Menstruasi pada Remaja Putri Nuril Khazinatul Asror; Desi Rofita; St. Halimatusyaadiah; Baiq Iin Rumintang
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 5 No. 1 (2026): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v5i1.66

Abstract

Latar Belakang: Perilaku personal hygiene saat menstruasi penting untuk mencegah infeksi pada remaja putri, namun praktiknya masih rendah akibat kurangnya pendidikan kesehatan. Tujuan: Menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi menggunakan media scrapbook terhadap perilaku personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri. Metode: Penelitian menggunakan desain pre-experimental one-group pretest–posttest pada 46 siswi kelas VII dan VIII. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Sebagian besar responden berusia 13 tahun (52,2%), mengalami menarche pada usia 12 tahun (80,4%), lama menstruasi 5–7 hari (63,0%), dan memperoleh informasi dari keluarga (37,0%). Rata-rata skor perilaku personal hygiene meningkat dari 44,91 sebelum intervensi menjadi 59,89 setelah intervensi. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang bermakna (p=0,001). Kesimpulan: Pendidikan kesehatan menggunakan scrapbook efektif meningkatkan perilaku personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri. Abstract Background: Adolescence is characterized by biological changes, including menstruation. Adolescent girls need to maintain good personal hygiene during menstruation to prevent reproductive tract infections. A preliminary study at SMP IT Al-Kamal NW Narmada found that many female students did not change sanitary pads regularly and had inadequate personal hygiene practices due to limited health education. Scrapbook media, as a visual educational tool, is considered attractive and easy to understand, making it a potential medium for improving such behaviors. Objective: To determine the effect of reproductive health education using scrapbook media on menstrual personal hygiene behavior among adolescent girls. Methods: This study employed a pre-experimental one-group pretest–posttest design involving 46 female students from grades VII and VIII. Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. Results: Most respondents were 13 years old (52.2%), experienced menarche at the age of 12 years (80.4%), had a menstrual duration of 5–7 days (63.0%), and had previously received information about menstruation and personal hygiene (63.0%), primarily from their families (37.0%). The mean personal hygiene behavior score increased from 44.91 before the intervention to 59.89 after the intervention. The Wilcoxon test showed a statistically significant difference (p = 0.001). Conclusion: Reproductive health education using scrapbook media was effective in improving menstrual personal hygiene behavior among adolescent girls.

Page 3 of 3 | Total Record : 30