cover
Contact Name
Adek Cerah Kurnia Azis
Contact Email
adek_peros@yahoo.com
Phone
+6285278021981
Journal Mail Official
gorgajurnalsenirupa@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia Kotak Pos 1589, Kode Pos 20221
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Gorga : Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23015942     EISSN : 25802380     DOI : https://doi.org/10.24114/gr.v9i1
Core Subject : Education, Art,
Gorga : Jurnal Seni Rupa terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang ditulis oleh para pakar, ilmuwan, praktisi (seniman), dan pengkaji dalam disiplin ilmu kependidikan, kajian seni, desain, dan pembelajaran seni dan budaya.
Articles 806 Documents
KARAKTERISTIK SULAMAN BENANG EMAS PADA BAJU PENGANTIN TRADISIONAL MINANGKABAU DI KECAMATAN LUBUK BEGALUNG Yuliarma Yuliarma; Villia Nur Ismalita
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.46436

Abstract

The purpose of the research is to describe The characteristics of the motif design include the shape of the motif, the decorative pattern, and the placement of the motif on the gold thread embroidered product which is applied to traditional Minangkabau wedding dresses in the industrial center of Lubuk Begalung District, Padang. Traditional motif designs that are applied to gold thread embroidered wedding dress products at the of Lubuk Begalung Padang Industrial center has the characteristics their distinguish them from embroidery from other regions. This research used a qualitative descriptive method with the type of data required in the form of primary data and secondary data. The data were collected through observation, interviews, and documentation studies. The characteristics of the traditional Minangkabau gold thread embroidery design is in the form of naturalist motifs such as the kaluak babungo motif, peacock, hong bird, orchid flower, and sponge. The decorative patterns used are free decorative patterns, sow decorative patterns, hanging decorative patterns, and walking fringe decorative patterns. The placement of the motif includes the neckline, the ends of the sleeves, on the bottom edge of the front and back clothes.Keywords: gold thread embroidery, wedding dress. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik desain motif meliputi bentuk motif, pola hias, dan penempatan motif pada produk sulaman benang emas yang diterapkan pada baju pengantin tradisional Minangkabau di sentra industri Kecamatan Lubuk Begalung Padang. Desain motif tradisional yang di terapkan pada produk  baju pengantin sulaman benang emas di sentra Industri Lubuk Begalung Padang memiliki ciri khas yang membedakannya dengan sulaman dari daerah lain.  Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan jenis data yang diperlukan berupa data primer dan data sekunder. Data yang dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Ciri khas desain motif sulaman benang emas tradisional Minangkabau berupa bentuk motif naturalis seperti motif kaluak babungo, burung merak, burung hong, bunga anggrek, dan bunga karang. Pola hias yang digunakan pola hias bebas, pola hias tabur, pola hias menggantung, dan pola hias pinggiran berjalan. Penempatan motif meliputi garis leher, ujung lengan, pada pinggir bawah baju depan dan belakang.Kata Kunci: sulaman benang emas, baju pengantin. Authors:Yuliarma : Universitas Negeri PadangVillia Nur Ismalita : Universitas Negeri Padang References:Ibrahim, A., Djafri, D., Bafiman, B., Yanis, M., Alimunar, A., Ilyas, M., & Akbar, R. (1986). Pakaian adat tradisional daerah Sumatera Barat.Pulukadang, Roesbani. (2009). Keterampilan Menhias Kain. Bandung: Angkasa.Riza Mutia. (2012). Ragam Hias pada Koleksi Museum Adityawarman. Padang.Rosma. (1997). Nukilan Bordir Sumatra Barat. Cipta Budaya Indonesia.Suhersono, Hery. (2006). Desain Bordir Motif Batik. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama.UTARI, A. G., Zahri, W., & Idrus, Y. (2014). Studi Tentang Kerajinan Sulaman Benang Emas di Nagari Saniangbaka Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok. Journal of Home Economics and Tourism, 7(3). (http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/4324).Yuliarma. (2018). Model Of Embroidery Design ˜Kepala Peniti™ Minangkabau On Acculturative Batik. Vol 301 Seventh International Conference on Languanges and Arts (ICLA).  (http://repostory.unp.ac,id/21978/1/EMBROIDERY%2DESIGN%200K.pdf).Yuliarma, Y. DESIGN CHARACTERISTICS OF NATURAL MOTIVES IN VARIOUS DECORATIVE AND MINANGKABAU TRADITIONAL EMBROIDERY.(http://repostory.unp.ac,id/21978/1/EMBROIDERY%2DESIGN%200K.pdf).Yuliarma, Y. (2019, March). Model of Embroidery Design ˜Kepala Peniti'Minangkabau on Acculturative Batik. In Seventh International Conference on Languages and Arts (ICLA 2018) (pp. 128-135). Atlantis Press. (https://www.atlantis-press.com/proceedings/icla-18/55914482).Yuliarma, Y. (2014). STUDI TENTANG DISAIN RAGAM HIAS PAKAIAN PENGANTIN TRADISIONAL LUBUK BEGALUNG PADANG. (Journal of Home Economics and Tourism, 6(2).(http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/3422).Yuliarma, Yuliarma (2021) Sulaman Benang Emas Tradisional Minangkabau. In: Sulaman Benang Emas Tradisional Minangkabau. UPTD Meseum Adityawarman, Padang, pp. 1-110. (http://repository.unp.ac.id/39133/).Yuliarma. (2013). Disain Ragam Hias. UNP.Riza Mutia. (2012). Ragam Hias pada Koleksi Museum Adityawarman. Padang.Rosma. (1997). Nukilan Bordir Sumatra Barat. Cipta Budaya Indonesia. 
PENGARUH PERBEDAAN JUMLAH HELAI BENANG SULAM DMC TERHADAP HASIL SULAMAN TERAWANG INGGRIS PADA BAHAN KATUN TOBOYO Putri Ananda; Weni Nelmira
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.56132

Abstract

Embroidery Terawang Inggris, or known as DMC embroidery (Dollfus-Mieg et Compagnie), is one of the captivating white embroidery techniques in textile art. The use of various numbers of thread strands in the embroidery process can affect the quality of the final result. This research aims to determine the influence of different numbers of DMC embroidery thread strands on the results of English terawang embroidery on Toyobo cotton fabric using 1, 2, and 3 thread strands based on stitch density, stitch neatness, and stitch balance. This research uses an experimental method, with the number of samples as panelists being 16 respondents. The sampling technique uses purposive sampling, while the data collection technique uses a questionnaire. Data analysis techniques use descriptive analysis and hypothesis testing using the Friedman test. The research results obtained that Embroidery with 1 thread strand resulted in "Dense" (77.08%), 2 thread strands "Very Dense" (91.67%), and 3 thread strands achieved optimal density (95.00%). In terms of neatness, 1 thread strand is "Very Neat" (87.75%), 2 thread strands (87.25%), and 3 thread strands are very neat (89.25%). Meanwhile, stitch balance shows 1 and 2 thread strands are "Very Balanced" (81.37% and 87.45%), while 3 thread strands achieve high quality (84.17%). There is a significant difference in using 1, 2, and 3 threads of DMC Embroidery in terms of density, neatness, and stitch balance.Keywords: thread strand, density, neatness, balance.AbstrakSulaman Terawang Inggris, atau dikenal sebagai sulam DMC (Dollfus-Mieg et Compagnie), merupakan salah satu teknik sulaman putih yang memikat dalam seni tekstil. Penggunaan berbagai jumlah helai benang pada proses sulaman tersebut dapat mempengaruhi kualitas hasil akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jumlah helai benang sulam DMC terhadap hasil sulaman terawang Inggris pada bahan katun toboyo menggunakan 1, 2, dan 3 helai benang berdasarkan kerapatan tusuk, kerapian tusuk, dan keseimbangan tusuk. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dengan jumlah sampel sebagai panelis sebanyak 16 orang responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner.  Teknik analisis data menggunakan analisis deksriptif dan uji hipotesis menggunakan uji Friedman. Hasil penelitian diperoleh bahwa Sulaman dengan 1 helai benang hasilnya "Rapat" (77.08%), 2 helai benang "Sangat Rapat" (91.67%), dan 3 helai benang mencapai kerapatan optimal (95.00%). Dalam hal kerapian, 1 helai benang "Sangat Rapi" (87.75%), 2 helai benang (87.25%), dan 3 helai benang sangat rapi (89.25%). Sedangkan keseimbangan tusuk menunjukkan 1 dan 2 helai benang "Sangat Seimbang" (81.37% dan 87.45%), sementara 3 helai benang mencapai kualitas tinggi (84.17%). Terdapat perbedaan yang signifikan dalam menggunakan 1, 2, dan 3 helai benang Sulaman DMC terhadap kerapatan, kerapian dan keseimbangan tusuk.Kata Kunci: helai benang, kerapatan, kerapian, keseimbangan. Authors:Putri Ananda : Universitas Negeri PadangWeni Nelmira : Universitas Negeri PadangReferences:Budiyono, Sudibyo, W., Herlina, S., Handayani, S., Parjiyah, Pudiastuti, W., Syamsudin, Irawati, Parjiyati, & Palupi, D. S. (2008). Kriya Tekstil. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.Ernawati. (2008). Tata Busana Jilid 2. Jakarta: Direktorat Pembina Sekolah. Menengah Kejuruan.Puspitasari, D., & Yulistiana. (2014). Pengaruh Jumlah Helai Benang Katun Terhadap Hasil Jadi Sulaman Hardanger Pada Bolero. e-Journal. 3(1), 130-139.Sania, F. (2018). Analisis Produk Sulaman Aplikasi Pada Mata Kuliah Seni Sulaman. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689“1699.Syafrina, I., & Nelmira, W. (2019). Pengembangan Bahan Ajar Pembuatan Sulaman Timbul Pada Mata Kuliah Sulaman Universitas Negeri Padang. Gorga Jurnal Seni Rupa, 8(1), 105-110.Syifa, S. Z. A., & Radiona, V. (2022). Penilaian Hiasan Sulam Sashiko Pada Busana Anak. Practice of Fashion and Textile Education Journal, 1(1). 23-29.Yuliarma. (2016). The Art of Embroidery Designs. The Art of Embroidery Designs: Mendesain Motif Dasar Bordir dan Sulaman. Jakarta: Gramedia.Yuliarma & Norita, R. (2023). Pengaruh Jumlah Helai Benang Terhadap Nilai Estetika Dan Mutu Sulaman Terawang Hardanger Pada Sarung Bantal Sofa. Dimensi, 19(2). 169-184Wasia, R. (2009). Keterampilan Menghias Kain. Bandung: Askara BandungWidarwati, S. (2000). Desain Busana 1. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan. Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.
ALUM, ARBOR, WHITING ON TIE-DYED BATIK (JUMPUTAN) WITH TURMERIC DYE (CURCUMA DOMESTICA VAL) Oksy Rimayana; Adriani Adriani
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.62681

Abstract

Tie-dye batik (jumputan) is one of the batik but made with simpler techniques and equipment. This research utilizes turmeric as a natural dye. This study aims to describe (1) the name of the color (hue), (2) fastness, (3) the difference in mordant on the name of the color (hue), fastness on batik ikat dip (jumputan) using natural coloring turmeric (curcuma domestica val). This type of research is experimental research, the data in this study are primary data sourced from 18 panelists. The data collection technique used is a questionnaire, then the data is processed and analyzed with the Friedman K-Realted Sample test. The results of the study on the name of the color (hue) without using mordant on color 1) Yellow #FFFF00, on color 2) Gold #FCF853, in color 3) Yellow #F7EF00. Alum mordant for color 1) Yellow #F4E841, color 2) Paris Daisy Yellow #F6093D, color 3) Gold #F6D620. Conifer mordant color 1) Golden Rod #D5A606, color 2) Dark Golden Rod #C59809, color 3) Dark Golden Rod #C59809. Whiting mordant color 1) Light Brown #E9CA66, color 2) Paris Daisy Yellow #EFCD51, color 3) Orange #E5B107.  The results of data analysis of fastness obtained a significance of 0 which is smaller than the significance level.The effect of dyeing on washing resistance obtained a significance value of 0.001 which is smaller than the significance level of 0.000 <0.05 with the result that Ha is accepted and Hₒ is rejected. This means that there is a significant change.
MOTIF PINTO ACEH SEBAGAI SUMBER INSPIRASI PENCIPTAAN KRIYA KULIT Karya Mansyah; Saniman Andi Kafri; Muhammad Hamzah
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.58451

Abstract

The Pinto Aceh motif is the creativity of local Acehnese motifs that are different from other motifs in Indonesia. The Pinto Aceh motif has its own uniqueness and aesthetic value. This can be seen from its symmetrical like a butterfly shape. Interest in raising the theme of Pinto Aceh motifs is because researchers want to give a new touch, especially in leather crafts combined with Pinto Aceh motifs. So far the Pinto Aceh motif works that have been created are still the same as the first time this motif was created, always in form of a symmetrical butterfly. Because of that the creation of leather craft works is realized in the form of two-dimensional and three- dimensional works by presenting the new forms. The materials used are parchment leather, vegetable tanned leather, mosquito netting wire, wood, glass, mirrors, synthetic leather and iron. The method used in the creation of this work goes through three stages, that is the exploration stage, the design stage and the embodiment stage. The works created do not only contain aesthetic value but also contain the meaning of freedom of creation, which is manifested in the creation of the Pinto Aceh motif. The expression of the Pinto Aceh motif as a source of inspiration for the creation of leather craft can be a medium for art connoisseurs, especially craft art and in hope to give another new forms of craft art, so that in the future it can become a reference for the development of craft art, especially leather craft.Keywords: PintoAceh,motifs,leather,craf. AbstrakMotif Pinto Aceh merupakan kreativitas lokal masyarakat Aceh yang jauh berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Motif Pinto Aceh mempunyai keunikan dan nilai estetika tersendiri. Hal ini dapat dilihat dari bentuknya yang simetris seperti kupu-kupu. Ketertarikan mengangkat tema motif Pinto Aceh karena peneliti ingin memberikan sentuhan baru khususnya kriya kulit yang dipadukan dengan motif Pinto Aceh khususnya kriya kulit. Sejauh ini karya-karya motif Pinto Aceh yang diciptakan masih sama seperti motif pertama kali diciptakan, yaitu seperti kupu-kupu yang simetris. Oleh karena itu penciptaan karya kriya kulit ini direalisasikan ke dalam bentuk karya dua dimensi dan tiga dimensi dengan menghadirkan bentuk-bentuk yang baru. Bahan yang digunakan adalah kulit perkamen, kulit tersamak nabati, kawat jaring nyamuk, kayu, kaca, cermin, kulit sintetis dan besi. Metode yang digunakan pada penciptaan karya ini melalui tiga tahap, yaitu: tahap eksplorasi, tahap perancangan dan tahap perwujudan. Karya-karya yang diciptakan tidak hanya mengandung nilai estetik tetapi juga mengandung makna kebebasan dalam berkarya yang diwujudkan dalam bentuk kreasi motif Pinto Aceh. Ekspresi motif Pinto Aceh sebagai sumber inspirasi penciptaan kriya kulit ini dapat menjadi media terhadap penikmat seni, khususnya seni kriya dan diharapkan dapat melahirkan bentuk kriya seni baru, sehingga dapat menjadi acuan untuk pengembangan kriya seni khususnya kriya kulit selanjutnya.Kata Kunci: Pinto Aceh, motif, kulit, kriya. Authors: Karya Mansyah : Institut Seni Budaya Indonesia AcehSaniman Andi Kafri : Institut Seni Budaya Indonesia AcehMuhammad Hamzah : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh References:Dharsono, D. (2016). Kreasi Artistik œPerjumpaan Tradisi Modern Dalam Paradigma Kekaryaan Seni. Surakarta: Citra Sain.Ferawati, F., & Dewi, L. (2020). Suluah Dalam Nagari; Penciptaan Kriya Ekspresi Dengan Inspirasi Bundo Kanduang. Artchive: Jurnal Seni Rupa dan Desain Indonesia , 1(2), 122-133. http://dx.doi.org/10.53666/artchive.v1i2.1630.Ginting, J., & Triyanto, R. (2020). Tinjauan Ketepatan Bentuk, Gelap Terang, dan Warna padaGambar Bentuk Media Akrilik. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 300-308. https://doi.org/10.24114/gr.v9i2.20118.Gustami, SP. 2007. Butit-Butir Mutiara Estetika Timur œIde Dasar Penciptaan Seni Kriya Indonesia. Yogyakarta: Prasista.Izzara, W. A., & Nelmira, W. (2021). Desain Motif Tenun Songket Minangkabau Di Usaha Rino Risal Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 423-431. https://doi.org/10.24114/gr.v10i2.25928.Mansyah, K. (2019), œKaligrafi Arab Dalam Ekspresi Pinto Aceh Melalui Hiasan Interior. Hasil Wawancara Pribadi: 30 Agustus 2019, Institut Seni Indonesia Padangpanjang.Mansyah, K., Sulaiman, S., & Nursyirwan, N. (2020). Seni Kaligrafi Arab Dalam Ekspresi Pinto Aceh. Melayu Arts and Performance Journal, 3(1), 27-36. http://dx.doi.org/10.26887/mapj.v3i1.1341.Sunarto, S. (2008). Seni Tatah Sungging Kulit. Yogyakarta: Prasista.Susanto, M. (2011). Diksi Rupa; Kumpulan Istilah Seni Rupa. Yogyakarta: DictiArt Lab & Djagad Art House.Zam, R., Dharsono, D., & Raharjo, T. TransformasiEstetik Seni Kriya; Kelahiran Dan Kriya Masa Kini. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 302-310. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.36026.
PRODUK KERAJINAN BATIK DAUN SIRIH DURU AWO DESA HAMPARAN RAWANG KOTA SUNGAI PENUH Septia Cica Safitri; Yuliarni Yuliarni; Yulimarni Yulimarni; Miswar Miswar; Widdiyanti Widdiyanti
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.57868

Abstract

Batik is a well-known product, popular for its motifs. However, Batik Daun Sirih Duru Awo from Hamparan Rawang Village, Sungai Penuh City, differs from batik from other regions due to its unique products and motifs rooted in local wisdom. This study aims to identify the Batik Daun Sirih Duru Awo craft products and the motifs' forms and their application to these batik craft products. The research method used is qualitative, with primary and secondary data types. The informants in this study are the owners of Batik Daun Sirih Duru Awo, batik designers, and batik artisans. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation. The data analysis in this research uses interactive analysis, which involves data condensation, data display, and conclusion or verification.The study results show that Batik Daun Sirih Duru Awo craft products include kain panjang, tengkuluk, lito (lacak), saluak, and scarves, predominantly using the batik cap technique. The motifs favored by consumers amount to 12, reflecting the uniqueness of Sungai Penuh City. These motifs are categorized into five flora motifs (kanyaho batuah, daun sirih, pucuk rebung, biji kopi, padi payo), two fauna motifs (tiger, horns), and five motifs themed around culture or natural objects (jangkoi, aksara incung, tabuh larangan, carano, lapik). The motifs are arranged in symmetrical and asymmetrical repetition patterns vertically and horizontally. To ensure the survival and growth of this craft business, attention and support from the government are needed.Keywords: motive, product, batik daun sirihAbstrakBatik merupakan produk yang sangat dikenal masyarakat, diminati karena motif yang ada pada produk tersebut. Namun produk batik Daun Sirih Duru Uwo Desa Hamparan Rawang Kota Sungai Penuh berbeda dari batik daerah lain, karena memiliki produk dan motif khas berlatang belakang kearifan lokal. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi produk kerajinan Batik Daun Sirih Daru Awo, dan bentuk motif-motif serta penerapannya pada produk kerajinan batik tersebut. Metode penelitian kualitatif, dengan jenis data primer dan sekunder. Informan dalam penelitian ini adalah pemilik usaha Batik Daun Sirih Daru Awo, desainer batik, dan perajin batik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi. Analisis data penelitian menggunakan analisis interaktif, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan produk kerajinan Batik Daun Sirih Duru Awo terdiri dari kain panjang, tengkuluk, Lito (lacak), saluak (topi adat), dan syal yang dominan menggunakan teknik batik cap. Motif yang diminati konsumen berjumlah 12 buah yang merupakan kekhasan Kota Sungai Penuh. Motif tersebut dikelompokkan menjadi motif flora berjumlah lima buah, yakni motif kanyaho batuah, daun sirih, pucuk rebung, biji kopi,  dan  padi payo. Motif fauna ada dua, yaitu motif harimau dan motif tanduk. Motif yang bertemakan budaya atau benda alam ada lima buah, yakni motif jangkoi, aksara incung, tabuh larangan, carano, dan motif lapik. Pola tata susun repetisi yang simetris dan asimetris secara vertikal dan horizontal. Agar usaha kerajinan ini dapat terus bertahan dan berkembang sesuai dengan lokusnya masing-masing, maka dibutuhkan perhatian dan pembinaan dari pihak pemerintah.Kata Kunci: motif, produk, batik daun sirihAuthors:Septia Cica Safitri : Institut Seni Indonesia PadangpanjangYuliarni : Institut Seni Indonesia PadangpanjangYulimarni : Institut Seni Indonesia PadangpanjangMiswar : Institut Seni Indonesia PadangpanjangWiddiyanti : Institut Seni Indonesia Padangpanjang ReferencesAdriani. (2023). Motif Dan Makna Motif Tenun Ulos Batak Angkola Di Kabupaten Tapanuli Selatan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 12(2), 302-309.Anggraini, L., & Kirana, N. (2023). Desain Komunikasi Visual. Bandung: Nuansa Cendekia.Carlo, I. D. (2020). BATIKpedia: Kumpulan Istilah Penting dalam Dunia Batik. Yogyakarta: CV. Andi Offset.Emika, S. (2023), œUsaha dan Merk yang digunakan. Hasil Wawancara Pribadi: 5 Mei 2023, Desa Hamparan Rawang.Gustami, SP. (2008). Nukilan Seni Ornamen Indonesia. Yogyakarta: Jurusan Kriya ISI Yogyakarta.Kartika, D. S. (2007). Budaya Nusantara. Bandung: Rekayasa Sains.Kartika, D. S. (2016). Kreasi Artistik Perjumpaan Tradisi Modern Dalam Paradigma Kekaryaan Seni. Karanganyar: Citra Sain.Kartika, D. S. (2017). Seni Rupa Modern Edisi Revisi. Bandung: Rekayasa Sains.Masri, A. (2010). Strategi Visual Bermain Dengan Fromalistik Dan Semiotik Untuk Menghasilkan Kualitas Visual Dalam Desain. Yogyakarta: Jalasutra.Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2014). Qualitative Data Analysis¯: A Methods Sourcebook. California: Sage PP-Thousand Oaks.Rudianto, M. (2023). Transformasi Batik Sudagaran Pada Kampung Batik Laweyan Kota Surakarta. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 12(2), 335-342.Sunaryo, A. (2009). Ornamen Nusantara: Kajian Khusus Tentang Ornamen Indonesia. Semarang: Dahara Prize.Susmetri, E. (2023). œNama Motif. Hasil Wawancara Pribadi: 24 Mei 2023, Desa Hamparan Rawang.Yulimarni, Y., Ditto, A., Sundari, S., & Akbar, T. (2022). Pelatihan Batik dalam Excellent Project (Expro) Siswa/Siswi SMA Exellence Nurul Ikhlas Kabupaten Tanah Datar. Abdidas: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(5), 898-907.Zarminto, Z. (2023), œPenamaan Motif. Hasil Wawancara Pribadi: 5 Mei 2023, Desa Hamparan Rawang.
PENGARUH KONSENTRASI ELEKTROLIT TERHADAP HASIL PENCELUPAN EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa Paradisiaca L.) PADA BAHAN KATUN Adriani Adriani; Indah Cantika Sari
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.57932

Abstract

The dyeing process is influenced by several factors, including electrolyte concentration.It™s can support the absorption of dye into the fiber. However, improper use of electrolyte can cause damage to fabric fibers. This research to describe the effect of electrolyte concentration on the results of dyeing kepok banana peel extract. The type of research is experimental. The data obtained was primary data from 18 panelists. Data were analyzed by using the Friedman K-related Sample test and using the SPSS application. The results of is  electrolyte concentration of 50 grams produce a Soft Brown color direction, a dark light dark color, the even color evenness, the washing resistance produced by the first and second washes shows no change at all, the third wash the color changes slightly or decreases, and the fourth wash and the five colors look reduced or changed. The results is electrolyte concentration of 75 grams produce a Chocolate Brown color. The dark light color is very dark, color evenness is very even. The washing resistance produced in the first and second washes shows no change at all, and in the third, fourth and fifth washes the color looks slightly reduced or diminished. On light darkness (value) obtained a significance value of 0.001 which was smaller than the significance level of 0.000 < 0.05 = Hâ‚’ was rejected. This means there is a significant difference. On color evenness obtained a significance value of 0.001 which was smaller than the significance level of 0.000 < 0.05 = Hâ‚’ was rejected. This means that there is a significant difference. On washing resistance obtained a true significance value of 0.001 which was smaller than the significance level of 0.000 < 0.05 = Hâ‚’ was rejected. Conclusion that the electrolyte concentration affects the dyeing results of kepok banana peel extract.Keywords: electrolytes, concentration, kepok banana peelAbstrakProses pencelupan dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya konsentrasi elektrolit. Konsentrasi elektrolit yang tepat mendukung penyerapan pewarna ke dalam serat dan warna yang dihasilkan lebih tahan lama. Namun penggunaan elektrolit yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan pada serat kain dan kualitas warna yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh konsentrasi elektrolit terhadap hasil pencelupan ekstrak kulit pisang kepok (Musa Paradisiaca L.) pada bahan katun. Menggunakan jenis penelitian eksperimen. Data diperoleh berupa data primer yang berasal dari 18 orang panelis. Data dianalisis dengan uji Friedman K-related Sample dengan aplikasi Statistical Product And Service Solution (SPSS). Hasil pencelupan dengan konsentrasi elektrolit 50 gram menghasilkan arah warna Soft Brown. Gelap terang warna gelap, kerataan warna rata. Ketahanan cuci pada pencucian yang pertama dan kedua tidak adanya perubahan sama sekali pada warna, pencucian ketiga warna sedikit berubah, dan pencucian keempat dan kelima warna terlihat berubah. Hasil pencelupan dengan konsentrasi elektrolit 75 gram menghasilkan arah warna Chocolate Brown. Gelap terang warna sangat gelap, kerataan warna sangat rata. Ketahanan cuci yang dihasilkan pada pencucian yang pertama dan kedua tidak adanya perubahan sama sekali pada warna, sedangkan pencucian ketiga, keempat, dan kelima warna terlihat sedikit berubah. Pengaruh pencelupan terhadap gelap terang didapatkan nilai signifikansi sejumlah 0.001 yang lebih kecil dibanding taraf signifikansi 0.000 < 0.05 = Hâ‚’ ditolak, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan. Pengaruh pencelupan terhadap kerataan warna didapatkan nilai signifikansi sejumlah 0.001 yang lebih kecil dibanding taraf signifikansi 0.000 < 0.05 = Hâ‚’ ditolak, hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikansi. Sedangkan pengaruh pencelupan terhadap ketahanan cuci didapatkan nilai signifikansi sejumlah 0.001 yang lebih kecil dibanding taraf signifikansi 0.000 < 0.05 = Hâ‚’ ditolak, yang berarti terdapat perubahan yang signifikansi. Dapat disimpulkan, konsentrasi elektrolit mempengaruhi hasil pencelupan ekstrak kulit pisang kepok.Kata Kunci: elektrolit, konsentrasi, kulit pisang kepok Authors:Adriani : Universitas Negeri PadangIndah Cantika Sari : Universitas Negeri Padang ReferencesMenjadi Kue Donat Sebagai Upaya Pengolahan Limbah Kulit Pisang. Biospecies. 1-6.         http://dx.doi.org/10.31227/osf.io/4chb7Ahmad, A, F., & Hidayati, N. (2019). Pengaruh Jenis Mordan Dan Proses Mordanting Terhadap Kekuatan Dan Efektifitas Warna Pada Pewarnaan Kain Katun Menggunakan Zat Warna Daun Jambu Biji Australia. Indonesia Journal of Halal, 1(2), 84-88.         http://dx.doi.org/10.14710/halal.v1i2.4422Almagita, R., Adriani, A., & Novrita, S, Z. (2017). Pengaruh Penggunaan Mordan Asam Jawa (Tamarindus Indica Linn) Dan Asam Kandis (Garcinia Parvifolia Miq) Terhadap Hasil Pencelupan Bahan Sutera Dengan Menggunakan Ekstrak Daun Andong (Cordyline Fruticosa L. A. Cheval). Journal Of Home Economics and Tourism, 14(1), 1-15. https://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/7235/5675Alvina, A., Adriani, A., & Novrita, S, Z. (2016). Perbedaan Mordan Belimbing Manis (Averrhoa Carambola) Dan Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi) Terhadap Hasil Pencelupan Pada Bahan Sutera Menggunakan Ekstrak Biji Kesumba (Bixa Orellana L). Journal Of Home Economics and Tourism, 12(2), 1-17. https://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/6028/4695Andriani, R., Adriani, A., & Novrita, S, Z. (2016). Perbedaan Mordan Asam Jawa (Tamarindus Indica Linn) dan Jeruk Purut (Citrus Hystrix) Terhadap Hasil Pencelupan Ekstrak Buah Senduduk (Melastoma Candidum D. Don) Pada Bahan Sutra. Journal Of Home Economics and Tourism, 12(2): 1-15.Anggraeni, A., Adriani, A., & Novrita, S, Z. (2017). Perbedaan Mordan Jeruk Bali (Citrus Maxima Merr) dan Jeruk Lemon (Citrus Limon) Terhadap Hasil Pencelupan Bahan Sutera Menggunakan Ekstrak Kelopak Bunga Pisang Raja (Musa Sapientum). Journal Of Home Economics and Tourism, 15(2): 1-15.Arikunto, S. (2021). Dasar-DasarEvaluasi Pendidikan Edisi 3. Jakarta: Bumi AksaraDahlia, S., & Adriani, A. (2019). Pengaruh Konsentrasi Elektrolit (NaCl) Terhadap Hasil Pencelupan Ekstrak Daun Iler (Plectranthus scutellarioides L. Benth) Menggunakan Mordan Asam Kandis (Garcinia xanthochymus) pada Bahan Sutera. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(1), 231-236. http://dx.doi.org/10.24114/gr.v8i1.13604Derisa, D., Efi, A., & Adriani, A. (2012). Pengaruh Garam Terhadap Hasil Pencelupan Bahan Sutra Dengan Ekstrak Kulit Pohon Mahoni. Journal Of Home Economics and Tourism, 1(1): 1-12.Fitri, E, R., & Adriani, A. (2022). Pembuatan Ekstrak Pewarna Alam Kayu Mahoni Untuk Benang Songket di Studio Pinankabu Canduang Kabupaten Agam. Relief: Journal of Craft, 2(1), 33-37. http://dx.doi.org/10.26887/relief.v2i2.3277Gusti, I. (2017). Perbedaan Hasil Pencelupan Bahan Sutera dengan Mordan Tawas dan Kapur Sirih Menggunakan Ekstrak Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L). Skripsi. Padang:UNPHasanah, U., Adriani, A., & Novrita, S, Z. (2017).  Pengaruh Mordan Air Tapai Ketan Hitam dan Air Tapai Singkong Terhadap Hasil Pencelupan Pada Bahan Sutera Menggunakan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L). Journal Of Home Economics and Tourism, 15(2), 1-16. https://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/10580/7745Kristijanto, K., & Soetjipto, S. (2013). Pengaruh Jenis Fiksatif Terhadap Ketuaan dan ketahanan luntur Kain Mori Batik Hasil Pewarnaan Limbah The Hijau. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Pendidikan Sains VIII, 4(1). Salatiga, 15 Juni 2013.Muharrani, K. R., Adriani, A., Novrita, S. Z., & Nelmira, W. (2023). Pengaruh Perbedaan Mordan Pada Pencelupan Dengan Zat Warna Daun Inai (Lawsonia inermis L.) Terhadap Kain Katun. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 12(2), 412-417. http://dx.doi.org/10.24114/gr.v12i2.50050Oktariani, O. (2022). Pengaruh Konsentrasi Elektrolit dan Warna Difusi Pada Pencelupan Kain Rajut Campuran Modals/Spandex (97%/3%) Menggunakan Zat Warna Reaktif Bifungsional. Texere: Majalah Sains dan Teknologi Tekstil, 20(2), 84-177. http://dx.doi.org/10.53298/texere.v20i2.02Prima, A., & Novrita, S, Z. (2019). Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Tawas Pada Pencelupan Bahan Katun Menggunakan Zat Warna Alam Ekstrak Buah Senduduk (Melastoma Malabathricum L). Gorga Jurnal Seni Rupa, 8(1), 260-266. http://dx.doi.org/10.24114/gr.v8i1.13630Saputri, R. A., Adriani, A., & Nelmira, W. (2017). Pengaruh Lama Pencelupan Terhadap Warna Yang Dihasilkan Pada Bahan Sutera Menggunakan Zat Warna Alam Ekstrak Daun Puring (Codiaeum Variegatum) Dengan Mordan Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia). Journal Of Home Economics and Tourism, 14(1), 1-16. https://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/7237/5677Sartika, D., & Adriani, A. (2023). Pengaruh Mordan Jeruk Nipis dan Jeruk Purut Terhadap Hasil Pewarnaan Ecoprint Daun Jarak Pagar (Jatropha curcas) Pada Bahan Katun. Relief: Journal of Craft, 2(2), 10-15. http://dx.doi.org/10.26887/relief.v2i2.3753
STRATEGI GLOBALISASI: KEBERLANJUTAN RUMAH PANGGUNG NUSANTARA MELALUI KAMPUNG PULO DESA CANGKUANG GARUT JAWA Titi Ayu Pawestri; Sunarmi Sunarmi; Santoso Sumarlan
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.55485

Abstract

Kampung Pulo, Cangkuang Village, Leles District, Garut, West Java, is one of the local wisdoms of the archipelago which has great potential to be known throughout the world as the identity of the Indonesian nation. Therefore, this research aims to examine globalization strategies related to the sustainability of Indonesian stilt houses which have an impact on social, economic, cultural and political strengthening. This research is a type of qualitative research using interview and documentation data collection methods. Data related to history, residents' activities and the arguments of village leaders are primary data which will complement the analysis of secondary data originating from academic references. The data analysis technique uses descriptive analysis. This research produces 4 globalization strategies that can be implemented to maintain the sustainability of the Kampung Pulo stilt houses, namely the Reinvigorating strategy, namely maintaining the authenticity of the Kampung Pulo stilt houses as a tourist destination; Extending, namely adapting the form of a house on stilts to reminisce in a new atmosphere; Reinterpreting is reinterpreting without eliminating its distinctive elements; and Reinventing, namely combining stilt houses with other cultural elements. These strategies can be developed through design concepts for the conservation and revitalization of Indonesian culture towards global development.Keywords: globalization, houses on stilts, strategyAbstrakKampung Pulo Desa Cangkuang Kecamatan Leles Garut Jawa Barat merupakan salah satu kearifan lokal Nusantara yang berpotensi besar untuk dikenal di seluruh dunia sebagai identitas bangsa Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi globalisasi terkait keberlanjutan rumah panggung Nusantara yang berdampak pada penguatan sosial, ekonomi, budaya hingga politik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data wawancara dan dokumentasi. Data terkait sejarah, aktivitas warga serta argumen pemimpin kampung menjadi data primer yang akan menjadi pelengkap dalam analisis data sekunder yang berasal dari referensi akademik. Teknik analisis data menggunakan deskriptif analisis. Penelitian ini menghasilkan 4 strategi globalisasi yang dapat dilakukan dalam menjaga keberlanjutan rumah panggung Kampung Pulo yaitu strategi Reinvigorating yaitu mempertahankan keaslian rumah panggung Kampung Pulo sebagai destinasi wisata; Extending yaitu mengadaptasi bentuk rumah panggung untuk mengenang kembali dalam suasana baru; Reinterpreting yaitu menafsirkan ulang tanpa menghilangkan unsur khasnya; dan Reinventing yaitu menggabungkan rumah panggung dengan unsur budaya lain. Strategi ini dapat dikembangkan melalui konsep desain yang baru sebagai konservasi dan revitalisasi budaya nusantara menuju global.Keyword: globalisasi, rumah panggung, strategiAuthors:Titi Ayu Pawestri : Institut Seni Indonesia SurakartaSunarmi : Institut Seni Indonesia SurakartaSantoso Sumarlan : Institut Seni Indonesia Surakarta ReferencesAji, A., & Fauzy, B. (2020). Akulturasi Arsitektur Lokal Dan Modern Pada Bangunan P-House, Salatiga. ARTEKS: Jurnal Teknik Arsitektur, 5(2), 153-164.DOI:https://doi.org/10.30822/arteks.v5i2.112Barus, M. I. R., Ibrahim, A, & Aziz, A. C. K. (2022). Karya Ilustrasi Budaya Khas Karo pada Seni Tekstil dengan Teknik Digital Printing. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 448-455. DOI:10.24114/gr.v11i2.38997Bhaswara, R. (2010). (RE) Interpretasi Arsitektur Vernakular: Humanis, Progresif, dan Kontekstual dalam Peradaban Manusia. Jurnal Arsitektur, 1(1), 10-15. DOI: 10.36448/jaubl.v1i1.286.Brata, I. (2016). Kearifan Budaya Lokal Perekat Identitas Bangsa. Jurnal Bakti Saraswati, 5(1), 9“16.Giddens,  A. (2001).  Runway  World: Bagaimana  Globalisasi  Merombak Kehidupan  Kita?,  Jakarta : PT.  Gramedia Pustaka Utama.Hariyanto, A. D., Triyadi, S., & Widyowijatnoko, A. (2022). A Simple Stilt Structure Technique for Earthquake Resistance of Wooden Vernacular Houses in Bima, Sumbawa Island, Indonesia. International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology, 12(4), 1491-1497. DOI:10.18517/ijaseit.12.4.12848Lalu, E. D., & Fauzy, B. (2020). Dominasi Ragam Akulturasi Lokal-Moderen Pada Bangunan Casablancka Residence, Bali. ARTEKS: Jurnal Teknik Arsitektur, 5(1), 67“74. DOI: 10.30822/ARTEKS.V5I1.187Lumantarna, B., & Pudjisuryadi, P. (2012). Learning from Local Wisdom: Friction damper in Traditional Building. Civil Engineering Dimension, 14(3), 190-195. DOI:10.9744/CED.14.3.190-195Mentayani, I., (2012). Menggali Makna Arsitektur Vernakular: Ranah, Unsur, dan Aspek-Aspek Vernakularitas. Lanting Journal of Architecture, 1(2), 68-82. DOI:10.32315/TI.6.I109Mesra, M, Kartono, G. & Ibrahim, A., (2022). Penerapan Ornamen Tradisional Sumatera Utara pada Toples Makanan sebagai Sarana Revitalisasi. Gorga: Jurnal Seni Rupa , 11(1). 81-88. DOI:10.24114/gr.v11i1.33639.Munawar, Z., (2023). œSejarah Kampung Pulo, Hasil Wawancara Pribadi: 22 November 2023.Ningsih, I. R., Rohim, M., & Pinasti, V. I. S. (2022). Dikotomi Subkultur Masyarakat Kampung Pulo Desa Cangkuang Garut Jawa Barat. Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya  (Journal of Social and Cultural Anthropology),  8(1), DOI: 10.24114/antro.v8i1.32144.Nurdiah, E. A., & Hariyanto, A. D. (2013). Struktur Rangka Atap Rumah Tradisional Sumba.Nuryanto. (2014). Kajian Hubungan Makna Kosmologi Rumah Tinggal Antara Arsitektur Tradisional Masyarakat Sunda Dengan Arsitektur Tradisional Masyarakat Bali (Penggalian kearifan lokal menuju pembangunan berbasis konsep bangunan hijau). Seminar Nasional Arsitektur Hijau. Universitas Warmadewa, Denpasar-Bali.Oliver,  P. (2006).  Dwellings:  The Vernacular  House  Worldwide.  Revised edition.  London  and  New  York:  Phaidon Press.Rizky, S. (2022). Keberlanjutan Arsitektur Tradisional Aceh pada Perkembangan Rumah Tinggal. Jurnal Arsitektur Zonasi, 5(1), 29-39.Rosana, E. (2015). Modernisasi Dalam Perspektif Perubahan Sosial. Jurnal Al-AdYaN, 10(1). 67-82.DOI:http://dx.doi.org/10.24042/ajsla.v10i1.1423Royandi, Y., Gunawan I. V. & Halim, E. A. (2022). Analisa Bangunan dengan Pengaruh Tionghoa pada Pecinan Indramayu Jawa Barat. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1). 67-73. DOI:10.24114/gr.v11i1.32582Salura, P., Clarissa, S & Lake, R. C. (2020). The Application of Sundanese Vernacular Concept to The Design of Modern Building-Case Study: Aula Barat (West Hall) of Bandung Institute of Technology, West Java, Indonesia. Journal of Design and Built Environment, 20(1), 1-12. DOI:10.22452/jdbe.vol20no1.1Sunarmi. (2018). Komodifikasi Bangunan Pracimayasa Pura Mangkunegaran Surakarta. Disertasi Doktoral, Universitas Negeri Sebelas Maret. Diakses dari: http://repository.isi-ska.ac.id/2486/Sholahudin, U. (2019).  Globalisasi: Antara Peluang Dan Ancaman Bagi Masyarakat Multikultural Indonesia. J S P H, 4(2), 103-114. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v4i2p103-114Vasconcelos, G., Lourenço, P. B., & Poletti, E. (2015). An Overview on the Seismic Behaviour of Timber Frame Structures, in Historical Earthquake-Resistant Timber Frames in the Mediterranean Area. Cosenza: Springer International Publishing.Yusuf, S. (2016). Wujud Akulturasi Arsitektur Pada Aspek Fungsi, Bentuk, Dan Makna Bangunan Gereja Kristen Pniel Blimbingsari Di Bali. ARTEKS: Jurnal Teknik ArsitekturJurnal Teknik Arsitektur, 1(2), 15“30. https://doi.org/10.30822/arteks.v1i1.22. 
STUDY OF MOTIVATION TO PLAY VIDEO GAMES IN THE 90S GENERATION USING THE GAMER MOTIVATION MODEL Muhammad Afif; Banung Grahita
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.62491

Abstract

The 1990s were a pivotal era for the development of video game consoles, significantly influencing the gaming preferences and habits of the 90s generation, often referred to as digital natives. This research investigates the motivations behind why individuals from this generation engage in video gaming, utilizing the Gamer Motivation Model as a framework. The study involved interviews with 9 respondents from the 90s generation who are actively involved in gaming. The findings highlight that the primary motivations for these gamers are driven by the desire for Completion and the thrill of Excitement during gameplay. Players find satisfaction in collecting items, completing missions, and reaching milestones within games, which serve as key motivators. Furthermore, they are drawn to dynamic gaming experiences that are rich with surprises, providing emotional highs and adrenaline boosts that enhance the overall gaming experience. In addition to these primary motivations, the research also delves into secondary motivations, exploring other factors that contribute to the gaming experience for this demographic. The insights gained from this study are valuable for both researchers and game developers, as they provide a deeper understanding of the specific gaming motivations of the 90s generation. This understanding can be leveraged to design gaming experiences that are more closely aligned with the preferences and needs of this group.
WORKSHOP SIMA BATIK DESA TANJUNG REJO: PENGEMBANGAN DESAIN BATIK CAP Ammarudin Ammarudin; Wahyu Tri Atmojo
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.48154

Abstract

Sima Batik is very popular in Tanjung Rejo Village and other areas because of the good quality of its stamped batik so that the potential for income and profit is also visible in the large demand. However, the problem is that the available motifs are very limited. One of the reasons is constraints on time and operational management in producing batik. This means that the Sima Batik workshop has not yet developed batik stamps. The aim of this research is to find out the results of the design process and realization of stamped batik products which are characterized by Tanjung Rejo Village motifs in Tanjung Rejo Village and carry out development. The research is located in Tanjung Rejo Village Jl. Paluh 80 Hamlet XIV, Percut Sei Tuan District, Deli Serdang Regency, North Sumatra. The duration of the research is 3 months from January to March 2023. This type of research is Research and Development (R&D) using the 4-D development model, namely: define, design, develop and disseminate. The tools and materials needed for this development are A4 paper, pencils, erasers, rulers, drawing pens, colored pencils, computer equipment and printers. In the work procedure there are 4 stages, namely: making a stamped batik design, making a batik stamp canting, finishing, and product validation. Data collection techniques through observation, documentation, interviews and questionnaires. The instruments used in this development are cellphone cameras, notebooks, stationery and laptops. Data analysis techniques use validity analysis, practicality and effectiveness analysis. The results of the development are 6 motifs, namely: crab, mangrove, shrimp, bamboo, stork and rice motifs. From the six motifs, 3 types of stamped batik designs were produced which were applied to tote bags.Keywords: batik, stamp, design, development, motif. AbstrakSima Batik sangat diminati di Desa Tanjung Rejo dan daerah lainnya karena kualitas batik capnya yang bagus sehingga potensi penghasilan dan keuntungan juga terlihat dengan banyaknya permintaan. Namun, permasalahannya motif yang tersedia sangat terbatas. Salah satu alasannya adalah terkendala pada waktu dan manajemen operasional dalam memproduksi batik. Hal ini membuat workshop Sima Batik belum melakukan pengembangan cap batik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hasil proses desain dan perwujudan produk batik cap yang bercirikan motif Desa Tanjung Rejo di Desa Tanjung Rejo dan dilakukan pengembangan. Penelitian berlokasi di Desa Tanjung Rejo Jl. Paluh 80 Dusun XIV, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Durasi penelitian selama 3 bulan sejak Januari hingga Maret 2023. Jenis penelitian ini adalah Research and Development (R&D) dengan menggunakan model pengembangan 4-D yaitu: define, design, develop, dan disseminate. Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pengembangan ini adalah kertas A4, pensil, penghapus, penggaris, pulpen gambar, pensil warna, perangkat computer, dan printer. Dalam prosedur kerja terdapat 4 tahapan yaitu: membuat desain batik cap, membuat canting cap batik, finishing, dan validasi produk. Teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, wawancara, dan kuesioner. Instrumen yang digunakan dalam pengembangan ini adalah kamera handphone, buku catatan, alat tulis, dan laptop. Teknik analisis data menggunakan analisis kevalidan, analisis kepraktisan dan efektivitas. Hasil pengembangan berupa 6 motif yaitu: motif kepiting, mangrove, udang, bambu, bangau, dan padi. Dari keenam motif dihasilkan 3 jenis desain batik cap yang luarannya diterapkan pada tote bag.Kata Kunci: batik, cap, desain, pengembangan, motif. Authors:Ammarudin : Universitas Negeri MedanWahyu Tri Atmojo : Universitas Negeri Medan References: Arini, A. M., & Ambar, B. (2011). Batik: Warisan Adiluhung Nusantara. Yogyakarta: Andi Offset.BPS Deli Serdang. (2014). Deli Serdang Dalam Angka/ Deli Serdang in Gambars. Deli Serdang: Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang.Dhani, Siti Rama; Sri Wiratma & Misgiya. (2020). Tinjauan Hasil Kerajinan Batik Cap di Batik Sumut Medan Tembung Berdasarkan Warna, Motif, dan Harmonisasi. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(1), 88-93.Delila, T., & Wiratma, S. (2017). Kerajinan Batik Dan Perkembangany Studi Kasus Pada Ardhina Batik Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 6(2), 89-102.KBBI. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat BahasaKamala, N., & Adriani, A. (2019). Studi Tentang Motif Dan Pewarnaan Batik Cap Dengan Zat Pewarnaan Alam di Rumah Batik Dewi Busana Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(2), 303-307.Krevitsky, N. (1964). Batik: Art and Craft. New York: Reinhold Publishing Corporation New York an Art Horizons Book.Midah, M. (2020). œSumber Desain Motif Sima Batik Hasil Wawancara Pribadi: 31 Januari 2020, Percut Sei Tuan.Seragih, Y. G., & Azis, A. C. K. (2021). Tinjauan Hasil Gambar Ilustrasi Kartun dengan Objek Binatang. Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, 23(2), 302-318.Thiagarajan, S., Semmel, D.S., & Semmel, M.I. (1974). Instructional Development for Training Teacher Of Exceptional Children. Bloomington Indiana: Indiana University.Widya, L. (2002). Fundamental of Art and Desain. Jakarta: Cybermedia College.
PERANCANGAN E-JOBSHEET BERBANTUAN ADOBE FLASH PLAYER CS6 PADA MATERI ALAT TENUN BUKAN MESIN Siti Aisyah; Maltha Kharisma; Defrizal Saputra; Aditya Hanum Widarsa
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.56490

Abstract

Students do not understand the material of non-machine looms and the application of woven techniques found in basic textile craft courses, this is because lecturers only use learning media in the form of printing teaching materials and power points. This research aims to design an effective learning media in the form of interactive e-jobheet by using the adobe flash professional CS6 application. The method used in this design is the 4D Model model that is developed with stages, namely the Define, Design, Develop, and Dissemination stages. Data collection techniques with observation and literature study. The analysis technique used is descriptive analysis, which is used to describe the e-jobsheet design and the validity of the e-jobsheet in the ATBM material. The results obtained in this study show that the interactive e-jobsheet learning media by using the adobe flash professional CS6 application on the ATBM material in the fine arts education study program has several components, including two types of video tutorials consisting of explanations about ATBM material and its work process, material about ATBM, then there are practice questions that can be done by students, and also a list of references and people. The validation results obtained from the validator are the validation of the material obtained a number of 95%, design experts 90.3% and linguists 89.8% with very valid categories. E-jobsheet learning media is accessed by students offline using laptops. Keywords: e-jobsheet, Adobe Flash Player, ATBMAbstrakMahasiswa kurang memahami materi alat tenun bukan mesin dan pengaplikasian teknik tenunan yang terdapat pada mata kuliah kriya tekstil dasar, hal ini dikarenakan dosen hanya menggunakan media pembelajaran berupa bahan ajar cetak dan power point. Penelitian ini bertujuan untuk merancang media pembelajaran yang efektif berupa e-jobheet interaktif dengan menggunakan aplikasi adobe flash professional CS6. Metode yang digunakan dalam perancangan ini yaitu model Model 4D yang dikembangkan memiliki tahapan yaitu tahap Define (pendefinisian), Design (perancangan), Develop (pengembangan), dan Dissemination (Penyebaran). Teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan studi pustaka. Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif, yang digunakan untuk mendiskripsikan desain e-jobsheet dan validitas e-jobsheet pada materi ATBM. Hasil dari penelitian yaitu media pembelajaran e-jobsheet interaktif dengan menggunakan aplikasi adobe flash professional CS6 pada materi ATBM di program studi pendidikan seni rupa terdapat beberapa komponen, diantaranya dua jenis video tutorial yang terdiri dari penjelasan mengenai materi ATBM dan proses kerjanya, materi mengenai ATBM, kemudian terdapat latihan soal yang bisa dikerjakan oleh mahasiswa, dan juga daftar referensi serta narahubung. Hasil validasi yang diperoleh dari validator yaitu validasi materi memperoleh angka 95%, ahli desain 90,3% dan ahli bahasa 89,8% dengan kategori sangat valid. Media pembelajaran e-jobsheet diakses oleh mahasiswa secara offline dengan menggunakan laptop.Kata Kunci: e-jobsheet, adobe flash player, ATBM Authors:Siti Aisyah : Universitas Negeri PadangMaltha Kharisma : Universitas Negeri PadangDefrizal Saputra : Universitas Negeri PadangAditya Hanum Widarsa : Universitas Negeri Padang References:Aisyah, S., Asa, F.,O. & Yeni, E.,P. (2023). Kelayakan Media Pembelajaran Berbasis Video Tutorial Pada Materi Batik Di Program Studi Pendidikan Seni RupA. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 12(2), 287-294.Atika, I. N., & Malasari, P. N. (2022). Perancangan Media Pembelajaran Menggunakan Adobe Flash Professional CS6 Berbasis Pendekatan Realistic Mathematics Education. Aritmatika, 3(3), 31“41.Arsyad, A. (2017. Media Pembelajaraan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Dharmalau, A., Nurlaela, L., & Handojo, V. (2021). Perancangan Media Pembelajaran Lagu Daerah Dengan Animasi Interaktif Menggunakan Adobe Flash. Jeis: Jurnal Elektro Dan Informatika Swadharma, 1(1), 31“36.Djafri, C. (2003). Gagasan Seputar Pengembangan Industri Dan Perdagangan TPT (Tekstil dan Produk Tekstil). Jakarta: Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Cidesindo.Kustandi, C., Sutjipto, B. (2011). Media Pembelajaran Manual dan Digital. Bogor: Ghalia Indonesia.Novrita, Z,.S. Puspaneli, Fridayati, L., & Febian., V. (2023). Pengembangan Video Tutorial Teknik Batik Tulis Sebagai Media Pembelajaran Pada Mata Kuliah Batik Di Departemen Ikk Fpp Unp. Gorga: Jurnal Seni Rupa. 12(1), 91-98Riduwan. (2016). Dasar-dasar Statistika. Bandung: Penerbit Alfabeta.Situmorang, R., Haryanto, E. V.(2020). Perancangan Media Pembelajaran Cara Memainkan Seruling 3 Dimensi Berbasis Multimedia. FTIK 1(1), 476“488.Sudjana, N., & Rivai, A. (2005). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo.Trianto, (2009). Mendesain model pembelajaran inovatif progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Wahid, A., Handayanto, A., & Purwosetiyono, F. X. D. (2020). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Etnomatematika Menara Kudus Menggunakan Adobe Flash Professional CS 6 pada Siswa Kelas VIII. Imajiner, 2(1), 58“70.